• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, peneliti mempunyai tujuan utama yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Menganalisis dampak permainan gobak sodor terhadap sikap kerjasama anak.

2) Menganalisis kriteria kerjasama anak.

3) Mendiskripsikan factor apa saja yang dapat mempengaruhi kriteria kerjasama anak.

8 1.4 MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian kali ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1) Manfaat Teoretis

Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai internalisasi kecerdasan interpersonal anak usia 10 tahun dalam aspek kerjasama melalui permainan tradisional yaitu gobak sodor sehingga menambah khasanah pengetahuan terutama dibidang kecerdasan interpersoanl anak dan perkembangan anak.

2) Manfaat Praktis

(1) Manfaat Bagi Anak

a. Meningkatkan sosialisasi terutama dalam aspek kerjasama dengan teman sebaya.

b. Meningkatkan interaksi dengan teman sebaya.

c. Anak bisa berkesplorasi tentang dirinya sendiri, teman, dan lingkungannya.

(2) Manfaat Bagi Orang Tua

a. Memberikan informasi bahwa melalui permainan tradisional gobak sodor efektif terhadap internalisasi sikap kerjasama dalam bentuk kecerdasan interpersonal.

(3) Manfaat Bagi Peneliti Lain

a. Memberikan referensi dan pengetahuan mengenai penelitian tentang permainan tradisional gobak sodor dalam internalisasi sikap kerjasama sebagai bentuk kecerdasan interpersonal anak sehingga dapat melengkapi penelitian terdahulu.

1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN

Sesuai dengan judul penelitian “Implementasi Permainan Gobak Sodor Dalam Meningkatkan Sikap Kerjasama Anak Usia 10 Tahun Di Era 4.0” maka peneliti ini akan fokus pada penerapan permainan tradisional gobak sodor untuk meningkatkan sikap kerjasama anak usia 10 tahun.

1.6 DEFINISI OPERASIONAL

Sesuai dengan judul penelitian “Implementasi Permainan Gobak Sodor Dalam Meningkatkan Sikap Kerjasama Anak Usia 10 Tahun Di Era 4.0” maka definisi operasional dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

9 1) Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah suatu bentuk kegiatan permainan atau olahraga yang berkembang dari suatu kebiasaan masyarakat tertentu. Permainan tradisional mempunyai banyak manfaat, salah satunya yaitu dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan secara holistik dan terintegrasi.

Selain itu permainan tradisional juga dapat mengembangkan dan membangun sikap kerjasama dan sosial emosional anak.

2) Gobak Sodor

Gobak sodor adalah suatu oermainan didalam area bujur sangkar yang dibatasi dengan garis kapur yang terdiri dari 2 tim terdiri dari tim jaga dan tim pemain dengan masing-masing tim beranggotakan 4-5 anak. Dalam bermain gobak sodor sangatlah dibutuhkan kerjasama agar tidak tersentuh oleh tim jaga. Hal ini dikarenakan jika salah tim pemain tersentuh oleh tim jaga, maka otomatis tim pemain akan gagal dan bergantian menjadi tim jaga.

3) Sikap Kerjasama

Kerjasama adalah suatu sikap anak yang diasah untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada pribadi yang dilakukan oleh anak dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan memahami satu sama lain. Kerjasama mempunyai ciri-ciri yaitu anak dapat bergabung dalam suatu kelompok bermain, mempunyai sikap saling berbagi, saling mengerti, selain itu anak juga dapat bertanggungjawab atas suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan dengan tujuan yang sama.

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini akan disampaikan konsep-konsep teoritis yang mendasari pelaksanaan penelitian, yang di dalamnya membahas mengenai teori penelitian yang relevan, yang di dalamnya akan membahas permainan tradisional gobak sodor, meliputi: pengertian permainan tradisional, pengertian permainan gobak sodor, cara bermain permainan gobak sodor dan aturan permainan gobak sodor, nilai-nilai dalam permainan gobak sodor, unsur kerjasama dalam permainan gobak sodor. Kemudian akan di bahas mengenai sikap kerjasama, meliputi pengertian sikap kerjasama, tujuan kerjasama, indicator sikap kerjasama, factor yang mempengaruhi sikap kerjasama.

