Citra Raga
C. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Uji Asumsi
3. Uji Hipotesis
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product-Moment dari Pearson melalui program SPSS for Windows versi 10.0. Analisis data ini dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu ada hubungan positif antara body image dengan harga diri.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji One-tailed (satu ekor) untuk menguji taraf signifikansi penelitian. Hal ini dilakukan sebab hipotesis dalam penelitian ini merupakan hipotesis searah atau hipotesis yang sudah mengarah, yaitu berarah positif.
Uji hipotesis menghasilkan koefisien korelasi antara variabel body image dengan harga diri sebesar r = 0,430 dengan p = 0,000 (p<0,01), yang berarti kedua variabel memiliki hubungan yang bersifat positif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis terbukti.
Hasil hipotesis tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara body image dengan harga diri. Dengan demikian. semakin tinggi body image yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi harga diri yang dimiliki. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah body image yang dimiliki maka akan semakin rendah harga diri yang dimiliki.
D. PEMBAHASAN
Berdasarkan basil uji hipotesis dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson, maka hipotesis penelitian yang berbunyi ada hubungan positif antara body image dengan harga diri diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi body image, maka akan semakin tinggi harga diri pada remaja putri. Kemudian, semakin rendah body image, maka harga diri yang dimiliki oleh remaja putri akan semakin rendah. Pembuktian hipotesis dapat dilihat dari koefisien korelasi yang bernilai 0,430 dengan probabilitas 1% (p < 0,01).
Dengan melihat basil uji hipotesis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa body image dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Huntington (2002) yang mengatakan ada kaftan langsung antara body image dengan harga diri remaja. Semakin baik perasaan remaja akan apapun yang terjadi pada tubuhnya, maka makin tinggi pula rasa harga diri seseorang.
Dari penelitian yang telah dilakukan, hasilnya adalah bahwa rata-rata subvek memiliki body image yang cenderung rendah. Hal ini dapat dilihat dari mean empiris yang lebih rendah daripada mean teoritisnya, yaitu 121,42 < 1221.5. tetapi untuk variabel harga diri, hasilnya adalah bahwa rata-rata subyek memiliki harga diri yang cenderung tinggi. Hal ini dapat dilihat dari mean empiris yang lebih tinggi daripada mean teoritisnya, yaitu 140,14 > 130.
Body image merupakan suatu konsep yang dimiliki seseorang mengenai penampilan fisiknya (Dian K, Intisari Edisi November 2007). Body Image yang cenderung rendah pada subyek penelitian akan mempengaruhi k -epuasan terhadap tubuh yang dimiliki. Subyek yang memiliki body image rendah ini akan melihat tubuhnya kurang menarik bagi diri sendiri maupun
52
orang lain. Perasaan yang kurang puas terhadap kondisi tubuh ini, nantinya akan menyebabkan subyek memiliki harga diri yang rendah (Jonathan dalam Barbara. 2006). Apabila hat tersebut terjadi pada subyek maka dapat menghambat tugas perkembangan pada masa dewasa dini yaitu penyesuaian diri. baik dalam hal membina hubungan dengan orang lain, mengembangkan din maupun dalam hal pekerjaan (Helmi dan Ramdani, 1992). Namun apabila body image yang dimiliki subyek penelitian cenderung tinggi, maka harga diri dimiliki oleh subyek penelitian akan semakin tinggi.
Seseorang yang merasa puas dengan penampilan fisiknya bisa dibilang mempunyai body image yang positif. Orang yang memiliki body image positif berarti bisa menghargai dirinya apa adanya (Dian K, Intisari Edisi November 2007). Remaja yang memiliki harga diri yang tinggi dapat menyelesaikan perkembanganya dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Coopersmith (dalam Setyaningsih, 1992), yang mengatakan bahwa harga diri merupakan pusat penyesuaian diri yang baik, kebahagiaan personal, dan fungsi afektif, baik pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.
Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa individu yang menilai penampilan mereka lebih positif cenderung mempunyai harga diri yang tinggi. Sedangkan individu yang merasa penampilan mereka kurang memuaskan mempunyai harga diri yang rendah. Hal ini diperkuat oleh King dan Manaster (1977) dalam penelitiannya, yang menyebutkan bahwa ada hubungan yang signifikan terhadap kepuasan terhadap tubuh sendiri (body satisfaction) dengan harga diri seseorang.
Berdasarkan hasil analisis statistik terhadap data-data yang diperoleh, ditemukan ada hubungan positif antara body image (citra raga) dengan harga yang dimiliki oleh remaja putri di SMU Negeri 1 Jatinom Klaten dengan koefisien korelasi sebesar 0,430 (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi body image, maka akan semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh remaja putri di SMU tersebut. Sebaliknya, semakin rendah body image, maka akan semakin rendah pula harga diri yang dimiliki oleh remaja putri.
B. SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta hash yang telah diperoleh,. maka saran yang dapat disampaikan oleh peneliti adalah:
1. Bagi Remaja Putri
Berdasarkan hash penelitian secara umum menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara body image dengan harga diri yang dimiliki oleh remaja putri SMU Negeri 1 Jatinom Klaten. Hal ini berarti bahwa semakin positif body image, maka akan semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh remaja putri. Dengan demikian, diharapakan remaja dapat memandang positif penampilan fisiknya sehingga akan tercipta kepuasan terhadap tubuhnya. Sehingga hal tersebut akan membuat remaja bisa menghargai dirinya apa adanya. Hal ini dikarenakan remaja yang memiliki
53
harga diri yang tinggi dapat menyelesaikan tugas perkembanganya dengan baik.
1. Bagi Penelitian Selanjutnya
Bagi peneliti yang tertarik dan ingin meneliti dan memperdalam penelitian yang berkaitan dengan topik ini, sebaiknya mencoba melakukan metode pengambilan data yang lebih mendalam, seperti wawancara dan observasi terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan sifat dari body image yang sangat subyektif dan relatif bagi setup individu. Pengambilan subyek yang berbeda atau variabel yang berbeda juga menarik untuk diteliti, seperti hubungan body image dengan remaja yang mengalami obesitas, hubungan body image dengan kepercayaan diri pada remaja atau body image dengan intensitas melakukan perawatan kecantikan dan lain sebagainya. Hasilhasil tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan di bidang psikologi, khususnya psikologi remaja, kepribadian, serta perkembangan.