BAB I PENDAHULUAN
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Mengembangkan alat peraga Montessori sesuai ciri-ciri yang telah ditetapkan untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.
1.3.2 Mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk melatih kemampuan perkalian pada siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.
5 1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi siswa
Siswa kelas II semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 terbantu dalam belajar perkalian menggunakan alat peraga perkalian ala Montessori.
1.4.2 Bagi guru
Menambah referensi dalam penggunaan alat peraga perkalian dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitar sekolah.
1.4.3 Bagi sekolah
Menambah referensi penelitian pengembangan alat peraga perkalian untuk kelas II semester genap.
1.4.4 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan
Memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan SD khususnya pengembangan alat peraga perkalian kelas II semester genap dengan memanfaatkan potensi lokal.
1.4.5 Bagi Peneliti
Mendapatkan pengalaman baru dalam mengembangkan alat peraga perkalian ala Montessori sebagai upaya pengaplikasian ilmu pengetahuan tentang metode Montessori.
1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah papan perkalian yang terdiri dari sebuah papan perkalian, kancing perkalian, dua buah tanda panah yang digunakan untuk menandai bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Alat peraga ini dilengkapi dengan kartu bilangan, kartu soal dan album alat peraga.
Kartu bilangan terdiri dari bilangan satuan, puluhan, dan ratusan. Kartu soal terdiri dari 16 soal perkalian. Album alat peraga berisi tentang tujuan pembelajaran, deskripsi alat peraga, dan cara penggunaannya. Alat peraga papan perkalian dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut papan skittle.
Pada alat peraga perkalian Montessori terdapat beberapa alat peraga yang terdiri dari manik-manik satuan, manik-manik emas, papan skittle, papan
6 perkalian dengan beberapa tingkatan (papan perkalian 1°, 2°, 3°, 4°, 5°) dan checker board. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi pengembangan produk berupa papan perkalian yang diadopsi dari papan skittle. Hal tersebut disesuaikan dengan perkembangan siswa kelas II SD dan juga disesuaikan dengan SK serta KD kelas II. Papan perkalian digunakan sebagai alat peraga pembelajaran matematika kelas II SD Krekah Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2012/2013 dengan SK “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.
Papan skittle yang terdapat pada alat peraga Montessori terdiri dari papan perkalian, kartu bilangan pengali, lingkaran merah untuk menandai bilangan yang dikali, dan manik-manik merah. Papan perkalian berbentuk persegi dengan ukuran 25 cm x 25 cm. Pada sisi atas papan terdapat bilangan 1 sampai 10 yang letaknya berurutan secara horisontal. Terdapat 100 lubang berbentuk setengah lingkaran yang terletak di antara bilangan di sisi atas dan sisi kiri. Lubang-lubang tersebut digunakan untuk meletakkan setiap manik-manik merah yang digunakan untuk menghitung hasil perkalian dua bilangan. Kartu bilangan pengali terbuat dari kayu yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2 cm x 1 cm dan terdiri dari kartu bilangan 1 sampai 10. Seperti namanya, kartu bilangan ini berfungsi sebagai bilangan pengali. Lingkaran merah yang digunakan untuk menandai bilangan yang dikali terbuat dari kayu yang dibentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 1,5 cm. Manik-manik merah digunakan untuk menghitung hasil perkalian dengan meletakkan satu per satu manik-manik merah di setiap lubang yang ada pada papan. Satu set alat peraga tersebut dilengkapi dengan kartu soal yang berisi soal-soal perkalian.
Produk dalam penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan potensi lokal yang ada di sekitar lokasi penelitian berupa papan kayu dan tempurung kelapa. Papan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan papan perkalian dipilih berdasarkan kualitas dan beratnya. Kayu yang dipilih merupakan kayu yang berkualitas baik agar alat peraga yang dibuat nantinya dapat tahan lama. Berat kayu dipilih dengan mempertimbangkan perkembangan anak agar nantinya anak dengan mudah dapat membawa alat peraga tersebut. Papan
7 perkalian berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 40 cm x 25 cm yang kemudian diplitur. Pada papan tersebut ditentukan garis tepinya, batas tepi kiri dan atas adalah 3 cm, batas tepi kanan dan bawah adalah 5 cm. Jarak tepi kiri dan tepi atas pada papan nantinya digunakan untuk meletakkan tanda panah.
Terdapat dua tanda panah yang dibuat dari kayu dengan ukuran kurang lebih 1,5 cm x 1 cm dan berwarna merah. Pada produk ini, tanda panah yang pertama sebagai pengganti kartu bilangan yang digunakan untuk menandai bilangan pengali. Tanda panah yang kedua sebagai pengganti lingkaran merah yang digunakan untuk menandai bilangan yang dikali.
Angka 1 sampai 10 yang berfungsi sebagai bilangan pengali dituliskan secara vertikal pada papan sebelah kiri. Bilangan yang berfungsi sebagai bilangan yang dikali juga terdiri dari angka 1 sampai 10 dan dituliskan secara horizontal pada papan bagian atas. Bilangan-bilangan tersebut dituliskan menggunakan cat warna putih. Setelah itu dibuat lubang berbentuk persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 2,5 cm x 0,7 cm sejumlah 100 buah di samping kanan bilangan pengali dan di bawah bilangan yang dikali. Ukuran lubang tersebut disesuaikan dengan ukuran kancing merah yang digunakan untuk menghitung operasi perkaliannya.
Tempurung kelapa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kancing perkalian. Peneliti memilih tempurung kelapa yang masih muda dengan tujuan agar mudah dalam proses mewarnai. Bentuk dari tempurung kelapa nantinya berupa kancing baju dengan bentuk lingkaran yang berdiameter kurang lebih 2,5 cm. Kancing baju tersebut kemudian diberi warna sesuai dengan warna manik-manik pada alat peraga perkalian Montessori, yaitu warna merah. Pada alat peraga ini terdapat 100 kancing. Satu kancing merah nantinya terdiri dari sepasang kancing karena lebar satu buah kancing hanya 2 mm dan ukuran tersebut terlalu tipis saat digunakan anak. Kancing merah pada produk ini manfaatnya sama dengan manik-manik merah pada papan skittle, yaitu untuk menghitung operasi perkalian. Seluruh kancing perkalian, kartu bilangan, dan dua tanda panah nantinya ditempatkan pada tempat yang berbentuk balok dengan berbahan dasar kayu.
8 1.6 Definisi Operasional
1.6.1 Alat peraga Montessori adalah media pembelajaran yang menerapkan prinsip-prinsip filosofi pembelajaran Montessori dan memiliki empat karakteristik, yaitu menarik, bergradasi, education, dan auto-correction.
1.6.1 Album alat peraga perkalian Montessori adalah buku panduan yang berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, tujuan pembelajaran, usia, syarat, langkah-langkah presentasi penggunaan alat peraga dan pengendali kesalahan dalam penggunaan alat peraga perkalian Montessori.
1.6.2 Perkalian adalah materi pada mata pelajaran Matematika di SD yang mempelajari penjumlahan bilangan yang dilakukan secara berulang dan menggunakan simbol kali (x) dalam operasi tersebut.
1.6.3 Kontekstual adalah segala sesuatu yang berada di suatu tempat atau daerah dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi benda yang memiliki kegunaan.
1.6.4 Alat peraga perkalian ala Montessori adalah alat peraga perkalian yang mengadopsi alat peraga Montessori dan dibuat serta dikembangkan menggunakan segala sesuatu di sekitar tempat penelitian yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
1.6.5 Siswa SD adalah siswa kelas II semester genap SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 35 siswa yang terdiri dari 16 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki.
9 BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam bab ini, pembahasan tentang landasan teori dibagi menjadi empat bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir, dan (4) hipotesis.
2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Metode Montessori
2.1.1.1 Sejarah Metode Montessori
Metode Montessori merupakan sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Maria Montessori. Beliau adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1870 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1952. Saat Montessori bekerja di klinik psikiatri, beliau mendapat tugas untuk melayani anak-anak yang mengalami debiel, imbeciel, idioot, dsb. Hal tersebut membuat Montessori tertarik pada dunia pendidikan anak-anak, khususnya anak-anak yang ditanganinya. Ketertarikan Montessori tersebut membuatnya mempelajari berbagai penemuan dari Jean Marc Gaspard Itard (1775-1838) dan Edward Seguin (1812-1880). Montessori mencoba mengembangkan metode temuan Itard dan Seguin untuk mengajar membaca dan menulis anak-anak dengan mental terbelakang di distrik kumuh di Roma. Seluruh metode Seguin diringkaskan oleh Montessori sebagai metode yang menggunakan sistem otot, sistem syaraf, dan panca indera (Montessori, 2002:28-42).
Pada tahun 1907, Montessori menerima tawaran dari Edoardo Talamo, Direktur Jenderal Asosiasi Roma untuk mengambil alih organisasi sekolah-sekolah untuk anak-anak usia 3-7 tahun di distrik San Lorenzo. Sekolah pertama didirikan pada tanggal 6 Januari 1907 di distrik San Lorenzo yang diberi nama Casa dei Bambini atau Rumah Anak-anak (Montessori, 2002:30).
Montessori menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didiknya melalui berbagai percobaan dan observasi yang dilakukannya di Casa dei Bambini. Montessori berhasil membawa anak-anak pinggiran membaca dan menulis pada usia dini dan menunjukkan kemampuan
10 untuk peduli terhadap diri mereka sendiri (Hainstock, 1997:58). Keberhasilan lainnya adalah Montessori dapat membawa anak-anak yang kurang beruntung tersebut memperoleh hasil yang optimal pada ujian negara (Montessori, 2002:38).
2.1.1.2 Karakteristik Metode Montessori
Secara garis besar terdapat tiga hal yang menjadi prinsip dasar dari metode Montessori yaitu filosofi yang digunakan, tugas pendidik dalam pembelajaran dan adanya alat peraga (Hainstock, 1997). Ketiga prinsip dasar tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang berlandaskan pada perkembangan anak dan pembelajaran berbasis panca indera. Keberhasilan dari pelaksanaan metode ini dapat dilihat saat anak mampu melakukan suatu tugas perkembangan sesuai dengan kemampuan dan kesiapan anak.
Esensi metode Montessori terletak pada filosofinya terhadap anak, yaitu
“Teach Me to Do It Myself”. Filosofi tersebut mengandung makna bahwa Montessori mempercayai kemampuan seorang anak untuk bekerja dan menemukan cara belajarnya sendiri (Seldin, 2006:12). Seorang anak akan belajar ketika anak tersebut sudah memiliki kesiapan dan kemauan untuk belajar.
Berlandaskan filosofi tersebut Montessori menghormati kemerdekaan atau kebebasan setiap individu untuk belajar sesuai dengan tingkat kesiapan masing-masing individu sehingga hasil belajar yang dicapai setiap anak adalah berbeda dan tidak diukur bentuk nilai melainkan secara kualitatif kemajuan yang dibuat oleh anak setiap harinya. Montessori menggunakan kebebasan setiap anak untuk beraktivitas sebagai basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak (Montessori, 2002:86). Bagi Montessori, disiplin bertujuan untuk membuat anak aktif dan melakukan sesuatu untuk berbuat baik, bukan untuk diam, tidak bergerak, taat dan pasif. Kedisiplinan anak dapat terwujud melalui dukungan guru dengan memperbolehkan mereka memilih aktivitas yang ada di lingkungan belajarnya dan teman bekerja (Koh dan Frick, 2010:1). Montessori juga mempercayai adanya potensi kreativitas anak-anak dan hak anak-anak untuk dihargai sebagai dirinya dan tidak harus hanya mengikuti guru atau temannya saja. Anak-anak dibiarkan berkembang sendiri menurut bakat dan minat masing-masing, sementara guru hanya berdiri di belakang. Dasar metode Montessori mengilhami salah satu tokoh pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara
11 (1889-1959). Hal tersebut tercermin pada semboyan “Tut Wuri Handayani” yang berarti bahwa guru sebagai pendidik yang berdiri di belakang tetapi memengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri atau mengembangkan kreativitas dan kemampuannya (Rahardjo, 2009:61-62).
Berdasarkan karakteristik metode Montessori terdapat tiga kriteria mengenai bagaiman pembelajaran semestinya diberikan kepada anak, yaitu (1) singkat, (2) sederhana, dan (3) objektif (Montessori, 2002:108). Pelajaran sebaiknya diberikan dengan singkat. Singkat yang dimaksudkan adalah menghilangkan kata-kata yang tidak berguna dalam pembelajaran. Ketika seorang pendidik mempersiapkan pelajaran yang akan diberikannya, pendidik mesti sungguh-sungguh mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkannya untuk menilai perlu tidaknya kata-kata tersebut. Pelajaran sebaiknya sederhana.
Sederhana yang dimaksudkan adalah pemilihan kata-kata yang akan digunakan haruslah merupakan kata yang paling sederhana dan mengacu pada kebenaran.
Pelajaran sebaiknya objektif. Dalam hal ini, pelajaran diberikan kepada anak dengan semestinya, guru tidak boleh menarik perhatian anak kepada dirinya melainkan hanya kepada objek yang ingin guru terangkan. Penjelasan singkat dalam pembelajaran haruslah merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari oleh anak.
Karakteristik lain dari metode Montessori adalah adanya alat peraga yang memiliki pengendali kesalahan dengan tujuan anak dapat mengoreksi kesalahan dan memperbaikinya sendiri. Alat peraga tersebut diproduksi oleh Montessori sendiri dengan mengacu pada teori Itard dan Seguin (Hainstock, 1997:13).
Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan keterampilan yang ada dalam tahap perkembangan anak, yaitu keterampilan hidup sehari-hari, bahasa, matematika, geografi, kesenian, pengetahuan alam, dan budaya. Beberapa alat peraga yang diciptakan Montessori untuk pembelajaran matematika dan bahasa adalah papan pasir, kartu huruf, kartu angka, tongkat asta merah-biru, menara pink, manik-manik (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan), dan kartu gambar.
2.1.2 Karakteristik Alat Peraga
Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang diciptakan dan dikembangkan oleh Montessori melalui berbagai observasi yang dilakukannya
12 terhadap anak-anak didiknya di Casa Dei Bambini. Seluruh alat peraga yang ada berfungsi sebagai sumber belajar sekaligus guru bagi anak (Montessori, 2002:36
& 83). Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya empat karakteristik yang ada pada alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) education, dan (4) auto-correction (Montessori, 2002:169-175). Keempat karakteristik alat peraga Montessori diterapkan oleh peneliti dalam mengembangkan alat peraga berupa papan perkalian. Peneliti juga menambahkan karakteristik kontesktual pada alat peraga yang dikembangkan. Kontekstual yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar daerah penelitian dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam pembuatan serta pengembangan alat peraga.
Dengan demikian terdapat lima karakteristik yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan papan perkalian.
1. Menarik
Setiap alat peraga Montessori diciptakan menarik perhatian anak dengan tujuan agar anak memiliki keinginan untuk memegang dan merasakan alat tersebut (Montessori, 2002:174-175). Alat peraga yang menarik memiliki nilai keindahan dari warna dan kecerahannya. Warna-warna yang digunakan pada alat peraga Montessori merupakan warna terang dan lembut.
2. Bergradasi
Gradasi dalam alat peraga Montessori merupakan rasional gradasi dari suatu rangsangan (Montessori, 2002:175). Penekanan gradasi dalam pembelajaran Montessori terletak pada rasional anak yang terbentuk secara bertahap ketika bekerja menggunakan alat peraga. Dalam pembentukan rasional tersebut, anak dapat melibatkan warna pada alat peraga dan lebih dari satu alat indera.
Sebagai contohnya pada permainan menggunakan alat peraga “pink tower”. Alat peraga tersebut terdiri dari 10 kubus dengan ukuran yang bergradasi. Kubus pertama berukuran 10 cm untuk setiap sisinya. Kubus kedua berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus pertama. Kubus ketiga berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus kedua dan begitu seterusnya sampai kubus kesepuluh. Pada awal permainan, anak akan menurunkan satu per
13 satu balok-balok tersebut pada karpet. Selanjutnya anak berlatih membuat sebuah menara pink dengan menyusun kubus-kubus tersebut dari yang terbesar sampai yang terkecil (Montessori, 2002:174). Permainan ini merupakan permainan yang paling menyenangkan bagi anak yang mulai berusia 2 tahun. Melalui permainan “pink tower”, rasionalitas anak mengenai ukuran terbentuk secara bertahap.
3. Auto-education (Pembelajaran Mandiri)
Alat peraga Montessori diciptakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak dengan memperhatikan ukuran dan bentuk alat peraga. Hal tersebut bertujuan agar anak dapat mengambil, membawa, dan bekerja dengan alat peraga tanpa bantuan dari orang lain. Anak dapat memahami sendiri suatu pengetahuan melalui penggunaan alat peraga.
Sebagai salah satu contohnya adalah satu set blok “incastri solidi” yang disebut dengan inkastri. Alat peraga ini terdiri dari sepuluh kayu berbentuk silinder dengan ukuran bergradasi sekitar 2 mm (Montessori, 2002:169).
Permainan yang dilakukan dengan alat peraga ini adalah anak memasangkan setiap silinder dengan lubang yang sesuai. Selama melakukan permainan tersebut, anak akan menyelesaikan permainannya tanpa ada intervensi dari orang lain. Anak-anak merasa sangat senang dengan permainan tersebut. Melalui permainan ini, anak dapat memahami hubungan antara inkastri dengan lubang pada blok. Anak mempelajari bahwa setiap inkastri hanya akan bisa masuk pada lubang yang sesuai dengan ukuran inkastri. Hal terpenting yang dipelajari anak dari permainan tersebut adalah mengenai dimensi ukuran (Montessori, 2002:169).
4. Auto-correction (Memiliki Pengendali Kesalahan)
Setiap alat peraga Montessori memiliki pengendali kesalahan yang bertujuan agar anak dapat mengetahui kebenaran dan ketepatan dalam aktivitas yang dilakakukannya bersama suatu alat peraga dengan sendirinya tanpa adanya intervensi dari orang lain. Contohnya pada saat anak melakukan permainan “incastri solidi”, ketika anak melakukan kesalahan dalam memasangkan inkastri dengan lubangnya, anak akan mengeluarkan inkastri tersebut kemudian melakukan percobaan
berulang-14 ulang hingga dia dapat memasukkan inkastri pada lubang yang tepat dan merasa puas (Montessori, 2002:170-171).
Pengendali kesalahan dalam pembelajaran Montessori tidak hanya terdapat pada setiap alat peraga, namun juga terdapat pada lingkungan pembelajaran. Lingkungan pembelajaran yang dipersiapkan dengan adanya pengendali kesalahan, misalnya meja dan kursi yang digunakan oleh anak-anak (Montessori, 2002:83). Jika anak melakukan gerakan yang tidak tepat ketika duduk atau berdiri, meja yang ada di dekatnya atau kursi yang digunakannya akan memunculkan suara. Melalui suara tersebut anak mengetahui bahwa gerakan yang dilakukannya tidak tepat.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kelima karakteristik tersebut sebagai dasar pengembangan papan perkalian. Penerapan karakteristik menarik pada papan perkalian terletak pada warna kancing perkalian. Alat peraga yang dikembangkan juga menarik anak untuk memegang dan menggunakannya.
Karakteristik bergradasi terletak pada warna kancing perkalian dan penggunaan indera perabaan anak. Pada saat anak memejamkan mata, anak tetap dapat mengetahui bahwa setiap lubang pada papan dalam kondisi kosong atau terisi kancing dengan menggunakan indera perabanya. Karakteristik auto-education ditunjukkan dengan kemandirian anak dalam belajar perkalian tanpa adanya bantuan dari teman atau guru. Karakteristik auto-correction terdapat pada papan perkalian yang ditunjukkan pada lubang-lubang di papan perkalian, kartu bilangan, dan jawaban yang ada di sebalik kartu soal. Setiap lubang pada papan perkalian hanya dapat digunakan untuk meletakkan satu kancing perkalian.
Karakteristik terakhir yang dikembangkan pada alat peraga adalah kontekstual.
Peneliti memanfaatkan kayu dan tempurung kelapa sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga. Kedua bahan dasar tersebut merupakan potensi lokal yang terdapat di lingkungan sekolah.
2.1.3 Alat Peraga Perkalian Montessori
Keterampilan yang dipelajari anak dalam pembelajaran Montessori pada materi perkalian diawali dengan pengantar konsep perkalian. Kemudian dilanjutkan dengan 11 latihan, yaitu (1) latihan menggunakan papan perkalian
15 satuan, latihan perkalian dengan nilai puluhan, ratusan, dan ribuan, (2) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 1°, (3) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 2°, (4) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 3°, (5) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 4°, (6) latihan perkalian menggunakan papan perkalian 5°, (7) latihan perkalian statis dengan permainan stamp, (8) latihan perkalian dinamis dengan permainan stamp, (9) latihan perkalian statis dengan manik-manik emas, (10) latihan perkalian statis dengan manik-manik emas, dan (11) latihan menggunakan checker board.
Berbagai alat peraga digunakan dalam latihan pada materi perkalian.
Secara umum alat peraga yang digunakan untuk latihan-latihan tersebut adalah manik-manik satuan warna-warni (manik satu satuan berwarna merah, manik dua satuan berwarna hijau, manik tiga satuan berwarna pink, manik empat satuan berwarna kuning, manik lima satuan berwarna ungu, manik enam satuan berwarna biru muda, manik tujuh satuan berwarna putih, manik delapan satuan berwarna coklat, dan manik sembilan satuan berwarna biru muda), manik emas satuan, manik emas puluhan, manik emas ratusan, manik emas ribuan, papan perkalian satu, manik-manik merah, papan pengali, papan perkalian 1°, papan perkalian 2°, papan perkalian 3°, papan perkalian 4°, papan perkalian 5°, stamp berwarna (stamp satuan dan ribuan berwarna hijau, stamp puluhan berwarna biru, stamp ratusan berwarna merah), kartu angka (kartu angka berwarna hijau untuk satuan dan ribuan, kartu angka berwarna biru untuk puluhan, kartu angka berwarna merah untuk ratusan), checker board, dan papan angka.
2.1.4 Materi Perkalian pada Siswa Kelas II SD
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang wajib dipelajari oleh siswa SD. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tujuan matematika adalah membangun kemampuan siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama.
Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Perkalian merupakan penjumlahan berulang (Heruman, 2007:17). Materi perkalian pada siswa kelas II SD meliputi perkalian sebagai penjumlahan
16 berulang, mengalikan dua bilangan satu angka, mengalikan bilangan dua angka dengan bilangan satu angka, mengenal sifat pertukaran pada perkalian, sifat perkalian bilangan satu angka dengan bilangan 1, mengalikan bilangan satu angka dengan bilangan 0, mengalikan tiga bilangan berturut-turut, pasangan bilangan dengan hasil kali tertentu, dan menyelesaikan soal cerita. SK yang digunakan adalah “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dengan KD “Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka”.
2.1.5 Karakteristik Perkembangan Siswa SD
Siswa SD adalah siswa yang pada umumnya berumur 7-12 tahun. Pada usia tersebut anak mengalami perkembangan fisik-motorik, intelektual, bahasa, emosi, sosial, dan kesadaran beragama yang pesat. Perkembangan fisik-motorik
Siswa SD adalah siswa yang pada umumnya berumur 7-12 tahun. Pada usia tersebut anak mengalami perkembangan fisik-motorik, intelektual, bahasa, emosi, sosial, dan kesadaran beragama yang pesat. Perkembangan fisik-motorik