• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Tutupan Lahan (Vegetasi)

Tutupan Lahan di kabupaten Toba Samosir terdiri dari 9 jenis tutupan lahan yang berbeda. Tutupan lahan tersebut yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, lahan terbuka, pemukiman, perkebunan, pertanian lahan kering, sawah, semak belukar, dan tubuh air. Salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan yaitu adanya bahan bakar, dalam hal ini tutupan vegetasi yang berperan sebagai sumber bahan bakar. Tutupan vegetasi yang terdapat di kabupaten Toba samosir yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, perkebunan, pertanian lahan kering, sawah, dan semak belukar. Lahan- lahan tersebut ditutupi oleh masing-masing vegetasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu Kabupaten Toba Samosir memiliki banyak sumber bahan bakar yang terdapat pada masing-masing tutupan lahan tersebut. Di bawah ini dapat dilihat peta tutupan lahan yang terdapat di kabupaten Toba Samosir.

Tabel 9. Tutupan Lahan di Kabupaten Toba Samosir

Tutupan Lahan Luas (Ha) Luas (%)

Hutan Lahan Kering Sekuder 64.186,03 30,94

Hutan Tanaman 10.042,68 4,84

Lahan Terbuka 4.446,68 2,14

Pemukiman 503,92 0,24

Perkebunan 286,23 0,14

Pertanian Lahan Kering 79.422,50 38,29

Sawah 12.985,15 6,26

Semak Belukar 35.188,54 16,96

Tubuh Air 380,18 0,18

Luas Total (Ha) 207.441,92 100,00

Tutupan vegetasi di Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh hutan pertanian lahan kering dengan luas 79.422,50 Ha, sedangkan tutupan lahan yang lain yaitu hutan lahan kering sekunder seluas 64.186,03 Ha, semak belukar dengan luas 35.188,54 Ha, sawah seluas 12.985,15 Ha, hutan tanaman seluas 10.042,68 Ha, lahan terbuka 4.446,68 Ha, pemukiman seluas 503,92 Ha, tubuh air seluas 380,18 Ha dan perkebunan seluas 286,23 Ha.

Berdasarkan tabel di atas tutupan lahan yang paling luas di Kabupaten Toba Samosir adalah pertanian lahan kering. Pertanian lahan kering tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Toba Samosir yaitu Kecamatan Lumban Julu, Ajibata, Pintu Pohan Meranti, Nassau, Borbor, Parmaksian, Balige, Tampahan, Uluan dan kecamatan lainnya di Toba Samosir. Akan tetapi pertanian lahan kering yang paling banyak terdapat di Kecamatan Lumban Julu, Borbor, Habinsaran dan Ajibata. Hutan lahan kering sekunder juga terdapat hampir diseluruh kecamatan, akan tetapi yang paling banyak ditemukan di Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Habinsaran, Borbor dan Nassau. Sementara itu, semak belukar banyak ditemukan di Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Borbor, Nassau dan Habinsaran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta tutupan lahan.

2. Topog Ka mencapai dari datar struktur ta terjadi pad cepat men menaiki le daerah ya Kabupaten Di Samosir y sehingga d grafi abupaten T hingga 2.2 r, landai, cu anah yang l da daerah y njalar meng ereng. Di ba ang memilik n Toba Sam Gambar 4. Lo i bawah ini yang memil dapat menja Toba Samo 200 mdpl, d uram dan s labil. Kebak yang datar h gikuti kontu awah ini me ki lereng y mosir. okasi Bekas K i dapat dili liki ketingg adi faktor pe osir terletak dan memilik sangat curam karan hutan hingga curam ur tanah kar erupakan lo yang curam Kebakaran di L ihat peta k gian diatas enyebab ter k pada wil ki kontur y m (terjal). n dan lahan m. Pada da rena api me kasi bekas k m yang terd Lereng Curam ketinggian t permukaan rjadinya keb layah datar yang berane Wilayah in yang terjad erah yang c enjalar sang kebakaran y dapat di ke di Kecamatan tempat di K laut yang bakaran huta ran tinggi eka ragam m ni juga mem di di wilaya curam api s gat cepat ap yang terjadi ecamatan B n Balige Kabupaten beraneka r an dan laha yang mulai miliki ah ini sangat pabila i pada alige, Toba ragam an.

