• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Deskripsi Hasil Penelitian

2) Uji Homogenitas

Hasil perhitungan uji homogenitas dua varian data postest diperoleh sebesar 1,15. Jika dikonsultasikan dengan pada taraf signifikansi 0,05 dengan dk penyebut 35 – 1 = 34, dk pembilang 35 – 1 = 34 didapat sebesar 1,77. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa data postest kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang homogen, karena (

). Hasil perhitungan dari uji homogenitas ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.17

Hasil Uji Homogenitas Postest Kelas Kontrol dan Eksperimen

Α Fhitung Ftabel

N

(Jumlah responden) Kesimpulan

2. Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil pengujian persyaratan analisis data dapat diperoleh dan disimpulkan bahwa kedua sampel pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen. Pengujian yang selanjutnya dilakukan adalah dengan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t. Dari data hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata postest kelas eksperimen ̅ = 78,29 dengan varians S1 = 9,89 sedangkan untuk kelas varians kontrol diperoleh nilai rata-rata ̅ = 69,86dengan varians S2 = 8,04.

Dengan kriteria H0 berbunyi “Tidak ada pengaruh yang signifikan pada hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) siswa kelas VIII dengan menerapkan metode mind map”.

Bedasarkan pengujian nilai rata-rata hasil belajar SKI dengan menggunakan uji-t, maka diperoleh nilai berikut :

Tabel 4.18

Hasil Uji Hipotesis Nilai Postest

Nilai Db Thitung Ttabel Kesimpulan

Posttest 68 3,91 1,99 Ho ditolak

Tabel 4.18. menunjukkan thitung (3,91) > ttabel (1,99), sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, ini artinya “Ada pengaruh yang signifikan pada hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) siswa kelas VIII dengan menerapkan metode mind map.”

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dapat dibuktikan bahwa metode pembelajaran mind map berpengaruh terhadap hasil belajar SKI siswa. Menurut Melvin L. Silberman, Pemetaan pikiran/mind map merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, atau merencanakan tugas baru. Meminta siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif

apa yang telah mereka pelajari atau apa yang mereka tengah rencanakan.65 Hal ini dimungkinkan karena metode pembelajaran mind map lebih menekankan kepada cara belajar siswa aktif dengan memerhatikan proses pencapaian hasil belajar secara kreatif dan menyenangkan. Secara harfiah siswa dibimbing untuk “memetakan” pikiran-pikiran mereka sehingga menempatkan informasi ke dalam otak mereka kemudian mengambil informasi ke luar dari otak dengan mudah.

Peneliti melakukan beberapa tahapan dalam penelitian untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan. Peneliti bertindak sebagai guru dalam pembelajaran di kelas eksperimen maupaun di kelas kontrol.

Pada kelas eksperimen peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran mind map. Langkah awal yang perlu dijalankan adalah dengan memberi pertanyaan kepada siswa tentang materi yang dipelajari untuk mendapatkan informasi pengetahuan awal mereka, setelah itu merumuskan tujuan pembelajaran.

Langkah kedua adalah guru membangun pengetahuan awal siswa melalui pemberian materi secara ringkas sehingga siswa termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran serta menciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi antara murid dengan guru, murid dengan murid, maupun murid dengan lingkungan dan sumber belajarmelalui kegiatan tanya jawab.

Langkah ketiga guru membentuk siswa ke dalam kelompok dan menyampaikan penjelasan tentang langkah-langkah pembuatan mind map agar siswa dapat memahami dengan mudah ketika proses dengan pembelajaran menggunakan metode mind map.

Peneliti memfasilitasi siswa pada setiap kelompok untuk mendiskusikan hasil pembuatan mind map dan membuat kesimpulan. Setelah itu mempersilahkan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi dan memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menyanggah atau menambah pendapat dari kelompok yang presentasi.

