• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2015 - 2019.

2. Untuk menganalisis pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2015 – 2019.

12 3. Untuk menganalisis pengaruh Income Smoothing terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2015 – 2019.

4. Untuk menganalisis pengaruh Transfer Pricing terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2015 – 2019.

5. Untuk menganalisis pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Income Smoothing dan Transfer Pricing secara simultan (secara bersama-sama) terhadap Tax Avoidance pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI tahun 2015 – 2019.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah : a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi literatur dalam penelitian di masa yang akan datang mengenai bidang perpajakan.

b. Manfaat praktis

1) Bagi fiskus, diharapkan penelitian ini dapat membantu fiskus untuk menemukan tindakan - tindakan tax avoidance di masa mendatang.

2) Bagi perusahaan, diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan mengenai tax avoidance dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku terutama terhadap tujuan dari dibuatnya peraturan oleh fiskus.

3) Bagi mahasiswa / peneliti lain, agar dapat mengetahui perkembangan kasus tax avoidance serta menambah wawasan akan tax avoidance.

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Teori agensi menurut Jensen dan Meckling (1976) adalah “sebuah kontrak antara principal (pemilik/pemegang saham) dan agen (manajer/pengelola) yang mana baik pemilik dan pengelola merupakan pemaksimum kesejahteraan”. Teori keagenan pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (Irawati, 2019). Menurut Scott (2003), teori keagenan adalah “cabang dari game theory yang mempelajari desain kontrak untuk memotivasi agent yang rasional untuk bertindak atas nama principal ketika kepentingan agent bertentangan dengan kepentingan principal”. Principal mendelegasikan tugas kepada agen, sementara agen menjalankan tugas yang diperintahkan principal dengan bertindak atas nama principal (Helmy, 2020).

Teori agensi mengansumsikan baik principal dan agen memiliki kepentingan masing-masing sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan antara kedua belah pihak tersebut (antara agen dan principal) (Mahdiana & Amin, 2020). Dalam penelitian ini, fiskus bertindak sebagai principal dan Wajib Pajak Badan bertindak sebagai agent yang mematuhi peraturan pajak yang berlaku. Fiskus (principal) memberikan tugas kepada wajib pajak badan (agen) untuk melaporkan pajak terutang dan membayar pajaknya ke pemerintah (fiskus), sementara wajib pajak badan (agen) melaksanakan tugas yang diberikan fiskus tersebut. Fiskus (principal) dan wajib pajak (agen) memiliki kepentingan yang berbeda, yang mana wajib pajak berusaha untuk

14 menghindari pajak karena pajak dapat mengurangi laba bersih untuk dibagikan ke pemegang saham maupun untuk diinvestasi kembali (Prasetyo dan Pramuka, 2018), sementara fiskus (principal) memiliki kepentingan berupa mengkehendaki memungut pajak secara optimal berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku demi kepentingan pembangunan nasional (Ratnaningsih, 2008) .

2.1.2 Tax Avoidance

Pengertian tax avoidance adalah “upaya penghindaran pajak yang dilakukan dengan mematuhi semua ketentuan perpajakan yang berlaku dan menggunakan strategi di bidang perpajakan” (Hidayah, 2019). “Tax Avoidance dilakukan oleh para wajib pajak dengan memanfaatkan celah atau loopholes dari peraturan yang ada untuk mengurangi bahkan menghilangkan kewajiban dalam perpajakan” (Sari & Mulyani, 2020).

