ANALISIS YURIDIS TENTANG MAL ADMINISTRASI KANTOR NOTARIS DITINJAU BERDASARKAN PASAL 16 UU NOMOR 2
TAHUN 2014 TENTANG JABATAN NOTARIS
TESIS
OLEH
JULI MURNIATY GINTING 137011099/M.Kn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
ANALISIS YURIDIS TENTANG MAL ADMINISTRASI KANTOR NOTARIS DITINJAU BERDASARKAN PASAL 16 UU NOMOR 2
TAHUN 2014 TENTANG JABATAN NOTARIS
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
OLEH
JULI MURNIATY GINTING 137011099/M.Kn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
ABSTRAK
Perbuatan Mal Administrasi Notaris yang tidak menjalankan sesuai dengan ketentuan Pasal 16 Undang undang Jabatan Notaris (UUJN) seperti tidak membacakan isi Akta, bersifat memihak, bekerja diluar wilayah kerja, dalam hal penandatanganan tidak dihadapan Notaris, penurunan tarif dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, bekerja sama dengan biro jasa atau badan hukum yang pada hakikatnya bertindak sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien, mempunyai lebih dari satu kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan, menggelapkan setoran pajak.
Jika perbuatan ini dilakukan secara terus menurus maka akan berakibat terhadap Notaris tersebut dapat dikenainya baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana, sanksi administrasi dapat berupa peringatan pertama sampai dengan terakhir yang berakibat dengan pemberhentian dengan tidak hormat sedangkan sanksi pidana dapat dikenainya hukuman penjara ataupun ganti kerugian karna turut serta memalsukan surat.
Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis normatif. Data data yang dihimpun dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode pengumpulan data seperti kepustakaan dan metode deduktif seperti pengamatan dilapangan yang berhubungan dengan mekanisme mal administrasi notaris sesuai Pasal 16 UUJN.
Mekanisme Mal Administrasi Notaris ialah mengantisipasi dari segala perbuatan perbuatan yang mendatangkan masalah dikemudian hari hal ini sangat penting mengingat jabatan Notaris adala jabatan kepercayaan yang harus dijaga keabsahannya dan kebenaran dari isi akte dan berkas berkas kelengkapan yang diterima oleh notaris itu sendiri.
Akibat hukum dengan tidak diselenggarakannya perbuatan notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 16 UUJN maka seorang notaris dapat dikenai sanksi sanksi berupa sanksi administrasi maupun sanksi pidana. yang merupakan Mal Administrasi notaris adalah dikenainya sanksi yang berupa peringatan pertama dilanjuti dengan peringatan kedua yang pada akhirnya peringatan ketiga atau terakhir berupa pemberhentian secara tidak hormat, sedangkan sanksi pidananya apabila perbuatan notaris tersebut sangat fatal dan dapat merugikan kepentingan pihak lain maka dapat dikenakan Pasal pasal pidana yang termasuk dalam turut serta memalsukan dan atau lainnya yang menurut Undang undang dapat dikenai hukuman penjara dan ataupun ganti kerugian.
Kata Kunci : Mal Administrasi Kantor Notaris
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahhim syukur alhamdulillah, Puji syukur atas kehadirat Allah S.W.T. Atas segala kenikmatan yang diberikan kepada Nya berupa Iman, Islam, serta karunia yang tak terhingga, hingga pada akhirnya penulisan tesis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya dengan judul “Analisis Yuridis Tentang Mal Administrasi Kantor Notaris Ditinjau Berdasarkan Pasal 16 Undang undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris”.
Adapun penulisan tesis ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Pascasarjana, Bidang Studi Ilmu Hukum, Jurusan Magister Kenotariatan pada Universitas Sumatera Utara.
Dalam rangka penulisan tesis ini telah banyak memperoleh bimbingan serta bantuan petunjuk yang sangat berarti sekali dalam penulisan tesis ini, sehingga pada tempatnyalah diucapkan terima kasih yang sebesar besarnya dan rasa hormat yang setinggi tingginya khususnya kepada para Pembimbing, yaitu yang amat terpelajar Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN., dan Prof. Dr. Budiman Ginting SH, MHum., serta Dr. Syahril Sofyan SH, MKn.
Berkaitan dengan penyelesaian penulisan tesis ini, telah banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan moril maupun bahan bahan yang diperlukan, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.
Selanjutnya ucapan terima kasih yang sebesar besarnya disampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM),. Sp.A (K), selaku Rektor Universitas sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengikuti pendidikan pada Program Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Runtung, SH, MHum., atas kesempatan menjadi Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Dedi Heriyanto, SH, MHum., sebagai penguji penulis, yang telah meluangkan waktunya, dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan, bimbingan serta saran kepada penulis.
5. Bapak Syafnil Gani, SH., MKn sebagai penguji penulis, yang telah meluangkan waktunya, dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan, bimbingan serta saran kepada penulis.
6. Seluruh Guru Besar beserta Dosen dan Staf Pengajar pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya dan membuka cakrawala berpikir penulis yang sangat bermanfaat dikemudian hari.
7. Para pegawai pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu memberikan kemudahan dalam hal administrasi Kenotariatan.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga juga disampaikan kepada yang Mulia Ayahanda Haji Umur Ginting dan Ibunda Siti Amisyah yang tercinta yang telah mendidik, membesarkan, mencurahkan kasih sayang serta memberikan doa dan dorongan baik dalam bentuk moril maupun materil serta saudara saudara ku yang sangat aku sayangi kepada Abangku Hamdan Rifa,i Ginting SH, Nur Fatmah, SH., MKn yang senantiasa memberikan motivasi dan doa.
Besar harapan penulis adalah semoga atas kebaikan dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis akan mendapatkan Pahala di SisiNya serta kesehatan, rezeki yang melimpah, Amin.
Didalam penulisan tesis ini penulis menyadari bahwa tidak luput dari segala kekurangan baik dari substansinya maupun dari cara penyajiannya, oleh kareena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima. Akhir kata penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan penulis berdoa semoga ilmu yang telah diperoleh dapat dipergunakan untuk kepentingan bangsa dan agama.