65

Melvin L.Siberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Nuansa,

Langkah terakhir adalah guru bersama siswa melakukan tanya jawab, menyimpulkan materi, dan memberikan informasi untuk bereksplorasi. Kemudian melakukan evaluasi untuk mengukur keberhasilan proses dan penyajian hasil belajar mereka.

Adapun proses pembelajaran pada kelas kontrol, siswa diberi perlakuan dengan menggunakan metode information search untuk pembanding yang setara dengan metode mind map supaya dapat dijadikan tolak ukur yang sesuai Setelah kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda, maka berdasarkan analisis data yang diperoleh dapat diketahui bahwa terdapat perubahan hasil belajar siswa antara pretest dan postest baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

Nilai rata-rata kemampuaan awal (pretest) siswa kelas eksperimen justru cenderung lebih rendah daripada kelas kontrol, populasi berdistribusi normal, dan homogen. Hal ini menunjukan kedua kelas tersebut memiliki kemamampuan yang berbeda. Namun setelah melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode yang telah ditentukan pada kelas eksperimen maupun kontrol, diperoleh temuan bahwa nilai rata-rata hasil postest kelas eksperimen (78,29) lebih tinggi dari nilai rata-rata kelas kontrol (69,88). Ini artinya ada perubahan pada kemampuan siswa setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan metode mind map.

Selanjutnya pada uji hipotesis diperoleh thitung (3,91) > ttabel (1,99) pada taraf signifikan 5% sehingga Ho ditolak yang artinya terdapat pengaruh metode mind map terhadap hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) siswa. Dengan demikian hasil belajar SKI siswa mengalami peningkatan dengan menggunakan metode pembelajaran mind map.

Hasil belajar tersebut tentu tidak terlepas dari pengaruh penggunan metode pembelajaran mind map yang memudahkan siswa untuk mengingat materi- materi yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Maurizal Alamsyah mengenai tujuan membuat mind map yaitu untuk mengingat segala sesuatu

yang dipikirkan dalam pikiran yang berangkat dari gagasan sentral. Karena pikiran akan mengeluarkan gagasan lebih cepat dari yang akan ditulis.66

Penerapan metode pembelajaran mind map telah memberikan kemudahan dalam memahami materi pembelajaran SKI sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena pembelajaran dengan metode mind map merupakan alat pikir organisasional yang menggunakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, menjadikannya peta rute yang hebat bagi ingatan, serta memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal.

Berdasarkan data yang telah diolah, dianalisis, dan diintepretasikan maka dapat disimpulkan bahwa Ada pengaruh yang signifikan pada hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dengan menerapkan metode mind map.

E. Keterbatasan Penelitian

Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna karena penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan, diantaranya :

1. Penelitian ini hanya ditunjuk pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan pokok bahasan Perkembangan Ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan Islam pada Masa Bani Abbasiyah saja, sehingga belum bisa digeneralisir pada pokok bahasan lain.

2. Kondisi siswa sempat merasa bingung dengan proses pembelajaran menggunakan metode mind map, karena siswa belum terbiasa dengan pembelajaran seperti itu.

3. Alokasi waktu yang kurang sehingga diperlukan kesiapan dan pengaturan kelas yang baik

4. Kontrol terhadap subjek penelitian hanya meliputi variabel metode pembelajaran dan hasil belajar siswa.

66

Maurizal Alamsyah, Kiat jitu Meningkatkan Prestasi dengan Mind Mapping,

68

Berdasarkan hasil uji hipotesis penelitian tentang pengaruh penerapan metode mind map terhadap hasil belajar SKI pada siswa kelas VIII dengan menggunakan uji-t, diperoleh harga thitung = 3,91 dengan menggunakan

interpolasi, untuk taraf signifikan = 0,05 dan derajat kebebasan db = 68, diperoleh nilai ttabel 1,99. Sehingga thitung berada di luar daerah penerimaan

Ho atau dengan kata lain Ho tolak. Selain itu pula, setelah melakukan proses

pembelajaran dengan menggunakan metode yang telah ditentukan pada kelompok eksperimen maupun kontrol diperoleh temuan bahwa nilai rata-rata hasil postest kelompok eksperimen (78,29) lebih tinggi dari nilai rata-rata pada kelompok kontrol (69,88).

