BAB I PENDAHULUAN
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari implementasi model pembelajaran kooperatif dengan metode Student Facilitator and Explaining di kelas IV SD Islam Ruhama dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.
F. Kegunanaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dalam rangka pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan berikutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang pengaruh model Student Facilitator and Explaining (SFE) terhadap kemampuan representasi matematis siswa.
2. SD Islam Ruhama
Setelah mengetahui pengaruh model Student Facilitator and Explaining (SFE) terhadap kemampuan representasi matematis siswa kelas IV, maka diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa kelas IV di SD Islam Ruhama.
3. Guru
Sebagai masukan dalam mengelola strategi belajar mengajar mata pelajaran matematika. Dengan mengetahui pola belajar siswa, diharapakn guru akan semakin meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.
4. Siswa
Bagi siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran matematika.
5. Masyarakat
Dapat menambah wawasan tentang pentingnya penggunaan model pembelajaran dalam membantu belajar siswa.
8
BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN
A. Kajian Teoritik Representasi Matematis dan Model Pembelajaran Kooperatif
1.
Kemampuan Representasi Matematis
a. Definisi Representasi
Kemampuan representasi merupakan salah satu standar yang patut dimiliki oleh siswa dalam mempelajari matematika. Salah satu cara agar mengetahui seberapa jauh pemahaman yang telah dicapai oleh siswa adalah adanya representasi yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Dengan adanya kemampuan representasi siswa dapat mengkomunikasikan gagasan atau jawaban suatu permasalahan matematis. Sehingga melalui representasi tersebut, guru dapat mengetahui batas kemampuan masing-masing siswa. Menurut Janvier, pada dasarnya representasi adalah salah satu konsep psikologi yang digunakan dalam pendidikan matematika untuk menjelaskan beberapa fenomena penting tentang cara berpikir siswa.
Definisi tentang representasi bisa jadi berbeda-beda pada setiap konteks atau bidang. Hwang menyatakan bahwa representasi dalam dunia psikologi merupakan suatu proses memodelkan benda-benda konkret yang ada di dunia nyata menjadi konsep-konsep abstrak atau simbol-simbol.
Sedangkan dalam ilmu psikologi matematika representasi adalah deskripsi atau gambaran dari hubungan antara objek dan simbol.11
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata representasi memiliki arti; 1.perbuatan mewakili; 2.keadaan diwakili; 3.apa yang mewakili; perwakilan. Sehingga dari ketiga makna tersebut dapat
11 Wu Yuin Hwang, Multiple Representation Skill and Creativity Effects on Mathematical Problem Solving Using a Multimedia Whiteboard System, Educational Technologi & Society, 10:2,2007, h. 193.
9
disimpulkan bahwa representasi adalah kata benda yang mengandung arti mewakili sesuatu.
Sedangkan para ahli mengartikan istilah representasi dengan makna yang berbeda-beda. Diantararnya menurut Hutagol, representasi adalah bentuk gambaran mental yang ada dalam diri seseorang dari proses belajar. Proses belajar terjadi saat berpikir dengan informasi yang ada.
Kemudian Informasi yang diperoleh akan diolah dalam pikiran, sehingga menghasilkan suatu pengertian yang merupakan bentuk dari representasi internal, dan akan tercermin dalam wujud berupa kata-kata, gambar, grafik, tabel, model, matematika, simbol, dan lain-lain sebagai bentuk representasi eksternal.12
Menurut Goldin representasi adalah suatu konfigurasi yang bisa merepresentasikan sesuatu yang lain dalam beberapa cara. Contohnya adalah suatu kata bisa merepresentasikan objek dalam kehidupan nyata, sebuah angka dapat merepresentasikan ukuran berat badan seseorang, atau angka yang sama dapat merepresentasikan posisi pada garis bilangan.13
Adapun menurut Sabirin, representasi merupakan bentuk interpretasi pemikiran terhadap suatu persoalan yang dihadapi siswa.
Representasi dimanfaatkan sebagai alat bantu mencari jalan keluar dari persoalan tersebut baik dengan menggunakan cara kata-kata, tulisan, gambar, tabel, grafik, benda konkrit, simbol matematika dan sebagainya.14
Dari beberapa pengertian representasi menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa representasi merupakan salah satu konsep psikologi yang digunakan dalam pendidikan matematika untuk menjelaskan dan menggambarkan informasi dan masalah penting terkait
12 Kartini Hutagol, Multi Representasi dalam Pembelajaran Matematika, Prosiding Konferensi Nasional Pendidikan Matematika v, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, 2013, h. 132.
13 F.S. Syafri, Kemampuan Representasi Matematis dan Kemampuan Pembuktian Matematika, Jurnal Edumath: ISSN Online: 2356-2056.
14 Muhammad Sabirin, Representasi dalam Pembelajaran Matematika, Jurnal JMP IAIN Antasari, Vol. 1, 2014, h. 33.
angka, tabel, grafik, dan simbol-simbol matematika lainnya sesuai dengan cara berpikir siswa serta dalam bentuk yang baru.
Adapun menurut Jones, terdapat beberapa alasan mengapa siswa perlu memiliki kemampuan representasi, yaitu agar memberi kelancaran dalam membangun suatu konsep dan berpikir matematis serta dapat memiliki kemampuan konsep yang kuat dan fleksibel yang dibangun oleh guru melalui representasi matematis.15
Menurut Rangkuti, representasi matematis merupakan salah satu ragam bentuk upaya yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan penyelesaian dari permasalahan yang mereka hadapi kemudian ditampilkan kembali dengan berupa penggambaran, penerjemahan, pengungkapan, pelambangan atau pemodelan dari suatu ide, gagasan, konsep matematik, dan ikatan yang di antaranya menjadi bagian suatu konstruksi, atau keadaan permasalahan yang telah ditentukan.16
b. Macam-Macam Kemampuan Representasi
Menurut Villegas, Casto, dan Guiterrez dalam jurnal pendidikan matematikanya menyebutkan bahwa representasi matematis eksternal dibagi ke dalam tiga bentuk, yaitu:
a. Representasi verbal, yaitu representasi dalam bentuk teks tulisan atau ucapan;
b. Representasi pictorial, yaitu representasi berupa gambar, diagram, grafik, dan lainnya;
c. Dan representasi simbolik, yaitu representasi dalam bentuk angka, operasi matematika, simbol aljabar, relasi, dan lainnya.17
15 Ahmad Nizar Rangkuti, Representasi Matematis, Forum Pedagogik, Vol. VI. IAIN Padangsidimpuan, 2014, h. 112.
16Ibid.
17 Jose L Vilegas, et al, Representation in Problem Solving: A Case Study in Optimization Problem, Electronic Journal of Research in Educational Psychology, no. 17, Vol. 7 (1), 2009, p.
287.
11
Gambar 2.1
Tipe Sistem Representasi Villegas
Dari gambar di atas dapat dilhat bahwa ketiga tipe representasi tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Adapun Lesh, Cramer, Doerr, Post, dan Zawosjewki membagi representasi menjadi lima bentuk, yaitu representasi situasi dunia nyata (real-life contexts), representasi model manipulasi (manipulative models), representasi gambar (pictures), representasi simbol tertulis (writtwn symbols), dan representasi bahasa (oral language).18 Gambaran dari pembagian bentuk representasi ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
18 John Van De Walle, dkk., Elementary and Middle School Mathematics: Teaching Developmentally, (New Jersey: Pearson Education, 2013), Cet. 8, h. 4.
Verbal
Pictorial Simbolic
Gambar 2.2
Tipe Sistem Representasi Lesh
Pada gambar di atas, menurut Cramer teori representasi Lesh adalah perluasan dari teori representasi Bruner. Lesh menambahkan dua representasi lainnya yaitu representasi situasi dunia nyata dan representasi bahasa lisan.19
Lebih jelasnya, NCTM menuturkan bahwa; 1) proses representasi melibatkan penterjemahan masalah atau ide ke dalam bentuk baru; 2) proses representasi termasuk pengubahan diagram atau model fisik ke dalam simbol-simbol atau kata-kata; dan 3) proses representasi dapat digunakan dalam penterjemahan atau penganalisisan masalah verbal untuk membuat maknanya menjadi jelas. Jelasnya standar indikator kemampuan representasi matematis menurut NCTM, diantaranya:
1) Membuat dan menggunakan representasi untuk mengorganisasikan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide matematika
19 Khatleen Cramer, Using a Translation Model for Curriculum Development and Classroom Instruction dalam Richard Lesh dan Helen M. Doerr (ed), Beyond Constructivism:
Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving, Learning, and Teaching, (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2003), h. 450.
