• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Guna mengetahui variabel pengelolaan dana zakat memiliki pengaruh terhadap variabel kegiatan mustahik.

2. Guna mengetahui variabel kegiatan wirausaha mustahik memiki pengaruh terhadap variabel kesejahteraan.

3. Guna mengetahui variabel pengelolaan dana zakat memiki pengaruh terhadap variabel kesejahteraan.

6

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan juga

memberikan manfaat pembelajaran dalam bentuk teori. 2. Manfaat Praktis

a. Penulis

Penelitian ini menjadi media bagi penulis untuk menambah

pengalaman dibidang penelitian dan menambah pemahaman mengenai judul yang menjadi fokus penelitian.

b. Penulis Selanjutnya

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi

7 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Zakat a. Pengertian Zakat

Secara Istilah,zakat berasal dari bahasa Arab (zakah atau zakat), yang mengandung arti harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya). Dari segi bahasa, zakat berarti bersih, suci, subur, berkat, dan berkembang. Menurut syariat Islam, zakat merupakan

rukun ketiga dari rukun Islam.10

Menurut Wahbah Al- Zuhayli (1989), zakat adalah pertumbuhan, pertambahan, dan pembersihan. Sedangkan menurut Yusuf Al-Qardhawi (2007: 35) menjelaskan bahwa zakat ialah sejumlah harta tertentu yang diserahkan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dan

diwajibkan oleh Allah.11

Zakat merupakan keawajiban untuk mengeluarkan sebagiannya harta yang bersifat mengikat dan bukan anjuran. Kewajiban tersebut berlaku untuk seluruh umat muslim yang sudah balig atau belum, berakal atau gila. Di saat mereka sudah memiliki sejumlah harta yang sudah masuk dalam batas nisabnya, maka wajib dikeluarkan harta dalam jumlahtertentu pula

10

Dr. H. Aden Rosadi. Zakat dan Wakaf. (Cet 1: Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2019), h.9.

11

Didiek Ahmad Supardi. Sistem Lembaga Keuangan Ekonomi Islam dalam

8

untuk diberikan kepada para mustahik yang terdiri dari delapan kelompok. Sebagai salah satu dari rukun Islam yang ke lima, zakat adalah pondasi Islam yang agung. Kewajibannya pun langsung disampaikan melalui Al-Quran, As-Sunnah dengan dilengkapi keterangannya berdasarkan Ijma‟ ulama. Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Bayyinah: 5 yang berbunyi:













Terjemahnya :

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”.12

Karena adanya perpecahan di kalangan mereka, maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah-Nya. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, dan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka juga diperintahkan untuk mengikhlaskan diri lahir dan batin dalam beribadah kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekufuran kaumnyakepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Ikhlas adalah salah satu dari dua syarat diterimanya amal, dan itu merupakan pekerjaan

12

9

hati. Sedang yang kedua adalah mengikuti sunah Rasulullah. Allah berfirman: Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim yang lurus." (an-Nahl/16: 123) Firman-Nya yang lain: Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus dan muslim. (Ali 'Imran/3: 67) Mendirikan salat dalam ayat ini maksudnya adalah mengerjakannya terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Al-Qur'anul Karim. Keterangan ayat di atas tentang keikhlasan beribadah, menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat, dan mengeluarkan zakat, adalah maksud dari agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.

Mutlaknya kewajiban untuk membayar zakat, Rasulullah SAW sempat mengutus salah seorang sahabatnya Muadz bin Jabbal ke negeri Yaman, dan beliau berpesan, “Jelaskanlah kepada mereka (orang-orang Yaman) bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka untuk

diberikan kepada orang-orang fakir dari mereka”. (HR. Muslim).13

Pemberian zakat juga bukan semata-mata dilakukan secara individual dari muzakki diserahkan langsung kepada mustahik akan tetapi dilakukan oleh sebuah lembaga yang khusus menangani zakat yang khususmemenuhi

13

Drs.Syarif Hidayatullah, Ensiklopedia Rukun Islam (Jakarta : Al- Kautsar Prima, 2008), h. 4-6.

