SKRIPSI
ANALISIS DETERMINAN SHARE REPURCHASE PADA PERUSAHAAN NON KEUANGAN YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2016-2018
OLEH
HENDRAWAN CRISTIAN ARITONANG 160502071
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
ANALISIS DETERMINAN SHARE REPURCHASE PADA PERUSAHAAN NON KEUANGAN YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2016-2018
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) dan Free Cash Flow (FCF) terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif yang bersifat kausal dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan non keuangan yang melakukan Share Repurchase dan tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Jumlah populasi perusahaan tersebut adalah sebanyak 41 perusahaan. Berdasarkan metode purposive sampling jumlah observasi yang memenuhi kriteria sampel adalah sebanyak 32 observasi yang dilakukan oleh 20 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) dan Free Cash Flow (FCF) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa Market to Book Ratio (MBR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Firm Size dan Free Cash Flow berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016 - 2018. Dividend Payout Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.
Kata Kunci: Dividend Payout Ratio, Market to Book Ratio, Debt to Equity Ratio, Firm Size, Free Cash Flow, Share Repurchase.
ABSTRACT
DETERMINANT ANALYSIS OF SHARE REPURCHASE IN
COMPANIES NON FINANCES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE PERIOD 2016-2018
The purpose of this study was to determine and analyze the effect of Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) and Free Cash Flow (FCF) on Share Repurchase in non-companies financial records listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016- 2018. This research is an associative research which is causal in nature and the type of data used is quantitative data obtained from the company's financial statements that have been audited on the Indonesia Stock Exchange during the study period.
The population of this research is all non-financial companies that carry out Share Repurchase and are listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016- 2018. The total population of the company is 41 companies. Based on the purposive sampling method the number of observations that meet the sample criteria is 32 observations made by 20 companies. The analysis technique used is multiple linear regression techniques. The results showed the Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) and Free Cash Flow (FCF) simultaneously had a significant effect on Share Repurchase in non-financial companies that listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2016- 2018 period. Partial test results indicate that the Market to Book Ratio (MBR) has a positive and significant effect on Share Repurchase in non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2016-2018 period. Debt to Equity Ratio (DER) has a negative and significant effect on Share Repurchase in non- financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016- 2018. Firm Size and Free Cash Flow have a positive and insignificant effect on Share Repurchase in non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016-2018. Dividend Payout Ratio has a negative and insignificant effect on Share Repurchase on non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period of 2016-2018.
Keywords: Dividend Payout Ratio, Market to Book Ratio, Debt to Equity Ratio, Firm Size, Free Cash Flow, Share Repurchase.
KATA PENGANTAR
Segala puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan dan penelitian skripsi ini, dengan judul "Analisis Determinan Share Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Tercatat di Bursa Efek
Indonesia Periode 2016-2018" guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua, Bapak Alm. Ungkap Hangoluan Aritonang, S.H. dan Ibu Nani Sembiring, S.E. yang telah membesarkan peneliti dengan segala kekuatan yang tidak dapat terbalas, peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus, ikhlas, dan tak terhingga kepada kedua orang tua peneliti.
Pada kesempatan ini peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan saran dalam penulisan skripsi ini.
selaku Dosen Penguji I dan Dosen Penguji II yang telah membantu dan memberikan saran untuk kesempurnaan dalam skripsi ini.
5. Seluruh Dosen dan Staf di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk segala jasanya selama perkuliahan.
6. Teristimewa peneliti ucapkan kepada kakak tersayang, Jesika Cresentia Aritonang, S.Ked. yang senantiasa mendukung, mendoakan dan memotivasi serta telah memberi semangat dalam penyelesaian skripsi.
7. Kepada teman-teman seperjuangan di kampus yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah banyak memberikan saran, motivasi dan dukungan yang tiada henti kepada peneliti selama mengerjakan skripsi.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan balasan atas kebaikan- kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Peneliti menyadari sepenuhnya skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Januari 2020 Peneliti
Hendrawan Cristian Aritonang 160502071
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK i
ABSTRACT ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL viii DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Perumusan Masalah 13 1.3 Tujuan Penelitian 14 1.4 Manfaat Penelitian 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 16 2.1 Aksi Korporasi (Corporate Action) 16
2.1.1 Pengertian Aksi Korporasi 16
2.1.2 Dampak Aksi Korporasi 17
2.1.3 Jenis-Jenis Aksi Korporasi 17
2.2 Kebijakan Dividen 2.2.1 Pengertian Kebijakan Dividen 19 22.2 Teori Kebijakan Dividen 20 2.3 Share Repurchase 21
2.3.1 Pengertian Share Repurchase 21
2.3.2 Tujuan Share Repurchase 22
2.3.3 Metode Share Repurchase 26
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Share Repurchase 27 2.4.1 Dividend Payout Ratio 27
2.4.2 Market to Book Ratio 28
2.4.3 Debt to Equity Ratio 29
2.4.4 Firm Size 30
2.4.5 Free Cash Flow 31
2.5 Penelitian Terdahulu 31
2.6 Kerangka Konseptual 39
2.6.1 Pengaruh Dividend Payout Ratio Terhadap Share Repurchase 39
2.6.2 Pengaruh Market to Book Ratio Terhadap Share Repurchase 40
2.6.3 Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap Share Repurchase 41
2.6.4 Pengaruh Firm Size Terhadap Share Repurchase 42
2.7 Hipotesis Penelitian 45
BAB III METODE PENELITIAN 46
3.1 Jenis Penelitian 46
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 46
3.3 Batasan Operasional 46
3.4 Definisi Operasional 47
3.4.1 Variabel Terikat (Dependent Variabel) 47
3.4.2 Variabel Bebas (Independent Variabel) 48
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian 52
3.5.1 Populasi 52
3.5.2 Sampel 53
3.6 Jenis Data 54
3.7 Metode Pengumpulan Data 55
3.8 Teknik Analisis Data 55
