• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH SILVIANTY MELADISTIA BR SITEPU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI OLEH SILVIANTY MELADISTIA BR SITEPU"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, DANA ALOKASI UMUM, DANA ALOKASI KHUSUS, DANA BAGI HASIL, DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH

TERHADAP BELANJA MODAL PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA PROVINSI SUMATERA UTARA

OLEH

SILVIANTY MELADISTIA BR SITEPU 160503181

PROGRAMSTUDI STRATA-1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)
(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN

Medan, 20 Januari 2021 Penulis,

Silvianty Meladistia Br Sitepu

NIM. 160503181

(6)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dana bagi hasil (DBH) dan pendapatan asli daerah (PAD) baik secara parsial maupun simultan terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Jenis penelitian ini dilakukan berdasarkan penelitian asosiatif. Sampel dalam penelitian ini adalah 33 Pemerintah Kabupaten/Kota yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Metode analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah Analisis Regresi Linear Berganda yang dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS 25.

Berdasarkan hasil yang ditemukan, maka dapat diketahui bahwa DAK, DBH dan PAD secara parsial memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap belanja modal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan DAU tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Selain hasil tersebut, hasil lainnya dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel independen dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal.

Kata kunci: Pertumbuhan ekonomi, dana alokasi umum (DAU), dana

alokasi khusus (DAK), dana bagi hasil (DBH), pendapatan asli

daerah (PAD) dan belanja modal.

(7)

ABSTRACT

This research was conducted to determine the effect of economic growth, general allocation funds (DAU), special allocation funds (DAK), revenue sharing funds (DBH) and local revenue (PAD) either partially or simultaneously on capital expenditures in regency / municipal governments in North Sumatra.

This type of research is conducted based on associative research. The sample in this study were 33 Regency/City Governments in North Sumatra Province. The type of data used in this research is secondary data. The analytical method used in testing the hypothesis is Multiple Linear Regression Analysis which is carried out using the help of SPSS 25 software.

Based on the results found, it can be seen that the DAK, DBH and PAD partially have a positive and significant effect on the capital expenditure of the Regency / City Government in North Sumatra. Meanwhile, economic growth and DAU do not have a significant effect on capital spending. Apart from these results, other results in this study also show that simultaneously all independent variables in this study have a significant effect on capital expenditure.

Key words: Economic growth, general allocation funds (DAU), special

allocation funds (DAK), revenue sharing funds (DBH), local

revenue (PAD) and capital expenditures.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas Anugerah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pengaruh pertumbuhan ekonomi, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dana bagi hasil dan pendapatan asli daerah terhadap belanja modal pada pemerintah daerah kabupaten/kota di provinsi sumatera utara ”.Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, teristimewa kepada kedua orangtua, Ayahanda Megang Sitepu yang selalu memberi dukungan dan semangat serta Ibunda Bahagia Sembiring yang senantiasa memberikan doa dan dukungan, juga saudara penulis Riski Sitepu yang turut membantu dan memberi dukungan kepada penulis selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1.

Bapak Dr. Fadli, SE, MSI., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2.

Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE, MAFIS, Ak, CPA, CA., selaku Ketua Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3.

Bapak Drs. Muhammad Zainul Bahri Torong, M.Si., Ak. selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.

4.

Ibu Dra. Mutia Ismail, SE., MM., Ak. CA. dan Ibu Dra. Sri Muliani, MBA.,

Ak. CA. selaku Dosen Penguji I dan Dosen Penguji II yang telah membantu

penulis melalui kritikdan saran yang diberikan demi kesempurnaan skripsi

ini.

(9)

5.

Seluruh Pegawai dan Staf Administrasi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya dalam

penyelesaian kelengkapan administasi.

6.

Teman-teman penulis yang juga turut membantu saya dalam penulisan skripsi ini Cindy, Haposan, Ayu, Jessica, Luthfan, Raja, Intan, Inez, Isabella, Eca, Arnila, Rafika, dan Koordinasi 30,31,32.

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,

sangat baik jika ada kritik dan saran bagi penulis demi kesempurnaan penulisan

skripsi ini. Akhir kata, saya berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan

membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu saya. Semoga skripsi ini

memberi manfaat bagi pengembangan ilmu.

(10)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ...1

Latar Belakang ...1

Rumusan Masalah...10

Tujuan Penelitian ...10

Manfaat Penelitian ...11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...13

Fiscal Federalism Theory ...13

Belanja Modal ...14

Pertumbuhan Ekonomi ...16

Dana Perimbangan ...21

Dana Alokasi Umum (DAU) ...22

Dana Alokasi Khusus (DAK) ...25

Dana Bagi Hasil (DBH) ...27

Pendapatan Asli Daerah...28

Penelitian Terdahulu ...30

Kerangka Konseptual ...35

Hipotesis Penelitian ...41

BAB III METODE PENELITIAN ...42

Jenis Penelitian ...42

Lokasi dan Waktu Penelitian ...42

Populasi dan Sampel ...42

Jenis dan Sumber Data ...43

Metode Pengumpulan Data ...44

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ...44

Metode Analisis Data ...48

Analisis Deskriptif ...48

Uji Asumsi Klasik ...49

Uji Hipotesis...51

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ...55

Analisis Deskriptif ...55

Uji Asumsi Klasik ...56

Uji Normalitas ...56

Uji Multikolinearitas ...59

Uji Autokorelasi ...60

4.2.3 Uji Heteroskedastisitas ...61

Pengujian Hipotesis ...62

Analisis Regresi Linear Berganda ...62

Uji Statistik F (F-test) ...65

Uji Statistik t (t-Test) ...66

Koefisien Determinasi ...68

(11)

Pembahasan ...69

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Belanja Modal ...69

Pengaruh DAU terhadap Belanja Modal...71

Pengaruh DAK terhadap Belanja Modal...72

Pengaruh DBH terhadap Belanja Modal ...73

Pengaruh PAD terhadap Belanja Modal ...74

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD terhadap Belanja Modal ...76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...78

Kesimpulan ...78

Keterbatasan Penelitian ...79

Saran ...79

DAFTAR PUSTAKA ...81

(12)

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peningkatan alokasi belanja modal dalam bentuk aset tetap seperti peralatan dan infrastruktur sangat penting untuk meningkatkan produktivitas perekonomian dan pelayanan berbagai sektor terutama sektor publik, karena semakin tinggi belanja modal semakin tinggi pula produktivitas perekonomian. PSAP No. 2 menjelaskan bahwa belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah asset tetap, inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi, termasuk didalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa manfaat, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.

Secara nasional, pada tahun 2017 belanja modal memiliki persentase sebesar 22,97% dari total belanja pemerintah atau Rp248,38 triliun. Belanja modal tersebut terdiri dari Rp58,47 triliun untuk belanja modal Pemerintah Provinsi dan Rp189,92 triliun oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota (Permendagri No. 31, 2016). Dengan pentingnya pembangunan dan pengembangan sarana serta prasarana di daerah, maka seharusnya pemerintah dapat lebih mengutamakan alokasi anggaran dalam belanja modal daripada belanja barang maupun belanja pegawai.

Pada Pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Gubernur Sumut (2016) telah

meminta kepada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara agar

(13)

dapat memprioritaskan belanja modal pada penyusunan APBD untuk anggaran tahun 2017 (Waspada, 2016). Karena seharusnya yang menjadi prioritas utama pemerintah daerah adalah belanja modal. Sebab belanja modal akan berdampak pada pembangunan dan pengembangan sarana serta prasarana. Hal ini sesuai dengan Permendagri No. 31/2016 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2017.

Di Sumatera Utara sendiri, pengalokasian belanja daerah mencerminkan bahwa persentase belanja modal (capital expenditure) masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan belanja pegawai (employee expenditure) maupun belanja barang dan jasa (good and services expenditure) (DJPK, 2020). Padahal, agar dapat memenuhi kebutuhan daerah dalam meningkatkan sarana dan prasarana seharusnya daerah lebih mengutamakan alokasi anggaran dalam belanja modal daripada belanja barang maupun belanja pegawai.

Fenomena mengenai persentase realisasi belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/kota di Sumatera Utara juga menarik untuk dibahas. Berikut datanya:

Tabel 1.1

Fenomena Belanja Modal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara

Pemerintah Daerah Kab./Kota

Perbedaan Anggaran dan Realisasi Belanja Modal (%)

2016 2017 2018

Kab. Asahan 94,98 154,37 122,11

Kab. Dairi 96,41 114,14 166,43

Kab. Deli Serdang 73,51 114,56 96,12

Kab. Karo 96,19 127,15 162,68

Kab. Labuhanbatu 111,80 85,74 43,89

Kab. Langkat 351,05 121,54 194,23

Kab. Mandailing Natal 102,09 94,09 102,77

(14)

Pemerintah Daerah Kab./Kota

Perbedaan Anggaran dan Realisasi Belanja Modal (%)

2016 2017 2018

Kab. Nias 82,39 103,18 103,06

Kab. Simalungun 142,29 152,19 53,47

Kab. Tapanuli Selatan 96,69 110,41 125,87

Kab. Tapanuli Tengah 68,19 97,25 75,20

Kab. Tapanuli Utara 93,01 101,82 103,22

Kab. Toba Samosir 126,95 108,55 114,63

Kota Binjai 93,65 85,27 100,77

Kota Medan 78,70 73,73 64,53

Kota Pematang Siantar 109,95 94,91 118,84

Kota Sibolga 81,87 100,82 104,43

Kota Tanjung Balai 105,12 89,56 45,46

Kota Tebing Tinggi 101,83 95,18 99,23

Kota Padang Sidempuan 169,60 106,35 102,51

Kab. Pakpak Bharat 91,85 49,86 61,12

Kab. Nias Selatan 48,54 101,34 101,49

Kab. Humbang Hasundutan 100,47 104,51 100,48 Kab. Serdang Bedagai 125,14 112,99 105,11

Kab. Samosir 100,44 89,27 103,15

Kab. Batu Bara 149,16 100,51 91,05

Kab. Padang Lawas 100,02 89,70 105,74

Kab. Padang Lawas Utara 90,60 109,71 96,76 Kab. Labuhanbatu Selatan 109,79 120,07 91,34 Kab. Labuhanbatu Utara 270,13 274,24 238,52

Kab. Nias Utara 80,46 90,40 90,34

Kab. Nias Barat 66,46 90,34 94,90

Kota Gunungsitoli 125,80 133,70 56,17

Sumber: DJPK, 2020.

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai persentase dari realisasi

anggaran belanja modal terjadi sangat bervariasi pada Kabupaten/Kota yang

terdapat di Sumatera Utara. Dari data di atas dapat dilihat bahwa terdapatbeberapa

daerah yang memiliki tingkat realisasi belanja modal yang sangat tinggi. Yaitu

seperti Kabupaten Labuhanbatu Utara yaitu sebesar 270,13% di tahun 2016,

274,24% di 2017 dan 238,52% di tahun 2018. Selain Kabupaten Labuhanbatu

(15)

150%. Dan untuk persentase belanja modal yang paling tinggi dimiliki oleh Kabupaten Langkat pada tahun 2016 yaitu sebesar 351,05%.

Disisi lain terlihat pula beberapa daerah yang memiliki nilai realisasi belanja modal yang persentasenya sangat rendah yaitu seperti Kota Medan yang dalam tahun 2016 sampai 2018 selalu memiliki persentase dibawah 80%. Kota Medan pada tahun 2016 hanya mendapatkan 78,70%, pada tahun 2017 sebesar 73,73%, kemudian tahun 2018 sebesar 64,53%. Pada daerah lainnya, nilai persentase yang paling rendah dicatat oleh Kabupaten Labuhanbatu yang hanya memiliki persentase sebesar 43,89%. Pencapaian tingkat realisasi belanja modal yang sangat tinggi dan rendah ini memperlihatkan bahwa pengalokasian belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara belum dilaksanakan dengan efektif.

Salah satu faktor yang diduga dapat mempengaruhi pengalokasi belanja modal adalah pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi diduga dapat mempengaruhi belanja modal pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi menurut Prasetyo (2009) adalah pertambahan output atau pertambahan pendapatan nasional agregat dalam kurun waktu tertentu, yaitu satu tahun. Dengan demikian, pengertian pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai kenaikan kapasitas produksi barang dan jasa secara fisik dalam kurun waktu tertentu. Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga yang berlaku atau atas dasar harga konstan.

