• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : ANALISA DATA

TINJAUAN PUSTAKA

II.4.3. Tujuan Pendidikan Kesetaraan

II.4.3. Tujuan Pendidikan Kesetaraan

1. Memperluas pendidikan dasar Sembilan tahun melalui pendidikan nonformal program Paket A setara SD/MI dan Paket B setara SMP/MTs yang menekankan pada ketrampilan fungsioanal dan kepribadian professional.

2. Memperluas akses pendidikan menengah melalui jalur pendidikan nonformal program Paket C setara SMA/MA yang menekankan pada ketrampilan fungsional dan kepribadian profesional.

3. Meningkatkan mutu daya saing lulusan serta relavansi program dan daya saing pendidikan kesetaraan progam Paket A, Paket B dan Paket C.

4. Menguatkan tata kelola, akutanbilitas dan citra publik terhadap penyelenggara dan penilaian program pendidikan kesetaraan.

II.4.4. Sasaran Pendidikan Kesetaraan

1. Penduduk usia tiga tahun di atas usia SD/MI (13-15 tahun) untuk Paket A dan tiga tahun diatas usia SMP/MTs (16-18 tahun) untuk Paket B.

2. penduduk usia sekolah yang bergabung dalam komunitas elerning, sekolah rumah, dan sekolah alternatif, serta komunitas yang berpotensi khusus seperti pemusik, atlet, pelukis dan lain-lain.

3. penduduk usia sekolah yang terkendala kejalur formal karna berbagai hal berikut:

a. Ekonomi seperti penduduk miskin dari kalangan petani, nelayan, penduduk kumuh dan miskin perkotaan, pekerja rumah tangga,

tenaga kerja wanita, pengerajin, buruh dan pekerja lainnya. b. Kondisi geografis, etnik minoritas, suku terasing dan terisolir.

c. Keyakinan seperti warga pondok pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal.

d. Mengalami masalah sosial/hukum seperti anak jalanan, korban NAPZA, dan anak Lapas.

e. Penduduk usia 15-44 tahun yang belum tuntas wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

f. Penduduk usia SMA/MA yang berminat mengikuti program Paket C terutama karna masalah ekonomi.

g. Penduduk diatas usia 18 tahun yang berminat mengikuti program Paket C karna berbagai alasan.

II.4.5. Kurikulum Pendidikan Kesetaraan

Kurikulum tingkat satuan pendidikan kesetaraan progam Paket A, Paket B dan Paket C dikembangkan berdasarkan pada prinsip berikut; berpusat pada kehidupan beragam dan terpadu, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, menyeluruh dan berkesinambungan, dan prinsip belajar sepanjang hayat.

Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan kesetaraan memuat komponen mata pelajaran baik yang diujikan pada ujian nasional (UN) maupun yang tidak diujikan, ketrampilan fungsional, muatan lokal, seni budaya, pendidikan jasmani, olah raga, kesehatan dan pendidikan pengembangan diri. Kedalam muatan kurikulum pada program pendidikan kesetaran dituangkan

dalam kompetensi yang terdiri dari standar kompetensi (SK) dan kopetensi dasar (KD) pada tingkat atau semester. Standar kopetensi dan kopetensi dasar ditentukan sesuai kebutuhan minimal untuk melanjunkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sementara, pemenuhan kebutuhan maksimal SK dan KD di isi dengan ketrampilan fungsional.

Beban belajar pada pendidikan kesetaraan dinyatakan dalam Satuan Kredit Kompetensi (SKK) yang menujukkan satuan kompetensi yang dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti program pemeblajaran melelalui sistim tatap muka, praktek ketrampilan dan kegiatan mandiri yang terstruktur.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus pendidikan kesetaraan ditetapkan oleh dinas yang bertanggung jawab dibidang pendidikan sesuai dengan tingkat kewenangan, berdasar kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dan dikembangkan dilibatkan dengan pemangku kepentingan serta pedoman pada panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan kesetaraan yang disusun oleh Badan Standarisi Nasional Pendidikan (BSPN). II.4.6. Pendidik Dan Tenaga Kependidikan