Medan, Agustus 2015 Penulis
Juli Murniaty Ginting
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Juli Murniaty Ginting Tempat/Tanggal Lahir : Medan/27-07-1991 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Kawin
Alamat : Jl. Pintu air 4 Nomor 241 A Medan II. IDENTITAS KELUARGA
Nama Ayah : Drs. H.Umur Ginting Nama Ibu : Hj.Siti Amisyah Tarigan III. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SD Yayasan Perguruan Al-Azhar Medan : Tamat 2003 2. SMP Yayasan Perguruan Al-Azhar Medan : Tamat 2006
3. SMA Negeri 2 Medan : Tamat 2009
4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara : Tamat 2013
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRAC . ... ii
KATA PENGANTAR . ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR ISTILAH ASING ... viii
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Keaslian Penelitian ... 12
F. Kerangka Teori ... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Landasan Konsepsional ... 24
G. Metode Penelitian ... 27
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 28
2. Sumber Data ... 29
3. Metode Pengumpulan Data ... 30
4. Alat Pengumpulan Data ... 30
5. Analisis Data ... 31
BAB II : MEKANISME BENTUK MAL ADMINISTRASI KANTOR NOTARIS ………. 33
A. Pengertian Mal Administrasi ... 33
B. Bentuk Mal Administrasi Kantor Notaris ... 36
C. Mekanisme Mal Administrasi Kantor Notaris ... 40
BAB III : SISTEM ADMINISTRASI KANTOR NOTARIS MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM ... 42
A. Administrasi Notaris ... 42
B. Sistem Pembukuan dan Tata Arsip Kantor Notaris ... 50
C. Tugas dan wewenang Notaris ... 86
BAB IV : AKIBAT HUKUM TIDAK TERSELENGGARANYA PERBUATAN NOTARIS SESUAI PASAL 16 UUJN ... 94
A. Akibat dari perbuatan Notaris yang tidak sesuai dengan Pasal .... 16 UUJN ... 94
B. Kedudukan Notaris ... 95
C. Sanksi Hukum bagi Notaris tentang Menyalahi ... Tugas dan wewenang ... 99
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 111
A. Kesimpulan... 111
B. Saran ... 111 DAFTAR PUSTAKA ...
DAFTAR ISTILAH ASING
Notary Public : Notaris
Liability : Kewajiban
The state of being liable : Keadaan menjadi tanggung jawab
Responsibility : Tanggung Jawab
The state or fact being responsible : Negara atau fakta yang bertanggung jawab
Ethos : Jiwa khas suatu bangsa
Apply : Berlaku
Knowledge : Pengetahuan
Service Occupation : Layanan Penduduk
Value : Nilai
Library Research : Penelitian Kepustakaan
Field Research : Penelitian Lapangan
Trivial Matters : Hal hal yang sederhana
Delay : Menunda-nunda pekerjaan
Incorrect action : Kesalahan dalam bertindak
Failure to take any action : Kesalahan dalam Melayani Failure to follow procedures or the law : Mengabaikan prosedur atau
hukum yang berlaku
Failure to provide information : Kesalahan dalam memberikan Informasi
Inadequate record-keeping : Pencatatan yang tidak memadai Failure to investigate : Kesalahan dalam penyelidikan
Failure to reply : Kesalahan dalam menjawab
Misleading or inaccurate statements : Pernyataan yang menyesatkan atau tidak akurat
Inadequate liaison : Kurangnya penghubung
Inadequate consultation : Kurangnya konsultasi
Broken promises : Ingkar janji
BAB I
ABSTRAK
Perbuatan Mal Administrasi Notaris yang tidak menjalankan sesuai dengan ketentuan Pasal 16 Undang undang Jabatan Notaris (UUJN) seperti tidak membacakan isi Akta, bersifat memihak, bekerja diluar wilayah kerja, dalam hal penandatanganan tidak dihadapan Notaris, penurunan tarif dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, bekerja sama dengan biro jasa atau badan hukum yang pada hakikatnya bertindak sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien, mempunyai lebih dari satu kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan, menggelapkan setoran pajak.
Jika perbuatan ini dilakukan secara terus menurus maka akan berakibat terhadap Notaris tersebut dapat dikenainya baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana, sanksi administrasi dapat berupa peringatan pertama sampai dengan terakhir yang berakibat dengan pemberhentian dengan tidak hormat sedangkan sanksi pidana dapat dikenainya hukuman penjara ataupun ganti kerugian karna turut serta memalsukan surat.
Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis normatif. Data data yang dihimpun dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode pengumpulan data seperti kepustakaan dan metode deduktif seperti pengamatan dilapangan yang berhubungan dengan mekanisme mal administrasi notaris sesuai Pasal 16 UUJN.
Mekanisme Mal Administrasi Notaris ialah mengantisipasi dari segala perbuatan perbuatan yang mendatangkan masalah dikemudian hari hal ini sangat penting mengingat jabatan Notaris adala jabatan kepercayaan yang harus dijaga keabsahannya dan kebenaran dari isi akte dan berkas berkas kelengkapan yang diterima oleh notaris itu sendiri.
Akibat hukum dengan tidak diselenggarakannya perbuatan notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 16 UUJN maka seorang notaris dapat dikenai sanksi sanksi berupa sanksi administrasi maupun sanksi pidana. yang merupakan Mal Administrasi notaris adalah dikenainya sanksi yang berupa peringatan pertama dilanjuti dengan peringatan kedua yang pada akhirnya peringatan ketiga atau terakhir berupa pemberhentian secara tidak hormat, sedangkan sanksi pidananya apabila perbuatan notaris tersebut sangat fatal dan dapat merugikan kepentingan pihak lain maka dapat dikenakan Pasal pasal pidana yang termasuk dalam turut serta memalsukan dan atau lainnya yang menurut Undang undang dapat dikenai hukuman penjara dan ataupun ganti kerugian.
Kata Kunci : Mal Administrasi Kantor Notaris
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Notaris adalah pejabat umum dan pejabat umum tidak selalu pegawai negeri.
Akan tetapi ada juga pejabat umum yang selain melayani masyarakat, juga merupakan pegawai negeri. Contohnya Pegawai Kesehatan, Pegawai Catatan Sipil, Konsuler Indonesia yang berada diluar negeri, dan lain sebagainya. Mereka ini bukan pejabat umum yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 Jo Pasal 15 ayat 1 Undang Undang Jabatan Notaris (UUJN), karena mereka tidak berhak membuat akta otentik seperti yang tercantum dalam Pasal 1868 KUHPerdata.1
Keberhasilan seorang Notaris tidak hanya bisa diukur dari banyaknya akta, melainkan juga dari kepiawaian mengatur administrasi di kantor tersebut. Akta yang banyak, tanpa disertai administrasi yang rapi dan teratur akan mengakibatkan masalah dan kesulitan dikemudian hari. 2
Oleh karena itu perlu bagi seorang calon notaris untuk mengetahui, mempelajari serta memperhatikan administrasi kantor sebelum melaksanakan jabatannya sebagai seorang notaris.
1 Soetrisno, Diktat Kuliah tentang Komentar atas Undang Undang Jabatan Notaris, Buku I, Medan, 2007. hlm. 5
2 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2009, Sanksi
Perdata dan Administratif Terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2008.
hlm. 57
1
Dalam hal menjalankan tugasnya, notaris mempunyai kewajiban serta hal yang terpenting yang tertuang didalam Pasal 16 ayat 1 (a) Undang undang Jabatan Notaris (UUJN)3.
Setiap Notaris dituntut agar memberikan akses terhadap informasi yang seimbang diantara para pihak yang berjanji sehingga didalam suatu perjanjian tersebut para pihak saling mengerti dan memahami isi dari apa yang diperjanjikan.
Sejalan dengan itu, semakin meningkatnya pendidikan kenotariatan di Indonesia dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan profesional di bidang hukum dalam melayani masyarakat dalam hal pembuatan akta Notaris maka tidak dipungkiri terjadinya persaingan yang tidak sehat sesama Notaris yang selanjutnya mengarah kepada tindakan mal administrasi.4
Berdasarkan pengamatan dilapangan, tindakan mal administrasi yang sering dilakukan oleh notaris adalah:5
1. Tidak membacakan isi Akta;
3 Notaris berkewajiban bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.
4 Perbuatan Melanggar Hukum ialah bahwa perbuatan itu mengakibatkan kegoncangan dalam neraca keseimbangan dalam masyarakat. Dan kegoncangan ini tidak hanya terdapat apabila peraturan peraturan hukum dalam suatu masyarakat dilanggar (langsung), melainkan juga, apabila peraturan peraturan kesusilaan, keagamaan dan sopan santun dalam masyarakat dilanggar (langsung) jadi tergantung dari pelanggaran yang dilakukan. Lain halnya menurut Pasal 1365 BW perihal
“onrechtmatige daad”, justru oleh karena Pasal itu termuat dalam suatu Undang undang yang berlaku, dan pada umumnya bagi orang orang yang langsung takluk pada Burgerlijk Wetboek, berlakulah suatu Hukum Perdata yang tertulis (geschreven recht), maka mula mula “onrechtmatige”, sebagai hanya mengenai perbuatan yang langsung melanggar suatu peraturan Hukum. Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum dipandang dari sudut Hukum Perdata, Penerbit Mandar Maju Bandung, 2000, hlm. 7
5 Wawancara dengan Rahmiatani, Notaris di Kota Medan, pada tanggal 26 Maret 2015.
2. Bersifat memihak;
3. Bekerja diluar wilayah kerja;
4. Dalam hal penandatanganan tidak dihadapan Notaris;
5. Penurunan tarif dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak;
6. Bekerja sama dengan biro jasa atau badan hukum yang pada hakikatnya bertindak sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien;
7. Mempunyai lebih dari satu kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan;
Didalam Undang undang Jabatan Notaris Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 jo Undang undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris menegaskan didalam Pasal 16 bagian kedua tentang kewajiban Notaris adalah sebagai berikut:6
1. Dalam menjalankan Jabatannya, Notaris berkewajiban:
a. bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;
b. membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris;
c. mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta;
d. memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam Undang undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;
e. merahasikan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang undang menentukan lain;
f. menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (limapuluh) akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam 1 (satu) buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan dan Tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;
g. membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;
h. membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan;
i. mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang kenotariatan
6 Tim Redaksi Tatanusa, Jabatan Notaris, Perpaduan Naskah Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 dengan Undang undang Nomor 2 Tahun 2014, Jakarta, Penerbit PT Tatanusa, 2014, hlm.
86
dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;
j. mencatat dalam Repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan;
k. mempunyai cap/stempel yang memuat lambang negara Republik Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;
l. membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditanda tangani pada saat ini juga oleh penghadap, saksi, dan notaris;
m. menerima magang calon notaris;
2. Menyimpan minuta akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku, dalam hal Notaris mengeluarkan akta dalam bentuk originali.
3. Akta origanali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah akta:
a. pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun;
b. penawaran pembayaran tunai;
c. protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga;
d. akta kuasa;
e. keterangan kepemilikan; atau
f. akta lainnya berdasarkan peraturan perundang undangan.
4. Akta originali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibuat lebih dari 1 (satu) rangkap, ditandatangani pada waktu, bentuk, dan isi yang sama, dengan ketentuan pada setiap akta tertulis kata kata “berlaku sebagai satu dan satu berlaku untuk semua”.
5. Akta originali yang berisi kuasa yang belum diisi nama penerima kuasa hanya dapat dalam 1 (satu) rangkap.
6. Bentuk dan ukuran cap/stempel sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf k ditetapkan dengan peraturan Menteri.
7. Pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l tidak wajib dilakukan, jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena pengahadap membaca sendiri, mengetahui, dan memahami isinya, dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan Notaris.
8. Jika salah satu syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l dan ayat (7) tidak dipenuhi, akta yang bersangkutan hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan.
9. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) tidak berlaku untuk pembuatan akta wasiat.
Sebagaimana dalam pasal 16 UUJN No.2 Tahun 2014 menambah ketentuan ketentuan baru. Notaris perlu memperhatikan apa yang disebut sebagai prilaku profesi yang memiliki unsur unsur sebagai berikut:7
1. mempunyai integritas moral yang mantap;
2. harus jujur terhadap klien maupun diri sendiri ( kejujuran intelektual );
3. sadar akan batas batas kewenangannya;
4. tidak semata mata berdasarkan pertimbangan uang.
Ismail Saleh8 menyatakan bahwa ada empat pokok yang harus diperhatikan oleh para Notaris, yaitu sebagai berikut:
1. Dalam menjalankan tugas profesinya, seorang Notaris harus mempunyai integritas moral yang mantap. Dalam hal ini, segala pertimbangan moral harus dilandasi pada pelaksanaan tugas profesinya. Walaupun akan memperoleh imbalan jasa yang tinggi namun sesuatu yang bertentangan dengan moral yang baik harus dihindarkan.
2. Seorang Notaris harus jujur, tidak saja pada kliennya juga pada dirinya sendiri. Ia harus mengetahui batas batas kemampuannya, tidak memberi janji janji sekedar untuk menyenangkan kliennya, atau agar klien tetap mau memakai jasanya. Kesemuanya itu merupakan suatu ukuran tersendiri tentang kadar kejujuran intelektual seorang Notaris.
3. Seorang Notaris harus menyadari akan batas batas kewenangannya. Ia harus mentaati ketentuan ketentuan hukum yang berlaku tentang seberapa jauh ia dapat bertindak dan apa yang boleh serta apa yang tidak boleh dilakukan. Adalah bertentangan dengan prilaku profesional apabila seorang Notaris ternyata berdomisili dan bertempat tinggal tidak ditempat kedudukannya sebagai Notaris atau memasang papan dan mempunyai kantor ditempat kedudukannya, tapi tinggalnya dilain tempat. Seorang Notaris juga dilarang untuk menjalankan Jabatannya diluar daerah Jabatannya. Apabila ketentuan tersebut dilanggar maka Akta yang bersangkutan akan kehilangan daya otentiknya.
