DATANG BEROBAT DI POLIKLINIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2019
SKRIPSI
Oleh
INDA WAHYU SYAHPUTRI NIM: 161000001
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
DATANG BEROBAT DI POLIKLINIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2019
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
INDA WAHYU SYAHPUTRI NIM.161000001
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
Judul Skripsi : Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2017 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019 Nama Mahasiswa : Inda Wahyu Syahputri
Nomor Induk Mahasiswa : 161000001 Departemen : Epidemiologi
Menyetujui Pembimbing
(drh. Rasmaliah, M.Kes.) NIP. 195908181985032002
Ketua Departemen
(dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D) NIP. 196504251997022001
Tanggal Lulus : 08 Juli 2021 Telah diuji dan dipertahankan
Pada tanggal: 08 Juli 2021
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : drh. Rasmaliah, M.Kes.
Anggota : 1. dr. Rahayu Lubis, M.Kes., Ph.D 2. Drs. Jemadi, M.Kes.
Pernyataan Keaslian Skripsi
Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa Angkatan 2017 Dan 2018 Yang Datang Berobat Di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Mei 2021
Inda Wahyu Syahputri
Abstrak
Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang tidak luput dari aktifitas yang
padat, sehingga mempengaruhi perilaku hidup terutama pola makan. Berdasarkan DataProfil Kesehatan Indonesia terhadap sepuluh penyakit terbanyak di rumah sakit diIndonesia, pada pasien rawat inap, gastritis berada pada posisi kesepuluhdenganjumlah kasus sebesar 30.154 kasus yang 57,69% terjadi pada perempuan karena perempuan lebih memperhatikan postur tubuhnya sehingga mengurangi asupan makannya. Berdasarkan data poliklinik Universitas Sumatera Utara (USU), dari mahasiswa yang datang berobat terdapat 130 orang memiliki riwayat penyakit gastritis. Oleh karena itu perlu adanya penelitian terkait hubungan pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat di poliklinik USU. Jenis penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional.Lokasi penelitian dilaksanakan di Poliklinik Universitas Sumatera Utara pada bulan Mei – Juli 2021. Sampel pada penelitian ini sebesar 317 orang. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan proporsi kejadian gastritis pada mahasiswa sebesar 30,9%. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan antara pola makan berdasarkan jenis makanan (p value=0,022), waktu makan (p value=0,029), dan frekuensi makan (p value=0,017) dengan kejadian gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat di poliklinik Universitas Sumatera Utara. Diharapkan untuk mahasiswa dapat mengurangi makanan yang mengandung minyak atau lemak; waktu makan yang tepat pada pagi hari kurang dari jam 9, siang hari jam 12 sampai jam 1 siang, dan makan malam pada jam 6 sampai jam 7 malam; serta frekuensi makan berat 3 kali perhariuntuk mencegah terkena penyakit gastritis.
Kata kunci: Kejadian gastritis, pola makan, mahasiswa
Abstract
Students are the next generation of the nation who do not escape from the dense activities, thus affecting the behavior of life, especially diet. Based on the Indonesian Health Profile Data on the ten most common diseases in hospitals in Indonesia, gastritis inpatients are in the tenth position with a total of 30,154 cases of which 57.69% occur in women because women pay more attention to their posture so they reduce their food intake. Based on data from the Polyclinic of the University of Sumatra Utara (USU), of the students who came for treatment there were 130 people who had a history of gastritis. Therefore, there is a need for research related to the relationship between diet and the incidence of gastritis in 2017 and 2018 students who come for treatment at the USU polyclinic. This type of research is analytic with a cross sectional research design. The research location was carried out at the Polyclinic of the University of North Sumatra in May - July 2021. The sample in this study was 317 people. Based on the results of the study, the proportion of gastritis in students was 30.9%. Based on the results of statistical tests, it was found that there was a relationship between eating patterns based on the type of food (p value = 0.022), meal time (p value = 0.029), and number of meals (p value = 0.017) with the incidence of gastritis in 2017 and 2018 students who came. treatment at the Polyclinic of the University of North Sumatra. It is expected that students can reduce foods that contain oil or fat; proper time to eat in the morning less than 9 o'clock, noon 12 to 1 o'clock in the afternoon, and dinner at 6 o'clock to 7 pm; and the number of heavy meals 3 times per day to prevent gastritis.
Keywords: Gastritis incidence, diet, students
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan anugerah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019” ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan juga dukungan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Untuk itu, disampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. drh. Rasmaliah, M.Kes. selaku Dosen Pembimbing dan Ketua Penguji yang telah memberikan bimbingan, dukungan, nasihat, arahan, dan saran yang membangun serta meluangkan waktu kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.
4. dr. Rahayu Lubis, M.Kes., Ph.D., selaku ketua Departemen Epidemiologi dan Dosen Penguji I yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Drs. Jemadi, M.Kes. selaku Dosen Penguji II yang telah bersedia meluangkan waktu, masukan serta saran untuk penyempurnaan skripsi ini.
6. Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H. selaku Dosen Penasehat Akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
7. Seluruh Dosen dan Staff di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu dan telah membantu selama penulis menjalani pendidikan khususnya Departemen Epidemiologi.
8. Kepala Poliklinik Universitas Sumatera Utara beserta jajarannya dan mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama penelitian berlangsung.
9. Teristimewa kepada kedua orang tua penulis terutama Almh.Juliana dan Pantur yang senantiasa selalu memberikan doa, kasih sayang dan dukungan, juga kepada nenek penulis Sumiati yang telah memberikan semangat dalam penulisan skripsi ini.
10. Tak terlupakan kepada Robana paman penulis yang telah memberikan dukungan dan motivasi selama penulisan skripsi.
11. Sahabat-sahabat penulis Khetrin Nada, Lady Monica, Yolanda Novitasari, Lidia Tiatira yang telah memberikan masukan dan semangat selama penulisan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna serta masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membaca.