10

syarat tertentu yang disebut dengan amil zakat. Amil zakat inilah yang memiliki tugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melakukan pengambilan barang sertamendistribusikannya secara tepat dan benar.

Oleh karena itu, Lembaga Amil Zakat, infaq dan Sedekah (LAZISMU) harus dikelola dengan amanah dan jujur, transparan dan professional. Harta yang terkumpul dari pengumpulan zakat disalurkan langsung untuk kepentingan mustahiq. Dalam kondisi masyarakat yang rawan atau tercancam kemiskinan, peran lembaga zakat tentu diharapkan harus lebih aktif menggulirkan program-program yang responsif terhadap kebutuhan para mustahiq. Alokasi penyaluran dana zakat, infaq dan sedekah untuk bantuan bersifat karitas dalam situasi sekarang ini perlu diperbesar dan diperluas sasarannya dalam rangka proteksi penduduk miskin.

Kesimpulannya adalah bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim. Sedangkan hikmah dari kewajiban melaksanaknnya adalah penyucian harta bagi pemiliknya dan

saling memberikan pertolongan antara sesame muslim.14

b. Landasan Hukum Zakat

Zakat itu hukumnya wajib bagi orang yang telah memenuhi syarat syaratnya, dan merupakan salah satu rukun Islam yang kelima. Adapun dasar hukumnya itu terdapat dalam Al-qur‟an dan Al-hadits. Diantara dasar-dasar itu adalah sebagai berikut :

1) Al-qur‟an

14

Kementerian Agama RI. Membangun Peradaban Zakat (Jakarta: KA RI, 2012), h. 30-31.

11

Dalam al-qur‟an terdapat 32 buah kata zakat. Pengulangan tersebut mengandung maksud bahwa zakat mempunyai kedudukan, fungsi dan peranan yang sangat penting. Dari 32 buah kata zakat yang terdapat di dalam Alqur‟an, 29 diantaranya bergandengan dengan kata shalat, di antaranya yaitu firman Allah dalam surat Al-baqarah (2) ayat 43 yaitu:







Terjemahnya :

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”15

Pada ayat ini terdapat tiga macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israil, ialah: 1. Agar mereka melaksanakan salat setiap waktu dengan cara yang sebaik-baiknya, melengkapi segala syarat dan rukunnya, serta menjaga waktu-waktunya yang telah ditentukan. 2. Agar mereka menunaikan zakat, karena zakat merupakan salah satu pernyataan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya dan menumbuhkan hubungan yang erat antar sesama manusia karena zakat itu dapat saling membantu dalam masyarakat, di mana orang-orang yang miskin memerlukan bantuan dari yang kaya dan sebaliknya. 3. Agar mereka rukuk bersama orang-orang yang rukuk. Maksudnya ialah kita telah mengetahui bahwa salat menurut agama Islam terdiri dari bermacam-macam gerakan jasmaniyah, seperti rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya. Tetapi pada akhir ayat ini salat tersebut hanya diungkapkan dengan kata-kata “rukuk”. Hal ini dimaksudkan agar mereka

15

12

menunaikan salat dengan benar seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. Dengan mengerjakan shalat dan zakat merupakan manifestasi rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmatnya dan juga merupakan suatu cerminan hubungan antara manusia. Maka perintah salat dan zakat di dalam ayat tersebut telah menjadi kewajiban mutlak.

2) Al-hadits

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda :

َنهلَصَّ َِْيَلَع ُ هاللَّ ىهلَص ِ هاللَّ ُلُْصَر َلاَق َلاَق اَوٌَُِْع ُ هاللَّ َيِضَر َزَوُع ِيْبا ْيَع

ِ هاللَّ ُلُْصَر اًدهوَحُه هىَأَّ ُ هاللَّ هلَِإ َََلِإ َلَ ْىَأ ِةَداََِش ٍشْوَخ ىَلَع ُم َلَْصِ ْلْا َيٌُِب

َىاَضَهَر ِمَْْصَّ ِّجَحْلاَّ ِةاَكهزلا ِءاَتيِإَّ ِة َلَهصلا ِماَقِإَّ

Artinya :

