BAB III METODE PENELITIAN
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.3 Uji Asumsi Klasik
Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, diperlukan uji
58
klasik dilakukan untuk memastikan bahwa sampel yang diteliti terhindar dari gangguan normalitas, multikolinieritas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Maka uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2013). Model regresi yang baik ketika memiliki nilai residual yang terdistribusi normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, untuk menguji normalitas data dilakukan melalui uji statistik parametrik one-sample Kolmogorov-Smirnov.
Dasar pengambilan keputusan dari one-sample Kolmogorov-Smirnov dengan membuat hipotesis:
H0 : Data residual berdistribusi normal H1 : Data residual tidak berdistribusi normal
Pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas ≥ 0,05 ; maka Ho diterima atau berdistribusi normal.
b. Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 ; maka Ho ditolak atau data tidak berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen
(Ghozali, 2013).
Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas dalam model regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Fector (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas manakah yang dijelaskan oleh variabel lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel bebas menjadi variabel terikat dan diregresi terhadap variabel bebas lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel bebas menjadi variabel terikat dan diregresi terhadap variabel bebas lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan dalam variabel bebas lainnya. Jika nilai tolerance ≥ dari 0,10 atau VIF ≤ dari 10 maka tidak terjadi multikolineritas (Ghozali, 2013).
3. Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. (Ghozali, 2013). Jika varians residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Pengujian heterokedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser, Uji park dan Uji White. Uji Glejser mengusulkan untuk meregresi nilai absolut residual terhadap variabel independen. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas. Jika probabilitas signifikansinya di atas tingkat
60
kepercayaan 5 persen, maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung heterokedastisitas (Ghozali, 2013).
4. Uji Linieritas
Uji ini digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang digunakan sudah benar atau tidak. Dengan uji linearitas akan diperoleh informasi apakah model empiris sebaiknya linear kuadrat atau kubik. Nilai mean dari variable Y untuk suatu kombinasi X1, X2, dan X3,……Xn terletak pada garis/bidang linear yang dibentuk dari persamaan regresi. Untuk mengetahui asumsi linearitas dapat menggunakan uji Ramsey Test dengan bantuan Software EViews. Untuk melakukan uji Ramsey, harus membuat suatu asumsi atau keyakinan bahwa fungsi yang benar adalah fungsi linear dimana yang bertujuan untuk menghasilkan F-hitung (Ghozali, 2011).
Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : a. Terima H0 ( tolak H1 ) bila Fhitung ≤ Ftabel
b. Tolak H0 ( terima H1 ) bila Fhitung > Ftabel
3.8.4 Uji Determinasi (Adjusted 𝐑𝟐)
Koefisien determinasi menggambarkan bagian dari variasi total yang dapat diterangkan oleh model. Semakin besar R2 (mendekati 1), maka ketepatannya dikatakan semakin baik. Jika R2 = 0, maka tidak ada hubungan antara X dan Y atau model regresi yang terbentuk tidak tepat untuk meramalkan Y. Sedangkan jika R2=1 maka garis regresi yang terbentuk dapat meramalkan Y secara sempurna.
Menurut Ghozali (2013) koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Nilai keofisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Koefisien determinasi yang
semakin mendekati 1, maka semakin baik variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen.
3.9 Pengujian Hipotesis
3.9.1 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (F-test)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara bersama-sama atau serempak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Bentuk pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. H0 : β1 = β2 = β3 = β4 = 0 artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara serempak dari Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER) dan Firm Size (Size) terhadap Share Repurchase di BEI.
2. H1: minimal satu βi ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara serempak dari Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER) dan Firm Size (Size) terhadap Share Repurchase di BEI.
