Dewi Oktaviani, S.I.P., Antun Nastri Sidik, S.IP, MSi, Trimo Santoso, S.Sos. MAP.
BAB
II
Inovasi dalam konteks global mencoba untuk memberikan alasan pentingnya inovasi untuk dilakukan saat ini. Alasan tersebut memberikan gambaran dan peringatan seperti yang disajikan oleh Global Innovation Index (GII) mengenai
posisi Indonesia dalam kancah inovasi global. Untuk mempersiapkan hal tersebut, peran pemerintah jelas menjadi salah satu kunci keberhasilan akan pelaksanaan suatu inovasi.
B
erawal dari Bab I yang telah menyajikan beberapa definisi mengenai Inovasi yang diartikan sebagai sebuah penemuan baru untuk menciptakan sesuatu yang memiliki nilai tambah, atau dapat dikatakan pula sebagai ibarat sebuah kunci yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara. Banyak dari para pakar atau praktisi pula yang menyatakan bahwa inovasi menjadi salah satu faktor penting bagi kemajuan suatu negara untuk dapat meningkatkan daya saingnya. Thomas L. Friedman bahkan mengatakan bahwa sebenarnya dunia ini datar dan kesejahteraan akan mudah berpindah ke negara yang berinovasi8. Dengan kata lain, negara yang tidak atau ketinggalan berinovasi akan kalah bersaing, sehingga akan menjadi follower atau relatif tertinggal, terutama dalam perkembangan ekonomi dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bagaimana negara menyikapi dan mengantisipasi kondisi tersebut? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, tentunya dibutuhan hal-hal atau kondisi1). Unexpected changes or results; 2). Incongruities; 3). Process needs; 4). Unexpected changes in industry/market structure; 5). Population changes; 6). Perception changes; 7). New pengetahuan.
perubahan atau hasil yang tak terduga (unexpected changes or results), keganjilan (incongruities), kebutuhan proses (process needs), perubahan yang tak terduga dalam struktur industri/pasar (unexpected changes in industry/market structure), perubahan populasi (population changes), perubahan persepsi (perception changes), dan pengetahuan baru (new pengetahuan).ii
Sedangkan dalam dokumen Komite Inovasi Nasional menyajikan beberapa fakta bahwa Indonesia belum mengedepankan peran dan fungsi inovasi. Hal ini dapat dilihat dari fakta berikut ini:
1.
Pertama, nilai faktor inovasi Indonesia hanyasebesar 3,6 pada tahun 2012;
2.
Kedua, Indonesia berada pada urutan 108 didunia dalam ranking indeks ekonomi berbasis pengetahuan;
3.
Ketiga, inovasi belum menjadi bagian utamadari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergantung pada konsumsi yaitu sekitar 63 persen yang terdiri dari permintaan ekspor dan investasi. Faktor kontribusi konsumsi yang dominan menyebabkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6,5 persen pada tahun 2011 yang semestinya dapat lebih tinggi lagi jika ditunjang juga oleh adanya inovasi (BPS, 2012)
4.
Keempat, inovasi tidak menjadi fokus dariindustri yang tumbuh di Indonesia. Data tentang pertumbuhan industri ini menunjukkan tidak terdapat kaitan dengan inovasi, tapi lebih karena bahan mentah atau secondary component atau pabrik perakitan. Dengan
kata lain tidak ada unsur perubahan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi. Data ekspor yang tinggi lebih banyak menunjukkan ekspor bahan mentah.
Dalam Prospek Inovasi Indonesia (2012) disebutkan bahwa kontribusi inovasi pada PDRB yang hanya 5,3%, maka telah terbukti berdampak terhadap kurang maksimalnya pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh:
Sektor pertanian yang sebagian besar masih menerapkan teknik tradisional, hanya mampu menyumbang 15% PDB meski menyerap 38% tenaga kerja. Bandingkan dengan sektor industri yang relatif intensif-teknologi dan bernilai tambah tinggi: meski hanya menyerap 13% pangsa buruh, sektor ini berkontribusi 27% terhadap PDB. Atau sektor jasa yang seringkali mengandalkan inovasi agar bertahan hidup: menyerap 2% tenaga kerja tetapi menyumbang 7% PDB.
Rendahnya inovasi tersebut antara lain disebabkan pengeluaran penelitian Indonesia sangat kecil (hanya 0,1 persen dari GDP) jika dibandingkan Singapura dan Malaysia yaitu 2,7 persen dan 0,6 persen. Bahkan, dana riset Thailand telah mencapai 0,2 persen dari GDP. Dari sisi ketersedian peneliti, Singapura memiliki 5.834 per sejuta penduduk. Sedangkan Indonesia hanya memiliki 89.6 per sejuta penduduk, ini masih jauh tertinggal dengan Malaysia yang telah memiliki peneliti sebanyak 364,6 per sejuta penduduk. Untuk itu, munculnya suatu inovasi dapat Kontribusi inovasi pada PDRB yang hanya 5,3%, maka telah terbukti berdampak terhadap kurang maksimalnya pertumbuhan ekonomi.
adanya ketidakhandalan hal-hal yang dimiliki saat ini, sehingga timbul keinginan untuk mengganti hal tersebut dengan sesuatu yang baru. Dalam hal ini terdapat beberapa karakteristik atau ciri inovasi:
1.
Keunggulan relatif (relatif advantage)Keunggulan relatif adalah derajat di mana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise sosial, kenyamanan, kepuasan, dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.
2.
Kompatibilitas (compatibility)Kompatibilitas adalah derajat di mana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).
3.
Kerumitan (complexity)Kerumitan adalah derajat di mana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat di mana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat diujicobakan dalam setting yang sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.
5.
Kemampuan diamati (observability)Kemampuan untuk diamati adalah derajat di mana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, maka akan semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif, kesesuaian (compatibility), kemampuan untuk diujicobakan, kemampuan untuk diamati, dan semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.
Dalam melakukan inovasi tersebut, terdapat beberapa kategori yang dapat diadaptasi, antara lain:
•
Incremental innovations – radical innovationsInovasi ini berhubungan dengan tingkat keaslian (novelty) dari inovasi itu sendiri. Di sektor industri, kebanyakan inovasi bersifat perbaikan incremental.
•
Top-down innovations – bottom-up innovationsInovasi ini dilakukan untuk menjelaskan siapa yang memimpin perubahan perilaku. Top berarti manajemen atau organisasi atau hirarki yang lebih tinggi, sedangkan bottom merujuk pada pekerja atau pegawai pemerintah dan pengambil keputusan pada tingkat unit (mid-level policy makers).
•
Needs-led innovations and efficiency-led innovationsProses inovasi yang diinisiasi telah menyelesaikan permasalahan dalam rangka meningkatkan efisiensi pelayanan, produk, dan prosedur.
Dewasa ini, memang implementasi untuk melakukan inovasi tidak hanya dihadapkan dari jenis atau kategori inovasi apa yang akan dilakukan, melainkan juga tujuan dari pelaksanaan inovasi tersebut yang tidak hanya untuk melihat pada besaran anggaran (biaya) semata, tetapi juga didasarkan pada alasan untuk meningkatan kualitas produk dan pelayanan, merancang produk yang lebih baik, daur hidup produk yang lebih panjang, dan merespons kebutuhan dan tuntutan