OECD ( Organization for Economic Co-Operation and Development) menjabarkan elemen-elemen tax avoidance pada OECD Report 1987 , yaitu sebagai berikut :

1) almost invariably there is present an element of artificially to it or, to put this another way, the various arragements in a scheme do not have a business or economic aims as their primary purpose 2) secrecy may also be a feature of modern avoidance 3) tax avoidance often takes advantage of loopholes in the law of applying legal provisions, for purposes for which they were not intended

Menurut Wallschutzky (1993), terdapat beberapa alasan wajib pajak melakukan tax avoidance, yaitu sebagai berikut :

1. Persepsi pajak mengenai tarif pajak, keadilan dari sistem perpajakan, seberapa bijak pemerintah menggunakan uang wajib pajak

15 2. Kecenderungan dasar individu kepada negara dan hukum pada umumya 3. Pengaruh kelompok pada perilaku individu

4. Pemeriksaan pajak, pelaporan informasi, pemotongan pihak ketiga 5. Gaya administrasi tiap perusahaan

6. Praktisi perpajakan

7. Kemungkinan terdeteksi dan hukumnya 8. Pelayanan wajib pajak

Beberapa teknik umum tax avoidance yang diungkapkan oleh Sikka (2010) adalah sebagai berikut:

1. Offshore tax sheltering

Offshore tax sheltering adalah pemindahan pendapatan ke negara dengan tarif pajak rendah dengan melakukan transaksi artifisial (fiktif).

2. Accounting manipulation

Beberapa metode accounting manipulation adalah transfer pricing (penetapan harga), exemption/deferral of foreign affiliate income (pembebasan/penangguhan laba dari afiliasi luar negeri), royalty payments and intra corporate loans (pembayaran royalti dan utang di intra perusahaan).

3. Legal obfuscation

Adalah praktik bisnis/kertas kerja yang rumit atau terlalu luas sehingga memusingkan pihak otoritas.

2.1.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan Institusional adalah “persentase jumlah saham yang dimiliki institusi lain di luar perusahaan minimal 5% terhadap total saham perusahaan” (Ramadhan, 2018). “Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham dari pemerintah ataupun pihak institusi lainnya”

(Ngadiman dan Puspitasari, 2014). Kepemilikan institusional menurut Sari dan Mulyani (2020) adalah “kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemerintah, perusahaan asuransi, investor luar negeri atau bank, kecuali kepemilikan individual investor”.

16 Menurut Masrullah dkk, (2018), kelebihan kepemilikan institusional adalah memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga dapat menguji keandalan informasi serta memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

Kepemilikan institusional dapat meningkatkan pengawasan menjadi lebih optimal terhadap kinerja manajemen dikarenakan memiliki porporsi kepemilikan saham yang cukup besar untuk mendukung atau menolak kinerja manajemen (Wati & Utomo, 2020). Pengawasan seperti itu jarang dilakukan oleh pemegang saham minoritas karena biaya pengawasan lebih besar daripada keuntungan yang didapat.

Kepemilikan institusional dapat diukur dengan menggunakan model penelitian yang dilakukan oleh Muhadianah dan Zulfiati (2020) sebagai berikut :

INST =

2.1.4 Kepemilikan Manajerial

“Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh pihak manajemen yang berperan dalam mengelola perusahaan” (Avianita & Hani, 2020). Menurut Pujiati dan Widanar (2009), kepemilikan manajerial adalah

“proporsi pemegang saham oleh pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan, yaitu direksi dan komisaris”.

Semakin besar kepemilikan manajemen di suatu perusahaan, maka manajemen akan semakin giat melakukan tindakan yang dapat menguntungkan pemegang saham, karena jika tidak, manajemen yang juga

17 merupakan pemegang saham juga akan menerima dampaknya (Prasetyo &

Pramuka, 2018).

Kepemilikan manajerial dapat diukur dengan menggunakan model penelitian yang dilakukan oleh Muhadianah dan Zulfiati (2020) sebagai berikut :

KM =

2.1.5 Income Smoothing

Terdapat beragam definisi income smoothing. Income smoothing (perataan laba) merupakan “normalisasi laba yang dilakukan secara sengaja untuk mencapai trend atau level laba tertentu” (Belkaoui, 1993). Definisi income smoothing menurut Beidelman (1973) adalah :

Usaha yang disengaja untuk meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba sehingga pada saat sekarang dipandang normal bagi suatu perusahaan. Dalam hal ini, perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi abnormal laba dalam batas-batas yang diijinkan dalam praktik akuntansi dan prinsip manajemen yang wajar (sound).

