• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tumbuh Kembang Anak Tunagrahita Usia Sekolah

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 45-48)

Periode masa kanak-kanak pertengahan sering disebut dengan periode usia sekolah, yang dimulai dengan masuknya anak ke lingkungan sekolah yang memiliki dampak signifikan dalam perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Anak mulai bergabung dengan teman seusianya, mempelajari budaya masa kanak-kanak, dan bergabung ke dalam kelompok sebaya, yang menjadi hubungan dekat pertama di luar kelompok keluarga. Secara normal tumbuh kembang anak usia sekolah dalam Wong et al. (2009) adalah sebagai berikut:

a. Perkembangan Biologis

Pertambahan berat badan dan tinggi badan berjalan lambat. Penambahan berat badan 2 - 4 kg per tahun dengan berat badan rata-rata 21-40 kg. Terjadi kematangan system organ tubuh, seperti lambung, kardiovaskuler, imunitas, dan musculoskeletal. Mampu berdiri tegak dengan gerakan yang lebih sempurna. Perkembangan motorik kasar terjadi pada usia 7-10 tahun, aktifitas motorik kasar berada di bawah kendali ketrampilan kognitif dan kesadaran secara bertahap terjadi peningkatan irama, kehalusan, dan keanggunan gerakan otot. Mengalami minat dalam penyempurnaan fisik, daya ingat meningkat. Pada usia 10-12 tahun terjadi peningkatan energi, peningkatan kendali arah dan kemampuan fisik. Sedangkan perkembangan motorik halus, terjadi peningkatan ketrampilan motorik halus karena meningkatnya meilinisasi system saraf. Mulai menunjukkan perbaikan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan, dapat menulis dan mengucapkan kata-kata pada usia 8 tahun, kemampuan motorik halus seperti orang dewasa pada usia 12 tahun, dan mampu mengungkapkan ketrampilan individu seperti menjahit atau bermainalat musik.

b. Perkembangan Psikososial (Eriksson)

Masa pertengahan kanak-kanak merupakan periode laten antara fase oedipal dengan fase erotism pada remaja. Sense of industry dapat berkembang bila didukung motivasi dari dalam dan luar. Hal tersebut berhubungan dengan peningkatan kemampuan anak dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan baru dan menerima tanggung jawab baru. Anak akan merasa puas bila

mengeksplorasi dan memanipulasi lingkungan dan teman-temannya. Anak dapat mulai bekerja sama dengan orang lain, mulai menyukai pencapaian yang nyata, mengetahui tugasnya dan merasa puas bila mampu menyelesaikannya. c. Perkembangan Kognitif (Piaget)

Mulai terjadi periode concrete-operational pada anak berusia 7-11 tahun. Anak mulai memiliki kemampuan untuk menghubung-hubungkan kejadian dan mengungkapkan secara verbal simbol-simbol dalam kepercayaan. Anak memiliki kemampuan berfikir terhadap kejadian dan tindakan, menguasai ketrampilan kognitif dengan cepat dan mengalami kemajuan dalam membuat penilaian berdasarkan apa yang mereka lihat. Kemampuan kognitif utama anak usia sekolah adalah menguasai konsep konservasi, mengklasifikasi, dan mampu membaca.

d. Perkembangan Bahasa

Anak usia sekolah mulai menguasi kemampuan linguistik. Anak mulai belajar tentang tata bahasa yang benar dan lebih kompleks sehingga mereka bisa membenarkan jika ada hal-hal yang salah. Kemampuan kata-kata juga dimiliki pada anak usia sekolah termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung, kata depan, dan kata abstrak. Mereka telah mampu memakai kalimat majemuk dan gabungan, mulai mengerti tentang perubahan makna dan bahasa.

e. Perkembangan Psikoseksual (Freud)

Pada usia 7 tahun minat terhadap seksualitas berkurang, namun mulai berkembang perhatian terhadap lawan jenis. Pada usia 8 tahun, anak mulai kembali perhatian terhadap seksualitas, suka mengintip, mendengar dan menceritakan cerita terkait seksualitas, ingin mengetahui informasi tentang kelahiran dan hubungan seksual. Anak perempuan mengalami peningkatan perhatian terhadap menstruasi. Pada usia 9 tahun, anak mulai senang berdiskusi dengan teman sebaya, memisahkan jenis kelamin dalam permainan dan aktifitas.

f. Perkembangan Moral (Kohlberg)

Anak mengalami perubahan egosentries ke pola berfikir logis dan mulai mengalami perkembangan nurani serta standar moral. Pengertian moralitas anak ditentukan oleh aturan-aturan dan tata tertib dari luar, seperti keluarga. sekolah dan lingkungan masyarakat. Hubungan dan kontak sosial anak dengan figur orang deawasa yang memegang otoritas mempengaruhi pengertian benar-salah pada anak. Sumber stress pada anak usia sekolah adalah harapan orang tua dan guru yang terlalu tinggi, persaingan dengan teman sebaya, rasa malu, agresi, idola, persahabatan, kritikan terhadap diri sendiri, kekuasaan orang tua, kesepian, pemberontakan, kematangan organ seks dan masalah seks yang menekan. Tanda-tanda stress pada anak, antara lain: nyeri lambung, sakit kepala, insomnia, mengompol, perubahan pola makan, agresif, dan malas berpartisipasi.

g. Perkembangan Sosial

Anak merasa nyaman bila bersama orang tua dan keluarga, merasa lebih percaya diri, emosi berkurang dan lebih dapat menilai segala sesuatunya secara realistik. Banyak menggunakan energi untuk mengeksplorasi lingkungan, meningkatkan hubungan interpersonal, meningkatkan pemahaman dan memuaskan keingintahuan tentang dunia. Pengaruh teman sebaya dapat mendorong mereka untuk lebih mandiri. Dorongan dari peer-group memberikan rasa aman pada mereka untuk mendukung perkembangan kemandiriannya.

Anak tunagrahita usia sekolah adalah anak dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata yang ditandai dengan keterbatasan kemampuan intelegensia dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial yang berada di sekolah baik sekolah umum (inklusi) maupun sekolah khusus. Ciri-ciri anak tunagrahita secara fisik dalam Sandra (2010), antara lain: 1) penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar; 2) pada masa pertumbuhannya tidak mampu mengurus dirinya sendiri; 3) terlambat dalam perkembangan bicara dan bahasa; 4) tidak perhatian terhadap lingkungan; 5) koordinasi gerakan kurang; 6) hipersalivasi. Sama seperti anak-anak usia sekolah lainnya, anak tunagrahita yang

telah memasuki usia sekolah juga mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Perilaku perkembangan diri pada seorang anak dapat dipelajari dan dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, dan nilai-nilai yang berada di sekitar anak. Oleh sebab itu, peran orang tua dan guru di sekolah menjadi sangat penting karena rumah dan sekolah adalah tempat yang tepat bagi anak untuk belajar keterampilan pengembangan diri sejak usia dini. Dengan demikian, anak belajar cara melindungi dan mengembangkan potensi dalam dirinya, yang pada akhirnya akan bermanfaat dalam mempertahankan dirinya dari segala kemungkinan yang akan datang.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 45-48)

Dokumen terkait