Pengambilan keputusan juga dapat dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dan nilai Ftabel. Dimana kriterianya, yaitu:
3. H0 diterima jika Fhitung ≤ Ftabel pada α = 5% atau Sig F ≥ α 4. H1 diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5% atau Sig F < α
3.9.2 Uji Parsial (t-test)
Menurut Ghozali (2013) uji parsial pada dasarnya menunjukkan untuk
62
dependen. Taraf signifikan yang digunakan adalah pada 0,05. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah setiap variabel bebas secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Bentuk pengujiannya adalah:
1. Pengaruh Dividend Payout Ratio terhadap Share Repurchase
H0 : 1 0, Dividend Payout Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase
Ha : 1 < 0, Dividend Payout Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase
2. Pengaruh Market to Book Ratio terhadap Share Repurchase
H0 : 2 0, Market to Book Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase
Ha : 2 < 0 , Market to Book Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase
3. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Share Repurchase
H0 : 3 0 , Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase
Ha : 3 < 0 , Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase
4. Pengaruh Firm Size terhadap Share Repurchase
H0 : 4 0 , Firm Size berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase
Ha : 4 > 0 , Firm Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase
5. Pengaruh Free Cash Flow (X5) terhadap Share Repurchase
H0 : 5 0 , Free Cash Flow berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase
Ha : 5 > 0 , Free Cash Flow berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase
Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika nilai signifikan ≥ 0,05 maka H0 diterima.
b. Jika nilai signifikan < 0,05 maka H0 ditolak (Ha diterima).
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
Jumlah perusahaan dalam sampel penelitian ini sebanyak 20 perusahaan.
Profil masing-masing perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia yang menjadi sampel penelitian adalah sebagai berikut:
1. PT. Resource Alam Indonesia, Tbk. (KKGI)
Resource Alam Indonesia Tbk (dahulu Kurnia Kapuas Utama Tbk) (KKGI) didirikan tanggal 08 Juli 1981 dengan nama PT Kurnia Kapuas Utama Glue Industries. Kantor pusat KKGI berdomisili di Gedung Bumi Raya Utama, Jl.
Pembangunan I No. 3, Jakarta. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan KKGI adalah menjalankan usaha dibidang pertambangan, perhutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, perindustrian, pengangkutan dan perdagangan umum.
2. PT. Saratoga Investama Sedaya, Tbk. (SRTG)
Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) didirikan tanggal 17 Mei 1991 dan memulai kegiatan komersial pada tahun 1992. Kantor pusat SRTG beralamat di Jl. Ir. Juanda III/8, Gambir, Jakarta Pusat. PT. Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebagai perusahaan investasi. Perusahaan ini bergerak di sektor pertanian, perkebunan, telekomunikasi, perdagangan, industri, sumber daya alam, energi, konstruksi, transportasi, kendaraan, jasa keuangan, barang konsumsi, jasa pendukung telekomunikasi, dan jasa.
3. PT. Link Net, Tbk. (LINK)
Link Net Tbk (LINK) didirikan tanggal 14 Maret 1996 dengan nama PT.
Seruling Indah Permai. Kantor pusat LINK berlokasi di Berita Satu Plaza, Lt.
4, Suite 401, Jln. Jendral Gatot Subroto Kav. 35-36, Jakarta Selatan 12950 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan LINK adalah bergerak di bidang penyelenggaraan jaringan tetap berbasis kabel, penyelenggaraan jasa multimedia, jasa akses internet serta jasa konsultasi manajemen bisnis.
4. PT. Harum Energy, Tbk. (HRUM)
Harum Energy Tbk (HRUM) didirikan dengan nama PT Asia Antrasit tanggal 12 Oktober 1995 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2007.
Kantor pusat HRUM terletak di Deutsche Bank Building, Lantai 9, Jl. Imam Bonjol No. 80, Jakarta Pusat 10310 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan HRUM bergerak di bidang pertambangan, perdagangan dan jasa.
5. PT. Mitra Keluarga Karyasehat, Tbk. (MIKA)
Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (dahulu PT Calida Ekaprana) (MIKA) didirikan tanggal 03 Januari 1995 dan mulai beroperasi secara komersial tahun 1995. Kantor pusat Mitra Keluarga berlokasi di Jl. Letjen. Suprapto Kav 4, Jakarta Pusat 10510 dan kantor operasional berlokasi di Jalan Bukit Gading raya Kav 2, Kelapa Gading Jakarta 14240 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MIKA adalah bergerak dalam bidang jasa konsultasi bisnis dan manajemen termasuk jasa manajemen
66
6. PT. Modernalnd Realty, Tbk. (MDLN)
Modernland Realty Tbk (MDLN) didirikan tanggal 12 November 1983 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1989. Kantor pusat MDLN terletak di Green Central City, Commercial Area, Lantai 5, Jalan Gajah Mada No. 188, Jakarta Barat 11120 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MDLN meliputi antara lain, pengembangan real estat, golf dan country club, kontraktor dan perdagangan, pembangunan kawasan industri dan pergudangan, rumah susun, perhotelan, perkantoran, pusat perbelanjaan, serta jasa pengelolaan lapangan golf.
