ANALISIS DAN PEMBAHASAN A.Gambaran Umum
C. Hasil dan Analisis Data
1. Uji Asumsi Klasik a.Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal.
Gambar 4.5 Uji Normalitas
Berdasarkan Grafik menggambarkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal. Terlihat dari nilai probability sebesar 0,706890 yang lebih besar dari derajat kesalahan 0,05 > dari derajat kesalahan α =
5% yaitu signifikan menyatakan Ho ditolak, sehingga dikatakan data berdistribusi normal. 0 1 2 3 4 5 6 7 -0.04 -0.02 0.00 0.02 0.04 0.06 Series: Residuals Sample 2005Q2 2013Q2 Observations 33 Mean 1.39e-17 Median -0.001438 Maximum 0.051372 Minimum -0.041247 Std. Dev. 0.024795 Skewness 0.239955 Kurtosis 2.476322 Jarque-Bera 0.693760 Probability 0.706890
113 b. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas artinya terdapat korelasi yang signifikan diantara dua atau lebih variabel bebas dalam suatu model regresi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model persamaan penelitian ini, penulis menggunakan matriks korelasi (Correlation Matriks).
Pengujian multikolinieritas berfungsi untuk apakah ditemukan adanya kolerasi antar variable independen. Ada tidaknya multikolinieritas dapat di lihat dari koefesien kolerasi masing – masing variable bebas, jika koefesien kolerasi di antara masing – masing variable bebas lebih dari 0,8 maka terjadi multikolinieritas. Berikut ini uji multikolinieritas dengan menggunakan matriks.
Tabel 4.5 Correlation Matrix
D(INFLASI) D(PENDAPATAN) D(EMAS)
D(INFLASI) 1.000000 0.006421 -0.238057
D(PENDAPATAN) 0.006421 1.000000 -0.258860
D(EMAS) -0.238057 -0.258860 1.000000
Dari tabel hasil analisis uji multikolinearitas dengan correlation matrix di atas terlihat bahwa koefisien korelasi tidak ada yang di atas 0,8 maka hal ini berarti Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model tidak terdapat masalah multikolinearitas.
114 Dengan terpenuhinya uji multikolonieritas maka model regresi tidak ditemukan adanya korelasi linier yang sempurna antar variabel-variabel bebas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain.
Jika variance dari residual satu pengamatan kepengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika variancetidak konstan atau berubah-ubah disebut dengan Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Nachrowi, 2006:109).
Bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Model regresi yang baik adalah jika tidak terjadi heteroskedastisitas.
Untuk mendeteksi data memiliki masalah heteroskedastis atau tidak yaitu jika probabilitas OBS*R2 > 0,05 maka data tidak terdapat heteroskedastisitas. Begitu sebaliknya, jika probabilitas OBS*R2 < 0,05 maka data terdapat heteroskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan aplikasi eviews 6 dengan menggunakan Uji White, diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
115 Gambar 4.6
Uji Heteroskedastisitas Heteroskedasticity Test: White
Obs*R-squared 12.48390 Prob. Chi-Square(9) 0.1874
Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai OBS*R2 adalah 12,48390 dan probabilitas dari Chi-Square sebesar 0,1874 yang lebih besar dari
nilai α sebesar 0,05. Karena nilai probabilitas Chi-square > 5% maka dalam hal ini Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut bersifat homokedastis setelah dilakukan Uji White.
Dengan lolosnya uji heteroskedastisitas maka dalam model regresi dapat dikatakan homokedastisitas yaitu varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap.
d. Uji Autokorelasi
Uji Autokolerasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-i (sebelumnya). Dalam menguji masalah autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test (Winarno, 2009:5.33). Uji ini sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah autokorelasi tidak hanya pada derajat pertama (first order) tetapi juga digunakan pada tingkat derajat.
Uji autokorelasi bisa dilihat dari nilai probabilitas Chi-Square. Jika probabilitas Chi-square >5% maka Ho gagal ditolak dan dapat
116 disimpulkan data tidak terdapat autokorelasi dan sebaiknya jika probabilitas Chi-square <5% maka Ha gagal ditolak atau terdapat autokorelasi.
