BAB V HASIL PENELITIAN
5.5 Uji Beda Rerata Kecepatan Jalan Cepat 3000 meter Kedua
Perlakuan
5.5.1 Uji t-paired (paired-t test), untuk membandingkan nilai rata-rata kecepatan jalan cepat 3000 meter sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan pada kelompok berpasangan, dengan batas kemaknaan 0,05. Data dapat dilihat pada Tabel 5.5.1.
Tabel 5.5.1
Hasil Uji Data Kecepatan jalan Cepat 3000 meter antara Sebelum dan Sesudah Pelatihan Pada Kelompok I dan Kelompok II menggunakan
uji t-paired Perlakuan Sebelum Perlakuan Sesudah perlakuan Beda t p Rerata (menit) SB Rerata (menit) SB Kpk I 24,8875 2,03943 22,7400 1,92487 2,14 18,998 0,000 Kpk II 24,8756 1,97568 23,5794 1,96107 1,3 20,896 0,000 Keterangan: SB : Simpangan Baku p : Nilai Probabilitas
Kelompok I : Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set
Kelompok II: Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set
Tabel 5.5.1 menunjukkan bahwa perbedaan rerata kecepatan Jalan Cepat 3000 meter antara kedua kelompok sebelum dan sesudah pelatihan memiliki nilai p < 0,05. Penelitian yang dilakukan oleh Kleden (2013),
menunjukan bahwa hasil uji beda antara kelompok I dan kelompok II sebelum dan sesudah perlakuan berbeda bermakna karena p < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set terjadi peningkatan kecepatan dalam jalan cepat 3000 meter.
Untuk mengetahui gambaran peningkatan hasil kecepatan jalan cepat 3000 meter terhadap kedua pelatihan, disajikan pada Gambar 5.5.1.
Gambar 5.5.1 Grafik rerata hasil jalan cepat 3000 m, sebelum dan sesudah perlakuan antara kedua kelompok
Keterangan:
: Pre atau tes awal jalan cepat 3000 m : Pos atau tes akhir jalan cepat 3000 m
Kelompok I : Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set
Kelompok II: Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set 21.5 22 22.5 23 23.5 24 24.5 25 25.5 Kelompok I kelompok II pre pos m e n i t
Berdasarkan Gambar 5.5.1 menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami peningkatan kecepatan jalan cepat 3000 m setelah melakukan pelatihan selama 6 minggu.
5.5.2 Uji beda rerata kecepatan jalan cepat 3000 meter dengan t-Test
independent, untuk mengetahui perbedaan nilai rata-rata antar kelompok I
(pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set) dengan kelompok perlakuan II (pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set) sebelum dan sesudah perlakuan, pada batas kemaknaan 0,05. Data dapat dilihat pada Tabel 5.5.2.
Tabel 5.5.2
Hasil Uji Data Kecepatan Jalan Cepat 3000 meter Antar Kelompok I dengan Kelompok II sebelum dan sesudah Pelatihan menggunakan uji t-test
independen Perlakuan Kelompok I Rerata ± SB Kelompok II Rerata ± SB t p Sebelum Perlakuan 24,8875 ± 2,03943 24,8765 ± 1,97568 0,017 0,987 Sesudah Perlakuan 22,7400 ± 1,92487 23,5794 ± 1,96107 - 1,222 0,231 Keterangan: SB : Simpangan Baku p : Nilai Probabilitas
Kelompok I : Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set
Kelompok II: Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set
Tabel 5.5.2 menunjukkan bahwa beda rerata kecepatan Jalan Cepat 3000 meter sebelum perlakuan antara kelompok I sebesar 24.8875 ± 2.03943 dan kelompok II sebesar 24.8765 ± 1.97568. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan nilai t = 0.017 dan nilai p = 0.987. Hal ini berarti bahwa antara kelompok I dan kelompok II sebelum diberi perlakuan tidak berbeda bermakna karena kedua kelompok perlakuan memiliki nilai p > 0.05.
