HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Analisis Data
4.3.2. Uji Asumsi Klasik
Analisa dilakukan dengan metode analisa regresi berganda. Sebelum dilakukan uji hipotesis, peneliti akan melakukan uji asumsi klasik. Pengujian ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi
data yang digunakan dalam penelitian sudah normal, serta bebas dari gejala multikolinearitas, heteroskedastitas serta autokorelasi. Menurut Ghozali (2005:123) asumsi klasik yang harus dipenuhi adalah :
• Berdistribusi normal
• Non-multikolinearitas, artinya antara variabel independen dalam model regresi tidak memiliki korelasi atau hubungan secara sempurna ataupun mendekati sempurna
• Non-autokorelasi artinya kesalahan pengganggu dalam model regresi tidak saling korelasi
• Homoskedasitas, artinya variance variabel independen dari satu pengamatan ke pengamatan yang lainya adalah konstan atau sama
1. Uji Normalitas
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Adapun uji normalitas dilakukan dengan dengan cara yaitu analisis grafik. Analisis grafik yang digunakan adalah grafik histogram. Data yang baik adalah data yang memiliki pola distribusi normal. Pada grafik histogram, data yang mengikuti / mendekati distribusi normal adalah distribusi data dengan bentuk lonceng. Berikut hasil uji normalitas dengan menggunakan analisa grafik :
Gambar 4.1.
Hasil Pengujian Normalitas dengan Grafik Histogram Kasus 1: Pengiriman Barang Lebih Awal
Sumber : Output SPSS 17, 2012 Gambar 4.2.
Hasil Pengujian Normalitas dengan Grafik Histogram Kasus 2: Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Sumber : Output SPSS 17, 2012
Dari grafik histogram terlihat bahwa variabel berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan oleh distribusi data tersebut tidak miring ke kiri atau ke kanan.
2. Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas bertujuan mengetahui ada tidaknya multikolinearitas antar variabel-variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi koreksi antar variabel independen. Deteksi dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan tolerance. Untuk melihat ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dapat dilihat dari :
a. Nilai tolerance dan lawannya b. Variance Inflation Factor
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi, nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF = 1/ tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance < 0.01 atau sama dengan VIF > 10.
Tabel 4.25
Hasil Uji Multikolinearitas Kasus 1: Pengiriman Barang Lebih Awal
Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 Keadilan .580 1.724 Deontologi .639 1.566 Relativisme .474 2.108 Egoisme .448 2.234 Utilitarianisme .431 2.318 Penyesalan .558 1.793 Kelegaan .512 1.955 Kepuasan .539 1.854
a. Dependent Variable: Ethical Judgement
Tabel 4. 26
Hasil Uji Multikolinearitas
Kasus 2 : Penyisihan Piutang Tak Tertagih Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 Keadilan .645 1.551 Deontologi .579 1.727 Relativisme .614 1.629 Egoisme .525 1.905 Utilitarianisme .584 1.711 Penyesalan .678 1.476 Kelegaan .715 1.399 Kepuasan .646 1.548
Sumber : Output SPSS 17, 201
Dari data pada tabel 4.25 dan tabel 4.26 diatas, dapat diketahui bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance yang besarnya diatas 0,1 dan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Maka dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedasitas bertujuan untuk menguji terjadinya perbedaan variance residual suatu periode pengamatan ke periode lain. Menurut Ghozali (2005:105) “Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain”. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara mendeteksi ada tidaknya gejala heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatterplott yang dihasilkan dari pengolahan data menggunakan program SPSS 17. Dasar pengambilan keputusannya menurut Ghozali (2005:105) adalah sebagai berikut :
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedasitas
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik menyebar di bawah angka 0 pada sumbu y maka tidak heteroskedasitas.
Gambar 4.3. Uji Heterokedastisitas
Kasus 1 : Pengiriman Barang Lebih Awal
Gambar 4.4. Uji Heterokedastisitas
Kasus 2 : Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa tidak ada pola yang jelas, dan titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal tersebut menandakan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.
