• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Heteroskedastisitas

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SILVIANTY MELADISTIA BR SITEPU (Halaman 72-89)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu observasi yang lain. Apabila varians dari residual satu observasi ke observasi yang lain tetap disebut homokedastisitas. Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan kepengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas dapat dilihat dengan metode grafik yaitu memplotkan ui2 dan Åķi. Heteroskedastisitas akan terdeteksi bila plot menunjukkan pola yang sistematis. Pengujian dilakukan dengan menggunakan grafik scatter plot, sebagai berikut:

a. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola yang

teratur, maka telah terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model penelitian ini.

Pengujian Hipotesis Analisis Regresi Linear Berganda

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda untuk mengetahui gambaran mengenai pengaruh pertumbuhan ekonomi, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dana bagi

hasil dan pendapatan asli daerah terhadap belanja modal pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.

Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5

Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa

a. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2020

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui persamaan regresi linier bergandanya, yaitu:

𝑌 = 9.005 − 0.077𝑋1 − 0.068𝑋2 + 0.302𝑋3 + 0.222𝑋4 + 0.260𝑋5

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Konstanta (a) = 9.005 menunjukkan nilai konstan, dimana jika nilai seluruh variabel independen sama dengan nol, maka variabel belanja modal (Y) sama dengan 9.005.

2. Koefisien pertumbuhan ekonomi (X1) = -0.077, artinya berdasarkan penelitian ini jika variabel lain nilainya tetap dan pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan 1 satuan maka belanja modal justru akan mengalami penurunan sebesar 0.077. Nilai Unstandardized Coefficients B yang bernilai negatif ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang negatif

antara pertumbuhan ekonomi (X1) dengan belanja modal (Y). Artinyajika pertumbuhan ekonomi meningkat maka belanja modal justru akan menurun.

3. Koefisien DAU (X2) = -0.068, artinya berdasarkan penelitian ini jika variabel lain nilainya tetap dan DAU mengalami kenaikan 1 satuan maka belanja modal justru akan mengalami penurunan sebesar 0.068. Nilai Unstandardized Coefficients B yang bernilai negatif ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang negatif antara DAU (X2) dengan belanja modal (Y). Artinya jika DAU meningkat maka belanja modal justru akan menurun.

4. Koefisien DAK (X3) = 0.302, artinya berdasarkan penelitian ini jika variabel lain nilainya tetap dan DAK mengalami kenaikan 1 satuan maka belanja modal akan mengalami kenaikan sebesar 0.302. Nilai Unstandardized Coefficients B bernilai positif menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang positif antara DAK (X3) dengan belanja modal (Y).

Artinya jika DAK meningkat maka belanja modal juga akan meningkat.

5. Koefisien DBH (X4) = 0.222, artinya berdasarkan penelitian ini jika variabel lain nilainya tetap dan DBH mengalami kenaikan 1 satuan maka belanja modal akan mengalami kenaikan sebesar 0.222. Nilai Unstandardized Coefficients B yang bernilai positif menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang positif antara DBH (X4) dengan belanja modal (Y).

Artinya jika DBH meningkat maka belanja modal juga akan meningkat.

6. Koefisien PAD (X5) = 0.260, artinya berdasarkan penelitian ini jika variabel lain nilainya tetap dan PAD mengalami kenaikan 1 satuan maka belanja modal akan mengalami kenaikan sebesar 0. 260. Nilai Unstandardized Coefficients B yang bernilai positif menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang positif antara PAD (X5) dengan belanja modal (Y).

Artinya jika PAD meningkat maka belanja modal juga akan meningkat.

Uji Statistik F (F-test)

Uji F digunakan untuk melihat pengaruh pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD terhadap belanja modal secara simultan. Pengaruh ini perlu diuji untuk melihat apakah model regresi ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t (parsial) atau tidak. Jika hasil uji F berpengaruh signifikan maka model regresi ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t. Sebaliknya jika tidak berpengaruh, maka uji t (uji parsial) tidak dapat dilakukan, karena semua variabel independen tidak ada yang mempengaruhi variabel dependen.

Berikut ini tabel hasil uji F dalam penelitian ini.

Tabel 4.6 Hasil Uji F

ANOVAa

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 17.194 5 3.439 30.856 .000b

Residual 14.042 126 .111

Total 31.236 131

a. Dependent Variable: Belanja Modal

b. Predictors: (Constant), Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Khusus, Pertumbuhan Ekonomi, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum

Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2020

6 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan 0.000 lebih kecil dari 0.05. Hasil uji F ini menunjukkan bahwa variabel independen secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu belanja modal. Untuk melihat variabel independen apa saja yang berpengaruh terhadap belanja modal, maka dilakukan uji t (uji secara parsial).

Uji Statistik t (t-Test)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.

Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:

a. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2020

Penerimaan atau penolakan hipotesis dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Sedangkan nilai t tabel dalam penelitian ini dihitung dengan df = n – k = 132 – 5 = 127 dan a = 5%, sehingga nilai t tabel adalah sebesar 1.979. Ketentuan yangdigunakan adalah sebagai berikut:

1. Jika t hitung > t tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak.

2. Jika t hitung < t tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima.

Pertumbuhan ekonomi memiliki nilai t hitung sebesar -1.879 < 1.979, artinya pertumbuhan ekonomi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. DAU memiliki nilai signifikansi t sebesar -0.359 <

1.979, artinya DAU secara parsial juga tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. DAK memiliki nilai signifikansi t sebesar 3.781 > 1.979, artinya DAK secara parsial berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

DBH memiliki nilai signifikansi t sebesar 3.334 > 1.979, artinya DBH secara parsial berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Terakhir, PAD memiliki nilai signifikansi t sebesar 4.880 > 1.979, artinya PAD secara parsial juga berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Berdasarkan Tabel 4.7, hasil analisis uji regresi menyatakan bahwa, DAK, DBH dan PAD memiliki pengaruh signifikan secara parsial (individual) terhadap belanja modal. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan DAU tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Pengujian hipotesis ini juga bisa dilihat berdasarkan nilai probabilitas dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Jika nilai signifikansi t statistik > 0,05, maka H0 diterima. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

2. Jika nilai signifikansi t statistik < 0,05, maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.

Pertumbuhan ekonomi memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.063 > 0.05, artinya pertumbuhan ekonomi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. DAU memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.720 > 0.05, artinya DAU secara parsial juga tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. DAK memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.000 < 0.05, artinya DAK secara parsial berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

DBH memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.001 < 0.05, artinya DBH secara parsial berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Terakhir, PAD memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.000 < 0.05, artinya PAD secara parsial juga berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model menerangkan variasi variabel dependen. Range nilainya adalah 0 sampai 1, apabila nilai R2 kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas, sebaliknya apabila R2 besar (mendekati nilai 1) berarti kemampuan variabel- variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen besar. Nilai R2 dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut.

Tabel 4.8

Hasil Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of

the Estimate Durbin-Watson

1 .742a .550 .533 .33384 1.802

a. Predictors: (Constant), Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Khusus, Pertumbuhan Ekonomi, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum

b. Dependent Variable: Belanja Modal

Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2020

Berdasarkan tabel 4.8, besarnya nilai R Square (R2) adalah 0.550 yang berarti variabel independen yaitu pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD mampu menjelaskan belanja modal sebesar 0.550 (55%). Sedangkan sisanya sebesar 45% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam model penelitian.

Pembahasan

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Belanja Modal

Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Sementara hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan hasil tersebut maka H1 ditolak.

Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi yang baik bagi suatu daerah berpengaruh terhadap pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang baik yaitu bisa dikategorikan meningkatkan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah. Hal ini pula yang mempengaruhi alokasi belanja modal

karena sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah dibelanjakan menggunakan belanja modal. Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi faktor penentu terjadinya belanja modal. Semakin meningkat pertumbuhan ekonomi, maka belanja modal akan semakin meningkat begitu pula jika semakin rendah pertumbuhan ekonomi maka belanja modal semakin rendah.

Maryati dan Endrawati (2010) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksi dalam masyarakat bertambah dan kemamkmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan yang diterima.

Hasil dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Jaya dan Dwirandra (2014) yang juga menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap belanja modal. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terlalu dipertimbangkan sebagai acuan utama dalam penyusunan belanja modal. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian Waskito, dkk., (2019); Sari dkk, (2017) dan Danieswara (2017) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal.

Namun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Taiwo dan Abayomi (2011) yang mengatakan

bahwa antara pertumbuhan ekonomi dengan belanja modal memiliki hubungan yang positif. Hasil tersebut juga tidak sesuai dengan hasil penelitian lainnya yang dilakukan Wertianti dan Dwirandra (2013) yang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap belanja modal.

Pengaruh DAU terhadap Belanja Modal

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah DAU berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Sementara hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa DAU secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan hasil tersebut maka H2 ditolak.

Pemerintah mengeluarkan dana bantuan kepada daerah yang berupa dana perimbangan yang mana dana tersebut meliputi DBH, DAU dan DAK yang ditujukan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam kerangka asas desentralisasi. Dana Perimbangan atau dana transfer pusat ke daerah itu memiliki fungsi dan tujuan yang salah satunya pebangunan infrasruktur yang berdampak pada pembangunan pemerintah serta pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan pelayanan publik.

Danaperimbangan tersebut diharapkan mampu membantu pembiayaan daerah dalam rangka untuk menyelenggarakan pembangunan daerah pada berbagai bidang antara lain; pendidikan, kesehatan, sanitasi, ekonomi dan berbagai sarana pra sarana penunjang lainnya. Adanya pengaruh positif antara

DAU terhadap belanja modal dapat memberikan penjelasan bahwa DAU memiliki keterikatan dengan pembangunan infrastruktur daerah. Kerterkaitan dengan pembangunan infrastuktur daerah dapat dikatakan karena bantuan berupa DAU yang dikirimkan oleh pemerintah pusat dan dipergunakan pemerintah daerah ini ditujukan untuk mendanai kegiatan atau program pemerintah daerah melalui belanja daerah terutama untuk belanja modal.

Namun hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa DAU terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryuli (2015) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa DAU tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Begitu pula dengan hasil penelitian Sari dkk, (2017) dan Ayem dan Pratama (2018) yang menyatakan hal senada.

Sebaliknya, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniawan dan Suryantini (2018) dan Eksandy, dkk., (2018) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa DAU berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Pengaruh DAK terhadap Belanja Modal

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah DAK berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dan hasil pengujian dalam penelitian ini berhasil membuktikan bahwa DAK secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan hasil tersebut maka H3 diterima.

Secara teoritis Selain DAU, Pemerintah Daerah juga akan mendapatkan DAK dari pemerintah pusat. DAK merupakan dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dialokasikan ke daerah kabupaten/kota untuk membiayai kebutuhan tertentu yang sifatnya khusus, tergantung persediaanya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada dasarnya DAK dialokasikan untuk membantu daerah dalam mendanai kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang merupakan prioritas nasioanal di bidang pendidikan, kesehatan, jalan, irigasi, air minum, prasarana pemerintah, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, keluarga berencana, kehutanan, sarana dan prasarana pedesaan serta perdagangan.

Semakin besarnya proporsi DAK yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat akan menyebabkan pendapatan yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin besar. Sehingga pemerintah daerah dapat membiayai belanja modal yang lebih besar pula.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juniawan dan Suryantini (2018) yang telah berhasil menemukan bukti empiris bahwa DAK berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Hasil tersebut juga didukung oleh hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Ndede, dkk., (2016); dan Machmud (2013) yang menyatakan bahwa DAK memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal.

Pengaruh DBH terhadap Belanja Modal

Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di

Sumatera Utara. Dan hasil pengujian dalam penelitian ini berhasil membuktikan bahwa DBH secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan hasil tersebut maka H4 diterima.

DBH adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH ini bersumber dari pajak dan kekayaan daerah. DBH juga merupakan penunjang pemerintah daerah untuk memenuhi sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah menggunakan belanja modal.

Dengan begiu maka dapat disimpulkan jika DBH suatu daerah naik maka belanja modal yang dikeluarkan daerah tersebut juga akan naik. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Wandira (2013) yang berhasil membuktikan bahwa DBH berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Demikian pula dengan hasil studi yang dilakukan oleh Heliyanto (2015) yang menyatakan bahwa DBH berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.

Pengaruh PAD terhadap Belanja Modal

Hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah PAD berpengaruh signifikan terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dan hasil pengujian dalam penelitian ini berhasil membuktikan bahwa PAD secara parsial berpengaruh positif dan signifikan

terhadap belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan hasil tersebut maka H5 diterima.

Secara teoritis, Agency Theory menjelaskan hubungan kontraktual antara agen (masyarakat) dan prinsipal (pemerintah). Dalam konteks PAD dapat dilihat dari kemampuan dan tanggung jawab pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan publik yang baik serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui alokasi belanja modal, yaitu dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai yang dibiayai dari belanja modal yang dianggarkan setiap tahunnya, sedangkan belanja modal itu sendiri sumber pembiayaannya dari PAD.

Ermasova et al. (2014) menyatakan bahwa PAD akan ditentukan oleh kondisi sumber daya daerah terkait. Semakin tinggi suatu daerah memperoleh PAD, maka akan semakin tinggi pula akokasi belanja modal yang dimiliki. Hal ini disebabkan karena pemerintah daerah (agen) bertanggung jawab kepada masyarakat (prinsipal) karena masyarakat telah memberikan sebagian uangnya kepada pemerintah daerah melalui pajak, retribusi, dan lain-lain.

Setiap daerah memiliki dasar tersendiri untuk pengenaan pajak dan retribusi daerah tergantung dengan kebijakan dan peraturan daerah setempat.

Sehingga kemampuan masing-masing daerah dalam mengelola sumber dayanya juga akan berbeda-beda. Dengan semakin tingginya PAD yang dimiliki pemerintah daerah maka kemampuan daerah untuk membiayai belanja daerah akan semakin besar pula. Sehingga PAD memiliki pengaruh yang positif terhadap belanja modal yang dimiliki pemerintah daerah.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mawarni dkk, (2013) yang menemukan bahwa PAD memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengalokasian anggaran belanja modal di Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh. Begitu pula hasil penelitian Haryuli (2015); dan Sari dkk, (2017) yang mendapatkan hal yang sejalan dengan penelitian ini.

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD terhadap Belanja Modal

Hipotesis keenam dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Setelah dilakukan pengujian hipotesis secara simultan, berdasarkan tabel ANOVA (Tabel 4.6) terlihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan sebesar 0.000 yang lebih kecil dari signifikansi 0.05. Ini berarti hasil uji F menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu belanja modal. Dengan hasil tersebut maka H6 diterima.

Untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen menggambarkan belanja modal maka dilakukan uji koefisien determinasi, dan hasil uji koefisien determinasi (Tabel 4.8) menunjukkan bahwa besarnya nilai R Square (R2) adalah 0.550 yang berarti variabel independen yaitu pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD mampu menjelaskan belanja modal sebesar 0.550 (55%). Sedangkan sisanya sebesar 45%

dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam model penelitian.

BAB V

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SILVIANTY MELADISTIA BR SITEPU (Halaman 72-89)

Dokumen terkait