G

Tabel 10. Ketinggian Tempat (Elevasi) di Kabupaten Toba Samosir

Elevasi (mdpl) Luas (Ha) Luas (%)

> 40 – 90 55,33 0,03

> 90 – 130 545,45 0,26

> 130 – 220 4.029,28 1,94

> 220 – 500 20.891,26 10,07

> 500 181.888,49 87,70

Luas Total (Ha) 207.409,81 100,00

Luas daerah Kabupaten Toba Samosir yang memiliki elevasi > 40-90 mdpl yaitu 55,33 Ha, elevasi > 90-130 mdpl seluas 545,45 Ha, elevasi > 130-220 mdpl seluas 4.029,28 Ha, > 220-500 mdpl seluas 20.891,26 Ha, dan daerah yang memiliki elevasi > 500 mdpl seluas 181.888,49 Ha. Berdasarkan data tersebut daerah yang paling luas adalah daerah yang memiliki elevasi > 500 mdpl.

Wilayah Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh ketinggian tempat (elevasi) > 500 mdpl. Elevasi > 500 mdpl terdapat diseluruh kecamatan di Toba Samosir, sedangkan untuk elevasi > 40-90 mdpl, elevasi > 90-130 mdpl, dan elevasi > 130-220 mdpl hanya terdapat di Kecamatan Pintu Pohan Meranti dan Nassau. Daerah yang memiliki elevasi > 130-220 mdpl paling banyak ditemukan di Kecamatan Pintu Pohan Meranti. Elevasi > 220-500 mdpl terdapat di Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Habinsaran dan Nassau, akan tetapi yang paling banyak terdapat di Kecamatan Nassau. Hampir sebahagian wilayah di Kecamatan Nassau memiliki ketinggian tempat (elevasi) > 220-500 mdpl.

Ketinggian tempat juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Hal ini sesuai dengan literatur Clar dan Chatten (1994) yang menyatakan bahwa kemiringan lereng dan ketinggian lokasi (tempat) diatas permukaan laut menentukan cepat rambatnya api bereaksi, yaitu berpengaruh pada penjalaran dan kecepatan pembakaran.

Iklim

Ada beberapa komponen iklim yang menjadi faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan. Komponen-komponen tersebut diantaranya adalah curah hujan, suhu udara, dan kecepatan angin.

Curah Hujan

Curah hujan merupakan salah satu faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan. Curah hujan mempengaruhi suhu dan kelembaban suatu tempat dan juga berpengaruh terhadap pengeringan bahan bakar yang menjadi sumber kebakaran hutan dan lahan pada suatu daerah. Curah hujan pada suatu daerah berbeda dengan curah hujan di daerah lain. Curah hujan yang rendah merupakan faktor terjadinya kebakaran karena pada saat tersebut keadaan suhu udara berarti tinggi dan dalam kondisi yang kering (kelembaban rendah).

Stasiun curah hujan yang termasuk dalam kabupaten Toba samosir terdiri dari 4 stasiun yang terletak di Kecamatan Borbor, Silaen, Sigumpar, dan Balige. Rata-rata curah hujan bulanan tahun 2010 di kabupaten Toba Samosir pada masing-masing stasiun yaitu Borbor (172 mm), Silaen (150 mm), Sigumpar (133 mm), dan Balige (164 mm). Fluktuasi curah hujan di Kabupaten Toba Samosir setiap tahun berubah, akan tetapi perubahan curah hujan tersebut tidak jauh berbeda setiap tahunnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel curah hujan di bawah ini.