Pendidik pada pendidikan kesetaraan harus memiliki kompentensi pedagogi, personal, professional, sosial serta didukung dengan kualifikasi pendidikan yang sesuai:

1. Kompetensi pedagogi, personal, professional, dan sosial.

Pendidik pada pendidikan kesetaraan harus memiliki kompentensi pedagogi adan adrogogik. Dengan demikian dapat mengelola pembalajaran nonformal menggunakan metode partisipatif, kelas campuran, ketuntasan belajar,

dan melayani perbedaan individual dalam menerapkan maju keberlanjutan. 2. Kualifikasi Akademik

Syarat kulifikasi akademik yang dimiliki pendidik pada pendidikan kesetaraan adalah sebagai berikut:

a. Pendidikan minimal D-IV atau S1 yang sederjat untuk Paket A, Paket B dan Paket C. Namun untuk tidak daerah yang tak memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang sesuai, pendidikan minimal D-II dan yang sederjat untuk Paket A dan Paket B, dan D-III untuk Paket C

b. Guru SD/MI untuk Paket A, guru SMP/MTs untuk Paket B dan guru SMA/MA untuk Paket C

c. Kyai, Ustad di pondok pesantren dan tokoh masyarakat dengan kompetensi yang sesuai dengan pelajaran yang berkaitan.

d. Nara sumber teknis dengan kompentensi dan kualifikasi dengan mata pelajaran keterampilannya.

Tenaga kependidikan pada pendidikan kesetaran sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar, tenaga administratifdan tenaga perpustakan.

II.4.7. Peserta Didik

Peserta didik program Paket A Setara SD/MI adalah warga masyarakat yang:

a. Belum menempuh pendidikan di SD/MI dengan prioritas usia usia 13-15, kecuali bagi peserta didik yang menentukan Paket

A atas pilihan sendiri. b. Putus Sekolah Dasar.

c. Tidak menempuh sekolah formal karna pilihan sendiri.

d. Tidak dapat bersekolah karna berbagai faktor (waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum, dan keyakinan).

Peserta didik program Paket B Setara SMP/MTs adalah warga masyarakat yang:

a. Lulus Paket A/SD/MI.

b. Belum menempuh pendidikan di SMP/MTs dari kelompok usia 15-44 tahun dengan prioritas usia 16-18 tahun.

c. Putus SMP/MTs

d. Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri.

e. Tiadak dapat bersekolah karna berbagai faktor (waktu, geografi, ekonomi sosial dan hukum, dan keyakinan)

Peserta didik program Paket C Setara SMA/MA adalah warga masyarakat yang:

a. Lulus Paket B/SMP/MTs. b. Putus SMA/MA, SMK/MAK

c. Tidak menempuh sekolah formal karna pilihan sendiri

d. Tidak dapat bersekolah karna berbagai faktor ( waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum dan keyakinan)

II.4.8. Sarana dan Prasarana

Proses belajar mengajar dapat dilaksanakan diberbagai lokasi dan tempat yang sudah ada baik milik pemerintah, masyarakat maupun pribadi, seperti gedung sekolah, madrasah, sarana-prasarana yang dimiliki pondok pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar Masyarakat (SKB), mesjid, pusat-pusat majlis taklim, gereja, balai desa, kantor organisasi-organisasi kemasyarakatan, rumah penduduk dan tempat-tempat lainnya yang layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

1. Adminitarsi

Untuk menunjang kelancaran pengelolaan kelompok belajar diperlukan sarana adminitrasi sebagai berikut:

a. Papan nama kelompok belajar.

b. Papan struktur organisasi penyelenggara.

c. Kelengakapan adminitrasi penyelenggara dan pembelajaran (format terlampir) yang meliputi:

a) Buku induk peserta didik, tutor dan tenaga kependidikan. b) Buku daftar hadir peserta didik, tutor dan tenaga kependidikan. c) Buku keuangan/kas umum

d) Buku daftar inventaris. e) Buku agenda pembelajaran. f) Buku laporan bulanan tutor.

