BAB III : SISTEM ADMINISTRASI KANTOR NOTARIS
C. Tugas dan wewenang Notaris
Tugas notaris memberikan bantuan tentang membuat akta otentik. Dan demikian, penting bagi notaris untuk dapat memahami ketentuan yang diatur oleh undang-undang supaya masyarakat umum yang tidak tahu atau kurang memahami aturan hukum, dapat memahami dengan benar serta tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum.142
Notaris merupakan suatu pekerjaan yang memiliki keahlian khusus yang menuntut pengetahuan luas, serta tanggung jawab yang berat untuk melayani kepentingan umum dan inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta jasa Notaris.
Akta yang dibuat oleh notaris adalah akta otentik. Jika berbicara tentang akta otentik, maka tidak terlepas dari pengertian akta itu sendiri, yaitu suatu tulisan khusus yang dibuat supaya menjadi bukti tertulis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akta adalah surat tanda bukti berisi pernyataan (keterangan, pengakuan, keputusan) tentang peristiwa hukum yang dibuat, dan disahkan oleh pejabat resmi.
Sebuah akta otentik merupakan dokumen yang sah dan dapat menjadi alat bukti yang sempurna. Sempurna disini berarti hakim menganggap semua yang tertera dalam akta merupakan hal yang benar, kecuali ada akta lain yang dapat membuktikan bahwa isi akta pertama tersebut salah. Oleh karena itu, pembuatan sebuah akta otentik
142 Komar Andasasmita, Notaris Selayang Pandang, Cet. 2, (Bandung Alumni/
1983/Bandung, 1983), hlm. 2
menjadi sesuatu yang penting. Memiliki akta otentik berarti memiliki bukti atau landasan yang kuat di mata hukum.143
Hal lain yang membuat akta otentik memiliki kekuatan hukum adalah karena akta otentik memiliki minuta akta yang disimpan oleh negara melalui notaris. Akan sangat kecil kemungkinan akta otentik hilang. Bukan hanya itu, jika seseorang menyangkal isi atau keberadaan akta otentik maka akan mudah untuk diperiksa kebenarannya.144
G.H.S. Lumban Tobing145 mengatakan bahwa Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris tidak memberikan uraian lengkap mengenai tugas dan pekerjaan Notaris, oleh karena itu selain untuk membuat akta akta otentik, Notaris juga di tugaskan untuk melakukan dan mengesahkan (waarmerking dan legaliseren) surat surat/akta akta yang dibuat dibawah tangan (LN.1916/46 jo 43).
Notaris juga memberikan nasehat hukum dan penjelasan mengenai Undang undang kepada pihak pihak yang bersangkutan. Selanjutnya G.H.S. Lumban Tobing mengatakan bahwa menurut kenyataannya tugas Notaris bersamaan perkembangan waktu telah berkembang sebagaimana sekarang ini, tugasnya Notaris sebagaimana menurut Undang undang dan menurut sebenarnya.146 Dan tugas yang dijalankannya sebagai pejabat umum, yang diletakkan kepadanya menurut Undang undang sangat berbeda sekali dengan tugas yang dibebankan kepadanya oleh masyarakat dalam
143 Ira Koesoemawati dan Yunirman Rijan, Op.Cit, hlm. 83
144 Ibid, hlm. 85
145 G.H.S. Lumban Tobing, Op Cit, hlm. 37
146 Ibid, hlm. 37
praktek, sehingga sulit untuk, memberikan definisi yang lengkap mengenai tugas dan pekerjaan Notaris.147
Dalam hal menjalankan tugasnya, Notaris mempunyai kewajiban serta hal yang terpenting yakni yang tertuang dalam Pasal 16 ayat (a) UUJN148 diantaranya bertindak jujur dan tidak memihak. Setiap Notaris dituntut agar memberikan akses terhadap informasi yang seimbang diantara para pihak yang berkontrak, sehingga harus dicegah terjebaknya salah satu pihak kedalam suatu kontrak karena tidak atau kurang dipahaminya persyaratan dari kontrak yang sesungguhnya yang dapat merugikan pihak yang tidak cukup memahami persyaratan dari kontrak tersebut.
Pengertian notaris berdasarkan bunyi Pasal 1 butir 1 jo Pasal 15 ayat 1 UUJN menyatakan bahwa Notaris adalah pejabat umum149 yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
147 Ibid, hlm. 37
148 Notaris berkewajiban bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.
149 Istilah Pejabat Umum merupakan terjemahan dari istilah Openbare Ambtenaren diartikan sebagai pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta otentik yang melayani kepentingan publik, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada Notaris. Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2008, (selanjutnya disebut Buku I) hlm. 27
Jabatan notaris merupakan suatu lembaga yang diciptakan oleh negara.150 Menempatkan notaris sebagai jabatan151 merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu (kewenangan tertentu) serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.
