METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Independent sample t-test dari program SPSS for windows versi 13.0. Independent sample t-test adalah pengujian menggunakan distribusi t terhadap signifikansi perbedaan nilai rata-rata tertentu dari dua kelompok sampel.
Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi “ Ada perbedaanemotion focused coping antara remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak
mengikuti les musik klasik “. Dalam menentukan diterima atau ditolaknya hipotesis, dilakukan dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. T-tabel diketahui dengan tabel distribusi t pada taraf kepercayaan 95% (α = 5%) dengan ketentuan :
- Jika t hitung≤ t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
- Jika t hitung≥ t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima
Ringkasan hasil hipotesis dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil Uji Hipotesis
Emotion focused coping N Mean Empiris Mean Teoritis t df t tabel Signifikansi (2-tailed) Ikut Les Musik
Klasik 30 106,5 Tdk Ikut Les Musik Klasik 30 92,5 90 9, 450 58 2,000 0, 000
Dari tabel dapat dilihat bahwa dua kelompok subjek sama-sama memiliki
mean empiris yang lebih besar daripada mean teoritis, dan mean empiris subjek
remaja yang mengikuti les musik klasik lebih besar daripada mean empiris remaja yang tidak mengikuti les musik klasik. Dari perhitungan pada 60 subjek diperoleh nilai t sebesar 9,450. Dan dengan df sebesar 58 diperoleh nilai t 5% (2-tailed) sebesar 2,000. Dengan demikian nilai t hitung lebih besar daripada t tabel.
Oleh karena nilai t hitung lebih besar daripada t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan emotion focused coping antara remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Sebagai hasil tambahan, peneliti juga ingin melihat sejauhmana tiap-tiap aspek kawasan ukur memberikan kontribusi terhadap skala emotion focused
coping. Oleh karena itu peneliti melakukan uji tambahan terhadap
Tabel 4.4
Uji perbedaan tiap-tiap aspek Aspek Subjek Jumlah
item Mean Std. Deviation t df t tabel Ikut les 12 36,43 1,960 7,819 58 Aspek Mengendalikan Emosi Tdk ikut les 12 32,57 1,870 7,819 58 Ikut les 12 36,53 2,161 7,170 58 Aspek Melepaskan Emosi Tdk ikut les 12 32,93 1,701 7,170 58 Ikut les 12 35,13 1,871 8,082 58 Aspek Relaksasi Tdk ikut les 12 30,70 2,351 8,082 58 2,000
Dari hasil pada tabel terlihat bahwa pada aspek mengendalikan emosi, aspek melepaskan emosi, dan aspek relaksasi diperoleh nilai t hitung yang lebih besar daripada t tabel. Ini menunjukkan adanya perbedaan emotion focused
coping antara subjek remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang
tidak mengikuti les musik klasik. Perbedaan yang paling besar terlihat pada aspek 3 (aspek relaksasi), dengan t hitung 8,082. Sedangkan mean paling besar yang didapatkan oleh kedua kelompok subjek terlihat pada aspek melepaskan emosi. Akan tetapi mean empiris subjek remaja yang mengikuti les musik klasik pada masing-masing aspek lebih besar daripada mean empiris subjek yang tidak mengikuti les musik klasik. Ini berarti bahwa pada tiap-tiap aspek, remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki emotion focused coping yang lebih tinggi daripada remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
F. Pembahasan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan
emotion focused coping dalam hubungan interpersonal antara remaja yang
mengikuti les musik klasik dan tidak mengikuti les musik klasik. Emotion
focused coping didefinisikan sebagai kemampuan untuk merespon atau
menghadapi perasaan yang tidak menyenangkan dari stress dengan
melakukan cara-cara yang berorientasi pada emosi. Emotion focused coping dalam hubungan interpersonal pada penelitian ini diteliti pada dua kelompok subjek, yaitu remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Dari hasil penghitungan dengan menggunakan uji-t diperoleh hasil bahwa nilai p yang didapat adalah 0,000 (p<0,05), sedangkan nilai t hitung yang diperoleh adalah 9,450. Karena nilai p yang diperoleh kurang dari 0,05, dan nilai t hitung lebih besar daripada t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Dengan demikian hasil dari penelitian ini adalah ada perbedaan emotion focused coping dalam hubungan interpersonal antara remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Jika dilhat dari mean empiris yang diperoleh, diketahui bahwa mean empiris yang didapatkan oleh remaja yang mengikuti les musik klasik (106,5) lebih tinggi daripada mean empiris yang didapatkan oleh remaja yang tidak mengikuti les musik klasik (92,5). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam penelitian ini remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki emotion
focused coping dalam hubungan interpersonal yang lebih tinggi daripada
remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Ada beberapa faktor yang membengaruhi perbedaan emotion focused
coping dalam hubungan interpersonal antara remaja yang mengikuti les musik
klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik. Salah satu faktor yang cukup berperan adalah remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk menjalin hubungan sosial dengan teman-teman di tempat kursus dalam hal kerjasama. Kerjasama dengan kelompok dalam memainkan alat musik itu menjadikan peserta les musik klasik dapat bertukar pikiran dan perasaan dengan peserta les musik klasik yang lain (Goleman, 1997).
Remaja yang mengikuti les musik klasik terlatih untuk bekerjasama dengan teman-teman yang memainkan alat musik yang berbeda-beda jenis, bunyi, cara memainkan, fungsi, dan sebagainya (Goleman, 1997). Hal itu berarti remaja yang mengikuti les musik klasik juga belajar untuk saling menakar atau mengatur hal-hal yang diperlukan dalam memainkan alat musik mereka sehingga terjadi kerjasama yang menciptakan harmonisasi dalam musik. Kerjasama tersebut berupa kerjasama dalam penghayatan atau penjiwaan, mengatur tempo, keras-lembutnya nada, ketepatan nada, improvisasi, dan sebagainya (Goleman, 1997). Selain itu remaja yang mengikuti les musik klasik juga memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran atau berdiskusi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kerjasama tersebut, dan saling mendukung untuk menuju sebuah harmonisasi yang baik.
Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam mengekspresikan emosi dan menjalin hubungan sosial tersebut memungkinkan remaja yang mengikuti les musik klasik dapat melepaskan emosi dan berbagi perasaan yang mereka alami dengan orang lain. Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam menjalin hubungan sosial dan kemampuan untuk berbagi tersebut memungkinkan memberikan sumbangan bagi aspek melepaskan emosi dalam emotion focused coping pada remaja yang mengikuti les musik klasik.
Remaja yang tidak mengikuti les musik klasik kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mengekspresikan emosi dan hubungan sosial dalam hal kerjasama untuk sebuah harmonisasi melalui pertunjukan musik atau konser. Hal ini memungkinkan terjadinya perbedaan
emotion focused coping dalam hubungan interpersonal, terutama pada aspek
pelepasan emosi, antara remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Peserta les musik klasik terlatih untuk mengembangkan kemampuan refleksi dan ekspresi positif melalui penghayatan atau penjiwaan lagu/musik yang dimainkan dan improvisasi nada yang sesuai (Badudu&Zain, 1997). Penghayatan/penjiwaan dan improvisasi dalam memainkan suatu lagu atau musik dilakukan dengan tetap mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan dalam suatu lagu. Artinya mereka memiliki kesempatan untuk melakukan penghayatan atau penjiwaan yang sesuai, dalam arti tidak kurang namun juga tidak berlebihan. Remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki kesempatan untuk menghayati,menjiwai, atau merepresentasikan suatu lagu dengan tetap
mengontrol emosi yang sedang mereka alami atau mereka rasakan. Hal ini membuat remaja yang mengikuti les musik klasik juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan atau stress, sehingga memungkinkan memberikan
sumbangan bagi aspek mengendalikan emosi dalam emotion focused coping pada remaja yang mengikuti les musik klasik.
Remaja yang tidak mengikuti les musik klasik kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan refleksi dan ekspresi positif melalui penghayatan atau penjiwaan lagu/musik yang dimainkan dan improvisasi nada yang sesuai. Hal tersebut memungkinkan terjadinya perbedaan
emotion focused coping dalam hubungan interpersonal, terutama pada aspek
pengendalian emosi, antara remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Dalam sebuah lagu atau musik klasik, terdapat suatu alur atau plot yang direpresentasikan melalui keras-lembutnya nada, tempo, dan sebagainya (Goleman, 1997). Alur dalam suatu lagu atau musik klasik pun beragam. Biasanya alur dalam musik klasik dimulai oleh suatu plot yang dimainkan dengan lembut, lalu terus bergerak hingga ke plot klimaks atau puncak, dan berakhir dengan plot anti klimaks (Goleman, 1997). Remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki kesempatan untuk mengembangkan ekspresi positif dalam memainkan suatu lagu atau musik klasik yang memiliki alur atau plot tersebut. Remaja yang mengikuti les musik klasik memiliki kesempatan dalam mengikuti alur lagu yang sesuai dari tahap awal, lalu menuju klimaks, dan
diakhiri dengan anti klimaks. Kesempatan yang dimiliki tersebut memungkinkan memberikan pengaruh pada kemampuan remaja yang mengikuti les musik klasik untuk mengurangi atau meredakan ketegangan saat sedang menghadapi tekanan atau stress, sehingga memungkinkan memberikan
sumbangan bagi aspek relaksasi dalam emotion focused coping pada remaja yang mengikuti les musik klasik..
Perbedaan dalam emotion focused coping terutama pada aspek relaksasi tersebut kemungkinan dipengaruhi juga oleh kesempatan yang dimiliki remaja yang mengikuti les musik klasik dalam melakukan hal-hal yang dapat mengurangi ketegangan ketika mereka akan melakukan pertunjukan musik di depan pengajar, penguji, pendengar, ataupun penonton.
Remaja yang tidak mengikuti les musik klasik kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan representasi terhadap suatu lagu atau musik klasik yang memiliki alur atau plot tertentu. Selain itu remaja yang tidak mengikuti les musik klasik kurang memiliki kesempatan dalam melakukan hal-hal yang dapat mengurangi ketegangan ketika mereka akan melakukan pertunjukan musik di depan pengajar, penguji, pendengar, ataupun penonton. Hal tersebut memungkinkan terjadinya perbedaan emotion focused
coping dalam hubungan interpersonal,terutama pada aspek relaksasi, antara
remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik.
Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan analisis tambahan untuk mengetahui perbedaan masing-masing aspek emotion focused coping pada dua
kelompok subjek. Berdasarkan uji beda per aspek yang dilakukan peneliti sebagai analisis tambahan, diperoleh hasil bahwa ada perbedaan masing-masing aspek emotion focused coping pada dua kelompok subjek, dimana perbedaan yang paling besar terlihat pada aspek relaksasi. Pada aspek relaksasi diperoleh nilai p sebesar 0,000 dan nilai t hitung 8,082.
Dari analisis tambahan tersebut juga diketahui bahwa mean yang diperoleh remaja yang mengikuti les musik klasik pada masing-masing aspek lebih besar daripada mean remaja yang tidak mengikuti les musik klasik. Sedangkan mean yang paling besar terlihat pada aspek melepaskan emosi. Faktor yang memungkinkan hasil analisis tambahan tersebut adalah dukungan sosial dari keluarga, terutama orangtua. Dukungan sosial dari keluarga, terutama orangtua merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi remaja dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam hubungan interpersonal dengan teman sebayanya (Schutz, 1996). Faktor dukungan sosial tersebut dapat diketahui dari hasil pembicaraan peneliti dengan subjek, dimana sebagian besar subjek mengatakan bahwa subjek sering berdiskusi dengan orangtua tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan yang dialami oleh subjek, terutama tentang permasalahan yang berhubungan dengan teman-temannya. Saat bertukar pikiran dan perasaan dengan orangtua, remaja dapat sekaligus melepaskan emosinya dengan menangis, dan sebagainya.
Dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil bahwa mean empiris yang didapatkan oleh remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik lebih tinggi dari mean teoritis. Mean empiris
yang didapatkan oleh remaja yang mengikuti les musik klasik adalah 106,5 dan
mean empiris yang didapatkan oleh remaja yang tidak mengikuti les musik
klasik adalah 92,5. Sedangkan mean teoritis dalam penelitian ini adalah 90. Hal ini menunjukkan bahwa baik remaja yang mengikuti les musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik memiliki kecenderungan emotion
focused coping yang tinggi.
Ada beberapa faktor yang terpenuhi untuk mendukung kecenderungan
emotion focused coping yang tinggi pada kedua kelompok subjek tersebut.
Faktor-faktor tersebut berupa tingkat pendidikan orangtua, dan dukungan sosial dari keluarga terutama orangtua. Dukungan sosial dari keluarga, terutama orangtua merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi remaja dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam hubungan interpersonal dengan teman sebayanya (Schutz, 1996). Dari hasil pengamatan peneliti terlihat bahwa sebagian besar subjek diantar atau dijemput ke sekolah oleh orangtuanya. Diskusi ringan antara orangtua dan anak juga tampak terutama ketika orangtua menjemput anak pada saat pulang sekolah. Mereka melakukan pembicaraan tentang hal-hal yang dialami dan dirasakan oleh subjek saat bersekolah, juga berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan interpersonal subjek, dalam hal ini teman-teman di sekolah.
Tingkat pendidikan orangtua menjadi faktor yang cukup berperan bagi remaja di samping dukungan sosial, karena tingkat pendidikan orangtua mempengaruhi pandangan terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi anak-anaknya dan cara mengatasinya (Schutz, 1996). Tingkat pendidikan orangtua
diketahui dari data pada angket yang diisi oleh subjek, dimana 48 subjek mengisikan tingkat pendidikan terakhir orangtua adalah S1, dan 12 subjek yang lain mengisikan tingkat pendidikan terakhir orangtua adalah S2.
Dari pembahasan yang telah diungkapkan di atas, dapat dikatakan bahwa ada beberapa faktor yang memberikan sumbangan pada perbedaan emotion
focused coping dalam hubungan interpersonal antara remaja yang mengikuti les
musik klasik dan remaja yang tidak mengikuti les musik klasik, dan faktor-faktor tersebut memberikan sumbangan yang berbeda-beda pula pada masing-masing aspek emotion focused coping.
BAB V