g) Buku agenda surat masuk dan keluar. h) Buku daftar nilai peserta didik. i) Buku tanda terima ijazah

II.4.9. Pengelolaan

Pengelolaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ini dilakukan dengan struktur yang jelas dan dapat kita lihat seperti penjelasan di bawah ini :

1. Pembinaan dan Pengawasan

a. Direktorat pendidikan kesetaraan, Jendral pendidikan luar sekolah melaksanakan pembinaan terhadap penyelenggaran pendidikan kesetaran program Paket A, Paket B, dan Paket C.

b. Kasubdin provinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi PLS membina pelaksanaan penyelenggaraan, kegiatan belajar, evaluasi, dan kegiatan lain yang berkaitan.

c. Penilik PLS di kecamatan memantau pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara rutin.

2. Proses Pelaksanaan a. Tahap Persiapan

a) Kasubdin Kabupaten/Kota yang membidangi PLS dan penilik PLS di kecamatan mengadakan komunikasi dengan tokoh masyarakat dan kepala desa/ kelurahan.

b) Kasubdin Kabupaten/Kota yang membidangi PLS dan penilik PLS di Kecamatan dengan para tokoh masyarakat mengadakan sosialisasi program kepada masyarakat luas.

c) Kabsudin Kabupaten/Kota yang membidangi PLS dan penilik PLS di Kecamatan dengan para tokoh masyarakat mengindentifikasi penyelengara program, tempat belajar, calon

peserta didik dan tutor/pendidik.

d) Penyelengara program membuat kesepakatan dengan tenaga pendidik dan peserta didik tentang kegiatan belajar.

e) Penyelenggara program menyiapkan tempat kegiatan belajar, modul, bahan dan peralatan praktek dan pendidikan ketrampilan, dan perlengkapan lain.

b. Tahap Pelaksanaan

a) Tutor dan peserta didik mulai kegitan belajar sesuai dengan jadwal kegiatan.

b) utor dan peserta didik melaksanakan kegiatan belajar.

c) Tutor memberi bimbingan baik secara individu maupun kelompok.

d) Tutor melaksanakan kegiatan evaluasi. c. Pasca Pembelajaran

a) Penyelenggara dan tutor membantu memfasilitasi peserta didik yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

b) Penyelenggara dan tutor membantu peserta didik yang telah lulus/tamat belajar untuk menciptakan kegiatan usaha.

c) Penyelengara dan tutor membantu peserta didik telah lulus/tamat untuk mendapatkan lapangan kerja.

II.4.10. Pembiayaan

Pembiayaan penyelenggaran program diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), swadaya masyrakat dan sumber dana lain yang sah dan tak mengikat. Diantra komponen pendanaan yang perlu mendapat perhatian adalah:

a. Pengadaan bahan dan peralatan belajar; buku/modul dan alat tulis. b. Pengadaan bahan dan peralatan praktek dan ketrampilan.

c. Honorarium pendidik dan tenaga kependidikan. d. Honorarium penyelengara.

e. Pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan. f. Evaluasi dan ujian.

g. Beasiswa bagi peserta didik yang cemerlang. h. Monitoring dan evaluasi program.

II.4.11. Dasar Hukum

Dasar hukum penyelenggaran pendidikan kesetaraan program Paket A, Paket B, dan Paket C adalah:

1) Undang-Undang Dasar 1945

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3) Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

• No. 1 Tahun 2004 Tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun

• No. 5 Tahun 2006 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara

5) Keputusan Mendikbud Nomor 0131/U1994 Tentang Program Paket A Dan Paket B

6) Keputusan Mendiknas No 0132/U/2004 Tentang program paket C

7) Surat Edaran Mendiknas No:107/MPN/MS/2006. Tentang Eligibilitas program kesetaraan.