Dalam mengidentifikasi autokorelasi dapat pula diketahui dengan melakukan Uji Durbin-Watson. Jika model terbebas dari masalah autokorelasi, nilai D-W berada diantara 1,54 sampai dengan 2,46. (Winarno, 2009:5.28)
Gambar 4.7 Uji Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
Obs*R-squared 5.403860 Prob. Chi-Square(2) 0.0671 Durbin-Watson stat 1.801601
Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai Obs*R2 sebesar 5,403860 dan nilai probabilitas Chi-Square 0,0671 yang lebih besar dari nilai α
sebesar 0,05. Karena nilai probabilitas Chi-Square > α = 5%, dan besarnya nilai Durbin-Watson 1,801601. Hasil tersebut menjelaskan bahwa nilai D-W berada diantara 1,54 sampai 2,46 yang berarti model terbebas dari masalah autokorelasi maka Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak terdapat masalah autokorelasi. Dengan lolosnya uji autokorelasi maka tidak ada hubungan antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut ruang dan waktu.
117 2. Uji hipotesis
Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis yang telah ditetapkan diterima atau ditolak secara statistik. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan Uji Statistic t dan Uji Adj R2 (Adjusted R Square). Model penelitian yang menggunakan Ordinary Least Square ini adalah sebagai berikut:
Gambar 4.8
Hasil Pengolahan Data Regresi Dependent Variable: D(LNRAHN)
Method: Least Squares Date: 03/04/15 Time: 01:02 Sample: 2005Q2 2013Q2 Included observations: 33
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. D(INFLASI) -0.000264 0.001932 -0.136578 0.8923 D(LNPENDAPATAN) 0.300396 0.128868 2.331031 0.0269 D(LNEMAS) 1.072267 0.180126 5.952869 0.0000 C 0.059899 0.011000 5.445429 0.0000 R-squared 0.606069 Adjusted R-squared 0.565318 F-statistic 14.87233 Prob(F-statistic) 0.000005
RAHN = β + β (INFLASI) + β (PENDAPATAN) + β3 (EMAS) + ε
RAHN = 0,059899 + (-0,000264) + 0,300396 + 1,072267 + 0,011000 a. Uji t (Uji Parsial)
Uji-t bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial (individu) variabel independen (tingkat Inflasi, Pendapatan dan Harga emas) terhadap variabel dependen yaitu Penyaluran Kredit Gadai Syariah
118 (Rahn). Salah satu cara untuk melakukan uji t adalah dengan melihat nilai probabilitas t-statistik hasil regresi model penelitian.
Apabila nilai probabilitas t-statistik lebih kecil dari signifikansi α = 0,05 berarti variabel independen secara parsial (individu) berpengaruh terhadap variabel dependen.
Dari hasil tabel bahwa didapatkan dari uji t statistik yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Pengaruh Tingkat Inflasi terhadap Kredit Rahn. Berdasarkan hasil regresi model penelitian diperoleh hasil probabilitas t-statistik sebesar 0,8923. Karena probabilitas t-statistik lebih besar dari 0,05 maka hipotesis Ho diterima berarti secara parsial tingkat inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kredit Rahn. Koefisien Regresi Tingkat Inflasi sebesar -0.000264 menunjukan bahwa setiap kenaikan Tingkat Inflasi sebesar 1 persen maka akan menurunkan penyaluran kredit Rahn sebesar 0.000264 persen dengan asumsi ceteris paribus.
2) Pengaruh Pendapatan Pegadaian terhadap Penyaluran kredit Rahn. Berdasarkan hasil regresi model penelitian diperoleh hasil probabilitas t-statistik sebesar 0,0269. Karena probabilitas t-statistik lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis Ho ditolak berarti secara parsial pendapatan pegadaian berpengaruh secara signifikan terhadap penyaluran kredit Rahn. Koefisien Regresi pendapatan pegadaian sebesar 0,300396 menunjukan bahwa setiap kenaikan pendapatan Pegadaian sebesar 1
119 persen maka akan menaikkan Penyaluran kredit Rahn sebesar 0,300396 persen dengan asumsi ceteris paribus.
3) Pengaruh Harga Emas terhadap Penyaluran kredit Rahn. Berdasarkan hasil regresi model penelitian diperoleh hasil probabilitas t-statistik sebesar 0,0000. Karena probabilitas t-statistik lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis Ho ditolak berarti secara parsial harga emas berpengaruh secara signifikan terhadap Penyaluran kredit Rahn dengan asumsi ceteris paribus. Koefisien Regresi harga emas sebesar 1,072267 menunjukan bahwa setiap kenaikan harga emas sebesar 1 persen maka akan menaikkan Penyaluran kredit Rahn sebesar 1,072267 persen dengan asumsi ceteris paribus.