Medan, Mei 2021
Inda Wahyu Syahputri
Daftar Isi
Halaman
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Daftar Istilah xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 4
Manfaat Penelitian 5
Tinjauan Pustaka 6
Definisi Gastritis 6
Tinjauan Pola Makan 14
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Makan 21
Pencegahan Gastritis 26
Konsep Dewasa Awal 29
Kerangka Teori 30
Kerangka Konsep 30
Metode Penelitian 31
Jenis Penelitian 31
Lokasi dan Waktu Penelitian 31
Populasi dan Sampel 31
Variabel dan Definisi Operasional 33
Metode Pengumpulan Data 34
Metode Pengukuran 35
Metode Analisis Data 36
Hasil Penelitian 38
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 38
Karakteristik Responden 38
Kejadian Gastritis 39
Pola Makan 40
Hubungan Karakteristik dengan Kejadian Gastritis 43
Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis 45
Pembahasan 48
Proporsi Kejadian Gastritis 48
Hubungan Karakteristik dan Kejadian Gastritis 49
Hubungan Pola Makan dan Kejadian Gastritis 51
Kesimpulan dan Saran 59
Kesimpulan 59
Saran 59
Daftar Pustaka 60
Lampiran 62
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Metode Pengukuran 34
2 Distribusi Berdasarkan Karakteristik Responden 38 3 Distribusi proporsi Kejadian Gastritis pada Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 39 4 Distribusi proporsi Keluhan Gastritis pada Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 40 5 Distribusi proporsi Jenis Makanan yang di Konsumsi
Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera
Utara 41
6 Distribusi proporsi Kategori Jenis Makanan pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 41 7 Distribusi proporsi Waktu Makan pada Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 42 8 Distribusi proporsi Kategori Waktu Makan pada Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 42 9 Distribusi proporsi Frekuensi makan Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 43 10 Hubungan Umur dan Kejadian Gastritis pada Mahasiswa
Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara 44 11 Hubungan Jenis Kelamin dan Kejadian Gastritis pada
Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas
Sumatera Utara 45
12 Hubungan Jenis Makanan dan Kejadian Gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera
Utara 46
13 Hubungan Waktu Makan dan Kejadian Gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera
Utara 46
14 Hubungan Frekuensi makan dan Kejadian Gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka Teori 30
2 Kerangka Konsep 30
3 Diagram pie distribusi proporsi kejadian gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang
berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 48 4 Diagram bar hubungan umur dengan kejadian gastritis
pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang
berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 49 5 Diagram bar hubungan jenis kelamin dengan kejadian
gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang
datang berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 50 6 Diagram bar hubungan jenis makanan dengan kejadian
gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang
datang berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 52 7 Diagram bar hubungan waktu makan dengan kejadian
gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang
datang berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 54 8 Diagram bar hubungan frekuensi makan dengan kejadian
gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang
datang berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara 57
Daftar Lampiran
Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner Penelitian 62
2 Master Data 66
3 Output SPSS 92
Daftar Istilah
BPS Badan Pusat Statistika
PTM Penyakit Tidak Menular
WHO World Health Organization
KEMENKES RI Kementrian Kesehatan RI
USU Universitas Sumatera Utara
DEPKES RI Departement Kesehatan RI
NSAID Nonsteroid Anti Inflamation Drungs)
HP Helicobacter Pylory
AINS Anti Inflamasi Non Steroid
SCBA Saluran Cerna Bagian Atas
Pendahuluan
Latar Belakang
Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah, di satu pihak penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum banyak tertangani, di lain pihak telah terjadi peningkatan beban akibat akibat penyakit tidak menular (PTM) sejalan dengan meningkatnya faktor risiko yang meliputi meningkatnya tekanan darah, gula darah, indeks massa tubuh atau obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok serta alkohol.Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi sekarang ini adalah penyakit saluran pencernaan seperti gastritis (Kemenkes,2019).
Mahasiswa yang merupakan bagian dari dinamika akademisi kampus dan sebagai generasi penerus bangsa tidak luput dari aktifitas yang tinggi mulai dari tugas perkuliahan, berorganisasi dan kehidupan sosial yang dimiliki. Aktifitas yang padat serta kehidupan sosial pada mahasiswa mempengaruhi perilaku hidup sehatnya, khususnya pada pola makannya sehari-hari. Pola makan sehari-hari mahasiswa cenderung tidak memiliki jadwal makan teratur, seperti: terlambat makan, menunda waktu makan, tidak sarapan pagi sehingga perut mengalami kekosongan dalam jangka waktu lama.
Pola makan adalah berbagai infomasi yang memberikan gambaran macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pola makan terdiri dari jenis makanan, frekuensi makan, jadwal makan dan porsi makan. Pola makan yang baik dan teratur merupakan satu diantara penatalaksanaan gastritis. Pola makan yang buruk adalah seperti jadwal makan yang tidak teratur, mengkonsumsi makanan yang memiliki nilai gizi rendah danmeningkatkan produksi asam -
lambung, serta frekuensi makanan yang terlalu banyak dan juga terlalu sedikit (Hidayah,2012).
Gastritis merupakan suatu istilah kedokteran untuk suatu keadaan inflamasi jaringan mukosa (jaringan lunak) lambung. Gastritis atau yang lebih dikenal dengan maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro yang berarti perut atau lambung dan itis yang berarti inflamasi atau peradangan. Gastritis bukan berarti penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung (Rizema, 2013).
Gastritis atau dikenal dengan sakit maag merupakan peradangan (pembengkakan) dari mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi dan infeksi. Penyakit gastritis dapat berbahaya jika dibiarkan terus menerus akan merusak fungsi lambung dan dapat meningkatkan risiko untuk terkena kanker lambung hingga menyebabkan kematian (Saydam, 2011).
Prevalensi penyakit gastritis tersebar di seluruh dunia dan bahkan diperkirakan diderita lebih dari 1,7 milyar penduduk. Pada negara yang sedang berkembang, penyakit gastritis dijumpai pada usia dini dan pada negara maju sebagian besar dijumpai pada usia tua.Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) terhadap beberapa negara di dunia, mendapati bahwa jumlah penderita gastritis di Negara Kanada 35%, China 31%, Perancis 29,5%, Inggris 22%, dan Jepang 14% (WHO, 2010). Menurut Environment Health Country Profile World Health Organization(2012), dikatakan bahwa angka kejadian gastritis di Indonesia sebesar 40,8%.Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi denganprevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk.
Angka kejadian gastritis di Indonesia cukup tinggi. Hasil peneltian dan pengamatan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI angka kejadian gastritis di beberapa kota di Indonesiayang tertinggi mencapai 91,6% yaitu di Kota Medan, di beberapa kota lainnya seperti Jakarta 50%, Denpasar 46%, Palembang 35,5%, Bandung 32,5%, Aceh 31,7%, Surabaya 31,2%, dan Pontianak 31,2%.
Berdasarkan DataProfil Kesehatan Indonesia terhadap sepuluh penyakit terbanyak di rumah sakit diIndonesia, pada pasien rawat inap gastritis berada pada posisi kesepuluh(4,93% dari seluruh penyakit rawat inap) denganjumlah kasus sebesar 30.154 kasus yang 57,69% terjadi pada perempuan. Padapasien pasien rawat jalan gastritis berada pada posisi keempat(8,94% dari seluruh penyakit rawat jalan) dengan jumlah kasus 172.013 kasus yang 51,32% terjadi pada laki-laki.
Sarwono (2006) mengatakan bahwa batasan usia remaja Indonesia ialah mulai dari 11-24 tahun. Berdasarkan referensi ini dapat diklasifikasikan bahwa mahasiswa termasuk dalam kategori remaja yang masih berusia 17-22 tahun.
Mahasiswa yang merupakan bagian dari dinamika akademisi kampus dan sebagai generasi penerus bangsa tidak luput dari aktifitas yang tinggi mulai dari tugas perkuliahan, berorganisasi dan kehidupan sosial yang dimiliki.
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yaitu terdiri dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Keperawatan (FIP), Fakultas Farmasi (F.Farm), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Psikologi (F.Psi), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Pertanian (FP), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Fakultaas Kehutanan (F.Hut) dan Fakultas Ilmu Komputer dan
Teknologi Informasi (Fasilkom TI).
Berdasarkan survei pendahuluan di Poliklinik Universitas Sumatera Utara bahwa data berdasarkan buku kunjungan berobat didapatkan jumlah populasi mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat di poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019 yaitu 1.807 orang.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang “Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.”
Rumusan Masalah
Belum diketahui Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahuiHubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.
Tujuan Khusus.
1. Mengetahui proporsi kejadian gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019
2. Mengetahui gambaran pola makan (jenis makan, waktu makan, dan frekuensi makan) padaMahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.
3. Mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian gastritis padaMahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 yang Datang Berobat di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.
Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi kepada peneliti dan kerabat peneliti tentang penyakit gastritis dan hubungannya dengan pola makan.
2. Sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian sejenis dan berkelanjutan yang dapat dijadikan acuan dalam perbaikan pola makan dan kejadian gastritis.
Tinjauan Pustaka
Definisi Gastritis
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus, atau lokal. Karakteristik dari peradangan ini antara lain anoreksia, rasa penuh atau tidak nyaman pada epigastrium, mual, dan muntah. Peradangan lokal pada mukosa lambung ini akan berkembangan bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lainnya. (Suratan dalam ida, 2017).
Penyakit gastritis atau sering dikenal sebagai penyakit maag merupakan penyakit yang sangat mengganggu. Biasanya penyakit gastritis terjadi pada orang-orang yang mempunyai pola makan yang tidak teratur dan memakan makanan yang merangsang produksi asam lambung. Beberapa infeksi mikroorganisme juga dapat menyebabkan terjadinya gastritis. Gejala-gejala sakit gastritis selain nyeri ulu hati juga menimbulkan gejala seperti mual, muntah, lemas, kembung, terasa sesak, nafsu makan menurun, wajah pucat, suhu badan naik, keluar keringat dingin, pusing, selalu bersendawa dan pada kondisi yang lebih parah, bisa muntah darah (Wijayanto dalam Syamsu, 2017).
Penyakit Gastritis merupakan penyakit saluran pencernaan bagian atas yang banyak dikeluhkan dimasyarakat dan paling banyak ditemukan di bagian gastroenterologi, diperkirakan hampir semua penderita gastritis mengalami kekambuhan. Gastritis atau lebih lazim kita menyebutkannya sebagai penyakit maag merupakan penyakit yang sangat mengganggu aktifitas dan bila tidak ditangani dengan baik dapat juga berakibat fatal. Gejala-gejala sakit gastritis selain nyeri di daerah ulu hati adalah mual, muntah lemas kembung dan terasa sesak,nafsu makan menurun, wajah pucat, suhu badan naik, keluar keringat
dingin, pusing dan selalu bersendawa dan pada kondisi yang lebih parah, bisa muntah darah (Wijoyo, 2009).
Gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Pola makan yang baik dan teratur merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan preventif dalam mencegah kekambuhan gastritis. Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan. Pola makan yang baik mencegah terjadinya gastritis dan sebaliknya bila pola makan yang tidak baik dan konsumsi makanan yang tidak sehat dapat menyebabkan gastritis, pada akhirnya kekuatan dinding lambung menurun, tidak jarang kondisi seperti ini menimbulkan luka pada lambung (Uripi, 2008).
Secara sederhana definisi gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung. Gastritis merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai di klinik, karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan hispatologi (Hirlan, 2014).
Kondisi tubuh kita tergantung pada makanan yang kita konsumsi sehari- hari. Makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh kita, bila pola makan kita kurang baik, maka masalah kesehatan akan muncul. Terutama masalah kesehatan organ percernaan kita seperti lambung, lambung berfungsi untuk menampung dan mengolah makanan yang kita konsumsi. Lambung dapat bekerja dengan baik, apabila sesuai dengan kapasitasnya, akan tetapi justru kita tidak memahami akan arti pentingnya menjaga kesehatan lambung. Padahal kesehatan lambung sangat penting untuk memelihara kesehatan tubuh kita. Seperti kutipan dari (Bajry, 2008) “ apabila kita memahami karakter lambung kita dan selalu
menjaga kesehatan dan keharmonisannya, ia pun akan selalu menjaga tubuh kita dari berbagai penyakit”.
Etiologi gastritis. Ada beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan seseorang menderita gastritis antara lain mengkonsumsi obat-obatan kimia seperti asetaminofen, aspirin, dan steroid kartikosteroid (Suratan dalam ida, 2017).
Asetaminofen dan kartikosteroid dapat mengakibatkan iritasi pada mukosa lambung, sedangkan NSAIDS (Nonsteroid Anti Inflammation Drugs) serta kortikosteroid menghambat sintesis prostaglandin sehingga seleksi HCL meningkat dan menyebabkan suasana lambung menjadi sangat asam. Kondisi asam ini menimbulkan iritasi mukosa lambung.Penyebab utama gastritis adalah waktu makan yang tidak teratur atau sering terlambat makan, stres atau tekanan emosional yang berlebihan dankonsumsi obat-obatan seperti aspirin dan kortison (Wijayakusuma, 2008).
Klasifikasi gastritis. Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung. Secara umum, gastritis yang merupakan salah satu jenis penyakit dalam, dapat dibagi menjadi beberapa macam:
1. Gastritis akut
Gastritis akut adalah suatu peradangan parah pada permukaan mukosa lambung dengan kerusakan-kerusakan erosi (Soeparman, 1999).
Gastritis akut merupakan proses inflamasi bersifat akut dan biasanya terjadi sepintas pada mukosa lambung. Keadaan ini paling sering berkaitan dengan penggunaan obat-obatan anti inflamasi nonsteroid (Khususnya, aspirin) dosis tinggi dan dalam jangka waktu, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan kebiasaan merokok.
Disamping itu, stress berat seperti luka bakar dan pembedahan, iskemia dan syok juga dapat menyebabkan gastritis akut.Demikian pula halnya dengan kemoterapi, uremia, infeksi sistemik, tetelan zat asam atau alkali, iritasi lambung, trauma mekanik, dan gastrektomi distal.
2. Gastritis Kronis
Gastritis Kronis adalah inflamasi lambung dalam jangka waktu lama dan dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau malignadari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (Soeparman dalam Ida, 2017).
Gastritis kronis merupakan keadaan terjadinya perubahan inflamatorik yang kronis pada mukosa lambung sehingga akhirnya terjadi atrofi mukosa dan metaplasia epitel.Keadaan ini menjadi latar belakang munculnya dysplasia dan karsinoma (Robbins, 2009).
Manifestasi klinik gastritis. Tanda dan gejala dari gastritis menurut Smeltzer dan Bare (2012), antara lain:
a. Rasa terbakar di lambung dan akan menjadi semakin parah ketika sedang makan b. Nyeri ulu hati
c. Tekanan darah menurun, pusing d. Mual, dan sering muntah
e. Keringat dingin f. Nadi cepat
g. Kadang berat badan menurun
h. Nafsu makan menurun secara drastis, wajah pucat, suhu badan naik i. Keluar keringat dingin
j. Perut terasa nyeri, pedih (kembung dan sesak) di bagian atas perut (ulu hati)
k. Merasa lambung sangat penuh ketika sehabis makan l. Sering sendawa bila keadaan lapar
m. Sulit untuk tidur karena gangguan rasa sakit pada daerah perut
Faktor risiko gastritis. Menurut Iin Inayah (2004), ada beberapa faktor- faktor yang dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung yaitu gastritis akut, kerusakan mukosa barrier sehingga difisu balik Ion H+ meninggi, Perfusi mukosa lambung yang terganggu dan jumlah asam lambung. Faktor ini saling berhubungan, misalnya stres fisik yang dapat menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infark kecil. Di samping itu, sekreasi asam lambung juga terpacu. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan kimia, obat, mukosal barrier rusak, menyebabkan difisu balik ion H+ meninggi.
