• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan dan Kebijakan Manajemen Risiko Keuangan

Dalam dokumen PT. BANK SINARMAS Tbk. (Halaman 82-92)

Dalam melaksanakan kegiatannya, Perusahaan menyadari bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan telah mengalami perkembangan yang diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha perbankan dan meningkatnya kebutuhan akan praktek tata kelola yang sehat (Good Corporate Governance). Sebagai tanggapan Perusahaan terhadap kondisi tersebut, Perusahaan telah mengimplementasikan kerangka menajemen risiko secara terpadu yang dituangkan dalam Kebijakan Penerapan Manajemen Risiko. Kerangka tersebut digunakan sebagai dasar dalam menetapkan strategi, struktur organisasi, kebijakan dan pedoman serta memperkuat infrastruktur manajemen risiko guna memastikan bahwa semua risiko yang dihadapi Perusahaan dapat dikenali, diukur, dikendalikan, dimitigasi dan dilaporkan dengan baik.

Dalam pelaksanaannya, penerapan manajemen risiko Perusahaan meliputi pengawasan aktif manajemen, penerapan kebijakan dan prosedur, penetapan limit risiko, proses identifikasi, pengukuran dan pemantauan risiko, penerapan sistem informasi dan pengendalian risiko serta sistem pengendalian internal.

Perusahaan menerapkan konsep 3 Baris Pertahanan (3 lines of defenses) yaitu unit pengelola risiko, unit manajemen risiko dan audit internal. Unit pengelola risiko mengelola risiko yang melekat dalam kegiatan bisnis mereka sehari-hari sedangkan unit manajemen risiko bertanggung jawab untuk menetapkan kerangka kerja manajemen risiko dan mengembangkan perangkat dan metodologi yang diperlukan. Sedangkan Audit Internal, memberikan dukungan secara independen bagi efektivitas pendekatan manajemen risiko sebagai lini ketiga dari pengendalian intern.

Perusahaan telah membentuk beberapa unit kerja dan komite yang bertanggung jawab untuk mengendalikan dan memitigasi risiko yang secara potensial dihadapi oleh Perusahaan. Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) telah dibentuk untuk membantu Direksi dalam memastikan bahwa kerangka manajemen risiko yang ada telah memadai dan memiliki mekanisme kontrol untuk meminimalisasi berbagai risiko usaha yang dihadapi oleh Perusahaan. SKMR bekerja secara independen terhadap unit-unit operasional dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Manajemen Risiko. Adapun tugas dan tanggung jawab SKMR mencakup:

a. pemantauan pelaksanaan strategi Manajemen Risiko yang telah disetujui oleh Direksi;

b. pemantauan posisi Risiko secara keseluruhan (composite), per jenis Risiko dan per jenis aktivitas fungsional serta melakukan stress testing;

c. kaji ulang secara berkala terhadap proses Manajemen Risiko;

d. pengkajian usulan aktivitas dan atau produk baru;

e. evaluasi terhadap akurasi model dan validitas data yang digunakan untuk mengukur Risiko;

f. memberikan rekomendasi kepada satuan kerja operasional (risk taking unit) dan atau kepada komite Manajemen Risiko, sesuai kewenangan yang dimiliki;

g. menyusun dan menyampaikan laporan profil/komposisi Risiko kepada Direktur Manajemen Rsiko dan Komite Manajemen Risiko secara berkala.

Perusahaan melakukan pengelolaan terhadap 8 (delapan) jenis risiko, yang antara lain sebagai berikut:

Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi liabilitasnya, yang timbul dari aktivitas fungsional Perusahaan seperti perkreditan (penyediaan dana), tresuri, investasi dan pembiayaan perdagangan (trade finance).

Dalam mengelola risiko kredit, Perusahaan menerapkan organisation wide policy yang membatasi nilai kredit untuk setiap segmen usaha yaitu : korporasi, Retail dan Mikro dan melakukan pemisahan direktorat Corporate Banking dengan direktorat Micro&Retail Banking sehingga fungsi pengawasan oleh Direksi dapat dilaksanakan dengan lebih focus.