7. PT. Arwana Citramulia, Tbk. (ARNA)
Arwana Citramulia Tbk (ARNA) didirikan dengan nama PT Arwana Citra Mulia tanggal 22 Februari 1993 dan mulai beroperasi secara komersial sejak tanggal 1 Juli 1995. Kantor pusat ARNA terletak di Sentra Niaga Puri Indah Blok T2 No. 24, Kembangan, Jakarta Barat 11610, dan pabriknya berlokasi di Jatiuwung, Tangerang, Banten. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ARNA terutama bergerak dalam bidang industri keramik dan menjual hasil produksinya di dalam negeri.
8. PT. Barito Pacific, Tbk. (BRPT)
Barito Pacific Tbk (dahulu PT Barito Pacific Timber Tbk) (BRPT) didirikan 04 April 1979 dengan nama PT Bumi Raya Pura Mas Kalimatan dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1983. BRPT berdomisili di Banjarmasin dengan pabrik berlokasi di Jelapat, Banjarmasin. Kantor Barito Pacific Tbk berada di Jakarta dengan alamat di Wisma Barito Pacific Tower B,
Lt. 8, Jl. Letjen S. Parman Kav. 62-63, Jakarta 11410 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BRPT bergerak dalam bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan, industri, properti, perdagangan, energi terbarukan dan transportasi.
9. PT. Surya Semesta Internusa, Tbk. (SSIA)
Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) didirikan tanggal 15 Juni 1971 dengan nama PT Multi Investments Ltd dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1971. Kantor pusat SSIA beralamat di Tempo Scan Tower, Lantai 20, Jl.
HR Rasuna Said Kavling 3-4, Kuningan Timur, Jakarta 12950 – Indonesia.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SSIA terutama adalah berusaha dalam bidang industri, perdagangan, pembangunan, pertanian, pertambangan dan jasa, termasuk mendirikan perusahaan di bidang perindustrian bahan bangunan, real estat, kawasan industri, pengelolaan gedung dan lain-lain.
10. PT. Cikarang Listrindo, Tbk. (POWR)
Cikarang Listrindo Tbk (POWR) didirikan tanggal 28 Juli 1990 dan mulai beroperasi secara komersial bulan November 1993. Cikarang Listrindo berkantor pusat di World Trade Centre 1, Lantai 17, Jl. Jend. Sudirman Kav.
29–31, Jakarta 12920–Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan POWR adalah bergerak dalam industri pusat pembangkit tenaga listrik, pemasaran, pendistribusian tenaga listrik dan agen.
11. PT. Nippon Indosari Corpindo, Tbk. (ROTI)
68
dengan nama PT Nippon Indosari Corporation dan mulai beroperasi komersial pada tahun 1996. Kantor pusat dan salah satu pabrik ROTI berkedudukan di Kawasan Industri MM 2100 Jl. Selayar blok A9, Desa Mekarwangi, Cikarang Barat, Bekasi 17530, Jawa Barat – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup usaha ROTI bergerak di bidang pabrikasi, penjualan dan distribusi roti dan minuman, termasuk tetapi tidak terbatas pada macam-macam roti, roti tawar, roti isi dan segala macam-macam jenis kue lainnya serta segala jenis minuman ringan, termasuk tetapi tidak terbatas pada minuman sari buah, minuman berbahan dasar susu dan minuman lainnya.
12. PT. Mitra Pinasthika Mustika, Tbk. (MPMX)
Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) didirikan tanggal 02 November 1987 dan memulai kegiatan komersial pada tahun 1987. Kantor Pusat MPMX beralamat di Lippo Kuningan, Lantai 26, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B-12 Kuningan, Jakarta 12920 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MPMX terutama meliputi bidang industri, pengangkutan, grosir, agen, distributor, pemasok, dan perdagangan.
13. PT. Tower Bersama Infrastructure, Tbk. (TBIG)
Tower Bersama Infrastructure Tbk (dahulu PT Banyan Mas) (TBIG) didirikan tanggal 8 November 2004. TBIG beralamat di The Convergence Indonesia, Lt.