Menurut Kriswantoro (2012) faktor-faktor yang sering menyebabkan gastritis diantaranya:
1. Umur
Umur yang sudah tua memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gastritis dibandingkan dengan yang muda.Hal ini menunjukan bahwa seiring dengan bertambahnya umur mukosa gaster cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki infeksi H. pylori atau gangguan autoimun dari pada orang yang lebih muda.Sebaliknya, jika mengenai orang yang masih muda biasanya lebih berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat.
2. Pola makan
Orang yang memiliki pola makan yang tidak teratur mudah terserang penyakit ini.Kesalahan utama yaitu bukan pada porsi makanan yang banyak.Hal yang perlu diperhatikan ialah seberapa sering orang memasukkan makanan sehingga
perut tidak kosong. Lambung yang dibiarkan kosong dalam waktu lama membuat cairan asam yang menggenang akan menyebabkan dinding lambung teriritasi dan meradang.
3. Helicobacter Pylori
Helicobacter Pylori adalah kuman garam negatif, hasil yang berbentuk kurva dan batang.Helicobacter Pylori adalah suatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis (gastritis) pada manusia.Infeksi Helicobacter Pylori ini sering diketahui sebagai penyebab utama terjadi ulkus peptikum dan penybab terserang terjadinya gastritis.
4. Makanan pedas
Mengkonsumsi makanan pedas secara berlebihan akan merangsang system pencernaan, terutama lambung dan usus kontraksi. Hal ini akan mengakibatkan rasa panas dan nyeri di ulu hati yang akan disertai dengan mual dan muntah.
Gejala tersebut membuat penderita semakin berkuang nafsu makan. Bila kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas lebih dari 1 x dalam 1 minggu selama minimal 6 bulan dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan iritasi dalam lambung yang disebut gastritis.
5. Rokok
Akibat negatif dalam rokok sesungguhnya sudah mulai terasa pada waktu orang baru mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok yang membara karena dihisap, terdapat kurang lebih 3000 macam bahan kimia, diantaranya lacrolein, tar, nikotin, asap rokok, gas CO. Nikotin itulah yang menghalangi terjadinya rasa lapar. Itu sebabnya orang yang merokok tidak merasa lapar, sehingga akan meningkatkan asam lambung dan dapat menyebabkan gastritis. Nikotin juga
merangsang pengeluaran hromon adrenalin, yaitu menyebabkan jantung berdebar-debar, meningkatnya tekanan darah, serta kadar kolestrol dalam darah.
6. Kopi
Zat yang terkandung dalam kopi adalah kafein.Kafein ternyata dapat menimbulkan perangsangan terhadap susunan saraf pusat (otak), sistem pernapasan, serta sistem pembuluh darah dan jantung. Oleh sebab itu tidak heran setiap minum kopi dalam jumlah yang wajar (1-3 cangkir), tubuh kita terasa segar, bergairah, daya pikir lebih cepat, tidak mudah lelah atau mengantuk. Kafein dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat sehingga dapat meningkatkan aktivitas lambung dan sekresi hormon gastrin pada lambung dan pepsin.Hormon gastrin yang dikeluarkan oleh lambung mempuyai efek sekresi getah lambung yang sangat asam dari bagian fundus lambung.Sekresi asam yang meningkat dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi pada mukosa lambung sehingga menjadi gastritis. Orang yang minum kopi 3x per hari selama 6 bulan dapat menyebabkan gastritis.
7. Alkohol
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal. Berdasarkan penelitian, orang minum alcohol 75 gr (4 gelas/minggu) selama 6 bulan dapat menyebabkan gastritis.
8. Stres Psikis
Produksi asam lambung meningkat pada keadaan stress, misalnya pada beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal imi dibiarkan lama-kelamaan dapat
menyebabkan terjadinya gastritis.Bagi sebagian orang, keadaan stres u mumnya tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, maka kuncinya adalah mengendalikannya secara efektif dengan cara diet sesuai dengan kebutuhan nutrisi, istirahat cukup, olahraga teratur dan relaksasi yang cukup.
9. Stres fisik
Stres fisik akibat pembedahan besar, trauma, luka bakar, refluks empedu, atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga ulkus serta pendarahan pada lambung. Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan ulkus peptik. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil lambung.
10. AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)
Obat AINS adalah salah satu golongan obat besar yang secara kimia heterogen menghambat aktivitas siklooksigenase, menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekusor tromboksan dari asam arakhidonat. Misalnya aspirinibuprofen dan naproxen yang dapat menyebabkan peradangan dalam lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat-obatan tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan ulkus peptikum. Pemakaian setiap hari selama minimal 3 bulan dapat menyebabkan gastritis.
Komplikasi gastritis. Komplikasi gastritis dapat dilihat sebagai berikut:
a. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, yang berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.
b. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B12, akibat kurang penyerapan B12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus (Smeltzer dan Bare, 2012).
Tinjauan Pola Makan
Definisi pola makan. Pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam kondisi pangan setip hari yang meliputi frekuensi makan, porsi makan, dan jenis makanan yang berdasarkan faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup (Hudha dalam Bagas, 2016).
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan informasi gambaran dengan meliputi mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit (Depkes RI, 2009).
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan informasi gambaran dengan meliputi mempertahakankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit (Depkes RI, 2010).
Menurut seorang ahli mengatakan bahwa pola makan di defenisikan sebagai karakteristik dari kegiatan yang berulang kali makan individu atau sikap orang
makan dalam memenuhi kebutuhan makan (Sulistyoningsih, 2011).
Pola makan merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari, yang meliputi frekuensi makan, jenis makanan dan porsi makan (Possion, 2009). Pola makan atau food pattern adalah cara seseorang atau sekelompok orang memanfaatkan pangan yang tersedia sebagai reaksi terhadap tekanan ekonomi dan sosial budaya yang dialaminya berkaitan dengan pola makan (Margaret Mead dalam Almatsier, 2010).
Pola makan ialah suatu cara atau usaha dalam pengaturan frekuensi makan dan jenis makanan dengan maksud mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit (Depkes RI, 2009).
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan informasi gambaran dengan meliputi mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit (Depkes RI 2010).
Pola makan merupakan perilaku yang ditempuh seseorang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi frekuensi makan dalam sehari, jenis makanan yang dikonsumsi dan porsi makan.Kebiasaan makan tidak teratur akan membuat lambung sulit untuk beradaptasi, jika hal itu berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung dan dapat berlanjut menjadi tukak peptik. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa perih dan mual. Gejala tersebut bisa naik ke kerongkongan yang menimbulkan rasa panas terbakar (Notoatmodjo, 2011).
Risiko akibat penyakit yang timbul karena pola makan yang salah atau tidak sehat belakangan ini cenderung meningkat terutama pada usia 40 tahun. Penyakit
akibat pola makan yang salah tersebut diantaranya diabetes melitus, hiperkolesterolemia, penyakit kanker, penyakit arteri koroner, osteoporosis, dan beberapa penyakit kardiovaskuler. Bahkan dilaporkan bahwa kematian dini dari penyakit-penyakit di atas 50% diantaranya karena pola makan yang salah (Anonym, 2009).
Pada penderita gastritis, makanan yang disajikan perlu di atur terutama mengingat bahwa penyakit ini berhubungan dengan alat pencernaan. Gastritis dapat diatasi dengan cara mengurangi konsumsi makanan yang dapat mengganggu lambung (makanan yang terlalu asam danpedas) serta menghindari makanan yang bisa membentuk gas sehingga mengakibatkan perut kembung (misalnya ubi dan nangka). Pola makan yang baik mengandung makanan sumber energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur, karena semua zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan pemiliharaan tubuh serta perkembangan otak dan produktifitas kerja, serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan. Dengan pola makan seharihari yang seimbang dan aman, berguna untuk mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal terutama dalam menghindar kejadian gastritis (Hirlan, 2013).
Pola makan terdiri dari frekuensi makan, jenis makanan dan porsi makanan yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Frekuensi Makan
Frekuensi makan seringnya seseorang melakukan kegiatan makan dalam sehari baik makanan utama atau makan selingan.Frekuensi makan dikatakan baik bila frekuensi makan setiap harinya 3 kali makan utama atau 2 kali makan utama dengan 1 kali makan selingan.Pada umumnya setiap orang
melakukan 3 kali makan utama yaitu makan pagi, siang dan malam.Pola yang tidak normal dibagi menjadi 2 yaitu makan dalam jumlah banyak, dimana orang makan dalam jumlah banyak dan makan dimalam hari.
2. Jenis Makanan
Jenis makan yang dikonsumsi remaja dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu makanan utama dan makanan selingan.Makanan utama adalah makanan yang dikonsumsi berupa makan pagi, makan siang dan makan malam yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan minuman.
3. Porsi Makan
Jumlah atau porsi merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan.Jumlah (porsi) makanan sesuai dengan anjuran makanan bagi remaja menurut (Hudha dalam Bagas, 2016). Jumlah (porsi) standar bagi remaja: makanan pokok berupa nasi, roti tawar, dan mie instant. Jumlah atau porsi makanan pokok antara lain: nasi 100 gram dan ukuran 60 gram. Lauk pauk mempuyai dua golongan yaitu lauk nabati dan hewani, jumlah atau porsi antara lain: daging 50 gram, telur 50 gram, tempe 50 gram (2 potong) dan tahu 100 gram (2 potong). Sayur merupakan bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, jumlah atau porsi sayuran dari berbagai jenis masakan sayuran antara lain: sayur 100 gram. Buah merupakan suatu hidangan yang disajikan setelah makanan utama berfungsi sebagai pencuci mulut.Jumlah porsi buah ukuran 100 gram, ukuran potongan 75 gram.
Pola makan seimbang. Pola makan seimbang adalah suatu cara pengaturan jumlah dan jenis makanan dalam bentuk susunan makan sehri-hari yang mengandung zat gizi yang terdiri dari enam zat yaitu karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral dan air, serta keanekaragaman makanan.
Konsumsi pola makan seimbang merupakan susunan frekuensi makanan yang dikonsumsi dengan mengandug gizi seimbang dalam tubuh dan mengandung dua zat yaitu: zat pembangun dan zat pengantar.
Makan seimbang adalah makanan yang memiliki banyak kandungan gizi dan asupan gizi yang terdapat pada makanan pokok, lauk hewani dan lauk nabati, sayur, dan buah.
Jumlah dan jenis makanan sehari-hari adalah cara makan seseorang individu atau sekelompok organ dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, sayuran, dan buah frekuensi tiga kali sehari dengan makan selingan pagi dan siang dengan mencapai gizi tubuh yang cukup.
Menu seimbang adalah makanan yang beraneka ragam yang memenuhi kebutuhan zat gizi dalam pedoman umum gizi seimbang (PUGS) (Dinkes RI, 2006). Dalam bentuk penyajian makan dan bentuk hidangan pagi, hidangan siang, hidangan malam dan mengandung zat pembangun dan pengatur.
Bahan makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati aalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan dari hewani adalah telur, ayam, daging, susu, serta hasil dari olahan seperti keju. Zat pembangun berperan untuk perkembangan kualitas tingkat kecerdasan seseorang.
Bahan makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur dan buah banyak mengandung vitamin dan mineral yang berperan untuk melancarkan fungsi organ tubuh.
Almatsier (2009) mengatakan dalam menyusun menu seimbang diperlukan pengetahuan makan, karena nilai gizi setiap bahan makanan tiap kelompok tidak
sama seperti:
1. Bahan Makanan Pokok
Dalam susunan hidangan Indonesia sehari-hari, bahan makanan pokok merupakan bahan yang memegang peran penting.Bahan makanan pokok dapat dikenal dari makanan yang dihidangkan pada waktu pagi, siang atau malam.Pada umumnya porsi makanan pokok dalam jumlah (kuantitas atau volume) terlihat lebih banyak dari bahan makanan lainnya.Dari sudut ilmu gizi, bahan makanan pokok merupakan sumber energi (kalori) dan mengandung banyak karbohidrat.Beberapa jenis makanan pokok juga memberikan zat protein yang reaktif cukup besar jumlahnya dalam konsumsi manusia.
2. Bahan Makanan Lauk-Pauk
Buah-buahan merupakan santapan lauk pauk di dalam pola makan orang Indonesia berfungsi sebagai teman makanan pokok yang memberikan rasa enak, merupakan zat gizi protein dalam menu makanan sehari-hari.Lauk-pauk amat bervariasi dalam dalam hal bahan makanan merupakan teknik pengolahan dan bumbunya.Sebagai sumbernya, dikenal bahan makanan berasal dari hewan dan tumbuhan. Lauk pauk berasal dari hewan seperti daging dan ikan, selain itu dari tumbuhan yaitu kacang kedelai yang dibuat menjadi tahu, tempe dan lain sebagainya.
3. Bahan Makanan Sayur Mayur
Dalam hidangan orang Indonesia sayur mayor adalah sebagai teman makanan pokok, pemberi serat dalam hidangan serta pembasah karena umumnya dimasak berkuah.Sayur mayor merupakan vitamin dan mineral.Namun, zat-zat ini dapat rusak atau berkurang jika mengalami
pemanasan.Dianjurkan sayuran yang dimakan setiap hari terdiri dari campuran sayuran sayuran daun, kacang-kacangan, dan sayuran bewarna jingga.
4. Bahan Makanan Buah-buahan
Buah-buahan merupakan santapan terakhir dalam suatu cara makan atau dimakan kapan saja. Umumnya, dipilih nuah yang sudah masak dengan rasa manis dan dimakan mentah. Padat juga buah-buahan yang diolah atau diawetkan, buah merupakan sumber vitamin bagi manusia.Ada beberapa jenis buah yang juga memberikan kalori yang cukup tinggi seperti lemak yang terkandung dalam alpukat ataupun karbohidrat yang terdapat pada durian.
5. Susu
Susu adalah cairan bewarna putih yang dikeluarkan oleh kelenjar susu.
Istilah untuk air susu manusia adalah air susu ibu (ASI). Susu yang bukan berasal dari manusia disebut air pengganti susu ibu (PASI). Dalam kandungan susu sapi maupun ASI terdapat laktosa yaitu gula khusus pada air susu, susu dapat diperoleh dalam berbagai macam bentuk, yaitu cairan dan bubuk.
Macam susu diperjual belikan dalam bentuk cairan dengan rasa manis maupun biasa misalnya susu segar, susu asam sering disebut juga yoghurt, susu bubuk adalah susu skim ataupun biasa yang dikeringkan umumnya ditambahkan vitamin A dan beberapa vitamin B kompleks karena terjadi kerusakan pada vitamin-vitamin tersebut akibat proses pengeringan dan susu kental manis adalah susu yang diluapkan sebagian cairannya dan diberi gula sehingga terasa manis dan kental mengadung kalori tinggi dan tidak baik diberikan pada bayi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan
Koentjaraningrat dalam Santoso & Rani (2010) menyatakan bahwa kebiasaan makan individu, keluarga, dan masyarakat dipengaruhi oleh:
1. Faktor genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik.
2. Faktor Lingkungan
Gen merupakan faktor penting dalam timbulnya obesitas, namun lingkungan seseorang juga memegang peran yang cukup berarti. Yang termasuk lingkungan dalam hal ini adalah perilaku atau gaya hidup, misalnya apa yang dimakan dan beberapa kali seseorang makan, serta bagaimana aktifitasnya setiap hari. Seseorang tidak dapat mengubah pola genetiknya namun dapat mengubah pola makan dan aktifitasnya.
3. Faktor Psikososial
Karakteristik psikologis dan emosional berperan dalam hal ini.Apabila penderita memiliki harga diri yang rendah dan sulit mengontrol perilaku yang bersifat impulsive, maka hal ini yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur mood atau ekspresi kemarahan.
4. Faktor Kesehatan
Ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pola makan.Obat-obatan juga mengakibatkan terjadinya obesitas, yaitu obat-obatan tertentu seperti steroid dan beberapa antidepressant, dapat menyebabkan penambahan berat badan.
5. Faktor Perkembangan
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh.Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, dapat memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang mempunyai berat badan normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, oleh karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak dalam setiap sel.
6. Faktor Sosiokultural
Teori sosiokultural menitik beratkan pada tekanan dan harapan dari masyarakat pada wanita muda sebagai contributor terhadap perkembangan gangguan makanan.Tekanan untuk mencapai standar tubuh yang kurus yang tidak realitas dikombinasikan dengan pentingnya faktor penampilan sehubungan dengan peran remaja di masyarakat dapat menyebabkan remaja tidak puas dengan tubuh mereka. Ketidakpuasan ini dapat mengakibatkan diet yang berlebihan dan perkembangan perilaku akan menjadi terganggu.
7. Faktor Psikis
Ketidakpuasan dalam tubuh sendiri adalah faktor penting dalam gangguan makan.Ketidakpuasan dalam tubuh menghasilkan usaha-usaha yang maladaptive, yaitu dengan sengaja melaparkan diri dan atau dengan memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakannya itu untuk mencapai berat badan atau bentuk tubuh yang diidam-idamkan.Faktor-faktor kognitif juga ikut terlibat yaitu karena sering kali kecewa pada dirinya sendiri ketika gagal
mencapai standar tinggi yang tak mungkin dicapainya.Oleh karena itu mereka merasa kesepian.
8. Faktor Keluarga
Gangguan makan juga seringkali berkembang adanya konflik yang ada dikeluarga remaja. Beberapa remaja menolak untuk makan, hal ini sebagai cara remaja untuk menghukum orangtua mereka oleh karena perasaan kesepian dan merasa asing dirumah sendiri.
9. Faktor Individu
Ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa gangguan pada biokimia dan fisiologi otak ternyata dapat menyebabkan gangguan makan, namun para peneliti belum dapat mengidentifikasi faktor biologi terjadinya penyakit ini.
10. Faktor Biologis
Gangguan makan muncul dalam keluarga, hal ini menunjukan peran komponen genetik. Penelitian ini menunjukan bahwa kadar serotonin yang rendah dapat mengakibatkan bulimia.
11. Faktor Aktifitas Fisik
Seseorang yang aktifitas fisiknya kurang dapat meningkatkan prevalensi terjadinya obesitas.Remaja yang kurang aktif memerlukan kalori dalam jumlah sedikit dibandingkan dengan remaja aktifitas fisik tinggi. Maka jika remaja tidak melakukan aktifitas fisik yang seimbang dan mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, akan cenderung mengalami obesitas.
12. Faktor Pertumbuhan
a. Pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya materi penyusunan badan dan bagian-bagianya. Fase ini dimulai dari kandungan sampai usia remaja.
Kebutahan nutrisi sangat penting untuk pertumbuhan tubuh agar terbentuk tulang, obat yang kuat, cadangan lemak yang cukup untuk melindungi tubuh dan organ-organnya.
b. Perkembangan motorik pada remaja untuk mulai kritis dalam memilih makanan
c. Dewasa nutrisi tidak untuk pertumbuhan, hanya untuk bekerja dan mempertahankan kesehatan agar optimal.
13. Faktor Umur
a. Pada usia muda nutrisi diperlukan untuk pertumbuhan. Semakin tua kebutuhan energi dan nutrisi mulai berkurang. Setelah usia 20 tahun proses metabolisme berangsur-angsur turun secara teratur dan kebutuhan nutrisi menurun.
b. Pada saat usia 10 tahun kebutuhan nutrisi laki-laki dan perempuan mulai dibedakan
14. Kondisi Kesehatan
a. Pada keadaan sakit akan terjadi perubahan metabolism sehingga sangat diperlukan asupan protein tinggi dan nutrisi lainnya.
b. Pola kondisi menstruasi diperlukan peningkatan asupan makanan sumber pembentukan sel darah merah antara lain protein, Fe, Vitamin C, Vitamin B12, dan asam folat untuk menghindari terjadinya anemia.
15. Faktor Kebiasaan Makan Keluarga
Kebiasaan makan adalah suatu hal yang berhubungan dengan tindakan untuk mengkonsumsi pangan dan mempertimbangkan dasar yang lebih terbuka dalam hubungannya dengan apa yang biasanya di makan dan berkaitan dengan
kemungkinan kondisi perubahan kebiasaan pola pangan yang timbul dari alam dan luarnya. Dengan menerapkan kebiasaan sarapan pagi maka remaja akan mempunyai energi yang cukup untuk beraktifitas pada siang harinya dan dapat memelihara ketahanan fisik dan daya tahan tubuh pada saat beraktifitas serta mampu meningkatkan produktivitas. Kebiasaan sarapan pagi, kebiasaan mengkonsumsi sayuran, kebiasaan makan makanan siap saji, kebiasaan makan belemak yang dikelompokkan atas setiap hari, sering (2-5 kali seminggu), jarang (1-4 perbulan), dan tidak pernah.
16. Faktor Pendapatan Keluarga
Pendapatan keluarga merupakan besarnya rata-rata penghasilan yang diperoleh seluruh anggota keluarga (ayah, ibu, jika bekerja) dibagi dengan jumlah anggota keluarga.Semakin besar pendapatan yang diperoleh maka semakin terpenuhi kebutuhan gizi dalam keluarga. Pendapatan keluarga yang memadai akan dapat menunjang status gizi remaja, karena orangtua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun sekunder.
Pencegahan Gastritis
Pencegahan primer.Timbulnya gastritis dapat dicegah dengan hal-hal berikut (Herlan, 2011):
a. Menurut sejumlah penelitian, makan dalam jumlah kecil tapi sering serta memperbanyak makan makanan yang mengandung tepung, seperti nasi, jagung, dan roti akan menormalkan produksi asam lambung. Kurangilah makanan yang dapat mengiritasi lambung, misalkan makanan yang pedas, asam, dan berlemak.
b. Hilangkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tingginya konsumsi alkohol dapat megiritasi atau merangsang lambung, bahkan menyebabkan lapisan dalam lambung terkelupas sehingga menyebabkan peradangan dan perdarahan di lambung.
c. Hindari merokok. Merokok akan merusak lapisan pelindung. Oleh karena itu, orang yang merokok lebih sensitif terhadap maupun ulser. Merokok juga akan meningkatkan asam lmbung, melambatkan kesembuhan, dan meninkatkan resiko kanker lambung.
d. Ganti obat penghilang rasa sakit. Jika memungkinkan jangan menggunakan obat penghilang rasa sakit dari golongan NSAID, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen dan obat-obat tersebut dapat mengiritasi lambung.
e. Berkonsultasi dengan dokter bila menemukan gejala sakit maag.
f. Memelihara tubuh. Problem saluran pencernaan seperti rasa terbakar di lambung, kembung, dan konstipasi lebih umum terjadi pada orang yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas). Oleh karena itu, memelihara berat badan agar tetap ideal dapat mencegah terjadinya sakit maag.
g. Memperbanyak olahraga. Olahraga aerobik dapat meningkatkan detak jantung yang dapat menstimulasi aktivotas otot usus sehimgga mendorong isi perut dilepaskan dengan lebih cepat. Disarankan aerobic dilakukan setidaknya selama 30 menit setiap harinya.
h. Manajemen stres. Stres dapat meningkatkan serangan jantung dan stroke.
Kejadian ini akan menekan respons imun dan akan mengakibatkan gangguan pada kulit. Selain itu, kejadian ini juga akan menigkatkan produksi asam lambung dan mnekan pencernaan. Tingkat stress seseorang
berbeda-beda. Untuk menurunkan tingkat stres anda disarankan banyak mengkonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, berolahraga secara teratur, serta selalu menenangkan pikiran.
Pencegahan sekunder.Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis dan prompt treatment) (Hirlan, 2014).
a. Diagnosis Dini
Setiap penderita gastritis sebaiknya diperiksa dengan cermat.Evaluasi klinik meliputi anamneses yang teliti, pemeriksaan fisik, loboratorium serta pemeriksaan penunjang yang diperlukan, misalnya endoskopi atau ultrasonografi. Bila seseorang penderita baru datang, pemeriksaan lengkap dianjurkan bila terdapat keluhan yang berat, muntah-muntah telah berlangsung lebih dari 4 minggu, penurunan berat badan dan usia lebih dari 40 tahun.
b. Pengobatan Segera
- Diet mempunyai peranan yang sangat penting. Dasar diet tersebut adalah makan sedikit berulang kali, makanan yang banyak mengandung susu dalam porsi kecil, makanan yang dimakan harus lembut, mudah dicerna, tidak merangsang peningkatan asam lambung dan kemungkinan dapat menetralisir asam HCL.
- Perbaikan keadaan umum penderita.
- Pemasangan infus untuk pemberian cairan, elektrolit dan nutrisi.
- Penjelasan penyakit kepada penderita.
Pencegahan tersier.Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a. Rehabilitasi mental melalui konseling dengan psikiater, dilakukan bagi penderita gangguan mental akibat tekanan yang dialami penderita terhadap masalah yang dihadapi.
b. Rehabilitasi sosial dan fisik dilakukan bagi pasien yang sudah lama dirawat di rumah sakit agar tidak mengalami gangguan ketika kembali ke masyarakat.
Konsep Dewasa Awal
Dewasa awal berasal dari bentuk lampau kata adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah tumbuh menjadi dewasa. Menurut Depkes (2009),masa dewasa awal dimulai pada umur 26tahun sampai umur 35 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.
Perkembangan dewasa awal menjadi tiga bagian yaitu, dewasa muda (young adulthood) dengan usia antara 20 sampai 40 tahun. Dewasa menengah (middle adulthood) dengan usia berkisar antara 40 tahun sampai 65 tahun dan dewasa akhir (late adulthood) dengan usia 65 tahun ke atas (Papalia et al, 2007).
Soetjiningsih dalam Bagas (2010) Usia adalah salah satu faktor terjadinya gastritis, terutama pada masa dewasa adalah masa peralihan dari yang sangat tergantung dengan orang tua ke masa yang penuh tanggung jawab serta keharusan untuk sanggup mandiri. Permasalahan pola makan yang timbul pada masa remaja menuju dewasa memiliki kebiasaan tidak sarapan dan biasanya sering terjebak dengan pola makan tidak sehat menginginkan penurunan berat badan secara cepat sehingga terganggu pola makan.
Kerangka Teori
Gambar 1. Kerangka Teori
Modifikasi teori Kriswantoro (2012) dan Dinkes RI (2006)
Kerangka Konsep
Variabel Independen Varibel Dependen
Gambar 2.Kerangka Konsep
Kejadian Gastritis 1.Umur
2.Jenis kelamin 3.Pola Makan
a. Jenis makanan b.Frekuensi makanan c. Waktu makanan 4.Helicobacter Pylori 5.Makan Pedas 6.Rokok 7.Kopi 8.Alkohol 9.AINS
10. Stress Psikis 11. Stress Fisik
Kejadian Gastritis Pola makan
- Jenis makanan - Waktu makan - Frekuensi makan Karakteristik Responden - Umur
- Jenis kelamin
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penilitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian. Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2021.
Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampaiJuli 2021.
Populasi dan Sampel
Populasi Penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat ke Poliklinik Universitas Sumatera Utara sebanyak 1807 orang .
Sampel Penelitian.Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari mahasiswa yang datang berobat ke Poliklinik Universitas Sumatera Utara yang terdapat pada rekam mediknya riwayat penyakit gastritis. Rumus sampel minimal yang digunakan adalah sebagai berikut: (Lameshow, dkk., 1997)
𝑛 = Z1−∝/22 P(1 − P)N 𝑑2(N − 1) + Z1−∝/22 P(1 − P)
Keterangan:
n : Besar sampel N : Jumlah Populasi
Z1−∝/22 : Derajat kepercayaan 95% = 1,96
P : Proporsi (0,5) d : Presisi mutlak (5%) N : Jumlah populasi
Perhitungan besar sampel untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
n = (1,96)2(0,5)(1 – 0,5) 1807
(0,05)2(1807 – 1) + (1,96)2(0,5)(1 – 0,5)
n = 1735,44 4,52 + 0,96
n =316,97 = 317 orang
Berdasarkan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimal dalam penelitian ini adalah317 responden. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan data dengan pertimbangan tertentu
yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan kriteria inklusi.
Kriteria Inklusi pada penelitian ini adalah:
a. Terdaftar sebagai mahasiswa aktif stambuk 2017 dan 2018
b. Pernah melakukan pemeriksaan di poliklinik Univerrsitas Sumatera Utara pada tahun 2019
c. Pernah melakukan pemeriksaan asam lambung untuk mendeteksi penyakit gastritis
Kriteria Ekslusi pada penelitian ini adalah:
a. Mahasiswa yang tidak bisa dihubungi melalui sosial media serta tidak bersedia mengisi google form
Variabel dan Definisi Operasional
Variabel Independen.Variabel independen dari penelitian ini adalah karakteritik (umur dan jenis kelamin) dan pola makan (jenis makan, waktu makan, dan frekuensi makan).
Variabel Dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian gastritis.
Definisi Operasional
Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
Karakteristik. Karakteritstik adalah identitas yang mendasar dari responden yaitu umur dan jenis kelamin.
Umur. Umur adalahmasa hidup responden berdasarkan tahun, dari lahir hingga tanggal ulangtahun terakhir pada saat penelitian.
Jenis Kelamin. Jenis kelamin adalah ciri khas organ reproduksi yang dimiliki oleh responden.
Pola makan. Pola makan adalah suatu cara atau kebiasaan makan Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara sehari-hari yang dinilai berdasarkan jenis makanan, waktu makan, dan frekuensi makan.
Jenis makanan. Jenis makanan adalah suatu variasi makanan yang dikonsumsi dalam waktu tertentu yang berkaitan dengan peningkatan asam lambung yang dapat menimbulkan gastritis. Jenis maanan dikategorikan sebagai berikut:
1. Selalu: setiap hari dalam seminggu 2. Sering: ± 4-5 kali dalam seminggu
3. Kadang-kadang: ± 1-2 kali dalam seminggu 4. Tidak Pernah
Waktu makan. Merupakan jadwal makan secara teratur yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam. Waktu makan dikategorikan sebagai berikut:
1. Baik jika responden makan pagi sebelum jam 09.00, makan siang jam 12.00- 13.00, dan makan malam jam 18.00-19.00
2. Kurang jika responden makan pagi jam 09.00, makan siang diatas jam 12.00- 13.00, dan makan malam diatas jam 18.00-19.00
Frekuensi makan. Frekuensi makan atau frekuensi makan adalah seringnya seseorang melakukan kegiatan makan baik makanan utama dan makanan selingan.
Frekuensi makan dikategorikan sebagai berikut:
1. Baik jika responden mengonsumsi 3 kali makan dalam sehari.
2. Kurang jika responden mengonsumsi kurang dari 3 kali makan dalam sehari.
Kejadian Gastritis. Berupa keluhan gastritis yaitu nyeri ulu hati, rasa terbakar diperut, kembung, porsi makan menurun, mual, muntah, sendawa, dan rasa pahit, di mulut/kerongkongan yang ditegakkan melalui diagnosa dokter. Kejadian gastritis dikategorikan sebagai berikut:
1. Ya jika mahasiswa mengalami keluhan tersebut dalam 3 bulan terakhir 2. Tidak jika mahasiswa tidak mengalami keluhan tersebut dalam 3 bulan
terakhir.
Metode Pengumpulan Data
Data primer. Pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui Google Formdengan menghubungi mahasiwa angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat ke Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019 yang terdapat riwayat penyakit gastritis.
Data sekunder. Data sekunder mengenai data kemahasiswaan didapatkan
dari Rekam Medik Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019.
Metode Pengukuran Tabel 1
Metode Pengukuran
Varibel Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur Karakteristik
- Umur
- Jenis Kelamin
Lembar Kuesioner Lembar Kuesioner
1. ≤ 20 Tahun 2. > 20 Tahun 1. Laki-Laki 2. Perempuan
Nominal Nominal Pola Makan
- Jenis Makanan
Lembar Kuesioner
1.Selalu 2.Sering
3.Kadang-kadang 4.Tidak Pernah
Ordinal
- Waktu makan Lembar Kuesioner
1.Baik 2.Kurang
Ordinal - Frekuensi
makan
Lembar Kuesioner
1.Baik 2.Kurang
Ordinal Kejadian gastritis Lembar
Kuesioner
1.Ya 2.Tidak
Ordinal
Metode Analisis Data
Pengolahan Data. Pengolahan data dilakukan secara manual, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Editing (Pemeriksaan Data)
Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan jawaban atas pertanyaan. Apabila terdapat jawaban yang belum tepat atau terdapat kesalahan maka data harus dilengkapi dengan cara mewawancarai kembali terhadap responden.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data
merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan coding. Pemberian kode dilakukan setelah semua data telah dikumpulkan.
3. Entry (Memasukan Data)
Data yang dimasukkan yakni dengan jawaban-jawaban dari masing-masing pertanyaan yang diajukan responden dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) yang dimasukkan dalam program SPSS (Statistical Product Service Solution).
4. Cleaning (Pembersihan Data)
Semua data dari setiap sumber data atau responden yang telah selesai dimasukkan, perlu diperiksa kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemuian dilakukan pembetulan atau koreksi kembali.
Analisis Data
Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa dan dibuat dalam bentuk tabel distribusi proporsi dan selanjutnya diuraikan. Jenis analisis yang digunakan adalah:
1. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan dalam bentuk distribusi proporsi dari setiap variabelnya.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis makanan, waktu makan dan frekuensi makandengan kejadian Gastritis pada mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 yang datang berobat ke Poliklinik Universitas Sumatera Utara Tahun 2019. Untuk melihat hubungan keduanya
menggunakan uji Chi-Square pada derajat kemaknaan α (0,05) dengan menggunakan program komputer.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Poliklinik Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan klinik yang disediakan oleh USU untuk para mahasiswa dan non-mahasiswa USU yang mau berobat. Poliklinik USU bertenpat di Jalan Universitas Pintu 1 USU sejajaran dengan Kantor Pos USU atau berseberangan dengan Gelanggang Mahasiswa.
Terdapat beberapa poli yaitu Poli Umum, Poli Mata, Poli Gigi dan Mulut, Poli THT-KL, serta Poli Kulit dan Kelamin.
Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, jumlah sampel yang diteliti sebanyak 317 mahasiswa di Universitas Sumatera Utara yang pernah berobat ke poliklinik universitas.
Selanjutnya disajikan distribusi proporsi berdasarkan variabel-variabel dalam penelitian ini. Distribusi proporsi responden berdasarkan umur, jenis kelamin, fakultas, dan stambuk dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2
Distribusi Karakteristik Responden
Karakteristik Responden n %
Umur (Tahun)
≤ 20 121 38,2
> 20 196 61,8
Jenis Kelamin
Laki-laki 88 27,8
Perempuan 229 72,2
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis 7 2,2
Farmasi 37 11,7
Hukum 20 6,3
Kehutanan 4 1,3
Ilmu Budaya 18 5,7
Ilmu Sosial dan Politik 25 7,9
(Bersambung)
Tabel 2
Distribusi Karakteristik Responden
Karakteristik Responden n %
Fakultas
Kedokteran 18 5,7
Keperawatan 6 1,9
Kedokteran Gigi 55 17,4
Kesehatan Masyarakat 60 18,9
Ilmu Pengetahuan dan alam 4 1,3
Pertanian 19 6,0
Psikologi 5 1,6
Teknik 35 11,0
Fasilkom-TI 4 1,3
Stambuk
2017 114 36,0
2018 203 64,0
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari 317 mahasiswa yang menjadi responden, distribusi proporsi tertinggi umur 21 tahun sebesar 46,7% (148 orang), jenis kelamin perempuan sebesar 72,2% (229 orang), kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat sebesar 18,9% (60 orang), dan stambuk 2018 sebesar 64,0%
(203 orang).
Kejadian Gastritis
Kejadian gastritis pada penelitian ini didapatkan dengan melihat riwayat diagnosis gastritis dari tenaga kesehatan pada mahasiswa yang menjadi responden.
Distribusi proporsi kejadian gastritis dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3
Distribusi Proporsi Kejadian Gastritis pada Mahasiswa Angkatan 2017 dan 2018 Universitas Sumatera Utara
Kejadian Gastritis n %
Ya 98 30,9
Tidak 219 69,1
Berdasarkan tabel berikut diketahui bahwa dari 317 mahasiswa Universitas