• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

B. Uji Kualitas Data

3. Uji Heterokedastisitas

Sumber : Data Diolah

Berdasarkan tabel 4.18 dapat dilihat hasil perhitungan nilai tolerance > 1 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan VIF juga menunjukkan hal yang sama, yaitu tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF < 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolineritas antar variabel independen.

3. Uji Heterokedastisitas

Heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual/pengamatan ke pengamatan lainnya. Salah satu cara mendeteksinya ada atau tidaknya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Dasar analisisnya adalah jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali: 2006, hal.105). Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Model Tolerance VIF

(constant) PROF PGLM 0.971 0.971 1.030 1.030

lii Gambar 4.2

Hasil Uji Heterokedastisitas

Regression Standardized Predicted Value

3 2 1 0 -1 -2 R e g re s s io n S tu d e n ti z e d R e s id u a l 3 2 1 0 -1 -2 Scatterplot Dependent Variable: MTRS

Sumber : Data Diolah

Berdasarkan grafik scatterplot diatas, terlihat bahwa titik–titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi.

D. Uji Hipotesis

Dalam pengolahan data penelitian ini menggunakan metode analisis regresi berganda dengan menggunakan uji koefisien determinasi,uji F dan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan adalah apabila nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima, Sebaliknya jika lebih besar dari 0,05 maka Ha ditolak.

liii

Untuk menentukan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen, maka perlu diketahui R2 (koefisien determinasi). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Jika R2 adalah sebesar 1, berarti fluktuasi variabel dependen seluruhnya dapat dijelaskan oleh variabel independen (Ghozali: 2006, hal.83). Karena adanya kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi R2, maka digunakan nilai adjusted R2 dalam penelitian ini.

Tabel 4.11

Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 0.533a 0.284 0.255 1,86483

Sumber : Data Diolah

Berdasarkan tabel diatas, nilai adjusted R Square menunjukkan bahwa besarnya Adjust R Square adalah 0.255, hal ini berarti variabel pertimbangan tingkat materialitas dapat dijelaskan oleh variabel profesionalisme yang dilihat dari dimensi pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan hubungan sesama profesi serta pengalaman auditor sebesar 28.4%, Sedangkan sisanya (100 % - 25.5 % = 74.5 %) dijelaskan oleh faktor lainnya. Angka koefisien (R) sebesar 0,533 (53.3%), menunjukkan bahwa hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen adalah kuat, karena memiliki nilai keofisien korelasi diatas 0,05.

liv

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama–sama (simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali: 2006, hal.84). Hasil uji F dapat dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 4.12 Hasil Uji F ANOVA(b) Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 68.912 2 34.456 9.910 .000(a) Residual 173.843 50 3.477 Total 242.755 52

Sumber : Data Diolah

3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.13 Hasil Uji t

Sumber : Data Diolah

a. Menguji Hipotesis Pertama (Ha1)

Hipotesis 1 menyatakan bahwa profesionalisme yang dilihat dari dimensi pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, kemandirian,

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.

Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 13.713 6.246 2.186 .033

PROF .251 .056 .541 4.451 .000 .971 1.030

lv

keyakinan terhadap profesi, dan hubungan sesama profesi berpengaruh secara signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan. Berdasarkan hasil uji statistik dari tabel 4.13, uji statistik t untuk variabel bebas pengabdian terhadap profesi menunjukkan bahwa nilai signifikannya sebesar 0,000 dan dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05).

Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas profesionalisme yang dilihat dari dimensi pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan hubungan sesama profesi berpengaruh secara signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan, dengan demikian hal ini menerima Ha dan menolak Ho.

b. Menguji Hipotesis Kedua (Ha2)

Hipotesis 2 menyatakan bahwa pengalaman auditor berpengaruh secara signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan. Berdasarkan hasil uji statistik dari tabel 4.13, uji statistik t untuk variabel bebas pengalaman, menunjukkan bahwa nilai signifikannya sebesar 0,393 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05 (0,393 > 0,05).

Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas pengalaman auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan, dengan demikian hal ini menerima Ho dan menolak Ha.

lvi c. Menguji Hipotesis ketiga (Ha3)

Hipotesis 3 menyatakan bahwa profesionalisme dan pengalaman auditor berpengaruh secara simultan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan. Berdasarkan hasil uji statistik dari tabel 4.12, uji statistik F untuk variabel bebas profesionalisme dan pengalaman, menunjukkan bahwa nilai signifikannya sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05).

Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas profesionalisme dan pengalaman auditor secara simultan berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan, dengan demikian hal ini menerima Ha dan menolak Ho. E. Pembahasan Hasil Uji Hipotesis

1. Pengaruh Profesionalisme terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas Pada variabel ini menunjukkan bahwa nilai signifikannya sebesar 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa auditor yang memiliki sikap profesionalisme mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Hubungan profesionalisme dan pertimbangan tingkat materialitas bersifat positif. Semakin tinggi profesionalisme semakin baik pertimbangan tingkat materialitas. Nilai koefisien regresi sebesar 0,251 menunjukan bahwa setiap penambahan 1 satuan variabel

lvii

pengabdian terhadap profesi akan meningkatkan pertimbangan tingkat materialitas sebesar 0,251.

Profesionalisme dilihat dari lima dimensi yang dikemukakan oleh Hall (1968) dalam Hastuti et al (2003), yaitu: pengabdian terhadap profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan terhadap profesi, dan hubungan sesama profesi. Profesionalisme diartikan sebagai tanggung jawab untuk berperilaku lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dan lebih dari sekedar memenuhi undang-undang dan peraturan masyarakat.

Tanggung jawab auditor secara umum adalah untuk meningkatkan pelayanan jasa dan meningkatkan kepercayaan. Dalam standar audit, yaitu standar umum yang ketiga disebutkan bahwa dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya auditor harus menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama (IAI, 2001). Penelitian ini konsisten dengan penelitian Hastuti et al (2003) dan

wahyudi et al (2006), dalam penelitiannya menyatakan bahwa profesionalisme berpengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan.

2. Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas

Pada variabel ini menunjukkan bahwa nilai signifikannya sebesar 0,399 > 0,05 sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi dapat

lviii

disimpulkan bahwa pengalaman auditor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas.

Tidak signifikannya pengaruh antara pengalaman auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu auditor yang menjadi responden dalam penelitian ini sebesar 68% merupakan auditor junior yang memiliki pengalaman mengaudit kurang dari tiga tahun.

Faktor lainnya yang menyebabkan tidak berpengaruhnya pengalaman adalah prosedur audit yang digunakan dalam proses mengaudit laporan keuangan, hal ini mengindikasikan bahwa lamanya auditor bekerja tidak menjamin auditor yang bekerja paling lama memiliki pertimbangan tingkat materialitas yang lebih baik, akan tetapi lebih kepada prosedur audit yang dilakukan auditor dalam mendeteksi kecurangan (Widjaja Tunggal: 2009, hal. 60).

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Noviyani (2002) dalam Herawaty (2008), pengalaman yang lebih akan menghasilkan pengetahuan yang lebih dalam pertimbangan tingkat materialitas.

lix

BAB V

Dokumen terkait