Perusahaan juga telah membentuk beberapa unit kerja dan komite yang bertanggung jawab untuk mengendalikan dan memitigasi risiko yang secara potensial dihadapi oleh Perusahaan. Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) selalu mengembangkan metodologi pengukuran dan memastikan bahwa kerangka manajemen risiko yang ada telah memadai dalam mengidentifikasi dan memiliki mekanisme kontrol untuk meminimalisasi berbagai risiko usaha yang dihadapi oleh Perusahaan.

Risiko kredit juga dikelola melalui penetapan kebijakan - kebijakan dan proses-proses yang meliputi kriteria pemberian kredit dan persetujuan kredit, pricing, pemantauan, pengelolaan kredit bermasalah dan manajemen portofolio. Perusahaan juga dengan ketat memantau perkembangan portofolio kredit Perusahaan yang memungkinkan Perusahaan untuk melakukan tindakan pencegahan secara tepat waktu (Early Warning) apabila terjadi penurunan kualitas kredit.

Proses pemantauan kualitas kredit sampai dengan penanganan kredit bermasalah terus ditingkatkan dengan berbagai strategi yang dimonitor secara periodik untuk memastikan agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga. Pengelolaan kredit yang efektif dapat meminimalkan kerugian dan mengoptimalkan penggunaan modal yang dialokasikan untuk risiko kredit.

Dalam rangka memenuhi ketentuan regulator/otoritas dan mendukung program Pemerintah terkait penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), maka, Perusahaan terus mengembangkan produk kredit pada segmen UMKM. Untuk mendukung rencana pertumbuhan kredit retail, Perusahaan telah menyediakan sarana dan infrastruktur pendukung seperti sistem

Loan Origination System (LOS) yang digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan komite

untuk memutuskan kredit, credit scoring tools, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia melalui training dan sosialisasi secara rutin dan terus mengembangkan kebijakan dan prosedur kerja sesuai dengan appetite perusahaan.

Berikut adalah eksposur maksimum instrumen keuangan dalam laporan posisi keuangan dan rekening administratif yang terkait risiko kredit pada tanggal 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016:

Jumlah Bruto Jumlah Neto Jumlah Bruto Jumlah Neto

Laporan Posisi Keuangan

Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi Efek-efek Obligasi korporasi 137.143 137.143 200.020 200.020 Reksadana 160.013 160.013 160.895 160.895 Aset lain-lain Tagihan derivatif 2.761 2.761 -

-Dimiliki hingga jatuh tempo

Penempatan pada bank lain

Negotiable Certificate of Deposit 76.901 76.901 43.256 43.256 Efek-efek

Obligasi korporasi 310.886 310.886 330.897 330.897

Tersedia untuk dijual

Efek-efek

Obligasi korporasi 211.213 211.213 140.568 140.568

Pinjaman yang diberikan dan piutang

Giro pada bank lain 991.725 991.725 1.030.673 1.030.673

Penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia

Call money 623.255 623.255 401.759 401.759

Deposit on call 62.689 62.689 63.324 63.324 Efek-efek

Tagihan atas wesel ekspor 482.103 482.103 607.664 607.664

Kredit yang diberikan (termasuk kredit

prinsip syariah) 20.111.897 19.766.835 19.358.254 19.111.131

Tagihan akseptasi 298.169 193.372 296.610 191.813

Pendapatan bunga akrual 215.677 215.677 157.547 157.547

Aset lain-lain 73.322 72.607 88.989 88.278

Jumlah 23.757.754 23.307.180 22.880.456 22.527.825

Komitmen dan kontinjensi

Fasilitas kredit kepada nasabah

yang belum digunakan 392.316 392.316 387.199 387.199

Bank garansi 970.540 970.540 1.005.420 1.005.420

Irrevocable letters of credit 290.279 290.279 132.257 132.257

Jumlah 1.653.135 1.653.135 1.524.876 1.524.876

31 Desember 2016 31 Maret 2017

Eksposur maksimum risiko kredit tercermin dari persentase setiap kategori kredit yang diberikan terhadap jumlah kredit. Portofolio kredit yang diberikan terdiversifikasi ke dalam 20 jenis sektor ekonomi, dimana untuk posisi 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016 kelompok sektor ekonomi yang memperoleh penyaluran kredit terbesar dari Perusahaan adalah sektor ekonomi Rumah Tangga dan Perdagangan Besar dan Eceran.