4) Jika variabel-variabel independen dianggap konstan atau bernilai nol, artinya variabel independen tidak terjadi peningkatan atau penurunan maka besarnya Penyaluran Kredit Rahn adalah sebesar 0,059899. b. Koefesien determinasi (Adjusted R Square)
Koefisien determinasi R2 yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan nilai Adjusted R2 pada saat mengevaluasi model regresi terbaik. Dikarenakan dalam penelitian ini menggunakan lebih dari satu variabel independen.
Berdasarkan hasil regresi pada tabel dapat diketahui bahwa nilai Adjusted R Squared sebesar 0,606069 ini menunjukkan bahwa variabel dependen Kredit Rahn secara bersama-sama mampu dijelaskan oleh variabel independen tingkat inflasi, pendapatan pegadaian dan harga
120 emas sebesar 60,6 persen. Sedangkan sisanya sebesar 39,4 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian.
c. Uji F (Simultan)
Uji–F bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel variabel-variabel independen (inflasi, pendapatan pegadaian dan harga emas) secara bersama-sama terhadap variabel dependen yaitu kredit rahn. Berdasarkan tabel diperoleh hasil F-statistik sebesar 63,81949 dengan nilai probabilitas (F-statistik) sebesar 0,000005. Karena nilai probabilitas F-statistik lebih kecil dari nilai α = 0,05 (0,00 < 0,05) maka hipotesis Ho ditolak berarti dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi, pendapatan pegadaian dan harga emas secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit Rahn, dengan asumsi ceteris paribus.
C.Interpretasi Ekonomi 1. Inflasi
Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel tingkat Inflasi mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Penyaluran Kredit Rahn, yang berarti setiap kenaikan inflasi akan menurunkan Penyaluran kredit, karena Inflasi merupakan faktor ekonomi yang menjadi faktor eksternal perusahaan, dengan semakin tinggi inflasi maka berdampak semakin menurunnya penyaluran kredit. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk penyaluran kredit Rahn melihat tidak signifikannya inflasi terhadap penyaluran kredit Rahn.
121 Hal tersebut dikarenakan dalam mengajukan kredit kepada PT Pegadaian masyarakat tidak memperhitungkan berapa besarnya tingkat inflasi melainkan karena lebih kepada pemenuhan kebutuhan dana yang mendesak. (Aziz, 2013:18).
Kenaikan inflasi tidak memberikan pengaruh secara signifikan akan pandangan kepercayaan masyarakat yang telah terbentuk untuk menggunakan jasa kredit dari unit usaha Perum Pegadaian. Selain itu, terjadi inflasi atau tidak terjadi inflasi tidak menjadikan suatu pertimbangan bagi seseorang untuk menggunakan jasa kredit Perum Pegadaian. Hal ini disebabkan karena pengguna kredit Perum Pegadaian pada umumnya berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah yang memerlukan dana cepat. Di mana pinjaman tersebut umumnya digunakan untuk keperluan yang sifatnya mendadak.
Begitu pula dengan penelitian Sariasih (2013:9) bahwa Inflasi pada penelitian ini menunjukkan arah negatif dan tidak signifikan terhadap penyaluran kredit, karena semakin meningkatnya inflasi akan menyebabkan semakin meningkatnya suku bunga kredit pada sektor perbankan. Hal ini menyebabkan minat masyarakat untuk meminjam kredit semakin menurun, sehingga dengan meningkatnya suku bunga akibat terjadinya inflasi dapat mempengaruhi menurunnya permintaan kredit pada LPD Kabupaten Badung.
Sejalan pula dengan penelitian Ade Purnomo (2009:14) bahwa variabel tingkat inflasi secara statistik positif dan tidak signifikan terhadap penyaluran kredit Perum Pegadaian Syariah Cabang Dewi Sartika. Hal ini lebih menunjukkan bahwa Tingkat Inflasi yang terjadi di propinsi D.K.I Jakarta tidak
122 memberikan pengaruh terhadap pergerakan usaha Penyaluran kredit Perum Pegadaian Syariah Cabang Dewi Sartika. Beberapa penyebab terjadi hal ini, lebih didominasi oleh faktor kepercayaan nasabah yang tumbuh akan potensi profit/ keuntungan yang terkandung dalam usaha penyaluran kredit Perum Pegadaian.
Inflasi tidak memberikan pengaruh akan pandangan kepercayaan masyarakat yang telah terbentuk untuk menggunakan jasa kredit dari unit usaha Perum Pegadaian yang lebih dikenal dengan berbagai kemudahan dan proses yang praktis dan singkat, karena sesuai dengan motto PT Pegadaian yaitu
”mengatasi masalah tanpa masalah”, sehingga kecenderungan akan pengaruh
inflasi yang terjadi terhadap jumlah penyaluran kredit PT Pegadaian dikatakan sangat kecil atau tidak ada sama sekali.
2. Pendapatan Pegadaian
Dari hasil pengujian menunjukan bahwa variabel Pendapatan Pegadaian mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Penyaluran Kredit Rahn, yaitu dengan meningkatnya pendapatan pegadaian akan meningkatkan penyaluran kredit Rahn. Karena pendapatan pegadaian merupakan faktor internal perusahaan, dengan semakin tinggi hasil pendapatannya maka semakin tinggi pula penyaluran kredit Rahn tersebut.
Sumber dana yang digunakan untuk kredit berasal dari pihak ketiga seperti perbankan dan investor lainnya. Dari sisi internal perusahaan, dana yang disalurkan juga dipengaruhi oleh sumber pendapatan usaha yang diperoleh dari biaya administrasi dan biaya sewa. Oleh karena itu dengan hasil
123 signifikan variabel pendapatan pegadaian, berarti penyaluran kredit PT Pegadaian Syariah dipengaruhi oleh pendapatan usaha pegadaian.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Purnomo (2009:13). Berdasarkan hasil uji statistik, Variabel Pendapatan Perum Pegadaian secara statistik positif dan signifikan terhadap Penyaluran kredit Perum Pegadaian Syariah Cabang Dewi Sartika. Pendapatan Perum Pegadaian memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap Penyaluran kredit. Artinya semakin tinggi laju Pendapatan Perum Pegadaian yang mencerminkan semakin maraknya kegiatan penyaluran kredit melalui bidang-bidang usaha Perum Pegadaian yang secara bekelanjutan mencerminkan pergerakan usaha perekonomian bagi masyarakat.
Sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan Titi Widiarti (2013:4). Berdasarkan hasil uji statistik tersebut, variabel pendapatan Perum Pegadaian secara statistik positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit Perum Pegadaian Cabang Batam. Artinya semakin tinggi laju pendapatan Perum Pegadaian yang mencerminkan semakin maraknya kegiatan penyaluran kredit melalui bidang-bidang usaha Perum Pegadaian yang secara berkelanjutan mencerminkan pergerakan usaha perekonomian bagi masyarakat Batam dan begitu juga sebaliknya. Pendapatan-pendapatan Perum Pegadaian tersebut berasal dari bunga pelunasan, bunga yang dilelang, uang kelebihan kadaluwarsa, jasa taksiran, jasa titipan, kelebihan beda kas, dan lain-lain. Pendapatan yang paling besar berasal dari bunga pelunasan karena kegiatan utama Perum Pegadaian adalah berasal dari kegiatan perkreditan.
124 3. Harga Emas
Dari hasil pengujian menunjukan bahwa variabel harga emas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Penyaluran Kredit Rahn, yaitu dengan fluktuasi harga emas mempengaruhi penyaluran kredit gadai syariah (Rahn). Kenaikan harga emas turut mempengaruhi penyaluran kredit Rahn karena semakin tinggi harga emas maka penyaluran kredit Rahn juga semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa apabila harga emas mengalami kenaikan maka masyarakat akan cenderung untuk meminjam dana atau kredit kepada PT Pegadaian (Persero) dengan ekspektasi bahwa jumlah pinjaman yang diperoleh akan semakin besar sesuai dengan harga emas saat ini dan taksiran harga emas di PT Pegadaian (Persero) akan mengikuti harga pasar emas pada saat ini.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Aziz (2013:17), secara statistik harga emas mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit gadai golongan C PT Pegadaian cabang Probolinggo karena memiliki thitung 2,198 yang lebih besar daripada t tabel sebesar 2,039 nilai signifikansi (Sig.) untuk harga emas sebesar 0,036 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga emas mempengaruhi penyaluran kredit pada PT Pegadaian Cabang Probolinggo khususnya kredit gadai golongan C. Kenaikan harga emas turut mempengaruhi penyaluran kredit gadai golongan C karena semakin tinggi harga emas maka penyaluran kredit gadai juga semakin meningkat.
125 BAB V
PENUTUP