• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Analisis Hasil Penelitian

2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian normalitas data dalam penelitian ini mengunakan uji statistik

non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) dengan membuat hipotesis:

H0 : Data residual berdistribusi normal

Ha : Data residual tidak berdistribusi normal

Apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima,

sedangkan jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak.

Tabel 4.2

Uji Normalitas Sebelum Data Ditransformasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardize d Residual

N 56

Normal Parameters(a,b) Mean .0000000

Std. Deviation .15090505 Most Extreme Differences Absolute .100 Positive .100 Negative -.084 Kolmogorov-Smirnov Z .750

Asymp. Sig. (2-tailed) .627

a Test distribution is Normal. b Calculated from data.

Sumber: Data yang diolah penulis, 2010

Dari hasil pengolahan data tersebut, besarnya nilai

Kolmogorov-Smirnov adalah 0,750 dan signifikansi pada 0,001 maka disimpulkan data

terdistribusi secara normal tersebut juga dapat dilihat melalui grafik

histogram dan grafik normal plot data.

Gambar 4.1 Histogram

Sumber : Data yang diolah penulis, 2010.

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa distribusi data normal

karena grafik histogram menunjukkan distribusi data mengikuti garis

diagonal yang tidak menceng (skewness) ke kiri maupun ke kanan atau

normal.

Regression Standardized Residual

4 2 0 -2 F re q u en cy 20 15 10 5 0 Histogram

Dependent Variable: KINERJA KEUANGAN

Mean =4.32E-16฀ Std. Dev. =0.944฀

Gambar 4.2 Grafik Normal P-P Plot

Sumber: Data yang diolah penulis, 2010.

Demikian pula dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik

plot. Pada grafik normal plot, terlihat titik-titik menyebar disekitar garis

diagonal serta penyebarannya agak mendekati dengan garis diagonal

sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi terdistribusi

secara normal.

Observed Cum Prob

1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 E x p e c te d C u m P ro b 1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

b. Uji Multikolinearitas

Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya gejala

multikolinearitas adalah dengan melihat nilai tolerance dan variance

inflation factor (VIF), menganalisis matrik korelasi variabel-variabel

independen, melihat nilai Condition Index (CI) serta membandingkan nilai

R2 model utama (awal) terhadap nilai R2 dari masing-masing auxilary

regression antar variabel independen. Besarnya tingkat kolinearitas yang

masih dapat ditolerir, yaitu: Tolerance > 0.10, Variance Inflation Factor

(VIF) < 10, Condition Index < 10. Berikut disajikan tabel hasil pengujian:

Tabel 4.3 Coefficients

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 .956 1.046 .552 1.811 .525 1.906 .970 1.031 .791 1.265 .867 1.154

a Dependent Variable: KINERJA KEUANGAN

Sumber: Data yang diolah penulis, 2010 .

Tabel 4.4

Cofficients Correlations

Sumber: Data yang diolah penulis, 2010

Dari tabel 4.3, hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan variabel

independen memiliki nilai tolerance lebih dari 0.10 yaitu yaitu masing –

masing sebesar 0,956, 0,552, 0,525, 0,970, 0,791 dan 0,867, yang berarti

tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan VIF

juga menunjukkan hal yang sama dimana dimana hasil uji Variance

Inflation Factor (VIF) menunjukkan nilai kurang dari 2 (VIF < 2), yaitu

1,046, 1,811, 1,906, 1,031, 1,265 dan 1,182.