11 Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. Epicentrum Boulevard Barat, Karet Kuningan – Setiabudi, Jakarta Selatan 12940 – Indonesia. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha TBIG, antara lain, menjalankan usaha dalam bidang jasa penunjang telekomunikasi, meliputi jasa
persewaan dan pengelolaan menara Base Transceiver Station (BTS), jasa konsultasi bidang instalasi telekomunikasi, serta melakukan investasi atau penyertaan pada perusahaan lain.
14. PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. (JPFA)
Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) didirikan tanggal 18 Januari 1971 dengan nama PT Java Pelletizing Factory, Ltd dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1971. Kantor pusat Japfa di Wisma Millenia, Lt. 7, Jl. MT. Haryono Kav. 16 Jakarta 12810. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan JPFA meliputi bidang pengolahan segala macam bahan untuk pembuatan/produksi bahan makanan hewan, kopra dan bahan lain yang mengandung minyak nabati, gaplek dan lain-lain;
mengusahakan pembibitan, peternakan ayam dan usaha peternakan lainnya.
15. PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. (RALS)
Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) didirikan 14 Desember 1983 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1983. Kantor pusat Ramayana berlokasi di Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 220 A-B, Jakarta 10250 – Indonesia.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan RALS adalah perdagangan umum yang menjual berbagai macam barang seperti pakaian, aksesoris, tas, sepatu, kosmetik dan produk-produk kebutuhan sehari-hari melalui gerai serba ada Ramayana Supermarket (Department Store).
16. PT. Indo Tambangraya Megah, Tbk. (ITMG)
Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) didirikan tanggal 02 September 1987
70
ITMG berlokasi di Pondok Indah Office Tower III, Lantai 3, Jln. Sultan Iskandar Muda, Pondok Indah Kav. V-TA, Jakarta Selatan 12310 – Indonesia.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ITMG adalah berusaha dalam bidang pertambangan, pembangunan, pengangkutan, perbengkelan, perdagangan, perindustrian dan jasa.
17. PT. Nusa Raya Cipta, Tbk. (NRCA)
Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) didirikan tanggal 17 September 1975 dan memulai kegiatan komersial pada tahun 1975. Kantor pusat NRCA beralamat di Gedung Graha Cipta, Jalan D.I. Panjaitan No. 40, Jakarta 13350 dan memiliki cabang di Surabaya, Denpasar, Medan, Semarang serta Balikpapan.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan NRCA adalah berusaha dalam bidang pembangunan, perindustrian perdagangan, jasa, perbengkelan dan pengangkutan.
18. PT. Sampoerna Agro, Tbk. (SGRO)
Sampoerna Agro Tbk (SGRO) didirikan 07 Juni 1993 dengan nama PT Selapan Jaya dan mulai beroperasi secara komersial pada bulan November 1998.
Kantor pusat Sampoerna Agro berlokasi di Jalan Basuki Rahmat No. 788, Palembang 30127, Sumatera Selatan. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SGRO adalah bergerak di bidang usaha perkebunan kelapa sawit dan karet, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik minyak inti sawit, produksi benih kelapa sawit, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (sagu dan memproduksi tepung sagu dengan merek Prima Starch) dan lainnya.
19. PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk. (SIDO)
Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) (SIDO) didirikan tanggal 18 Maret 1975. Kantor pusat SIDO beralamat di Gedung Menara Suara Merdeka Lt. 16, Jl. Pandanaran No. 30 Semarang 50134 – Indonesia, dan pabrik berlokasi di Jl Soekarno Hatta Km 28, Kecamatan Bergas, Klepu, Semarang. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SIDO antara lain menjalankan usaha dalam bidang industri jamu yang meliputi industri obat-obatan (farmasi), jamu, kosmetika, minuman dan makanan yang berkaitan dengan kesehatan, perdagangan, pengangkutan darat dan jasa.
20. PT. Sekar Laut, Tbk. (SKLT)
Sekar Laut Tbk (SKLT) didirikan 19 Juli 1976 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1976. Kantor pusat SKLT berlokasi di Wisma Nugra Santana, Lt. 7, Suite 707, Jln. Jend. Sudirman Kav. 7-8, Jakarta 10220.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SKLT meliputi bidang industri pembuatan kerupuk, saos tomat, sambal, bumbu masak dan makan ringan serta menjual produknya di dalam negeri maupun di luar negeri. Produk-produknya dipasarkan dengan merek FINNA.
4.2 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif memberikan gambaran dari fenomena atau karakteristik dari data. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam membaca data serta memahami maksudnya. Hasil olahan data dalam bentuk deskriptif statistik akan menampilkan karakteristik sampel yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), rata-rata sampel (mean), nilai minimum dan maksimum, serta
72
penelitian ini terdiri dari variabel Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Ukuran Perusahaan (Size), Free Cash Flow (FCF) dan Share Repurchase (SR) yang disajikan dalam Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variable Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Share Repurchase (Y) 0,007 4,673 1,14 1,29
DPR (X1) 0,032 3,65 0,61 0,67
MBR (X2) 0,22 13,89 2,78 3,30
DER (X3) 0,09 13.54 1,31 2,63
SIZE (X4) 0,008 100,708 15,90 23,31
FCF (X5) -9,091 24,086 3,82 8,73
Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 sampel data yang diambil dari Bursa Efek Indonesia yang diakses melalui situs www.idx.co.id.
Berikut adalah analisis deskriptif yang diperoleh dari Tabel 4.1:
1. Variabel Share Repurchase (SR) memiliki nilai minimum dari share repurchase adalah 0,007 persen, sementara nilai maksimum dari share repurchase adalah 4,673 persen. Rata-rata share repurchase adalah 1,14 persen, dengan standar deviasi 1,29 persen.
2. Variabel Dividend Payout Raito (DPR) memiliki nilai minimum dari DPR adalah 0,032, sementara nilai maksimum dari DPR adalah 3,65. Rata-rata DPR adalah 0,61, dengan standar deviasi 0,67.
3. Variabel Market to Book Ratio (MBR) memiliki nilai minimum dari MBR
adalah 0,22, sementara nilai maksimum dari MBR adalah 13,89. Rata-rata MBR adalah 2,78, dengan standar deviasi 3,30.
4. Variabel Debt to Equity Ratio (DER) memiliki nilai minimum dari DER adalah 0,09, sementara nilai maksimum dari DER adalah 13,54. Rata-rata DER adalah 1,31, dengan standar deviasi 2,63.
5. Variabel Firm Size (Size) memiliki nilai minimum dari SIZE adalah 0,008 triliyun, sementara nilai maksimum dari SIZE adalah 100,708 triliyun. Rata-rata SIZE adalah 15,90 triliyun, dengan standar deviasi 23,31 triliyun.
6. Variabel Free Cash Flow (FCF) memiliki nilai minumum dari FCF adalah -9,091 triliyun, sementara nilai maksimum dari FCF adalah 24,086 triliyun.
Rata-rata FCF adalah 3,82 triliyun, dengan standar deviasi 8,73 triliyun.
4.3 Metode Regresi Linear Berganda
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda untuk mengetahui gambaran mengenai pengaruh dividend payout ratio (X1), market to book ratio (X2), debt to equity ratio (X3), firm size (X4) dan free cash flow (X5) terhadap share repurchase (Y). Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Dependent Variable: SR Method: Least Squares Date: 12/27/19 Time: 14:53 Sample (adjusted): 1 30
Included observations: 30 after adjustments
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
74
Lanjutan Tabel 4.2
DER -0.285571 0.108639 -2.628610 0.0147
SIZE 0.002960 0.009736 0.303989 0.7638
FCF 0.004995 0.027395 0.182349 0.8568
C 0.380929 0.355331 1.072042 0.2944
R-squared 0.470826 Mean dependent var 1.022133 Adjusted R-squared 0.360581 S.D. dependent var 1.186102 S.E. of regression 0.948451 Akaike info criterion 2.908883 Sum squared resid 21.58941 Schwarz criterion 3.189122 Log likelihood -37.63324 Hannan-Quinn criter. 2.998534 F-statistic 4.270739 Durbin-Watson stat 2.190384 Prob(F-statistic) 0.006410
Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui persamaan regresi linear bergandanya, yaitu:
𝑌 = 0,38 − 0,137𝑋1+ 0,36𝑋2− 0,285𝑋3− 0,0029𝑋4− 0,0049𝑋5 Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konstanta (β0) = 0.380929. Ini menunjukkan tingkat konstanta, dimana jika variabel DPR (X1), MBR (X2), DER (X3), Size (X4) dan FCF (X5) adalah 0, maka share repurchase (Y) akan tetap sebesar 0.380929, dengan asumsi variabel lain tetap.
2. Koefisien DPR (β1) = -0.137440 < 0. Ini menunjukkan bahwa variabel DPR (X1) berpengaruh secara negatif terhadap share repurchase. Jika variabel DPR ditingkatkan, maka share repurchase akan menurun dengan asumsi variabel lain tetap, demikian sebaliknya.
3. Koefisien MBR (β2) = 0.360692 > 0. Ini menunjukkan bahwa variabel MBR (X2) berpengaruh secara positif terhadap share repurchase. Jika variabel MBR ditingkatkan, maka share repurchase juga akan meningkat dengan asumsi variabel lain tetap, demikian sebaliknya
4. Koefisien DER (β3) = -0.285571 < 0. Ini menunjukkan bahwa variabel DER (X3) berpengaruh secara negatif terhadap share repurchase. Jika variabel DER ditingkatkan, maka share repurchase akan menurun dengan asumsi variabel lain tetap, demikian sebaliknya.
5. Koefisien Size (β4) = 0.002960 > 0. Ini menunjukkan bahwa variabel Size (X4) berpengaruh secara positif terhadap share repurchase. Jika variabel Size ditingkatkan, maka share repurchase juga akan meningkat dengan asumsi variabel lain tetap, demikian sebaliknya.
6. Koefisien FCF (β5) = 0.004995 > 0. Ini menunjukkan bahwa variabel FCF (X5) berpengaruh secara positif terhadap Kinerja. Jika variabel FCF ditingkatkan, maka share repurchase juga akan meningkat dengan asumsi variabel lain tetap, demikian sebaliknya.
4.4 Uji Asumsi Klasik 4.4.1 Uji Normalitas
Hasil uji normalitas disajikan pada gambar 4.1 sebagai berikut:
0
76
Berdasarkan Gambar 4.1, diketahui nilai probabilitas dari statistik J-B adalah 0,109326. Karena nilai probabilitas 𝑝, yakni 0,109326 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas dipenuhi.
4.4.2 Uji Multikolinearitas
Hasil uji multikolinearitas disajikan pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinearitas dengan VIF
Variable VIF
DPR 1.080614
MBR 2.376250
DER 2.641611
SIZE 1.651696
FCF 1.818507
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan Tabel 4.2 hasil pengujian multikolinearitas, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas antar variabel independen. Hal ini karena nilai VIF tidak lebih dari 10 (Ghozali, 2013).
4.4.3 Uji Heterokedastisitas
Hasil uji heterokedastisitas disajikan pada tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4
Uji Heteroskedastisitas dengan Uji White
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 1.697370 Prob. F(5,26) 0.1736
Obs*R-squared 7.837185 Prob. Chi-Square(5) 0.1654 Sumber: Lampiran 6
Berdasarkan hasil uji White pada Tabel 4.4 diketahui nilai Prob. pada baris Obs*R-squared 0,1654 > 0,05 yang berarti tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.4.4 Uji Linieritas
Hasil uji linieritas disajikan pada tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5
Uji Linieritas dengan Uji Ramsey
Ramsey RESET Test Equation: UNTITLED
Specification: Y X1 X2 X3 X4 X5 C Omitted Variables: Squares of fitted values
Value df Probability
t-statistic 0.267960 23 0.7911
F-statistic 0.071802 (1, 23) 0.7911 Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan hasil uji linieritas dengan uji Ramsey pada Tabel 4.5, diperoleh nilai F hitung adalah 0,071802. Nilai F tabel dengan df1 = 5 dan df2 = 24 adalah 2,62. Oleh karena F hitung 0,071802 < F tabel 2,62 dan pada persamaan ini Probabilitas Fhitung 0,7911 > α 0,05 maka hipotesis nol diterima, yang berarti asumsi linieritas telah dipenuhi (model sudah benar).
4.5 Uji Determinasi (Adjusted R2)
Hasil uji determinasi (adjusted R2) disajikan pada tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6
Hasil Uji Determinasi (Adjusted R2), Uji F dan Uji t
Hasil Uji Determinasi (Adjusted R2), Uji F dan Uji t