“Dari Ibnu Umar r.a berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Islam itu dibina terhadap lima pilar (dasar); Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya; mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah (bagi yang mampu).”(HR. Bukhari dan

Muslim).16

c. Tujuan Zakat

Zakat merupakan ibadah yang mengandung dua dimensi, yaitu

hablum minallah dan hablum minannas. Syariat zakat dalam Islam

menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah-masalah

kemasyarakatan, terutama nasib orang yang lemah.17 Tujuan tersebut, antara

lain:

16

Dr. H. Aden Rosadi. Zakat dan Wakaf (Cet 1; Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2019), h.69

17

13

1) Mengangkat derajat fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan hidup serta penderitaan.

2) Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para gharim,

ibnu sabil ,dan mustahik lainnya.

3) Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam serta manusia pada umumnya.

4) Menghilangkan sifat kikir pemilik harta kekayaan. 5) Membersihkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial)

6) Menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dalam suatu masyarakat.

7) Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang, terutama yang mempunyai harta.

8) Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain yang ada pada dirinya.

9) Sarana pemerataan pendapatan untuk mencapai keadilan sosial.18

Tujuan disyariatkan zakat, di antaranya adalah agar harta tidak hanya

beredar dikalangan orang-orang kaya.19 Hal ini sebagaimana disebutkan Allah

dalam Qs. Al-Hasyr (59):7:

... یۡنُ یٌِۡه ِءآاَيٌِ یۡ َ یۡلَا َيیۡيَب ً َل یُّۡد َى یُْۡ َي َلَ یۡ َ ..

Terjemahnya :

18

Sofyan Hasan. Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf(Surabaya: Al-Ikhlas,1995), h.26-27.

19

14

“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”20

Ayat ini menjelaskan sebagian pengikut Syafi'i berpendapat bahwa bagian Rasulullah itu diserahkan kepada badan-badan yang mengusahakan kemaslahatan kaum Muslimin dan untuk menegakkan agama Islam. Ibnus-sabil yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang terlantar dalam perjalanan untuk tujuan baik, karena kehabisan ongkos dan orang-orang yang terlantar tidak mempunyai tempat tinggal. Kemudian diterangkan bahwa Allah menetapkan pembagian yang demikian bertujuan agar harta itu tidak jatuh ke bawah kekuasaan orang-orang kaya dan dibagi-bagi oleh mereka, sehingga harta itu hanya berputar di kalangan mereka saja seperti yang biasa dilakukan pada zaman Arab Jahiliah.

Tujuan zakat bukanlah sekedar untuk mengumpulkan harta dan memenuhi kas saja, dan bukan pula sekedar menolong yang lemah dan mempunyai kebutuhan serta menolong mereka dari kejatuhan saja, akan tetapi yang utama adalah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta, sehinga ia menjadi

tuannya harta bukan menjadi budaj harta.21

d. Mustahik

Orang-orang yang berhak menerima zakat disebut dengan mustahiq zakat. Kata asal mustahiq yaitu haqqo yahiqqu hiqqon wa hiqqotan yang artinya kebenaran, hak, dan kemestian. Mustahiq juga berarti berhak atau yang menuntut hak. Dan orang-orang yang berhak menerima zakat hanya mereka

20

Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahan.

21

Yusuf Qhardawi, Fikhu Zakat, diterjemahkan oleh Salman Harun dkk. Dengan judul

15

mereka yang telah ditentukan oleh Allah dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 60 yang berbunyi :

















Terjemahnya:

“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, Orang-orang miskin, pengurus zakat (amil), orang-orang yang dibujuk hatinya (muallaf), untuk memerdekakan budak yang telah dijanjikan merdeka, orang-orang yang berhutang di jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) sebagai sesuatu ketetapan dan yang diwajibkan Allah”.22