4.3.3.Analisis Regresi Linear Berganda
Model regresi adalah model yang digunakan untuk menganalisis pengaruh dari berbagai variabel independen terhadap satu variabel dependen (Ferdinand, 2006).
Tabel 4.27
Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda Kasus 1 : Pengiriman Barang Lebih Awal
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.200 .689 1.742 .086 Keadilan .002 .058 .003 .028 .978 .580 1.724 Deontologi .100 .084 .126 1.183 .241 .639 1.566 Relativisme .071 .086 .103 .829 .410 .474 2.108 Egoisme .205 .104 .251 1.971 .053 .448 2.234 Utilitarianisme -.103 .127 -.105 -.810 .421 .431 2.318 Penyesalan .685 .178 .440 3.853 .000 .558 1.793 Kelegaan .086 .189 .054 .453 .652 .512 1.955 Kepuasan .220 .203 .126 1.083 .283 .539 1.854
a. Dependent Variable: Ethical Judgement
Tabel 4.28
Hasil Uji Analisis Linear Berganda Kasus 2 : Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.178 .778 1.515 .135 Keadilan .043 .062 .084 .695 .490 .645 1.551 Deontologi .131 .098 .169 1.327 .190 .579 1.727 Relativisme .014 .066 .027 .218 .829 .614 1.629 Egoisme .077 .107 .096 .719 .475 .525 1.905 Utilitarianisme .237 .129 .233 1.839 .071 .584 1.711 Penyesalan .138 .178 .091 .776 .441 .678 1.476 Kelegaan .093 .139 .077 .669 .506 .715 1.399 Kepuasan .363 .163 .268 2.230 .029 .646 1.548
a. Dependent Variable: Ethical Judgement
Sumber : Output SPSS 17, 2012
Dari hasil uji diatas, apabila dibuat persamaan dalam bentuk standardized coefficients adalah sebagai berikut :
1. Kasus Pengiriman Barang Lebih Awal
Y = 1,200 - 0,002 X1 + 0,100 X2 + 0,071 X3 + 0,205 X4 - 0,103 X5 + 0,685 X6 + 0,086 X7 + 0,220 X
2. Kasus Penyesuaian Piutang Tak Tertagih
8 Y = 1,178 + 0,043 X1 + 0,131 X2 + 0,014 X3 + 0,077 X4 + 0,237 X5 + 0,138 X6 + 0,093 X7 + 0,363 X Keterangan : 8 Y = Ethical Judgement
X1 X = Moral Keadilan 2 X = Moral Deontologi 3 X = Moral Relativisme 4 X = Moral Egoisme 5 X = Moral Utilitarianisme 6 X = Emosi Penyesalan 7 X = Emosi Kelegaan 8
Dari hasil analisis regresi diatas pada kasus pengiriman barang lebih awal dapat disimpulkan bahwa variabel bebas moral keadilan (X
= Emosi Kepuasan
1) mempunyai pengaruh negatif sebesar 0,002 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral deontologi (X2) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,100 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral relativisme (X3) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,071 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral egoisme (X4) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,205 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral utilitarianisme (X5) mempunyai pengaruh negatif sebesar 0,103 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas emosi penyesalan (X6) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,685 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas emosi kelegaan (X7) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,086 terhadap variabel terikat ethical judgement
(Y), variabel bebas emosi kepuasan (X8
Dari hasil analisis regresi diatas pada kasus penyesuaian piutang tak tertagih dapat disimpulkan bahwa variabel bebas moral keadilan (X
) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,220 terhadap variabel ethical judgement (Y).
1) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,043 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral deontologi (X2) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,131 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral relativisme (X3) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,014 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral egoisme (X4) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,077 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas moral utilitarianisme (X5) mempunyai pengaruh negatif sebesar 0,237 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas emosi penyesalan (X6) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,138 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas emosi kelegaan (X7) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,093 terhadap variabel terikat ethical judgement (Y), variabel bebas emosi kepuasan (X8
4.3.4. Pengujian Hipotesis
) mempunyai pengaruh positif sebesar 0,363 terhadap variabel ethical judgement (Y).
1. Koefisien Determinasi
Nilai yang digunakan untuk melihat uji koefisien determinasi adalah nilai Adjusted R2 pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Dalam hal ini
Adjusted R2
Tabel 4.29
digunakan untuk menguji hubungan regresi antar variabel dependen dengan seperangkat variabel independen.
Hasil Koefisien Determinasi Kasus 1 Pengiriman Barang Lebih Awal
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .746a .556 .498 1.144
a. Predictors: (Constant), keadilan, deontologi, relativisme, egoisme, utilitarianisme, penyesalan, kelegaan, kepuasan
b. Dependent Variable: Ethical Judgement
Tabel 4.30
Hasil Koefisien Determinasi Kasus 2 Penyisihan Piutang Tak Tertagih
Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .655a .429 .354 1.206
a. Predictors: (Constant), keadilan, deontologi, relativisme, egoisme, utilitarianisme, penyesalan, kelegaan, kepuasan
b. Dependent Variable: Ethical Judgement
Sumber : Output SPSS 17, 2012
Dari tabel 4.22 dan tabel 4.23 di atas, besarnya Adjusted R2 berturut-turut adalah 0,498 pada kasus 1 dan 0,354 pada kasus 2 yang artinya kedelapan variabel independen (keadilan, deontologi, relativisme, egoisme, utilitarianisme, penyesalan, kelegaan, dan kepuasan) dalam penelitian ini hanya mampu menjelaskan 49,8 % pada kasus 1 dan sebesar
35,4 % pada kasus 2, variasi yang terjadi dalam variabel dependennya (ethical judgement), sedangkan selisihnya sampai dengan 100% dijelaskan oleh variabel lainnya di luar penelitian ini.
2. Uji Parsial (Uji T)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2005).
Dimana kriteria pengujian adalah :
a. Perumusan : H0 = Hipotesis nihil dan Ha b. t
= Hipotesis alternatif
hitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha
c. t
diterima. Yang artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dengan kata lain hipotesis diterima.
hitung < ttabel maka H0 diterima dan Ha
d. Untuk memperoleh nilai t
ditolak. Yang artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dengan kata lain hipotesis ditolak.
tabel yaitu pada degree of freedom (df)
sebesar 61 (jumlah data dikurangi jumlah variabel) dan 1/2α = 10% : 2 = 5% maka nilai ttabel sebesar 1.67.
Tabel 4.31 Hasil Uji Parsial (t)
Kasus 1: Pengiriman Barang Lebih Awal Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.200 .689 1.742 .086 Keadilan .002 .058 .003 .028 .978 .580 1.724 Deontologi .100 .084 .126 1.183 .241 .639 1.566 Relativisme .071 .086 .103 .829 .410 .474 2.108 Egoisme .205 .104 .251 1.971 .053 .448 2.234 Utilitarianisme -.103 .127 -.105 -.810 .421 .431 2.318 Penyesalan .685 .178 .440 3.853 .000 .558 1.793 Kelegaan .086 .189 .054 .453 .652 .512 1.955 Kepuasan .220 .203 .126 1.083 .283 .539 1.854
a. Dependent Variable: Ethical Judgement
Tabel 4.32 Hasil Uji Parsial (t)
Kasus 2: Penyisihan Piutang Tak Tertagih Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.178 .778 1.515 .135 Keadilan .043 .062 .084 .695 .490 .645 1.551 Deontologi .131 .098 .169 1.327 .190 .579 1.727 Relativisme .014 .066 .027 .218 .829 .614 1.629 Egoisme .077 .107 .096 .719 .475 .525 1.905 Utilitarianisme .237 .129 .233 1.839 .071 .584 1.711
Penyesalan .138 .178 .091 .776 .441 .678 1.476
Kelegaan .093 .139 .077 .669 .506 .715 1.399
Kepuasan .363 .163 .268 2.230 .029 .646 1.548
a. Dependent Variable: Ethical Judgement
Sumber : Output SPSS 17, 2012 Hasil analisis Uji t :
1. Kasus Pengiriman Barang Lebih Awal
a. Nilai thitung pada variabel moral keadilan adalah 0,028 dengan tingkat signifikansi 0,978. Karena 0,028 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral keadilan terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
b. Nilai thitung pada variabel moral deontologi adalah 1,183 dengan tingkat signifikansi 0,241. Karena 1,183 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral deontologi terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
c. Nilai thitung pada variabel moral relativisme adalah 0,829 dengan tingkat signifikansi 0,410. Karena 0,829 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral relativisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
d. Nilai thitung pada variabel moral egoisme adalah 1,971 dengan tingkat signifikansi 0,053. Karena 1,971 > 1,67 maka dapat disimpulkan H0
ditolak dan Ha
Artinya : ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral egoisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
diterima.