II.4.12.Teori-teori yang berkaitan dengan Pendekatan Pendidikan Kesetaraan

Proses pembelajaran pendidikan kesetaraan menggunakan pendekatan induktif, tematik, partisipatif (andragogis), konstruktif dan berbasis lingkungan.

a. Indukif; adalah pendekatan yang membangun pengetahuan melalui kejadian atau fenomena empirik dengan menekankan pada belajar dan pengalaman langsung. Pendekatan ini mengembangkan pengetahuan peserta didik dari permasalahannya yang paling dekat dengan dirinya. Membangunm pengetahuan dari serangkaian permasalahan dan fenomena yang dialami oleh peserta didik dan yang diberikan oleh tutor, sehingga peserta didik dapat membuat kesimpulan dari serangkaian penyelesaian masalah yang dibuat.

pengalaman-pengalaman dan mendorong terjadinya pengalamn belajar yang meluas tidak hanya tersekat-sekat oleh batasan pokok bahasan, sehingga dapat mengaktifkan peserta didik dan menumbuhkan kerja sama .

c. Konstruktif; merupakan suatu pendekatan yang sesuai dalam pembelajaran berbasis kompetensi, dimana peserta didik membangun pengetahuannya sendiri. Dalam pendekatan ini peserta didik telah mempunyai ide tersendiri tentang suatu konsep yang belum dipelajari. Peran tutor yaitu untuk membetulkan konsep yang ada pada peserta didik atau untuk membentuk konsep baru.

d. Partisipatif andragogis; adalah pendekatan yang membantu menumbuhkan kerja sama dalam menemukan dan menggunakan hasil-hasil temuannya yang berkaitan dengan lingkungan sosial, situasi pendidikan yang dapat merangsang pertumbuhan dan kesehatan individu, maupun masyarakat.

PEDAGOGI ANDRAGOGI

Kategori Usia Peserta Didik

Anak Orang Dewasa

Konsep Diri Bergantung Lebih Mandiri

Pengalaman Pengalaman yang dapat dijadikan sumber belajar lebih terbatas

Pengalaman lebih unik, yang dapat dijadikan sumber belajar lebih kaya.

Kesiapan Belajar Bergantung pada

ketertarikan sesuai rasa ingin tahu, perkembangan fisik, dan emosinya

Diorentasikan pada tugas peran dan fungsinya dimasyarakat.

Orientasi Belajar Lebih berpusat pada subjek, bila tutornya tidak menarik perhatiannya akan kurang, menunda penerapan pegetahuan

Segera menerapkan pengetahuan dalam permasalahan yang dihadapinya. Bergeser dari berpusat pada subjek keberpusat lebih pada

masalah.

e. Berbasis Lingkungan\Kontekstual; adalah pendekatan yang meningkatkan relevansi dan kebermanfaatan pembelajaran bagi peserta didik sesusai potensi dan kebutuhan lokal. Pendekatan pembelajaran ini harus terkait dengan lingkungan dimana peserta didik hidup dan bekerja. Peserta didik merasa bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajarinya terkait langsung dengan kehidupannya sehari-hari.

II.5. PKBM (Pusat Kegitan Belajar Masyarakat)

PKBM (Pusat Kegitan Belajar Masyarakat) merupakan institusi pendidikan nonformal yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat atau ormas, atau organisasi keagamaan. Pemerintah berperan sebagai faslitator. PKBM didirikan untuk pemberdayaan masyarakat; dalam aspek ekonomi, budaya, sosial. Ia adalah tempat atau pusat belajar masyarakat; oleh, dari dan untuk masyarakat yang netral dan fleksibel. PKBM sebagi lembaga pendidikan nonformal, yang tersebar diberbagai desa dan kota, melayani berbagai program pendidikan nonformal, yang diantaranya adalah pendidikan anak usia dini, keaksaraan fungsional, kursus, dan pendidikan kesetaraan Paket A, B,dan C.

PKBM Emphaty Medan merupakan penyelenggara program Paket A, Paket B Dan Paket C yang dilaksanakan oleh Yayasan Empahaty medan yang beralamat Jl. Jamin Ginting No. 807 Padang Bulan Medan Kelurahan Beringin.

Dokumen terkait