Ayat ini menjelaskan secara terperinci siapa sesungguhnya yang berhak menerima zakat itu. Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, yaitu orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga kebutuhan primernya tidak terpenuhi, orang miskin, yakni orang yang memiliki penghasilan namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, baik kedua kelompok itu meminta-minta maupun tidak, amil zakat, orang-orang yang ditugaskan untuk mengelola dana zakat, yang dilunakkan hatinya atau orang yang baru masuk Islam, untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang demi memenuhi kebutuhan primernya yang jumlahnya melebihi penghasilannya, untuk orang yang aktivitasnya berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan dengan perjalanan

22

16

yang mubah dan kehabisan bekal. Zakat itu sebagai kewajiban dari Allah bagi setiap muslim yang mampu. Allah Maha Mengetahui apa saja yang terkait dengan kemaslahatan hambahamba-Nya, Mahabijaksana atas segala aturan dan kebijakan-Nya.

Pada masa Rasulullah Saw mereka yang serakah tidak dapat menahan air liurnya ketika melihat harta sedekah. Mereka berharap mendapat percikan harta dari Rasulullah. Setelah tidak diperhatikan oleh Rasulullah, mereka mulai

menggunjing dan menyerang kedudukan beliau sebagai nabi.23

Berdasarkan ayat tersebut, yang di sebut mustahiq adalah sebagai berikut berikut :

a. Fakir

Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau penghasilan sama sekali.24

b. Miskin

Miskin adalah orang-orang yang memiliki harta atau penghasilan namun sama sekali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidupnya.

c. Amil

Amil adalah orang yang bertugas mengurus dan membagikan zakat kepada yang berhak menerimanya, dengan syarat mengerti tentang zakat dan bisa dipercaya.

23

Elsa Kartika Sari. Pengantar Hukum Zakat dan Waqaf (Jakarta: PT. Grasindo, 2006), h. 37.

24

Muhamad `Ali Sayis. Tafsir Ayat Ahkam Jilid II (Beirut: Dar Kutub al-`Ilmiyah, t.t), h. 30.

17

d. Mualaf

Mualaf adalah orang yang baru memeluk agama Islam dan bantuan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.

e. Riqab

Riqab adalah membebaskan atau memerdekakan hamba sahaya dari perhambaannya sehingga ia lepas dari ikatan dengan tuannya.

f. Ghorimin

Menurut Imam Syafi‟i, ghorimin adalah orang yang berutang karena

mendamaikan dua orang yang berselisih.25 Sedangkan menurut Imam

Hambali, ghorimin adalah orang yang berutang untuk dirinya sendiri pada

pekerjaan yang mubah atau haram, tetapi dia sudah bertobat.26

g. Fii Sabiilillah

Fii sabiilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, seperti orang yang berjihad (berperang), berdakwah, dan lain-lain.

h. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang-orang yang berpergian jauh untuk kepentingan Ibadah (bukan maksiat) dan kehabisan bekal atau mengalami kesengsaraan dalam perjalannya.

Adapun orang yang tidak berhak menerima zakat karena beberapa alasan, antara lain :

25

Masifuk Zuhdi, Masailul Fiqiyah (Jakarta: Cv. Haji Masagung,1994), h. 262-263.

26

18

1. Keluarga Rasulullah Saw.

Mereka tidak boleh makan harta zakat sedikit pun berdasarkan pernyataan tegas dari Rasulullah Saw.

ِل ِلِ َلََّ ٍدهوَحُوِل ،ُّلِحَت َلَ اَِهًِإَّ ،ِساهٌلا ُخاَصَّْأ َيُِ اَوهًِإ ،َةَقَدهصلا ٍِِذَُ هىِإ

َنهلَصَّ َِْيَلَع ُاللَّ ىهلَص ٍدهوَحُه

Artinya :

“Zakat adalah kotoran harta manusia, tidak halal bagi Muhammad, tidak pula untuk keluarga Muhammad shallallahu „alaihiwa sallam.”

(HR. Muslim, Abu Daud, Nasa‟I, dan Ahmad).27

Hadist ini menjelaskan bahwa keluarga Rasulullah Saw. tidak boleh menerima zakat karena keluarga Nabi shallallahu „alaihi wa sallam adalah semua keturunan bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib.

2. Orang Kaya

ٍ ِضَتْ ُه يٍّ َِْ ِل َلََّ ،يٍّيٌَِ ِل اَِيِ ه َ َلََّ

Artinya :

“ Tidak ada hak zakat untuk orang kaya, maupun yang masih kuat bekerja”

(HR. Abu Daud).28

Hadist tersebut menjelaskan bahwa orang kaya itu tidak berhak menerima zakat, begitu pula untuk orang yang masih kuat bekerja.

3. Orang Kafir

27

Dr. H. Aden Rosadi. Zakat dan Wakaf (Cet; 1: Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2019), h.69

28

Dr. H. Aden Rosadi. Zakat dan Wakaf (Cet; 1: Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2019), h.70

19

Ibnul Mundzir menukil adanya ijma‟ kesepakatan ulama bahwa orang kafir

tidak boleh menerima zakat.29

4. Setiap orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki (wajib zakat)

Zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi olehmuzakki(wajib zakat), seperti istri, anak, dan seterusnya ke bawah, atau

orang tua danseterusnya ke atas.30

5. Budak

Budak tidak boleh menerima zakat karena zakat yang diterima pada

akhirnya harus diserahkan kepada tuannya, terkecuali budak mukatab.31

e. Wirausaha

1. Pengertian Wirausaha

Secara bahasa, wirausaha atau entrepreneur adalah suatu istilah yang

berasal dari kata „wira‟ yaitu berani, perkasa, dan utama.32

Sedangkan „usaha‟ yaitu kegiatan atau aktifitas yang mengerahkan tenanga, pikiran atau badan

untuk mencapai sesuatu maksud.33

Menurut istilah wirausaha yaitu sebagaimana argumen oleh Taufik Baharuddin seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

bahwa wirausaha yaitu, kemampuan untuk menciptakan,

29

Ammi Nur Baits. 7 Orang Yang tidak Boleh Menerima Zakat. 2013. Diakses pada 15 November 2019. Pukul 10.11 WITA.

30

Umrotul Khasanah. Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan Umat (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h.41

31

Ahmad Sarwat. Ensiklopedia Fikih Indonesia 4 : Zakat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019), h. 442

32

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta; Balai Pustaka, 1990), h.1023.

33

20

mencari,memanfaatkan peluang untuk menuju apa yang ingin dicapai sesuai

dengan yang di idealkan.34

Seiring dengan hal tersebut Bukhari Alma mengemukakan bahwa wirausaha atau entrepreneur adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang

tersebut.35Makna lain dari wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang

membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas. Sebagian besar pendorong perubahan, inovasi dan kemajuan perkeonomian beasal dari para wirausaha, orang-orang yang memiliki kemampuan untu mengambil

resiko dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.36

Jadi secara umum pengertian wirausaha atau entrepreneur adalah mereka yang selalu bekerja keras dan kreatif untuk mencari peluang bisnis, mendayagunakan peluang yang diperoleh, dan kemudian merekayasa penciptaan alternatif sebagai peluang bisnis baru dengan faktor keunggulan

(Heflin, 2004).37

Pengertian kewirausahaan adalah seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah ke upaya untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Sedangkan pengertian penguasaha adalah orang yang berusaha mencari keuntungan dengan mengelola sendiri perusahaannya atau bersama-sama

34

www. We-entrepreneur.Com\artikel\Kewirausahaan. Doc.Diakses pada 02 Maret 2020. Pukul 13.13 WITA.

35

Bukhari Alma.Kewirausahaan. (Cet, VII; Bandung; Al-Fabate, 2004), h.21.

36

Andi Irawan. Kewirausahaan UKM Pemikiran Pengalaman. (Jawa Tmur; Graha Ilmu, 2007), h. 26-27.

37

Fajarwati, Hasnah Rimiyati, Munjiati Munawaroh. Kewirausahaan (Yogyakarta: LP3M UMY, 2016), h.6.