3.8.1 Metode Statistik Deskriptif 56
3.8.2 Analisis Regresi Linear Berganda 57
3.8.3 Uji Asumsi Klasik 57
3.8.4 Uji Determinasi (Adjusted R2) 60
3.9 Pengujian Hipotesis 61
3.9.1 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (F-test) 61
3.9.2 Uji Parsial (t-test) 61
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 64
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 64
4.2 Analisis Deskriptif 71
4.3 Metode Regresi Linear Berganda 73
4.4 Uji Asumsi Klasik 75
4.4.1 Uji Normalitas 75
4.4.2 Uji Multikolinearitas 76
4.4.3 Uji Heterokedastisitas 76
4.4.4 Uji Linieritas 77
4.5 Uji Determinasi (Adjusted R2) 77
4.6 Pengujian Hipotesis 78
4.6.1 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (F-test) 78
4.6.2 Uji Parsial (t-test) 78
4.7 Pembahasan Hasil Penelitian 80
4.7.1 Pengaruh Dividend Payout Ratio terhadap Share Repurchase 80
4.7.2 Pengaruh Market to Book Ratio terhadap Share Repurchase 81
4.7.3 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Share Repurchase 82
4.7.4 Pengaruh Firm Size terhadap Share Repurchase 83
4.7.5 Pengaruh Free Cash Flow terhadap Share Repurchase 84
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 86
5.1 Kesimpulan 86
5.2 Saran 87
DAFTAR PUSTAKA 88
DAFTAR LAMPIRAN 90
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Penelitian Terdahulu 35
3.1 Operasionalisasi Variabel 50
3.2 Jumlah Populasi dan Sampel 54
3.3 Daftar Perusahaan Non-Keuangan yang Melakukan Share Repurchase dan Tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018 50
4.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian 72
4.2 Hasil Uji Regresi Linear Berganda 73
4.3 Hasil Uji Multikolinearitas Dengan VIF 76
4.4 Uji Heteroskedastisitas Dengan Uji White 76
4.5 Uji Linieritas Dengan Uji Ramsey 77
4.6 Hasil Uji Determinasi (Adjusted R2), Uji F dan Uji t 77
DAFTAR GAMBAR
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Grafik Rata-Rata Share Repurchase (SR) Pada Perusahaan
Non Keuangan Yang Tercatat di BEI Periode 2016-2018 3 1.2 Grafik Rata-Rata Perusahaan Yang Melakukan Share
Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Tercatat
di BEI Periode 2016-2018 4
1.3 Grafik Rata-Rata Persentase Dividend Payout Ratio (DPR) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan Periode
2016-2018 5
1.4 Grafik Rata-Rata Market to Book Ratio (MBR) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase
Pada Perusahaan Non Keuangan Periode 2016-2018 7 1.5 Grafik Rata-Rata Debt to Equity Ratio (DER) Perusahaan
Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase
Pada Perusahaan Non Keuangan Periode 2016-2018 8 1.6 Grafik Rata-Rata Firm Size (Size) Perusahaan Yang
Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada
Perusahaan Non Keuangan Periode 2016-2018 10
1.7 Grafik Rata-Rata Free Cash Flow (FCF) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada
Perusahaan Non Keuangan Periode 2016-2018 12
2.1 Kerangka Konseptual 44
4.1 Hasil Uji Normalitas Dengan Uji Jarque-Bera 75
DAFTAR LAMPIRAN
No. Tabel Judul Halaman
1. Daftar Sampel Perusahaan Non Keuangan Yang Melakukan Share Repurchase Dan Tercatat Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2016-2018 90
2. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian 91
3. Hasil Uji Regresi Linear Berganda 91
4. Hasil Uji Normalitas 92
5. Hasil Uji Multikolonieritas 92
6. Hasil Uji Heterokedasitisitas 92
7. Hasil Uji Linieritas 93
8. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2), Uji Simultan (F-test) Dan Uji Parsial (t-test) 93
9. Data Share Repurchase, DPR, MBR, DER, Firm Size dan Free Cash Flow 94
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasar modal mempunyai peranan penting bagi keuangan suatu perusahaan.
Pasar modal dapan menjadi sumber pendanaan maupun investasi. Pasar modal merupakan tempat bertemu antara penjual dan pembeli dengan risiko untung maupun rugi yang menjadi sarana bagi perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan
dana jangka panjangnya dengan menjual saham ataupun mengeluarkan obligasi (Jogiyanto, 2009).
Suatu manajemen keuangan yang efisien dibutuhkan supaya perusahaan dapat mencapai tujuannya. Adapun tujuan dari perusahaan itu sendiri pada dasarnya adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang sahamnya (Van Horne dan Wachowiz, 2013). Dalam mengelola keuangan suatu perusahaan seorang manajer keuangan harus mengambil beberapa keputusan dan kebijakan. Adapun keputusan dan kebijakan tersebut adalah keputusan pendanaan, keputusan investasi dan kebijakan dividen.
Pada keputusan pendanaan, Go public merupakan salah satu cara untuk bisa mendapatkan sejumlah dana yang besar. Perusahaan menjual kepemilikan atau sahamnya untuk mendapatkan dana yang perusahaan butuhkan. Namun suatu saat perusahaan dapat kembali membeli sahamnya dengan beberapa alasan tertentu.
Perusahaan yang melakukan kegiatan keputusan pembelian kembali saham dapat disebut juga melakukan tindakan share repurchase.
2
emiten untuk membeli kembali sebagian saham yang telah beredar atau yang sudah berada di tangan pemegang saham publik. Dalam kondisi pasar yang normal pembelian kembali saham yang dilakukan oleh emiten atau perusahaan publik diwajibkan memperoleh persetujuan dari rapat umum pemegang saham (RUPS) dahulu, tetapi untuk kondisi pasar yang berpotensi krisis hanya diwajibkan untuk melakukan disclosure (Mufidah, 2013).
Adapun tujuan suatu perusahaan melakukan kegiatan share repurchase adalah untuk mendistribusikan laba bersih perusahaan kepada para pemegang saham perusahaan itu sendiri selain dalam bentuk dividen. Pada saat perusahaan melakukan pembelian dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar sehingga menimbulkan capital gain bagi para pemegang saham perusahaan. Hal ini dianggap menguntungkan bagi para investor karena pajak dividen memiliki tingkat yang lebih besar bila dibandingkan dengan pajak yang didapat dari capital gain.
Dana yang nantinya akan didistribusikan untuk para pemegang saham harus mempertimbangkan alokasi yang tepat antara share repurchase dan dividen. Hal ini dikarenakan apabila perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen dalam jumlah yang tinggi akan mempengaruhi berapa banyak share repurchase yang akan dilakukan perusahaan. Begitu pula sebaliknya, apabila perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen dalam jumlah yang relatif kecil atau bahkan tidak membagikan dividen sama sekali maka perusahaan dapat mengalokasikan kas untuk share repurchase dalam jumlah yang besar (Dewi, 2018).
Kebijakan share repurchase yang dilakukan oleh perusahaan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Di Amerika, kegiatan share
repurchase mengalami pertumbuhan yang mencapai 26,1 persen tiap tahunnya pada periode 1980 hingga 2000. Lalu di Kanada, pertumbuhan kegiatan share repurchase mencapai 140 persen pada periode 1980 hingga 1997 (Rahmadani &
Mawardi, 2016).