Pictures
Manipulati ve Models
Written Symbols
Real-World Situations
Oral Language
13
2) Memilih, mengaplikasikan, dan menterjemahkan representasi matematika untuk menyelesaikan masalah
3) Menggunakan representasi untuk memodelkan atau menginterpretasikan fenomena fisika, sosial, dan matematika.20 Adapun bentuk-bentuk indikator dari aspek representasi menurut Villegas yang dibagi menjadi tiga yaitu verbal, pictorial, dan simbolik, adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Indikator Kemampuan Representasi Matematik Menurut Villegas
No Aspek Representasi Indikator
1
Representasi Verbal, yaitu menyajikan kembali suatu masalah dalam bentuk kata-kata yang dinyatakan secara lisan atau teks tulisan
1. Menyajikan masalah yang diberikan dengan menggunakan bahasa sendiri
2. Menjelaskan langkah yang digunakan dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan kata-kata
3. Menyelesaikan masalah menggunakan kata-kata
2
Representasi Pictorial, yaitu menyajikan kembali dalam bentuk diagram atau grafik dari masalah yang diberikan
Menyajikan kembali suatu persoalan yang diberikan ke dalam bentuk grafik, gambar, atau diagram
3 Representasi Simbolik, yaitu menyajikan bentuk model
1. Menyajikan kembali suatu persoalan ke dalam
20 NCTM, op.cit., h. 67.
matematis dari suatu persoalan. bentuk model matematika seperti operasi aljabar 2. Menyelesaikan masalah
berdasarkan model matematika yang sudah dibuat.
Sedangkan menurut Goldin dan Shteingold, terdapat dua bentuk representasi, yaitu representasi eksternal dan internal. Representasi eksternal adalah hasil pemikiran tentang ide matematis yang kemudian dikomunikasikan dalam bentuk gambar, konkret, bahasa lain, serta simbol tulisan, representasi ini dikembangkan dari bentuk konvensional sistem simbolik matematis menuju lingkup pembelajaran seperti bentuk manipulasi konkret. Sedangkan representasi internal yaitu berpikir mengenai ide matematis yang dimiliki oleh seseorang sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan berdasarkan ide tersebut yang tidak dapat diamati secara langsung.21
Selain para ahli yang membagi macam-macam representasi, NCTM juga telah menetapkan bahwa standar proses kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sejak pra taman kanak-kanak sampai kelas 12 dalam program pembelajaran matematika, yaitu:
1) Mengorganisasikan, membuat catatan, dan mengkomunikasikan ide-ide matematika dengan menciptakan suatu bentuk representasi dan menggunakan representasi.
2) Memecahkan suatu permasalahan dengan cara memilih, menerapkan, dan menterjemahkan bentuk representasi matematis.
21 Gerald Goldin and Nina Shteingold, In C Richadr Feynman, The Roles of Representation in School Mathematics, (National Council of Teachers of Mathematics, 2000), p. 2.
15
3) Memodelkan dan menginterpretasikan suatu fenomena yang ada baik dalam bentuk fisik, sosial, atau matematika dengan menggunakan berbagai bentuk representasi.22
Menurut Kartini, terdapat tingkat kemampuan representasi dimana tingkat kemampuan memecahkan masalahnya lebih tinggi, yaitu representasi bahasa atua verbal, representasi gambar atau grafik, dan refresentasi sombol aritmatika.23 Senada dengan pendapat menurut Kartini, Mudzakkir pada tahun 2006 telah mengelompokkan representasi matematis ke dalam tiga aspek, yaitu representasi visual (diagram, tabel, atau grafik, dan gambar), representasi persamaan atau ekspresi matematis, dan representasi kata-kata atau teks tertulis. Berikut adalah indikator kemampuan representasi matematis menurut Mudzakkir:24
Tabel 2.2
Indikator Kemampuan Representasi Matematik Menurut Mudzakkir
No Representasi Bentuk-Bentuk Operasional
(Indikator)
1
Representasi Visual:
a. Diagram, grafik, dan tabel
Menyajikan kembali data atau informasi dari suatu
Membuat gambar untuk
22 NCTM, Principles and Standars for School Mathematics, (Reston: NCTM, 2000), h. 7.
23 Kartini, “Peranan Representasi dalam Pembelajaran Matematika”, Prosiding Seminar Nasional Matematika dan pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2009, h. 366.
24 H. S. Mudzakkir, “Strategi Pembelajaran Think-Talk-Write untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematik Beragam Siswa SMP”, Tesis, Bandung: UPI Bandung.
memperjelas masalah dan memfasilitasi penyelesaiannya
2 Persamaan atau ekspresi matematik
Membuat persamaan atau model matematika dari
representasi lain yang diberikan
Membuat konjektur dari suatu pola bilangan
Penyelesaian masalah dengan melibatkan ekspresi matematika
3 Kata-kata atau teks tertulis
Membuat situasi masalah berdasarkan data atau representasi yang diberikan
Menuliskan interpretasi dari suatu representasi
Menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah
matematika dengan kata-kata
Menyusun cerita yang sesuai dengan representasi yang disajikan
Menjawab soal dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis
Adapun peneliti sependapat dengan aspek dan indikator kemampuan representasi matematis yang telah dijabarkan oleh Mudzakkir.
Hal tersebut dikarenakan pendapat yang dipaparkannya sesuai dengan pendapat ahli yang lain, bahkan sudah diperjelas melalui indikator-indikator yang dijelaskannya. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator-indikator yang telah dijelaskan oleh Mudzakkir.
Penelitian ini, akan dilakukan pada materi pembulatan. Oleh karena itu,
17
indikator-indikator kemampuan representasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Representasi visual yang meliputi:
a) Menyajikan kembali data informasi dari suatu soal pembulatan ke dalam representasi lain seperti tabel yang sesuai dengan ide atau gagasannya sendiri.
b) Menggambarkan penyelesaian masalah dari soal pembulatan.
2) Representasi persamaan atau ekspresi matematis yang meliputi:
a) Membuat bentuk soal pembulatan dari suatu permasalahan matematis.
b) Memecahkan masalah matematis pada soal pembulatan dalam bentuk cerita.
3) Representasi kata-kata atau teks yang meliputi:
a) Membuat penyelesaian dari masalah pembulatan dengan kata-kata dari ide atau gagasan masing-masing siswa.
Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika, maka siswa harus dapat menguasai konsep-konsep matematikanya terlebih dahulu ke dalam berbagai cara atau yang biasa disebut dengan merepresentasikan. Karena kemampuan representasi merupakan salah satu kemampuan yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran matematika.
Kemampuan matematis yang terdapat dalam tujuan pembelajaran matematika sendiri yaitu kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, koneksi, penalaran, dan representasi. Oleh karenanya, dalam penelitian ini penulis mencoba mengembangkan aspek kemampuan representasi sesuai dengan indikator yang telah dibuat.
2.
Model Pembelajaran Kooperatif a.
Pengertian Model Pembelajaran KooperatifPada kenyataannya, manusia tidak dapat terlepas dari sebuah aktivitas yang disebut belajar, bahkan manusia dituntut untuk belajar dari lahir sampai akhir hayatnya. Manusia selalu melakukan kegiatan belajar baik disadari ataupun tidak. Dalam belajarpun, manusia tidak menuntut kemungkinkan bahwa ia akan belajar bersama orang-orang di sekitarnya.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Oleh karenanya, berhasil atau tidaknya suatu pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa.25 Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap.26 Menurut Gage belajar adalah suatu proses dimana organisma berubah perilakunya diakibatkan pengalaman. Sedangkan menurut Harold Spear, belajar terdiri dari pengalaman, pendengaran, membaca, dan meniru.27
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa belajar adalah suatu proses yang menjadikan pelakunya mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan perubahan tingkah laku akibat pengalaman yang dilaluinya melalui pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru.
Sedangkan model pembelajaran menurut Arends adalah “The terms teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management system.”
Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran,
25 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h.
87.
26 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), cet. Ke-2, h. 97.
27 Ibid., h. 99.
19
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.28 Adapun menurut Joyce, model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola yang digunakan dalam merencanakan pembelajaran guna membantu siswa mencapai tujuan belajar.29
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang digunakan guru dalam menciptakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang efektif sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena pentingnya model pembelajaran, maka keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih atau mengembangkan model-model pembelajaran yang sesuai.
Dalam kegiatan belajar tentunya akan terjadi sebuah interaksi antar individu yang memungkinkan bagi setiap individu tersebut dapat memperoleh ilmu pengetahuan baru atau pengalaman baru. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Jerome Brunner bahwa “belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya”.30 Oleh karenanya dalam pembelajaran terdapat suatu model pembelajaran yang disebut model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif berasal dari bahasa Inggris Cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau tim.31
Sedangkan menurut para ahli diantaranya menurut Slavin pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang merujuk terhadap beberapa macam metode pengajaran dimana siswa belajar dalam
28 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), cet. 1, h. 54
29 Ibid.
30 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, (Jakarta: Kencana, 2009), cet ke-1, h. 15.
31 Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 15.
kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi yang diajarkan.32
Adapun Wena mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar lainnya.33 Kemudian Trianto mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memerlukan kerjasama antar siswa dan saling ketergantungan dalam struktur pencapaian tugas, tujuan, dan penghargaan.34
Pendapat lain menurut Johnson & Johnson tentang pembelajaran kooperatif mengemukakan bahwa cooperative learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.35
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat diketahui bahwa prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama.36 Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang menuntut siswa untuk saling bekerjasama satu sama lain dalam memahami materi pelajaran dimana mereka bisa belajar dari teman-teman sebagai sumber belajar, selain guru maupun sumber belajar yang lainnya.
32 Robert E. Slavin, Cooperative Learning-Teori, Riset, dan Praktik, (Bandung: Nusa Media, 2005), h. 4.
33 Made Wena, strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 189.
34 Trianto,op.cit., h. 66.
35 Isjoni, op.cit., h. 17.
36 Made Wena, op.cit., h. 189.
21
Slavin, Abrani, dan Chambers berpendapat bahwa adanya pembelajaran kooperatif dapat menjelaskan beberapa teori atau perspektif, yaitu:
1) Perspektif motivasi, artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
2) Perspektif sosial, artinya bahwa melalui pembelajaran kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.
3) Perspektif kognitif, yang artinya bahwa dengan adanya pembelajaran kooperatif maka akan terjadi sebuah interaksi antar anggota kelompok yang dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.
4) Perspektif elaborasi kognitif, artinya adalah setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.37
b. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak hanya sekedar belajar kelompok saja, namun pembelajaran kooperatif merupakan sebuah metode pembelajaran yang memiliki sistem terstruktur. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Lundgren bahwa agar pembelajaran kooperatif berjalan efektif, maka perlunya memiliki unsur-unsur dasar yang harus ditanamkan pada setiap siswa yaitu:
1) Para siswa harus memiliki persepsi bahawa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
37 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet. II, h. 242.
2) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lainnya dalam kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang diajarkan.
3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya mereka memiliki tujuan yang sama
4) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok
5) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok
6) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar
7) Para siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.38 Pada umumnya, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) setiap anggota memiliki peran;
2) terjadi hubungan interaksi langsung antar siswa;
3) setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas belajarnya sendiri dan atas teman-teman kelompoknya;
4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok;
5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.39 Pada dasarnya pembelajaran kooperatif tidak jauh beda dengan kerja kelompok yang sudah biasa diterapkan di sekolah-sekolah.
walaupun terlihat sama dengan kerja kelompok, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Banet
38 Isjoni, op.cit.., h. 13-14.
39 Isjoni, op.cit.., h. 20.
23
mengungkapkan bahwa terdapat lima unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu:
“1) Positive Independence, yaitu hubungan timbal balik yang disadari adanya kepentingan yang sama, atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula dan sebaliknya; 2) Interaction Face to Face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara. Setiap anggota berhadapan langsung sehingga adanya hubungan timbal balik yang bersifat politik; 3) adanya tanggungjawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok; 4) membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif; 5) meningkatkan keterampilan bekerjasama dalam memecahkan masalah (proses kelompok)”.40
Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran melalui kooperatif setiap siswa harus saling menjalin komunikasi dan saling menjaga kekompakan dengan baik antar sesama anggota. Selain itu, dalam prosesnya setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengemukakan ide atau gagasan pikirannya untuk dibagi kepada anggota kelompoknya yang lain.
c. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Adapun langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan belajar dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar
1) Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan belajar dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar