• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TUAN GURU DAN POLITIK

B. Tuan Guru sebagai Elit Lokal

Pada tahun 1950-an, ada kecenderungan pandangan bahwa aspirasi lokal berseberangan dengan pemerintah pusat. Aspirasi local dianggap tidak nasionalis dan bertentangan dengan aspirasi nasional, karena itu perlu dikesampingkan. Kebudayaan local akhirnya menjadi terkubur dan memunculkan keseragaman symbol dan kebudayaan atas nama persatuan dan kesatuan24.

Setelah pasca Orde Baru, pada tahun 1998, dinamika politik di daerah memulai babak baru. Aktor, institusi, dan budaya lokal bermunculan kembali dan memainkan peranannya di dalam panggung politik lokal25.

Inilah yang kemudian disebut dengan desentralisasi, yang mana kekuasaan tidak lagi terpusat tetapi sudah menyebar. Desentralisasi dari tangan lembaga presiden kepada lembaga-lembaga tinggi Negara lainnya. Desentralisasi otoritas politik dan administrasi dari pusat kepada daerah.

Untuk itu studi-studi mengenai politik lokal, peran elit sangat penting. Elit menempati posisi yang sangat penting dalam pembangunan maupun politik. Di masa Orde Baru elit dijadikan sebagai distributor program pemerintah dari pusat. Pada masa Orde Baru pula, nampaknya pemerintah mengadopsi Negara neokolonialisme, di mana memanfaatkan peran-peran elit lokal ketika melakukan alokasi atau distribusi sumber-sumber lokal termasuk ekonomi dan politik kepada

24

Anies Baswedan, “Kata Pengantar”, Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken (eds), Politik Lokal di Indonesia, diterjemahkan oleh Yayasan Obor, Jakarta: Yayasan Obor dan KITLV, 2007, cet. I, h. x

25

masyarakat. Selain itu juga elit lokal, dijadikan aset politik dalam perayaan lima tahunan seperti pemilu26.

Pada pasca Orde Baru juga, para elit tidak lagi dikekang atau berpatron kepada pemerintah pusat. Ini disebabkan oleh akibat dari kebijakan desentralisasi. Elit local ini kemudian menyebar di berbagai kelompok masyarakat atau birokrasi, sehingga mereka berpeluang melakukan bermacam peran dalam sector ekonomi maupun politik. Di samping itu juga, karena status sosial elit yang tingggi memberikan mereka peluang manakala menjadi bagian dari perubahan sosial yang memobilisasi sumber daya lokal27. Dalam aspek politik lokal, kemunculan elit-elit baru ini memperlihatkan rivalitas di antara mereka ketika terjadi alokasi sumber-sumber kekuasaan terutama dengan adanya pilkada yang mengisyaratkan transfer kekuasaan dari aktor atau elit pusat ke aktor atau elit daerah28.

Dalam teori politik, Elit didefinisikan oleh Pareto (1848-1923) adalah sekelompok kecil orang yang mempunyai kualitas yang diperlukan kehadirannya untuk mendapatkan kekuasaan sosial politik29. Sedangkan Gaetano Mosca ( 1858-1941), mengartikan elit dengan seorang yang cakap dalam memimpin dan menjalankan control sosial30. Robert D. Putman, mendefinisikan elit dengan

26

Irine Hiraswari dkk, dalam Ringkasan Laporan Penelitian, Dinamika Peran Elit Lokal di Pedesaan Pasca Orde Baru; Studi Kasus Peran Tuan Guru di Lombok Timur oleh LIPI, h. 2

27

Irine Hiraswari dkk, dalam Ringkasan Laporan Penelitian, Dinamika Peran Elit Lokal di Pedesaan Pasca Orde Baru; Studi Kasus Peran Tuan Guru di Lombok Timur oleh LIPI, h. 2

28

Irine Hiraswari dkk, dalam Ringkasan Laporan Penelitian, Dinamika Peran Elit Lokal di Pedesaan Pasca Orde Baru; Studi Kasus Peran Tuan Guru di Lombok Timur, h. 2

29SP. Varma, Teori Politik Modern, diterjemahkan oleh Yohanes Kristianto, Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada, 2007, h. 198

beberapa orang yang memiliki lebih banyak kekuasaan politik daripada yang lain31

Dalam sejarah kemunculan elit di Nusa Tenggara Barat, yang terdiri dari dua pulau, yaitu Pulau Sumbawa dan pulau Lombok memiliki tipografi yang berbeda. Sehingga, tentu saja kedua pulau ini juga memiliki tipologi elit yang berbeda. Ini disebabkan karena perbedaan setting dan kondisi yang pada awalnya berbeda. Sebagaimana dikutip dalam Ringkasan Laporan Penelitian yang dilakukan oleh LIPI yang mewawancarai Dr. Rosiyadi Sayuti, Kepala Bappeda Propensi Nusa Tenggara Barat yang mengatakan :

“Di Pulau Lombok bisa dikatan tumpuan pada pimpinan informal lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Sumbawa, sehingga tokoh-tokoh semacam Tuan Guru, pimpinan pondok pesantren banyak tampil menjadi pimpinan partai politik bahkan menjadi anggota dewan. Sementara di Pulau Sumbawa fenomena seperti itu relative tidak ada, karena pengkaderan lebih berada pada di jalur formal bukan informal. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan kultur yang berkembang di kedua wilayah tersebut. Kondisi dan setting awalnya memang sudah seperti itu. Secara sejarah kerajaan-kerajaan yang hidup di Lombok memang mungkin sudah ditopang oleh organisasi-organisasi seperti itu sehingga ketika kerajaan-kerajaan itu hilang dan muncul ke republic ini, organisasi dan eksistensi para pimpinan informal tetap masih bisa dikatakan ada. Berbeda dengan di Sumbawa dimana organisasi semacam itu tidak ada, maka jalur yang ada dalam kepemimpinannya lebih pada jalur formal. Maka kategori elit sendiri bisa dipisahkan menjadi dua, formal dan informal. Formal tentu saja tergambarkan pada jabatan politik formal semacam gubernur, bupati dan posisi-posisi lainnya. Sedangkan informal terepresentasikan di dalam sosok Tuan Guru atau tokoh agama yang memiliki jamaah. Bisa dikatakan semakin besar jamaah yang dimilikinya, maka semakin besar pula ketokohannya yang dia miliki. Sebagai contoh Nahdlatul Wathan yang merupakan lembaga sosial kemasyarakatan yang memiliki lembaga pendidikan yang terbesar di hampir seluruh desa di Nusa Tenggara Barat, sehingga tidak heran jika elitnya menjadi tokoh masyarakat yang memiliki

31

banyak pengikut. Posisi ini menjadi penting dan berbeda dibandingkan dengan posisi elit-elit yang lain”32.

Oleh karena itu, dalam konteks Nusa Tenggara Barat pada umumnya dan Lombok pada khususnya mempunyai dua kategori elit, yaitu elit formal dan elit informal. Dan direpresentasikan dalam kaum bangsawan (menak) dari elit formal dan kaum agamawan (Tuan Guru atau Kyiai) dari elit informal.

Elit formal adalah seseorang yang dipilih melalui mekanisme legal-formal atau melalaui mekanisme Pemilu atau Pilkada. Elit formal ini termasuk menjadi gubernur, bupati, camat dan anggota dewan.

Sedangkan Elit informal didapat bukan melalaui proses melainkan pengakuan. Pengakuan diberikan berdasarkan pada tradisi dan kharisma yang dimilikinya. Biasanya elit ini memiliki kharisma yang membuat orang percaya bahwa kekuasaan yang dimiliki adalah sah adanya. Sehingga Tuan Guru sebagai elit lokal juga mempunyai posisi yang penting dalam perubahan sosial.

Dalam tradisi sejarah Islam, istilah tuan guru, kiai, ajengan, bendere, buya dan lainnya tidaklah dikenal, melainkan mengggunakan istilah yang baku untuk penyebutan tersebut, seperti alim, ustadz, syekh, dan wali. Bahkan dalam perintis penyebaran agama Islam di Indonesia disebut dengan syeh, wali, dan sunan33.

Istilah Tuan Guru dalam masyarakat Sasak, Kyai dalam masyarakat Jawa,

Ajengan untuk masyarakat Sunda, Bendere untuk masyarakat Madura, Buya untuk

masyarakat Sumatra Barat, Topanrita untuk masyarakat Sulawesi Selatan dan

32

Irine Hiraswari dkk, dalamRingkasan Laporan Penelitian, Dinamika Peran Elit Lokal di Pedesaan Pasca Orde Baru; Studi Kasus Peran Tuan Guru di Lombok Timur, h.6-7

33

lainnya. Secara etnografis merupakan istilah lokal, tetapi secara terminologis dan kultural sama sebagai sebutan ulama34. Istilah lokal ini muncul, ada yang mengatakan bahwa strategi Belanda pada waktu penjajahan, dengan tujuan menjadikan Islam sebagai fenomena budaya local yang menyatu dengan tradisi kerajaan. Dengan strategi itu, peyebaran agama Islam dapat diisolasi dan ditutup kemungkinannya untuk menjadi gerakan Islam secara nasional35.

Menurut Hasan Basri Marwah, istilah Tuan Guru bisa ditelusuri sampai abad ke 18 ketika tiga orang alim ini menggunakannya pertama kali. Pertama Tuan Guru Umar Kelayu, Tuan Guru Abdul Hamid Presak Pagutan dan Tuan Guru Sekar Bela36. Konon mereka bertiga sangat harmonis dan sangat tinggi tingkat toleransinya dalam perbedaan pandangan. Mereka bertiga cukup lama tinggal di Hizaj untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu37.

Dalam masyarakat Sasak, Untuk menjadi tokoh yang mendapat gelar sebagai Tuan Guru, sebagai orang yang berpengaruh di masyarakat Sasak, ada beberpa syarat, meskipun antara daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki persamaan, akan tetapi ada beberapa hal yang perbedaan. Syarat-Syarat tersebut adalah telah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah, menguasai kitab suci Al-Qur’an, Hadis dan kitab kuning, mengenyam pendidikan di Timur Tengah, biasanya memiliki pondok pesantren dan jamaan yang terwadahi dalam

34

Imam Suprayogo, Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai, h. 28

35

Imam Suprayogo, Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai, h. 28

36

Hasan Basri Munawar, Tuan Guru dan Politik di Gumi Sasak , artikel di situs Sasak.Org, diakses pada tanggal 24/1/2011

37

pesantren yang dimilikinyam dan mendapat pengakuan dari jama’ahnya maupun dari jama’ah di luarnya38.

Masyarakat Sasak memandang sosok Tuan Guru sebagai seorang yang “serba bisa”, “mampu”, dan berpengaruh39. Itu karena kemampuan seorang Tuan

Guru (Kyai) dalam pengetahuannya tentang ajaran-ajaran Islam, sehingga

seringkali dilihat sebagai orang yang mampu memahami keagungan Tuahan dan rahasia alam, dan mereka dianggap memiliki kedudukan yang tak terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam40. Biasanya gelar Tuan Guru (Kyai) diberikan kepada golongan ulama dari golongan Islam tradisional41.

Tuan Guru, dalam masyarakat Sasak diakui sebagai pemimpin yang kharismatik, pemimpin yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dengan kelebihan-kelebihan tertentu. Seorang dikatakan sebagai pemimpin yang kharismatik, apabila kepemimpinannya bersumber dari kekuatan yang luar biasa, yang diistilahkan dengan charismatic authority42. Kepemimpinan jenis ini lebih didasarkan pada identifikasi psikologis. Makna identifikasi adalah keterlibatan emosional individu dengan individu lain yang akhirnya nasib orang sendiri

38

Irine Hiraswari dkk, dalamRingkasan Laporan Penelitian, Dinamika Peran Elit Lokal di Pedesaan Pasca Orde Baru; Studi Kasus Peran Tuan Guru di Lombok Timur, h.8-9

39

Jamaluddin, Tuan Guru dan Dinamika Politik Kharisma dalam Masyarakat Sasak Lombok, dalam Buku Dialektika Teks Suci Agama; Strukturasi Makna Agama dalam Kehidupan Masyarakat, Yogyakarta: Sekolah Pascaserjana UGM, 2008, cet. I, h. 138

40

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1982, cet. I, h. 56

41

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, h. 56

42

berkaitan degan orang lain. Bagi para pengikut, pemimpin adalah harapan untuk membawa ke arah yang lebih baik, penyelamat, pelindung43.

Kharisma dan status Tuan Guru makin berkembang ketika jama’ah atau santri yang mengikuti pengajian semakin banyak. Pengajian-pengajian yang dilakukan selain di rumah Tuan Guru juga di desa-desa yang dilakukan setiap seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Selain itu, Tuan Guru juga biasanya diundang dalam perayaan-perayaan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, hari besar Islam, Isra’ Mi’raj atau acara-acara selamatan44.

Oleh karena itu, dalam masyarakat Sasak, khusunya Tuan Guru sebagai elit local terlihat memiliki peran ganda dalam masyarakat. Pertama sebagai elit agama atau pemimpin spiritual yang memperikan pencerahan atau bahkan memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan-permasalahan agama yang di hadapi masyarakat. Kedua sebagai aktifis politik yang langsung terlibat dalam perpolitikan nasional maupun local dan bahkan ikut dalam pencalonan gubernur, bupati dan dewan perwakilan rakyat.

Dokumen terkait