Dari tabel 4.4, melihat hasil besaran korelasi antar variabel independen

tampak bahwa variabel kualitas audit mempunyai korelasi sebesar -0,131

atau sekitar 13,1% terhadap variabel persentase sahama manajemen,

mempunyai korelasi sebesar -0,052 atau sebesar 5,2 % terhadap variabel

manajemen laba, mempunyai korelasi sebesar 0,123 atau 12,3 % terhadap

Coeffi cient Correl ationsa

1.000 -.131 -.052 .123 -.331 -.120 -.131 1.000 -.049 -.109 .315 .662 -.052 -.049 1.000 -.035 -.148 .039 .123 -.109 -.035 1.000 -.026 -.032 -.331 .315 -.148 -.026 1.000 .235 -.120 .662 .039 -.032 .235 1.000 .002 -.001 .000 .001 -.001 -.001 -.001 .027 -.001 -.003 .005 .024 .000 -.001 .014 -.001 -.002 .001 .001 -.003 -.001 .027 .000 -.001 -.001 .005 -.002 .000 .009 .005 -.001 .024 .001 -.001 .005 .047 KUALITAS AUDIT % SAHAM MANAJEMEN MANAJEMEN LABA KOMITE AUDIT KOMISARIS INDEPENDEN % SAHAM INSTITUSI KUALITAS AUDIT % SAHAM MANAJEMEN MANAJEMEN LABA KOMITE AUDIT KOMISARIS INDEPENDEN % SAHAM INSTITUSI Correlations Covariances Model 1 KUALITAS AUDIT % SAHAM MANAJEMEN MANAJEMEN LABA KOMITE AUDIT KOMISARIS INDEPEND EN % SAHAM INSTITUSI

Dependent Variable: KINERJA KEUANGAN a.

komite audit, mempunyai korelasi sebesar -0,331 atau 33,1 % terhadap

komisaris independen, dan mempunyai korelasi sebesar -0,120 atau 12 %

terhadapa persentase saham institusi . Selanjutnya, korelasi antara variabel

persentase saham manajemen terhadap manajemen laba adalah sebesar

0,049 atau sebesar 4,9%, terhadap komite audit adalah sebesar -0,109 atau

10,9 %, terhadap komisaris independen adalah sebesar 0.315 atau 31,5 %,

dan terhadap persentase saham institusi adalah sebesar 0,662 atau 66,2 %.

Korelasi antara manajemen laba terhadap komite audit adalah sebesar

-0,035 atau 3,5 % , terhadap komisaris independen adalah sebesar -0,148

atau 14,8 %, dan terhadap persentase saham institusi adalah sebesar 0,039

atau 3,9 %. Korelasi antara komite audit terhadap komisaris independen

adalah 0,026 atau 2,6 % dan terhadap persentase saham institusi sebesar

-0,032 atau 3,2 %. Dan korelasi antara komisaris independen dengan

persentase saham institusi adalah sebesar 0,235 atau 23,5 %.Hasil dari

coefficient correlations tersebut menunjukkan tidak ada korelasi yang

tinggi (umumnya diatas 0,90 atau 90%), maka hal ini merupakan indikasi

tidak adanya multikolinieritas.

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada

c. Uji Heteroskedastisitas

Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya gejala

heteroskedastisitas adalah dengan melihat plot grafik yang dihasilkan

dari pengolahan data dengan menggunakan program SPSS. Dasar

pengambilan keputusannya adalah:

1) jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tertentu yang terartur (bergelombang, melebar kemudian

menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi

heteroskedastisitas,

2) jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas

dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi

heteroskedastisitas atau terjadi homoskedastisitas.

Berikut ini dilampirkan grafik scatterplot untuk menganalisis

apakah terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homoskedastisitas

Gambar 4.5 Scatterplot

Sumber: Data yang diolah penulis, 2010.

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara

acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada

sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

heteroskedastisitas pada model regresi. Adanya titik-titik yang

menyebar menjauh dari titik-titik yang lain dikarenakan adanya

data observasi yang sangat berbeda dengan data observasi yang lain

.Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat

heteroskedastisitas.

Regression Standardized Predicted Value

3 2 1 0 -1 -2 Re gr es si on S tu de nt ize d Re si du al 4 2 0 -2 Scatterplot

d. Uji Autokorelasi

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi

linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pada periode t-1. Autokorelasi muncul karena observasi

yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang

lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data time series. Cara yang

dapat digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan

menggunakan nilai uji Durbin Watson. Untuk uji Durbin Watson

memiliki ketentuan sebagai berikut: Cara yang dapat digunakan untuk

mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan menggunakan nilai uji

Durbin Watson dengan ketentuan sebagai berikut:

1) angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif,

2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi,

3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.5

Hasil Uji Durbin Watson Model Summary(b)

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of

the Estimate Durbin-Watson

1 .612(a) .375 .299 .15988 1.989

a Predictors: (Constant), KUALITAS AUDIT, % SAHAM MANAJEMEN, MANAJEMEN LABA, KOMITE AUDIT, KOMISARIS INDEPENDEN, % SAHAM INSTITUSI

b Dependent Variable: KINERJA KEUANGAN

Sumber: Data yang diolah penuis, 2010.

Tabel 4.5 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 1,989.

disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi positif maupun

autokorelasi negatif.

Dokumen terkait