21

dengan orang lain.38Peter Drucker berkata bahwa wirausaha tidak mencari

resiko, mereka mencari peluang.39

Mereka yang menghargai proses adalah cenderung memiliki kesabaran, dan seorang wirausahawan sejati memiliki kesabaran dalam menjalani setiap proses menuju keberhasilan tersebut. Sehingga jika ada pendapat bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan maka kata-kata ini dipegang teguh oleh wirausahawan. Tanpa ada kegagalan sulit seseorang mengetahui dimana kelemahan yang ia miliki. Kadang kala kita perlu belajar dari kesalahan, dan manusia diajarkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dikemudian hari, karena jika ia mengulangi kesalahan yang sama dikemudian hari maka artinya ia tidak belajar dari pengalaman atau menyia-nyiakan pengalaman. Lebih jauh setiap kesalahan atau kegagalan harus dipelajari apa penyebab itu terjadi. Kesempurnaan sebuah produk pada saat produk itu diciptakan lebih baik dari produk sebelumnya. Kata-kata seperti ini menjadi kunci seorang wirausahawan.

2. Pemanfaatan Zakat Sebagai Modal Wirausaha

Untuk saat sekarang ini, potensi harta zakat ternyata makin berkembang dalam upaya pemanfaatannya. Tidak saja sebagai harta yang dikonsumsi, lalu habis seketika itu, tapi lebih kepada pengupayaan agar zakat itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang nilainya produktif dan berkembang biak secara simultan dalam jangka panjang ke depan.

38

Nurhadi. Ekonomi SMA/MA Kelas XII (Jakarta: Bumi Aksara), h. 108-115.

39

Buchari Alma. Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum (Bandung: Alfabeta, 2008), h.24.

22

Salah satu upaya pemanfaatan zakat untuk hal di atas adalah menggunakannya sebagai modal wirausaha atau menjadikan harta zakat sebagai modal berwirausaha. Wirausaha sendiri didefinisikan sebagai usaha-usaha yang mempunyai keunggulan tertentu untuk memodifikasi produk lama menjadi produk baru, dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang memanfaatkan pemberdayaan manusia dan kekayaan alam lainnya.

Umat Islam memiliki persepsi bahwa ajaran zakat tidak lebih dari sekedar ibadah ritual yang terpisah dari konteks sosial. Oleh karena itu dibutuhkan suatu strategi yang mungkin perlu terus-menerus diperbarui dalam mengaktualisasikan potensi zakat di tengah-tengah masyarakat agar setiap masyarakat bisa merasakan secara langsung implikasinya dalam kehidupan sosial ekonomi mereka, baik sekarang dan masa yang akan datang.

Dengan dasar argumen tersebut, cukup memberi gambaran betapa potensi ekonomi zakat sangat membantu umat dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, terjadinya keadilan pendapatan terutama modal usaha bagi wirausaha. Apalagi sebagai umat yang mayoritas di negara ini, kaum muslimin memiliki kewajiban untuk menggali potensi yang kita miliki, yang bersumber pada kekuatan ajaran Islam dan kekuatan umat itu sendiri. Salah satunya adalah zakat, infak, dan sedekah. Walaupun tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah kesejahteraan secara tuntas, akan tetapi bila ketiga ajaran Islam itu, dikelola dengan baik, amanah, dan profesional dalam pengambilan maupun pendistribusiannya, setidaknya akan dapat meminimalisasi berbagai hal yang berkaitan dengan kemiskinan.

23

Selain itu, tingkat kesulitan wirausahawan untuk memperoleh pinjaman dari bank cukup terbantu dengan adanya Lembaga Amil Zakat yang menyalurkan sebagian dana zakat yang dihimpunnya untuk modal usaha. Oleh karena itu, amat dibutuhkan satu bentuk lembaga independen yang mengurus hal ini. Dalam konteks Indonesia, tercatat beberapa lembaga, antara lain: Badan Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (BAZIS), dan Lembaga Amil Zakat,

Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU).40

f. Kesejahteraan

1. Pengertian Kesejahteraan

Kesejahteraan atau sejahtera dapat memiliki tiga arti yaitu sebagai

berikut:41

a) Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur,

Dokumen terkait