Terdapat beragam dimensi atau media yang digunakan manajemen untuk melakukan perataan laba (income smoothing). Dasher dan Malcolm (1970) menjelaskan 2 (dua) bentuk income smoothing, sebagai berikut :

Real smoothing, berkaitan dengan transaksi aktual yang dilakukan atau tidak dilakukan berdasarkan pada pengaruh perataan terhadap laba sementara Artificial smoothing, berkaitan dengan prosedur akuntansi yang diterapkan untuk mengubah cost atau pendapatan dari satu periode ke periode lain.

Lebih lanjut, pengertian artificial smoothing menurut Copeland (1968) adalah sebagai berikut : “Income smoothing melibatkan pemilihan selektif terhadap aturan-aturan pengukuran atau pelaporan akuntansi dengan cara/pola

18 tertentu, pengaruh pemilihan tersebut adalah untuk melaporkan pola laba dengan variasi yang lebih kecil dari trend yang seharusnya terjadi”.

Selain dari kedua dimensi di atas, terdapat satu dimensi income smoothing lain yang sering dibahas, yaitu classificatory smoothing. Menurut Barnes et.al (1976) terdapat 3 (tiga) dimensi income smoothing, yaitu :

1. Perataan melalui terjadinya peristiwa dan/atau pengakuan peristiwa.

Artinya, manajemen dapat menentukan waktu terjadinya transaksi aktual sehingga pengaruh transaksi tersebut terhadap laba yang dilaporkan cenderung rata sepanjang waktu.

2.Perataan melalui alokasi sepanjang metode. Atas dasar terjadinya dan diakuinya peristiwa tertentu, manajemen memiliki media pengendalian tertentu dalam penentuan laba pada periode yang terpengaruh oleh kuantifikasi peristiwa tersebut.

3.Perataan melalui klasifikasi (classificatory smoothing). Jika angka- angka dalam laporan laba rugi selain laba bersih merupakan obyek dari perataan laba, maka manajemen dapat dengan mudah mengklasifikasikan elemen – elemen dalam laporan laba rugi sehingga dapat mengurangi variasi laba setiap periodenya.

Poin 1 pada pembagian dimensi income smoothing dapat dipandang sebagai real smoothing, sedangkan poin 2 dapat dipandang sebagai artificial smoothing.

Tujuan dilakukannya perataan laba menurut Fadhlania (2019) adalah

“untuk mencapai keuntungan pajak, kebijakan deviden yang stabil, dan memberikan kesan baik terhadap kinerja manajemen kepada pemegang saham”. Ketika laba perusahaan naik atau turun secara drastis dalam periode yang beruntun maka beban pajak yang dibayarkan pun akan naik atau turun secara drastis. Yang menjadi masalah apabila laba meningkat drastis, maka beban pajak pun akan meningkat drastis pula.Oleh karena itu, manajer melakukan perataan laba (income smoothing) agar laba perusahaan terlihat stabil dan beban pajak yang dikenakan tidak terlalu besar (stabil) setiap tahun.

19 Income smoothing dapat menyebabkan asimetri informasi antara agen (perusahaan) dengan principal (fiskus), yang mana agen tidak menyampaikan informasi mengenai laba yang sebenarnya kepada fiskus. Asimetri informasi tersebut dikarenakan perbedaan kepentingan (konflik kepentingan) antara agen dan prinsipal.