Jabatan notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum.152
Dengan dasar seperti ini mereka yang diangkat sebagai notaris harus mempunyai semangat untuk melayani masyarakat, dan atas pelayanan tersebut, masyarakat yang telah merasa dilayani oleh notaris sesuai dengan tugas jabatannya,
150 Suatu lembaga yang dibuat atau diciptakan oleh negara, baik kewenangan atau materi muatannya tidak berdasarkan pada peraturan perundang-undangan, delegasi atau mandat melainkan berdasarkan wewenang yang timbul dari freis ermessen yang dilekatkan pada administrasi negara untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu yang dibenarkan oleh hukum (Beleidsregel atau Policyrules).
Bagir Manan, Hukum Positif Indonesia, UII Press, Yogyakarta, 2004, hlm. 15
151 Penyebutan Notaris sebagai jabatan dalam UUJN tidak konsisten, karena dalam UUJN disebut pula notaris sebagai suatu profesi atau sebagai suatu profesi jabatan. Misalnya dalam UUJN pada Konsiderans Menimbang huruf c disebutkan, bahwa notaris merupakan jabatan yang menjalankan profesi. Pasal 1 angka 5 UUJN, disebutkan bahwa Organisasi Notaris adalah organisasi profesi jabatan notaris. Pengertian Jabatan dan Profesi berbeda. Kehadiran lembaga notaris merupakan Beleidsregel dari negara dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN) atau jabatan notaris sengaja diciptakan negara sebagai implementasi dari negara dalam memberikan pelayanan kepada rakyat, khususnya dalam pembuatan alat bukti yang otentik yang diakui oleh negara. Profesi lahir sebagai hasil interaksi di antara sesama anggota masyarakat, yang lahir dan dikembangkan oleh masyarakat sendiri.
152 Secara substantif akta notaris dapat berupa: (1) suatu keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dikehendaki oleh para pihak agar dituangkan dalam bentuk akta otentik untuk dijadikan sebagai alat bukti;(2) berdasarkan peraturan perundang-undangan bahwa tindakan hukum tertentu wajib dibuat dalam bentuk akta otentik.
dapat memberikan honorarium kepada notaris. Oleh karena itu Notaris tidak berarti apa-apa jika masyarakat tidak membutuhkannya.
Dengan demikian Notaris merupakan suatu Jabatan Publik mempunyai karakteristik, yaitu:153
1. Sebagai Jabatan;
UUJN merupakan unifikasi di bidang pengaturan Jabatan Notaris, artinya satu-satunya aturan hukum dalam bentuk undang-undang yang mengatur Jabatan Notaris di Indonesia, sehingga segala hal yang berkaitan dengan Notaris di Indonesia harus mengacu kepada UUJN.
2. Notaris mempunyai kewenangan tertentu;
Setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus dilandasi aturan hukumnya sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik dan tidak bertabrakan dengan wewenang jabatan lainnya. Dengan demikian jika seorang pejabat (Notaris) melakukan suatu tindakan di luar wewenang yang telah ditentukan, dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar wewenang.
3. Diangkat dan diberhentikan oleh Pemerintah;
Pasal 2 UUJN menentukan bahwa Notaris diangkat dan diberhentikan oleh Pemerintah, dalam hal ini menteri yang membidangi kenotariatan (Pasal 1 angka 14 UUJN). Notaris meskipun secara administratif diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, tidak berarti Notaris menjadi subordinasi (bawahan) dari yang
153 Habib Adjie, Buku I, Op.Cit., hlm. 32
mengangkatnya, pemerintah. Dengan demikian Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya:
a. bersifat mandiri (autonomous);
b. tidak memihak siapapun (impartial);
c. tidak tergantung kepada siapa pun (independent), yang berarti dalam menjalankan tugas jabatannya tidak dapat dicampuri oleh pihak yang mengangkatnya atau oleh pihak lain.
4. Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya;
Notaris meskipun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tetapi tidak menerima gaji dan pensiun dari pemerintah. Notaris hanya menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau dapat memberikan pelayanan Cuma-Cuma untuk mereka yang tidak mampu. Jabatan notaris sesungguhnya menjadi bagian penting dari negara Indonesia yang menganut prinsip Negara hukum. Dengan prinsip ini, negara menjamin adanya kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum, melalui alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang sebagai subjek hukum dalam masyarakat.
5. Akuntabilitaas atas pekerjaannya kepada masyarakat;
Kehadiran Notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan dokumen hukum (akta) otentik dalam bidang hukum perdata, sehingga Notaris mempunyai tanggungjawab untuk melayani masyarakat.
Wewenang Notaris meliputi 4 (empat) hal yaitu:
1. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya itu; artinya tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta akta tertentu,
yakni yang ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan perundang undangan.
2. Notaris harus berwenangan sepanjang mengenai orang orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat; artinya Notaris tidak berwenang untuk membuat akta untuk kepentingan setiap orang. Di dalam Pasal 53 UUJN akta Notaris tidak boleh memuat penetapan atau ketentuan yang memberikan sesuatu hak dan/atau keuntungan bagi: Notaris, istri atau suami Notaris, saksi, istri atau suami saksi atau orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Notaris atau saksi, baik hubungan darah dalam garis lurus keatas atau kebawah tanpa pembatasan derajat maupun hubungan perkawinan sampai dengan derajat ketiga sedangkan Pasal 20 ayat (1) Peraturan Jabatan Notaris misalnya ditentukan, bahwa Notaris tidak diperbolehkan membuat akta, didalam mana Notaris sendiri, istrinya, keluarga sedarah atau keluarga semenda dari Notaris itu dalam garis lurus tanpa pembatasan derajat dan dalam garis kesamping sampai dengan derajat ketiga, baik secara pribadi maupun melalui kuasa, menjadi pihak.
maksud dan tujuan dari ketentuan ini ialah untuk mencegah terjadinya tindakan memihak dan penyalahgunaan jabatan.
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu;
artinya Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti atau
dipecat dari jabatannya, demikian juga Notaris tidak boleh membuat akta sebelum ia memangku jabatannya (sebelum diambil sumpahnya).154
154 G.H.S. Lumban Tobing, Op Cit, 1980, hlm. 42
BAB IV
AKIBAT HUKUM TIDAK DISELENGGARAKAN PERBUATAN NOTARIS SESUAI PASAL 16 UUJN
D. Akibat dari Perbuatan Notaris yang tidak sesuai dengan Pasal 16 UUJN Larangan notaris merupakan suatu tindakan yang dilarang dilakukan oleh notaris, jika larangan ini dilanggar oleh notaris, maka kepada notaris yang melanggar akan dikenakan sanksi sebagaimana tersebut dalam Pasal 85 UUJN undang undang nomor 30 tahun 2004 yang kemudian dihapus Pasal ini dan digantikan dengan undang undang nomor 2 tahun 2014.
Dihapusnya Pasal 85 tentang pelarangan dikarenakan terhadap pengawas notaris sering kali menyalahgunagakan kewenangannya didalam memeriksa, berdasarkan yuridis yang ada pengawasan notaris hanya sebatas memeriksa pembuatan yang dibuat oleh notaris itu sendiri maka dengan demikian yang menjadi objek terhadap pemeriksaan notaris adalah aktanya bukan notarisnya.
Didalam Pasal 17 huruf b, yaitu meninggalkan wilayah jabatannya lebih dan 7 (tujuh) hari kerja berturut turut tanpa alasan yang sah. Bahwa notaris mempunyai wilayah jabatan 1 (satu) Propinsi (Pasal 18 ayat 2 UUJN) dan mempunyai tempat kedudukan pada 1 (satu) kota atau kabupaten pada Propinsi tersebut (Pasal 18 ayat 1 UUJN).
Dalam hal ini yang dilarang menurut ketentuan Pasal 17 huruf b UUJN yaitu meninggalkan wilayah jabatannya (Propinsi) lebih dari 7 (tujuh) hari kerja. Dengan konstruksi hukum seperti itu, maka dapat ditafsirkan tidak meninggalkan
94
meninggalkan tempat kedudukan notaris (kota/kabupaten) lebih dari 7 (tujuh) hari kerja. Seharusnya yang dilarang, yaitu meninggalkan tempat kedudukan notaris lebih dari 7 (tujuh) hari kerja, hal ini harus dikaitkan dengan ketentuan Pasal 19 ayat 2 UUJN yang menegaskan notaris tidak berwenang secara teratur menjalankan jabatan diluar tempat kedudukannya.
Ketentuan Pasal 19 ayat 2 UUJN jika dilanggar oleh notaris, tidak ada sanksi apapun untuk notaris yang melanggarnya menurut UUJN. Jika hal ini terjadi maka sanksi untuk notaris dapat didasarkan kepada ketentuan Pasal 1868 dan 1869 KUHPerdata, yaitu dinilai tidak berwenanganya notaris yang bersangkutan yang berkaitan dengan tempat dimana akta dibuat, maka akta yang dibuat tidak diperlakukan sebagai akta otentik, tapi mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, jika ditandatangani oleh para pihak.
E. Kedudukan Notaris
Kedudukan seorang notaris sebagai suatu fungsionaris dalam masyarakat hingga sekarang masih disegani. Seorang notaris biasanya dianggap sebagai seorang pejabat tempat sesorang dapat memperoleh nasehat yang dapat diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkan adalah benar. Ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.155
155 Tan Thong Kie, 2001, Serba Serbi Praktek Notaris, Buku I Cet. 2, PT. Ichtiar Baru, Jakarta, hlm. 30
Kedudukan hukum akta notaris adalah sebagai alat bukti yang sempurna.
Dalam penyidikan akta notaris digunakan sebagai alat bukti dalam proses penyidikan.
Agar mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna.
Seluruh ketentuan prosedur dan tata cara pembuatan akta notaris sesuai dengan Undang-Undang Jabatan Notaris. Jika ada prosedur yg tidak dipenuhi, dan prosedur yang tidak dipenuhi tersebut dapat dibuktikan, maka akta tersebut sebagai akta yang mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawa tangan.
Menurut Hukum Acara Perdata pada akta notaris melekat nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat. Artinya apabila akta notaris yang diajukan telah memenuhi syarat formil dan materiil serta tidak ada terbukti sebaliknya, maka akta notaris mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat, sehingga kebenaran isi yang tercantum di dalamnya harus dianggap benar oleh hakim.
Menurut Hukum Acara Pidana pada akta notaris melekat nilai kekuatan pembuktian bebas, artinya pada akta notaris tidak melekat kekuatan yang mengikat.
Di sini hakim bebas untuk menilai kekuatan pembuktian pada akta notaris, karena batas minimal pembuktian dalam Hukum Acara Pidana adalah sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah, sebagaimana diatur dalam pasal 183 KUHAPidana.
Dalam proses penyidikan alat bukti surat (akta notaris) dari segi formal, akta notaris adalah alat bukti yang sah dan sempurna, sedangkan dari segi materiil alat bukti surat (akta notaris) tidak dapat berdiri sendiri. Alat bukti surat (akta notaris)
harus dibantu lagi dengan dukungan paling sedikit 1 alat bukti yang lain guna memenuhi apa yang telah ditentukan oleh asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHPidana.
Akibat hukum terhadap akta notaris yang memuat keterangan palsu, apabila pihak yang mendalilkan dapat membuktikannya maka akta notaris tersebut batal demi hukum. Adapun perjanjian yang tertulis dalam akta tersebut batal demi hukum, karena tidak memnuhi syarat obyektif yaitu sebab (causa) yg halal atau dapat dibatalkan karena tidak memenuhi syarat subyektif suatu perjanjian.
Syarat-syarat untuk diangkat menjadi Notaris adalah :156 a. Warga negara Indonesia;
b. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. Berumur paling sedikit 27 (dua puluh tujuh) tahun;
d. Sehat jasmani dan rohani;
e. Berijazah sarjana hukum dan lulusan jenjang strata dua kenotariatan;
f. elah menjalani magang atau nyata-nyata telah bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut pada kantor Notaris atas prakarsa sendiri atau atas rekomendasi Organisasi Notaris setelah lulus strata dua kenotariatan;
g.Tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, atau tidak sedang memangku jabatan lain yang oleh Undang-undang dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris.
Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berpedoman secara normatif kepada aturan hukum yang berkaitan dengan segala tindakan yang akan diambil untuk kemudian dituangkan dalam akta. Bertindak berdasarkan aturan hukum yang berlaku tentunya akan memberikan kepastian kepada para pihak, bahwa akta yang dibuat di hadapan atau oleh notaris telah sesuai dengan aturan hukum yang
156 Suhrawardi K. Lubis, Op.Cit, hlm. 34
berlaku, sehingga jika terjadi permasalahan, akta notaris dapat dijadikan pedoman oleh para pihak.157
Setiap pekerjaan dan jabatan tentu dibarengi dengan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam menjalankan praktiknya, seorang notaris memiliki kewajiban, kewenangan, dan larangan atau pantangan. Kewenangan, kewajiban, dan larangan merupakan inti dari praktik kenotariatan. Tanpa adanya ketiga elemen ini maka profesi dan jabatan notaris menjadi tidak berguna.158
Notaris sebagai pejabat umum diberikan oleh peraturan perundang-undangan kewenangan untuk membuat segala perjanjian dan akta serta yang dikehendaki oleh yang berkepentingan. Kewenangan Notaris tersebut adalah:159
a) Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangundangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
b) Notaris berwenang pula:
157 Habib Adjie, Meneropong Khazanah Notaris dan PPAT Indonesia (Kumpulan Tulisan Tentang Notaris dan PPAT), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2009, (Selanjutnya disebut Buku II), hlm. 185
158 Ira Koesoemawati dan Yunirman Rijan, Op.Cit, hlm. 40
159 Pasal 15 UUJN
a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.
b. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus
c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan
d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya e. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta
f. membuat akta berkaitan dengan pertanahan atau membuat risalah lelang
D. Sanksi Hukum Bagi Notaris Tentang Menyalahi Tugas dan Wewenang
Sebagai pejabat umum yang diberikan kepercayaan untuk mengemban sebagian tugas negara, Notaris harus dapat menjalankan tugas profesi sebaik mungkin sesuai dengan hukum agamanya.
Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugasnya sebagai pejabat negara tidak terlepas dari tanggungjawab secara perdata dimana Notaris selalu berpedoman dan/atau mengacu pada kitab Undang undang hukum perdata, Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 jo Undang undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris dan peraturan perundang undangan lainnya. Pertanggung jawaban yang diminta kepada notaris bukan hanya dalam pengertian sempit yakni membuat akta, akan tetapi pertanggung jawabannya dalam arti yang luas, yakni tanggung jawab pada saat fase akta dan tanggung jawab pada saat pasca penandatanganan akta.160
160 Syahril Sofyan, Intisari Kuliah TPA I, 2006.yang mengutip pendapat Scott J. Burnham
“The Contract Drafting Guidebook”, The Michie Company LawPublisher, Charlottesville, Virginia, 1992,hal 5, dalam bukunya Legal Drafting Sense & Nonsense, The Responsibility of the drafter can be
Pasal 84 UUJN menyebutkan bahwa :
Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap ketentuan Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf i,161 Pasal 16 ayat (1) huruf k,162 Pasal 41, 44, 48, 49, 50, 51 atau pasal 52 (tentang bentuk dan sifat akta) yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris.
Berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 84 UUJN tersebut nampak bahwa para Notaris bertanggung jawab terhadap para yang berkepentingan sehubungan dengan akta yang dibuatnya (para kllien), yaitu : didalam hal-hal yang secara tegas ditentukan oleh UUJN, jika suatu akta karena tidak memenuhi syarat-syarat mengenai bentuk, dibatalkan, dimuka pengadilan atau dianggap hanya berlaku sebagai akta yang dibuat dibawah tangan. Dalam segala hal, dimana menurut ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1365, Pasal 1366 dan Pasal 1367 KUHPerdata terdapat kewajiban untuk membayar ganti kerugian.
Pertanggung jawaban perdata dalam hal ini Notaris yang bersangkutan tidak memenuhi syarat-syarat formal sehubungan akta yang dibuatnya tersebut, tampak intimidating. If you don’t it right, disastrous consequences may follow. David Mellinkoff menggariskan salah satu aturan tentang Rules of Legal Writing:” some day some one will read what you have written, trying to find some thing wrong with it. This is the special burden of legal writing, and the special incentive to be a as precise as you can “.
161 Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nilai yang berkenaan dengan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang kenotarisan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya.
162 Mempunyai cap/stempel yang memuat lambang Negara Republik Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya ditulis nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkkutan.
dalam Pasal 52 ayat (3), dalam hal yang demikian akta tersebut dibatalkan oleh pengadilan atau hanya berlaku sebagai akta dibawah ttangan sedangkan Notaris yang bersangkutan dapat dituntut untuk membayar biaya-biaya, ganti rugi dan bunga keapa yang bersangkutan.
Pembebanan pertanggung jawaban kepada Notaris hanya dapat dilakukan apabila akta tersebut batal karena dipergunakan penipuan atau tipu muslihat dalam pembuatan aktanya yanng dapat bersumber baik dari Notaris sendiri maupun para pihak yang membuat akta tersebut.
R. Soegondo Notodisoerjo,163 berpendapat bahwa : yang dapat dipertanggung jawabkan kepada Notaris ialah apabila penipuan itu atau tipu muslihat itu bersumber dari Notaris sendiri.
Hal tersebut dapat terjadi apabila seorang Notaris dalam suatu transaksi
Hal tersebut dapat terjadi apabila seorang Notaris dalam suatu transaksi