Maryati dan Endrawati (2010) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi

adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang

(16)

dan jasa yang di produksi dalam masyarakat bertambah dan kemamkmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan yang diterima.

Pertumbuhan ekonomi yang baik (tinggi) harus didukung dengan insfrastruktur atau sarana dan prasarana yamg memadai guna memperlancar kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Sehingga secara umum jika pertumbuhan ekonomi suatu daerah baik, maka pemerintah daerah setempat akan terus meningkatkan belanja modalnya dari tahun ke tahun guna melengkapi dan memperbaiki sarana dan prasarana. Hal ini senada dengan Taiwo dan Abayomi (2011) yang mengatakan bahwa antara pertumbuhan ekonomi dengan belanja modal memiliki hubungan positif. Penelitian lainnya yang dilakukan Wertianti dan Dwirandra (2013) juga berhasil membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang positif terhadap belanja modal.

Setiap daerah mempunyai kemampuan keuangan yang tidak sama dalam

mendanai kegiatan-kegiatannya, hal inilah yang menimbulkan ketimpangan fiskal

antara satu daerah dengan daerah yang lain. Untuk mengatasi hal ini pemerintah

mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD untuk mendanai kebutuhan

daerah dalam pelaksanaan desentralisasi (Putra dan Dwirandra, 2015). Salah satu

sumber yang dapat digunakan pemerintah untuk meningkatkan sarana dan

(17)

prasarana di daerah adalah dengan menggunakan pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan.

Dana perimbangan merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik (Mamuka dan Elim, 2014). Pada umumnya, dana perimbangan merupakan bagian terbesar dalam pembiayaan kegiatan pemerintah daerah. Tujuan utama pemberian dana perimbangan adalah untuk mengatasi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, kesenjangan fiskal antar pemerintah daerah, perbaikan sistem perpajakan, dan koreksi ketidakefisienan fiskal (Santoso dan Suparta, 2015).

Dana perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH). DAU pengalokasianya menekankan aspek pemerataan dan keadilan yang selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan. Selain itu, Pemerintah Pusat juga memberi kewenangan kepada Pemerintah Daerah dengan pengalihan dana, sarana dan SDM. Pengalihan dana diwujudkan dalam bentuk dana perimbangan yaitu DAK. Sedangkan DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Penelitian terdahulu yang membuktikan adanya pengaruh secara

signifikan antara dana perimbangan terhadap alokasi belanja modal adalah

Bungkes dkk, (2016); Nufus dan Asmara (2017); serta penelitian Kasdy dkk,

(18)

(2018). Bungkes dkk, (2016) menjelaskan bahwa dana perimbangan akan berpengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal. Nufus dan Asmara (2017;

dan Kasdy dkk, (2018); juga menyatakan hal yang sama dimana semakin besarnya dana perimbangan yang diterima oleh daerah akan meningkatkan belanja modal yang digunakan oleh daerah tersebut.

Faktor terakhir yang diduga dapat mempengaruhi belanja modal pemerintah daerah adalah Pendapatan Asli daerah (PAD). PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. PAD bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan pendapatan lain asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi. Dalam upaya meningkatkan PAD, daerah dilarang menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan dilarang menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor.

Dalam mengelola keuangannya, pemerintah daerah diharapkan dapat

meningkatkan sumber penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli

Daerah dengan mengoptimalkan potensi, kreatifitas, dan kemampuan daerah

tersebut. Tujuannya adalah agar pemerintah mampu membiayai usaha-usaha dan

pembangunan daerah secara mandiri sehingga tidak menggantungkan diri dari

pemerintah pusat. Pendapatan Asli Daerah dapat dijadikan indikator dalam menilai

tingkat kemandirian suatu daerah dalam mengelola keuangan daerah, karena

(19)

semakin tinggi rasio PAD dibandingkan dengan jumlah pendapatan, akan semakin tinggi pula tingkat kemandirian suatu daerah tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Mawarni dkk, (2013) menemukan bahwa pendapatan asli daerah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengalokasian anggaran belanja modal di Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.

Begitu pula hasil penelitian Haryuli (2015); dan Sari dkk, (2017) yang mendapatkan hasil yang sejalan dengan penelitian Mawarni dkk, (2013) yaitu pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan terhadap pengalokasian anggaran belanja modal.

Tabel 1.2 Research Gap Penelitian Terdahulu

(Tahun Penelitian)

Variabel Independen

Variabel

Dependen Hasil Temuan Wertianti dan Dwirandra

(2013)

Pertumbuhan Ekonomi

Belanja Modal

Berpengaruh Signifikan Danieswara (2017); Sari

dkk, (2017); dan Ayem dan Pratama (2018)

Tidak Berpengaruh Bolen (2019); dan

Adytama (2015) Dana Alokasi Umum

Berpengaruh Signifikan Haryuli (2015); dan Ayem

dan Pratama (2018)

Tidak Berpengaruh Bolen (2019); dan Haryuli

(2015) Dana Alokasi

Khusus

Berpengaruh Signifikan Sari dkk, (2017); dan

Ayem dan Pratama (2018)

Tidak Berpengaruh Bolen (2019); dan

Wandira (2013) Dana Bagi Hasil

Berpengaruh Signifikan Danieswara (2017); dan

Sari dkk, (2017)

Tidak Berpengaruh Haryuli (2015); Nufus dan

Asmara (2017); dan Sari dkk, (2017)

Pendapatan Asli Daerah

Berpengaruh Signifikan Adytama (2015); Ayem

dan Pratama (2018);

Bungkes dkk, (2016); dan Wandira (2013)

Tidak

Berpengaruh

Sumber: Review Penelitian Terdahulu

(20)

Berdasarkan review dari penelitian terdahulu yang dilakukan maka dapat diketahui bahwa hasil penelitian mengenai belanja modal masih memiliki gap (celah) didalamnya. Yaitu hasil dari penelitian terdahulu belum sejalan dan serempak dalam menghasilkan penemuan yang konsisten. Sehingga penelitian mengenai belanja modal layak untuk dilaksanakan.

Penelitian mengenai belanja modal pada Pemerintah Daerah di Sumatera Utara sebelumnya juga pernah dilaksanakan oleh Rachmawati (2014). Penelitian tersebut dilakukan pada periode 2011-2012. Sedangkan penelitian kali ini akan dilaksaakan pada periode 2016-2019. Selain itu dalam penelitian Rachmawati (2014) juga hanya menggunakan variabel Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan Dana Bagi Hasil sebagai tambahan variabel independen.

Dengan adanya fenomena mengenai belanja modal pada Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara seperti yang telah dijelaskan

sebelumnya maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian ulang mengenai

pengalokasian belanja modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera

Utara, terlebih ternyata ditemukan adanya research gap dalam penelitan dan

tinjauan atas hasil dari penelitian terdahulu yang masih menunjukkan ada celah

(gap) dan dapat diteliti ulang. Sehingga penelitian dengan judul “Pengaruh

Pertumbuhan Ekonomi, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi

Hasil Dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Modal Pada Pemerintahan

Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara” menjadi menarik untuk dilakukan.

(21)

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

2. Apakah dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

3. Apakah dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

4. Apakah dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

5. Apakah Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

6. Apakah pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD secara simultan berpengaruh terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuan

dilakukannya penelitian ini adalah:

(22)

1. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

2. Untuk mengetahui pengaruh dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

3. Untuk mengetahui pengaruh dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

4. Untuk mengetahui pengaruh dana perimbangan berdasarkan proksi Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

5. Untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

6. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD secara simultan terhadap belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi berbagai pihak, di- antaranya:

1. Bagi Peneliti, penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan

peneliti khususnya tentang pengalokasian anggaran belanja modal Pemerintah

Kabupaten/Kota.

(23)

2. Bagi Instansi Pemerintahan, penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengatur kebijakan mengenai pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan

referensi dalam melakukan penelitian sejenis serta menambah pengetahuan dan

bukti empiris tentang pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah

Kabupaten/Kota.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Fiscal Federalism Theory

Fiscal federalism theory adalah studi yang membahas mengenai hubungan keuangan antar tingkatan pemerintah dimana pada sistem ini menggunakan program pemerintah yang meletakkan pada tingkat pemerintah yang berbeda.

Federalisme fiskal dijadikan sebagai pedoman bagi pemerintah untuk merancang keuangan pada tingkat nasional maupun subnasional. Federalisme fiskal diterapkan oleh suatu negara yang berusaha mengaplikasikan desentralisasi fiskal dalam pemerintahannya. Pada dasarnya konsep federalisme fiskal yang dimaksudkan adalah pemerintah tingkat II (kabupaten/kota) merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat atau dengan kata lain di beberapa negara yang berbentuk federal dimana pemerintahan negara bagian bukan sebagai pelaku otonom (Boex, 2013).

Fiscal federalism theory sebagaimana yang diungkapkan Musgrave (1980)

menjelaskan bahwa desenstralisasi fiskal dapat meningkatkan kesejahteraan publik

melalui pengelolaan revenue dan expenditure antar pemerintah. Lebih lanjut teori

tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui

desentralisasi fiskal atau pendelegasian wewenang dari pemerintah pusat kepada

pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan

prioritasnya.

(25)

Tujan akhir dari desentralisasi fiskal adalah kesejahteraan rakyat melalui instrumen revenue dan expenditure antar pemerintah. Desentralisasi fiskal mengandung esensi pemberian kewenangan maupun keleluasaan dalam mengalokasikan anggaran sesuai dengan kebutuhan daerah dan prioritasnya.

Ada dua hal yang penting menyangkut desentralisasi fiskal, yaitu kewenangan daerah yang memungkinkan daerah untuk memungut PAD dan juga dana transfer dari pusat.

Boex (2013) menyatakan bahwa transfer ke daerah memberi implikasi yang luas pada beberapa isu di antaranya pertumbuhan dan pembangunan, pengurangan kemiskinan, pencapaian milenium development goals, peningkatan layanan publik serta stabilitas makroekonomi yang lebih baik.

Belanja Modal

Djaenuri (2012) menjelaskan bahwa belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Sedangkan Mardiasmo (2009) menjelaskan bahwa belanja modal adalah belanja yang digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.

Darise (2008) juga menjelaskan bahwa belanja modal digunakan untuk

pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau

pembangunan asset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12

(26)

bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, dan asset tetap lainnya.

Sedangkan

Senada, Peraturan Menteri dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 53 ayat (1) juga menjelaskan bahwa belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan lebih lanjut menyatakan bahwa belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset tetap lainnya yang memberi manfaat satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tetap tak berwujud.

Aset tetap yang dimiliki daerah adalah sebagai akibat dari belanja modal

yang merupakan suatu syarat utama dalam memberikan pelayanan publik yang

lebih baik. Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah mengalokasikan dana

anggaran belanja modal dalam APBD. Dalam setiap tahun diadakannya pengadaan

aset tetap yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (pemda) sesuai dengan

prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan dampak dalam jangka

panjang secara finansial. Belanja modal yang termaksud dalam aset tetap

(27)

pemerintah daerah ialah seperti Peralatan, Inflastruktur, Bangunan, dan Harta tetap lainnya.

Djaenuri (2012) aset tetap memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Aset tetap mempunyai ciri-ciri/karakteristik sebagai berikut: berwujud, akan menambah asset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun, nilainya relatif material. Sedangkan ciri-ciri/karakteristik Aset Lainnya adalah tidak berwujud, akan menambah asset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun, nilainya relatif material.

2. Kriteria kapitalisasi asset tetap, diharapkan entitas dapat menetapkan kebijakan akuntansi mengenai batasan minimal nilai kapitalisasi suatu aset tetap atau aset lainnya (treshold capitalization), sehingga pejabat/aparat penyusun anggaran dan/atau penyusun laporan keuangan pemerintah mempunyai pedoman dalam penetapan belanja modal baik waktu penganggaran maupun pelaporan keuangan pemerintah.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan upaya peningkatan kapasitas produksi

untuk mencapai penambahan output, yang diukur menggunakan Produk Domestik

Bruto (PDB) maupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam suatu

wilayah (Adisasmita, 2013). Pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan penggunaan

sumber daya yang tersedia secara efisien dan dengan meningkatkan kapasitas

produksi suatu negara (Haller, 2012). Sedangkan Sukirno (2010) menjelaskan

bahwa pertumbuhan ekonomi adalah sebagi suatu ukuran kuantitatif yang

(28)

menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran meningkat. Istilah pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dan perkembangan suatu perekonomian. Pertumbuhan ekonomi dapat juga diartikan sebagai kenaikan Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Product (GNP) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Perkembangan ekonomi mengandung arti yang lebih luas serta mencakup perubahan pada susunan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi pada umunya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan.

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai peningkatan output agregat

atau pendapatan rill. Kedua peningkatan tersebut biasanya di hitung perkapita atau

selama jangka waktu yang cukup panjang sebagai akibat peningkatan penggunaan

input. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi

perekonomian suatu negara yang berkesinambungan menuju keadaan yang lebih

baik selama periode tertentu. Dari aspek dinamis melihat bagaimana suatu

perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.

(29)

Pertumbuhan ekonomi dapat mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Pengukuran akan kemajuan sebuah perekonomian memerlukan alat ukur yang tepat, berupa alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) atau di tingkat regional disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam jangka waktu satu tahun dan dinyatakan dalam harga pasar (Sendouw, et al. 2013).

Indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah adalah sebagai berikut (Raharjo, 2008):

1. Ketidakseimbangan Pendapatan

Dalam keadaan yang ideal, dimana pendapatan dengan mutlak didistribusikan secara adil, 80% populasi terbawah akan menerima 80% dari total pendapatan, sedangkan 20% populasi teratas menerima 20% total pendapatan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), susunan pengelompokan penduduk dibagi tiga, yaitu 40% populasi terendah, 40% populasi sedang, dan 20% populasi teratas. Indikator ketidakseimbangan pendapatan dapat diterapkan untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu wilayah (Raharjo, 2008).

2. Perubahan Struktur Perekonomian

Dalam masyarakat yang maju, pembangunan ekonomi yang dilaksanakan akan

mengakibatkan perubahan struktur perekonomian, dimana terjadi

kecendrungan bahwa kontribusi (peran) sektor petanian terhadap nilai PDRB

akan menurun, sedangkan kontribusi sektor industri akan meningkat. Sektor

industri memiliki peranan sangat penting dalam pembangunan nasional dan

(30)

regional, sektor industri dapat menyediakan lapangan kerja yang luas, memberikan peningkatan pendapatan kepada masyarakat, menghasilkan devisa yang dihasilkan dari ekspor. Oleh karena itu, perekonomian suatu wilayah harus di orientasikan selain sektor pertanian, tetapi harus pula diorientasikan kepada sektor industri (Raharjo, 2008).

3. Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Masalah ketenagakerjaan dan kesempatan kerja merupakan salah satu masalah yang stategis dan sangat mendesak dalam pembangunan di Indonesia.

Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 240 jiwa, tingkat pengangguran cukup tinggi dan cenderung bertambah luas akibat krisis financial Negara- negara di dunia. Untuk mengatasi krisis ekonomi yang sangat luas tersebut, diperlukan peranan pemerintah. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pembangunan prasarana (misalnya jalan). Pembangunan jalan yang menjangkau ke seluruh kantong-kantong produksi, akan mendorong peningkatan produksi berbagai komoditas sektor pertanian dalam arti luas (meliputi tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan) serta barang-barang hasil industri. Pembangunan prasarana dan sarana transportasi akan menunjang berkambangnya berbagai kegiatan di sektor- sektor lainnya (pertanian, perdagangan, industri, pariwisata dan lainnya) (Raharjo, 2008).

4. Tingkat dan Penyebaran Kemudahan

Dalam hal ini “kemudahan” diartikan sebagai kemudahan bagi masyarakat

dalam memenuhi kebutuhannya, baik pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari

(31)

(seperti sandang, pangan, papan, memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan, kesempatan melakukan ibadah, rekreasi dan sebagainya), maupun pemenuhan kebutuhan untuk dapat melakukan kegiatan usaha misalnya mendapatkan bahan baku, bahan penolong, suku cadang, listrik, air bersih, dan jasa-jasa seperti jasa angkutan, pemasaran, perbankan dan lainnya) (Raharjo, 2008).

5. Produk Domestik Regional Bruto

Salah satu konsep yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi regional (wilayah) adalah konsep Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan ukuran prestasi (keberhasilan) ekonomi dari seluruh kegiatan ekonomi. Salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah adalah dengan menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu tanpa melihat faktor kepemilikan. Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah diperoleh dari kenaikan PDRB atas dasar harga konstan yang mencerminkan kenaikan produksi barang dan jasa dari tahun ke tahun (Raharjo, 2008).

Dalam penelitian ini, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan

pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut harga

konstan. Laju pertumbuhan PDRB akan memperlihatkan proses kenaikan output

perkapita dalam jangka panjang. Penekanan pada ”proses”, karena mengandung

unsur dinamis, perubahan atau perkembangan. Oleh karena itu pemahaman

(32)

indikator pertumbuhan ekonomi biasanya akan dilihat dalam kurun waktu tertentu, misalnya tahunan. Aspek tersebut relevan untuk dianalisa sehingga kebijakan- kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mendorong aktivitas perekonomian domestik dapat dinilai efektifitasnya.

Dana Perimbangan

Untuk memberi dukungan terhadap pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sumber pembiayaan pemerintah daerah didalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi, dan pembantuan.

Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan didalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayananyang lebih baik kepada masyarakat.

Sesuai dengan Undang-Undang No. 33 tahun 2004 disebutkan bahwa Dana

Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN yang

dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka

pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH),

Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana

Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai

kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan

(33)

pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Dana perimbangan disebut juga dana transfer atau grant serta disebut juga dengan intergovernmental revenue.

Berikut pembagian dana perimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah:

Dana Alokasi Umum (DAU)

Halim (2014) menjelaskan bahwa “Dana Alokasi Umum (DAU) adalah transfer dana yang bersifat block grant, sehingga pemerintah daerah mempuunyai keleluasaan di dalam penggunaan DAU sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masing-masing daerah”. Sedangkan menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, yang dimaksud dengan DAU yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 48/PMK.07

Tahun 2016 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa

menjelaskan lebih lanjut mengenai pengertian DAU sebagai berikut: “Dana

Alokasi Umum yang selanjutnya disebut DAU adalah dana yang dialokasikan

(34)

dalam APBN kepada daerah dengan tujun pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”.

Sehingga dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa DAU adalah dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk menandai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Kebijakan DAU merupakan instrumen penyeimbang fiskal antar daerah, sebab tidak semua daerah mempunyai struktur dan kemampuan fiskal yang sama (horizontal fiscal imbalance).

DAU sebagai bagian dari kebijakan transfer fiskal dari pusat ke daerah (intergovernmental transfer) berfungsi sebagai faktor pemerataan fiskal antara daerah-daerah serta memperkecil kesenjangan kemampuan fiskal atau keuangan antar daerah. Bagi daerah yang relatif minim Sumber Daya Alam (SDA), DAU merupakan sumber pendapatan penting guna mendukung operasional pemerintah sehari-hari serta sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Tujuan DAU disamping untuk mendukung sumber penerimaan daerah juga sebagai pemerataan kemampuan keuangan pemerintah daerah.

DAU bersifat Block Grand yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pembangunan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.

Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima Dana

Alokasi umum sebesar alokasi dasar. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal

(35)

negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima dana alokasi umum sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima dana alokasi umum (Badrudin 2012).

Pengalokasian DAU kepada setiap daerah ini ditentukan oleh celah fiskal yang merupakan selisih antara kebutuhan fiskal satu daerah dengan kapasistas fiskal yang dimiliki daerah tersebut. DAU yang telah ditetapkan kepada setiap daerah berdasarkan pertimbangan celah fiskal tadi akan disalurkan dengan pemindah bukuan dari rekening umum pemerintah pusat kepada rekening kas pemerintah daerah. Konstribusi DAU ini masih menjadi sumber pendapatan utama pemerintah daerah karena proporsi DAU terhadap pendapatan daerah masih tertinggi dibandingkan dengan penerimaan daerah yang lain, termasuk penerimaan dari PAD. Pada Pasal 7 UU No. 33 Tahun 2004, besarnya DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk daerah Provinsi dan untuk daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masingmasing 10% dan 90% dari DAU.

Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.

Hasil penghitungan DAU per provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan

dengan Keputusan Presiden (Kepres). Dengan semakin tingginya DAU yang

diterima oleh daerah dari pemerintah pusat maka akan semakin tinggi juga

(36)

belanja modal yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Adanya pengaruh positif antara DAU terhadap belanja modal dapat memberikan penjelasan bahwa DAU memiliki keterikatan dengan pembangunan infrastruktur daerah.

Kerterkaitan dengan pembangunan infrastuktur daerah dapat dikatakan karena bantuan berupa DAU yang dikirimkan oleh pemerintah pusat dan dipergunakan pemerintah daerah ini ditujukan untuk mendanai kegiatan atau program pemerintah daerah melalui belanja daerah terutama untuk belanja modal.

Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pengertian dana alokasi khusus menurut UU No. 33 Tahun 2004 adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan tertentu. DAK ini dialokasikan untuk daerah daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah dibanding kemampuan fiskal daerah secara nasional. Penentuan penerimaan dana alokasi khusus ini diatur sesuai dengan kriteria penerima DAK yang terdapat dalam undang-undang.

Sesuai dengan pengertiannya, dana alokasi khusus ini dialokasikan untuk mendanai kebutuhan program pemerintah daerah yang sejalan dengan kepentingan program nasional, terutama dalam pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat. Kebutuhan tertentu yang dimaksud di atas adalah:

1. Kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus

alokasi umum, dan/atau

(37)

2. Kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.

DAK merupakan salah satu mekanisme transfer keuangan Pemerintah Pusat ke daerah yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana fisik daerah sesuai 22 prioritas nasional serta mengurangi kesenjangan laju pertumbuhan antar daerah dan pelayanan antar bidang. DAK memainkan peran penting dalam dinamika pembangunan sarana dan prasarana pelayanan dasar di daerah karena sesuai dengan prinsip desentralisasi tanggung jawab dan akuntabilitas bagi penyediaan pelayanan dasar masyarakat telah dialihkan kepada pemerintah daerah.

Kebutuhan khusus yang dapat dibiayai oleh DAK adalah kebutuhan

yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus DAU,

dan kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. DAK ini

diatur lebih lanjut dalam bentuk PP, Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor

55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Pelaksanaan DAK sendiri

diarahkan pada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan,

dan/atau perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan masyarakat dengan

umur ekonomis yang panjang, termasuk pengadaan sarana fisik penunjang, dan

tidak termasuk penyertaan modal. Semakin besarnya proporsi DAK yang

diterima oleh daerah dari pemerintah pusat akan menyebabkan pendapatan

yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin besar. Sehingga pemerintah

daerah dapat membiayai belanja modal yang lebih besar pula.

(38)

Dana Bagi Hasil (DBH)

Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 20, Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pembagian DBH ini ditinjau dari kemampuan daerah dalam menghasilkan sumber daya.

Daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang banyak, akan mendapatkan porsi bagi hasil yang lebih besar sesuai dengan kekayaan alam yang telah digali. Selain sumber daya alam, sumber DBH ini juga didapat dari bagi hasil pajak. Sumber-sumber penerimaan perpajakan yang dibagihasilkan meliputi Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 dan pasal 25/29 orang pribadi, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta Bagian Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sementara itu, sumber-sumber penerimaan SDA yang dibagihasilkan adalah minyak bumi, gas alam, pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan.

Pengalokasian bagian penerimaan pemerintah daerah kepada masing-

masing daerah Kabupaten/Kota diatur berdasarkan usulan Gubernur dengan

mempertimbangkan faktor-faktor seperti jumlah penduduk, luas wilayah, serta

faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. Sementara itu, sesuai

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2000, bagian daerah dari PBB

ditetapkan 9%, sedangkan sisanya sebesar 10% yang merupakan bagian

pemerintah pusat, juga seluruhnya sudah dikembalikan kepada daerah.

(39)

Dari bagian daerah sebesar 90% tersebut, 10% merupakan upah pungut, yang sebagian merupakan bagian pemerintah pusat. Sementara itu, bagian daerah dari penerimaan BPHTB berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 ditetapkan sebesar 80%, sedangkan sisanya 20% merupakan bagian pemerintah pusat. Dalam UU tersebut juga diatur mengenai besarnya bagian daerah dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam (migas), yang masing-masing ditetapkan 15% dan 30%. Sementara itu, penerimaan SDA pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan, ditetapkan masing-masing sebesar 80%.