Sumber: www.idx.com, 2019 (Data diolah)
Gambar 1.1
Grafik Rata-Rata Share Repurchase (SR) Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Tercatat di BEI Periode 2016-2018
Fenomena share repurchase juga terjadi di Indonesia. Layaknya perusahaan-perusahaan yang ada di negara-negara lain, perusahaan di Indonesia juga melakukan kegiatan share repurchase untuk mengembangkan perusahaannya.
Selama 10 bulan pertama tahun 2019, sudah 17 perusahaan non keuangan yang melakukan pembelian kembali saham (share repurchase) dan sudah ada 3 perusahaan yang berencana untuk melakukan pembelian kembali saham. Hal ini menunjukkan bahwa sudah pasti terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah
2.01%
0.86% 0.92%
0.00%
0.50%
1.00%
1.50%
2.00%
2.50%
2016 2017 2018
Rata-Rata Share Repurchase
4
perusahaan yang melakukan share repurchase pada 3 tahun terakhir.
Dapat dilihat dari Gambar 1.1 rata-rata share repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di BEI Periode 2016-2018 mengalami fluktuasi yang dimana akhirnya terjadi penurunan. Pada tahun 2017 rata-rata share repurchase mengalami penurunan sebesar 1,15 persen dan pada tahun 2018 hanya mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen.
Sumber: www.idx.com (2019)
Gambar 1.2
Grafik Jumlah Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Tercatat di BEI Periode 2016-2018
Bila dilihat pada Gambar 1.2, Jumlah perusahaan yang melakukan Share Repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di BEI Periode 2016-2018 mengalami fluktuasi namun yang akhirnya dimana terjadi kenaikan. Pada tahun 2017 jumlah perusahaan yang melakukan share repurchase mengalami penurunan
sebanyak 2 perusahaan tetapi pada tahun 2018 mengalami kenaikan sebanyak 3 perusahaan.
14
12
15
0 2 4 6 8 10 12 14 16
2016 2017 2018
Jumlah Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi share repurchase menurut Susanti & Erlanda (2018) dan Rahmadhani & Mawardi (2016) adalah dividend payout ratio, market to book ratio, debt to equity ratio, firm size dan free cash flow.
Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, akhirnya peneliti memilih keempat faktor tersebut dan ingin membuktikan bagaimana pengaruh keempat variabel tersebut terhadap share repurchase.
Sumber: www.idx.com, 2019 (Data diolah)
Gambar 1.3
Grafik Rata-Rata Persentase Dividend Payout Ratio(t-1) (DPR(t-1)) Perusahaan Yang Melakukan dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan
Non Keuangan Periode 2016-2018
Untuk memperjelas dan menganalisis adanya permasalahan share repurchase serta melihat hubungannya dengan faktor-faktor yang telah diuraikan di atas, maka berikut ini adalah data empiris yang dapat disajikan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi share repurchase.
48%
70%
59%
59%
50%
67%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
2015 2016 2017
Rerata Persentase DPR Perusahaan yang Melakukan Share Repurchase
Rerata Persentase DPR Perusahaan yang Tidak Melakukan Share Repurchase
6
payout ratio. Salah satu aspek yang dinilai dalam mengukur kinerja perusahaan adalah kebijakan dividen dari satu perusahaan tersebut atau seberapa besar dividen yang diberikan perusahaan tersebut kepada pemegang saham. Dividend Payout Ratio adalah perbandingan antara dividen yang dibayarkan terhadap laba bersih yang didapatkan suatu perusahaan. Pada Gambar 1.3 menunjukkan adanya perbedaan antara DPR perusahaan yang melakukan Share Repurchase dan yang tidak melakukan Share Repurchase.
Pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.3 menunjukkan grafik perbandingan antara Share Repuchase (SR) dengan Dividend Payout Ratio (DPR). Di tahun 2017 rata- rata SR pada perusahaan non keuangan mengalami penurunan tetapi pada tahun 2018 mengalami kenaikan. Sama seperti rata-rata SR, rata-rata DPR perusahaan non keuangan yang melakukan SR pada tahun 2016 juga mengalami penurunan dan pada tahun 2017 juga mengalami kenaikan. Dari gambar grafik diatas dilihat adanya hubungan yang negatif antara DPR di tahun 2016 dan 2017 dengan SR di tahun 2017 dan 2018.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakkonsistenan terhadap penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Larsson-Olaison (2010) menyatakan bahwa DPR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap share repurchase. Namun hasil penelitian tersebut inkosisten dengan penelitian Larsson- Olaison (2010) yang menyatakan bahwa DPR berpengaruh positif dan signifikan terhadap share repurchase. Selain itu ada juga penelitian yang dilakukan oleh Rahmadhani & Mawardi (2016) yang menyatakan bahwa DPR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap share repurchase.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi share repurchase adalah Market to Book Ratio. Market to Book Ratio digunakan untuk mengukur apakah suatu perusahaan mengalami undervaluation atau tidak. Dimana semakin rendah nilai rasio ini mengindikasikan semakin besarnya tingkat undervaluation, karena nilai pasarnya relatif lebih rendah dibanding nilai bukunya (Li et al, 2007). Pada Gambar 1.4 menunjukkan adanya perbedaan antara MBR perusahaan yang melakukan Share Repurchase dan yang tidak melakukan Share Repurchase.
Sumber: www.idx.com, 2019 (Data diolah)
Gambar 1.4
Grafik Rata-Rata Market to Book Ratio(t-1) (MBR(t-1)) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan Non
Keuangan Periode 2016-2018
Pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.4 menunjukkan grafik perbandingan antara share repurchase (SR) dengan market to book ratio (MBR). Rata-rata SR di tahun 2017 dan rata-rata MBR di tahun 2016 pada perusahaan non keuangan sama-sama mengalami penurunan tetapi pada tahun rata-rata SR di tahun 2018 mengalami
2.84
1.87 1.73
4.3 4.1 4.1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
2015 2016 2017
Rerata MBR Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase Rerata MBR Perusahaan Yang Tidak Melakukan Share Repurchase
8
kenaikan sedangkan rata-rata MBR di tahun 2017 malah mengalami penurunan.
Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa adanya hubungan negatif antara MBR di tahun 2016 dengan SR di tahun 2017, namun menunjukkan hubungan positif antara MBR di tahun 2017 dengan SR di tahun 2018.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakkonsistenan terhadap penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jiang et al (2013), Andriosopoulos & Hoque (2013) dan Teng & Hachiya (2011) menyatakan bahwa market to book ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap share repurchase.
Namun hasil penelitian tersebut inkosisten dengan penelitian Susanti & Erlanda (2018) dan Rahmadhani & Mawardi (2016) yang menyatakan bahwa market to book ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap share repurchase.