Sebagai bagian dari manajemen portofolio, Perusahaan juga melakukan pemantauan perkembangan risiko portofolio kredit melalui perhitungan Credit Risk Profile yang menggambarkan potensi risiko inheren dan efektifitas kualitas penerapan manajemen risiko. Perusahaan juga melakukan monitoring perkembangan dan kualitas portofolio berdasarkan konsentrasi per kategori portofolio, 25 debitur besar, sektor industri, sektor wilayah, jenis produk, tujuan penggunaan, dan jenis valuta. Dengan demikian, Perusahaan dapat mengambil langkah-langkah antisipasi dan mitigasi risiko secara portofolio maupun secara individu dan juga melalui penyempurnaan proses penerapan manajemen risiko kredit, baik melalui penyempurnaan kebijakan perkreditan maupun pengembangan sistem informasi kredit yang memadai.

Berikut adalah eksposur risiko kredit atas aset Perusahaan (termasuk kredit yang diberikan berdasarkan prinsip syariah) pada tanggal 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016:

Telah jatuh tempo Belum jatuh tempo tetapi tidak

dan tidak mengalami mengalami Mengalami

penurunan nilai penurunan nilai penurunan Jumlah

Giro pada bank lain 991.725 - - 991.725

Penempatan pada bank lain

Dimiliki hingga jatuh tempo 76.901 - - 76.901

Pinjaman yang diberikan dan

piutang 685.944 - - 685.944

Tagihan derivatif 2.761 - - 2.761

Efek-efek

Diukur pada nilai wajar

melalui laba rugi 297.156 - - 297.156

Dimiliki hingga jatuh tempo 310.886 - - 310.886

Tersedia untuk dijual 211.213 - - 211.213

Pinjaman yang diberikan dan

piutang 482.103 - - 482.103

Kredit yang diberikan 19.462.221 - 649.676 20.111.897

Tagihan akseptasi 178.369 - 119.800 298.169

Pendapatan bunga akrual 215.677 - - 215.677

Aset lain-lain 72.607 - 715 73.322

Jumlah 22.987.563 - 770.191 23.757.754

31 Maret 2017

Telah jatuh tempo Belum jatuh tempo tetapi tidak

dan tidak mengalami mengalami Mengalami

penurunan nilai penurunan nilai penurunan Jumlah

Giro pada bank lain 1.030.673 - - 1.030.673

Penempatan pada bank lain

Dimiliki hingga jatuh tempo 43.256 - - 43.256

Pinjaman yang diberikan dan

piutang 465.083 - - 465.083

Efek-efek

Diukur pada nilai wajar

melalui laba rugi 360.915 - - 360.915

Dimiliki hingga jatuh tempo 330.897 - - 330.897

Tersedia untuk dijual 140.568 - - 140.568

Pinjaman yang diberikan dan

piutang 607.664 - - 607.664

Kredit yang diberikan 18.953.101 - 405.153 19.358.254

Tagihan akseptasi 176.810 - 119.800 296.610

Pendapatan bunga akrual 157.547 - - 157.547

Aset lain-lain 88.278 - 711 88.989

Jumlah 22.354.792 - 525.664 22.880.456

Risiko Pasar

Dalam melaksanakan aktivitasnya, Perusahaan terekspos pada risiko pasar yang terdiri atas risiko suku bunga dan risiko nilai tukar. Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas fungsional Perusahaan seperti kegiatan treasuri dan investasi dalam surat berharga dan pasar uang, kegiatan pendanaan dan penerbitan surat utang, serta kegiatan pembiayaan perdagangan (trade

finance). Perusahaan senantiasa melakukan pengelolaan terhadap risiko pasar tersebut secara

rutin dan/atau berkala.