4. Sekalipun keahlian seseorang dapat dimanfaatkan sebagai upaya yang lugas untuk mendapatkan uang namun dalam melaksanakan tugas profesinya ia tidak boleh semata mata didorong oleh pertimbangan uang
7 Ismail Saleh, Membangun Citra Profesional Notaris Indonesia, Pengarahan/Ceramah Umum Menteri Kehakiman Republik Indonesia pada Upgrading/Refreshing Course Notaris Se- Indonesia, Bandung, 1993, hlm. 19
8 Ibid, hlm. 18-21
semata, seorang Notaris harus tetap berpegang teguh kepada rasa keadilan yang hakiki tidak terpengaruh jumlah uang dan tidak semata mata hanya menciptakan suatu alat bukti formal mengejar kepastian hukum, tetapi mengabaikan rasa keadilan.
Perlu untuk diketahui pula, sepanjang notaris menjalankan jabatannya sesuai Undang undang yang berlaku, tidak bisa dipidana. Hal ini senada dengan bunyi Pasal 50 Kitab Undang undang Hukum Pidana (KUHP) yang menyebutkan bahwa “Barang siapa yang melakukan perbuatan untuk melaksanakanUndang undang, tidak dipidana”.9
Notaris sangat mudah sekali digugat dan dipermasalahkan oleh para pihak.
tetapi, sepanjang notaris itu menjalankan sesuai dengan peraturan perundang undangan, tidak perlu untuk ditakuti. Oleh karena itu, jangan sampai dalam menjalankan profesi notaris menyalahgunakan jabatan.
Koridor hukum didalam Undang undang Jabatan Notaris (UUJN) Pasal 1, yakni notaris punya kewenangan sepanjang diatur oleh Undang undang (UU), sepanjang hadir dihadapan notaris artinya bahwa benar para pihak tersebut mengahadap dihadapan notaris.10
Jika notaris mengetahui dan tetap menjalankan hal hal yang dianggap bertentang dengan undang undang maka dapat dikenakan Pasal 55 KUHP yang berbunyi:
9 Kitab Undang undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Penerbit Pustaka Mahardika, Jakarta, hlm. 28
10 Syafran Sofyan, Kalau Telah Sesuai UU Notaris Tidak Bisa Dipidana, Majalah Renvoi, Nomor 7.127 Desember 2013, hlm. 18
(1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana: a. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan; b. Mereka yang dengan memberi atau yang menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. (2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat akibatnya.11
Pasal 264 KUHP tentang pemalsuan surat, menyatakan:
(1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, jika dilakukan terhadap: a. Akta akta otentik; b. Surat hutang atau sertipikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum; c. Surat sero atau hutang atau sertipikat sero atau hutang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai; d. Talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat surat itu; e. Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukan untuk diedarkan.
(2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah olah benar dan tidak dipalsukan, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Notaris dalam menjalankan jabatannya serta melaksanakan tugasnya harus tetap menghormati dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku dan senantiasa menghayati dan mengingat sumpah Jabatannya.12 Notaris dalam menjalankan tugasnya sebagai pejabat umum harus memiliki kemampuan profesional dalam menjalankan tugasnya.
11 Log cit, hlm. 29
12 Mengenai sumpah Jabatan Notaris diatur didalam Pasal 4 ayat 2 UUJN yang berbunyi:
“Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan patuh dan setia kepada negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang undang tentang Jabatan Notaris serta peraturan perundang undangan lainnya. Bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya sebagai Notaris. Bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan Jabatan saya. Bahwa saya untuk dapat diangkat dalam Jabatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan nama atau dalil apapun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada siapapun.
Ada 3 (tiga) ciri untuk menentukan apakah notaris di Indonesia merupakan notaris fungsional atau notaris profesional yaitu:13
1. Bahwa akta yang dibuat dihadapan/oleh notaris fungsional mempunyai kekuatan sebagai alat bukti formal dan mempunyai daya eksekusi. akta notaris seperti ini harus dilihat apa adanya, sehingga jika ada pihak yang berkeberatan dengan akta tersebut maka pihak yang berkeberatan berkewajiban untuk membuktikannya.
2. Bahwa notaris fungsional menerima uangnya dari negara dalam bentuk delegasi dari negara. Hal ini merupakan salah satu rasio notaris di Indonesia memakai lambang negara, yaitu burung garuda. Oleh karena menerima tugas dari negara maka yang diberikan kepada mereka yang diangkat sebagai notaris dalam bentuk sebagai jabatan dari negara.
3. Bahwa Notaris di Indonesia diatur oleh Peraturan Jabatan Notaris (Reglement op het Notarisambt), Stb 1860 No.3 Dalam teks asli disebutkan bahwa “ambt” adalah “Jabatan”
Adapun unsur dan ciri ciri yang harus dipenuhi oleh seorang Notaris profesional dan ideal adalah sebagai berikut:14
1. Tidak pernah melakukan pelanggaran hukum, termasuk dan terutama ketentuan ketentuan yang berlaku bagi seorang Notaris, teristimewa ketentuan sebagaimana termaksud dalam Peraturan Jabatan Notaris;
2. Didalam menjalankan tugas dan Jabatannya dan profesinya senantiasa mentaati kode etik yang ditentukan/ditetapkan oleh organisasi/perkumpulan kelompok profesi/jabatan yang telah diatur dalam peraturan perundang undangan;
3. Loyal terhadap organisasi/perkumpulan dari kelompok profesinya dan senantiasa turut aktif didalam kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi profesinya.
4. Memenuhi semua persyaratan yang menjalankan tugas \profesinya.
Profesionalisme jabatan notaris sebagai pejabat yang bertugas membuat akta otentik dalam menjamin kepastian hukum yang di pertanggung jawabkan kepada Pemerintah, bangsa, negara dan masyarakat.
13 Majalah Renvoi, Profesi Notaris di Indonesia, Nomor 3.14. II, tanggal 3 Juli 2004, hlm. 20
14 Wawan Setiawan, Media Notariat, Edisi Mei-Juni, 2004, hlm. 23
Sikap kehati hatian notaris dalam menjalankan profesinya harus dilandasi dengan pengetahuan yang optimal. Dalam mal administrasi biasanya hal hal yang tidak dimungkinkan akan terjadi seperti misalnya dalam masalah pajak.
