BAB I PENDAHULUAN
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui, antara lain:
1. Menentukan besaran sumberdaya terunjuk andesit yang ada pada area penelitian dengan menggunakan metoda cross section.
2. Menentukan besaran sumberdaya terunjuk andesit yang ada pada area penelitian dengan menggunakan metoda kontur.
1.6. Manfaat Penulisan
Setelah penelitian ini dilakukan diharapkan dapat memberi manfaat bagi perusahaan maupun bagi penulis sendiri. Berikut manfaat yang dapat diperoleh : 1. Bagi Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang
Diharapkan dapat di jadikan arsip yang nanti nya akan di jadikan contoh bahan ajaran untuk mahasiswa.
2. Bagi Penulis
Penulis dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dibangku perkuliahan sehingga dapat diaplikasikan dalam bentuk nyata.
3. Bagi Perusahaan
Diharapkan dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi Perusahaan untukpenerapan panambangan dan membantu untuk perencanaan penambangan.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan
PT. Atoz Nusantara Mining merupakan badan usaha pertambangan batubara dengan No. IUP-OP: 516/466/KPTS/BPT-PS/2009 dengan luas 192 Ha.
Namun untuk produksi batubara sebesar 1700 ton/bulan PT. Atoz Nusantara Mining belum melakukan produksi lanjutan dikarnakan belum terselesaikanya alat pemisah batubara dengan pengotornya atau washing plan. Saat ini PT. Atoz Nusantara Mining sedang melakukan penyelidikan dan eksplorasi umum batu andesit, memproduksi andesit untuk dijadikan batu pecah dengan menggunakan crusher plant dengan target produksi 25000 ton/bulan. Hasil produksi PT. Atoz Nusantara Mining dipergunakan untuk keperluan lokal.
2.1.2 Andesit
Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi.
Material padat yang disemburkan ketika gunung api meletus disebut dengan material piroklastik. Bahan-bahan piroklastik yang bersifat asam biasanya lebih cepat membeku, sedangkan lava sifatnya basa sehingga lambat membeku. Magma yang meleleh di permukaan bumi atau yang disebut sebagai lava apa bila membeku dapat membentuk tiga macam batuan yang umum diketahui yaitu batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf.
Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Salah satu contohnya adalah andesit.
Andesit terbentuk pada temperatur antara 900 dan 1100 derajat celcius. Di dalam andesit terdapat sekitar 52-63% kandungan silika (SiO2). Mineral-mineral penyusun andesit yang utama terdiri dari Plagioclase feldspar dan juga terdapat mineral Pyroxene (cclinopyroxene dan orthopyroxene ) dan hornblende dalam jumlah yang kecil.
Andesit juga merupakan batuan leleran dari diorit, mineralnya berbutir halus, komposisi mineralnya sama dengan diorit. Gunung api di Indonesia umumnya menghasilkan batuan andesit dalam bentuk lava maupun piroklastika.
Batuan andesit yang banyak mengandung hornblende disebut andesit hornblenda, sedangkan yang banyak mengandung piroksin disebut andesit piroksin.
Tufa Lafili – tufa merupakan jenis batuan andesit berwarna abu-abu muda-tua kehijauan, bentuk fragmen menyudut, kemas terbuka-tertutup, terdiri dari fragmen plagioklas, gelas vulkanik, silica dan mineral bijih.
Andesit juga merupakan intrusi pada batuan tufa lafili - tufa, bewarna abu-abu muda, keras, porfilitik afanitik, terdiri dari felspard dan amfibol, massif, ukuran butur halus sedang, masa dasar terdiri dari silica sangat halus. Komposisi terdiri dari mineral plagioklas (57-65%), kuarsa (15-20%), piroksin (5%), hornblende (7-8%), klorit (2%), mineral opak (2-3%), serisit (2-5%), karbonat (1%), sebagian mengalami gejala alterasi/ubahan lemah dengan dijumpai veinlet (urat memanjang) kuarsa dan karbonat (Taufan Agustiar. 2015).
Tabel 2.1 Deskripsi Batu Andesit
1. No. Urut :
2. Warna : Abu-abu
3. Jenis Batuan : Batuan Beku Intermediet 4. Struktur : Massife
5. Tekstur : - Kristalinitas : Holokristalin - Granularitas : Faneritik - Bentuk kristal : Subhedral
- Relasi : Equigranular
6. Komposisi
: Batuan ini terbentuk karena proses pembekuan magma yang bersifat cepat.
Andesit merupakan salah satu bahan galian industri yang sangat berperan dalam pembangunan negara Indonesia saat ini. Andesit digunakan sebagai material utama dalam pembangunan (M Romi Syahrial. 2016).
1. Sektor Kontruksi
Batuan andesit banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan, jalan raya, irigasi, landasan terbang, pelabuhan, gedung-gedung serta lainya. Biasanya batuan andesit yang digunakan untuk infrastruktur ini sudah berbentuk agregat dari pertambangan. Batuan andesit banyak digunakan karena memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai cuaca dan tahan lama.
Tidak semua batuan andesit lolos uji sebagai bahan dasar kontruksi karena batuan andesit yang bisa digunakan harus melewati serangkaian tes uji kuat tekan, kuat tarik, kuat geser dan lainya. Hasil tes ini akan memperlihatkan elastisitas batuan dan sifat fisik lainya.
2. Sebagai Dimension Stone
Karena tidak semua batuan andesit dari pertambangan bisa digunakan untuk kontruksi maka batuan andesit dapat dipotong menjadi ukuran tertentu, dipahat, diamplas, kemudian dipoles agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan tertentu.
Potongan-potongan ini yang disebut sebagai dimension stone yang umumnya dimanfaatkan untuk keperluan estetika seperti ornamen pada dinding, lantai atau dekorasi lainya.
2.1.3 Sumberdaya Mineral (Mineral Resource) dan Cadangan (Reserve) 1. Sumberdaya Mineral (Mineral Resource)
Sumberdaya Mineral (Mineral Resource) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumber daya mineral dengan keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang.
2. Cadangan (Reserve)
Cadangan (Reserve) adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum, lingkungan dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan.
A. Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan
Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan adalah suatu proses pengumpulan, penyaringan serta pengolahan data dan informasi dari suatu endapan mineral untuk memperoleh gambaran yang ringkas mengenaiendapan itu berdasarkan kriteria : keyakinan geologi dan kelayakan tambang. Kriteria keyakinan geologi didasarkan pada tahap eksplorasi yang meliputi survey tinjau,
prospeksi, eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Kriteria kelayakan tambang didasarkan pada faktor-faktor ekonomi, teknologi, peraturan/perundang-undangan, lingkungan dan sosial.
Klasifikasi cadangan meliputi :
1. Sumberdaya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resource)
Sumberdaya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap prospeksi.
2. Sumberdaya Mineral Terunjuk (Indicated Mineral Resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap eksplorasi umum.
3. Sumberdaya Mineral Terukur (Measured Mineral Resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap eksplorasi rinci.
4. Cadangan Terkira (Probable Reserve) adalah sumberdaya mineral terunjuk dan sebagian Sumberdaya mineral terukur yang tingkat keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan tambang semuafaktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik.
5. Cadangan Terbukti (Proved Recerve) adalah sumberdaya mineral terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis.
B. Dasar Klafikasi
Klasifikasi Sumberdaya mineral dan cadangan berdasarkan 2 kriteria, yaitu : tingkat keyakinan geologi dan pengkajian layak tambang.
1. Tingkat Keyakinan Geologi
Tingkat keyakinan geologi ditentukan oleh 4 tahap eksplorasi, yaitu : a) Survai tinjau
b) Prospeksi
c) Eksplorasi umum d) Eksplorasi rinci
Kegiatan dari a) ke d) menunjukkan makin rincinya penyelidikan, sehingga tingkat keyakinan geologinya makin tinggi dan tingkat kesalahannya makin rendah.
2. Pengkajian Layak Tambang
a) Pengkajian layak tambang meliputi faktor-faktor ekonomi, penambangan, pemasaran, lingkungan, sosial, dan hukum/ perundang-undangan. Untuk endapan mineral bijih, metalurgi juga merupakan factor pengkajian layak tambang.
b) Pengkajian layak tambang akan menentukan apakah Sumberdaya mineral akan berubah menjadi cadangan atau tetap menjadi sumberdaya.
c) Berdasarkan pengkajian ini, bagian Sumberdaya mineral yang layak tambang berubah statusnya menjadi cadangan sedangkan yang belum layak tambang tetap menjadi Sumberdaya mineral.
(sumber : klasifikasi Sumberdaya mineral dan cadangan SNI 13-6011-1999)
Gambar 2.1 Hubungan eksplorasi, Sumberdaya mineral dan cadangan 2.1.4 Metode Cross Section
Metode cross section masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari perhitungan. Hasil perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih menggunakan komputer. Hasil perhitungan secara manual ini tidak dapat digunakan secara langsung dalam perencanaan tambang menggunakan komputer.
Prinsip dari metode penampang (Cross Section) adalah membuat garis sayatan yang memotong lapisan tanah penutup, kemudian dihitung luas masing-masing sayatan dan akhirnya dapat ditentukan volume dengan menggunakan jarak antar sayatan. Dalam perhitungan metode cross-section, pada penelitian ini rumus yang digunakan adalah Rumus luas rata-rata (mean area).
Rumus luas rata-rata (mean area), rumus luas rata-rata dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang yang uniform.
Persamaan untuk menentukan volume dengan menggunakan rumus mean area sebagai berikut:
Rumus untuk mendapatkan volume cadangan (ton) adalah : Bj
Vtot
Vcd (2.2)
Keterangan :
Vcd = volume cadangan terukur ( ton) Vtot = volume total penampang (m3) Bj = berat jenis andesit ( ton/m3 )
(Sumber: Mart Wandy, 2015)
Gambar 2.2. Sketsa Perhitungan Volume Endapan Dengan Metode cross section
S2
S1
L
(Sumber: Mart Wandy, 2016)
(Sumber: M Romi Syahrial, Handoko Teguh Wibowo. 2016)
2.1.5 Metode kontur
Metode kontur sering juga disebut dengan metode kontur dimana prinsipnya memanfaatkan tiap kontur untuk menghitung luas area tiap interval kontur, menghitung volume tiap interval kontur sehingga didapatkan volume cadangan terukur dan selanjutnya menghitung tonase dari suatu cadangan. Metoda ini dipakai untuk endapan bijih dimana ketebalan dan kadar mengecil dari tengah ke tepi endapan (Arno Edwin Gilang Pratama. 2010).
Gambar 2.3 Sketsa perhitungan volume dengan metode kontur
Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luas daerah yang terdapat didalam batas kontur, kemudian mempergunakan prosedur-prosedur yang umum dikenal.
(Sumber : Arno Edwin Gilang Pratama, 2010)
S L V S
2 2
1
(2.3)(Sumber : Arno Edwin Gilang Pratama, dkk. 2010)
Keterangan :
S1,S2 = luas area per elevasi L = jarak antar elevasi
Sedangkan untuk menghitung tonase digunakan rumus :
Bj Vtot
Vcd (2.4)
(Sumber : Arno Edwin Gilang Pratama, dkk. 2010).
Dalam menggunakan metode ini, jika endapan bahan galian ditutupi oleh tanah penutup misalnya saja tanah penutup maka perlu perhitungan volume tanah penutup dilakukan dengan rumus :
Rumus volume soil adalah :
Gambar 2.4 Ilustrasi tanah penutup
f
f = persentase wilayah yang tertutup tanah penutup ( % )
Rumus untuk mendapatkan cadangan terukur pada area penelitian adalah : Vsoil
2.1.6 Global Mapper
Global Mapper adalah salah satu aplikasi (software) pengolahan data GIS (Geographics Information System) yang digunakan untuk mengolah data berbasis pemetaan berupa data vector, rester, elevation, 3D View, confertion, dan beberapa fitur GIS seperti pengolahan citra satelit, menampilkan data 3D View atau analisa data topografi.
Adapun keunggulan dari Global Mapper adalah : 1. Mengelola dan convert data vector dan rester
2. Pengolahan data penginderaan jauh : Georeferensing, mozaik citra satelit, membuat Gird, dll.
(Sumber: M Romi Syahrial, Handoko Teguh Wibowo. 2016)
(Sumber: M Romi Syahrial, Handoko Teguh Wibowo. 2016)
3. Generator kontur keberbagai interval
4. Melihat DEM keberbagai bentuk tampilan seperti atlas, slope, dll 5. Akurat dalam menghitung jarak dan luas
6. Pengolahan data dan penglacakan GPS yang mudah
Pada penelitian ini software global mapper digunakan untuk pembuatan dan mengolah data berbasis pemetaan berupa data vector yang akan menghasilkan kontur dengan meng-Input data koordinat dan foto satelit (SRTM).
2.1.7 Autodesk Land Desktop 2004
Autodesk Land Desktop 2004 merupakan sebuah program CAD ( Computer Aided Design ) yang sangat terkenal dan familier dewasa ini, karena menawarkan berbagai kemudahan dan keunggulan yang bias mempermudah kerja designer dan drafter dalam memvisualisasikan ide dan gagasannya. Sejak diciptakan pada tahun 1982 oleh Autodesk Corporation hingga keluarnya release yang terbaru, Autodesk Land Desktop 2004 mengalami perkembangan yang sangat berarti serta mempunyai peran yang sangat besar bagi perkembangan industri manufacturing saat ini.
Autodesk Land Desktop 2004 adalah sebuah program aplikasi ( software ) yang digunakan untuk menggambar dan mendisain gambar, seperti gambar arsitektur, mesin, sipil, elektrodan lain-lain, di mana program Autodesk Land Desktop 2004 mempunyai kemudahan dan keunggulan untuk membuat gambar dengan cepat dan akurat serta bisa digunakan untuk memodifikasi gambar dengan cepat pula. Fasilitas yang dimiliki Autodesk Land Desktop 2004 untuk menggambar 2 dimensi dan 3 dimensi sangat lengkap, sehingga hal ini membawa
Autodesk Land Desktop 2004 menjadi program disain terpopuler dibandingkan dengan program-program yang lain dewasa ini.
Dalam penelitian ini Autodesk Land Desktop 2004 dibutuhkan untuk mempermudah pembuatan batas kontur, memperjelas elevasi dan menjdikan tampilan dalm bentuk peta yang sesungguhnya yang akan mempermudah perhitungan di ke dua metode yang digunakan.
2.1.8 Peta Topografi
Peta topografi adalah peta yang menggambarkan bentuk permukaan bumi melalui garis‐garis ketinggian. Gambaran ini, disamping tinggi‐rendahnya permukaan dari pandangan datar (relief), juga meliputi pola saluran, parit, sungai, lembah, danau, rawa, tepi‐laut dan adakalanya pada beberapa jenis peta, ditunjukkan juga, vegetasi dan obyek hasil aktifitas manusia. Pada petatopografi standard, umumnya dicantumkan juga tanda‐tanda yang menunjukkan geografi setempat.
Peta topografi mutlak dipakai, terutama didalam perencanaan pengembangan wilayah, sehubungan dengan pemulihan lokasi atau didalam pekerjaan konstruksi. Didalam kegiatan geologi, petatopografi terpakai sebagai peta dasar untuk pemetaan, baik yang bersifat regional ataupun detail, disamping foto udara atau jenis citra yang lain. Peta topografi juga dipelajari sebagai tahap awal dari kegiatan lapangan untuk membahas tentang kemungkinan proses geologi muda yang dapat terjadi, misalnya proses erosi, gerak tanah/bahaya longsor dan sebagainya. Selain itu, keadaan bentang alam (morfologi) yang dapat dibaca pada petatopografi sedikit banyak merupakan pencerminan dari keadaan
geologinya, terutama distribusi batuan yang membawahi daerah itu dan struktur geologinya.
1. Garis kontur dan karakteristiknya
Pada topografi menunjukkan bentuk dan ketinggian permukaan melalui garis-garis ketinggian (gariskontur). Garis kontur pada prinsipnya adalah garis perpotongan bentuk muka bumi dengan bidang horizontal pada suatu ketinggian yang tetap. Garis kontur mempunyai sifat‐sifat berikut :
a. Setiap garis kontur mempunyai ketinggian (elevasi) yang sama.
b. Jarak antar garis kontur yang berdekatan disebut interval.
c. Interval setiap kontur pastilah sama.
d. Garis‐garis kontur tidak mungkin berpotongan satu dengan yang lain, atau diluar peta.
e. Setiap garis kontur yang ber‐spasi seragam (uniformly spaced contour) menunjukkan suatu lereng yang seragam.
f. Garis‐garis kontur yang rapat menunjukkan suatu lereng curam.
g. Garis‐garis kontur yang renggang menunjukkan suatu lereng landai.
h. Garis kontur yang bergigi menunjukkan suatu depresi (daerah yang rendah), yang tanda giginya menunjukkan kearah depresi tersebut.
i. Garis kontur membelok kearah hulu suatu lembah, tetapi memotong tegak lurus permukaan sungai.
j. Garis‐garis kontur umumnya membulat pada punggung bukit atau gunung tetapi membentuk lengkung yang tajam pada alur‐alur lembah sungai.
k. Nilai garis kontur terbesar suatu punggung bukit dan nilai terkecil pada suatu lembah selalu terdapat berpasangan, yang berarti bahwa tidak terdapat nilai satu kontur yang maksimum atau minimum.
Pada peta topografi yang standar, disamping titik ketinggian hasil pengukuran topografi, umumnya dicantumkan tanda‐tanda menunjukkan sifat fisik permukaan, misalnya sifat sungai, garis pantai dan juga obyek hasil aktifitas manusia.
2. Skala Peta
Skala yang dipakai dalam topografi bisa bermacam‐macam misalnya, skala verbal contoh one inch to the smile atau sering kali dipakai Skala grafis berupa pita garis yang dicantumkan pada peta.Skala ini seringkali dipakai sebagai pelengkap dari skala perbandingan angka yang sudah dicantumkan. Di Indonesia, dikenal berbagai ukuran skala perbandingan skala‐skala seperti 1 : 250.000, 1 : 500.000, 1 : 1.000.000 dikenal sebagai skalaiktisar. Skala 1 :25.000, 1 : 50.000, 1 : 100.000 merupakan skala standard. Skala1 : 1.000, 1 : 5.000 atau lebih umumnya disebut skala.
2.2 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dalam penelitian ini terdiri atas :
Input Proses Output
Gambar 2.5 Kerangka Konseptual
Gambar 2.5 Kerangka Konseptual Pengolahan data :
1. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit
menggunakan metode cross section pada blok I dengan software global Mapper
2. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit dengan menggunakan metode kontur pada blok I dengan software Global
22
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian yang bersifat terapan (applied research), yaitu penelitian yang hati-hati, sistematik dan terus menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan digunakan dengan segera untuk keperluan tertentu (Sedarmayanti, 2002).
3.2 Lokasi Penelitian
PT. Atoz Nusantara Mining berlokasi di Nagari Tambang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Lokasi wilayah IUP PT. Atoz Nusantara Mining dapat ditempuh dengan tahap sebagai berikut:
1. Dari Kota Padang menuju kota Painan, dengan menggunakan jalur darat ditempuh degan jarak tempuh ± 72 Km (2 jam).
2. Dari Kota Painan menuju Nagari Tambang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dengan jarak tempuh ± 5 Km (45 menit).
3. Dari Nagari Tambang menuju ke lokasi tambang dapat ditempuh menyusuri jalan sejauh 1 Km (5 menit).
Gambar 3.1. Kesampaian Daerah 3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan sebab dan akibat yang melatar belakangi penelitian. Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, sebelum dilakukan produksi sangat penting menghitung besaran sumberdaya disuatu daerah rencana produksi agar layak atau tidaknya produksi kedepanya dapat tergambarkan. Maka variabel penelitian ini meliputi tentang andesit, sumberdaya, suberdaya terunjuk dan
proses perhitungan sumberdaya terunjuk batuandesit dengan menggunakan metode cross section dan metode kontur di Blok I PT. Atos Nusantara Mining, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
3.4 Jenis Data dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data
a. Data primer
1. Koordinat Singkapan 2. Ketebalan OB
b. Data sekunder 1. Peta SRTM 3.4.2 Sumber Data
Adapun sumber data didapat dan diambil dari lapangan dengan melakukan kegiatan mapping atau kunjungan lapangan dan data lainya dari arsip-arsip perusahaan dan mencatat semua hal-hal yang dapat mendukung penelitian yaitu pada PT. Atoz Nusantara Minng.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulkan data primer dengan melakukan kegiatan Mapping atau kunjungan lapangan. Pada saat menemukan singkapan andesit dilapangan saat itu langsung dilakukan penandaian titik pada GPS serta mencatatan koordinat.
Hingga pada akhir kunjungan lapangan didapatkan sebanyak 18 titik koordinat singkapan andesit. Selanjutnya 18 data koordinat (lampiran A) di-Input ke software mapsource, di software mapsource 18 titik-titik koordinat dihubungkan dari paling atas dengan titik-titik koordinat paling kanan, kiri dan bawah di
software mapsource, sehingga akan membentuk persegi. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam perhitungan. Selanjutnya saveAs dengan type GesExchange agar bisa dibaca di software global mapper. Buka file tersebut di software global mapper dan olah dengan menambahkan data SRTM hingga kontur terbentuk. Selanjutnya ekspor ke file bertype DXF agar dapat dibaca di software Auto Land Desktop 2004. Buka file tadi di software Auto Land Desktop 2004 untuk dibuat cross section dengan jarak antar penampang 20 m. Hal ini dilakukan karena penampang dengan mudah dapat diatur dan dihitungan lebih akurat. Selanjutnya saveAs dalam type DWG dan open di software global mapper. Di software global mapper barulah cross section dibuat dan selanjutnya mengubah semua cross section menjadi grafik agar mudah dilakukan perhitungan.
3.6 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang digunakan peneliti mengacu kepada perhitungan sumberdaya terunjuk dengan menggunakan metode cross section dan metode kontur.
Jika daerah penelitian merupakan daerah yang ditutupi oleh tanah penutup maka perlu dilakukan perhitungan tanah penutup terlebih dahulu. Dalam perhitunganya volume tanah penutup dihitung dengan rumus seperti persamaan 2.5.
1. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit dengan metode cross section dengan sofware global mapper
a. Perhitungan luas masing-masing sayatan dengan rumus blok
b. Melakukan perhitungan volume sayatan dengan rumus persamaan 2.1
c. Menjumlahkan volume dari semua sayatan dan mengurangi dengan volume tanah penutup dengan rumus pada persaamaan 2.6
d. Melakukan perhitungan tonase batuandesit dengan persamaan rumus 2.2
2. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit dengan metode kontur dengan software global mapper
a. File bertype DWG tadi diopen pada software global mapper
b. Dengan menu create new area feature perhitungan luas setiap kontur dilakukan
c. Pada bawah tampilan software global mapper terdapat kalimat enclose area dengan satuanya sq. km yang merupakan luasan kontur dalam satuan km².
d. Lakukan hal yang sama pada setiap kontur dimulai dari batas elevasi bawah.
e. Menjumlahkan volume dari semua kontur dan mengurangi dengan volume tanah penutup dengan rumus pada persaamaan 2.6.
f. Melakukan perhitungan tonase batuandesit dengan persamaan rumus 2.7
3.7 Analisa Data
Setelah melalui tahap dalam pengumpulan data dan pengolahan data maka dilakukan perhitungan kembali dari pengolahan data yang didapat. Tujuanya
meminimalisir serta memperbaiki kesalahan dalam pengolahan data sehingga hasil perhitungan dapat dipercaya.
3.8 Kerangka Metodologi
Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian seperti bagan penelitian di bawah ini.
Pengumpulan Data : Identifikasi masalah
1. Belum adanya eksplorasi umum terhadap sumberdaya andesit di PT. Atoz Nusantara Mining.
2. Belum diketahui jumlah sumberdaya andesit di PT. Atoz Nusantara Mining.
Analisis sumberdaya terunjuk andesit dengan metode cross section dan metode kontur di blok I PT. Atoz Nusantara Mining
Di Nagari Tambang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
Data primer
1. Koordinat Singkapan 2. Ketebalan OB
Data sekunder 1. Peta SRTM
Tujuan Penelitian
1. Untuk menghitung besaran sumberdaya terunjuk andesit yang ada pada area penelitian dengan menggunakan metoda cross section.
2. Untuk menghitung besaran sumberdaya terunjuk andesit yang ada pada area penelitian dengan menggunakan metoda kontur.
A
Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian Pengolahan Data
1. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit dengan metode crosssection dengan bantuan software global mapper
2. Perhitungan sumberdaya terunjuk andesit dengan metode kontur dengan bantuan software global mapper
Sumberdaya Terunjuk
A
29 BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data
Dari hasil kegiatan penghimpunan data, maka data-data yang didapatkan berupa:
4.1.1 Data Primer
Data primer pada penelitian ini meliputi:
Data primer pada penelitian ini meliputi: