HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.3. Uji Hipotesis
atau 1.774 <1.872 < 2.226) yang artinya tidak terjadi autokorelasi karena nilainya berada di kisaran interval 1.774 dan 2.226. Hasil uji autokorelasi di atas menunjukkan nilai statistik Durbin-Watson (D-W) sebesar 1.872,
maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi baik positif maupun negatif.
Pengujian goodness of fit dilakukan untuk menentukan kelayakan suatu model regresi. Variabel penelitian yang digunakan pada penelitian ini lebih dari dua variabel
maka kelayakan tersebut dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square. Nilai Adjusted R Square yang diperoleh dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada Tabel 5.7 di bawah ini:
Tabel 5.7. Pengujian Goodness of Fit
Model Summaryd Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .558a .312 .304 2,062.90291 2 .660b .435 .423 1,878.89570 3 .679c .461 .443 1,845.74143
a. Predictors: (Constant), Zscore(NIM_X3)
b. Predictors: (Constant), Zscore(NIM_X3), Zscore(NPL_X4) c. Predictors: (Constant), Zscore(NIM_X3), Zscore(NPL_X4), Moderator3
d. Dependent Variable: HS_Z
Sumber: Output SPSS (Lampiran 6)
Nilai Adjusted R Square pada Tabel 5.7 diatas sebesar 0,443. Hal ini menunjukkan bahwa 44,3% variabel Harga Saham dapat dijelaskan oleh variabel
Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan
(NPL), Net Interest Margin (NIM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Efficiency Ratio (EFF) dan Cost of Income Ratio (CIR) dan
profitabilitas, sedangkan sisanya sebesar 55,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak dijelaskan oleh model penelitian ini.
Pada penelitian ini, uji F tidak dilakukan karena dalam mengukur pengaruh
variabel independen terhadap dependen menggunakan variabel moderating sehingga
uji F tidak diperlukan. (Ghozali, 2005; 201). Secara parsial terdapat 2 (dua) variabel
yang berpengaruh signifikan. Hal tersebut terdapat pada Tabel berikut:
Tabel 5.8. Hasil Perhitungan Uji t
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 2,209.074 211.649 10.437 .000 Zscore(NIM_X3) 1,381.428 212.772 .558 6.493 .000 2 (Constant) 2,209.074 192.771 11.460 .000 Zscore(NIM_X3) 1,410.674 193.903 .570 7.275 .000 Zscore(NPL_X4) 869.491 193.903 .352 4.484 .000 3 (Constant) 1,620.583 340.226 4.763 .000 Zscore(NIM_X3) 940.969 295.261 .380 3.187 .002 Zscore(NPL_X4) 948.056 194.183 .383 4.882 .000 Moderator3 626.891 301.098 .251 2.082 .040 a. Dependent Variable: HS_Z
Sumber: Output SPSS (Lampiran 6).
Setelah melakukan pengujian diatas dapat disimpulkan bahwa model yang
diajukan di dalam penelitian ini yang diuji dengan metode regresi berganda stepwise regression moderating variabel dengan metode residual. Pengujian ini untuk melihat signifikansi model apakah Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio
(LDR), Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Efficiency Ratio (EFF) dan Cost of Income Ratio (CIR) dan profitabilitas dengan indikator ROA sebagai moderating
variabel berpengaruh terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia. Pengujian
model ini digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan di dalam penelitian.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel Net Interest Margin (NIM/X3) dan variabel Non Performing Loan (NPL/X4) yang berpengaruh terhadap harga saham dengan ROA sebagai moderating variabel. Hal ini ditunjukkan nilai signifikansinya lebih kecil dari α = 5%.
Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa thitung variabel NIM (X3)
sebesar 3.187 sedangkan ttabel pada tingkat keyakinan 95% adalah 1.980 (3.187 >
1.980). Karena thitung > ttabel maka H0 ditolak, H1 diterima. Dengan demikian daerah
penerimaan hipotesis berada diluar daerah penerimaan H0. Variabel NPL_X4
berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan indikator ttabel pada tingkat
keyakinan 95% adalah 4.882 (4.882 > 1.980). Karena thitung > ttabel maka H0 ditolak,
H1 diterima. Dengan demikian daerah penerimaan hipotesis berada diluar daerah
penerimaan H0. Peranan variabel moderating ROA_Y sebagai indikator profitabilitas
sebagai mediator terhadap harga saham dapat diketahui dengan indikator ttabel pada
tingkat keyakinan 95% adalah 2.082 (2.082 > 1.980). Karena thitung > ttabel maka H0
ditolak, H1 diterima. Dengan demikian daerah penerimaan hipotesis berada diluar
daerah penerimaan H0
Dampak dari penggunaan metode stepwise yang hanya menseleksi variabel yang signikan sedangkan variabel yang tidak signifikan terdapat pada Tabel berikut:
. Dengan demikian ROA berperan terhadap hubungan antara
Tabel 5.9. Hasil Perhitungan Uji t yang Dikeluarkan dari Model Excluded Variablesd Model Collinearity Statistics Beta In T Sig. Partial
Correlation Tolerance VIF
Minimum Tolerance 1 CAR_X1 .017a .200 .842 .021 1.000 1.000 1.000 LDR_X2 -.005a -.061 .952 -.006 .930 1.076 .930 NIM_X3 .a . . . .000 . .000 NPL_X4 .352a 4.484 .000 .424 .999 1.001 .999 BOPO_X5 .113a 1.260 .211 .130 .910 1.098 .910 EFF_X6 -.063a -.727 .469 -.076 .996 1.004 .996 CIF_X7 .154a 1.809 .074 .185 .997 1.003 .997 ROA_Y -.058a -.675 .502 -.070 .996 1.004 .996 Zscore(CAR_X1) .017a .200 .842 .021 1.000 1.000 1.000 Zscore(LDR_X2) -.005a -.061 .952 -.006 .930 1.076 .930 Zscore(NPL_X4) .352a 4.484 .000 .424 .999 1.001 .999 Zscore(BOPO_X5) .113a 1.260 .211 .130 .910 1.098 .910 Zscore(EFF_X6) -.063a -.727 .469 -.076 .996 1.004 .996 Zscore(CIF_X7) .154a 1.809 .074 .185 .997 1.003 .997 Zscore(ROA_Y) -.058a -.675 .502 -.070 .996 1.004 .996 Moderator1 -.023a -.261 .795 -.027 .987 1.014 .987 Moderator2 -.148a -1.726 .088 -.177 .986 1.014 .986 Moderator3 .137a 1.034 .304 .107 .423 2.367 .423 Moderator4 .256a 3.104 .003 .308 .996 1.004 .996 Moderator5 .134a 1.569 .120 .161 .998 1.002 .998 Moderator6 -.044a -.513 .609 -.053 1.000 1.000 1.000 Moderator7 .143a 1.674 .098 .172 .998 1.002 .998 2 CAR_X1 .062b .787 .434 .082 .984 1.016 .983 LDR_X2 -.038b -.470 .640 -.049 .922 1.084 .922 NIM_X3 .b . . . .000 . .000 NPL_X4 .b . . . .000 . .000 BOPO_X5 -.091b -.963 .338 -.100 .688 1.453 .688 EFF_X6 -.058b -.741 .461 -.077 .996 1.004 .995 CIF_X7 .053b .645 .521 .067 .907 1.103 .907 ROA_Y .043b .521 .603 .055 .919 1.088 .919 Zscore(CAR_X1) .062b .787 .434 .082 .984 1.016 .983 Zscore(LDR_X2) -.038b -.470 .640 -.049 .922 1.084 .922 Zscore(BOPO_X5) -.091b -.963 .338 -.100 .688 1.453 .688 Zscore(EFF_X6) -.058b -.741 .461 -.077 .996 1.004 .995 Zscore(CIF_X7) .053b .645 .521 .067 .907 1.103 .907 Zscore(ROA_Y) .043b .521 .603 .055 .919 1.088 .919 Moderator1 .029b .366 .715 .038 .966 1.035 .966 Moderator2 -.107b -1.353 .179 -.140 .972 1.029 .972 Lanjutan Tabel 4.9
Moderator3 .251b 2.082 .040 .213 .407 2.459 .407 Moderator4 .068b .687 .494 .072 .632 1.582 .632 Moderator5 .079b 1.001 .320 .104 .972 1.028 .972 Moderator6 -.031b -.389 .698 -.041 .998 1.002 .997 Moderator7 .128b 1.643 .104 .170 .996 1.004 .996 3 CAR_X1 .031c .389 .699 .041 .944 1.059 .390 LDR_X2 .031c .359 .720 .038 .782 1.279 .345 NIM_X3 .c . . . .000 . .000 NPL_X4 .c . . . .000 . .000 BOPO_X5 -.079c -.852 .397 -.089 .685 1.459 .404 EFF_X6 -.044c -.568 .571 -.060 .988 1.012 .403 CIF_X7 .067c .830 .409 .087 .901 1.110 .404 ROA_Y -.056c -.596 .553 -.063 .686 1.458 .303 Zscore(CAR_X1) .031c .389 .699 .041 .944 1.059 .390 Zscore(LDR_X2) .031c .359 .720 .038 .782 1.279 .34 Zscore(BOPO_X5) -.079c -.852 .397 -.089 .685 1.459 .404 Zscore(EFF_X6) -.044c -.568 .571 -.060 .988 1.012 .403 Zscore(CIF_X7) .067c .830 .409 .087 .901 1.110 .404 Zscore(ROA_Y) -.056c -.596 .553 -.063 .686 1.458 .303 Moderator1 .003c .032 .974 .003 .940 1.064 .396 Moderator2 -.156c -1.970 .052 -.203 .914 1.094 .382 Moderator4 -.023c -.215 .830 -.023 .515 1.942 .331 Moderator5 .042c .524 .602 .055 .914 1.094 .382 Moderator6 -.074c -.937 .352 -.098 .938 1.066 .382 Moderator7 .115c 1.498 .138 .156 .989 1.011 .404
a. Predictors in the Model: (Constant), Zscore(NIM_X3)
b. Predictors in the Model: (Constant), Zscore(NIM_X3), Zscore(NPL_X4)
c. Predictors in the Model: (Constant), Zscore(NIM_X3), Zscore(NPL_X4), Moderator3 d. Dependent Variable: HS_Z
Sumber: Lampiran 6
Variabel lain yang tidak berpengaruh adalah CAR (X1), LDR (X2), BOPO (X5),
EFF (X6) dan CIF (X7) dengan signifikansi masing-masing 0,390, 0.345, 0,404,
0,403, 0,404 dan 0,303. Peranan ROA sebagai moderating atas hubungan antara
variable independen terhadap dependen tidak berpengaruh signifikan. Hal itu ditandai
tidak signifikannya variabel tanda moderator 1, 2, 4, 5, 6 dan 7. Lanjutan Tabel 4.9
Dari Tabel coefficient perhitungan Uji t diatas maka model regresi yang dapat dibentuk:
HS_Z = 1.620,58+ 940.97_NIM_X3 + 948.06_NPL_X4 +626.89 Moderator3 + ε
Perbedaan model yang dihasilkan diatas dengan model awal disebabkan oleh
penggunaan metode stepwise (bertatar). Menurut Ghozali (2005), pada metode
stepwise model yang dihasilkan adalah model yang sudah terseleksi atau variabel yang signifikan dibawah alpha 5%. Model lain yang tidak memiliki hubungan yang
kuat secara otomatis tersisihkan. Dari model terlihat bahwa peranan variabel NPL
(X3) dan NIM (X4) berpengaruh terhadap harga saham dengan ROA sebagai
moderating variabel. Sedangkan variabel CAR (X1), LDR (X2), BOPO (X5), EFF
(X6) dan CIR (X7) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan ROA
sebagai variabel yang memperkuat dan memperlemah hubungan tersebut. Apabila
dibandingkan dengan menggunakan metode enter maka model yang dihasilkan akan
menghasilkan persamaan yang sama seperti model awal sebelumnya.
Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan secara parsial terhadap harga saham
adalah sebagai berikut:
1. Nilai konstanta sebesar 1.620,58 artinya apabila nilai Net Interest Margin
(NIM/X3), variabel Non Performing Loan (NPL/X4) dan ROA sebagai moderating variable bernilai nol, maka nilai harga saham akan sebesar 1.620,58.
2. Koefisien regresi variabel NIM_X3 sebesar 940.97 bermakna jika variabel
3. Koefisien regresi variable NPL_X4 sebesar 948.06 memberikan pengertian bahwa
perubahan NPL_X4
4. Koefisien regresi Moderator3 sebesar 626.89 memberikan pengertian bahwa
perubahan Moderator3 sebanyak 1% akan memberikan dampak sebesar 948.06
satuan dengan arah yang sama.
sebanyak 1% akan memberikan dampak kenaikan terhadap
harga saham sebesar 948.06 satuan dengan arah yang sama.
5.2. Pembahasan Hasil Penelitian
Hipotesis pada penelitian ini adalah Apakah Capital Adequacy Ratio (CAR),
Loan Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Efficiency Ratio (EFF) dan Cost of Income Ratio (CIR) berpengaruh terhadap harga saham dengan profitabilitas (ROA) sebagai moderating dapat diterima. Dalam pengujian hipotesis
yang dilakukan, diketahui bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan Deposit Ratio
(LDR), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Efficiency Ratio (EFF) dan Cost of Income Ratio (CIR) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan return on assets sebagai moderating variabel, namun Non Performing Loan (NPL) dan Net Interest Margin (NIM) berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan return on assets sebagai moderating variabel. Artinya sejalan dengan teori, bahwa semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk
kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar
maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar yaitu
semakin rendah NPL maka bank tersebut akan semakin mengalami keuntungan. Jika
dikaitkan dengan pengembalian atas ekuitas, maka semakin rendah NPL maka bank
tersebut akan memperoleh keuntungan yang pada akhirnya menaikkan nilai
pengembalian atas modal yang sudah ditanamkan oleh para pemegang saham dan
investor.
Pasar yang efisien secara semi kuat, harga suatu saham akan merefleksikan
secara penuh atas informasi yang tersedia di pasar saham. Oleh karena itu, pasar
seharusnya bereaksi secara berbeda terhadap informasi antara perusahaan yang
tumbuh dan yang tidak tumbuh. Perbedaan harga saham ini hanya terjadi bila pasar
saham adalah efisien semi kuat secara keputusan yaitu investor dapat merespon
secara tepat atas informasi yang tersedia secara penuh dipasar modal. Investor yang
canggih (sophisticated investors) bukan investor yang naif. Dalam membuat keputusan investasinya, investor perlu mengetahui dan memahami terlebih dahulu
bagaimana kinerja keuangan perusahaan, baru kemudian dapat membuat penilaian
dan menentukan keputusan investasinya. Investor akan melakukan analisis terhadap
laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang diterbitkan setelah dianalisis
akan bisa diperoleh rasio keuangan, yang berguna untuk mengungkapkan kekuatan
dan kelemahan relatif suatu perusahaan, serta untuk menunjukkan apakah posisi
keuangan perusahaan membaik atau memburuk selama suatu waktu. Hal ini akan
membantu baik bagi investor maupun kreditor dan pemakai lainnya yang potensial,
yang bersangkutan maupun para investor akan dapat melakukan tindakan, setelah
menilai kinerja perusahaan yang dilihat dari rasio keuangan tersebut dan melakukan
penilaian terhadap nilai saham perusahaan.
Harga saham antara perusahaan yang tumbuh dan yang tidak tumbuh juga
sesuai dengan salah satu dasar pembentukan harga saham yang tercatat bahwa harga
saham terjadi karena adanya aliran laba atau kas dimasa depan yang dinilai sekarang.
Fluktuasi harga saham ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam memperoleh
profit. Apabila profit yang diperoleh perusahaan relatif tinggi, maka sangat
dimungkinkan bahwa dividen yang dibayarkan juga relatif tinggi. Apabila dividen
yang dibayarkan relatif tinggi, akan berpengaruh positif terhadap harga saham
dibursa, dan investor akan tertarik untuk membelinya. Akibatnya permintaan akan
saham tersebut menjadi meningkat, pada akhirnya harga saham juga akan meningkat.
NPL merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan bank
dalam menyanggah risiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur. NPL
mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula resiko kredit yang
ditanggung pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis
terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit
diberikan bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta
kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan
peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko
kredit. Non Performing Loan (NPL) merupakan salah satu pengukuran dari rasio resiko usaha bank yang menunjukkan besarnya resiko kredit bermasalah yang ada
pada suatu bank. Selain itu variabel yang berpengaruh adalah Net Interest Margin
(NIM). Besarnya resiko kredit bank mempengaruhi NIM sehingga perlu dilakukan
penelitian lanjutan yang menguji pengaruh NPL terhadap NIM. Rasio profitabilitas
sebagai variabel moderating mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba
selama satu periode tertentu. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
usaha dan kemampulabaan yang dicapai oleh bank yang bersangkutan.
Peranan ROA sebagai penguat hubungan karena rasio ROA menunjukkan
kemampuan dari keseluruhan aktiva yang ada dan yang digunakan untuk
menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi ROA memperhitungkan bagaimana
kemampuan manajemen bank memperoleh profitabilitasnya dan manajerial efisiensi
secara menyeluruh. Rasio ROA digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen
bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan, semakin besar ROA
suatu bank semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan
semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aktiva
Pengaruh yang ditunjukkan oleh NPL mengindikasikan bahwa semakin tinggi
kredit macet dalam pengelolaan kredit bank yang ditunjukkan dalam NPL yang
makin meningkat maka akan menurunkan tingkat pendapatan bank yang tercermin
melalui NIM. NPL menunjukkan rasio pinjaman yang bermasalah terhadap total
pinjamannya. Semakin tinggi NPL mengakibatkan semakin tinggi tunggakan bunga
kredit yang berpotensi menurunkan pendapatan bunga serta menurunkan NIM. NIM
diterima dari pinjaman yang diberikan dikurangi dengan biaya bunga dari sumber
dana yang dikumpulkan. NIM suatu bank dikatakan sehat apabila mempunyai NIM
diatas 2%.
Sumber dana bank terdiri dari 3 jenis yaitu: (1) dana dari pihak I (modal
sendiri), (2) dana pihak II (pinjaman dari bank-bank lain), dan (3) dana dari pihak III
(dana dari masyarakat). Dana dari masyarakat dikelompokkan dalam 3 jenis: (a) giro,
(b) tabungan atau simpanan harian, (c) deposito berjangka. Giro yang diterima dari
masyarakat adalah dana dari suatu lembaga (baik pemerintah maupun swasta),
dimana penarikannya dengan menggunakan Cek atau Bilyet Giro yang dikeluarkan
oleh bank. Tabungan atau simpanan harian merupakan dana yang diperoleh dari
masyarakat dimana pengambilannya dapat dilakukan setiap saat selama saldo
mencukupi. Giro dikelompokkan sebagai demand deposit dan tabungan sebagai
saving deposit. Sedangkan deposito berjangka pada awalnya
dikelompokkan dalam 5 jenis yaitu: (a) deposito 1 (satu) bulan, (b) deposito 3 (tiga)
bulan, (c) deposito 6 (enam) bulan, (d) deposito 12 (dua belas) bulan, dan (e) deposito
24 (dua puluh empat) bulan.
Untuk mendapatkan perolehan NIM yang meningkat, perlu menekan biaya
dana. Biaya dana adalah adalah biaya bunga yang dibayarkan oleh bank kepada
masing-masing sumber dana bank yang bersangkutan. Secara keseluruhan, bank
harus menetukan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh bank untuk menetapkan
tingkat bunga kredit yang diberikannya kepada nasabahnya sehingga bank dapat
5 unsur yang merupakan komponen-komponen biaya yang pada akhirnya
menentukan besarnya bunga kredit bank yaitu: Cost of loanable funds, overhead cost, risk factor, spread dan pajak. Dari kelima unsur tersebut, biaya dana bank yang dicakup dalam cost of loanable funds merupakan unsur biaya yang paling dominan. Dengan demikian seberapa jauh bank dalam menekan biaya dananya akan
memperbaiki perolehan NIM bagi bank. Oleh sebab itu, penting sekali bagi bank
untuk memantau secara akurat biaya dana.
Rasio CAR tidak signifikan terhadap harga saham disebabkan karena Rasio
kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) perbankan nasional terus menyusut. Mengutip data terbaru Statistik Perbankan Indonesia (SPI), per November
2009 lalu rasio modal perbankan sebesar 17,08%. Padahal, di Januari 2009 CAR
perbankan masih sebesar 17,82%, bahkan sempat mencapai 18,17% pada Juni 2009.
CAR perbankan menyusut karena nilai aset tertimbang menurut risiko (ATMR)
meningkat namun tidak diimbangi pertumbuhan modal. Per November 2009 ATMR
naik 7,7% menjadi Rp 1.534,98 triliun dari posisi Januari 2009 sebesar Rp 1.424,21
triliun. Sementara nilai modal perbankan dari Januari sampai November 2009 hanya
naik 3,3% menjadi Rp 262,22 triliun. Sehingga rasio modal menjadi mengempis.
Menurut Direktur Bank Jasa Jakarta Lisawati menuturkan, susutnya rasio modal bank
bisa menjadi pertanda kredit bank saat ini sudah mulai mengalir. Sebab kenaikan
kredit berbanding lurus dengan peningkatan bobot ATMR. "Kalau CAR bank
(NPL). Per November 2009, rasio NPL mencapai 3,82% atau naik 6,4% dari posisi
Januari tahun lalu. "Kenaikan NPL mendorong bank menambah nilai pencadangan,
itu yang menekan nilai CAR
Terkait tidak berpengaruhnya rasio LDR terhadap harga saham hal ini
disebabkan bahwa kalangan bankir menilai karena adanya aturan untuk meningkatkan
Loan to Deposit rasio dengan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) yang diatur
oleh Bank Indonesia (BI). Sebaiknya kebijakan itu diserahkan ke pasar agar tidak
menimbulkan peningkatan kredit bermasalah (NPL). Kebijakan LDR sebaiknya
jangan diatur dan harusnya diserahkan ke pasar. Keengganan bankir dalam
meningkatkan LDR adalah karena pihak perbankan akan bersifat hati-hati dalam
menyalurkan kreditnya. Pada dasarnya, bank memiliki karakteristik berbeda dalam
menyalurkan kredit. Sehingga, BI tidak perlu mengatur rasio LDR-nya.
Menurut Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan (2011) menambahkan LDR-GWM juga tidak perlu diatur. Hal itu disebabkan pertumbuhan
kredit sudah tinggi. "LDR saat ini rata-rata sekira 75 persen dan kredit sudah naik
19,9 persen.
Namun kredit tersebut ternyata belum menyentuh ke sektor riil. Kredit hanya
menyentuh kalangan korporasi dan sektor konsumer. Sementara kredit ke sektor
UMKM masih kecil. Masalah yang terjadi adalah proyek infrastruktur seperti tol,
pelabuhan dan listrik juga belum jalan. Sehingga menyebabkan distribusi kredit ke
pelosok makin sulit dan bunga kredit juga masih tinggi. Hal tersebut dibaca oleh
Terkait dengan kondisi BOPO yang tidak signifkan terhadap harga saham.
Hal ini bisa diambil contoh terkait dengan negara-negara Emerging Market (EM), rasio BOPO perbankan Indonesia memang tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya
adalah perbankan nasional masih dalam fase ekspansi jaringan cabang sehingga
membutuhkan biaya opex termasuk di dalamnya biaya IT dan tenaga kerja yang
cukup besar. Rasio efisiensi BOPO sebenarnya lebih umum dipakai di industri
manufaktur dan kurang tepat untuk digunakan di industri perbankan (Sumual, 2011).
Terkait dengan tidak signifikannya rasio EFF hal ini disebabkan rata-rata
perbankan di Indoensia adalah hasil merger dan akuisisi sehingga dampak yang
ditimbulkan terjadinya ketidaksefisienan operasi. Efisiensi merupakan salah satu
parameter kinerja yang secara teoritis merupakan salah satu kinerja yang mendasari
seluruh kinerja sebuah organisasi. Kemampuan menghasilkan output yang maksimal dengan input yang ada, adalah merupakan ukuran kinerja yang diharapkan. Pada saat pengukuran efisiensi dilakukan, bank dihadapkan pada kondisi bagaimana
mendapatkan tingkat output yang optimal dengan tingkat input yang ada, atau mendapatkan tingkat input yang minimum dengan tingkat output tertentu. Di samping itu, dengan adanya pemisahan antara unit dan harga ini, dapat diidentifikasi berapa
tingkat efisiensi teknologi, efisiensi alokasi, dan total efisiensi. Dengan
diidentifikasikannya alokasi input dan output, dapat dianalisa lebih jauh untuk melihat penyebab ketidakefisiensian (Hadad dkk, 2003).
disebabkan karena rasio ini dipakai investor dan perbankan internasional dalam
melakukan benchmarking tingkat efisiensi bank. Tidak seperti rasio BOPO,
perhitungan CIR murni hanya memasukkan biaya non-bunga dan tidak memasukan
biaya PPAP (penyisihan penghapusan aktiva produktif) dalam komponen biaya
operasional yang dijadikan pembilang. Sementara itu untuk penyebut, rasio CIR
hanya menggunakan pendapatan non-bunga plus pendapatan bunga bersih, tidak
termasuk laba-rugi atas penjualan efek. (Hadad dkk, 2003).
Hasil penelitian menunjukkan, Hal yang memberikan kesimpulan mendukung
penelitian Werdaningtyas (2000) dimana CAR (Capital Adequacy Ratio) mempunyai hubungan positif terhadap profitabilitas. Akan tetapi variable LDR pada penelitian ini
tidak signifikan sedangkan pada penelitian Werdaningtyas (2000) berpengaruh
BAB VI