Notaris di Indonesia mempunyai fungsi yang berbeda dengan notaris (Notary Public) di Negara negara Anglo Saxon seperti Singapura, Amerika dan Australia, karena Indonesia menganut sistem hukum Kontinental. “Notaris di Negara yang menganut sisitem kontinental berkarakteristik utama dimana yang menjalankan suatu fungsi yang bersifat publik. Diangkat oleh Pemerintah dan bertugas menjalankan fungsi pelayanan publik dalam bidang hukum, dengan demikian ia menjalankan salah satu bagian dalam tugas Negara”. 15
Seorang Notaris diberikan kuasa oleh Undang undang untuk membuat suatu akta memiliki suatu nilai pembuktian yang sempurna dan spesifik. Oleh karena kedudukan Notaris yang independen dan tidak memihak, maka akta yang dihasilkannya merupakan simbol kepastian dan jaminan hukum yang pasti.
Dalam sistem hukum kontinental notaris bersifat netral tidak memihak, dan wajib memperhatikan kepentingan semua pihak yang terlibat. Itu sebabnya seorang notaris dalam menjalankan tugasnya tidak bisa di dikte oleh kemauan salah satu pihak sehingga mengabaikan kepentingan pihak lainnya (meskipun sungguh sangat disesalkan bahwa sekarang banyak notaris yang mau di dikte oleh pelanggannya
15 Grace Gio Vani, http://notarisgracegiovani.com, Notaris: Kedudukan, Fungsi dan Peranannya, dipublikasikan pada tanggal 23 Maret 2008, di akses tanggal 14 April 2015.
sekalipun harus bertentangan dengan peraturan perundang undangan dan/atau kode etik profesi).16
Notaris sebagai pejabat umum diberikan oleh Peraturan Perundang undangan kewenangan untuk membuat segala perjanjian dan akta serta yang dikehendaki oleh yang berkepentingan.
Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 ayat (1) Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 jo Undang undang Nomor 2 Tahun 2014. Dari ketentuan Pasal tersebut dengan jelas digambarkan bahwa tugas pokok notaris adalah membuat akta akta otentik yang menurut ketentuan Pasal 1870 KUHPerdata berfungsi sebagai alat pembuktian yang mutlak. Hal ini dapat diartikan bahwa apa yang tersebut dalam akta otentik adalah di anggap benar.17
Berdasarkan pada uraian latar belakang tersebut diatas maka sangat dirasakan perlu sekali untuk mengangkat judul tentang “Analisis Yuridis Tentang Mal Administrasi Kantor Notaris Di Tinjau Berdasarkan Pasal 16 Undang undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Mekanisme Bentuk Mal Administrasi Kantor Notaris ?
16 Ibid
17 Wawancara dengan Reno Yanti, Notaris di Kabupaten Deli Serdang, pada tanggal 15 April 2015.
2. Apakah dengan adanya Sistem Administrasi Notaris Menjamin Kepastian Hukum ?
3. Bagaimana Akibat Hukum Atas Tidak Terselenggaranya Perbuatan Notaris Sesuai Ketentuan Pasal 16 UUJN ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam rangka melakukan penelitian terhadap ketiga permasalahan di atas, adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis Bentuk Mal Administrasi Pada Kantor Notaris dan Akibat Hukumnya.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis adanya Sistem Administrasi Notaris Menjamin Kepastian Hukum.
3. Untuk mengetahui Akibat Hukum Atas Tidak Terselenggaranya Perbuatan Notaris Sesuai Ketentuan Pasal 16 UUJN.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasan hukum di Indonesia baik secara ilmiah maupun secara praktis. Adapun manfaat tersebut antara lain :
1. Secara Teoritis
Hasil penelitan diharapkan dapat memberikan sumbangan saran bagi perkembangan ilmu hukum dalam bidang kenotariatan, khususnya mengenai kajian terhadap Admistrasi dokumen dan kearsipan Notaris 2. Secara Praktis
Secara praktis, pembahasan dalam tesis ini diharapkan dapat menjadi masukan menjadi bagi kalangan praktisi dan mahasiswa yang bergerak dan mempunyai minat dalam bidang hukum yang khusus dan beraktivitas dalam bidang dunia profesi Kenotariatan.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian ini memiliki keaslian dan tidak dilakukan plagiat dari hasil karya penelitian pihak lain. Sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan terhadap judul dan permasalahan dari tesis tesis yang ada baik di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara khususnya di Program Magister Kenotariatan maupun dilakukan penelusuran di situs situs resmi perguruan tinggi lainnya melalui internet dan diperoleh judul tesis tentang:
1. Analisis Yuridis Pertanggungjawaban Notaris Berdasarkan Undang undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, dengan perumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah Pertanggung Jawaban dan sanksi-sanksi Notaris selaku pejabat umum apabila melakukan suatu kesalahan dalam pembuatan akta yang dibuatnya berdasarkan UU No.30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris ?
b. Dalam hal dibuatnya Akta Notaris berdasarkan keterangan pihak-pihak namun ternyata keliru ataupun salah. Bagaimana perlindungan hukumnya terhadap Notaris yang bersangkutan?
2. Tanggung Jawab Notaris Dalam Hal Terjadi Pelanggaran Kode Etik.
Penelitian ini mengkonsentrasikan kajiannya pada Tanggung Jawab Notaris Dalam Hal Terjadi Pelanggaran Kode Etik. Dengan perumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah tanggung jawab notaris dalam hal terjadi pelanggaran kode etik ?
b. Bagaimana akibat hukum jika terjadi pelanggaran kode etik oleh Notaris?
3. Analisis Yuridis Tentang Tanggung Jawab Notaris Atas Protokol Notaris Yang Diserahkan Kepadanya. Oleh Nuzulla Kharani dengan NIM:
0806427556/Mkn. Penelitian ini mengkonsentrasikan kajiannya pada
Tanggung Jawab Notaris Atas Protokol Notaris Yang Diserahkan Kepadanya Dengan perumusan masalah sebagai berikut:
a. Mengapa Notaris harus memelihara dan menjaga Protokol yang diserahkan kepadanya ?
b. Bagaimanakah suatu protokol Notaris dapat beralih kepada Notaris lainnya ?
Berdasarkan ketiga karya ilmiah di atas tidak ada satupun yang memiliki kesamaan dengan judul dan permasalahan dalam tesis ini sebab konsentrasi kajian
dalam tesis ini adalah penelitian terhadap Analisis Yuridis Mekanisme Mal Administrasi Kantor Notaris Ditinjau Berdasarkan Pasal 16 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.
Oleh sebab itu terhadap judul dan permasalahan dalam tesis ini tidak mengandung unsur kesamaan atau plagiat dari hasil karya ilmiah pihak lain, baik dari sisi judul, permasalahan maupun dalam substansinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian ini baru pertama kali dilakukan dan sesuai dengan asas asas keilmuan yang harus dijunjung tinggi antara lain kejujuran, rasional, objektif, terbuka, serta sesuai dengan implikasi etis dari prosedur menemukan kebenaran ilmiah secara bertanggung jawab.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kelangsungan perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktifitas penelitian dan imajinasi sosial, juga sangat ditentukan oleh teori.18
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi,19 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.20
18 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press, 1986, hlm. 6
19 J.J.J. M. Wuisman, dalam M. Hisyam, Penelitian Ilmu dan Penelitian, CV. Mandar Maju, Bandung, 1994, hlm. 27 menyebutkan bahwa teori yang dimaksud disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut tetapi merupakan suatu abstraksi Intelektual dimana pendekatan secara Rasional di gabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.
Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan/petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.21
Menurut Burhan Ashshofa suatu teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan konsep.22 Menurut Snelbecker yang mendefinisikan teori sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaktis yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat di amati dan fungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.23
Teori bertujuan menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.24
Sedangkan kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir butir, pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalah yang menjadi bahan perbandingan pegangan teoritis, yang mungkin ia setujui atau tidak disetujuinya.25 Sedangkan tujuan dari kerangka teori menyajikan cara cara untuk bagaimana mengorganisasikan dan menginterpretasikan hasil hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil hasil penelitian yang terdahulu.26
20 Ibid, hlm. 16
21 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1993, hlm. 35
22 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1996, hlm. 19
23 Lexy J. Moleong, Op Cit, hlm.35.
24J.J.J. M. Wuisman, Op Cit, hlm. 203
25 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, PT. Sofmedia, Medan, 2012, hlm. 129
26 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hlm. 19
Teori yang digunakan dalam tesis ini adalah Teori Pertanggung Jawaban Hukum. Menurut Hans Kelsen dalam teorinya tentang tanggung jawab menyatakan bahwa : “Seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum, subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan”.27 Lebih lanjut Hans Kelsen menyatakan bahwa :28
“Kegagalan untuk melakukan kehati hatian yang diharuskan oleh hukum disebut kekhilafan (negeligence); dan kekhilafan biasanya dipandang sebagai satu jenis lain dari kesalahan (culpa), walaupun tidak sekeras kesalahan yang terpenuhi karena mengantisipasi dan menghendaki, dengan atau tanpa maksud jahat, akibat yang membahayakan”.
Hans Kelsen selanjutnya membagi mengenai tanggung jawab terdiri dari :29 a. Pertanggungjawaban individu yaitu seorang individu bertanggung jawab
terhadap pelanggaran yang dilakukannya sendiri;
b. Pertanggungjawaban kolektif berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain;
c. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan menimbulkan kerugian;
d. Pertanggungjawaban mutlak yang berarti seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukanya karena tidak sengaja dan tidak diperkirakan.
Tanggung jawab secara etimologi adalah kewajiban terhadap segala sesuatunya atau fungsi menerima pembebanan sebagai akibat tindakan sendiri atau pihak lain. Sedangkan pengertian tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa
27 Hans Kelsen sebagaimana diterjemahkan oleh Somardi, General Theory Of Law and State, Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Deskriptif Empirik, Penerbit BEE Media Indonesia, Jakarta, 2007, hlm. 81
28 Ibid, hlm. 83
29 Hans Kelsen sebagaimana diterjemahkan oleh Raisul Mutaqien, Teori Hukum Murni, Penerbit Nuasa & Nusamedia, Bandung, 2006, hlm. 140
Indonesia adalah suatu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (jika terjadi sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya).30
Menurut Kamus Hukum ada 2 (dua) istilah pertanggung jawaban yaitu liability (the state of being liable) dan responsibility (the state or fact being responsible). Liability merupakan istilah hukum yang luas, dimana liability menunjuk pada makna yang paling komprehensif, meliputi hampir setiap karakter resiko atau tanggung jawab yang pasti yang bergantung atau yang mungkin.
Liability didefinisikan untuk menunjuk semua karakter hak dan kewajiban.
Liability juga merupakan kondisi tunduk kepada kewajiban secara aktual atau potensial, kondisi bertanggung jawab terhadap hal hal yang aktual atau mungkin seperti kerugian, ancaman, kejahatan, biaya atau beban, kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan undang undang dengan segera atau pada masa yang akan datang.31
Responsibility berarti hal yang dapat dipertanggungjawabkan atau suatu kewajiban, dan termasuk putusan, keterampilan, kemampuan, dan kecakapan.
Resposibility juga berarti kewajiban bertanggungjawab atas undang undang yang dilaksanakan, dan memperbaiki atau sebaliknya memberi ganti rugi atas kerusakan apapun yang telah ditimbulkannya.32
30 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hlm. 139
31 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm. 335
32 Ibid, hlm. 335-336
Menurut Roscoe Pound, jenis tanggung jawab ada 3 (tiga) yaitu:33 a. Pertanggungjawaban atas kerugian dengan sengaja
b. Atas kerugian karena kealpaan dan tidak disengaja
c. Dalam perkara tertentu atas kerugian yang dilakukan tidak karena kelalaian serta tidak disengaja.
Mengenai tanggung jawab notaris selaku pejabat umum yang berhubungan dengan kebenaran materiil, dibedakan menjadi 4 (empat) hal, yaitu : 34
a. Tanggung jawab notaris secara perdata terhadap kebenaran materil akta yang dibuatnya.
b. Tanggung jawab notaris secara pidana terhadap kebenaran materiil akta yang dibuatnya.
c. Tanggung jaawab notaris berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris terhadap kebenaran materiil akta yang dibuatnya.
d. Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan kode etik notaris.
Salah satu bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya yaitu negara memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memperoleh tanda bukti atau dokumen hukum yang berkaitan dalam hukum perdata, untuk keperluan tersebut diberikan kepada Pejabat Umum yang dijabat oleh Notaris.35
Pada dasarnya akta Notaris telah ditentukan bentuk dan sifat akta yang dibuatnya. Jika hal yang telah terkandung dalam Pasal tersebut tidak diterapkan maka akan kerap kali cenderung menumbuhkan terjadinya mal administrasi Notaris.
33 Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum (An Introduction to The Philosophy of Law) diterjemahkan oleh Mohammad Radjab, Penerbit Bhratara Niaga Media, Jakarta, 1996, hlm. 92
34 Nico, Tanggungjawab Notaris Selaku Pejabat Umum, Penerbit CDSBL, Yogyakarta, 2003, hlm. 250
35 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Telematik terhadap UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Penerbit Refika Aditama, Bandung, 2009, hlm. 42
Tugas profesi Notaris tidak hanya berhubungan dengan standar profesi dan etika profesi yang keduanya merupakan petunjuk umum saja, melainkan hubungan positif akan berkesempatan besar untuk tampil mengambil alih perannya guna mencegah terjadinya penyimpangan dari tugas profesinya.36
Profesi dan etika adalah hal yang tidak terpisahkan dimana etika merupakan istilah yang diturunkan dari kata dalam bahasa Yunani Ethos yang berarti adat istiadat. Kata Ethos mempunyai makna yang setara dengan kata mos dalam bahasa latin yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan baik.37
Bertolak dari pengertian ini etika berkembang menjadi studi tentang kebiasaan kebiasaan manusia, yaitu kebiasaan kebiasaan yang terdapat dalam konvensi atau kesepakatan, misalnya kesepakatan nilai dalam tata boga, dalam berbusana, bentuk bentuk etiket dalam berbicara dan beergaul dengan orang lain.38
Etika itu bukanlah hukum dan sebaliknya, hukum itu bukanlah etika, walupun dimaklumi bahwa tidak sedikit eksistensi hukum itu berlatar belakang atau berdasarkan etika. Oleh karena itu, terhadap pelanggaran etika tidak ada sanksinya, lainnya halnya terhadap hukum yang jika dilanggar akan ada sanksinya dengan jelas diatur.39
Etika itu hanya berguna bagi manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Etika itu bisa berdasarkan agama dan norma agama (intuisi manusia).
36 E.Y. Kanter, Etika Profesi Hukum, Storia Grafika, 2001, Jakarta, hlm. 19
37 E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Norma norma bagi Penegak Hukum, Kanisius, Yogyakarta, 1995, hlm.11
38 Ibid, hlm. 12
39 Komar Andasasmita, Sepintas Informasi tentang Pnedidikan dan Praktek Notaris di Indonesia, Ikatan Mahasiswa Notariat Fakultas Hukum Unpad, Bandung, 1994, hlm. 1
Etika diperlukan karena jiwa raga yang dimiliki oleh manusia didalam kehidupan suatu kelompok masyarakat perlu adanya keserasian antara sesama anggota kelompok dimaksud.40
Menurut J. Spillane S.J sebagaimana dikutip oleh Suhrawardi K. Lubis mengungkapkan bahwa Etika atau ethis memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas untuk menentukan “kebenaran” atau “kesalahan” dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.41
Seorang pengemban profesi harus dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya dalam melaksanakan tindakan pengembangan profesionalnya.
Hubungan antara pengemban profesi dan pasien atau kliennya adalah hubungan personal, hubungan antara subjek pendukung nilai, karena itu secara pribadi ia bertanggung jawab atas mutu pelanan jasa yang dijalankannya. Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dan sikap hidup dalam menjalani kehidupan sebagai pengemban profesi.42
Notaris dikatakan sebagai pejabat umum karena Notaris diangkat dan diberhentikan oleh Menkum H.A.M dalam hal ini Pemerintah. Notaris bekerja untuk
40 Rochmat Soemitro, dalam Komar Andasasmita, Notaris I Peraturan Jabatan, Kode Etik dan Asosiasi Notaris, Ikatan Notaris Indonesia Daerah Jawa Barat, Bandung, 1994, hlm. 253
41 Suhrawardi K. Lubis, Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 1994, hlm. 1
42 Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, Dasar dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 91-92
kepentingan negara, namun notaris bukanlah pegawai, sebab notaris tidak menerima gaji dari pemerintah, tetapi adalah berupa honorarium dari klien.43
Sebagai pejabat umum, Notaris dituntut untuk bertanggung jawab terhadap akta yang telah dibuatnya. Apabila akta yang dibuat ternyata dibelakang hari mengandung sengketa maka hal ini perlu dipertanyakan, apakah akta ini merupakan kesalahan Notaris atau kesalahan para pihak yang tidak mau jujur dalam memberikan keterangannya terhadap Notaris dengan salah satu pihak yang menghadap. Jika akta yang dibuat oleh Notaris mengandung cacat hukum yang terjadi karena kesalahan Notaris baik kerena kelalaiannya maupun karena Notaris itu sendiri maka Notaris yang harus memberikan pertanggungjawaban.
Profesi pada hakikatnya adalah suatu lapangan pekerjaan yang berkualifikasi sebagai pekerjaan yang menuntut syarat keahlian tinggi kepada pengemban dan pelaksananya.44
Teori yang dominan dari profesi profesi menekankan pada dua karakteristik sebagai strategi untuk memberikan penjelasan dari posisi dan fungsinya didalam masyarakat, yaitu:45
43 Ibid, hlm. 108
44 Soetandyo Wignjosoebroto, Etika Profesi Dikaitkan dengan Profesi Notaris, Ceramah umum pada temu ilmiah Mahasiswa Notariat se Indonesia, Pandaan Jawa Timur, 1989, hlm. 1 Profesi dapat dirumuskan sebagai pekerjaan tetap dibidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang dilakukan secara bertanggung jawab, spesialis, bersifat terus menerus, lebih mendahulukan pelayanan dari pendapatan, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat, terkelompok dalam suatu organisasi, dengan tujuan memperoleh penghasilan. Pekerja yang menjalankan profesi disebut profesional.
45 Pendapat Dietrich Rueschemeyer, sebagaimana di kutip Vilhelm Aubert, Sosiology Of Law, C. Nicholls & Company Ltd, Great Britain, 1969, hlm. 267
The Professions are conceived of as service occupation that (1) apply a systematic body of knowledge to problem which (2) are highly relevant to central value of the society. (Profesi terdiri dari pekerjaan pelayanan yang (1) mengaplikasikan kumpulan pengetahuan secara sistematis terhadap masalah yang (2) sangat relevan dengan nilai sentral masyarakat).
Profesi adalah pekerjaan dalam arti khusus, yaitu pekerjaan dalam bidang tertentu, mengutamakan kemampuan fisik dan intelektual, bersifat tetap, dengan tujuan memperoleh pendapatan.46
Profesi berani menuntut pemenuhan nilai moral dari pengembannya. Nilai moral merupakan kekuatan yang mengarahkan dan mendasari perbuatan luhur.
Menurut Franz Magnis Suseno47 ada tiga nilai moral yang dituntut daari pengemban profesi yaitu:
a. Berani berbuat untuk memenuhi tuntutan profesi
b. Menyadari kewajiban yang harus dipenuhi selama menjalankan profesi
c. Idealisme sebagai perwujudan makna misi organisasi profesi.
Landasan filosofi dibentuknya Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris adalah terwujudnya jaminan kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Melalui akta yang dibuatnya, Notaris baru dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat pengguna jasa Notaris.
46 Muhammad Abdulkadir, Etika Profesi Hukum, Cetakan Pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 58
47 Abdul Kadir Muhammad yang mengutip pendapat Franz Magnis Suseno (1975) dalam buku Etika Profesi Hukum, Cetekan Pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 61
Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum.
Dengan dasar seperti ini Notaris harus mempunyai semangat untuk melayani masyarakat, dan atas pelayanan tersebut, masyarakat yang telah merasa dilayani oleh Notaris sesuai dengan tugas jabatannya, dapat memberikan honorarium kepada Notaris.48 Oleh karena itu Notaris tidak berarti apa apa jika masyarakat tidak membutuhkannya.49
Sebuah akta otentik merupakan dokumen yang sah dan dapat menjadi alat bukti yang sempurna. Sempurna disini berarti hakim menganggap semua yang tertera dalam akta merupakan hal yang benar, kecuali ada akta lain yang dapat membuktikan bahwa isi akta pertama tersebut salah. Oleh karena itu, pembuatan sebuah akta otentik menjadi sesuatu yang penting. Memiliki akta otentik berarti memiliki bukti atau landasan yang kuat di mata hukum.50
Hal lain yang membuat akta otentik memiliki kekuatan hukum adalah karena akta otentik memiliki minuta akta yang disimpan oleh negara melalui notaris. Akan
48 Mengenai Honorarium ini dicantumkan dalam Pasal 36 UUJN. Pencantuman Honorarium dalam UUJN tidak punya daya paksa untuk Notaris mengikuti ketentuan tersebut, dan dalam keadaan tertentu Notaris wajib untuk tidak meminta atau menerima honorarium (Pasal 37 UUJN)
49 Mendasarkan pada nilai moral dan etik Notaris, maka pengembangan jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat (klien) secara mandiri dan tidak memihak dalam bidang kenotariatan yang pengembanannya dihayati sebagai panggilan hidup bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya. Herlien Budiono, Notaris dan Kode Etiknya, Upgrading & Refreshing Course Nasional Indonesia, Medan 30 Maret 2007, hlm. 3
50 Ira Koesoemawati dan Yunirman Rijan, Op. Cit., hlm. 83
sangat kecil kemungkinan akta otentik hilang. Bukan hanya itu, jika seseorang menyangkal isi atau keberadaan akta otentik maka akan mudah untuk diperiksa kebenarannya.51
Dalam minuta juga tercantum asli tanda tangan, paraf para penghadap atau sidik jari tangan, para saksi dan Notaris, renvooi, dan bukti bukti lain yang untuk mendukung akta yang dilekatkan pada minuta akta tersebut.
Akta dalam bentuk in Originali Minuta wajib disimpan oleh Notaris52, diberi nomor bulanan dan dimasukan ke dalam buku daftar akta Notaris (Repertorium) serta diberi nomor Repertorium.
2. Landasan Konsepsi
Konsep merupakan bagian terpenting dari pada teori. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dengan observasi, antara abstraksi dan realita.53
Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang di generalisasikan dari hal hal khusus, yang disebut dengan definisi operasional.54 Pentingnya operasional adalah untuk menghindari perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai.55
51 Ibid, hlm. 85
52 Pasal 16 ayat (1) huruf b dan ayat (2) UUJN, dijelaskan didalam ayat 1 bahwa diantaranya notaris wajib bertindak amanah, jujur dan lain sebagainya. Kemudian didalam ayat 2 dijelaskan bahwa kewajiban menyimpan minuta akta dalam hal notaris mengeluarkan Akta In Originali.
53 Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Survey, Jakarta, LP3ES, 1989, hlm. 34
54 Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo, 1998, hlm. 307.
55 Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung, Alumni, 2004, hlm. 31
Dalam kerangka konsepsional diungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum56, guna menghindari perbedaan penafsiran dari istilah yang dipakai, selain itu juga dipergunakan sebagai pegangan dalam proses penelitian ini.
Landasan konsepsional dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh dasar konseptual, bertujuan untuk menghindari pemahaman dan penafsiran yang berbeda serta memberikan pedoman dan arahan yang sama, antara lain:
a. Mal administrasi adalah suatu praktek yang menyimpang dari etika administrasi, atau suatu praktek administrasi yang menjauhkan dari pencapaian tujuan administrasi.57
b. Administrasi adalah usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan untuk mencapai tujuan. Adapun Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan yang meliputi: catat mencatat, surat menyurat, pembukuan ringan, ketik mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan. Sedangkan Administrasi dalam arti luas adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna.58
56 Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1996, hlm. 28
57 Joko Widodo, Good Gavernance, Penerbit Insan Cendikia, Surabaya, 2001, hlm. 259
58 Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Administrasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Administrasi, diakses pada hari Jumat, 17 Oktober 2014.
c. Dokumen adalah suatu yang tertulis atau tercetak dan segala benda yang mempunyai keterangan keterangan dipilih untuk di kumpulkan, disusun, disediakan atau untuk disebarkan.59
d. Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.60
e. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang ini atau berdasarkan undang undang lainnya.61
f. Akta Notaris adalah akta autentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang diatur didalam UUJN.62
g. Minuta Akta adalah asli Akta yang mencantumkan tanda tangan para penghadap, saksi, dan Notaris, yang disimpan sebagai bagian dari Protokol Notaris.63
59 ina jainab, Perngertian Dokumen & Dokumentasi,
http://inamayladin.blogspot.com/2013/11/pengertian-dokumen-dokumentasi.html, diakses pada tanggal 17 Oktober 2014, hari Jumat
60 Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan
61 Pasal 1 ayat (1) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
62 Pasal 1 ayat (7) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
63 Pasal 1 ayat (8) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
h. Salinan Akta adalah salinan kata demi kata dari seluruh Akta dan pada bagian bawah salinan Akta tercantum frasa “diberikan sebagai salinan yang sama bunyinya”.64
i. Kutipan Akta adalah kutipan kata demi kata dari satu atau beberapa bagian dari Akta dan pada bagian bawah kutipan Akta tercantum frasa “diberikan sebagai kutipan”.65
j. Grosse Akta adalah salah satu salinan Akta untuk pengakuan utang dengan kepala Akta “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang mempunyai kekuatan eksekutorial.66
G. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak harus dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka diadakan juga pemeriksaan mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul didalam gejala yang bersangkutan.67
1. Sifat dan Jenis Penelitian
64 Pasal 1 ayat (9) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
65 Pasal 1 ayat (10) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
66 Pasal 1 ayat (11) Undang undang nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
67 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkatan, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, 1995, hlm. 43