Income smoothing dapat diukur dengan menggunakan model penelitian yang dilakukan oleh Fadhlania (2019) yaitu Indeks Eckel, sebagai berikut :

Indeks Eckel =

Di mana :

CV = Koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan rata – rata perubahan laba (I) atau penjualan (S)

ΔI = Perubahan laba bersih dalam satu periode ΔS = Perubahan penjualan dalam satu periode

CVΔI dan CVΔS dapat dihitung sebagai berikut :

Keterangan :

ΔI = Perubahan penghasilan laba bersih/laba (I) antara tahun n dengan n – 1

ΔI = Rata – rata perubahan penghasilan laba bersih/laba (I) antara tahun n dengan n – 1

n = Banyaknya tahun yang diamati CVΔI =

20

Keterangan :

ΔS = Perubahan penjualan (S) antara tahun n dengan n – 1

ΔS = Rata – rata perubahan penjualan (S) antara tahun n dengan n – 1 n = Banyaknya tahun yang diamati

Jika hasil perhitungan indeks eckel kurang dari 1 ( CVΔS >

CVΔI), maka perusahaan dianggap melakukan perataan laba, sementara jika perhitungan indeks eckel lebih besar / sama dengan 1 ( CVΔS ≤ CVΔI ), maka perusahaan dianggap tidak melakukan perataan laba.

Kelompok perusahaan yang melakukan perataan laba diberi nilai 1, sementara kelompok perusahaan yang tidak melakukan perataan laba diberi nilai 0.

2.1.6 Transfer Pricing

Terdapat berbagai definisi mengenai transfer pricing. Definisi transfer pricing menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER – 32/PJ/2011 adalah penentuan harga dalam transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Definisi transfer pricing menurut Garisson (2007) adalah “harga yang dibebankan jika satu segmen perusahaan menyediakan barang atau jasa kepada segmen lain dari perusahaan yang sama”. Definisi transfer pricing menurut Nurhayati (2013) adalah “suatu mekanisme penetapan harga yang tidak wajar atas transaksi penyerahan barang atau jasa oleh pihak – pihak yang memiliki hubungan istimewa (related parties)”.

CVΔS =

21 UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 18 ayat 4 mendefinisikan hubungan istimewa sebagai berikut:

a. Wajib pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada wajib pajak lain; Hubungan antara wajib pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua wajib pajak atau lebih;

atau hubungan di antara dua wajib pajak atau lebih yang disebut terakhir;

b. Wajib pajak menguasai wajib pajak lainnya atau dua atau lebih wajib pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung

c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturuan lurus dan/atau ke samping satu derajat

Pengertian transfer pricing menurut Suryana (2012) adalah transaksi barang dan jasa antara beberapa divisi pada suatu kelompok usaha dengan harga yang tidak wajar, bisa dengan menaikkan (mark up) atau menurunkan harga (mark down), kebanyakan dilakukan oleh perusahaan global (multinational enterprise). Pengertian transfer pricing menurut Ilyas dan Suhartono (2017), yaitu “upaya internasional penghindaran pajak dengan cara memperbesar harga pembelian (over invoice) atau memperkecil harga penjualan (under invoice)”.

Terdapat banyak tujuan dilakukannya transfer pricing. Menurut Simamora (1999), tujuan transfer pricing (penetapan harga transfer) adalah mentransmisikan data keuangan di antara departemen-departemen atau divisi-divisi perusahaan pada waktu mereka menggunakan barang dan jasa satu sama lain. Tujuan transfer pricing yang lain menurut Horngern dkk(2008) adalah membantu mencapai strategi dan tujuan perusahaan dan sesuai dengan struktur organisasi perusahaan. Transfer pricing juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi

22 pembeli menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan (Lingga, 2012). Terdapat 2 (dua) tujuan transfer pricing menurut Suryana (2012), yaitu :

1. Untuk mengatur jumlah profit sedemikan rupa sehingga pembayaran pajak dan pembagian dividen menjadi rendah

2. Untuk memoles (window – dressing) laporan keuangan sehingga laba menjadi sangat tinggi.

Transfer pricing dapat diukur dengan menggunakan model penelitian yang dilakukan oleh Margaretha dan Jenni (2019) serta Panjalusman et al.

(2018) sebagai berikut :

TP =

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai Tax Avoidance telah banyak dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Pramudito dan Sari (2015) memiliki sampel sejumlah 112 perusahaan manufaktur amatan. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitiannya adalah konservatisme akuntansi tidak berpengaruh terhadap tax avoidance , ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tax avoidance ,kepemilikan saham oleh manajerial perusahaan berpengaruh secara negatif terhadap tax avoidance. Secara simultan konservatisme akuntansi, ukuran dewan komisaris dan kepemilikan saham oleh manajerial perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance.

Penelitian yang dilakukan oleh Widyantoro dan Sitorus (2019) memiliki sampel peneilitan ini berjumlah 16 perusahaan sub sektor konsumsi

23 dengan jumlah pengamatan sebanyak 80. Penetapan sampel menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis data menggunakan perhitungan statistik deskriptif, analisis korelasi, uji asumsi klasik dan koefisien determinasi. Hasil penelitiannya adalah transfer pricing berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap tax avoidance. Sales growth memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tax avoidance. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Moderasi profitabilitas tidak mampu memperkuat pengaruh transfer pricing terhadap tax avoidance.

Moderasi profitabilitas tidak mampu memperkuat pengaruh sales growth terhadap tax avoidance.

Penelitian yang dilakukan oleh Pohan (2009) memiliki sampel sebanyak 79 perusahaan dari populasi sebanyak 340 perusahaan publik.

Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin. Data diolah dengan menggunakan SPSS, hasil olah data dengan komputer dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu hasil olah data statistik deskriptif dan hasil olah data untuk statistik inferensia. Hasil penelitiannya adalah secara simultan, kepemilikan institusional, rasio Tobin Q,perata laba (income smoothing), akrual pilihan, tarif efektif pajak, dan biaya pajak ditunda berpengaruh terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Secara parsial, kepemilikan institusi tidak berpengaruh secara signifikan dan bersifat positif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Rasio tobin q berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Perataan laba berpengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Akrual pilihan berpengaruh negatif signifikan terhadap

24 penghindaran pajak (tax avoidance). Tarif efektif pajak berpengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance) serta biaya pajak yang ditunda tidak berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Mulyani (2020) memiliki sampel sejumlah 120 perusahaan konstruksi multinasional. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah Moderated Regression Analysis. Hasil penelitiannya adalah secara bersama-sama Transfer Pricing, Kepemilikan Asing dan pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Secara parsial, transfer pricing berpengaruh positif signifikan terhadap tax avoidance, kepemilikan asing berpengaruh positif signifikan terhadap tax avoidance, namun CSR gagal memperlemah pengaruh transfer pricing dan kepemilikan asing terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Penelitian yang dilakukan oleh Fadhlania (2019) memiliki sampel berjumlah 36 perusahaan manufaktur, dimana penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis faktor, analisis statistik deskriptif, analisis korelasi, analisis regresi dengan pendekatan Generalized Method of Moment (GMM) dan analisis koefisien determinan. Hasil penelitiannya adalah profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Corporate governance berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Perataan laba (income smoothing) tidak berpengaruh

25 signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Kebijakan pendanaan berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Kebijakan deviden tidak berpengaruh signifikan dan bersifat positif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance). Kebijakan investasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Penelitian yang dilakukan oleh Arianandini dan Ramantha (2016) memiliki populasi berupa 157 perusahaan sektor manufaktur, dengan sampel 39 perusahaan manufaktur. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profitabilitas berpengaruh negatif signifikan pada tax avoidance, Leverage tidak berpengaruh signifikan pada tax avoidance, Kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan pada tax avoidance. Secara simultan, profitabilitas, leverage dan kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhadianah dan Zulfiati (2020) memiliki sampel penelitian berjumlah 177 perusahaan manufaktur, dimana penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis linear berganda. Hasil penelitiannya adalah secara bersama – sama, manajemen laba, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, intensitas aset tetap dan kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap tax avoidance. Secara parsial, manajemen laba tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tax avoidance, kepemilikan

