HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.4 Uji Asumsi Klasik .1 Uji Normalitas .1 Uji Normalitas
4.2.4.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi perbedaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua pengujian yaitu uji glejser dan uji grafik Scatterplot.
Uji glejser adalah pengujian heteroskedastisitas yang dilakukan dengan cara meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya.
Jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan absolut residual lebih besar dari 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas, dan sebaliknya jika lebih kecil dari 0,05 maka terjadi masalah heteroskedastisitas.
63 Tabel 4.15
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 8.585 4.882 1.758 .085
Pengendalian Internal -.052 .069 -.105 -.758 .452
Asimetri Informasi .060 .063 .146 .942 .351
Moralitas Manejemen .238 .149 .411 1.592 .118
Kesesuaian Kompensasi -.167 .127 -.325 -1.315 .195
Ketaatan Aturan Akuntansi -.127 .088 -.241 -1.450 .153 a. Dependent Variable: Abs_Res
Sumber: Olahan Peneliti, 2021
Berdasarkan tabel 4.15, hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa variabel pengendalian internal memiliki nilai signifikansi sebesar 0,452, variabel asimetri informasi memiliki nilai signifikansi sebesar 0,351, variabel moralitas manajemen memiliki nilai signifikansi sebesar 0,118, variabel kesesuaian kompensasi memiliki nilai signifikansi sebesar 0,195, dan variabel ketaatan aturan akuntansi memiliki nilai signifikansi sebesar 0,153. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terdapat masalah heteroskedastisitas, karena nilai signifikansi dari setiap variabel independen lebih besar dari 0,05.
Uji heteroskedastisitas juga bisa dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot. Suatu model regresi dikatakan terjadi masalah heteroskedastisitas jika terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur pada grafik Scatterplot. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y,
64 maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut adalah gambar grafik Scatterplot untuk pengujian heteroskedastisitas.
Gambar 4.1 Grafik Scatterplot
. Berdasarkan gambar 4.1, grafik Scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik menyebar secara acak di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y dan titik-titik tersebut tidak membentuk pola yang jelas. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.
4.2.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Metode analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah ada pengaruh atau hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
65 Tabel 4.16
Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 23.673 9.596 2.467 .017
Pengendalian Internal -.044 .136 -.035 -.321 .749
Asimetri Informasi .520 .125 .503 4.170 .000
Moralitas Manejemen .521 .294 .357 1.775 .082
Kesesuaian Kompensasi -.411 .250 -.317 -1.644 .106
Ketaatan Aturan Akuntansi -.391 .172 -.295 -2.275 .027 a. Dependent Variable: Kecurangan Akuntansi
Sumber: Olahan Peneliti, 2021
Berdasarkan tabel 4.16, maka diperoleh persamaan regresi linier berganda:
Y = 23,673 - 0,044X1 + 0,520X2 + 0,521X3 – 0,411X4 – 0,391X5 + e Berdasarkan persamaan analisis regresi berganda tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa:
1. Nilai 23,673 merupakan nilai konstanta, yang mempunyai arti bahwa jika semua variabel independen (pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas manajemen, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi) bernilai 0 (konstan), maka variabel dependen (kecurangan akuntansi) akan bernilai 23,673.
2. Koefisien regresi pengendalian internal adalah sebesar -0,044, karena nilainya negatif berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel pengendalian internal maka akan menurunkan variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,044.
3. Koefisien regresi asimetri informasi adalah sebesar 0,520, karena nilainya positif berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel asimetri
66 informasi maka akan meningkatkan variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,520.
4. Koefisien regresi moralitas manajemen adalah sebesar 0,521, karena nilainya positif berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel moralitas manajemen maka akan meningkatkan variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,521.
5. Koefisien kesesuaian kompensasi adalah sebesar -0,411, karena nilainya negatif berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel kesesuaian kompensasi maka akan menurunkan variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,411.
6. Koefisien regresi ketaatan aturan akuntansi adalah sebesar -0,391, karena nilainya negatif berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel ketaatan aturan akuntansi maka akan menurunkan variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,391.
4.2.6 Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi (R2) adalah pengujian yang bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen pada persamaan regresi dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berkisar antara nol hingga satu (0<R2<1). Jika nilai koefisien determinasi mendekati nol maka kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas, sedangkan jika mendekati satu maka variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk variasi variabel dependen.
67 Tabel 4.17
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .688a .473 .420 3.87140
a. Predictors: (Constant), Ketaatan Aturan Akuntansi, Pengendalian Internal, Kesesuaian Kompensasi, Asimetri Informasi, Moralitas Manejemen
Sumber: Olahan Peneliti, 2021
Berdasarkan tabel 4.17, hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,473. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas manajemen, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel kecurangan akuntansi sebesar 0,473 (47,3%), sedangkan sisanya sebesar 52,7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini.
4.2.7 Uji F (Uji Simultan)
Uji F (Uji Simultan) bertujuan untuk menguji pengaruh secara bersama-sama variabel independen (pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas manajemen, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi) terhadap variabel dependen (kecurangan akuntansi). Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, di mana Ftabel pada penelitian ini adalah sebesar 2,55.
Untuk menarik kesimpulan, dapat digunakan pedoman sebagai berikut:
1. Jika Fhitung<Ftabel , maka H0 diterima atau H1 ditolak pada ∝ = 5%.
2. Jika Fhitung>Ftabel , maka H0 ditolak atau H1 diterima pada ∝ = 5%.
68 Tabel 4.18
Hasil Uji F (Simultan)
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 671.969 5 134.394 8.967 .000b
Residual 749.388 50 14.988
Total 1421.357 55
a. Dependent Variable: Kecurangan Akuntansi
b. Predictors: (Constant), Ketaatan Aturan Akuntansi, Pengendalian Internal, Kesesuaian Kompensasi, Asimetri Informasi, Moralitas Manejemen
Sumber: Olahan Peneliti, 2021
Berdasarkan tabel 4.18, hasil uji F (simultan) menunjukkan bahwa nilai Fhitung 8,967 > Ftabel 2,55 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas manajemen, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi secara simultan berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi.
4.2.8 Uji t (Uji Parsial)
Uji t (Uji Parsial) bertujuan untuk menguji apakah setiap variabel independen (pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas manajemen, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi) memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (kecurangan akuntansi) dan untuk mengetahui apakah variabel independen memiliki hubungan signifikan atau tidak dengan variabel dependen secara parsial untuk setiap variabel. Untuk menguji hipotesis ini dilakukan dengan cara membandingkan thitung dengan ttabel, di mana ttabel dalam penelitian ini adalah sebesar 2,00758. Untuk menarik kesimpulan, dapat digunakan pedoman sebagai berikut:
1. Jika thitung<ttabel maka H0 diterima atau H1 ditolak pada ∝ = 5%.
69 2. Jika thitung>ttabel maka H0 ditolak atau H1 diterima pada ∝ = 5%.
Tabel 4.19 Hasil Uji t (Parsial)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 23.673 9.596 2.467 .017
Pengendalian Internal -.044 .136 -.035 -.321 .749
Asimetri Informasi .520 .125 .503 4.170 .000
Moralitas Manejemen .521 .294 .357 1.775 .082
Kesesuaian Kompensasi -.411 .250 -.317 -1.644 .106
Ketaatan Aturan Akuntansi -.391 .172 -.295 -2.275 .027 a. Dependent Variable: Kecurangan Akuntansi
Sumber: Olahan Peneliti, 2021
Berdasarkan tabel 4.19, hasil t (uji parsial) menunjukkan bahwa:
1. Variabel pengendalian internal mempunyai nilai thitung 0,321 < ttabel
2,00758 dan nilai signifikansinya 0,749 > 0,05, sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi.
2. Variabel asimetri informasi mempunyai nilai thitung 4,170 > ttabel 2,00758 dan nilai signifikansinya 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1
diterima. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial asimetri informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecurangan akuntansi.
3. Variabel moralitas manajemen mempunyai nilai thitung 1,775 < ttabel
2,00758 dan nilai signifikansinya 0,082 > 0,05, sehingga H0 diterima dan
70 H1 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial moralitas manajemen tidak berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi.
4. Variabel kesesuaian kompensasi mempunyai nilai thitung 1,664 < ttabel
2,00758 dan nilai signifikansinya 0,106 > 0,05, sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial kesesuaian kompensasi tidak berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi.
5. Variabel ketaatan aturan akuntansi mempunyai nilai thitung 2,275 > ttabel
2,00758 dan nilai signifikansinya 0,027 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1
diterima. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial ketaatan aturan akuntansi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kecurangan akuntansi.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Pengendalian Internal Terhadap Kecurangan