Dari pengamatan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil belajar SKI siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode mind map dengan rata-rata nilai hasil belajar yang menggunakan metode information Search pada Standar Kompetensi “Perkembangan Islam pada Masa Bani Abbasiyah”. Hal ini artinya terdapat pengaruh terhadap hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) pada siswa kelas VIII setelah menerapkan metode mind map.

B. Implikasi

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa pembelajaran aktif dengan menggunakan metode mind map berpengaruh dalam meningkatkan hasil pembelajaran siswa MTs Negeri 3 Jakarta khususnya pada mata pelajaran SKI. Dengan demikian penggunakan metode pembelajaran yang relevan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa menjadi salah satu komponen utama untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan metode mind map pada proses pembelajaran dapat dijadikan salah satu solusi untuk mengurangi permasalahan siswa dalam memahami dan

mengingat mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang selama ini mereka anggap sulit untuk diingat dan membosankan, hal ini juga dapat dimungkinkan untuk diterapkan dalam mata pelajaran lain di MTs Negeri 3 Jakarta dan sekolah lainnya.

Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi, antara lain: (a) Metode sangat berpengaruh besar dalam pengajaran, dengan metode hasil belajar bisa baik atau bahkan sebaliknya, sering kita jumpai seorang guru menguasai materi tetapi gagal dalam memberikan pembelajaran kepada siswa karena ia tidak menggunakan metode yang tepat untuk memberikan pemahaman kepada siswa; (b) Pembelajaran Sejarah kebudayaan Islam akan lebih menyenangkan jika siswa melibatkan diri sepenuhnya untuk menggali kreatifitas mereka ketika belajar dengan menggunakan metode mind map. Karena hal ini merupakan cara kreatif bagi tiap siswa untuk menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari, atau merencanakan tugas baru; (c) dibutuhkan pelatihan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam menerapkan metode pembelajaran agar memudahkan dan memotivasi guru- guru guna mengimplementasikan metode pembelajaran yang sesuai di kelas.

C. Saran

Berdasarkan tindak lanjut dari penelitian ini maka penulis memberikan beberapa saran, diantaranya sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi para pendidik untuk dapat menemukan, menerapkan model, strategi, maupun metode pembelajaran yang tepat untuk dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan di kelas.

2. Guru yang akan menggunakan pendekatan pembelajaran dengan menerapkan metode mind map sebaiknya memberi pemahaman mengenai cara kerja mind map terlebih dahulu kepada siswa supaya mereka dapat menciptakan kreatifitas belajar dan memperoleh penguasaan materi secara mudah serta menyenangkan.

3. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, maka disarankan ada penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran dengan menggunakan metode mind map pada pokok bahasan lain atau bahkan subjek yang berbeda.

71

Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana, cetakan ke- 4, 2009.

Buzan, Tony. Buku Pintar Mind Map, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-XI, 2012.

Chatib, Munif. Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua

Anak Juara, Bandung: Kaifa, Cetakan ke-12, 2013.

Dalyono, M. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Cetakan ke-3, 2005.

Darsono dan T.Ibrahim, Tonggak Sejarah kebudayaan Islam 1 untuk Kelas VII

MTs. Solo: PT.Tiga Serangkai. 2009

Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, cetakan ke-4, 2010.

Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, cetakan ke-II, 2008.

Effendi, Rus. Statistika Dasar : Untuk Penelitian Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung Press, cetakan ke-1, 1998.

Fadlan, Andi. Pengembangan Aktive Learning di Fakultas Tarbiyah IAIN

Walisanga. Semarang: Pusat Penelitian IAIN Walisongo, 2010

Maurizal Alamsyah. Kiat jitu Meningkatkan Prestasi dengan Mind Mapping, Yogyakarta: Mitra Pelajar. 2009

Michalko, Michael. “Cracking Creativity”, dalam Tony Buzan (ed). Buku Pintar

Mind Map. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-XI, 2012.

Mudjijo. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Nata, Abuddin. Metodologi studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers, cetakan ke-17, 2010.

Nurhidayati. Hubungan Antara Minat Dengan Prestasi Belajar Siswa Dalam

PERMENAG. Lampiran 3b – BabVII – SK KD PAI dan Bhs Arab tingkat MTs. PERMENAG: Jakarta, 2008

Sabri, M. Alisuf. Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, cetakan ke-4, 2010.

Siberman, Melvin L. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa, cetakan ke-7, 2012.

SJ, Fadil. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintas Sejarah. Malang: UIN Malang Press, 2008.

Sofyan, Ahmad. dkk. Evaluasai Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta: UIN Jakarta Press, cetakan ke-1, 2006.

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cetakan ke-11, 2006.

Sudjana. Metode Statistika. Bandung: Tarsito, Cetakan ke-3, 2005.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed

Methods), Bandung: Alfabeta. Cetakan ke-1. 2011

---. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R & D. Bandung: Penerbit Alfabeta, cetakan Ke-4, 2009.

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara. 2009

Sundayana, Rostina. Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. 2014 Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2008

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. cetakan ke-17, 2011.

---. Psikologi Belajar, Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Cetakan ke-3. 2001. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus besar

Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, cetakan ke-3, 1990.

Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif: Konsep, landasan,

dan Implementasi pada KTSP, Jakarta: Kencana, cetakan ke-4, 2010.

Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: Asa

Mandiri, Cetakan ke-9, 2009.

Windura, Sutanto. Mind Map Langkah Demi Langkah, Jakarta: Gramedia. 2009 Zuriah, Nurul. Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan Teori-Aplikasi.

Lampiran 1

( RPP KELAS EKSPERIMEN )

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Nama Madrasah : MTs Negeri 3 Jakarta Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas/Semester : VIII / 4

Waktu : 4 x 40 Menit ( 2 x Pertemuan )

A. Standar Kompetensi

 Memahami perkembangan Islam pada masa Bani Abbasiyah B. Kompetensi Dasar

 Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah

C. Indikator Pencapaian Kompetensi :

1) Mengklasifikasi tokoh ilmuwan muslim pada masa Bani Abbasiyah 2) Menunjukkan peran tokoh ilmuwan muslim pada masa Bani Abbasiyah 3) Mengklasifikasi kemajuan ilmuwan muslim masa Bani Abbasiyah

4) Mengidentifikasi kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah D. Tujuan Pembelajaran

 Setelah mempelajari materi ini dengan menggunakan strategi, metode, langkah-langkah pembelajaran, dan indikator mencapaian kompetensi yang dipaparkan, Siswa diharapkan mampu mengidentifikasi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dan perannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah

E. Materi Ajar

Materi Pokok : Perkembangan ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama pada masa Dinasti Abbasiyah.

F. Metode Pembelajaran :

1. Mind Map

2. Ceramah 3. Tanya Jawab 4. Diskusi

G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Ke-1

NO LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN WAKTU

1. PENDAHULUAN 10 menit

a) Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa (nilai: religius)

b) Mengecek kehadiran dan kesiapan murid (nilai: disiplin) c) Guru menanyakan kabar dan memotivasi murid (nilai:

peduli, semangat)

d) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. (nilai: cinta ilmu)

e) Guru bertanya pada murid mengenai perkembangan Islam secara umum. (nilai: cinta ilmu, ingin tahu)

2. KEGIATAN INTI 60 menit

Eksplorasi

 Guru membangun pengetahuan awal murid melalui pemberian materi secara ringkas sehingga murid termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. (nilai: cinta ilmu, inovatif)

 Guru menciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi antara murid dengan guru, murid dengan murid, maupun murid dengan lingkungan dan sumber belajarmelalui kegiatan tanya jawab (nilai: ingin tahu, demokratif)

Elaborasi

 Guru membentuk kelompok masing-masing

beranggotakan 3-4 murid dan membagikan lembar kerja kelompok kepada masing-masing kelompok (nilai: kerjasama, komunikatif)

 Guru menyampaikan penjelasan tentang langkah-langkah pembuatan mind map

 Murid pada kelompok masing-masing membuat mind map sesuai dengan langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru. (nilai : kreatif, kerjasama, inovatif)

 Masing-masing kelompok mendiskusikan hasil

pembuatan mind map dan membuat kesimpulan. (nilai: cinta ilmu, kerjasama)

 Guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi (nilai : percaya diri, menghargai orang lain, bertanggung jawab, cinta ilmu)

 Kelompok lain diberi kesempatan untuk menyanggah atau menambah pendapat dari kelompok yang presentasi (nilai : demokratis, menghargai orang lain, inovatif, percaya diri)

Konfirmasi

 Guru memberikan umpan balik pada peserta didik dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan (nilai: cinta ilmu, menghargai karya orang lain)

 Guru bersama siswa melakukan tanya jawab, dan menyimpulkan materi. (nilai : ingin tahu, menghargai keberagaman)

 Guru memberikan informasi untuk bereksplorasi (nilai : inovatif, cinta ilmu)

40 menit

10 menit

3. PENUTUP 10 menit

 Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap

pembelajaran yang telah dilaksanakan. (nilai : saling menghargai dan peduli)

 Guru memberikan penilaian terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran (nilai : cinta ilmu)

 Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. (nilai : cinta ilmu, disiplin)  Guru mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dan

mengucapkan salam. (nilai religius) Pertemuan ke-2

No Kegiatan Waktu

1 Revew pelajaran yang sudah diajarkan 2x40

Menit

H. Bahan/Sumber/Media Belajar

1. Buku pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk MTs kelas VIII 2. Buku penunjang yang relevan

3. Projektor 4. Laptop 5. White board 6. Spidol

I. Penilaian

 Tes tertulis (Pretest dan Postest)  Tes lisan

Jakarta, November 2014

Guru Mata pelajaran SKI Mahasiswa Peneliti

Yayah Sulasiyah S.Ag Yully Khusniah

RANGKUMAN MATERI KELAS EKSPERIMEN

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Umum dan Ilmu Pengetahuan Agama pada Masa Dinasti Abbasiyah

A. Ilmu Pengetahuan Umum

Bahasan tentang ilmu pengetahuan umum berikut ini meliputi ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, tokoh-tokoh ilmuan, dan Baitul Hikmah.

Masa kekuasaan dinasi Abbasiyah merupakan masa keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pemikiran filsafat masuk ke dalam Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai kaum Muslimin pada abad ke-8 di Suriah, Mesopotamia, Mesir, dan Persia.

Penerjemahan buku pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al- Mak’mun menjadi pendorong utama perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu kedokteran adalah cabang ilmu yang menangani keadaan kesehatan dan penyakit pada tubuh manusia dengan penggunaan cara-cara tertentu. Ilmu kedokteran Islam merupakan hasil pembaharuan ilmu kedokteran Yunani, Persia, dan India.

Pada kekuasaan Dinasti Abbasiyah, rumah sakit menjadi pusat pengajaran ilmu kedokteran serta mempunyai perpustakaan. Kemajuan ilmu kedokteran ditunjukkan dengan adanya 800 orang dokter pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid yang merupakan masa keemasan kedokteran Islam.

Ilmu astronomi atau ilmu falaq adalah ilmu yang mempelajari benda- benda langit. Ilmu astronomi dikembangkan oleh ilmuwan muslim karena berkaitan erat dengan pelaksanaan arah kiblat dan penentuan awal bulan.

Tokoh-tokoh ilmuan muslim yang muncul pada masa dinasti Abbasiyah adalah al-Kindi, al-Farabi, ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, al-Ghazali, dan Jabir bin Hayyan.

Baitul Hikmah adalah lembaga ilmu pengetahuan yang didirikan di bagdad oleh khalifah al-Ma’mun, tetapi dirintis sejak masa khalifah Harun ar-Rasyid. Keberadaan Baitul Hikmah membuat kota Bagdad menjadi pusat dunia ilmu pengetahuan, filsafat, dan kesustraan diseluruh wilayah kekuasaan Islam.

B. Ilmu Pengetahuan Agama

Di samping dalam bidang ilmu pengetahuan umum, pada masa Dinasti Abbasiyah ilmu agama Islam juga mengalami perkembangan yang penting. Ulama-ulama besar pun muncul. Perkembangan pada periode ini juga menjadi landasan pokok bagi perkembangan ilmu agama Islam pada periode berikutnya

Perkembangan ilmu hadis pada masa Dinasti Abbasiyah termasuk dalam perkembangan ilmu hadis pada periode kelima dan keenam. Pada periode kelima, ulama menghimpun dan membukukan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Dengan cara :

a. Melawat ke daerah-daerah yang jauh untuk menemui para rawi; b. Membuat klasifikasi hadis, yaitu hadis marfu’, mauquf, dan maqtu’. c. Menghimpun kritik-kritik hadis yang di arahkan kepada rawi dan matan

hadis.

Pada periode kelima muncullah enam ulama hadis yang menulis enam hadis yang disebut kutubus-sittah, mereka adalah :

a. Imam al-Bukhari, menulis Sahih al-Bukhari b. Imam Muslim, menulis Sahih Muslim

c. Imam Abu Dawud, menulis Sunan Abi Daud d. Imam an-Nasa’i, menulis Sunan Nasa’i e. Imam Ibnu Majah, menulis Sunan Ibnu Majah

Periode keenam merupakan periode pemeliharaan hadis. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para ulama dalam memelihara hadis adalah:

a. Menghafal hadis-hadis

b. Memperbaiki susunan kitab-kitab hadis

c. Mengumpulkan hadis-hadis yang belum tersusun secara sistematis d. Membuat kitab syarah

Beberapa kitab yang dihasilkan pada periode keenam adalah :

b. Sunan ad-Daruqutni karya Imam Abdul Hasan Ali bin Ahmad Daruqutni

c. As-Sunan al-Kubra karya Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali al-

Baihaqi

Ilmu tafsir pada masa Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya dengan lahirnya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari. Ia menulis buku tafsir yang berjudul Jami’ al-bayan fi tafsir Al-Qur’an dan dikenal dengan Tafsir

Tabari. Tokoh yang lain adalah Fakhruddin ar-Razi yang menulis kitab al-

Kasyaf’an Haqa’iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil.

Perkembangan ilmu fiqih pada periode keempat ditandai dengan munculnya imam mazhab, yaitu :

a. Imam Hanafi dengan Mazhab Hanafi b. Imam Maliki dengan Mazhab Maliki

c. Imam Syafi’i dengan Mazhab Syafi’i

d. Imam Hanbali dengan Mazhab Hanbali.

Perkembangan ilmu fiqih pada periode kelima gerakan ijtihad melemah. Para fuqaha memfokuskan perhatiannya pada pengkajian pendapat yang ada dalam tiap mazhab. Kajian tersebut berupa syarah (keterangan atau penjelasan). Tanjih (penerapan), dan tahqiq (penetapan).

Perkembangan ilmu tasawuf pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah ditandai dengan peralihan dari tasawuf dan zuhud. Dalam perkembangan selanjutnya muncul dua aliran, yaitu tasawuf akhlak dan tasawuf filsafat.

Dokumen terkait