Tabel 11. Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir

Curah Hujan (mm) Luas (Ha) Luas (%)

97 – 162 103.621,40 49,95

163 – 228 103.820,52 50,05

Berdasarkan tabel curah hujan bulanan di Kabupaten Toba Samosir, diketahui bahwa rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten Toba Samosir terbagi menjadi 2 kelas yaitu rata-rata 97-162 mm dan 163-228 mm. Rata-rata curah hujan bulanan sebesar 97-162 mm terdapat di Kecamatan Lumban Julu, Bonatua Lunasi, Porsea, Uluan, Parmaksian, Siantar Narumonda, Silaen, Sigumpar, Laguboti, Habinsaran, Pintu Pohan Meranti dan sebagian kecil di Nassau dengan luas total daerah yang memiliki rata-rata curah hujan bulanan 97-162 mm seluas 103.621,40 Ha. Sementara itu, rata-rata curah hujan bulanan sebesar 163-228 mm terdapat di Kecamatan Ajibata, Lumban Julu, Uluan, Laguboti, Balige, Tampahan, Habinsaran, Borbor dan Nassau dengan luas total daerah pada curah hujan tersebut seluas 103.820,52 Ha. Luas daerah yang memiliki rata-rata curah hujan bulanan sebesar 163-228 mm lebih besar (50,05%) dibanding daerah yang memiliki rata-rata curah hujan bulanan sebesar 97-162 mm yang hanya (45,95 %) sehingga dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh rata-rata curah hujan bulanan sebesar 163-228 mm.

Suhu Udara

Suhu udara merupakan salah satu unsur iklim yang menjadi faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Suhu udara sebagai faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan berperan dalam mempercepat pengeringan bahan bakar sehingga bahan bakar akan lebih mudah untuk terbakar karena telah memiliki kadar air yang rendah. Apabila suhu udara tinggi maka proses pengeringan bahan bakar akan semakin cepat dan sebaliknya.

Stasiun suhu udara untuk wilayah sekitar kabupaten Toba Samosir terletak di kecamatan Sibolga, Aek Godang, dan Parapat. Rata-rata suhu udara bulanan

pada masing-masing stasiun yaitu Sibolga (26,32○C), Aek Godang (26,25○C), dan Parapat (21,79○C). Setelah dilakukan pemetaan suhu udara maka Kabupaten Toba Samosir hanya memiliki 2 kelas rata-rata suhu udara bulanan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 12. Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir

Suhu Udara (oC) Luas (Ha) Luas (%)

≥ 21 – 22 193.567,96 93,31

> 26 – 27 13.873,96 6,69

Luas Total (Ha) 207.441,92 100,00

Berdasarkan tabel di atas, Kabupaten Toba Samosir terbagi dalam 2 kelas rata-rata suhu udara yaitu rata-rata suhu udara bulanan ≥ 21-22oC dan > 26-27oC. Rata-rata suhu udara bulanan ≥ 21-22oC terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Toba Samosir yaitu Kecamatan Ajibata, Lumban Julu, Laguboti, Uluan, Silaen, Tampahan, Siantar Narumonda, Parmaksian, Porsea, Pintu Pohan Meranti, Habinsaran, Balige, Sigumpar, Borbor, dan Nassau, akan tetapi pada Kecamatan Borbor dan Nassau hanya sebahagian daerah saja yang memiliki rata- rata suhu udara bulanan ≥ 21-22 oC. Sementara itu, rata-rata suhu udara bulanan > 26-27 oC hanya terdapat di sebahagian daerah pada Kecamatan Borbor dan Nassau.

Luas daerah yang memiliki rata-rata suhu udara bulanan ≥ 21-22oC yaitu 193.567,96 Ha (93,31%) sedangkan luas daerah yang memiliki rata-rata suhu udara bulanan > 26-27oC yaitu 13.873,96 Ha (6,69%). Dengan demikian Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh daerah yang memiliki suhu udara ≥ 21- 22oC. Untuk lebih jelasnya peta suhu udara Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat di bawah ini.

Kecepatan Angin

Selain curah hujan dan suhu udara, kecepatan angin juga mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Suhu merupakan faktor penyebab terjadinya kebakaran karena suhu mempengaruhi pengeringan bahan bakar yang merupakan komponen utama segitiga api. Apabila suhunya tinggi maka bahan bakar akan sangat cepat mengering sehingga mudah terbakar. Begitu pula dengan kecepatan angin, faktor ini juga mempengaruhi pengeringan bahan bakar. Semakin tinggi kecepatan angin maka semakin cepat bahan bakar mengering dan sebaliknya semakin rendah kecepatan angin maka semakin lambat bahan bakar mengering (mengurangi kadar airnya).