Pada beda rerata kecepatan Jalan Cepat 3000 meter sesudah perlakuan antara kelompok I sebesar 22.7400 ± 1.92487 dan kelompok II sebesar 23.5794 ± 1.96107. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan nilai t = - 1.22 dan nilai p = 0.231. Hal ini berarti bahwa antara kelompok I dan kelompok II setelah diberi perlakuan sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter karena nilai p > 0.05.
Untuk mengetahui gambaran beda rerata peningkatan kecepatan jalan cepat 3000 meter, sesudah pelatihan antara kelompok I dengan kelompok II, dapat disajikan pada Gambar 5.5.2.
Gambar 5.5.2 Grafik beda rerata hasil peningkatan kecepatan jalan cepat 3000 m, sesudah pelatihan antara kelompok I dengan kelompok II Keterangan:
: Pos atau tes akhir jalan cepat 3000 m
Kelompok I : Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set
22 22.5 23 23.5 24 Kelompok I kelompok II
pos
pos m e n i tKelompok II: Kelompok pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set
Berdasarkan Gambar 5.5.2 menunjukkan bahwa hasil sesudah pelatihan pada kelompok kedua kelompok sama-sama meningkatkan kecepatan, namun kelompok I lebih baik meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 m daripada pelatihan kelompok II.
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Hasil Uji Beda Rerata Kecepatan Jalan Cepat 3000 meter Kedua
Kelompok Perlakuan
6.1.1 Hasil uji t-paired (paired-t test), pada kedua kelompok sebelum dan
sesudah dilakukan pelatihan
Dari hasil uji yang terlihat pada Tabel 5.5.1 menunjukkan bahwa rerata data kecepatan jalan cepat 3000 meter sebelum dan sesudah pelatihan pada masing-masing kelompok terdapat perbedaan bermakna (p < 0.05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua kelompok perlakuan memiliki pengaruh pelatihan dalam meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter dan terjawab juga hipotesis satu dan dua yang menyatakan pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set selama 6 minggu meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter siswa SMPN 11 Denpasar.
Hasil peningkatan rerata kecepatan jalan cepat 3000 meter pada kelompok I (pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set) dan kelompok II (pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set) yang bermakna merupakan efek pelatihan 4 kali seminggu selama 6 minggu. Nala (2011), mempertegas lagi bahwa pelatihan yang diberikan untuk pemula dalam jangka waktu 6-8 minggu dengan frekuensi 3-4 kali
seminggu akan memperoleh hasil yang konstan, dimana tubuh dapat teradaptasi dengan pelatihan dan akan menghasilkan peningkatan yang berarti.
Olahraga yang rutin dan teratur akan terjadi adaptasi pada tubuh kita yaitu akan terjadi perubahan pada jantung dan pembuluh darah. Adaptasi olahraga adalah perubahan struktur atau fungsi organ-organ tubuh yang sifatnya lebih menetap karena latihan fisik yang dilakukan dengan teratur dalam periode waktu tertentu (Vananen dalam Bawono, 2008).
Orang yang sering berolahraga atau berlatih secara baik dan teratur akan memiliki kemampuan memompa darah semakin baik dan efisien. Selain itu terjadi perubahan pada sistem pembuluh darah yaitu pelebaran pembuluh darah, sehingga dapat mengantarkan darah bagi otot yang melakukan aktivitas atau olahraga. Perubahan-perubahan ini sangat berguna bagi peningkatan daya tahan kardiovaskular, karena akan memperlancar peredaran darah (Triangto, 2005). Jalan cepat 3000 m sangat membutuhkan daya tahan kardiovaskular, oleh karena itu dengan melakukan pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set, 4 kali seminggu selama 6 minggu dapat meningkatkan daya tahan kardiovaskular.
Berdasarkan stuktur dan sifat fisiologik, otot dibagi menjadi 3 jenis yakni otot skelet, otot polos dan otot jantung, khusus untuk pergerakan tubuh dilakukan oleh otot skelet saja. Hampir 50% tubuh tersusun oleh
otot, sekitar 40%-nya adalah otot skelet, dan 5-10%-nya adalah otot polos dan otot jantung (Guyton dan Hall, dalam Pardjiono, 2008). Pengaruh pelatihan yang teratur akan menyebabkan terjadi hipertropi fisiologi otot.
Hipertropi otot dikarenakan jumlah miofibril, ukuran miofibril, kepadatan
pembuluh darah kapiler, saraf, tendon dan ligamen, dan jumlah total kontraktil terutama protein kontraktil miosin meningkat secara proposional (Fox, Richard dan Merie, 1988).
Semua hipertrofi otot akibat dari suatu peningkatan jumlah filamen aktin dan miosin dalam setiap serabut otot, menyebabkan pembesaran masing-masing serabut otot (Pardjiono, 2008). Makin banyak pelatihan yang dilakukan maka makin baik pula pembesaran
fibril otot itulah yang menyebabkan adanya peningkatan kekuatan otot
(Sudarsono, 2011). Dengan melakukan pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set, 4 kali seminggu selama 6 minggu dapat menyebabkan pembesaran serabut otot yang dapat meningkatkan kekuatan otot. Peningkatan kekuatan otot inilah yang berpengaruh terhadap kecepatan jalan cepat 3000 m, karena jalan cepat 3000 m membutuhkan daya tahan otot yang lebih lama.
Perubahan pada serabut otot tidak semuanya terjadi pada tingkat yang sama. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada serabut otot fast
twitch (otot putih) sehingga terjadi peningkatan kecepatan kontraksi otot
(Hairy, 2005). Dengan adanya peningkatan jumlah dan ukuran mitokondria pada selsel otot maka akan dapat menyebabkan fungsi
dari mitokondria lebih efektif. Dengan adanya peningkatan jumlah mitokondria dalam sel otot sehingga secara fisiologis merangsang perbaikan pengambilan oksigen (Nala, 2002). Disamping itu akibat dari pelatihan yang teratur dan maksimal mitokondria melakukan replikasi sehingga dapat mengerahkan sistem energi dominan untuk selalu siap menyediakan energi yang diperlukan (Pardjiono, 2008).
Sharkley (2012), mengemukakan juga bahwa latihan dapat meningkatkan ukuran dan jumlah (volume) mitochondria, pembangkit tenaga sel yang menghasilkan energi secara aerobik (dengan oksigen). Hasil penelitian Hasyim (2010), bahwa jumlah ATP terbanyak yang dihasilkan berasal dari sistem energi aerobik yang terjadi dalam mikondria yaitu 36 ATP. Kekuatan otot terkait dengan performance kecepatan lari, performance bermain sepakbola dan lainnya (Sidik dkk, 2013). Kekuatan otot yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah kekuatan otot dalam melakukan jalan cepat 3000 m. Jika otot kuat maka kemampuan melakukan jalan cepat 3000 m akan semakin mudah.
Pelatihan fisik yang diterapkan secara teratur dan terukur dengan takaran dan waktu yang cukup, akan menyebabkan perubahan fisiologis yang mengarahkan pada kemampuan menghasilkan energi yang lebih besar dan memperbaiki penampilan fisik. Menurut Puspa (2009), salah satu disiplin yang besar sumbangsihnya secara ilmiah kepada olahraga adalah peran fisiologi dalam menunjang peningkatan prestasi. Pelatihan fisik yang dilakukan secara sistematis, teratur dan berkesinambungan akan
dapat meningkatkan kemampuan fisik secara nyata (Astrand dan Rodahl, 2003).
Pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set, 4 kali seminggu selama 6 minggu dapat meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter siswa SMPN 11 Denpasar kerena didukung dengan meningkatnya VO2max. Dipertegas lagi oleh Maqsalmina (2007), bahwa pelatihan aerobik (latihan lari 400 meter ≤ 130 detik) selama 6 minggu sampaidengan 12 minggu dapat meningkatkan nilai VO2max. Penambahan beban pada latihan akan memungkinkan meningkatnya pemakaian oksigen per menit, sampai tercapai suatu angka maksimal. Hal ini terjadi oleh perubahan fungsi
kardiorespirasi, seperti denyut nadi, isi sekuncup jantung, tekanan
darah, selisih oksigen arteri-vena dan ventilasi paru, sehingga unsur penggunaan oksigen pada latihan adalah salah satu faktor yang menentukan karena keunggulan seorang atlet terletak pada kemampuan menyediakan oksigen sesuai keperluannya.
Semakin baik kapasitas difusi paru, semakin besar volume gas yang berdifusi, maka akan bertambah baik kemampuan seseorang dalam melakukan pembebanan kardiorespirasi tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Sehingga orang yang terlatih akan bernafas lebih lambat dan dalam, dan oksigen yang diperlukan untuk kerja otot pada proses ventilasipun berkurang (Maqsalmina, 2007).
VO2max yang lebih besar akan meningkatkan proses aerobik dan meminimalisir proses metabolisme anaerobik pada kegiatan fisik yang dilakukan, sehingga produksi asam laktat tidak tinggi dan munculnya kelelahan dapat dihambat (Siswanto, 2010). Dalam penelitian ini, pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set, 4 kali seminggu selama 6 minggu dapat mengubah kardiorespirasi seperti semakin besar volume gas yang berdifusi, bernafas lebih lambat dan dalam.
Jantung manusia terbentuk dari sel otot jantung maka kemampuan otot jantung dapat ditingkatkan dengan cara latihan. Untuk melatih otot jantung maka kita harus memberi beban kerja pada tubuh si olahragawan misalnya berlari sampai denyut jantungnya meningkat sampai masuk dalam training-zone. Rumus training-zone
72%-87% (220-umur). Dengan prinsip latihan tersebut maka otot
jantung makin kuat. Efek latihan yang baik pada jantung dapat dilihat pada denyut jantung pada keadaan istirahat yang makin lama makin rendah (Anonim, 2007). Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set, 4 kali seminggu selama 6 minggu dapat meningkatkan otot jantung karena dalam pelatihan ini dilakukan teratur dengan intensitas 70-80% denyut jantung maksimal.
Hasil analisis data terlihat bahwa kedua kelompok sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter, namun dilihat dari
angka waktu tercepat maka kelompok I memiliki waktu tercepat dibandingkan kelompok II. Perbedaan tersebut karena adanya perbedaan beban latihan dalam jumlah repetisi dan jumlah setnya. Pengulangan yang tinggi akan menjadikan pelatihan menjadi sangat efektif dan hal ini akan sangat baik untuk mengembangkan serabut otot putih yang sangat diperlukan dalam daya ledak eksplosif (Nala, 2011).
Anonim (2010), menjelaskan bahwa salah satu prinsip pelatihan adalah over load yaitu pengembangan kecepatan pada dasarnya dilakukan dengan penambahan jumlah repetisi, meningkatkan lamanya waktu repetisi dan mengurangi istirahat antar repetisi. Perbandingan waktu yang dihabiskan setiap set antar kelompok pelatihan I dan kelompok pelatihan II yang tidak sama menimbulkan dampak pemulihan yang tidak adekuat menyebabkan terjadinya penimbunan asam laktat pada set berikutnya (Valeo, 2009).
Perbedaan repetisi, set dan juga waktu istirahat yang sama antar set menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara waktu kerja dan istirahat pada kelompok I (pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set) dan kelompok II (pelatihan lari aerobik 400 meter dua repetisi tiga set). Efek pelatihan kelompok I (pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set), memacu bagian tubuh untuk memenuhi kebutuhan beban kerja tersebut, dengan repetisi yang lebih banyak menimbulkan kemampuan reflek yang lebih baik dan pengalaman
sensoris yang lebih kuat terpola pada sistem saraf pusat (Lawrensen, 2008).
Latihan meningkatkan kemampuan otot untuk menggunakan lemak sebagai sumber tenaga (Sharkley, 2012). Salah satu fungsi penting lemak antara lain sumber energi untuk kontraksi otot (Koswara, 2008).
Hastuti dan Zulaekah (2009), mengemukakan bahwa ketika sedang berolahraga, simpanan trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas untuk kemudian dimetabolisir sehingga menghasilkan energi. Pembakaran lemak memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat terutama pada olahraga dengan intensitas rendah (jalan kaki, jogging dan sebagainya) dan kontribusinya akan semakin menurun seiring dengan meningkatnya intensitas olahraga. Pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa melakukan pelatihan lari aerobik 400 m tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set selama 6 mnggu dapat membakar lemak sehingga menghasilkan energi. Energi tersebut yang akan meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter.
Pelatihan pliometrik merupakan salah satu usaha yang ditujukan untuk mengembangkan daya ledak eksplosif dan kecepatan reaksi.
Pliometrik ditujukan pada otot besar dalam tubuh yaitu: otot bagian
tungkai, pinggul dan lengan (Nala, 2011). Pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set dianggap sebagai pelatihan
lengan sehingga dapat berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan jalan cepat 3000 meter. Bagiasa (2012), mengemukakan bahwa pelatihan
pliometrik berpengaruh terhadap hasil lompat jauh, baik sebelum maupun
setelah dikendalikan oleh kovariabel daya ledak otot tungkai.
Interval teratur merupakan bentuk latihan pada otot-otot tungkai kaki sehingga aktivitas fisik dengan berlari dapat memanfaatkan potensi kemampuan tungkai dan tubuh untuk berlari semaksimal mungkin dan mencapai waktu seminimal mungkin. Latihan interval adalah suatu metode latihan yang diselingi interval-interval yang berupa masa istirahat (Rahim, 2011).
Hasil penelitian Swadesi (2007), menunjukkan terjadinya peningkatan; kecepatan lari, kelincahan dan volume oksigen maksimal dari perlakuan yang diberikan pelatihan sirkuit (circuit training) periode istrirahat 30 detik dan 60 detik salah satunya lari bolak-balik. Dari hasil penelitian tersebut maka dapat juga dikatakan bahwa pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set selama 6 minggu meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter, karena dalam pelatihan lari aerobik 400 meter menghasilkan peningkatan kecepatan, kelincahan dan volume oksigen maksimal.
6.1.2 Hasil uji t-test independen sebelum dan sesudah pelatihan antar
kelompok perlakuan I dengan Kelompok perlakuan II
Berdasarkan hasil uji t-Test independent (Tabel 5.5.2) menunjukan bahwa kedua kelompok sebelum melakukan pelatihan tidak berbeda
bermakna karena nilai p > 0,05. Hasil uji t-Test independent terhadap kedua kelompok sesudah melakukan pelatihan sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter karena nilai p > 0,05.
Mengacu pada batas kemaknaan p > 0,05 yang artinya tidak berbeda bermakna, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 m siswa kelas VII SMPN 11 Denpasar. Kedua kelompok sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter kerena beban pelatihan (repetisi dan set) tidak berbeda jauh sehingga perubahan kekuatan otot, kardiovaskular, VO2max dan lain-lain terjadi pada kedua kelompok tidak berbeda jauh. Faktor yang mempengaruhi kenaikan prestasi seorang atlet salah satu adalah : takaran latihan atau dosis latihan (Puspa, 2009).
Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan. Pada olahraga intensitas rendah dengan waktu durasi yang panjang seperti jalan kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh tubuh untuk
menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah (Irawan, 2007).
Puspa (2009), mengemukakan bahwa latihan dapat merubah badan antara lain berupa kenaikan kapasitas otot-otot rangka dalam membakar glukosa dan lemak untuk energi selama olah raga. Pelatihan lari aerobik 400 meter tiga repetisi dua set dan dua repetisi tiga set tidak berbeda jauh dalam merubah kenaikan kapasitas otot-otot rangka dalam membakar glukosa dan lemak untuk energi selama latihan, hal inilah yang mengakibatkan kelompok I dan kelompok II sama-sama meningkatkan kecepatan jalan cepat 3000 meter.