e. Nilai thitung pada variabel moral utilitarianisme adalah -0,810 dengan tingkat signifikansi 0,421. Karena -0,810 < 1,67 maka dapat simpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral utilitarianisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
f. Nilai thitung pada variabel emosi penyesalan adalah 3,853 dengan tingkat signifikansi 0,000. Karena 3,853 > 1,67 maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha
Artinya : ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi penyesalan terhadap variabel terikat ethical judgement.
diterima.
g. Nilai thitung pada variabel emosi kelegaan adalah 0,453 dengan tingkat signifikansi 0,652. Karena 0,453 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0
diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi kelegaan terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
h. Nilai thitung pada variabel emosi kepuasan adalah 1,083 dengan tingkat signifikansi 0,283. Karena 1,083 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi kepuasan terhadap variabel terikat ethical judgement.
2. Kasus Penyesuaian Piutang Tak Tertagih
a. Nilai thitung pada variabel moral keadilan adalah 0,695 dengan tingkat signifikansi 0,490. Karena 0,695 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0
diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral keadilan terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
b. Nilai thitung pada variabel moral deontologi adalah 1,327 dengan tingkat signifikansi 0,190. Karena 1,327 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0
diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral deontologi terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
c. Nilai thitung pada variabel moral relativisme adalah 0,218 dengan tingkat signifikansi 0,829 Karena 0,218 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral relativisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
d. Nilai thitung pada variabel moral egoisme adalah 0,719 dengan tingkat signifikansi 0,475. Karena 0,719 <1,67 maka dapat disimpulkan H0
ditolak dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral egoisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
e. Nilai thitung pada variabel moral utilitarianisme adalah 1,839 dengan tingkat signifikansi 0,071. Karena 1,839 >1,67 maka dapat simpulkan H0 diterima dan Ha
Artinya : ada pengaruh yang signifikan antara variabel moral utilitarianisme terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
f. Nilai thitung pada variabel emosi penyesalan adalah 0,776 dengan tingkat signifikansi 0,441. Karena 0,776 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi penyesalan terhadap variabel terikat ethical judgement.
diterima.
g. Nilai thitung pada variabel emosi kelegaan adalah 0,669 dengan tingkat signifikansi 0,506. Karena 0,669 < 1,67 maka dapat disimpulkan H0
diterima dan Ha
Artinya : tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi kelegaan terhadap variabel terikat ethical judgement.
ditolak.
h. Nilai thitung pada variabel emosi kepuasan adalah 2,230 dengan tingkat signifikansi 0,029. Karena 2,230 > 1,67 maka dapat disimpulkan H0
ditolak dan Ha
Artinya : ada pengaruh yang signifikan antara variabel emosi kepuasan terhadap variabel terikat ethical judgement.
diterima.
4.4. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis dengan melakukan uji regresi berganda dan uji hipotesis diketahui bahwa :
1. Hipotesis pertama (H1) yaitu, moral keadilan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel moral keadilan adalah 0,028 pada kasus 1 dan 0,695 pada kasus 2 dengan tingkat signifikansi masing-masing 0,978 dan 0,490 karena 0,028 < 1,67 dan tingkat signifikansinya 0,978 > 0,05 pada kasus 1 begitu juga dengan kasus 2 yaitu thitung
2. Hipotesis kedua (H
0,695<1,67 dan tingkat signifikansinya 0,490 > 0,05. Dalam kedua kasus tersebut dapat dikatakan moral keadilan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan.
2) yaitu, moral deontologi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel moral deontologi adalah 1,183 pada kasus 1 dan 1,327 pada kasus 2 dengan tingkat signifikansi masing-masing 0,241 dan 0,190 karena 1,183 < 1,67 dan tingkat signifikansinya 0,241 > 0,05 pada kasus 1 begitu juga dengan kasus 2 yaitu thitung
3. Hipotesis ketiga (H
1,327 <1,67 dan tingkat signifikansinya 0,190 > 0,05. Dalam kedua kasus tersebut dapat dikatakan moral deontologi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan.
3) yaitu, moral relativisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel moral relativisme adalah 0,829 pada kasus 1 dan 0,218 pada kasus 2 dengan tingkat signifikansi masing-masing 0,410 dan 0,829 karena 0,829 < 1,67 dan tingkat
signifikansinya 0,410 > 0,05 pada kasus 1 begitu juga dengan kasus 2 yaitu thitung
4. Hipotesis keempat (H
0,829 < 1,67 dan tingkat signifikansinya 0,829 > 0,05. Dalam kedua kasus tersebut dapat dikatakan moral relativisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan.
4) yaitu, pada kasus 1 moral egoisme berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel moral egoisme adalah 1,971 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,053 karena 1,971 > 1,67 dan 0,053 > 0,05. Pada kasus 2 tidak terdapat pengaruh yang signifikan moral egosime terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung
5. Hipotesis kelima (H5) yaitu, pada kasus 1 moral utilitarianisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai t
pada variabel moral egoisme adalah 0,719 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,475 karena 0,719 < 1,67 dan 0,475 > 0,05.
hitung pada variabel moral utilitarianisme
adalah -0,810 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,421 karena -0,810 < 1,67 dan 0,421 > 0,05. Pada kasus 2 terdapat pengaruh yang signifikan moral utilitarianisme terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel moral utilitarianisme adalah 1,839 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,071 karena 1,839 > 1,67 dan 0,071 > 0,05.
6. Hipotesis keenam (H6) yaitu, pada kasus 1 emosi penyesalan berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel emosi penyesalan adalah 3,853 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 karena 3,853 > 1,67 dan 0,000 < 0,05. Pada kasus 2 tidak terdapat pengaruh yang signifikan emosi penyesalan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung
7. Hipotesis ketujuh (H
pada variabel emosi penyesalan adalah 0,776 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,441 karena 0,776 < 1,67 dan 0,441 > 0,05.
7) yaitu, emosi kelegaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel emosi kelegaan adalah 0,453 pada kasus 1 dan 0,669 pada kasus 2 dengan tingkat signifikansi masing-masing 0,652 dan 0,506 karena 0,453 < 1,67 dan tingkat signifikansinya 0,652 > 0,05 pada kasus 1 begitu juga dengan kasus 2 yaitu thitung
8. Hipotesis kedelapan (H
0,669 < 1,67 dan tingkat signifikansinya 0,506 > 0,05. Dalam kedua kasus tersebut dapat dikatakan emosi kelegaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan.
8) yaitu, pada kasus 1 emosi kepuasan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel emosi kepuasan adalah 1,083 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,283 karena 1,083 < 1,67 dan 0,283 > 0,05. Pada kasus 2 terdapat pengaruh yang signifikan
emosi kepuasan terhadap ethical judgement akuntan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai thitung pada variabel emosi kepuasan adalah 2,230 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,029 karena 2,230 > 1,67 dan 0,029 < 0,05.
BAB V