Stasiun pengukuran kecepatan angin di daerah kabupaten Toba Samosir terletak pada 3 stasiun. Stasiun pengukuran kecepatan angin tersebut sama seperti stasiun pengukuran suhu udara yaitu terletak di kecamatan Sibolga, Aek Godang, dan Parapat. Berdasarkan data yang diperoleh dari BMKG, rata-rata kecepatan angin bulanan di stasiun Sibolga (6 Knot), Aek Godang (5 Knot), dan Parapat (1 Knot). Satuan kecepatan angin yang digunakan adalah Knot, dimana 1 Knot sama dengan 1,8 km/jam. Setelah dilakukan pemetaan kecepatan angin, wilayah kabupaten Toba Samosir hanya memiliki kecepatan angin sebesar 1 dan 5 Knot saja.

Untuk lebih jelas melihat klasifikasi rata-rata kecepatan angin di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada peta kecepatan angin tahun 2010 di bawah ini.

Tabel 13. Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir

Kecepatan Angin (Knot) Luas (Ha) Luas (%)

> 0 -1 193.567,96 93,31

> 4 – 5 13.873,96 6,69

Luas Total (Ha) 207.441,92 100,00

Berdasarkan tabel di atas, Kabupaten Toba Samosir terbagi dalam 2 kelas rata-rata kecepatan angin yaitu rata-rata kecepatan angin bulanan > 0-1 knot dan > 4-5 knot. Rata-rata kecepatan angin bulanan > 0-1 knot terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Toba Samosir yaitu Kecamatan Ajibata, Lumban Julu, Laguboti, Uluan, Silaen, Tampahan, Siantar Narumonda, Parmaksian, Porsea, Pintu Pohan Meranti, Habinsaran, Balige, Sigumpar, Borbor, dan Nassau, akan tetapi pada Kecamatan Borbor dan Nassau hanya sebahagian daerah saja yang memiliki rata-rata suhu udara bulanan > 0-1 knot. Sementara itu, rata-rata kecepatan angin bulanan > 4-5 knot hanya terdapat di sebahagian daerah pada Kecamatan Borbor dan Nassau.

Luas daerah yang memiliki rata-rata kecepatan angin bulanan > 0-1 knot yaitu 193.567,96 Ha (93,31 %) sedangkan luas daerah yang memiliki rata-rata kecepatan angin bulanan > 4-5 knot yaitu 13.873,96 Ha (6,69 %). Dengan demikian Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh daerah yang memiliki rata- rata kecepatan angin bulanan > 0-1 knot. Itu berarti rata-rata kecepatan angin di Kabupaten Toba Samosir rendah.

Jarak dari Pemukiman

Kabupaten Toba Samosir memiliki cukup banyak lokasi pemukiman (desa). Desa di kabupaten ini tersebar diseluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Toba Samosir (Gambar 9. Peta Lokasi Pemukiman di Kabupaten Toba Samosir). Jarak lokasi pemukiman merupakan faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan. Hal ini dikarenakan pengaruh dari aktivitas manusia yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Semakin dekat lokasi pemukiman dengan hutan atau tutupan lahan lainnya yang dapat menjadi faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan maka akan semakin besar pula kemungkinan kebakaran hutan dan lahan akan terjadi. Akan tetapi, sebaliknya apabila jarak lokasi pemukiman jauh dari hutan atau tutupan lahan lainnya yang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan maka semakin kecil pula kemungkinan untuk terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena apabila hutan jauh dari lokasi pemukiman maka akan semakin sedikit pula aktivitas manusia yang berinteraksi langsung dengan hutan.