Sumber: www.idx.com, 2019 (Data diolah)
Gambar 1.5
Grafik Rata-Rata Persentase Debt to Equity Ratio(t-1) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan
Non Keuangan Periode 2016-2018
204%
126%
59%
78%
101% 94%
0%
50%
100%
150%
200%
250%
2015 2016 2017
Rerata Persentase DER Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase Rerata Persentase DER Perusahaan Yang Tidak Melakukan Share Repurchase
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi share repurchase adalah debt to equity ratio. Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengukur tingkat leverage suatu perusahaan dimana leverage merupakan salah satu komponen yang penting dalam struktur modal yang optimal (Rahmadhani & Mawardi, 2016). Debt to Equity Ratio adalah rasio perbandingan antara penggunaan hutang terhadap ekuitas perusahaan.
Pada Gambar 1.5 menunjukkan adanya perbedaan antara DER perusahaan yang melakukan Share Repurchase dan yang tidak melakukan Share Repurchase.
Pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.5 menunjukkan grafik perbandingan antara share repurchase (SR) dengan debt to equity ratio (DER). Rata-rata SR di tahun 2017 dan rata-rata DER di tahun 2016 perusahaan non keuangan mengalami penurunan tetapi di tahun 2018 rata-rata SR mengalami kenaikan sedangkan di tahun 2017 rata-rata DER tetap mengalami penurunan. Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa adanya hubungan positif antara DER di tahun 2016 dengan SR di tahun 2017, namun menunjukkan hubungan negatif antara DER di tahun 2017 dengan SR di tahun 2018.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan terhadap
penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Larson-Ollaison (2010) menyatakan bahwa debt to equity ratio berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap share repurchase. Namun hasil penelitian tersebut inkosisten dengan penelitian Bjork & Ronegard (2011) yang menyatakan bahwa debt to equity ratio berpengaruh positif dan signifikan tehadap share repurchase.
Selain itu ada juga penelitian dari Rahmadhani & Mawardi (2016) yang
10
terhadap share repurchase.
Faktor berikutnya yang mempengaruhi share repurchase adalah firm size.
Firm size merupakan indikator untuk melihat berapa besar atau ukuran dari suatu perusahaan. Firm size diproksikan oleh size yang diukur dengan total aset (Saffudin, 2011). Pada Gambar 1.6 menunjukkan adanya perbedaan antara Size perusahaan yang melakukan Share Repurchase dan yang tidak melakukan Share Repurchase.
Sumber: www.idx.com (2019)
Gambar 1.6
Grafik Rata-Rata Firm Size(t-1) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan Periode
2016-2018
Pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.6 menunjukkan grafik perbandingan antara rata-rata share repurchase (SR) dengan rata-rata firm size (Size) perusahaan non keuangan yang melakukan share repurchase. Di tahun 2017 rata-rata SR mengalami penurunan sedangkan di tahun 2016 rata-rata size mengalami kenaikan.
Lalu di tahun 2018 rata-rata SR mengalami kenaikan sedangkan di tahun 2017 rata-
IDR7,747.5
IDR19,588.5
IDR17,063.7 IDR46,763.2
IDR55,748.3 IDR57,193.2
IDR- IDR10,000.0 IDR20,000.0 IDR30,000.0 IDR40,000.0 IDR50,000.0 IDR60,000.0 IDR70,000.0
2015 2016 2017
Rerata Firm Size Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase (Rp. Miliar) Rerata Firm Size Perusahaan Yang Tidak Melakukan Share Repurchase (Rp. Miliar)
rata size mengalami penurunan. Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa adanya hubungan negatif antara size di tahun 2016 dan 2017 dengan SR di tahun 2017 dan 2018.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakkonsistenan terhadap penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Susanti Erlanda (2018) dan Andriosopoulos & Hoque (2013) menyatakan bahwa firm size berpengaruh positif dan signifikan terhadap share repurchase. Namun hasil penelitian tersebut inkosisten dengan penelitian Toyohiko & Hachiya (2011) yang menyatakan bahwa firm size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap share repurchase.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi share repurchase adalah free cash flow. Free cash flow merupakan arus kas yang benar-benar tersedia untuk dibayarkan kepada investor setelah perusahaan melakukan investasi dalam aset tetap, produk baru, dan modal kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang sedang berjalan (Brigham & Houston, 2015). Free cash flow dapat dihitung dengan arus kas operasi dikurang dengan jumlah belanja modal (Guinan, 2010). Pada Gambar 1.7 menunjukkan adanya perbedaan antara FCF perusahaan yang melakukan Share Repurchase dan yang tidak melakukan Share Repurchase.
Pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.7 menunjukkan grafik perbandingan antara rata-rata share repurchase (SR) dengan rata-rata free cash flow (FCF) perusahaan non keuangan yang melakukan share repurchase. Di tahun 2017 rata-rata SR mengalami penurunan sedangkan di tahun 2016 rata-rata FCF mengalami kenaikan.
12
rata FCF mengalami penurunan. Dari gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa adanya hubungan negatif antara FCF di tahun 2016 dan 2017 dengan SR di tahun 2017 dan 2018.
Sumber: www.idx.com (2019)
Gambar 1.7
Grafik Rata-Rata Free Cash Flow(t-1) Perusahaan Yang Melakukan Dan Tidak Melakukan Share Repurchase Pada Perusahaan Non Keuangan
Periode 2016-2018
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakkonsistenan terhadap penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rahmadhani & Mawardi (2016) menyatakan bahwa free cash flow berpengaruh positif dan signifikan terhadap share repurchase. Namun hasil penelitian tersebut inkosisten dengan penelitian Susanti &
Erlanda (2018) dan Hariyanto & Mardani (2015) yang menyatakan bahwa firm size berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap share repurchase.
Melihat adanya fenomena share repurchase dan belum adanya konsistensi hasil pada penelitian-penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor apa saja yang
IDR387.5 IDR650.4
IDR178.4 IDR2,214.1
IDR12,257.3
IDR1,594.9
IDR- IDR2,000.0 IDR4,000.0 IDR6,000.0 IDR8,000.0 IDR10,000.0 IDR12,000.0 IDR14,000.0
2015 2016 2017
Rerata Free Cash Flow Perusahaan Yang Melakukan Share Repurchase (Rp. Miliar) Rerata Free Cash Flow Perusahaan Yang Tidak Melakukan Share Repurchase (Rp. Miliar)
mempengaruhi share repurchase. Maka penelitian ini ingin meneliti kembali dan mengkaji lebih lanjut tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi share repurchase. Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka akan dilakukan penelitian ini dengan judul "ANALISIS DETERMINAN SHARE REPURCHASE PADA PERUSAHAAN NON KEUANGAN YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2016-2018".
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) dan Free Cash Flow (FCF) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap Share Repurchase?
2. Apakah Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase?
3. Apakah Market to Book Ratio (MBR) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase?
4. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Share Repurchase?
5. Apakah Firm Size (Size) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase?
6. Apakah Free Cash Flow (FCF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase?
14
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) dan Free Cash Flow (FCF) secara serempak terhadap Share Repurchase.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Share Repurchase.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Market to Book Ratio (MBR) terhadap Share Repurchase.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Share Repurchase.
5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Firm Size (Size) terhadap Share Repurchase.
6. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Free Cash Flow (FCF) terhadap Share Repurchase.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Perusahaan
Diharapkan penelitian ini dapan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk melakukan kebijakan pembelian kembali saham (share repurchase).
2. Bagi Peneliti/Akademisi
Bagi peneliti, diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan
bukti empiris mengenai determinan share repurchase pada perusahaan non keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018, sehingga dapat bermanfaat untuk penelitian selanjutnya. Bagi kalangan akademis, diharapkan menjadi sumbangan pemikiran dan acuan untuk penelitian di masa mendatang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Aksi Korporasi (Corporate Action)
2.1.1 Pengertian Aksi Korporasi (Corporate Action)
Corporate action merupakan aktivitas emiten yang berpengaruh terhadap jumlah saham yang beredar dan berpengaruh terhadap harga saham di pasar (Fakhruddin, 2011). Adapun tujuan suatu perusahaan mengambil kebijakan corporate action adalah untuk memperbaiki atau menunjukkan performa perusahaan serta untuk mendapatkan dana dari pasar modal.
Perusahaan yang ingin melakukan pengembangan dapat melakukan beberapa bentuk aksi korporasi, karena corporate action selalu ditunggu oleh investor dan seringkali berdampak positif bagi kinerja perusahaan.
Corporate action mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepentingan pemegang saham, karena corporate action yang dilakukan emiten akan berpengaruh terhadap jumlah saham yang beredar, komposisi kepemilikan saham, jumlah saham yang akan dipegang oleh pemegang saham, serta pengaruhnya terhadap pergerakan harga saham (Darmadji, 2006).
Menurut Fakhruddin (2005), umumnya aksi korporasi mengacu kepada landasan ketentuan yang diatur dalam:
1. Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas 2. Ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal
3. Ketentuan Bursa
2.1.2 Dampak Aksi Korporasi
Aksi korporasi tentu akan memberikan dampak baik siginifikan maupun tidak, terutama kepada pemegang saham. Sehubungan dengan itu, dampak aksi korporasi dari aspek pemegang saham dapat dikategorisasikan sebagai berikut:
1. Segi Keuntungan
Adalah aksi korporasi yang memberikan pengaruh terhadap keuntungan/return yang diharapkan oleh pemegang saham, terutama pemegang saham pengendali. Contoh aksi korporasi dalam hal ini adalah pemberian bonus/saham bonus kepada pemegang saham.
2. Segi Reorganisasi
Aspek ini memandang berbagai aksi korporasi yang dapat mengubah struktur organisasi perusahaan karena perubahan nilai ataupun jumlah saham dari para pemegang saham. Aspek korporasi yang mengandung aspek reorganisasi diantaranya adalah perubahan ekuitas atau efek, konversi efek dan penggantian efek.
3. Segi Pemberitahuan
Aksi korporasi ini dilakukan emiten/perusahaan dalam hal pemberian informasi kepada para pemegang saham. Contoh aksi yang dilakukan perusahaan dadri segi pemebritahuan adalah rapat tahunan, pemberitahuan pelaksanaan aksi korporasi tertentu, dan lain-lain.
2.1.3 Jenis-Jenis Aksi Korporasi
Adapun jenis-jenis dari aksi korporasi menurut Fakhruddin (2005), yaitu:
18
Dividen adalah distribusi pembagian pendapat perusahaan, yang ditentukan oleh dewan direksi perusahaan kepada para pemegang saham. Pembagian dividen dapat dilakukan dalam bentuk saham maupun dividen tunai.
2. Pemecahan Saham (Stock Split)
Pemecahan saham atau stock split adalah tindakan emiten yang memecah nilai nominal saham menjadi lebih kecil tiap lembar sahamnya. Stock split dilakukan dengan menggunakan rasio tertentu, seperti 1:2, 1:5, 1:10, dan seterusnya.
Pemecahan saham akan berpengaruh terhadap jumlah lembar saham yang beredar di pasar sekunder.
3. Penyatuan Saham (Reverse Stock Split)
Penyatuan saham merupakan kebalikan dari pemecahan saham, yaitu tindakan emiten yang menyatukan nilai nominal beberapa saham menjadi satu yang menyebabkan niai nominal saham menjadi lebih besar. Reverse stock split dilakukan dengan menggunakan rasio yang pada umumnya sama dengan stock split, seperti 1:2, 1:5, 1:10, dst. Penyatuan saham menyebabkan jumlah lembar saham yang beredar di pasar sekunder menjadi lebih sedikit.
4. Penawaran Umum Perdana (IPO)
Suatu kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang pasar modal dan peraturan pelaksanaannya. IPO adalah langkah pertama bagi perusahaan untuk menjadi emiten dalam Pasar Modal Indonesia (listing di Bursa Efek Indonesia).
5. Pembagian Saham Bonus
Saham bonus adalah saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari kapitalisasi agio saham. Karena merupakan kapitalisasi dari agio saham, pemegang saham tidak lagi menyetorkan aktiva untuk menambah saham. Inilah yang disebut dengan saham bonus.
6. Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Right Issue)
Hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) adalah hak yang melekat pada saham yang memberikan kesempatan bagi pemegang saham yang bersangkutan untuk membeli efek baru sebelum ditawarkan kepada pihak lain. Dengan kata lain, HMETD adalah pre-emptive right yang diberikan oleh perseroan.
7. Pembelian Saham Kembali (Buyback / Share Repurchase)
Pembelian kembali saham (Buy Back / Share Repurchase) adalah salah satu aksi korporasi yang dilakukan emiten, yaitu pembelian sejumlah saham bersifat ekuitas baik seluruhnya maupun dalah jumlah tertentu yang dilakukan oleh perusahaan/emiten terhadap pemegang saham.
2.2 Kebijakan Dividen
2.2.1 Pengertian Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang berkaitan dengan besarnya jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham dan besarnya laba yang ditahan untuk kepentingan perusahaan. Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau ditahan untuk
20
Efni, 2015). Jika laba yang ditahan perusahaan berjumlah besar berarti dividen yang dibayarkan akan semakin kecil.
2.2.2 Teori Kebijakan Dividen
Ada beberapa teori yang dapat dijadikan landasan dalam penentuan kebijakan dividen untuk perusahaan. Menurut Syahyunan (2015), adapun teori dari kebijakan dividen yaitu:
1. Teori Dividen Tidak Relevan dari Modigliani dan Miller
Teori ini dikemukakan oleh Franco Modigliani dan Merton Miller. Menurut Modigliani dan Miller (MM), nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya DPR, tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan kelas risiko perusahaan
2. Teori "The Bird in the Hand"
Teori ini dikemukakan oleh Myron J. Gordon dan John Lintner. Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika DPR rendah karena investor lebih suka menerima dividen daripada capital gain.
Menurut mereka, investor memandang dividend yield lebih pasti dari pada capital gain yield. Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor, biaya modal sendiri dari laba ditahan adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor.
3. Teori Perbedaan Pajak (Tax Differential Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu, investor mensyaratkan suatu tingkat
keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividend yield tinggi dari pada saham dengan dividend yield rendah. Jika pajak atas dividen lebih besar dari pajak atas capital gain, perbedaan ini akan makin terasa.
4. Teori "Signaling Hypothesis"
Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, seiring diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya, penurunan dividen pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen dari pada capital gain.
5. Teori "Clientele Effect"
Teori ini menyatakan bahwa kelompok pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan.
Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu DPR yang tinggi. Sebaliknya, kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan. Jika ada perbedaan pajak bagi individu maka pemegang saham yang dikenai pajak lebih tinggi lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak. Kelmopok ini senang membayar dividen yang kecil. Sebaliknya, kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang besar.
2.3 Share Repurchase
2.3.1 Pengertian Share Repurchase
Pembelian kembali saham atau disebut share repurchase merupakan salah
22
bersifat ekuitas baik seluruhnya maupun dalam jumlah tertentu yang dilakukan oleh perusahaan / emiten terhadap pemegang saham (Dalgleish, 2006).
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Bapepam LK No. XI.B.2 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik Ketentuan No. 3 huruf b yang berisi "Pembelian kembali saham dapat dilakukan melalui bursa efek maupun diluar bursa efek".
2.3.2 Tujuan Share Repurchase
Ada beberapa tujuan ataupun alasan perusahaan melakukan share repurchase menurut Fakhrudin (2006), yaitu:
1. Untuk menjaga kewajaran harga saham
Di pasar modal, harga saham suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur baik tidaknya kinerja keuangan perusahaan tersebut, sehingga dapat dikatakan dalam kondisi yang wajar dan normal. Semakin baik kinerja keuangan suatu perusahaan, maka harga sahamnya juga semakin membaik / meningkat. Pembelian kembali (buyback) saham dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai oleh emiten untuk meningkatkan kembali harga sahamnya yang telah jatuh di pasar. Dengan dilakukannya pembelian kembali (buyback) saham, maka berakibat pada naiknya laba per saham (earning per share / EPS) dan Return on Equity / ROE secara berkelanjutan yang dapat berakibat menaikkan harga saham di pasar. Di samping itu, dengan pembelian kembali (buyback) saham, saham yang dimiliki oleh masyarakat akan berkurang (supply berkurang), akibatnya adalah harga saham akan naik (dengan asumsi jumlah permintaan terhadap saham tersebut tetap).
2. Sinyal psikologis ke pasar
Pengumuman pembelian kembali (buyback) saham diharapkan mampu menularkan sinyal positif ke pasar bahwa harga saham mungkin sudah undervalued, dengan demikian investor atau pasar diharapkan bereaksi positif untuk melakukan pembelian pada saham tersebut sehingga pada gilirannya harga saham kembali ke tingkat yang diharapkan emiten. Ketika terjadi crash di pasar modal Amerika pada tahun 1987, banyak perusahaan besar mengumumkan akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Hal tersebut dilakukan dengan motivasi agar pasar mendapat sinyal positif dan segera beraksi positif sehingga harga-harga saham menjadi relatif terjaga.
3. Melakukan pembelian kembali saham untuk dijual kembali
Emiten yang telah melakukan pembelian kembali saham dapat menjual kembali sahamnya di Bursa. Jika saham yang telah dibeli kembali ini dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi dari harga perolehannya, maka selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian kembali saham tersebut di tambahkan sebagai Tambahan Modal Disetor. Hal ini akan memperbaiki struktur permodalan emiten tersebut.
4. Melakukan pembelian kembali saham untuk dibagikan kepada karyawan (Employee Stock Option Plan)
Beberapa perusahaan melakukan pembelian kembali saham dengan tujuan saham yang telah dibeli kembali akan dibagikan kepada karyawan sebagai insentif agar karyawan tersebut dapat terus bekerja di perusahaan tersebut.
24
program insentif bagi karyawan untuk memiliki saham perusahaan dimana karyawan tersebut bekerja. Banyak hal yang dapat dihasilkan dari program ESOP ini, diantaranya adalah karyawan akan semakin betah dalam waktu yang lama (mengurangi tingkat turnover atau keluar masuknya karyawan di perusahaan tersebut).
5. Untuk menghindarkan diri dari akuisisi oleh perusahaan yang lain karena memiliki dana kas yang melimpah
Perusahaan yang memiliki prospek yang bagus di masa depan terutama perusahaan yang sedang memiliki dana kas yang melimpah merupakan salah satu perusahaan yang sering diincar untuk diakuisisi. Sebagai salah satu cara pertahanan diri agar tidak diakuisisi, perusahaan tersebut dapat menggunakan dana kas yang dimilikinya untuk membeli kembali sahamnya. Di bursa saham yang sudah maju, seperti New York Stock Exchange (NYSE), pembelian kembali (buyback) sering dilakukan sebagai strategi pertahanan untuk menggagalkan upaya takeover atau pengambilalihan dari perusahaan lain yang tidak disukai emiten. Biasanya emiten yang memiliki saldo kas yang besar dalam neraca sering kali menjadi target yang menarik untuk akuisisi.
Maka emiten yang menjadi sasaran menggunakan kas untuk membeli kembali saham mereka sendiri agar membuat mereka kurang menarik untuk dijadikan target akuisisi.
6. Pertimbangan pajak
Pelaksanaan pembelian kembali (buyback) saham yang dilandasi oleh pertimbangan pajak sering kali terjadi, khususnya di negara-negara maju,
karena ketika seorang investor mendapatkan pembagian dividen maka investor tersebut akan dikenakan sejumlah pajak atas penghasilan dari dividen tersebut.
Artinya, return yang diberikan oleh emiten kepada pemegang menjadi berkurang karena adanya pajak atas dividen. Hal tersebut menjadi semakin krusial ketika tingkat pajak yang dikenakan atas pendapatan dividen relatif besar. Untuk alasan demikian, maka emiten memilih melakukan pembelian kembali (buyback) saham sehingga pemegang saham diberikan pilihan untuk menjual saham ketika investor merasa bahwa pilihan tersebut akan memberikan return yang lebih riil atau return yang memang diharapkan investor. Investor tentu akan bersedia membeli pada harga yang lebih tinggi dibanding harga pasar.
7. Faktor fleksibilitas bagi emiten
Keputusan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham merupakan keputusan yang direncanakan secara matang baik menyangkut timing, dana yang tersedia, dan pertimbangan kondisi keuangan perusahaan lainnya. Hal tersebut berbeda dengan keputusan dividen, karena manajemen emiten memiliki keleluasaan untuk mengatur kapan dan berapa besar transaksi yang akan dilakukan dalam pembelian kembali (buyback) saham.
8. Sebagai upaya penghematan dividen
Pembelian kembali (buyback) saham dapat mengurangi jumlah saham yang beredar di masyarakat, sehingga perusahaan dapat banyak menghemat pembagian dividen jika melakukan pembagian dividen saham, karena saham
26
2.3.3 Metode Share Repurchase
Menurut Vermaelen (2005), adapun lima metode dalam melakukan proses share repurchase yang dapat dipilih oleh perusahaan yaitu:
1. Fixed Price Tender Offer
Melalui metode ini perusahaan menawarkan untuk melakukan pembelian kembali sahamnya dengan harga tetap untuk sejumlah saham tertentu, jumlah target saham. Jika jumlah saham yang ditenderkan lebih besar dari jumlah saham yang ingin dibeli perusahaan, perusahaan dapat membeli kembali sejumlah saham antara jumlah target saham dan jumlah saham yang ditawarkan, sepanjang ini memperlakukan semua pemegang saham secara setara (dengan pengecualian pemegang saham yang secara umum, mendapatkan prioritas di atas pemegang saham lainnya). Jika jumlah saham yang ditenderkan kurang dari jumlah target, perusahaan melakukan sendiri untuk membeli kembali seluruh saham yang ditenderkan.
2. Dutch auction tender offer
Alih-alih harga tunggal, pelelangan menentukan kisaran harga di mana setiap pemegang saham tender memilih harga jual minimumnya yang dapat diterima.
Setiap pemegang saham menginformasikan perusahaan jumlah saham yang bersedia dia jual dan harga jual minimum yang dapat diterima. Perusahaan kemudian membayar kepada semua pemegang saham harga terendah yang akan mengambil jumlah saham yang dicari.
3. Repurchase in the open market
Yaitu cara paling umum untuk membeli kembali saham adalah melalui
program pembelian kembali saham terbuka. Dalam hal ini, perusahaan menginstruksikan broker untuk membeli beberapa saham di pasar terbuka.
4. Negotiated repurchase from private investors
Sebuah perusahaan juga dapat memutuskan untuk membeli kembali sahamnya sendiri dari investor besar.
5. Synthetic repurchases or repurchases "enhanced with derivatives"
Yaitu pembelian kembali yang dilakukan dengan menggunakan derivatif.
Secara umum, tiga jenis program dapat dibedakan mnulis put option (hak untuk menjual suatu aset diharga tertentu untuk jangka waktu tertentu), Buying collars, membeli kontarak berjangka (foreard contracts).
Rumus untuk menghitung share repurchase menurut Mehran (2013), yaitu 𝑆𝑅𝑖𝑡 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑏𝑒𝑙𝑖 𝐾𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑖𝑡
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟𝑖𝑡−1
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Share Repurchase
Fenomena share repurchase tentu dipengaruhi beberapa faktor dan berikut akan dibahas beberapa faktor yang menjadi variabel dalam penelitian ini yakni Dividend Payout Ratio (DPR), Market to Book Ratio (MBR), Debt to Equity Ratio (DER), Firm Size (Size) dan Free Cash Flow.
2.4.1 Dividend Payout Ratio
Dividend payout ratio adalah perbandingan antara dividen yang dibayarkan dengan laba bersih yang didapatkan dan biasanya disajikan dalam bentuk persentase. Semakin tinggi dividend payout ratio akan menguntungkan pihak
28
karena memperkecil laba ditahan. Namun sebaliknya dividend payout ratio semakin kecil akan merugikan para pemegang saham (investor) tetapi internal financial perusahaan semakin kuat (Gitusudarmo, 2002).
Menggantikan dividen tunai dengan share repurchase sebagai alat dalam mendistribusikan laba yang dimiliki perusahaan menjadi salah satu faktor dilaksanakannya share repurchase. Dalam tax differential theory, terdapat perbedaan beban pajak yang harus ditanggung investor antara dividen dengan capital gain. Pada umunya tingkat pajak capital gain jauh lebih rendah daripada tingkat pajak dividen, sehingga investor cenderung untuk memilih capital gain daripada dividen kas.
Dalam dividend substitution hypothesis juga menjelaskan bahwa share repurchase merupakan salah satu pertimbangan perusahaan dalam mendistribusikan kas kepada pemegang saham karena pajak dividen lebih besar dari pada pajak capital gain, sehingga perusahaan akan lebih mendistribusikan kas dalam bentuk share repurchase daripada dividen, yang berarti share repurchase digunakan sebagai pengganti pembayaran dividen.
Rumus untuk menghitung dividend payout ratio menurut Hanafi & Halim (2009), yaitu:
DPR(𝑡−1) = 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚(𝑡−1) 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚(𝑡−1)
2.4.2 Market to Book Ratio
Market to Book Ratio adalah perbandingan antara harga pasar dengan nilai buku suatu perusahaan/emiten yang biasanya disajikan dalam bentuk kali atau
kelipatan. Suatu kondisi pasar yang tidak efisien menyebabkan adanya informasi asimetris dimana tidak semua informasi tentang perusahaan dapat diketahui pasar secara keseluruhan.
Undervaluation merupakan kondisi dimana saham perusahaan dinilai terlalu rendah dibandingkan dengan nilai bukunya. Hal ini tercermin dalam nilai market to book yang rendah. Dimana perusahaan dengan nilai rasio market to book yang rendah cenderung untuk melakukan stock repurchase karena saham mereka dinilai terlalu rendah dibandingkan nilai bukunya (Li et al, 2007). Dalam undervaluation hypothesis, perusahaan melaksanakan share repurchase untuk mengirim sinyal positif kepada pasar akan prospek cerah perusahaan kedepannya.
Adanya reaksi positif setelah pengumuman share repurchase akan menaikkan harga saham perusahaan. Tingkat undervalue suatu saham dapat diukur dengan market to book ratio (Rahmadhani & Mawardi, 2016).
Rumus untuk menghitung market to book ratio menurut Gitman dan Zutter (2012), yaitu:
MBR(𝑡−1) = 𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘(𝑡−1) 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘(𝑡−1)
2.4.3 Debt to Equity Ratio
Debt to Equity Ratio adalah perbandingan antara total hutang dengan ekuitas suatu perusahaan/emiten dan biasanya disajikan dalam bentuk persentase.
Pengaruh debt to equity ratio terhadap share repurchase suatu perusahaan tentu ingin memiliki struktur modal yang optimal. Tingkat leverage perusahaan
30
leverage ratio hypothesis, perusahaan melaksanakan share repurchase untuk meningkatkan rasio leverage perusahaan hingga mencapai tingkat yang diinginkan perusahaan. Ketika perusahaan mendistribusikan labanya melalui share repurchase dan didanai dengan hutang, maka akan meningkatkan rasio leverage perusahaan, karena adanya peningkatan hutang serta jumlah ekuitas yang menurun (Rahmadhani & Mawardi, 2016). Tingkat leverage suatu perusahaan dapat diukur dengan debt to equity ratio.
Rumus untuk menghitung debt to equity ratio menurut Kasmir (2010), yaitu:
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜(𝑡−1) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡(𝑡−1) 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦(𝑡−1)
2.4.4 Firm Size
Ukuran perusahaan adalah nilai yang menunjukkan besaran perusahaan atau skala perusahaan yang ditentukan dari jumlah total aset yang dimiliki perusahaan (Saffudin, 2011). Ukuran perusahaan menjadi hal yang penting untuk mendapatkan efek kinerja dalam perusahaan. Hal itu berdasarkan asumsi bahwa perusahaan yang lebih besar secara umum memiliki lini produk dan kapasitas produksi yang lebih tinggi bersama dengan sumber daya manusia yang dimiliki serta prosedur-prosedur yang tersistematis dan berdampak secara langsung pada kinerja sebuah perusahaan (Zeptian & Roham, 2013). Sedangkan perusahaan yang lebih kecil memiliki kecenderungan pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja.
Selain itu, terdapat pengukuran yang digunakan untuk mengukur besar kecilnya perusahaan. Rumus untuk menghitung ukuran perusahaan (Firm Size) menurut Mehran (2016), yaitu:
𝑆𝑖𝑧𝑒(𝑡−1) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠(𝑡−1)
2.4.5 Free Cash Flow
Free cash flow adalah arus kas yang benar-benar tersedia untuk dibayarkan kepada investor (pemegang saham dan pemilik hutang) setelah perusahaan melakukan investasi dalam aset tetap, produk baru, dan modal kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang sedang berjalan (Brigham & Houston, 2015).
Dalam excess capital hypothesis, perusahaan akan memanfaatkan kelebihan kas tersebut untuk melaksanakan share repurchase. Selain sebagai alat pendistribusian laba kepada pemegang saham, share repurchase juga dapat digunakan sebagai wadah investasi perusahaan. Adanya kelebihan kas yang dihasilkan oleh perusahaan juga disebabkan karena laba yang dihasilkan perusahaan jauh melebihi kesempatan investasi perusahaan, sehingga share repurchase juga dilaksanakan sebagai tambahan investasi untuk perusahaan. Kelebihan kas yang dihasilkan perusahaan dapat diukur dengan free cash flow perusahaan.
Rumus untuk menghitung free cash flow menurut Guinan (2010), yaitu:
𝐹𝑟𝑒𝑒 𝐶𝑎𝑠ℎ 𝐹𝑙𝑜𝑤(𝑡−1) = Arus Kas Operasi(𝑡−1) − Belanja Modal(𝑡−1)
2.5 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaukan sebelumnya, terdapat persamaan dan perbedaan. Obyek pada penelitian ini adalah Perusahan Sektor Non Keuangan yang melakukan Share Repurchase periode 2016-2018 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen yang digunakan adalah share repurchase
32
equity ratio dan firm size.
1. Mawengkang & Tulung (2018)
Penelitian yang dilakukan oleh Juwita B. Mawengkang dan Joy Elly Tulung berjudul " Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Size Terhadap Kebijakan Pembelian Kembali Saham (Studi Pada Perusahaan Go Publicy Yang Terdaftar di BEI 2014-2016)". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan ROA, DER dan Size secara serempak dan parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Share Repurchase (SR).
2. Susanti & Erlanda (2018)
Penelitian yang dilakukan oleh Leni Susanti dan Erlanda berjudul " Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stock Repurchase Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2016". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa MBR dan DPR berpengaruh positif tidak signifikan terhadap SR. FCF dan DER berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap SR.
Firm Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap SR.
3. Mehran (2016)
Penelitian yang dilakukan oleh Nan Liu dan Jamshid Mehran yang berjudul
"Does dividend policy drive repurchases? : an empirical study". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa CF, Cash, EPS dan Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap SR. Sedangkan YIE, CEX, dan DAR berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap SR.
4. Rahmadhani & Mawardi (2016)
Penelitian yang dilakukan oleh Arindra Karunia Rahmadhani dan Wisnu Mawardi yang berjudul " Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Share Repurchase (Studi Pada Perusahaan Non-Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2014)" Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan DPR dan MBR berpengaruh positif tidak signifikan terhadap SR. Sedangkan FCF dan Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap SR. Lalu DER berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap SR.
5. Bjorck & Ronegard (2015)
Penelitian yang dilakukan oleh Erik Bjorck dan Patrik Ronegard yang berjudul
" Share Repurchase and Ownership Structure : A Quantitative Study on Swedish Large Cap Firms". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa Kepemilikan Instutisional tidak berpengaruh terhadap SR, Cash berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap SR, DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap SR , MBR dan Market Value berpengaruh negatif dan signifikan terhadap SR.
6. Hariyanto & Mardani (2015)
Penelitian yang dilakukan oleh Moh. Adi Hariyanto dan Ronny Malavia Mardani yang berjudul "Pengaruh Firm Size, Total Debt to Total Aseet
34
Ratio (DPR) Terhadap Pembelian Kembali Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia". Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa Size dan DPR berpengaruh positif dan signifikan terhadap Share Repurchase sedangkan Free Cash Flow, berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Share Repurchase.
7. Andriosopoulos (2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Dimitris Andriosopoulos dan Hafiz Hoque yang berjudul "The Determinants of Share Repurchases in Europe". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa Leverage dan MBR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap SR sedangkan Size tidak berpengaruh terhadap SR.
8. Jiang et al (2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Zhan Jiang, Kenneth A. Kim, Erik Lie dan Sean Yang yang berjudul "Share Repurchases, Catering, and Dividend Substitution". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik.
Hasil penelitian ini berhasil membuktikan bahwa MBR dan DPR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap SR sedangkan Cash dan Cash Flow berpengaruh positif dan signifikan terhadap SR.
9. Teng & Hachiya (2011)
Penelitian yang dilakukan oleh Min Teng dan Toyohiko Hachiya yang berjudul
"The Impact of Regulatory Reform on Stock Repurchases: Evidence from Japan". Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil