BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.7 Uji Aktivitas Antioksidan secara Kuantitatif
Pengujian aktivitas antioksidan secara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Metode DPPH ini
dipilih karena merupakan metode yang sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam (Molyneux, 2004).
Prinsip pengukuran aktivitas antioksidan secara kuantitatif menggunakan metode DPPH ini adalah adanya perubahan intensitas warna ungu DPPH yang sebanding dengan konsentrasi larutan DPPH tersebut. Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan akan memberikan warna ungu. Warna akan berubah menjadi kuning saat elektronnya berpasangan. Perubahan intensitas warna ungu ini terjadi karena adanya peredaman radikal bebas yang dihasilkan oleh bereaksinya molekul DPPH dengan atom hidrogen yang dilepaskan oleh molekul senyawa sampel sehingga terbentuk senyawa Difenil pikril hidrazin dan menyebabkan terjadinya peluruhan warna DPPH dari ungu ke kuning. Perubahan warna ini akan memberikan perubahan absorbansi pada panjang gelombang maksimum DPPH menggunakan spektrofotometri UV-Vis sehingga akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan dengan nilai IC50 (Inhibitory concentration) (Molyneux, 2004).
Nilai IC50 didefinisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang
dapat meredam radikal bebas sebanyak 50%. Semakin kecil nilai IC50 maka
aktivitas peredaman radikal bebas semakin tinggi (Molyneux, 2004). Nilai AAI (Antioxidant activity index) ditentukan untuk menggolongkan sifat antioksidan ekstrak sebagaimana yang dilakukan oleh Scherer dan Godoy (2009). Nilai AAI diperoleh dengan membandingkan konsentrasi DPPH yang digunakan dalam uji dengan nilai IC50 yang diperoleh.Pengujian aktivitas antioksidan secara kuantitatif
ekstrak air, ekstrak etanol 70%, beserta kontrol positif vitamin C dilakukan dengan berbagai seri konsentrasi menggunakan metode DPPH yang selanjutnya absorbansinya diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Pengukuran absorbansi ekstrak dengan DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis sebelumnya dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum DPPH. Panjang gelombang maksimum DPPH yang digunakan berada pada panjang gelombang 515,5 nm (Lampiran 9). Panjang gelombang maksimum ini memberikan serapan paling maksimal dari larutan uji dan memberikan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
kepekaan paling besar. Selanjutnya, besarnya aktivitas antioksidan dari ekstrak dan kontrol positif yang digunakan diukur pada panjang gelombang maksimum. Hasil uji aktivitas antioksidan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 70% Kulit Batang
Lannea coromandelica Konsentrasi (ppm) Absorbansi Rata-rata % Inhibisi (%) IC50 AAI 5 0,2950 23,3766 7,1122 ppm 5,5679 (>2 atau sangat kuat) 10 0,1786 53,6104 15 0,1170 69,6103 20 0,0720 81,2987 25 0,0313 91,8701
Tabel 4.4. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Air Kulit Batang Lannea coromandelica Konsentrasi (%) Absorbansi Rata-rata % Inhibisi (%) IC50 AAI 0,03 0,3493 37,5134 0,0594 % 0,0667 (<0,5 atau lemah) 0,05 0,3080 44,9016 0,12 0,1187 78,7656 0,15 0,0690 87,6565
Tabel 4.5. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Vitamin C
Konsentrasi (ppm) Absorbansi Rata-rata % Inhibisi (%) IC50 AAI 2 0,5237 40,0801 4,1141 ppm 9,6254 (>2 atau sangat kuat) 4 0,4273 51,1098 6 0,3747 57,1281 8 0,2923 66,5561 10 0,1670 80,8924
Pengujian aktivitas antioksidan yang dilakukan terhadap ekstrak etanol 70% diperoleh nilai IC50 7,1122 ppm dengan nilai AAI 5,5679. Ekstrak air
memiliki nilai IC50 0,0594% dengan nilai AAI 0,0667. Vitamin C sebagai kontrol
positif memiliki nilai IC50 4,1141 ppm dengan nilai AAI 9,6254. Nilai AAI
y = 2,5294x + 29,834 R² = 0,9902 0 20 40 60 80 100 5 10 15 20 25 30 % I n h ib isi
Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi
Ekstrak Etanol 70% Kulit Batang Lannea coromandelica
menandakan antioksidan lemah, nilai AAI diantara 0,5 sampai 1 menandakan antioksidan sedang, nilai AAI diantara 1 sampai 2 menandakan antioksidan kuat, dan nilai AAI lebih dari 2 menandakan antioksidan yang sangat kuat (Vasic, Stefanovic, Licina, Radojevic & Comic, 2012). Berdasarkan penggolongan tersebut, ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, sedangkan ekstrak air memiliki aktivitas antioksidan yang lemah. Vitamin C sebagai kontrol positif juga memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Berdasarkan analisis stastistik menggunakan program IBM SPSS 22 One Way Anova, besarnya antioksidan ekstrak etanol 70% berbeda secara bermakna dengan besarnya aktivitas antioksidan vitamin C. Perbedaan bermakna ini diartikan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan lebih lemah dibandingkan vitamin C.
