• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI

2.2 Tunagrahita

Tunagrahita merupakan individu yang unik. Kurikulum bahan ajar Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti bersama tunagrahita dapat menyelenggarakan pembelajaran atas dasar semangat untuk pembaharuan Pendidikan nasional Indonesia. Siswa tunagrahita merupakan salah satu peluang untuk pertumbuhan komunitas Gerejawi dan konteks lainnya. Kehadiran siswa tunagrahita mampu mendorong lingkungannya untuk mengatasi prasangka-prasangka budaya. Keterbatasan pada siswa tunagrahita sesungguhnya bisa dipandang sebagai karunia yang besar.

2.2.1 Pengertian Tunagrahita

Menurut Undang-Undang Nomor 72 tahun 1991 anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Mereka berbeda dengan anak-anak pada umumnya karena perkembangan sosial dan kecerdasannya cenderung lebih lambat dengan usia aslinya. Anak tunagrahita memiliki hambatan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya (Garnida, 2015: 8).

Siswa tunagrahita sulit dalam berpikir abstrak, mereka lebih mudah belajar akademik dengan menggunakan bantuan media sebagai sarana dalam pembelajaran. Dibandingkan dengan anak normal pada umumnya, tunagrahita memilliki kesulitan bertumbuh secara akademis sesuai dengan umur mereka.

Mereka mampu belajar dengan bahan ajar siswa yang usianya cukup jauh di bawah mereka (Apriyanto, 2020: 21).

Di sisi lain, tunagrahita juga sering dipahami dan digolongkan dengan istilah-istilah seperti lemah pikiran (feeble-minded), terbelakang mental (mentally retarded), bodoh/ dungu (idiot), pandir (imbecile), tolol (moron), mampu didik (educable), mampu latih (trainable), dan mental subnormal (Geniofam 2010: 25).

Penyandang tunagrahita memiliki kelainan mental dan perilaku karena kecerdasannya yang terganggu. Tunagrahita juga bisa berupa cacat ganda seperti cacat mental yang bersamaan dengan cacat fisik. Contoh lainnya yaitu cacat intelegensi yang dialami bersamaan dengan gangguan pengelihatan atau cacat mata.

Tunagrahita bisa disebut juga retardasi mental yang artinya adalah anak yang mempunyai kendala dan berlatar belakang mental, sehingga intelektual mereka berada di bawah rata-rata. Anak tunagrahita akan mengalami kesulitan dalam komunikasi dan juga sosial, oleh karena itu mereka membutuhkan pendidikan

khusus (Desiningrum, 2016: 16).

2.2.2 Kategori Anak Tunagrahita

Kategori pada anak tunagrahita memiliki tujuan supaya pendidik mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan potensi anak. Secara umum, kategori pada anak tunagrahita disusun berdasarkan taraf intelegensinya yang terdiri dari keterbelakangan ringan, sedang dan berat. Berikut kategorisasi tunagrahita menurut Desiningrum (2016: 17) berdasarkan tingkat intelektual yang dibagi menjadi tiga yaitu:

(1) Tunagrahita Mampu Didik (Tunagrahita ringan)

Educable mentally retarded atau tunagrahita mampu didik dimiliki oleh anak tunagrahita dengan rentang IQ 50-75 atau 75. Mampu didik sendiri adalah istilah pendidikan yang dipakai untuk mengklasifikasikan tunagrahita ringan. Anak tunagrahita mampu didik ini memiliki kemampuan untuk diberikan pengajaran dalam bidang akademik yang sederhana, contohnya menulis, membaca dan berhitung. Kemampuan maksimal yang bisa dilakukan oleh anak tunagrahita mampu didik ini setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas VI SD.

(2) Tunagrahita Mampu Latih (Tunagrahita Sedang)

Trainable mentally retarded atau tunagrahita mampu latih dimiliki oleh anak tunagrahita dengan IQ 30-50 atau IQ 35-55. Tunagrahita mampu latih ini secara fisik biasanya memiliki kelainan ganda baik sensori maupun motoris. Untuk mendeteksinya sangat mudah karena akan terlihat dalam kondisi fisik secara lahiriahnya pasti berbeda dengan anak normal. Kemampuan akademik anak

tunagrahita mampu latih ini berbeda dengan anak tunagrahita mampu didik. Mereka kesulitan untuk mengikuti pembelajaran seperti menulis, membaca dan berhitung.

(3) Tunagrahita Butuh Rawat (Tunagrahita berat)

Dependent or profoundly mentally retarded atau tunagrahita butuh rawat dimiliki oleh anak tunagrahita dengan IQ di bawah 25 atau 30. Anak tunagrahita butuh rawat atau perlu rawat adalah kategori anak tunagrahita yang paling berat.

Dalam istilah kedokteran, kategori ini disebut dengan idiot. Anak tunagrahita butuh rawat ini mempunyai intelegensi dibawah 25 sehingga tidak mampu dilatih untuk melakukan keterampilan apapun.

