BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1.2 Tuturan Imperatif Pasif
Tuturan imperatif pasif ditandai dengan tuturan yang mengandung makna konotasi bahwa orang ketigalah yang diminta melakukan sesuatu, bukannya orang kedua (Rahardi, 2005:90). Di bawah ini beberapa contoh tuturan imperatif pasif yang diucapkan oleh dosen kepada mahasiswa.
(12) Do :Kalau lebih dikembalikan ya! (9/P1/TMB/25-02/III)
Ma : Iya bu. (Menerima teks yang dibagikan dosen, kemudian memperhatikan apakah ada yang lebih.)
Konteks: Dosen membagikan teks bacaan kepada mahasiswa untuk dijadikan referensi tugas.
(13) Do :Sudah selesai? Yang sudah boleh dikumpulkan!
(17/P1/TMB/25-02/III)
Ma : Belum bu. (Sahut mahasiswa sementara lanjut
45
Konteks: Dituturkan saat jam perkuliahan segera selesai, mahasiswa yang sudah menyelesaikan tugasnya satu persatu maju untuk mengumpulkan tugas. Sementara yang belum selesai, lanjut mengerjakan tugas dengan sesekali melihat jam tangan.
(14) Do :Silakan dianalisis teks pertama! (25/P2/TMB/25-02/IV) Ma :(Mengamati teks yang ditampilkan pada slide dan
menganalisisnya)
Konteks: Dosen menampilkan teks pada slide dan meminta mahasiswa untuk menganalisisnya.
Tuturan (12), (13), dan (14) tergolong tuturan imperatif pasif karena menggunakan diatesis pasif dan verbanya mendapatkan prefiks di-. Tuturan (12) menggunakan kata dikembalikan sebagai verba pasif. Tuturan ini dituturkan oleh dosen untuk mengingatkan mahasiswa bagaimana cara mengerjakan tugas yang diberikan. Tuturan (13) ditandai dengan penggunaan verba pasif berupa kata
dikumpulkan. tuturan (13) dituturkan pada akhir pembelajaran, saat dosen
memberi tugas pada mahasiswa dan meminta satu persatu untuk mengumpulkan tugasnya ke depan. Tuturan (14) tergolong imperatif pasif yang ditandai dengan penggunaan kata silakan, dan terdapat verba pasif berupa kata dianalisis sebagai penanda imperatif pasif. Dosen menampilkan beberapa teks pada slide, kemudian meminta mahasiswanya untuk menganalisis setiap teks yang ditampilkan.
Melalui tuturan (12), (13), dan (14) di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa imperatif pasif dibentuk dengan menggunakan verba yang mendapatkan prefiks di-. Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2005:90-91). Keselarasan teori Rahardi dengan tuturan imperatif pasif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat dari tuturan (12), (13), dan (14).
Berdasarkan peranya, tuturan imperatif pasif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa adalah (a) Tuturan imperatif pasif objektif (penderita), (b) Tuturan imperatif pasif benefaktif (pengguna atau yang menggunakan), (c) Tuturan imperatif pasif reseptif (penerima), dan (d) Tuturan imperatif pasif lokatif (tempat).
a. Tuturan Imperatif Pasif Objektif (Penderita)
Beberapa contoh tuturan imperatif pasif objektif yang ditemukan dalam tuturan dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat di bawah ini.
(15) Do :Selanjutnya silakan dibaca kelompok 2! (103/P7/D/28-02/I)
Ma :(Salah satu mahasiswa perwakilan dari kelompok 2 segera membaca hasil diskusi kelompoknya.)
Konteks: Dosen memberi kesempatan kepada kelompok dua untuk mengkomunikasikan hasil kerja kelompoknya.
(16) Do :Silakan diambil! (60/P5/TMN/27-02/I1)
Ma :(Satu persatu mahasiswa maju dan mengambil nomor undian yang telah disiapkan oleh dosen.)
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa untuk maju mengambil nomor, karena dari tadi belum ada yang maju.
(17) Do :Selanjutnya, silakan analisis struktur dari teks ini! (25/P2/TMB/25- 02/IV)
Ma :(Mahasiswa segera membaca dan menganalisis struktur dari teks yang ditampilkan oleh dosen.)
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa untuk menganalisis sebuah teks.
(18) Do :Kuliah yang terakhir sudah sampai di sini, ayo coba diingat! (32/P3/AKF/26-02/I1)
Ma :(Mahasiswa sibuk membuka buku catatannya masing-masing)
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa untuk mengingat kembali materi yang sudah pernah disampaikan sebelumnya.
(19) Do :Mestinya kalimatnya ditulis sambung, tidak ditulis satu-satu! (42/P3/AKF/26-02/I1)
Ma : (Menghapus kembali apa yang telah ditulis pada papan
tulis, dan bermaksud untuk menulis kembali seperti apa yang dimaksud oleh dosen.)
47
Do : Tidak usah dihapus, lanjutkan saja. Saya hanya ingin memberitahu kalian.
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswanya untuk menulis contoh dalam bentuk paragraf, namun mahasiswa menulis dalam bentuk poin. Salah satu mahasiswa inisiatif untuk menulis kembali seperti apa yag dimaksudkan oleh dosen, namun dosen melarangnya dan menyuruh untuk melajutkan apa yang telah mahasiswa tulis.
(20) Do :Tugas seperti biasa, dikumpulkan tepat pada waktu! (44/P3/AKF/26-02/I1)
Ma : Baik bu.
Konteks: Dosen memberikan tugas kepada mahasiswa, dan menyuruh mahasiswa untuk mengumpulkan tugas tepat pada waktu yang ditentukan.
Tuturan imperatif pasif (15) sampai (20) tergolong tuturan imperatif pasif objektif karena isinya merujuk kepada seseorang (lawan tutur) yang diberi perintah melakukan suatu hal oleh orang lain (penutur). Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2000:92) yang mengatakan bahwa tuturan imperatif pasif objektif adalah sebagai penderita atau orang yang dimintai untuk melakukan sesuatu kepada diri sendiri atau orang lain. Dalam hal ini, tuturan (15) dituturkan oleh penutur (dosen) yang memberi perintah kepada lawan tutur (Kelompok 2) untuk membacakan hasil pekerjaannya dalam kelompok kepada kelompok yang lainnya. Sedangkan dalam tuturan (16), penutur (dosen) menyuruh lawan tutur (mahasiswa) maju secara bergantian untuk mengambil nomor undian teks yang akan dijadikan tugas.
Tuturan (17) dituturkan oleh penutur (dosen) kepada lawan tutur (mahasiswa) setelah selesai menampilkan sebuah teks pada slide, dan meminta lawan tutur untuk menganalisis teks tersebut. Dalam tuturan (18), penutur (dosen) memberikan pertanyaan kepada lawan tutur (mahasiswa), akan tetapi belum ada satupun dari mereka yang mampu menjawab pertanyaan dari penutur. Sehingga
penutur menyuruh lawan tutur untuk mencoba mengingat kembali materi yang telah disampaikan sebelumnya, dengan harapan lawan tutur akan mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh penutur.
Tuturan (19) dituturkan oleh penutur ketika lawan tutur selesai menulis tuturan pada papan tulis. Penutur menyuruh lawan tutur untuk menulis tuturan pada papan tulis dalam bentuk paragraf, akan tetapi lawan tutur tidak menerima dengan baik perintah yang disampaikan oleh penutur sehingga lawan tutur menulis paragraf dalam bentuk poin. Dalam tuturan (20) penutur menyuruh lawan tutur untuk mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Berdasarkan konteks tuturanan, yang menjadi objektif atau penderita dalam tuturan imperatif objektif (15) sampai (20) adalah mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
Dilihat dari penjelasan di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa, imperatif pasif objektif adalah tuturan yang isinya merujuk kepada seseorang (mitra tutur) yang diberi perintah oleh orang lain (penutur) untuk melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan oleh penutur. Mitra tutur dijadikan sebagai penderita, dimana lawan tutur melakukan suatu hal yang diinginkan oleh penutur tanpa mempertimbangkan keinginan mitra tutur. Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2005:92). Keselarasan teori Rahardi (2005) dengan tuturan pasif objektif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat dari tuturan berikut: (15) Selanjutnya silakan dibaca
kelompok 2!, (16) Silakan diambil!, (17) Selanjutnya, silakan analisis struktur dari teks ini!, (18) Kuliah yang terakhir sudah sampai di sini, ayo coba diingat!,
49
(19) Mestinya kalimatnya ditulis sambung, tidak ditulis satu-satu!, (20) Tugas seperti biasa, dikumpulkan tepat pada waktu!.
b. Tuturan imperatif pasif benefaktif (pengguna atau yang menggunakan)
Contoh tuturan imperatif pasif benefaktif (pengguna atau yang menggunakan) yang ditemukan dalam tuturan dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat di bawah ini.
(21) Do :Coba ditampilkan! (200/P12/TMB/04-03/IV)
Ma :(Mahasiswa menampilkan contoh teks eksemplum yang
diminta oleh dosen)
Konteks: Dosen meminta kelompok yang bertugas presentasi untuk menampilkan contoh-contoh dari teks Eksemplum.
(22) Do :Tolong sampaikan salam dari bu Atik, bilang kalau ibu ingin bertemu dia! (272/P19/IBM/15-03/I)
Ma : Baik ibu, akan saya sampaikan pada dia.
Konteks: Dosen meminta bantuan pada seorang mahasiswa untuk menyampaikan pesannya pada mahasiswa yang tidak pernah masuk kelas.
(23) Do :Mana coba strukturnya, sekalian ditampilkan! (204/P12/TMB/04-03/IV)
Ma :(Mahasiswa menampilkan struktur teks pada slide.)
Konteks :Dosen menyuruh kelompok presentasi untuk menampilkan hasil analisis struktur teks pada slide agar kelompok yang lain dapat mengetahuinya.
Tuturan (21), (22) dan (23) termasuk tuturan imperatif pasif benefaktif karena secara leksikal, konstituen pasif memiliki watak yang berwujud afiks –kan. Dalam tuturan di atas, verba yang digunakan mendapat prefiks di- dan afiks -kan. Dalam tuturan (21), penutur (dosen) meminta mitra tutur (mahasiswa yang sedang melakukan presentasi) untuk menampilkan contoh teks eksemplum agar penutur bisa melihat dan membacanya. Sedangkan dalam tuturan (22), penutur (dosen) meminta mitra tutur (mahasiswa) untuk menyampaikan pesannya kepada
mahasiswa lain yang tidak masuk kuliah, agar sesegera mungkin dapat menemui penutur karena penutur ingin bertemu dia (mahasiswa yang tidak masuk kuliah).
Dalam tuturan (23), setelah penutur (dosen) meminta mitra tutur (mahasiswa yang sedang melakukan presentasi) untuk menampilkan teks, penutur juga meminta mitra tutur untuk menampilkan hasil analisis struktur teks yang telah mereka kerja. Bukan hanya teks yang ditampilkan, akan tetapi hasil analisis strukturnya juga ikut serta.
Berdasarkan tuturan (21), (22), dan (23) dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa, tuturan imperatif pasif benefaktif ditandai dengan adanya konstituen pasif berwujud afiks –kan. Dalam tuturan imperatif pasif objektif mitra tuturlah yang menjadi pusat pembicaraan atau yang disebut sebagai penderita, sedangkan dalam tuturan imperatif pasif benefaktif penuturlah yang menjadi pusat pembicaraan atau yang disebut sebagai pengguna atau yang menggunakan. Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2005:92). Keselarasan teori Rahardi (2005) dengan tuturan pasif benefaktif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat dari tuturan berikut: (21) Coba
ditampilkan!, (22) Tolong sampaikan salam dari bu Atik, bilang kalau ibu ingin bertemu dia!, dan (23) Mana coba strukturnya, sekalian ditampilkan!.
c. Tuturan imperatif pasif reseptif (penerima)
Contoh tuturan imperatif pasif reseptif (penerima) yang ditemukan peneliti dalam penelitian mengenai tuturan dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat di bawah ini.
51
(24) Do :Minggu depan kalian ditugaskan membuat teks deskriptif serta dengan gambar! (255/P16/TMN/06-03/II) Ma : Individu atau kelompok bu?
Do : Individu. Gambarnya tidak boleh dari google ya. Konteks: Dosen memberitahu tugas yang harus dikumpulkan minggu depan kepada mahasiswa, karena dosen akan izin meninggalkan kelas lebih dahulu.
(25) Do :Perlu kalian ketahui itu cetak bolak-balik ya, jadi jangan kalian pikir hanya satu!( 11/P1/TMB/25-02/III) Ma : Iya bu. (Membolak balik teks yang diterima dari
dosen, untuk memastikan apakah teks tersebut lengkap atau tidak.)
Konteks: Dosen mengingatkan mahasiswa terkait teks yang sudah dibagikan.
(26) Do :Yang belum selesai dalam waktu 30 menit, harus diasa lagi kemampuan membaca sekilasnya ya! (19/P1/TMB/25-02/III)
Ma : Sudah bu. (Menjawab dosen, sambil merapikan
pekerjaanya dan mengumpulkan pada meja dosen.)
Konteks: Dituturkan oleh seorang dosen pada mahasiswanya saat mengerjakan tugas mata kuliah terampil membaca. Beberapa mahasiswa belum menyelesaikan tugasnya dari waktu yang telah ditentukan.
(27) Do :Silakan didorong! (71/P6/SBPOP/27-02/V)
Ma :(Seorang mahasiswa mencoba membuka pintu
kelas, agar bisa masuk karena sudah datang terlambat)
Konteks: Dituturkan oleh dosen saat seorang mahasiswa yang datang terlambat dan hendak masuk kelas tetapi pintu sudah ditutup.
(28) Do :Oh ya, hasil dikumpulkan pada saya! (107/P7/D/28-02/I)
Ma : Belum disalin bu, masih pada kertas sepotong. Do : Tidak apa-apa dikumpulkan saja.
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa untuk mengumpulkan hasil diskusi, namun beberapa kelompok belum menyalin hasil diskusi pada buku tugas.
(29) Do :Ditulis dulu korektornya! (115/P8/IBM/01-03/I) Ma : Iya bu. (Menjawab dosen, sambil menulis korekstor pada lembar jawaban teman)
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa untuk menulis korektor pada pekerjaan temannya masing-masing, sebelum mulai memeriksa.
(30) Do :Saya absen ya, nanti sekalian tugasnya dikumpul! Ma :Iya bu. (Mahasiswa membuka tugasnya
Konteks: Dosen meminta mahasiswa untuk maju satu persatu mengumpulkan tugas.
Tuturan (24) sampai (30) termasuk tuturan imperatif pasif reseptif karena verbanya menggunakan prefiks di- dan isinya merujuk pada seseorang yang memberi saran kepada orang lain untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang diinginkan oleh penutur. Dalam tuturan (24), penutur(dosen) memberi tugas kepada mitra tutur (mahasiswa) untuk membuat teks deskripsi beserta gambarnya. Tuturan (24) dituturkan ketika penutur hendak meninggalkan kelas lebih awal, karena ada kepeluan penting di luar kelas. Sedangkan (25) dituturkan ketika penutur selesai memberikan teks yang berisi tugas, dan mitra tutur sudah mulai mengerjakannya. Penutur bermaksud memberitahu mitra tutur, agar tidak ada soal yang terlewatkan begitu saja.
Tuturan (26) dituturkan pada saat penutur (dosen) memberikan tugas kepada mitra tutur pada mata kuliah terampil membaca dan waktunya hampir selesai, akan tetapi masih ditemukan begitu banyak yang belum mengumpulkan tugasnya. Sebagian mitra tutur masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Dalam tuturan (27), tuturan “silakan didorong,” dituturkan pada saat penutur sedang menyampaikan materi di depan kelas, dan salah satu mahasiswa yang datang terlambat berusaha membuka pintu untuk masuk kelas. Penutur merasa sedikit terganggu dengan bunyi pintu tersebut, sehingga penutur memutuskan untuk berhenti sejenak menjelaskan materi hingga mitra tutur (mahasiswa yang terlambat) masuk ke dalam kelas.
Tuturan (28) disampaikan saat proses perkuliahan akan berakhir, penutur meminta mitra tutur untuk mengumpulkan hasil diskusi kelompok kepada
53
penutur. Ketika mendengar hal tersebut, mitra tutur langsung menyerahkan hasil diskusi pada penutur. Dalam tuturan (29), penutur menyampaikan kepada mitra tutur agar terlebih dahulu menulis korektor pada lembar jawaban teman, sebelum mulai memeriksa. Sedangkan tuturan (30), dituturkan pada saat pembukaan perkuliahan. penutur menyuruh mahasiswa untuk maju satu persatu mengumpulkan tugasnya di depan kelas, ketika penutur melakukan absensi pada mitra tutur.
Berdasarkan tuturan (24) sampai (30) dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tuturan imperatif pasif reseptif adalah tuturan yang verbanya menggunakan prefiks di-, serta isinya merujuk pada seseoraang (penutur) yang memberi saran kepada orang lain (lawan tutur) untuk melakukan sesuatu guna untuk kepentingan mitra tutur itu sendiri. Mitra tutur di sini sebagai penerima, sedangkan penutur sebagai pemberi saran atau nasihat. Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2005:92). Keselarasan teori Rahardi (2005) dengan tuturan pasif reseptif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat dari tuturan berikut: (24) Minggu depan kalian ditugaskan membuat teks deskriptif serta dengan gambar!, (25) Perlu kalian ketahui itu cetak bolak-balik ya, jadi jangan kalian pikir hanya satu!, (26) Yang belum selesai dalam waktu 30 menit, harus diasa lagi kemampuan membaca sekilasnya ya!, (27) Silakan didorong!, (28) Oh ya, hasil dikumpulkan pada saya!, (29) Ditulis dulu korektornya!, dan (30) Saya absen ya, nanti sekalian tugasnya dikumpul!
d. Tuturan imperatif pasif lokatif (tempat)
Berikut disajikan contoh tuturan imperatif pasif lokatif (tempat) yang ditemukan peneliti dalam penelitian mengenai tuturan dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat di bawah ini.
(31) Do :Tolong ambil spidol di meja bu Atik! (269/P19/IBM/15-03/I)
Ma :Mejanya yang mana ya bu?
Do :Ada yang tau ga meja bu Atik yang mana? (Bertanya pada mahasiswa yang mengetahui meja dari dosen yang disebutkan namanya.)
Konteks : Dosen menyuruh seorang mahasiswa untuk mengambil spidol di ruangan dosen, karena spidol di kelas tintanya sudah habis.
(32) Do :Kamu yah, nanti kembalikan bolongan ke TU yah! (260/P16/TMN/06-03/II)
Ma : Iya bu. (Menerima bolongan yang diserahkan oleh dosen)
Konteks: Dosen menyuruh salah seorang mahasiswi untuk kembalikan bolongan ke TU.
(33) Do :Eh kamu sekalian ambil kuarto di TU! (261/P16/TMN/06-03/II)
Ma : Ambil berapanya bu.
Do : Sesuai dengan jumlah kalian saja.
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa yang hendak ke ruangan dosen, untuk sekalian mengambil kuarto di TU.
(34) Do :Berarti anda tidak mendengarkan, yok maju ke depan yang paling belakang! (281/P20/TBABSI/15-03/II) Ma :(Mahasiswa yang duduk paling belakang, maju dan duduk pada bangku paling depan.)
Konteks :Dosen menyuruh mahasiswa yang duduk paling belakang untuk mengisi tepat duduk yang kosong pada bagain depan.
(35) Do :Yang belum dapat kelompok yok maju! (282/P20/TBABSI/15-03/II)
Ma : (Setelah mendengarkan tuturan dari dosen, mahasiswa yang belum mendapatkan kelompok langsung maju.)
Konteks: Dosen menyuruh mahasiswa yang belum dapat kelompok untuk maju ke depan.
55
Tuturan (31) sampai (35) termasuk tuturan imperatif pasif lokatif karena isinya merujuk pada suatu tempat yang dituju, agar mitra tutur melakukan sesuatu hal sebagaimana yang diinginkan oleh penutur. Dalam tuturan (31), dosen (penutur) menyuruh salah satu mahasiswa (mitra tutur) untuk mengambil spidol di mejanya (penutur). Tempat yang dituju berupa meja dari bu Atik (penutur). Sama halnya dengan tuturan (32), dosen meminta bantuan kepada mitra tutur untuk mengembalikan bolongan yang telah dipinjam pada TU. Unsur tempat yang dimaksud di sini adalah ruangan TU (Tata Usaha).
Tuturan (33) dituturkan oleh penutur atau dosen kepada lawan tutur (mahasiswa) yang hendak ke TU, penutur meminta bantuan lawan tutur untuk sekalian mengambil kertas kuarto di TU. Tempat yang menjadi penanda lokatifnya adalah ruang TU. Dalam tuturan (34), penutur menyuruh mitra tutur yang duduknya paling belakang di dalam kelas, untuk maju dan menempati kursi yang kosong paling depan. Hal tersebut dilakukan, karena mitra tutur tidak mendengar dengan baik apa yang disampaikan oleh penutur. Tuturan (35) dituturkan oleh penutur saat selesai membagi kelompok di dalam kelas, akan tetapi masih ada yang belum mendapatkan kelompok. Sehingga, penutur menyuruh yang belum mendapatkan kelompok untuk maju. Kata maju pada tuturan “Yang belum dapat kelompok yok maju!” menandakan tempat. Mitra tutur diminta untuk maju dan berdiri di depan kelas. Penggunaan kata depan -di pada tuturan di atas menunjukkan tempat, sudah mampu membuktikan bahwa tuturan tersebut tergolong kalimat imperatif pasif lokatif. Hal ini selaras dengan pendapat Rahardi (2005:92). Keselarasan teori Rahardi (2005) dengan tuturan pasif lokatif
yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dapat dilihat dari tuturan berikut: (31) Tolong ambil spidol di meja
bu Atik!, (32) Kamu yah, nanti kembalikan bolongan ke TU yah!, (33) Eh kamu sekalian ambil kuarto di TU!, (34) Berarti anda tidak mendengarkan, yok maju ke depan yang paling belakang!, dan (35) Yang belum dapat kelompok yok maju!
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, ditemukan 148 tuturan imperatif pasif dengan rincian 76 pasif objektif, 64 pasif reseptif, 3 pasif benefaktif, dan 5 pasif lokatif. Dari kelima macam tuturan imperatif pasif yang dikemukakan oleh Rahardi (2005:92), hanya terdapat empat macam imperatif pasif yang digunakan dosen saat proses pembelajaran yaitu (1) imperatif pasif objektif, (2) imperatif pasif benefaktif, (3) imperatif pasif reseptif, dan (4) imperatif pasif lokatif.
Akan tetapi, tuturan imperatif pasif menjadi wujud formal imperatif yang paling sering digunakan oleh dosen dalam proses perkuliahan. Berdasarkan tuturan (31) sampai (35) dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa imperatif pasif lokatif adalah tuturan yang isinya merujuk pada suatu tempat yang menjadi tujuan dari pembicaraan seseorang (penutur) kepada orang lain (mitra tutur).
4.2.2 Maksud Tuturan Imperatif para Dosen Kepada Mahasiswa PBSI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Tuturan yang dituturkan oleh penutur kepada lawan tutur memiliki maksud tertentu. Akan tetapi, tidak semua maksud yang disampaikan oleh penutur dipahami dengan baik oleh mitra tutur. Penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus dan bagaimana konteks itu berpengaruh
57
terhadap apa yang dikatakan (Yule, 2014:3). Dalam menafsirkan maksud suatu tuturan diperlukan pemahaman terhadap konteks dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Yule (2014:3) menyatakan bahwa, maksud adalah analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri.
Berdasarkan paparan teori di atas, peneliti menggunakan teori Yule (2014:3) sebagai acuan dalam menganalisis maksud tuturan yang dituturkan oleh dosen sebagai penutur kepada mahasiswa sebagai mitra tutur. Maksud tuturan imperatif yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa dapat dilihat dari konteks yang melatarbelakangi tuturan tersebut diucapkan. Berikut beberapa maksud tuturan imperatif yang digunakan oleh dosen kepada mahasiswa PBSI dalam proses perkuliahan.