Jarak lokasi pemukiman di Kabupaten Toba Samosir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 14. Jarak Lokasi Pemukiman Terhadap Tutupan Lahan di Kabupaten Toba Samosir

Jarak Pemukiman (m) Luas (Ha) Luas (%)

0 – 1000 61.303,63 29,55

> 1000 – 2000 47.937,06 23,11

> 2000 – 3000 32.702,94 15,76

> 3000 – 4000 21.109,80 10,18

> 4000 44.388,50 21,40

Berdasarkan tabel di atas, pada jarak lokasi pemukiman 0-1000 m merupakan jarak lokasi pemukiman terhadap hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering, lahan terbuka, hutan tanaman, semak belukar, sawah, hutan tanaman, dan pemukiman. Lokasi pemukiman tersebut berada di seluruh kecamatan di Kabupaten Toba Samosir yaitu Kecamatan Ajibata, Lumban Julu, Porsea, Nassau, Borbor, Parmaksian dan kecamatan lainnya dengan luasan 61.303,63 Ha. Jarak lokasi pemukiman > 1000-2000 m terhadap hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering, semak belukar, lahan terbuka, hutan tanaman dan sawah juga terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Toba Samosir dengan luasan 47.937,06 Ha.

Jarak lokasi pemukiman > 2000-3000 m merupakan jarak lokasi pemukiman terhadap hutan lahan kering sekunder, semak belukar, dan pertanian lahan kering. Lokasi ini di temukan di Kecamatan Ajibata, Lumban Julu, Pintu Pohan Meranti, Silaen, Habinsaran, Borbor dan Nassau dengan luasan 32.702,94 Ha. Jarak lokasi pemukiman > 3000-4000 m terhadap hutan lahan kering sekunder, semak belukar, dan pertanian lahan kering terdapat di kecamatan Lumban Julu, Bonatua Lunasi, Habinsaran, Pintu Pohan Meranti, Borbor, dan Nassau dengan luasan 21.109,80 Ha.

Jarak Lokasi pemukiman > 4000 m terhadap terhadap hutan lahan kering sekunder, semak belukar, dan pertanian lahan kering terdapat di kecamatan Lumban Julu, Bonatua Lunasi, Habinsaran, Pintu Pohan Meranti, Borbor, dan Nassau dengan luasan 44.388,50 Ha. Di bawah ini dapat dilihat peta lokasi pemukiman di Kabupaten Toba Samosir.

Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir

Berdasarkan hasil pemetaan, Kabupaten Toba Samosir merupakan wilayah yang didominasi oleh tingkat bahaya kebakaran kelas kerawanan sedang dengan luas 131.303,18 Ha, sedangkan kelas kerawanan tinggi seluas 27.581,85 Ha, kelas kerawanan rendah seluas 44.609,77 Ha, dan kelas kerawanan sangat rendah seluas 30.888,77 Ha. Sementara itu kelas kerawanan sangat tinggi tidak ditemukan pada wilayah ini. Hal ini dapat dilihat pada peta rawan kebakaran hutan dan lahan (Gambar 10) dan luasnya dapat dilihat pada tabel 15 dibawah ini.

Tabel 15. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Kelas Rawan Menurut Luasannya

Kecamatan

Luas Kebakaran Hutan dan Lahan

Berdasarkan Kelas Rawan Kebakaran (Ha) Luas

Total (Ha) Luas Total (%) Sangat Rendah Rendah Sedang/ Menengah Tinggi Ajibata 28,66 269,07 4.897,19 − 5.194,92 2,22 Balige 11.364,50 536,33 4.645,22 − 16.546,05 7,06 Bonatua Lunasi 788,93 3.192,92 3.961,76 − 7.943,61 3,39 Borbor 2.032,11 8.202,00 17.579,55 20.637,28 48.450,93 20,67 Habinsaran 1.964,21 7.707,84 23.661,65 − 33.333,70 14,22 Laguboti 3.340,29 15,65 4.727,41 − 8.083,34 3,45 Lumbanjulu 22,24 4.772,49 8.585,40 − 13.380,13 5,71 Nassau 184,97 12.028,80 14.065,28 6.944,57 33.223,62 14,17 Parmaksian 995,39 − 1.771,29 − 2.766,67 1,18 Pintu Pohan Meranti 372,40 7.534,90 24.299,38 − 32.206,68 13,74 Porsea 1.860,43 − 2.072,98 − 3.933,41 1,68 Siantar Narumonda 867,26 − 2.620,30 − 3.487,56 1,49 Sigumpar 1.070,53 − 1.212,40 − 2.282,94 0,97 Silaen 1.822,57 − 9.137,62 − 10.960,19 4,68 Tampahan 3.961,33 349,78 1.996,40 − 6.307,51 2,69 Uluan 212,98 − 6.069,35 − 6.282,33 2,68