2.2.3 Karakteristik Tunagrahita

Secara umum, karakteristik tunagrahita menurut Depdiknas tahun 2003 adalah penampilan fisiknya yang kurang seimbang, mereka cenderung tidak bisa mengurus diri sendiri sebagaimana semestinya seperti anak seumuran pada umumnya. Perkembangan bicara siswa tunagrahita sangat lambat dan mengalami banyak kesulitan karena keterbatasannya. Karakteristik yang sulit disadari oleh siswa tunagrahita adalah sering mengeluarkan liur tanpa sadar.

Ketunagrahitaan adalah sebuah kondisi dimana perkembangan kecerdasan seseorang memiliki banyak hambatan, sehingga mereka sulit untuk mencapai tahap-tahap perkembangan yang optimal. Ada beberapa karakteristik secara umum yang bisa dipelajari yaitu:

(1) Dalam segi kecerdasan, siswa tunagrahita memiliki kapasitas belajar sangat terbatas. Apalagi dalam hal-hal yang abstrak, siswa tunagrahita lebih banyak

belajar dengan membeo yang artinya menirukan perkataan orang lain tanpa memahami maksudnya (rote learning). Siswa tunagrahita cenderung sering mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

(2) Dalam segi sosial, pergaulan siswa tunagrahita cenderung tidak bisa mengurus, memelihara dan memimpin dirinya sendiri. Anak tunagrahita perlu bimbingan untuk melakukan segalanya, setelah dewasa mereka hanya bisa menggantungkan ekonominya kepada orang lain. Siswa tunagrahita sangat mudah untuk menirukan dan terperosok ke dalam tingkah laku yang tidak baik.

(3) Fungsi-fungsi mental lain pada siswa tunagrahita adalah sering mengalami kesulitan dalam fokus. Dalam suatu kegiatan, mereka mudah berpaling dari satu hal ke hal lain, mereka juga pelupa dan sulit berkreasi. Siswa tunagrahita cenderung menghindar dari segala bentuk kegiatan yang melibatkan berpikir.

(4) Dorongan dan emosi pada anak tunagrahita hampir tidak memperlihatkan kemajuan untuk mempertahankan dirinya, sehingga kehidupannya terhadap segala hal sangat terbatas.

(5) Dalam segi kepribadian, anak tunagrahita jarang mempunyai kepribadian yang dinamis, menawan, berwibawa, dan berpandangan luas. Kepribadian mereka pada umumnya mudah goyah.

(6) Dalam organisme, baik struktur tubuh maupun fungsi organisme pada anak tunagrahita cenderung kurang dari anak normal. Sikap dan gerakannya kurang sigap, mereka juga kurang mampu melihat persamaan dan perbedaan (Astati, 2001:5).

Berdasarkan kategori tunagrahita yang ada, karakteristik siswa yang pertama adalah karakteristik dari tunagrahita ringan yaitu mempunyai kesulitan dalam mengingat tentang apa yang dilihat dan didengar. Mereka sulit dalam menangkap sebuah obrolan karena persepsi yang berbeda. Anak tunagrahita ringan sulit untuk melaksanakan kegiatan sosial yang setara dengan usia mereka secara fisik (Wikasanti, 2014:14).

Kedua, tunagrahita sedang memiliki karakteristik yang cukup mirip dengan tunagrahita ringan. Anak penyandang tunagrahita sedang mempunyai kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas secara akademik. Mereka kesulitan dalam membaca dan berhitung. Penyandang tunagrahita sedang masih bisa dilatih untuk menolong dirinya sendiri, bila melakukan latihan secara terus menerus maka mereka akan bisa mengurus dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga adalah tunagrahita berat, siswa tunagrahita berat sangat sulit dilatih untuk mengurus dirinya sendiri. Pencapaian maksimal yang dapat dilakukan oleh anak penyandang tunagrahita berat adalah mampu berjalan dan membersihkan dirinya sendiri. Kemampuan mental yang bisa dilakukan secara maksimal oleh penyandang tunagrahita berat setara degan anak yang berusia kurang dari tiga tahun (Wikasanti, 2014: 16).

Berdasarkan fungsi intelektualnya, siswa tunagrahita memiliki banyak hambatan dalam perkembangannya. Untuk itu mereka membutuhkan pelayanan khusus untuk membantu dalam mengoptimalkan kemampuan serta potensi yang dimiliki. Hal yang perlu dilakukan untuk mendampingi anak tunagrahita yang utama adalah dalam perawatan diri, sehingga kelak mereka mampu mandiri dan

tidak bergantung sepenuhnya kepada orang lain. Namun di balik keterbatasan yang dimiliki oleh siswa tunagrahita, mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk menjalani hidup dan bisa bersyukur (Apriyanto, 2020:35).

2.3 Strategi Pembelajaran Agama Katolik Bersama Siswa Tunagrahita

Dokumen terkait