Pemantauan terhadap risiko pasar dilakukan secara harian yang memuat informasi mengenai posisi surat berharga yang dimiliki Perusahaan, Posisi Devisa Neto (PDN) baik PDN 30 menit maupun PDN akhir hari, serta pemantauan limit-limit risiko pasar lainnya, seperti Value at Risk (VaR) nilai tukar, maksimum posisi surat berharga per issuer, seri, kategori dan maksimum durasi per kategori surat berharga.

a. Risiko Suku Bunga

Pengelolaan risiko suku bunga dilakukan terhadap posisi instrumen keuangan baik dalam

trading book maupun banking book. Risiko suku bunga dalam trading book dihitung dengan

metode standar sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku, yaitu meliputi risiko spesifik (menggunakan Metode Jatuh Tempo) dan risiko umum. Sedangkan risiko suku bunga dalam banking book dikelola dengan melakukan analisa repricing gap antara Risk

Sensitive Asset (RSA) dan Risk Sensitive Liabilities (RSL). Analisa repricing gap dilakukan

untuk mengukur dampak dari perubahan suku bunga (naik/turun) pada banking book tersebut terhadap pendapatan bunga bersih (NII). Pengelolaan risiko suku bunga dilengkapi dengan analisa sensitivitas secara periodik untuk mengukur dampak dari perubahan suku bunga yang signifikan. Berdasarkan simulasi, dampak kenaikan suku bunga sebesar 0,50% terhadap posisi RSA dan RSL Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016 berpotensi menurunkan NII sebesar Rp 824 dan Rp 5.900 akibat dari tingginya/rendahnya beban bunga dari RSL dan tingginya/rendahnya pendapatan bunga RSL dengan suku bunga mengambang.

Risiko suku bunga dipantau secara harian antara lain terhadap posisi surat berharga yang dimiliki Perusahaan khususnya yang terekspos risiko pasar, yaitu surat berharga dalam kategori Available for Sale dan Trading Book. Perusahaan memiliki limit/Management Action

Trigger yang menjadi acuan bagi Perusahaan dalam mengambil tindakan apabila terdapat

potensi kerugian (potential loss) yang timbul dari proses marked to market.

Tabel berikut merupakan rata-rata suku bunga efektif per tahun untuk aset dan liabilitas yang signifikan (tidak termasuk akun Syariah):

Rupiah Mata Uang Asing

% %

Aset

Penempatan pada bank lain dan

Bank Indonesia 4,75 0,42

Kredit yang diberikan 14,85 10,23

Liabilitas

Simpanan 4,76 0,35

Simpanan dari bank lain 6,11 0,34

Rupiah Mata Uang Asing

% %

Aset

Penempatan pada bank lain dan

Bank Indonesia 4,55 0,30

Kredit yang diberikan 15,08 11,10

Liabilitas

Simpanan 5,21 0,34

Simpanan dari bank lain 5,35 0,32

31 Desember 2016

Tabel berikut ini menyajikan portofolio Perusahaan (tidak termasuk portofolio yang diperdagangkan) pada nilai tercatatnya, yang dikelompokkan menurut mana yang lebih awal antara tanggal re-pricing atau tanggal jatuh tempo kontraktual:

Sampai > 1 bulan > 3 bulan > 1 tahun

dengan s.d. s.d. s.d.

1 bulan 3 bulan 1 tahun 2 tahun > 2 tahun Jumlah

Aset

Bunga Mengambang

Giro pada bank lain 991.725 - - - - 991.725 Kredit yang diberikan 495.412 1.160.028 5.711.163 768.094 4.616.181 12.750.878 Liabilitas

Bunga Mengambang

Simpanan 12.446.723 - - - - 12.446.723

Simpanan dari bank lain 89.996 - - - - 89.996 31 Maret 2017

Sampai > 1 bulan > 3 bulan > 1 tahun

dengan s.d. s.d. s.d.

1 bulan 3 bulan 1 tahun 2 tahun > 2 tahun Jumlah

Aset

Bunga Mengambang

Giro pada bank lain 1.030.673 - - - - 1.030.673 Kredit yang diberikan 1.342.983 1.503.247 3.601.499 698.306 4.996.423 12.142.458

Liabilitas

Bunga Mengambang

Simpanan 14.231.601 - - - - 14.231.601

Simpanan dari bank lain 17.530 - - - - 17.530 31 Desember 2016

b. Risiko Nilai Tukar

Kebijakan pengelolaan risiko nilai tukar berpedoman pada batas Posisi Devisa Neto (PDN) sesuai ketentuan Bank Indonesia yaitu Perusahaan wajib mengelola dan memelihara PDN paling tinggi 20% dari Modal. Untuk memudahkan Treasury Dealer dalam melakukan pemantauan terhadap PDN, maka Perusahaan telah mengembangkan program bantu yang secara otomatis dapat menunjukkan PDN. Selain itu, pengelolaan risiko nilai tukar secara harian juga dilakukan Perusahaan dengan cara menghitung potensi kerugian yang mungkin timbul sebagai dampak dari adanya perubahan nilai tukar terhadap posisi Perusahaan.

Pada tanggal 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016, jika mata uang Rupiah melemah/menguat sebesar 0,35% terhadap Dolar Amerika Serikat dengan asumsi variabel lain konstan, maka laba setelah pajak untuk tahun berjalan akan lebih tinggi (rendah) masing-masing sebesar Rp 95 dan Rp 60, terutama diakibatkan keuntungan (kerugian) dari penjabaran aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, efek utang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual, serta keuntungan (kerugian) penjabaran pinjaman dalam mata uang Dolar Amerika Serikat.

Perusahaan telah menetapkan berbagai limit untuk mengantisipasi risiko pasar atas mata uang asing baik karena perubahan kurs maupun fluktuasi suku bunga. Limit yang telah ditetapkan Perusahaan antara lain limit maksimum posisi terbuka kumulatif dan per major

currency yang bertujuan untuk membatasi eksposur risiko nilai tukar serta memastikan

kepatuhan terhadap ketentuan PDN.

c. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko yang disebabkan antara lain oleh ketidakmampuan Perusahaan dalam memenuhi liabilitas yang telah jatuh tempo dan menutup posisi di pasar. Risiko likuiditas merupakan risiko yang terpenting pada bank umum dan perlu dikelola secara berkesinambungan.

Pemantauan terhadap likuiditas Perusahaan dilakukan secara harian dan sebagai bagian dari sistem informasi manajemen hasil pemantauan tersebut dilaporkan kepada Manajemen. Pemantauan antara lain dilakukan terhadap komposisi posisi keuangan Perusahaan, aktivitas dana keluar dan dana masuk yang tercermin dari transaksi RTGS dan SKN, aktivitas money market, posisi aset likuid baik primer maupun sekunder, serta rasio-rasio likuiditas seperti rasio kecukupan aset likuid dan Loan to Deposit Ratio. Pemantauan terhadap pemenuhan Giro Wajib Minimum baik primer maupun sekunder dilakukan untuk memastikan bahwa Perusahaan selalu menjaga GWM sesuai yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia.

Pengelolaan likuiditas Perusahaan juga dilakukan dengan mempelajari pola pergerakan dana dan atau perilaku nasabah Dana Pihak Ketiga, khususnya dana nasabah inti dan nasabah yang memiliki tingkat volatilitas cukup tinggi. Dengan mempelajari perilaku nasabah, maka Perusahaan dapat menjaga kecukupan likuiditas yang diperlukan secara tepat untuk menutup kebutuhan tersebut. Perusahaan menjaga kecukupan secondary reserves pada level yang aman dengan besaran kecukupan disesuaikan dengan kondisi likuiditas Perusahaan secara spesifik maupun kondisi likuiditas di pasar.

Core fund atau dana yang tidak ditarik oleh nasabah dan dinilai stabil berada dalam besaran

yang cukup baik. Perusahaan senantiasa melakukan pemantauan terhadap posisi core fund dan berupaya untuk secara berkesinambungan meningkatkan persentase terhadap jumlah dana yang dimiliki. Core fund menjadi bagian yang sangat penting bagi Perusahaan dalam menjalankan fungsi intermediasi berupa penyediaan dana jangka panjang. Hal ini mengingat portofolio dana pihak ketiga yang dimiliki Perusahaan sebagian besar berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan dana mengendap antara lain diciptakan program-program yang mengharuskan dana nasabah ditahan dan tidak dapat ditarik sampai jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan program.