Vitamin C merupakan antikosidan yang bekerja sebagai oxygen scavengers, yaitu mengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi oksidasi. Dalam hal ini, vitamin C akan mengadakan reaksi dengan oksigen yang berada dalam sistem sehingga jumlah oksigen akan berkurang. Selain vitamin C, senyawa yang bekerja sebagai oxygen scavengers diantaranya askorbilpalminat, asam eritorbat, dan sulfit (Gordon, 1990).
Peningkatan konsentrasi senyawa mempengaruhi aktivitas antioksidannya. Kurva hubungan konsentrasi ekstrak terhadap persen inhibisi sebagai persen penghambatan radikal bebas DPPH dari ekstrak etanol 70%, ekstrak air, dan kontrol positif vitamin C dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4.1. Kurva Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi Ekstrak Etanol 70% Kulit Batang Lannea coromandelica
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta y = 433,86x + 24,247 R² = 0,9946 0 20 40 60 80 100 0 0,05 0,1 0,15 0,2 % I n h ib isi Konsentrasi (%) Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi Ekstrak Air Kulit Batang Lannea coromandelica
Gambar 4.2. Kurva Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi Ekstrak Air Kulit Batang
Lannea coromandelica
Gambar 4.3. Kurva Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi Vitamin C
Kurva di atas diperoleh dengan menggunakan regresi linier pada aplikasi pengolah data microsoft excel 2010. Koefisien y pada persamaan linier bernilai 50 merupakan koefisien IC50, sedangkan koefisien x pada persamaan linier ini
merupakan konsentrasi ekstrak yang akan dicari nilainya, dimana x yang diperoleh merupakan besarnya konsentrasi yang diperlukan untuk dapat meredam 50% aktivitas radikal DPPH. Nilai R2 menggambarkan linieritas konsentrasi terhadap % inhibisi. Nilai R2 yang mendekati +1 (bernilai positif) menandakan bahwa dengan semakin meningkatnya konsentrasi ekstrak, semakin meningkat pula aktivitas antioksidannya. Hal ini berkaitan dengan jumlah senyawa metabolit sekunder yang terlarut di dalam ekstrak dan memiliki aktivitas antioksidan. y = 4,8535x + 30,032 R² = 0,9816 0 20 40 60 80 100 0 2 4 6 8 10 12 % I n h ib isi Konsentrasi (ppm) Hubungan Konsentrasi dan % Inhibisi
Aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol yang tergolong sangat kuat berhubungan dengan kandungan metabolit sekunder yang dikandungnya. Flavonoid merupakan antioksidan eksogen yang mengandung gugus fenolik dan telah dibuktikan bermanfaat dalam mencegah kerusakan sel akibat stres oksidatif. Mekanisme kerja dari flavonoid sebagai antioksidan dapat secara langsung maupun secara tidak langsung. Flavonoid sebagai antioksidan secara langsung adalah dengan mendonorkan ion hidrogen sehingga dapat menstabilkan radikal bebas yang reaktif (Saija, et al., 1995; Arora, et al.,1998) dan bertindak sebagai
scavenger/penangkal radikal bebas secara langsung (Arora, et al.,1998; Nijveldt,
et al., 2001). Flavonoid sebagai antioksidan secara tidak langsung bekerja di dalam tubuh dengan meningkatkan ekspresi gen antioksidan endogen melalui beberapa mekanisme seperti peningkatan ekspresi gen antioksidan melalui aktivasi nuclear factor eryhtrid 2 related factor 2 (Nrf2) sehingga terjadi peningkatan gen yang berperan dalam sintesis enzim antioksidan endogen seperti SOD (superoxide dismutase) (Sumardika, Jawi, 2012).
Selain itu, Sahidi (1997) mengatakan bahwa komponen fenol dari tanaman merupakan konstituen yang berperan aktif sebagai antioksidan. Antioksidan senyawa fenolik dapat menghentikan atau menghambat tahapan inisiasi dengan cara bereaksi dengan radikal asam lemak atau menghambat propagasi dengan cara bereaksi dengan radikal peroksi atau radikal alkoksi. Oleh karena itu, semakin tinggi kandungan senyawa fenolik dalam ekstrak seperti tanin, antosianin, dan asam-asam fenolat akan memberikan efek penghambatan peroksida lebih besar.
4.8 Uji Toksisitas BSLT Ekstrak Etanol 70% dan Ekstrak Air Kulit