BAB III : SEJARAH SOSIAL-POLITIK LOMBOK
B. Tuan Guru dan Konstelasi Politik Orde Baru
Perjuangan merebut kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajah, tentu peran para tokoh agama (Ulama, Kyai, Tuan Guru,dll) tidak bisa dibaikan begitu saja dalam sejarah bangsa ini, sebagaimana telah dijelaskan pada bab terdahulu.
Pada masa setelah kemerdekaan, setelah melawan kolonialisme, posisi kelompok Islam semakin kuat. Ini terlihat ketika Masyumi, gabungan
24
Muhammad Harfin Zuhdi, Parokialitas Adat Terhadap Pola Keberagamaan Komunitas Islam Wetu Telu di Bayan Lombok, h. 55-56
25
Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan; Akulturasi Nilai-nilai Islam dalam Budaya Sasak, Yogyakarta: Adab Press, 2006, cet. I, h. 135-136
26
oramas atau kelompok Islam ini tampil sebagai partai terbesar dengan menduduki kursi parlemen tebanyak. Pada masa ini hubungan politik antara Islam dan Negara masih harmonis, akan tetapi tidak berlangsung lama. Baru terjadi ketegangan ketika Presiden Soekarno berpidato di Amuntai, Kalimantan Timur pada tanggal 27 Januari 1953. Secara eksplisit Ia mengingatkan akan pentingnya mempertahankan Indonesia sebagai kesatuan nasional. “Negara yang kita inginkan adalah sebuah negara nasional yang mencakup seluruh Indonesia, tuturnya, Jika kita mendirikan negara yang berdasarkan atas Islam, maka wilayah yang penduduknya bukan muslim, seperti Maluku, Flores, Timor, Kepulauan Kei, dan sebagian Sulawesi akan memisahkan diri”27.
Pernyataan Soekarno dalam pidato itu membuat kelompok Islam tersinggung. Menurut mereka, Soekarno tidak demokratis dan melampaui batas-batas konstitusinya dalam kapasitasnya sebagai kepala negara yang membela kelompok ideologi tertentu28.
Di pihak lain, yaitu PNI, mandukung pidato Soekarno. Menurut Harbert Faith yang dikutip oleh Mohammad Noor, bahwa apa yang dilakukan oleh PNI dalam mendukung pidato Soekarno adalah sebuah tindakan presiden Soekarno yang didasarkan kepada hak prerogatifnya sebagai pemimpin revolusi, untuk
27
Mohammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan Religius; Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997, (Jakarta; PT Logos Wacana Ilmu, 2004), cet. I, h. 51-55
28
memberikan arahan bagi seluruh rakyatnya, juga sebagai kepala negara yang konstitusianal29.
Perdebatan ini yang kemudian memunculkan perdebatan ideologis-politis antara kelompok Islam dengan kelompok nasionalis. Di mana kelompok Islam menginginkan negara Indonesia berdasarkan pada Islam, ini dipelopori oleh Masyumi dan kelompok Islam lainya. Sedangkan kelompok nasionalis menginginkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Berdasarkan perdebatan politik itu, kemudian presiden Soekarno menguluarkan dekrit dengan didukung oleh tentara, yang menyatakan kembali ke UUD 194530.
Dari sinilah kelompok Islam secara simbolik berhasil dikalahkan. Di balik kekalahan simbolik kelompok Islam ini, selama masa demokrasi terpimpin di bawah Soekarno, artikulasi legalistik formalistik gagasan dan praktik politik Islam mulai dicurigai apalagi dengan gagasan Islam sebagai ideologi negara31.
Setelah tumbangnya Orde Lama, kemudian munculnya Orde Baru yang didahului oleh tragedi G 30 S/PKI, banyak pemimpin politik Islam menaruh harapan besar. Karena langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yaitu membebaskan para tahanan pemimpin Masyumi yang ditahan pada masa Soekarno32.
29
Mohammad Nor, dkk, Visi Kebangsaan Religius; Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997, h. 54
30
Mohammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan Religius; Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997, h. 54
31
Mohammad Nor, dkk, Visi Kebangsaan Religius; Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997, h. 56-57
32
Harapan ini menyusut dikarenakan apa yang dilakukan oleh Orde Baru adalah melakukan birokrasi politik. Yaitu besarnya campur tangan pemerintah dalam kehidupan politik. Misalnya, ketika Partai Muslim Indonesia (PARMUSI) lahir pada tahun 1968, yang sebagaian besar pengurusnya mantan penguruh Masyumi kemudian mengundurkan diri karena tidak diterima oleh pemerintah Orde Baru33.
Keberatan pemerintah Orde Baru dalam kembalinya pemimpin Masyumi ke arena politik dikarenakan ketakutan-ketakutan yang akan kemudian akan terulang kembali sejarah politik Indonesia pada silam34. Sehingga banyak strategi yang dimainkan oleh Orde Baru. Diantaranya birokrasi politik atau fusi partai Islam menjadi satu partai; atau melakukan depolitisasi Islam35, yaitu melemahkan atau mempersempit gerak dalam aktivitas politik Islam; atau mengharuskan kepada semua organisasi-organisasi kemasyarakatan berasaskan tunggal, yaitu pancasila.
Ini semua dilakukan oleh pemerintah Orde Baru untuk dapat mengontrol semua aktivial para kelompok Islam. Bahkan semua kativitas politik masyarakat yang dilakukan oleh para Kiai atau Tuan Guru dibatasi bahkan dicurigai. Untuk mempermudah kontral terhadap aktivitas Kiai atau Tuan Guru, pemerintah membentuk Majlis Ulama Indonesia (MUI), sebagai wadah gerakan para Kiai atau
33
Sudirman Tebba, Islam Orde Baru; Perubahan Politik dan Keagamaan, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1993, cet. I, h. 4
34
M. Din Syamsuddin, Islam dan Politik Era Orde Baru, Jakarta: Logos, 2001, cet. I, h. 38
35
Menurut Bahtiar Effendy, depolitisasi Islam yang dimaksud adalah depolitisasi politik bukan Islam. Akan tetapi karena Islam bagian dari kehidupan politik nasional, berimbas sebagai grand desigs politik Orde Baru. Lihat Bahtiar Effendi, (Re) Politisasi Islam; Pernahkan Islam
Tuan Guru36. Orientasi pembentukan ini adalalah tidak lain membatasi dan mengontrol gerakan para Kiai atau Tuan Guru.
Kondisi sentralistik yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru berimplikasi juga ke daerah-daerah tak kecuali di Pulau Lombok, NTB. Di mana tidak adanya kekuatan politik yang independen, kuatnya birokrasi dalam pengambilan keputusan, ekspansi dan keterlibatan pemerintah pusat dalam hampir seluruh kekuatan sosial37. Sehingga Tuan Guru hanya dijadikan sebagai legitimasi terhadap kekuasaan pemerintah Orde Baru. Di mana pada masa itu Tuan Guru adalah figur central masyarakat atau sebagai patron.
Terkontrolnya para Tuan Guru dilihat ketika kedekatan Soeharto dengan para Tuan Guru yang erat serta meminta para Tuan Guru untuk menggalang dukungan untuk Golkar pada pemilu 197138. Dan salah satu Tuan Guru yaitu Tuan Guru Haji Abdul Madjid, yang pada waktu itu adalah pendiri sekaligus ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, menyetujui tawaran itu dan beliau terus menjadi manajer juru kampaye Golkar di Lombok Timur untuk
36
Achmad Patoni, Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, cet. I, h. 171-172
37
M. Din Syamsuddin, Islam dan Politik Era Orde Baru, Jakarta: Logos, 2001, cet. I, h. 65
38
Keberpihakan para Tuan Guru pada waktu itu karena salah satunya adalah trima kasihnya kepada Soeharto atas perannya menumpas PKI. Disamping itu juga, pihak militer dan pejabat pemerintah membantu Tuan Guru dalam mendakwahkan komunitas Wetu Telu. Karena Wetu Telu dianggap mereka membahayakan Islam dikarenakan ritualisme mereka yang unik, merupakan kombinasi ritualisme Sasak dengan para kiai Islam yang kontra dengan reformis. John M. MacDougall, Kriminalitas dan Ekonomi Politik Keamanan di Lombok dalam buku Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken (eds), Politik Lokal di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor
pemilahan anggota DPR tahun 1971 dan 1977 39. Golakar pun memenangkan dan mayoritas dalam kedua pemilu tersebut.
Tuan Guru Haji Abdul Madjid pun mewakili Propinsi Nusa Tenggara Barat sebagai anggota MPR RI dari Golkar. Tetapi pada tahun 1982, ketika semua muslim tidak lagi menyukai kebikan pemerintah Orde Baru, Tuan Guru Haji Abdul Madjid pun mengumumkan kepada pengikutnya (jam’ah), yang terhimpun dalam organisasi Nahdlatul Wathan (NW), untuk bebas memilih partai pilihan mereka sendiri40.
Dengan kebijakan yang diambil oleh Tuan Guru Haji Abdul Madjid untuk membebaskan para pengikutnya memilih partai apapun, membuat pengikutnya ditangkap dan diancam serta bantuan-bantuan untuk sekaloh NW pun dihentikan. Sehingga pada 1987, Tuan Guru Haji Abdul Madjid kembali ke Golkar karena paksaan militer41.
Oleh karena itu, kondisi pada masa Orde Baru di pemerintahan pusat tidak jauh berbeda dengan kondisinya di daerah. Di mana segala aktivitas para Tuan Guru di batasi, dikontrol dengan didirikannya sebuah wadah organisasi untuk para Tuan Guru yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) oleh pemerintah Orde Baru. Dengan adanya MUI, pemerintah Orde Baru tidak hanya bisa mengontrol, membatasi melainkan juga mengiterpensi dan bahkan sebagai legitimasi apa yang dilakukan pemerintah Orde Baru.
39
John M. MacDougall, Kriminalitas dan Ekonomi Politik Keamanan di Lombok dalam buku Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken (eds), Politik Lokal di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009, cet. II, h. 379-380
40
John M. MacDougall, Kriminalitas dan Ekonomi Politik Keamanan di Lombok, h. 380