• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

1 PENDAHULUAN . Latar Belakang

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :

1. Menganalisis sebaran status potensi komunitas karang.

2. Penzonasian peruntukan kawasan wisata bahari snorkeling dan diving.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian Analisis Status Terumbu Karang Untuk Pengembangan Wisata bahari di Desa Teluk Buton adalah :

1. Terciptanya potensi ekologi terumbu karang untuk dijadikan objek wisata bahari.

2. Tersedianya data dan informasi yang dapat dipergunakan sebagai basis perencanaan pengembangan wisata bahari.

3. Terwujudnya zonasi peruntukan kawasan wisata bahari snorkeling dan diving. 4. Terwujudnya arah pengembangan wisata bahari snorkeling dan diving.

4

1.5 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini adalah karena letak Desa Teluk Buton di tepi pantai mempunyai daya daya tarik untuk di nikmati keindahan alamnya, di samping itu juga Desa Teluk Buton terdapat pulau-pulau kecil di kelilingi oleh terumbu karang. Hal ini menjadi dasar utama bahwa potensi terumbu karang di Desa Teluk Buton sangat akan sangat menarik untuk di jadikan kawasan wisata bahari (snorkeling dan diving), dengan demikian melalui pendekatan ekologi dan sosial-ekonomi ini dijadikan dasar dalam menentukan kegiatan wisata bahari (snorkeling dan diving). Kerangka pemikiran dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Gambar 1 Diagram alur kerangka pemikiran analisis Status Terumbu Karang untuk Pengembangan Wisata Bahari di Desa Teluk Buton Kabupaten Natuna

DESA TELUK BUTON

POTENSI SUMBERDAYA ALAM

WISATA BAHARI MASALAH

1. Potensi terumbu karang

belum terkelola secara maksimal.

2. Terumbu karang belum

dijadikan sebagai objek wisata bahari.

Analisis Komunitas Karang

Penzonasian Peruntukan Kawasan Wisata Bahari Pendekatan Ekologi

Pendekatan Ruang

Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Wisata Bahari

Pendekatan Masyarakat

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi dan Batasan Pulau Kecil

Meskipun belum ada kesepakatan tentang definisi pulau kecil baik di tingkat nasional maupun dunia, namun terdapat kesepakatan umum bahwa yang dimaksud dengan pulau kecil di sini adalah yang berukuran kecil yang secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland), memiliki batas yang pasti, dan terisolasi dari habitat lain (Yusuf 2007 diacu dalam Chandra 2003).

Pulau kecil merupakan habitat yang terisolasi dengan habitat lain, keterisolasian suatu pulau kan menambah keanekaragaman organisme yang hidup di pulau tersebut. Selain itu, pulau kecil juga mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies endemik yang tinggi bila dibandingkan dengan pulau kontinen, dan pulau kecil juga mempunyai tangkapan air (catchment) yang realatif kecil sehingga kebanyakan air dan sedimentasi hilang ke dalam air.

2.2 Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan terumbu untuk menahan nutrien dalam sistem dan berperan sebagai kolam yang menampung segala masukan dari luar (Nybakken 1997). Perairan ekosistem terumbu karang juga kaya akan keragaman spesies penghuninya. Salah satu penyebab tingginya keragaman spesies adalah karena variasi habitat yang terdapat di terumbu, dan ikan merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak yang dapat ditemui (Dahuri et al. 1996).

Lebih lanjut di katakan, selain mempunyai pungsi ekologis yakni sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat bermain dan asuhan bagi berbagai biota; terumbu karang juga menghasilkan beberapa produk yang mempunyai nilai ekonomi yang penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, dan kerang mutiara.

Terdapat tiga jenis tipe struktur terumbu karang di Indonesia, yaitu karang tepi (fringing reef), karang penghalang (Barrier reef) dan karang cincin atau atol

6 dengan ombak yang cukup dan kedalaman tidak lebih 40m sehingga berperan penting sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang dan arus kuat yang berasal dari laut.

Selain itu terumbu karang mempunyai peran utama sebagai habitat, tempat mencari makanan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground) serta tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang (Bengen 2001). Meskipun terumbu karang ditemukan di seluruh perairan dunia, tetapi hanya di daerah tropis terumbu karang dapat berkembang dengan baik. Faktor lain yang membatasi perkembangan terumbu karang adalah salinitas. Karang hermatipik adalah organisme lautan sejati yang tidak dapat bertahan pada salinitas yang jelas menyimpang dari salinitas air laut yang normal (32‰-35‰).

2.3 Kepariwisataan

Belakangan ini kita dihadapkan pada suatu tantangan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, yaitu masalah industri pariwisata yang pertumbuhannya menunjukkan grafik yang selalu meningkat. Dengan adanya kecenderungan yang demikian perlu dipikirkan kebijaksanaan yang perlu diambil agar industri pariwisata yang selalu dikatakan sebagai katalisator dalam pembangunan, dapat mendukung perekonomian negara tanpa menimbulkan pengaruh negatif. Selain itu dikatakan pula bahwa pariwisata sebagai suatu industri tidak hanya sebagai sumber devisa bagi negara, tetapi juga sebagai faktor yang menentukan lokasi industri dan sangat membantu perkembangan daerah-daerah yang miskin dalam sumber-sumber alam (Oka 1997 diacu dalam Hidayati

at al. 2007).

Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam hal mencari tempat-tempat untuk bersenang-senang, ada kecenderungan pada negara-negara sedang berkembang untuk menjadikan cahaya matahari (sunshine) dan laut (sea or ocean) sebagai daya tarik untuk berkunjung ke daerah tersebut. Dengan cara demikian pembangunan kepariwisataan menjadi suatu yang mudah untuk pembangunan ekonomi, yaitu dengan hanya mengeksploitasi keindahan alam untuk mengatasi kesukaran dalam defisit neraca pembayaran yang dialaminya. Alasan utama

7 pengembangan pariwisata pada suatau daerah tujuan wisata, baik secara lokal, regional atau ruang lingkup nasional pada suatu negara erat kaitannya dengan pembangunan perekonomian daerah atau negara tersebut. Dengan perkataan lain, pengembangan kepariwisataan pada suatu daerah tujuan wisata selalu akan diperhitungkan dengan keuntungan dan manfaat bagi rakyat banyak. Dikatakan juga bahwa dengan adanya kegiatan kepariwisataan akan timbul hasrat dan keinginan untuk memelihara semua aset wisata. Industri pariwisata dikatakan sebagai industri tanpa cerobong asap yang bebas dari polusi dan pencemaran lainnya, walaupun kegiatan kepariwisataan banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, transportasi dan komunikasi, tetapi tempat-tempat yang menjadi pemusatan wisatawan itu selalu menghendaki suasana nyaman, bersih dan aman dan memiliki linkungan yang terpelihara sehingga tercipta suasana harmonis dan menyenangkan bagi semua pengunjung.

2.4 Ekowisata

Western (1995) menjelaskan bahwa akar dari ekoturisme terletak pada wisata alam dan wisata ruang terbuka. Masyarakat ekoturisme memberikan suatu defenisi yang sedikit lebih penuh yaitu ekoturisme adalah perjalanan bertanggung jawab kewilayah-wilayah alami, yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Selain itu pengertian ekoturisme adalah hal tentang menciptakan dan memuaskan suatu keinginan akan alam, tentang mengeksploitasi potensi wisata untuk konservasi dan pembangunan dan tentang mencegah dampak negatif terhadap ekologi, kebudayaan dan keindahan.

Ekoturisme sebagai suatu bagian logis dari pembangunan yang berkelanjutan, memerlukan pendekatan berbagai disiplin, perencanaan yang hati-hati (baik secara fisik maupun pengelolaan) dan pedoman-pedoman serta peraturan tegas yang dapat menjamin pelaksanaan yang berkelanjutan, hanya melalui keterlibatan lintas sektoral ekoturisme akan dapat benar-benar mencapai tujuannya, yaitu pemerintah dan pegusaha swasta, masyarakat lokal dan LSM, semuanya memiliki peranan penting (Lascurain 1995 diacu dalam Bruce at al. 2002 ).

8 Caballos at al. 1995 mengatakan bahwa ekowisata telah menarik perhatian yang besar karena kemampuanya menghasilkan keuntungan-keuntungan ekonomi baik bagi konservasi maupun terhadap pembangunan daerah pedesaan. Di banyak daerah, ekowisata telah memberikan kontribusi penting dalam kedua bidang tersebut. Meskipun demikian, hal ini juga menunjukan bahwa masih banyak yang harus dilakukan.

David at al. 1995 berpendapat kriteria umum berikut ini sebagai suatu pedoman bagi standar yang lebih rinci dalam hubungannya dengan isu-isu setempat yang spesifik dan ciri-ciri ekologis dari suatu kawasan tertentu, yaitu :

• Letakkan bangunan-bangunan dan struktur-struktur pada tempat yang tidak memerlukan penebangan pohon-pohon penting dan menekan serendah mungkin gangguan terhadap objek-objek alam lainnya.

• Sistem jalan setapak seharusnya memperhatikan pola perjalanan dan habitat hidup liar.

• Garis-garis pantai dan pinggiran laut lainnya seharusnya tidak dibersihkan secara intensif dari vegetasi.

• Persilangan antara jalan setapak dengan sungai-sungai dan aliran air diusahakan seminim mungkin.

• Pelihara daerah bervegetasi di sekitar danau-danau, kolam-kolam, sungai-sungai dengan aliran periodik sebagai jalur penyaringan untuk menekan serendah mungkin aliran permukaan dari sedimen-sedimen dan limbah.

Selain itu David at al. 1995 menyimpulkan bahwa jika lingkungan dapat dipandang sebagai sumber pustaka yang tidak terbatas, maka sarana ekowisata dapat dianggap sebagai suatu tatanan laboratorium yang khas bagi para ekowisatawan untuk memperoleh pengetahuan. Sarana ekowisata yang dirancang dengan benar akan menjadi jendela bagi kesadaran umat manusia dunia.

2.5 Ekowisata Sebagai Pariwisata Berkelanjutan

Berbicara mengenai pariwisata terutama selalu identik dengan adanya hotel-hotel berbintang di pesisir pantai yang memiliki fasilitas serba lengkap, yang dapat memanjakan pengunjungnya ketika sedang berwisata serta jumlah wisatawan yang banyak. Artinya yang berkembang selama ini adalah pariwisata

9 dengan label industri yang memanfaatkan keberadaaan sumberdaya alam untuk mendapat keuntungan sebesar – besarnya. Dampak yang muncul dari pariwisata berbasis industri tersebut adalah terjadi perubahan bentang alam, serta tekanan terhadap keberadaan ekosistem setempat.

Mencermati berbagai dampak negatif terhadap lingkungan tersebut, sebagai konsekuensinya dewasa ini telah dibangun konsep pariwisata yang lembut (soft tourism) sebagai perlawanan terhadap pariwisata masal (mass tourism). Istilah yang lain seperti suara lingkungan, perjalanan yang bertanggung jawab dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism) termasuk didalamnya. Pariwisata berkelanjutan merupakan jenis pariwisata yang menyenangkan orang dan alam dalam suatu arah yang bertanggung jawab (Fennel 1999).

Menurut Moscardo dan Kim (1990) diacu dalam Yudasmara (2004), pariwisata yang berkelanjutan harus memperhatikan: (1) peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, (2) menjamin keadilan antar generasi dan intragenerasi, (3) melindungi keanekaragaman biologi dan mempertahankan sistem ekologi yang ada serta (4) menjamin integritas budaya.

Pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan memiliki kesamaan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), sehingga pariwisata yang berkelanjutan harus memenuhi kriteria – kriteria sebagai berikut ini (Hidayati et al. 2003):

(1) Secara ekologis berkelanjutan, yaitu pembangunan pariwisata tidak menimbulkan efek negatif bagi ekosistem setempat. Konservasi pada daerah wisata harus diupayakan secara maksimal untuk melindungi sumberdaya alam dan lingkungan dari efek negatif kegiatan wisata.

(2) Secara sosial dan kebudayan dapat diterima, yaitu mengacu pada kemampuan penduduk lokal menyerap usaha pariwisata tanpa menimbulkan konflik sosial dan masyarakat lokal mampu beradaptasi dengan budaya turis yang berbeda sehingga tidak merubah budaya masyarakat lokal.

(3) Secara ekonomis menguntungkan, yaitu keuntungan yang diperoleh dari kegiatan wisata yang ada dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat setempat.

10 Saat ini ekowisata merupakan istilah yang telah dipergunakan secara internasional untuk mempertegas konsep pariwisata yang berkelanjutan. Perlu diingat bahwa ekowisata merupakan suatu konsep wisata yang menjunjung tinggi keaslian alam dan berorientasi ekologi. Ekowisata merupakan bagian integral dari pariwisata berkelanjutan artinya bahwa ekowisata tidak menggambarkan bagian lain dalam pasar wisata komersial sebagaimana yang dilakukan oleh industry pariwisata, tetapi menggambarkan suatu filosofi perjalanan yang meliputi kriteria pariwisata berkelanjutan dengan mempromosikan/memajukan perjalanan secara harmonis dan bertanggung jawab khususnya di alam.

Ekowisata pertama kali diperkenalkan oleh The International Ecotourism Society / TIES (1991) mendefenisikan ekowisata sebagai perjalanan bertanggungjawab ke daerah-daerah yang masih alami yang dapat mengkonservasi lingkungan dan memelihara kesejahteraan masyarakat setempat.

Fennel (1999) mendefenisikan ekowisata sebagai wisata berbasis alam yang berkelanjutan dengan fokus pengalaman dan pendidikan tentang alam, dikelola dengan sistem tertentu dan memberikan dampak negatif paling rendah pada lingkungan, tidak bersifat konsumtif serta berorientasi lokal (dalam hal kontrol, manfaat/keuntungan yang didapat dan skala usaha), berada dilokasi wisata alam dan berkontribusi pada konservasi dan preservasi lokasi tersebut.

Menurut Bruce et al. (2002) ekowisata merupakan wisata yang berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumberdaya alam/lingkungan dan industri kepariwisataan. Ekowisata adalah wisata yang berbasis pada memperbolehkan orang untuk menikmati lingkungan alam dalam arah yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

2.6 Prinsip Dasar Ekowisata

Dari segi estetika terumbu karang yang masih utuh menampilkan pemandangan yang sangat indah, jarang dapat ditandingi oleh ekosistem lain. Keindahan yang dimiliki oleh terumbu karang merupakan salah satu potensi wisata bahari seperti diving, layar maupun snorkeling.

Menurut Yulianda (2007) Ekowisata adalah pariwisata yang menyangkut perjalanan ke kawasan alam secara relatif belum terganggu dengan tujuan untuk

11 mengagumi, meneliti dan menikmati pemandangan yang indah, tumbuh-tumbuhan serta binatang liar maupun kebudayaan yang dapat ditemukan disana. Suatu konsep pengembangan ekowisata dilandasi pada prinsip dasar ekowisata yang meliputi :

1. Mencegah dan menanggulangi dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penaggulangan disesuaikan dengan sifat dan karekter alam dan budaya setempat.

2. Pendidikan konservasi lingkungan; mendidik pengunjung dan masyarakat akan pentingnya konservasi.

3. Pendapatan langsung untuk kawasan; retribusi atau pajak konservasi dapat digunakan untuk pengelolaan kawasan.

4. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan; merangsang masyarakat agar terlibat dalam perencanaan dan pengawasan kawasan.

5. Penghasilan bagi masyarakat; masyarakat mendapat keuntungan ekonomi sehingga terdorong untuk menjaga kelestarian kawasan.

6. Menjaga keharmonisan dengan alam; kegiatan pengembangan fasilitas tetap mempertahankan keserasian dan keaslian alam.

7. Daya dukung sebagai batas pemanfaatan; daya tampung dan pengembangan fasilitas hendaknya mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

8. Kontribusi pendapatan bagi negara (pemerintah daerah dan pusat).

Tantangan dalam pengembangan wisata bahari adalah memanfaatkan terumbu karang yang ada secara berkelanjutan tanpa menimbilkan dampak– dampak yang merugikan. Hal ini penting karena kegiatan wisata bahari pada hakekatnya memadukan dua sistem, yaitu kegiatan manusia dan ekosistem laut dari terumbu karang. Adanya kegiatan wisata bahari sangat tergantung pada sumberdaya alam, diantaranya terumbu karang, dan apabila terjadi kerusakan akan menurunkan mutu daya tarik pariwisata di Indonesia (Yulianda 2003).

2.7 Wisata Bahari

Wheat (1994); LIPI COREMAP II (2005) berpendapat bahwa wisata bahari adalah pasar khusus untuk orang yang sadar akan lingkungan dan tertarik untuk mengamati alam. Kegiatan wisata ada yang memanfaatkan wilayah pesisir dan

12 lautan secara langsung dan tidak langsung. Jenis-jenis wisata yang secara langsung memanfaatkan wilayah pesisir antara lain: berperahu, berenang,

snorkeling, menyelam dan pancing. Sedangkan jenis-jenis wisata yang secara tidak langsung memanfaatkan wilayah pesisir dan lautan antara lain: Kegiatan olahraga pantai dan piknik menikmati atmosfer laut.

Orientasi pemanfaatan pesisir dan lautan serta berbagai elemen pendukung lingkungannya merupakan suatu bentuk perencanaan dan pengelolaan kawasan secara terpadu dalam usaha mengembangkan kawasan wisata. Aspek kultural dan fisik merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dan saling mendukung sebagai suatu kawasan wisata bahari. Gunn (1994); LIPI COREMAP II (2005) mengemukakan bahwa suatu kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada empat aspek yaitu: mempertahankan kelestarian lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut,. menjamin kepuasan pengunjung, meningkatkan keterpaduan dan kesatuan pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zona pengembangannya.

Selain keempat aspek di atas, supaya bermakna, setiap kawasan perlu perencanaan secara spasial karena kemampuan daya dukung untuk setiap kawasan berbeda-beda. Secara umum, ragam daya dukung wisata bahari meliputi daya dukung ekologis, fisik, sosial dan rekreasi.

Dalem (2001); LIPI COREMAP II (2005) berpendapat bahwa syarat utama agar ekowisata sukses adalah ketepatan dalam menentukan target pasar. Segmentasi pasar untuk ekowisata terdiri dari:

a. Generasi tua (silent), yaitu wisatawan yang berusia 54-64 tahun. Kelompok wisatawan ini cukup kaya/mampu, biasanya berpendidikan tinggi dan tidak memiliki tanggungan anak, serta dapat bepergian dalam 4 minggu.

b. Generasi eksekutif muda (baby boom), yaitu wisatawan yang merupakan eksekutif muda yang sukses berusia antara 35-54 tahun. Wisatawan kelompok ini suka bepergian bersama keluarga dan anak-anakynya (menghabiskan waktu berkisar 2-3 minggu). Bepergian menurut bagi kelompok ini tujuannya adalah mengurangi stres.

13 c. Generasi “X”, yaitu wisatawan yang berusia antara 18-29 tahun dan sangat menyenangi kegiatan ekowisata sebagai layaknya backpakers. Biasanya kelompok wisatawan ini adalah mahasiswa yang dapat melakukan kegiatan bepergian divinga 3-12 bulan.

Kegiatan wisata bahari meliputi : wisata snorkeling, diving dan lamun, untuk wisata selam (diving) merupakan kegiatan dengan tertentu. Hal ini disebabkan kegiatan selam membutuhkan ketrampilan dan kemampuan, di samping peralatan khusus dengan biaya yang cukup tinggi. Hal yang menarik dalam mengunjungi objek wisata selam adalah keindahan panorama bawah laut, meski untuk mencapai lokasi tersebut tidak tersedia sarana dan prasarana yang memadai. Penyediaan sarana dan prasarana wisata di indonesia secara umum masih relatif kurang (Puspar UGM 2001 : 11) diacu dalam Kamija et al. 2004.

Peminat utama wisata selam adalah wisatawan asing. Keberadaan wisatawan asing mempengaruhi penyediaan jasa dan sarana penunjang kegiatan selam (diving) seperti penyediaan kapal dan peralatan selam (drive operator) sendiri. Hal ini dapat dilihat dari semakin berkembangnya usaha penyedian jasa wisata selam di seluruh seperti tour operator yang menawarkan objek-objek wisata selam di seluruh indonesia dan semakin dikenalnya obje-objek wisata selam di indonesia. Kegiatan diving di indonesia banyak dilakukan diwilayah barat dan timur indonesia, karena wilayah tersebut banyak terdapat keanekaragaman kekayaan laut yang luar biasa (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2001 : 26-27) dalam Kamija et al. 2004.

2.8 Daya Dukung Wisata Bahari

Daya dukung ekologis merupakan tingkat maksimal penggunaan suatu kawasan (Pigram 1983 diacu dalam Nurisyah et al. 2001; LIPI COREMAP II, 2005). Daya dukung fisik merupakan kawasan wisata yang menunjukkan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang diakomodasikan dalam area tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas.

Daya dukung sosial adalah kawasan wisata yang dinyatakan sebagai batas tingkat maksimum dalam jumlah dan tingkat penggunaan dimana melampauinya akan menimbulkan penurunanan dalam tingkat kualitas pengalaman atau

14 kepuasan. Sedangkan daya dukung reakreasi merupakan konsep pengelolaan yang menempatkan kegiatan rekreasi dalam berbagai objek yang terkait dengan kemampuan kawasan.

Ada beberapa pertimbangan untuk menentukan kawasan wisata bahari dengan menganalisis daya dukung sebagai faktor penunjang yaitu :

• Guna menjadikan suatu kawasan pariwisata bahari snorkeling dan diving di Desa Teluk Buton, perlu di tinjau dari daya dukung ditentukan sebaran dan kondisi terumbu karang.

• Peninjauan kondisi perairan wilayah terumbu karang, berguna untuk peruntukan kegiatan snorkeling dan diving di bedakan berdasarkan kedalaman di perairan.

• Peruntukan kawasan wisata bahari snorkeling dan diving harus mempertimbangkan kondisi komunitas terumbu karang suatu kawasan dalam kondisi baik dengan tutupan 76%, maka luas area snorkeling dan diving di terumbu karang yang dapat dimanfaatkan adalah 76% dari luas hamparan karang (Yulianda 2007).

Beberapa penelitian tentang daya dukung pengunjung dan dampak penyelam terhadap terumbu karang yang fokus pada SCUBA divers di Laut Merah (Mesir), Laut Karibia dan Great Barrier Reef (Australia) (Davis and Tisdell (1995), Hawkins and Robert (1993), Jameson at al. (1999). Dari hasi penelitian ini didapatkan bahwa daya dukung (carrying capacity) untuk wisata bahari di kawasan terumbu karang tergantung tidak hanya pada jumlah penyelem, tetapi juga tipe penyelam, latihan dan pendidikan mereka, tipe dari bentuk pertumbuhan karang, struktur komunitas karang. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa karang dapat dirusak oleh kerusakan lingkungan oleh penyelam amatir, dan berberapa kasus pembangunan infrastruktur berasosiasi dengan wisata bahari dapat menyebabkan kerusakan dari pada penyelaman itu sendiri.

Berbagai aktifitas menyelam dan snorkeling yang dapat merusak yang dapat merusak karang seperti sentuhan terhadap karang baik dari peralatan seperti tabung, fin dan kamera, juga aktifitas gerakan penyelam seperti kayuhan fin yang

15 menyebabkan pengadukan sedimen didekat karang (Zakai dan Chadwick-Furman, 2002).

Hawkins dan Roberts (1993) merekomendasikan angka 5 000-6 000 penyelam perlokasi pertahun dapat digunakan untuk menduga daya dukung kawasan Daerah Perlindungan Laut untuk mendukung wisata diving dan snorkeling, tergantung pada jumlah lokasi penyelaman yang dapat digunakan.

Sama dengan itu, Dixon, et al. (1993) menyarankan batasan 4 000–6 000 penyelaman perlokasi pertahun, sebelumnya dimana penyelaman menyebabkan perubahan kerusakan pada struktur komunitas karang di Banaire (Laut Karibia). Diasumsikan 300 hari pertahun penyelaman pada lokasi tertentu, angka rekomendasi dari Dixon et al. (1993) dan Hawkins dan Roberts (1993) menyentarakan 13-20 penyelam perlokasi diving perhari. Dengan asumsi waktu yang baik untuk penyelaman dalam sehari 8 jam, maka didapat 2 penyelam perlokasi perjam.

Beberapa interaksi dan kontak yang kompleks dari kegiatan penyelaman terhadap terumbu karang seperti : tipe penyelaman, kondisi alam lokasi (hamparan karang, arus, tipe komunitas karang dan kharakteristik lainnya) yang beragam dalam dan antara lokasi, pengalaman/tingkah laku penyelam, tingkat kerusakan karang, konsentrasi penumpukan penyelam vs. pemisahan aktifitas diving, akses ke lokasi diving, berjalan di karang pada snorkeling, tambatan atau jangkar boat/kapal untuk diving dan ukuran dari lokasi diving, yang kesemuanya dapat mempengaruhi daya dukung, dan sangat penting diperhatikan dalam menetapkan jumlah penyelam per lokasi ( Barker dan Roberts 2003).

Pengembangan wisata bahari dan penerapan batas pelestarian (melalui kapasitas daya dukung atau toleransi batas perubahan) sangat tergantung pada status/kondisi lingkungan perairan. Dampak yang berpengaruh pada pada kualitas lingkungan laut juga akan berdampak pada wisata bahari dan slangsung dari pariwisata sendiri, dan yang berdiri sendiri atau tidak berhungan langsung dengan pariwisata namun memilki efek yang mengganggu.

Dari sudut pandang ekologi, sosial ekonomi, dan estetis, daya dukung wisata bahari diving, dalam hal ini jumlah penyelam yang dapat ditampung sebuah kawasan, berkaitan dengan tersedianya lokasi diving yang berkualitas tinggi;

Dokumen terkait