26 institusional berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance, kepemilikan manajerial berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance, intensitas aset tetap tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tax avoidance, serta kepemilikan keluarga berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance. Secara bersama-sama, manajemen laba, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, intensitas aset tetap, serta kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap tax avoidance.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Putra (2017) memiliki sampel berjumlah 34 perusahaan manufaktur dengan amatan sebanyak 80 perusahaan manufaktur sub sektor konsumsi. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan teknik multiple linear analysis. Leverage memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tax avoidance, Profitability memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tax avoidance, Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance, Kepemilikan Institusional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance.

Tabel 2.1

1. Konservatisme Akuntansi tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance 2. Ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance 3. Kepemilikan saham oleh manajerial perusahaan berpengaruh secara negatif terhadap Tax Avoidance.

Secara simultan Konservatisme Akuntansi, Ukuran dewan komisaris dan kepemilikan saham oleh manajerial perusahaan berpengaruh terhadap Tax Avoidance.

27

1. Transfer Pricing berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap Tax Avoidance.

2. Sales growth memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Tax Avoidance.

3. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Tax Avoidance.

4. Moderasi profitabilitas tidak mampu memperkuat pengaruh transfer pricing terhadap tax avoidance.

5. Moderasi profitabilitas tidak mampu memperkuat pengaruh sales growth terhadap tax avoidance.

1. Kepemilikan institusi tidak berpengaruh secara signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

2. Rasio tobin q berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

3. Perataan laba berpengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

4. Akrual pilihan berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

5. Tarif efektif pajak berpengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

6. Biaya pajak yang ditunda tidak berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Secara simultan, kepemilikan institusional, rasio Tobin Q, perata laba (income smoothing), akrual pilihan, tarif efektif pajak, dan biaya pajak ditunda berpengaruh terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

1. Transfer pricing berpengaruh positif signifikan terhadap tax avoidance

2. Kepemilikan asing berpengaruh positif signifikan terhadap tax avoidance

3. CSR gagal memperlemah pengaruh transfer pricing dan kepemilikan asing terhadap penghindaran pajak (tax

28 Moderasi:

Corporate Social Responsibility (CSR)

avoidance).

Secara bersama-sama Transfer Pricing, Kepemilikan Asing dan pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh terhadap Penghindaran Pajak (Tax Avoidance).

1. Profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

2. Corporate governance berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

3. Perataan laba (income smoothing) tidak berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

4. Kebijakan pendanaan berpengaruh negatif signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

5. Kebijakan deviden tidak berpengaruh signifikan dan bersifat positif terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

6. Kebijakan investasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap penghindaran pajak (tax avoidance).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Profitabilitas berpengaruh negatif signifikan pada tax avoidance

2. Leverage tidak berpengaruh signifikan pada tax avoidance, 3. Kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan pada tax avoidance.

Secara simultan, Profitabilitas, Leverage dan Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan terhadap Tax Avoidance.

1. Manajemen laba tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tax avoidance

2. Kepemilikan institusional berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance

3. Kepemilikan manajerial berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance

4. Intensitas aset tetap tidak

29 - Intensitas Aset

Tetap - Kepemilikan

Keluarga

berpengaruh secara signifikan terhadap tax avoidance

5. Kepemilikan keluarga berpengaruh positif secara signifikan terhadap tax avoidance.

Secara bersama-sama, manajemen laba, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, intensitas aset tetap, serta kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap tax avoidance.

1. Leverage memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Tax Avoidance 2. Profitability memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Tax Avoidance

3. Ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tax Avoidance

4. Kepemilikan Institusional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Tax Avoidance.

Sumber : Olahan Peneliti, 2021 2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual menjelaskan bagaimana keterkaitan teori – teori

Kerangka konseptual menjelaskan bagaimana keterkaitan teori – teori