2.1 Kajian Teori

1) Permainan Tradisional Gobak Sodor

(1) Pengertian Permainan Tradisional

Ali & Aqobah (2020: 71) mengungkapkan Permainan tradisional adalah suatu permainan yang berasal dari suatu daerah tertentu yang berpegang teguh pada adat dan norma tertentu. James Danandjaja mengungkapkan bahwa permainan tradisional adalah suatu bentuk permainan anak-anak yang beredar secara lisan, berbentuk tradisional dan diwarisi secara turun temurun serta mempunyai banyak variasi. Azizah (2016: 284) menjelaskan permainan tradisional sudah tumbuh dan verkembang sejak zaman dahulu dan setiap daerah memiliki jenis permainan tradisional yang berbeda-beda. Kurniati (2016: 2) mengemukakan bahwa permainan tradisional merupakan suatu permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu serta mempunyai nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat dan diajarkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sedangkan Haris (2016: 16) mendefinisikan bahwa permainan tradisional merupakan simbol dari pengetahuan yang tersebar melalui lisan dan mempunyai pesan moral dan manfaat di dalamnya.

Mulyani (2016: 10-20) menjelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional terdiri dari 7 nilai yaitu demokrasi, pendidikan, kepribadian, keberanian, kesehatan, persatuan, dan moral. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa permainan

11

tradisional adalah suatu permainan secara turun temurun yang mempunyai nilai-nilai budaya dan tatanan kehidupan masyarakat.

(2) Pengertian Permainan Gobak Sodor

Achroni (2012: 55) menjelaskan bahwa permainan gobak sodor adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok dan jumlah pemain harus genap. Mulyani (2016: 161) mengungkapkan bahwa permainan tradisional gobak sodor adalah permainan kelompok yang terdiri dari 2 tim dengan masing kelompok terdiri dari 3-5 orang. Ariyanti (2014: 12) menerangkan bahwa permainan gobak sodor adalah suatu permainan yang dilakukan di dalam area bujursangkar yang dibatasi oleh garis kapur yang terdiri dari 2 tim yaitu tim jaga dan tim lawan yang masing-masing tim terdiri dari 3-5 orang.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa permainan gobak sodor adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 2 tim yaitu tim jaga dan tim lawan, masing-masing tim terdiri dari 4-6 orang.

(3) Cara dan aturan Permainan Gobak Sodor

Nadziroh, Chairiyah, & Pratomo (2019: 664) mengungkapkan bahwa permainan gobak sodor mempunyai lapangan yang berbentuk persegi empat yang luasnya disesuaikan dengan jumlah pemain. Permainan gobak sodor terdiri dari 2 tim dan masing-masing tim terdiri dari 3 orang atau lebih.

Permainan gobak sodor mempunyai aturan yaitu tim jaga menghalangi tim lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik dalam are yang telah ditentukan. Tingkat kesulitannya yaitu tim yang bermain harus bisa melewati tim jaga tanpa tersentuh sehingga dibutuhkan kecakapan dalam berlari dan strategi yang tepat. Achroni (2012: 58) menjelaskan bahwa permainan gobak sodor terdiri dari 2 tim yaitu tim penjaga dan tim lawan sebagai pemain. Setiap anggota tim pemain harus berusaha untuk mencapai garis belakang arena dan tim penjaga akan menyentuhnya. Jika tersentuh, maka kedua tim bergantian sebagai pemain dan penjaga. Iswinarti (2017: 112) mengungkapkan bahwa aturan permainan gobak sodor yaitu setelah pemain terbagi menjadi 2 tim, maka kedua tim bersiap untuk menjadi pemain dan tim jaga bersiap digaris yang telah ditentukan. Selanjutnya, penjaga 1 hanya bias bergerak disepanjang garis 1, penjaga 2 hanya bias bergerak disepanjang garis

12

2, dan seterusnya. Tim pemain harus melewati tim jaga dari garis pertama hingga akhir tanpa tersentuh. Ketika ada pemain yang lolos maka itulah yang pemenangnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa cara dan aturan dalam bermain gobak sodor adalah permainan gobak sodor terdiri dari 2 tim yang beranggotakan 3-5 orang. 2 tim tersebut ada tim jaga dan tim pemain. Tim pemain harus bias melewati tim jaga tanpa tersentuh sama sekali. Jika tim pemain tersentuh, maka posisinya akan bertukar yaitu tim jaga menjadi tim pemain, dan tim pemain menjadi tim jaga, begitulah seterusnya hingga ada yang menjadi pemenang. Implementasi permainan gobak sodor dalam meningkatkan kerjasama siswa sebagai berikut:

Langkah-Langkah Permainan Gobak Sodor

Aktivitas Anak

Membuat garis/lapangan gobak sodor Anak membuat garis/lapangan permainan gobak sodor

Pemain dibagi menjadi 2 tim. Terdiri dari tim jaga dan tim lawan.

Anak melakukan hompimpa untuk penentuan anggota kelompok secara heterogen. Setelah kelompok terbentuk, ketua kelompok melakukan suit untuk menentukan tim jaga dan tim lawan.

Tim jaga akan menjaga lapangan, dan tim lawan melewati tim jaga tanpa tersentuh.

Kelompok tim jaga menjaga lapangan. Penjaga garis horizontal tugasnya menghalangi lawan dibagian garis horizontal agar tidak bisa melewati garis batas. Sedangkan penjaga vertical menjaga keseluruhan garis vertical. Sedangkan tim lawan harus melewati tim jaga dari depan ke belakang kemudian kembali lagi ke depan tanpa tersentuh tim jaga.

13 (4) Nilai-nilai Permainan Gobak Sodor

Nadziroh, Chairiyah, & Pratomo (2019: 665) menjelaskan bahwa permainan gobak sodor mempunyai 5 nilai sebagai berikut:

a. Nilai kejujuran

Anak akan memiliki nilai kejujuran ketika bermain gobak sodor. Misalnya jika ia tersentuh oleh tim jaga maka ia akan mengakui bahwa ia sudah tersentuh, selain itu ia juga tidak keluar dari gari penjagaan.

b. Nilai sportivitas

Anak akan terbiasa bermain sportif dan tidak marah jika kalah serta mau menerima dengan lapang dada.

c. Nilai kerjasama

Anggota tim jaga akan berusaha untuk mempertahankan garis batas tersebut agar tim lawan tidak bisa melewati garis batas tersebut, sedangkan anggota tim yang bermain akan berusaha melewati garis bata secara bolak-balik. Sehingga kerjasama dalam permainan gobak sodor sangatlah dibutuhkan.

d. Nilai pengaturan strategi

Nilai strategi berguna untuk merangsang aktivitas berpikir seorang anak tentang bagaimana agar bisa menerobas dan mengecoh tim jaga agar tidak dapat tersentuh oleh tim jaga.

e. Nilai kepemimpinan

Dalam permainan gobak sodor sangatlah diperlukan. Hal ini digunakan agar cara dan strategi dalam bermain gobak sodor dapat tersusun dengan rapi. Nilai kepemimpinan didapat dengan menirukan dari anak yang lebih tua dalam memimpin sehingga anak yang lebih kecil mempunyai acuan dan panutan.

(Wulandari M. D., 2015, p. 1) menjelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gobak sodor yaitu kejujuran, kerjasama, kepemimpinan, penyusunan strategi, kelincahan, sportifitas, kekompakkan, demokrasi, perjuangan, skill, dan spiritual. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gobak sodor yaitu sportivitas, kejujuran, kerjasama, penyusunan strategi, dan nilai kepemimpinan.

14

(5) Unsur Kerjasama Dalam Permainan Gobak Sodor

Susanto (2015: 183) menjelaskan bahwa kerjasama berarti sikap mau berkerjasama dengan kelompok. Prayuanti (2014: 13) menerangkan bahwa kerjasama yaitu suatu kemampuan berkerjasama dengan orang lain dan mengutamakan semangat kelompok. Dalam proses berkerjasama, seorang anak dilatih untuk lebih mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan individu.

Nugraha (2014: 6-16) mengungkapkan bahwa kerjasama adalah berkerjasama dalam suatu kelompok, menyelesaikan suatu permasalahan secara bersama-sama dan memainkan permainan sebagai satu tim. Kristiani, Manuaba, & Darsana (2017: 182) mengungkapkan bahwa sikap kerjasama sangatlah diperlukan bagi perkembangan anak. Kerjasama mempunyai beberapa tujuan yaitu untuk lebih menyiapkan anak denga-pn berbagai macam keterampilan baru agar terus berkembang, membentuk kepribadian anak agar dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, selain itu sikap kerjasama juga mempunyai tujuan untuk menciptakan mental anak agar anak mempunyai rasa percaya diri dan mudah beradaptasi. Husdarta (2011: 115) menyatakan bahwa kerjasama adalah suatu gejala untuk menyelesaikan suatu permasalahan untuk mencapai kepentingan bersama dan tujuan bersama. Sehingga sikap kerjasama harus dibiasakan dan dimulai sejak masa kanak-kanak terutama di dalam kehidupan keluarga dan lingkungannya.

Khasanah (2015:3-4) mengungkapkan bahwa melalui sikap kerjasama, seorang anak mampu mengembangkan kemampuan social emosionalnya seperti beajar tanggungjawab, berbagi, saling membantu, dan mampu menyelesaikan masalah dalam kelompok. Salah satu alat yang digunakan untuk bermain dan menumbuhkan sikap kerjasama adalah permainan tradisional gobak sodor. Maryanti (2014: 17) menjelaskan bahwa permainan tradisional yang dimaksud adalah permainan tradisional yang sifatnya beregu yang dapat melatih rasa social yang tinggi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa melalui permainan tradisional gobak sodor, sikap kerjasama anak dapat berkembang. Hal ini dikarenakan dalam permainan gobak sodor, seorang anak mau tidak mau akan dituntut untuk berkerjasama dengan timnya.

15 2) Sikap Kerjasama

(1) Pengertian Sikap Kerjasama

Lewis Thomas dan Elaine B. Johnson (2014: 164) menerangkan bahwa kerjasama adalah suatu pengelompokkan yang ada diantara makhluk hidup. Soekanto (2012: 66) menjelaskan bahwa kerjasama merupakan usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Restu, Mareza, & Yuwono (2020: 24) menjelaskan bahwa kerjasama adalah suatu aktivitas yang terdapat di kelompok kecil yang terdapat kegiatan saling berbagi dan bekerja secara bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Elfindri (2012: 100) mengungkapkan bahwa sikap kerjasama adalah keinginan atau kemampuan untuk berkerjasama dengan orang lain secara berkelompok. Samani (2012: 51) mendefinisikan bahwa kerjasama adalah kemauan untuk bekerjasama dengan baik, mempunyai prinsip bahwa tujuan akan lebih mudah tercapai jika dikerjakan secara bersama-sama. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap kerjasama adalah suatu sikap anak yang diasah untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada pribadi yang dilakukan oleh anak dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan memahami satu sama lain.

(2) Tujuan kerjasama

Funali (2014: 60-61) menejelaskan bahwa kerjasama mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut:

a. Memaksimalkan suatu bentuk proses kerjasama yang terjadi secara ilmiah diantara peserta didik.

b. Menciptakan suatu pembelajaran yang berpusat pada pesera didik.

c. Mampu mengembangkan pemikiran yang kritis dan keterampilan dalam pemecahan masalah.

d. Belajar menghargai konteks social.

e. Memupuk hubungan yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.

f. Membangun semangat belajar.

Maasawet (2010: 2) menjelaskan bahwa tujuan dari bekerjasama adalah untuk mengembangkan tingkat pemikiran yang tinggi, keterampilan komunikasi, meningkatkan minat, sikap toleransi, sikap sosialisasi serta percaya diri terhadap setiap perbedaan yang ada di individu. Berdasakarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

16

tujuan kerjasama adalah mengembangkan tingkat pemikiran serta memupul hubungan yang saling mengahragai dan mendukung satu sama lain.

(3) Indicator Sikap Kerjasama

Kerjasama merupakan salah satu sikap yang harus dikembangkan. Sikap kerjasama memiliki beberapa indicator. Isjoni (2013: 65) menjelaskan bahwa indicator sikap kerjasama sebagai berikut:

Tabel Indikator Sikap Kerjasama Menurut Isjoni (2013: 65)

No. Indikator

1. Penggunaan kesepakatan 2. Menghargai kontribusi 3. Berbagi tugas

4. Berada dalam sebuah tim atau kelompok 5. Mendorong partisipasi

Kemendiknas (2010: 36) mengungkapkan bahwa kerjasama mempunyai indicator sebagai berikut:

Tabel Indikator Sikap Kerjasama Menurut Kemendiknas (2010: 36)

No. Indikator

1. Memberikan suatu pendapat dalam kerja kelompok 2. Mendengarkan dan memberi pendapat dalam diskusi 3. Ikut dalam kegiatan social dan budaya sekolah

17

Fitri (2012: 107) menjelaskan bahwa kerjasama mempunyai beberapa indicator sebagai berikut:

Tabel Indikator Menurut Fitri (2012: 107)

No. Indikator

1. Menggabungkan antara tenaga pribadi dan orang lain untuk mencapai tujuan bersama – sama.

2. Membagi tugas bersama orang lain dengan tujuan yang sama.

Davis (2014: 77) mengungkapkan bahwa indicator kerjasama tim adalah sebagai berikut:

Tabel Indikator Sikap Kerjasama Menurut Davis (2014: 77)

No. Indikator

1. Mempunyai tujuan yang sama.

2. Antusiasme.

3. Peran dan tanggungjawab yang jelas.

4. Komunikasi.

5. Adanya kesepakatan dalam menyelesaikan konflik.

6. Pembagian tugas.

7. Adanya keahlian yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok.

Dari beberapa pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa indicator dari kerjasama sebagai berikut:

No. Indikator

1. Mempunyai tujuan yang sama 2. Saling berbagi tugas

3. Menghargai kontribusi 4. Saling berpatisipasi 5. Adanya komunikasi

18 (4) Faktor yang Mempengaruhi Sikap Kerjasama

(Setiyanti, 2012, p. 63) mengungkapkan bahwa kerjasama mempunyai beberapa factor yaitu sebagai berikut:

a. Mengakui kemampuan masing-masing.

b. Mengerti dan memahami masalah yang dihadapi.

c. Mempunyai komunikasi yang baik.

d. Memahami kesulitan dan kelemahan antar anggota.

e. Koordinasi yang baik.

f. Adanya keterbukaan dan kepercayaan.

g. Melibatkan anggota lain.

Muhaimin (2010:1) menjelaskan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi sikap kerjasama, sebagai berikut:

a. anak berada pada lingkungan yang positif dan bebas tekanan.

b. Menyampaikan suatu pesan secara verbal dan non verbal.

c. Melibatkan anak dalam berkomunikasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat peneliti simpulkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi kerjasama adalah saling menghargai, mempunyai komunikasi yang baik. Selain itu diperlukan koordinasi yang baik dan melibatkan anggota lain dalam berkomunikasi atau memberikan pendapat.

2.2 Kajian Penelitian Relevan

Selain itu, di dalam penelitian ini juga terdapat beberapa jurnal penelitian relevan.

Jurnal penelitian relevan adalah suatu jurnal penelitian yang telah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Di bawah ini merupakan jurnal penelitian relevan adalah Penelitian yang dilakukan oleh (Junanto, Lindarti, & Syamsiyati, 2020) dengan judul “Cublak-Cublak Suweng Sebagai Alternatif Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan interpersonal anak meningkat setelah bermain permainan tradisional cublak-cublak suweng. Hal ini menunjukkan bahwa cublak-cublak suweng bersifat hiburan dan mempunyai nilai-nilai yang salah satunya untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak seperti nilai kebersamaan. Selain itu, juga mengajarkan kepatuhan pada peraturan permainan dan sabar dalam mengantri menunggu giliran, serta meningkatkan komunikasi anak yang menjadi indikator kecerdasan interpersonal anak.

19

Penelitian selanjutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Ekayati, 2015) dengan judul “Pengaruh Permainan Tradisional “Gobag Sodor” Terhadap Kecerdasan Intrapersonal Dan Interpersonal Pada Anak Usia Dini”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional Gobag Sodor berpengaruh terhadap kecerdasan intrapersonal dan interpersonal. Hal ini dibuktikan dengan nilai uji F yang menunjukkan korelasi antara permainan tradisional gobag sodor dengan kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. Penelitian yang ketiga yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Anggraini & Nurhafizah, 2020) dengan judul “Stimulasi Kemampuan Kerjasama Anak dengan Permainan Gobak Sodor Ditaman Kanak-kanak”. Hasil penelitian menujukkan bahwa permainan tradisional gobak sodor mampu merangsang sikap kerjasama anak. Hal ini dikarenakan permainan gobak sodor merupakan permainan yang bersifat tim dan mempunyai tujuan agar dapat meraih kemenangan, sehingga anak yang awalnya mempunyai rasa kerjasama yang rendah akan berusaha untuk bekerja sama dalam meraih tujuan yaitu kemenangan agar tidak tersentuh oleh tim jaga.

2.3 Kerangka Berpikir

Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan tentang kecerdasan interpersonal yang mempunyai arti suatu bentuk kecerdasan yang ditunjukkan dengan cara anak bersosialisasi, bergaul, berkerjasama, serta kemampuan untuk mengikuti kegiatan akademik. Sikap kerjasama sebagai bentuk kecerdasan interpersonal dapat diwujudkan melalui permainan tradisional salah satunya yaitu gobak sodor. Permainan tradisional adalah suatu permainan secara turun temurun yang mempunyai nilai-nilai budaya dan tatanan kehidupan masyarakat. Akan tetapi, pada era 4.0 ini, permainan tradisional semakin memudar. Banyak anak-anak zaman sekarang yang tidak tau permainan tradisional gobak sodor.

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang akan dibahas, maka kerangka berpikir yang akan peneliti gunakan yaitu konsep dari permainan gobak sodor yang dijadikan sebagai peningkatan sikap kerjasama, dampak adanya permainan gobak sodor terhadap sikap kerjasama. Dampak adanya permainan gobak sodor terhadap sikap kerjasama akan dipengaruhi beberapa factor dan kriteria dari kerjasama. Penjelasan mengenai kerangka berpikir sesuai dengan latar belakang yang telah peneliti uraikan.

Dari beberapa langkah tersebut, peneliti diharuskan untuk menganalisis serta memahami dan mendalami mengenai apa yang akan diteliti sehingga akan tercipta suatu tujuan penelitian dan dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan, serta bermanfaat bagi masyarakat. Pengetahuan mengenai permainan tradisional yang sedikit bisa

20

mengakibatkan permainan tersebut bisa hilang. Melalui hal ini peneliti mencoba meneliti internalisasi permainan tradisional gobak sodor sebagai bentuk sikap kerjasama dalam kecerdasan interpersonal. Maka kerangka berpikir yang peneliti gunakan sebagai berikut:

PERMAINAN TRADISIONAL GOBAK SODOR

permainan gobak sodor adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 2 tim yaitu tim jaga dan tim lawan,

masing-masing tim terdiri dari 4-6 orang.

DAMPAK PERMAINAN GOBAK SODOR TERHADAP SIKAP KERJASAMA ANAK

ASPEK KERJASAMA Suatu bentuk sikap yang mengutamakan kepentingan bersama

untuk mencapai tujuan bersama.

KRITERIA KERJASAMA ANAK FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

18

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Tenggeles RT 3 RW 2 yang terdapat di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus yang terdiri dari anak usia 10 tahun. Hal ini dikarenakan di Desa Tenggeles Rt 3 Rw 2 sangat banyak anak yang tidak mengetahui permainan gobak sodor terutama anak yang berusia 10 tahun. Sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian di Desa Tenggeles. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2021 – 10 Januari 2022.

3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian campuran (Mixed Methods) yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

Sugiyono (2016: 297) menerangkan bahwa metode penelitian kombinasi adalah metode yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif yang digunakan secara bersama-sama dalam sebuah penelitian untuk memperoleh data yang lebih komprehensif, valid reliabel, dan objektif.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Participatory Action Research (PAR). Participatory Action Research PAR merupakan jenis penelitian yang hampir sama dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mikkelsen. B (2003) mengungkapkan bahwa PAR merupakan suatu penelitian yang melibatkan beberapa orang dalam penelitian yang mempunyai tujuan untuk mengubah dan memperbaiki.

Affandi (2013) menjelaskan bahwa Participatory Action Research (PAR) adalah istilah yang memuat seperangkat asumsi yang mendasari suatu paradigma baru tentang ilmu pengetahuan dan bertentangan dengan pengetahuan tradisional.

(Hardjodipuro, 2014, p. 20) menjelaskan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah pendekatan yang memperbaiki proses pembelajaran dengan mendorong kreativitas para guru agar kritis terhadap praktik secara professional. (Iskandar &

Narsim, 2015, p. 6) mengungkapkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru karena ditemukannya suatu permasalahan nyata saat

Narsim, 2015, p. 6) mengungkapkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru karena ditemukannya suatu permasalahan nyata saat

Dokumen terkait