Asset and Liability Committee (ALCO) berperan sebagai forum manajemen senior tertinggi

untuk memonitor situasi likuiditas Perusahaan. ALCO bertanggung jawab untuk menentukan kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan aset dan liabilitas Perusahaan sejalan dengan prinsip kehati-hatian manajemen risiko dan peraturan yang berlaku. ALCO menyetujui kerangka limit transaksi, mempertimbangkan struktur laporan posisi keuangan jangka panjang dari Perusahaan.

Pada dasarnya, risiko likuiditas dikelola sesuai dengan kerangka kebijakan, pengawasan, dan batasan yang memastikan bahwa konsentrasi pendanaan bersifat minimal, sumber dan jangka waktu pendanaan telah terdiversifikasi.

Berikut adalah jadwal jatuh tempo liabilitas keuangan (termasuk simpanan dan simpanan dari bank lain berdasarkan prinsip syariah) berdasarkan pembayaran kontraktual yang tidak didiskontokan pada tanggal 31 Maret 2017 dan 31 Desember 2016:

Sampai > 1 bulan > 3 bulan > 6 bulan

dengan s.d. s.d. s.d. Biaya

1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan Jumlah transaksi Nilai Tercatat Liabilitas

Liabilitas segera 319.676 - - - 319.676 - 319.676

Simpanan 21.941.569 2.473.094 947.287 353.643 25.715.593 - 25.715.593 Simpanan dari bank lain 370.120 - - 10.300 380.420 - 380.420 Surat berharga yang

diterbitkan 85.000 - - - 85.000 - 85.000

Liabilitas akseptasi 122.952 25.557 29.860 - 178.369 - 178.369

Beban bunga akrual 38.714 - - - 38.714 - 38.714

Liabilitas lain-lain 125.014 - - - 125.014 - 125.014

Jumlah Liabilitas 23.003.045 2.498.651 977.147 363.943 26.842.786 - 26.842.786 31 Maret 2017

Sampai > 1 bulan > 3 bulan > 6 bulan

dengan s.d. s.d. s.d. Biaya

1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan Jumlah transaksi Nilai Tercatat Liabilitas

Liabilitas segera 155.217 - - - 155.217 - 155.217

Simpanan 21.964.294 2.166.593 711.443 235.411 25.077.741 - 25.077.741 Simpanan dari bank lain 914.984 500 - - 915.484 - 915.484 Liabilitas akseptasi 67.309 92.703 16.798 - 176.810 - 176.810

Beban bunga akrual 36.714 - - - 36.714 - 36.714

Liabilitas lain-lain 67.307 - - - 67.307 - 67.307

Jumlah Liabilitas 23.205.825 2.259.796 728.241 235.411 26.429.273 - 26.429.273 31 Desember 2016

Sebagian besar liabilitas yang dimiliki oleh Perusahaan akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 bulan, namun berdasarkan pengalaman Perusahaan sebagian besar dari liabilitas tersebut pada saat jatuh tempo akan diperpanjang (roll over). Upaya yang dilakukan Perusahaan agar nasabah tetap mempertahankan dananya pada Perusahaan yaitu dengan meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan penawaran suku bunga yang wajar dan kompetitif. Dengan upaya tersebut, Perusahaan juga mengharapkan dapat menarik nasabah baru untuk menempatkan dananya pada Perusahaan. Perusahaan juga melakukan upaya lain untuk memitigasi adanya penarikan dana secara besar-besaran oleh nasabah dimana Perusahaan juga memantau 100 deposan inti, khususnya 25 deposan inti terbesar, dengan cara mengevaluasi profil dan perilaku dari deposan-deposan tersebut sehingga Perusahaan dapat melakukan antisipasi terhadap penarikan dana besar yang akan dilakukan deposan. Sampai dengan saat ini, Perusahaan tidak pernah mengalami kesulitan likuiditas maupun kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko bagi Perusahaan. Apabila terdapat potensi risiko, Perusahaan memiliki sejumlah upaya antisipasi seperti ketersediaan Giro Wajib Minimum, Cadangan Sekunder, serta penetrasi yang baik terhadap pasar antar bank.

d. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Perusahaan.

Risiko operasional dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko operasional juga dapat melekat pada setiap aktivitas fungsional Perusahaan, seperti kegiatan perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, Teknologi Sistem Informasi dan Sistem Informasi Manajemen, serta pengelolaan SDM.

Kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengelolaan risiko operasional di Perusahaan senantiasa disusun, dikaji ulang dan disempurnakan untuk memastikan kecukupan mekanisme kontrol pada semua kebijakan dan prosedur telah memadai. Perusahaan juga secara aktif melakukan sosialisasi untuk membangun budaya sadar risiko dan meningkatkan kualitas kontrol dalam rangka mitigasi risiko operasional.

Perusahaan mulai mengembangkan dan menerapkan beberapa sistem dan perangkat risiko operasional. Perangkat risiko operasional tersebut digunakan untuk mengukur potensi risiko pada kondisi sekarang, lampau (historis) dan untuk mengukur besarnya potensi kejadian risiko di masa depan. Dengan adanya pendekatan ini, diharapkan Perusahaan dapat lebih komprehensif dalam mengelola risiko operasional.

Untuk mengelola risiko operasional, Perusahaan mengembangkan beberapa perangkat sebagai berikut:

 Risk Control Self Assessment (RCSA)

Pelaksanaan RCSA dilakukan secara self - assessment oleh karyawan Perusahaan dalam rangka mengukur besarnya pengendalian risiko yang telah dilakukan oleh masing-masing karyawan. Melalui pelaksanaan RCSA tersebut, diharapkan seluruh karyawan Perusahaan dapat semakin meningkatkan pengendalian internal serta budaya sadar risiko pada setiap lini bisnis.

Loss Event Database (LED)

Perusahaan membangun dan mengembangkan perangkat risiko operasional lainnya seperti Loss Event Database (LED) yang tujuannya untuk menyusun database atas kejadian-kejadian yang terjadi sebagai akibat risiko operasional serta mengukur besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kejadian operasional tersebut. Melalui LED tersebut, Perusahaan diharapkan dapat mulai menghitung besarnya modal yang diperlukan untuk menutup kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh kejadian-kejadian dalam aktivitas operasional Perusahaan.

e. Risiko Hukum

Risiko hukum adalah risiko yang timbul dari kelemahan aspek hukum, antara lain akibat dari tindakan hukum, tidak adanya peraturan yang mendukung atau kelemahan dari ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum, seperti kegagalan untuk mematuhi persyaratan hukum suatu perjanjian dan celah-celah dalam pengikatan jaminan.

Pelaksanaan identifikasi, pengukuran, dan pemantauan terhadap potensi risiko hukum dilaksanakan terhadap seluruh aktivitas Perusahaan, terutama kegiatan operasional Perusahaan dengan melibatkan pihak ketiga yang memiliki potensi benturan kepentingan atau gugatan hukum.

Untuk meminimalkan risiko hukum Perusahaan, peran dan fungsi legal yang sebelumnya berada di kantor cabang tertentu dirubah menjadi Legal dan Duta Compliance di Kantor Wilayah dengan memberikan peranan yang lebih luas agar selain berperan sebagai Legal

Counselor juga bertindak sebagai Duta Compliance yang memberikan sosialisasi legal dan compliance awareness kepada karyawan Kantor Cabang yang berada di wilayahnya.

f. Risiko Strategis

Risiko strategis adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan dan pelaksanaan strategi Perusahaan yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Perusahaan terhadap perubahan eksternal.

Perusahaan telah menyusun strategi dan rencana bisnis yang sebelumnya telah didiskusikan dengan Dewan Komisaris, Direksi serta seluruh management Perusahaan. Perusahaan juga melakukan kajian dan evaluasi stratejik bisnis serta realisasi yang telah dicapai oleh Perusahaan sesuai dengan yang terangkum dalam Rencana Bisnis Perusahaan.

g. Risiko Kepatuhan

Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan Perusahaan tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku, seperti Ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aset Produktif (KAP), Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Aset Produktif, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), Posisi Devisa Neto (PDN) dan lainnya.

Dalam rangka menerapkan manajemen risiko kepatuhan yang efektif, Perusahaan telah melakukan identifikasi dan pengelolaan terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya eksposur risiko kepatuhan, yaitu :

Dalam dokumen PT. BANK SINARMAS Tbk. (Halaman 82-92)

Dokumen terkait