Pendapatan Asli Daerah

Menurut Halim (2012), Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah yang dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu: pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. PAD bertujuan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi. Darise (2008) menambahkan bahwa PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah.

Sementara pengertian PAD menurut Olubukunola (2011) adalah seluruh

pendapatan internal yang dihasilkan pemerintah daerah di dalamnya area

yurisdiksinya. Halim dan Kusufi (2012) menjelaskan bahwa: “Pendapatan Asli

Daerah merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi

asli daerah. PAD dipisahkan menjadi 4 jenis pendapatan, yaitu pajak daerah,

(40)

retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan yang sah.”

PAD ini menjadi bagian terbesar dari pendapatan keuangan daerah agar suatu daerah tersebut tidak ketergantungan pada bantuan pemerintah. Suatu daerah yang mampu mengelola PAD yang baik berarti mampu untuk meningkatkan penerimaan daerah secara berkesinambungan, seiring dengan perekonomian tanpa mengurangi alokasi faktor-faktor produksi dan keadilan.

Dalam upaya memperbesar peran pemerintah daerah dalam pembangunan, pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai kegiatan operasional rumah tangganya. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan daerah tidak dapat dipisahkan dengan belanja daerah, karena adanya saling terkait dan merupakan satu alokasi anggaran yang disusun dan dibuat untuk melancarkan roda pemerintahan daerah.

Adanya hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan Kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, merupakan satu upaya untuk meningkatkan peran pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi daerahnya dengan mengelola sumber-sumber pendapatan daerah secara efisien dan efektif khususnya pendapatan asli daerah sendiri (UU No 23 tahun 2014).

Dalam kaitannya terhadap belanja modal daerah, Pemerintah Daerahdalam

mengaloksikan belanja modal harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan

daerah dengan mempertimbangkan PAD yang diterima daerah. Besar kecilnya

belanja modal akan ditentukan dari besar kecilnya PAD. Sehingga jika Pemerintah

Daerah ingin meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat dengan

(41)

jalan meningkatkan belanja modal, maka Pemerintah Daerah harus berusaha keras untuk menggali PAD yang sebesar-besarnya.

Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai pengaruh desentralisasi fiskal, pertumbuhan ekonomi, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dana bagi hasil dan pendapatan asli daerah terhadap belanja modal telah dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya.

Berikut beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang saat ini penulis lakukan.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Bolen (2019) Variabel

Independen:

Local Financial Autonomy, Local Financial Effectiveness, Local Financial Efficiency, Revenue Sharing Funds (DBH), General allocation fund (DAU), dan Special allocation fund (DAK)

Variabel Dependen:

Capital Expenditure

Local Financial Autonomy dan Dana Alokasi Umum memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap belanja modal.

Efektivitas Keuangan Daerah, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap belanja modal.

Sementara Local Financial Effectiveness tidak memiliki

pengaruh yang

signifikan terhadap

belanja modal.

(42)

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 2. Ayem dan

Pratama (2018)

Variabel Independen:

Pertumbuhan Ekonomi, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah

Variabel Dependen:

Belanja Modal

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Memiliki pengaruh yang positif tetapi tidak signifikan terhadap belanja modal. Dana Alokasi umum juga memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap belanja modal. Dana Alokasi Khusus tidak

berpengaruh signifikan terhadap belanja modal dan pendapatan asli daerah juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap belanja modal.

3. Sari dkk, (2017) Variabel Independen:

Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran

Variabel Dependen:

Alokasi Belanja Modal

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap alokasi belanja modal, dana alokasi umum tidak

berpengaruh terhadap alokasi belanja modal, dana bagi hasil tidak berpengaruh terhadap alokasi belanja modal dan dana alokasi khusus tidak berpengaruh terhadap alokasi belanja modal, sementara pendapatan asli daerah dan sisa lebih

pembiayaan anggaran

berpengaruh positif

terhadap alokasi belanja

modal.

(43)

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 4. Nufus dan

Asmara (2017)

Variabel Independen:

Pendapatan Sendiri dan Dana

Perimbangan Variabel Dependen:

Belanja Modal

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pendapatan asli daerah dan dana

perimbangan secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal pada Kab/Kota di Provinsi Aceh. Secara parsial, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap belanja modal, sedangkan dana perimbangan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap belanja modal.

5. Danieswara (2017)

Variabel Independen:

Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil dan

Pertumbuhan Ekonomi

Variabel Dependen:

Belanja Modal

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap belanja modal, Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap belanja modal dan Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh terhadap belanja modal.

Sedangkan Dana Bagi

Hasil (DBH) dan

pertumbuhan ekonomi

tidak berpengaruh

terhadap belanja modal.

(44)

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 6. Bungkes dkk,

(2016)

Variabel Independen:

Dana Perimbangan, Pendapatan Sendiri dan Penerimaan Pembiayaan

Variabel Dependen:

Belanja Modal

Hasil penelitian menunjukan bahwa Dana Perimbangan, Pendapatan Sendiri dan Penerimaan

Pembiayaan

berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal secara simultan,

sedangkan secara parsial Dana Perimbangan dan Penerimaan Pembiayaan

berpengaruh terhadap Belanja Modal.

Pendapatan Sendiri tidak berpengaruh terhadap Belanja Modal.

7. Haryuli (2015) Variabel Independen:

Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil, Derajat Desentralisasi, dan Derajat Kontribusi BUMD

Variabel Dependen:

Alokasi Belanja Modal

Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus, Derajat Desentralisasi dan Derajat Kontribusi BUMD secara parsial berpengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau. Sedangkan Dana Alokasi Umum secara parsial tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap alokasi belanja modal Pemerintah

Kabupaten/Kota di

Provinsi Kepulauan

Riau.

(45)

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 8. Adytama (2015) Variabel

Independen:

Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum Variabel Moderating:

Pertumbuhan Ekonomi

Variabel Dependen:

Belanja Modal

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh terhadap Belanja Modal. Dana Alokasi Umum memiliki pengaruh yang positif terhadap Belanja Modal. Pertumbuhan ekonomi tidak

memoderasi hubungan dana alokasi umum dengan Belanja Modal.

9. Wertianti dan Dwirandra (2013)

Variabel Independen:

Pertumbuhan Ekonomi Variabel Moderating:

PAD dan DAU Variabel Dependen:

Belanja Modal

Pertumbuhan ekonomi, PAD dan DAU secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.

Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa PAD mampu

meningkatkan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap belanja modal, sedangkan DAU tidak mampu meningkatkan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap belanja modal.

10. Wandira (2013) Variabel Independen:

Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil

Variabel Dependen:

Pengalokasian Belanja Modal

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa DAU, DAK dan DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Sedangkan PAD tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Sumber: Review Penelitian Terdahulu

(46)

Pendapatan Asli Daerah (X5)

Dana Bagi Hasil (X4)

Belanja Modal (Y) Dana Alokasi Khusus

(X3)

Dana Alokasi Umum (X2)

Pertumbuhan Ekonomi (X1)

Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual menjelaskan tentang bagaimana pertautan teori-teori yang berhubungan dengan variabel penelitian yang ingin diteliti dan merupakan tuntutan untuk memecahkan masalah penelitian serta merumuskan hipotesis.

Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoritis yang telas diuraikan sebelumnya, peneliti membuat kerangka konseptual sebagai berikut:

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan penjelasan tinjauan pustaka, peneliti membentuk kerangka

konseptual yang menggambarkan hubungan secara simultan dan parsial antara

variabel independen dan dependen. Variabel independen dalam penelitian ini

adalah pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK, DBH dan PAD. Sedangkan variabel

dependen dalam penelitian ini adalah belanja modal.

(47)

1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Belanja Modal

Pertumbuhan ekonomi yang baik bagi suatu daerah berpengaruh terhadap pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang baik yaitu bisa dikategorikan meningkatkan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah. Hal ini pula yang mempengaruhi alokasi belanja modal karena sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah dibelanjakan menggunakan belanja modal. Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi faktor penentu terjadinya belanja modal. Semakin meningkat pertumbuhan ekonomi, maka belanja modal akan semakin meningkat begitu pula jika semakin rendah pertumbuhan ekonomi maka belanja modal semakin rendah.

Maryati dan Endrawati (2010) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan yang diterima.

Hasil penelitian yang dilakukan Taiwo dan Abayomi (2011) mengatakan

bahwa antara pertumbuhan ekonomi dengan belanja modal memiliki hubungan

yang positif. Hasil tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian lainnya yang

dilakukan Wertianti dan Dwirandra (2013) yang membuktikan bahwa pertumbuhan

ekonomi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap belanja modal.

(48)

2. Pengaruh DAU terhadap Belanja Modal

Pemerintah mengeluarkan dana bantuan kepada daerah yang berupa dana perimbangan yang mana dana tersebut meliputi DBH, DAU dan DAK yang ditujukan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam kerangka asas desentralisasi.

Dana Perimbangan atau dana transfer pusat ke daerah itu memiliki fungsi dan tujuan yang salah satunya pebangunan infrasruktur yang berdampak pada pembangunan pemerintah serta pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan pelayanan publik.

Dana perimbangan tersebut diharapkan mampu membantu pembiayaan daerah dalam rangka untuk menyelenggarakan pembangunan daerah pada berbagai bidang antara lain; pendidikan, kesehatan, sanitasi, ekonomi dan berbagai sarana pra sarana penunjang lainnya. Adanya pengaruh positif antara DAU terhadap belanja modal dapat memberikan penjelasan bahwa DAU memiliki keterikatan dengan pembangunan infrastruktur daerah. Kerterkaitan dengan pembangunan infrastuktur daerah dapat dikatakan karena bantuan berupa DAU yang dikirimkan oleh pemerintah pusat dan dipergunakan pemerintah daerah ini ditujukan untuk mendanai kegiatan atau program pemerintah daerah melalui belanja daerah terutama untuk belanja modal.

Penelitian yang dilakukan oleh Juniawan dan Suryantini (2018)

membuktikan bahwa DAU yang diterima pemerintah daerah dari pusat memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Hal ini juga diperkuat oleh

penelitian Eksandy, Hakim dan Ekawati (2018) yang menyatakan bahwa belanja

modal dapat dipengaruhi oleh DAU.

(49)

3. Pengaruh DAK terhadap Belanja Modal

Selain DAU, Pemerintah Daerah juga akan mendapatkan DAK dari pemerintah pusat. DAK merupakan dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dialokasikan ke daerah kabupaten/kota untuk membiayai kebutuhan tertentu yang sifatnya khusus, tergantung persediaanya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada dasarnya DAK dialokasikan untuk membantu daerah dalam mendanai kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang merupakan prioritas nasioanal di bidang pendidikan, kesehatan, jalan, irigasi, air minum, prasarana pemerintah, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, keluarga berencana, kehutanan, sarana dan prasarana pedesaan serta perdagangan.

Semakin besarnya proporsi DAK yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat akan menyebabkan pendapatan yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin besar. Sehingga pemerintah daerah dapat membiayai belanja modal yang lebih besar pula.

Hasil penelitian Juniawan dan Suryantini (2018) menemukan bukti empiris bahwa DAK berpengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal. Hasil tersebut juga didukung oleh hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Ndede, Sondakh dan Pontoh (2016); dan Machmud (2013) yang menyatakan bahwa DAK memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal.

4. Pengaruh DBH terhadap Belanja Modal

DBH adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada

daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dana anugerah-Nya penyusunan skripsi yang berjudul “KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGDI DAN KONFLIK

PUji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan anugerah- Nya sehingga proposal skripsi yang berjudul "Pengaruh Penambaban Xantban Gum terbadap Kestabilan

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dana anugerah-Nya penyusunan skripsi yang berjudul “KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGDI DAN KONFLIK

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karena berkat dan anugerah–Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan kasih serta anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Anugerah dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat hikmat, rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi berjudul “Pengaruh Konsentrasi Karagenan

PUji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan anugerah- Nya sehingga proposal skripsi yang berjudul "Pengaruh Penambaban Xantban Gum terbadap Kestabilan