Luas Total (Ha) 30.888,77 44.609,77 131.303,18 27.581,85 234.383,56 100,00

Di bawah ini dapat dilihat peta rawan kebakaran hutan dan di Kabupaten Toba Samosir.

Berdasarkan hasil pemetaan, secara umum sebaran hotspot umumnya terjadi pada wilayah atau zona dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan sedang/menengah, sedangkan pada zona tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan sangat rendah hanya ditemukan satu hotspot saja. Hal ini menunjukkan bahwa zona bahaya kebakaran hutan dan lahan yang dibuat mempunyai hubungan yang positif atau cukup erat dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan tabel di atas, kebakaran hutan dan lahan yang paling berpotensi terdapat di Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba Samosir. Hal ini ditandai dengan adanya sejumlah hotspot yang ditemukan di kecamatan tersebut. Luasan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Borbor ini seluas 20.637,28 Ha. Kecamatan Borbor memiliki kelas kerawanan tinggi kebakaran hutan dan lahan karena daerah ini memiliki suhu udara yang tinggi, kecepatan angin yang tinggi, tutupan lahannya berupa semak belukar, hutan lahan kering sekunder dan pertanian lahan kering serta lokasinya dekat dengan pemukiman. Apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini maka kebakaran tersebut akan sulit dipadamkan karena akses untuk memasuki daerah pada Kecamatan Borbor ini sangat sulit karena topografinya terjal.

Kebakaran hutan dan lahan yang juga berpotensi besar terjadi di Kecamatan Nassau. Luasan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Nassau ini seluas 6.944,57Ha. Pada Kecamatan Nassau juga terdapat kelas kerawanan kebakaran yang tinggi. Hal ini dikarenakan pada kecamatan ini suhu udara dan kecepatan anginnya tinggi, tutupan lahannya yaitu semak belukar, pertanian lahan kering dan hutan lahan kering sekunder serta lokasi pemukiman yang dekat dengan tutupan lahan tersebut. Topografi di daerah ini juga terjal

sehingga apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini maka kebakaran tersebut akan sulit dipadamkan karena akses untuk memasuki daerah pada Kecamatan Nassau ini sangat sulit.

Kecamatan Habinsaran juga merupakan kecamatan yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Luas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini seluas 23.661,65Ha (kelas rawan sedang). Kebakaran yang terjadi di daerah ini disebabkan oleh curah hujan yang rendah, tutupan lahannya berupa hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering, semak belukar serta ada beberapa lokasi yang dekat dengan pemukiman. Sedangkan faktor kebakaran lain seperti kecepatan angin dan suhu udara pada kecamatan ini rendah, sehingga kecamatan ini didominasi oleh tingkat rawan kebakaran hutan dan lahan sedang/menengah.

Hampir seluruh Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh tingkat rawan kebakaran hutan dan lahan sedang/menengah. Akan tetapi untuk daerah yang paling kecil tingkat rawan kebakaran hutan dan lahannya yaitu Kecamatan Lumbanjulu dengan luas daerah rawan kebakaran seluas 22,24 Ha. Hal ini disebabkan, pada kecamatan ini suhu udara dan kecepatan anginnya rendah sehingga bahan bakar akan sulit terbakar, elevasinya tinggi sehingga api tidak mudah menjalar.

Perbedaan kelas rawan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada seluruh kecamatan di Kabupaten Toba Samosir tidak hanya dapat dilihat pada satu parameter (faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan) saja, karena semua parameter akan saling mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Masing-Masing Faktor Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir

Dokumen terkait