• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Voluntary Counseling and Testing (VCT)

2.2.1. Tujuan

Tujuan utama VCT adalah untuk mendorong orang yang sehat, asimtomatik untuk mengetahui status HIV, sehingga mereka yang dapat mengurangi tingkat penularannya, VCT dapat menurunkan perilaku berisiko, terutama pada mereka yang telah dites dan dapat membantu beberapa program preventif di masyarakat.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan VCT dapat mengubah perilaku berisiko dalam beberapa kelompok rentan terhadap HIV di masyarakat (Sangiwa G. et al, 1998).

VCT perlu dilakukan karena merupakan pintu masuk menuju ke seluruh layanan HIV/AIDS, dapat memberikan keuntungan bagi klien dengan hasil tes postif maupun negatif dengan fokus pemberian dukungan terapi ARV (anti retroviral), dapat membantu mengurangi stigma di masyarakat, serta dapat memudahkan akses ke berbagai layanan kesehatan maupun layanan psikososial yang dibutuhkan klien (Murtiastutik, 2008).

VCT terbuka untuk siapa saja, yang secara sukarela tanpa paksaan ingin memeriksakan dirinya terhadap status kesehatannya. Baik untuk orang yang sehat tanpa gejala HIV (asimtomatik) maupun untuk orang dengan tanda-tanda HIV. Seluruhnya bebas melakukan VCT dengan keinginan dan kemauannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun. Namun VCT terutama disarankan untuk dilakukan oleh orang-orang dengan risiko tinggi terhadap penularan virus HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) Penanggulangan HIV/AIDS tahun 2010-2-14 telah menetapkan 720 orang per tahun dalam setiap layanan VCT.

2.2.2. Prinsip Layanan

VCT merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan yang berdasarkan prinsip :

Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Keputusan untuk melakukan pemeriksaan terletak ditangan klien. Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual,

Injecting Drug User (IDU), rekrutmen pegawai/tenaga kerja Indonesia dan asuransi kesehatan.

b. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas

Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien, konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan diluar konteks kunjungan klien. Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan seijin klien maka informasi kasus dari diri klien dapat diketahui.

c. Mempertahankan hubungan relasi konselor dan klien yang efektif

Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil testing positif.

d. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT

WHO dan Depkes RI telah memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lain yang disetujui oleh klien.

2.2.3. Tahapan Layanan

Layanan konseling secara garis besar terbagi dua, yaitu konseling pra tes dan konseling pasca tes yang keduanya selalu disertai konseling (Depkes, 2006).

Adapun tahapan layanan VCT terdiri dari : a. Konseling Pra Tes

Konseling pra tes yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes. Konseling pra tes bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila hasilnya nanti nanti positif (Depkes, 2006).

Adapun tahapan konselingnya adalah sebagai berikut : 1. Alasan tes

2. Pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing 3. Perbaikan kesalahpahaman tentang HIV/AIDS 4. Penilaian risiko pribadi terhadap penularan HIV 5. Informasi tentang tes HIV

6. Diskusi tentang kemungkinan hasil yang keluar 7. Kapasitas menghadapi hasil/dampak hasil

8. Kebutuhan dan dukungan potensial – rencana pengurangan resiko pribadi 9. Pemahaman tentang pentingnya test ulang

12.Memfasilitasi dan penandatanganan informed consent

Kemudian, pasien dapat melakukan tes HIV atau pengambilan darah oleh perawat untuk di tes pada laboratorium yang tersedia dalam melakukan tes HIV. Selanjutnya setelah hasil didapatkan, maka konselor akan melakukan konseling pasca tes.

b. Tes HIV

Pada umumnya, tes HIV dilakukakan dengan cara mendeteksi antibodi dalam darah seseorang. Jika HIV telah memasuki tubuh seseorang, maka didalam darah akan terbentuk protein khusus yang disebut antibodi. Antibodi adalah suatu zat yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh manusia sebagai reaksi untuk membendung serangan bibit penyakit yang masuk. Pada umumnya antibodi terbentuk di dalam darah seseorang memerlukan watu 6 minggu sampai 3 bulan tetapi ada juga sampai 6 bulan bahkan lebih. Jika seseorang memiliki antibodi terhadap HIV di dalam darahnya, hal ini berarti orang itu telah terinfeksi HIV.

Tes HIV yang umunya digunakan adalah Enzyme Linked Imunosorbent Assay

(ELISA), Rapid Test dan Western Immunblot Test. Setiap tes HIV ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda. Sensitivitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi adanya nantibodi HIV dalam darah sedangkan spesifisitas adalah kemampuan untuk mendeteksi antibodi protein HIV yang sangat spesifik.

1.) Enzyme Liked Imunosorbent Assay (ELISA)

Tes ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh terhadap virus HIV. Tes ELISA ini dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air liur atau air kencing. Hasil positif pada ELISA belum dapat dipastikan bahwa orang yang diperiksa telah terinfeksi HIV karena tes ini mempunyai sensitivitas tinggi tetapi

spesisifitas rendah. Oleh karena itu masih diperlukan tes pemeriksaan lain untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan ELISA ini. Jadi walaupun ELISA menunjukkan hasil postif, masih ada dua kemungkinan, orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betul-betul telah terinfeksi HIV.

2.) Rapid Test

Penggunaan dengan metode rapid test memungkinkan klien mendapatkan hasil tes pada hari yang sama dimana pemeriksaan tes hanya membutuhkan waktu 10 menit. Metode pemeriksaan dengan menggunakan sampel darah jari dan air liur. Tes ini mempunyai sensitivitas tinggi (mendekati 100%) dan spesifisitas (>99%). Hasil positif pada tes ini belum dapat dipastikan apakah dia terinfeksi HIV. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan tes lain untuk mengkonfirmasi hasil tes ini. 3.) Western Immunoblot Test

Sama halnya dengan ELISA, Western Immunoblot Test juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. Western blot digunakan sebagai tes konfirmasi untuk tes HIV lainnya karena mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi untuk memastikan apakah terinfeksi HIV atau tidak.

c. Konseling Pasca Tes

Konseling pasca tes adalah diskusi antara konselor dengan klien yang bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi dengan hasil tes, menyampaikan hasil secara jelas, menilai pemahaman mental emosional klien, membuat rencana dengan menyertakan orang lain yang bermakna dalam kehidupan klien, menjawab, menyusun rencana tentang kehidupan yang mesti dijalani

dukungan. Konseling pasca tes sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar juga dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Bagi mereka yang yang hasilnya HIV negatif, konseling pasca tes bermanfaat untuk memberi tahu tentang cara-cara mencegah infeksi di masa datang (Depkes, 2006).

Adapun tahapan konselingnya adalah sebagai berikut :

1. Dokter dan konselor mengetahui hasil untuk membantu diagnosa dan dukungan lebih lanjut. Hasil diberikan dalam amplop tertutup,

2. Hasil disampaikan dengan jelas dan sederhana, 3. Beri waktu bereaksi,

4. Cek pemahaman hasil tes, 5. Diskusi makna hasil tes,

6. Konseling disclosure; dampak pribadi, keluarga, sosial, terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), kepada siapa dan bagaimana memberitahu, 7. Rencana pribadi penurunan risiko,

8. Menangani reaksi emosional,

9. Tindak lanjut perawatan dan dukungan ke layanan manajemen kasus atau layanan dukungan yang tersedia.

2.2.4. Model Layanan

Adapun model layanan VCT terdiri dari : 1. Mobile VCT (Penjangkauan dan Keliling)

Layanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela model penjangkauan dan keliling (mobile VCT) dapat dilaksanakan oleh LSM atau layanan kesehatan yang

langsung mengunjungi sasaran kelompok masyarakat yang memiliki perilaku berisiko atau berisiko tertular HIV/AIDS di wilayah tertentu. Layanan ini diawali dengan survei atau penelitian atas kelompok masyarakat di wilayah tersebut dan survei tentang layanan kesehatan dan layanan dukungan lainnya di daerah setempat.

2. Statis VCT (Klinik VCT Tetap)

Pusat Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela terintegrasi dalam sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang telah ada. Sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya harus memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan konseling dan testing HIV/AIDS, layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan terkait dengan HIV/AIDS.

Sasaran dari pelayanan VCT adalah masyarakat yang membutuhkan pemahaman diri akan status HIV agar dapat mencegah dirinya dari penularan infeksi penyakit yang lain dan penularan kepada orang lain. Masyarakat yang datang ke pelayanan VCT disebut dengan klien. Sebutan klien dan bukan pasien merupakan salah satu pemberdayaan bagi klien agar berperan aktif dalam proses konseling. Tanggung jawab klien dalam konseling adalah bersama mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan informasi akurat dan lengkap tentang HIV/AIDS, perilaku berisiko, testing HIV dan pertimbangan yang terkait dengan hasil negatif atau positif.

2.2.5. Peran

Peran VCT merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV adalah sebagai berikut (WHO) :

Gambar 2.2. Peran VCT (WHO)

Gambaran pelayanan VCT dapat dijelaskan sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.

Gambar 2.3. Alur Pelayanan VCT

Konseling HIV/AIDS adalah dialog yang terjaga kerahasiaan antara konselor dan klien. Konseling membantu orang mengetahui statusnya lebih dini, menekankan kepada aspek perubahan perilaku, peningkatan kemampuan menghadapi stress, keterampilan pemecahan masalah. Konseling HIV juga menekankan pada isu HIV

Konseling Pra Tes TES HIV/AIDS Konseling Pasca Tes

Penerimaan sero- status, coping dan

perawatan diri VCT Memfasilitasi Intervensi PMTCT Memfasilitasi Perubahan Perilaku 1. Perencanaan masa depan 2. Perawatan anak yatim piatu 3. Pewarisan Normalisasi HIV Manajemen dini infeksi oportunistik &

inroduksi ARV IMS; introduksi ARV Terapi pencegahan

dan perawatan reproduksi Rujukan dukungan

sebaya sosial dan sebaya

terkait seperti bagaimana hidup dengan HIV, pencegahan HIV ke pasangan, dan isu HIV yang berkelanjutan.

Pendekatan VCT tidak dapat dilakukan massal seperti penyuluhan atau edukasi massal, melainkan harus : 1. Terfokus pada klien satu persatu. 2. Melakukan penilaian risiko personal dan menurunkan risiko. 3. Menggali kemampuan diri dan mengarahkan rencana ke depan. 4. Meneguhkan keputusan tes. 5. Menindaklanjuti dukungan atas kebutuhan (Depkes, 2006).

2.3. Pelayanan Kesehatan

Menurut Levey dan Loomba (1973) dalam Azwar (1999), pelayanan kesehatan merupakan setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama- sana dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit dan penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, maupun masyarakat. Brotosaputro (1997) menyatakan bahwa pelayanan kesehatan adalah segala kegiatan yang secara langsung berupaya untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau dituntut oleh masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatannya. Notoadmodjo (2003), mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan juga melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan).

Pada prinsipnya, terdapat 2 kategori pelayanan kesehatan: (1) kategori yang berorientasi kepada publik (masyarakat) dan (2) kategori yang berorientasi pada perorangan (pribadi). Pelayanan kesehatan yang termasuk ke dalam kategori publik terdiri dari sanitasi, imunisasi, kebersihan air, dan perlindungan kualitas udara.

individu-individu yang khusus. Dilain pihak, pelayanan kesehatan pribadi adalah langsung kearah individu.

2.3.1. Tujuan

Tujuan dari pelayanan kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara menyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara mandiri sehingga pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima oleh semua orang. Penyusunan kebijakan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan kesehatan, lingkungan, pengaruh terhadap kesehatan penduduk, kelompok, keluarga dan individu, pencegahan penyakit sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan dimana kesehatan merupakan tanggung jawab individu dan klien merupakan anggota tetap tim kesehatan (Azwar, 1999).

Dokumen terkait