• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis dan Pembahasan 1 Analisis Data

5. Uji Koefisien Regres

Tahap akhir adalah uji koefisien regresi, di mana hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel tersebut menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada tingkat signifikansi 5 persen. Pada lampiran H menunjukkan bahwa penelitian ini melalui hasil output SPSS 17 regresi logistic memberikan nilai Cox dan Snell’s R sebesar 0,028 dan nilai Nagelkerke R2

sebesar 0,052 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh

80

variabilitas variabel independen sebesar 5,2%.

Dari pengujian persamaan regresi logistik tersebut, maka diperoleh model regresi logistik sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 1a ACSIZE -.030 .451 .004 1 .947 .971

ACMEET .286 .643 .198 1 .657 1.331

KOMIND .012 .022 .302 1 .583 1.012

INST .043 .033 1.726 1 .189 1.044

Constant 1.092 1.667 .429 1 .513 2.980

a. Variable(s) entered on step 1: ACSIZE, ACMEET, KOMIND, INST. Sumber: Data Output SPSS 17

Hasil Uji Hipotesis 1: Ukuran atau Jumlah komite audit (ACSize) berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Variabel ACSize menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar –0,30 dengan probabilitas variabel sebesar 0,947 di atas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H1 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa ukuran atau jumlah komite audit berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pelaporan keuangan.

Ln (TL/1-TL) = 1,092 – 0,030ACSize + 0,286ACMEET + 0,012KomInd + 0,043INST

81

Hasil Uji Hipotesis 2: Pertemuan rutin komie audit (ACMeet) berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Variabel pertemuan rutin komite audit (ACMeet) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,286 dengan probabilitas variabel sebesar 0,657 di atas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H2 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa frekuensi pertemuan rutin komite audit berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Hasil Uji Hipotesis 3: Komisaris Independen berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Variabel komisaris Independen (KomInd) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,012 dengan probabilitas variabel sebesar 0,583 di atas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H3 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa komite audit berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.

Hasil Uji Hipotesis 4: Kepemilikan Institusional berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Variabel kepemilikan institusional (KomInd) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0.043 dengan probabilitas variabel sebesar 0,189 di atas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H4 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa komite audit berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.

82

C. Pembahasan

Bukti empiris dalam penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tepat waktu dalam pelaporan keuangan perusahaan ke Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Hal ini memperlihatkan adanya kesadaran perusahaan dalam memenuhi peraturan di bidang pasar modal, khususnya mengenai prinsip keterbukaan dalam penyampaian laporan keuangan tahunan perusahaan, di samping adanya rasanya tanggung jawab perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi laporan keuangan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis secara statistik dengan regresi logistik, maka terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan. Berikut ini akan dibahas beberapa temuan hasil penelitian:

1. Ukuran atau Jumlah komite audit terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan

Pengujian hipotesis 1 ukuran dan jumlah Komite Audit berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara ukuran dan jumlah komite audit dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Septiyanti (2007) dan Jamaan

83

(2007) yang menemukan bukti empiris bahwa komite audit berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Penelitian ini konsisten dengan penelitian Zulaikha (1999) yang menyatakan bahwa jumlah komite audit kurang signifikan terhadap efektifitas komite audit, penelitian Abbott (2002) yang menyatakan bahwa komposisi atau ukuran komite audit memiliki hubungan yang sedikit atas terjadinya financial misstatement, penelitian Aditya (2005) yang menyatakan ukuran atau jumlah komite audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan wajib pelaporan keuangan. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwati (2006) yang menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara keanggotaan komite audit dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan. Hal ini disebabkan Komite Audit belum secara maksimal melaksanakan fungsinya sehingga jumlah anggota yang besar tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan. Hasil ini sejalan dengan pendapat Vincentus Anthony dalam Media Akuntansi yang tidak yakin Komite Audit efektif dalam menjalankan fungsinya. Dikatakan bahwa semasa Komite Audit masih mendapat manfaat dari perusahaan, independensinya sulit diwujudkan.

Ukuran atau jumlah komite audit tergantung dari besarnya perusahaan dan kompleksitas pengendalian perusahaan. Semakin besar dan kompleks seharusnya semakin besar jumlah komite audit. Menurut Felo (2003) ukuran atau jumlah komite audit yang sedikit lebih relatif bermanfaat, tetapi di lain pihak ukuran dan jumlah yang sedikit dapat

84

menyebabkan lemahnya pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan dan masalah yang berkaitan dengan pelaporan keuangan di perusahaan. Semakin banyak jumlah komite audit diharapkan dapat meningkatkan kualitas tanggung jawab komite audit. Di Indonesia, ukuran dan jumlah komite audit yang rata-rata hanya 3 (tiga) orang anggota akibat pada kurang pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan serta masalah yang berkaitan dengan laporan keuangan perusahaan akibatnya karakteristik komite audit memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan.

2. Pengaruh frekuensi pertemuan rutin komite audit terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan

Pengujian hipotesis 2 mengenai Frekuensi Pertemuan Rutin Komite Audit berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara keberadaan komite audit dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji logistic regression, variabel ACMeet menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,286 dengan probabilitas variabel sebesar 0,657 di atas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H2 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa pertemuan rutin komite audit berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ishak (2002) yang menyatakan bahwa peran serta komite audit dengan

85

melakukan pertemuan rutin dengan auditor eksternal dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan penelitian yang dilakukan oleh Manao (1996) yang menyatakan bahwa komunikasi dengan satuan pengawas internal dapat mempengaruhi efektifitas komite audit.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Abbott (2002) yang menyatakan bahwa pertemuan rutin minimal tiga kali dalam setahun memiliki pengaruh yang negatif terhadap financial misstatement dan penelitian Aditya (2005) yang menyatakan bahwa pertemuan rutin komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan wajib pelaporan keuangan. Dalam laporan keuangan tahunan (annual report) tahun 2007-2009, sebagian besar perusahaan tidak memuat laporan kegiatan komite audit perusahaan sehingga data mengenai pertemuan rutin komite audit hanya sedikit

Tidak adanya pengaruh signifikan antara pertemuan rutin komite audit dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan disebabkan rendahnya pertemuan rutin komite audit berdasarkan laporan tahunan (annual report) tahun 2007-2009 sehingga masalah-masalah yang terkait dengan laporan keuangan perusahaan tidak dapat dibahas dengan eksternal auditor, internal auditor, dewan direksi, dan dewan komisaris.

Berdasarkan analisa diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik komite audit (ukuran atau jumlah komite audit dan frekuensi pertemuan rutin komite audit) tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, hal ini dapat disebabkan oleh:

86

a. Pembentukan komite audit di perusahaan hanya bersifat pemenuhan kewajiban (mandatory) terhadap peraturan yang ada seperti peraturan: Peraturan Pencatatan Efek Nomor 1-A dan Keputusan Ketua Bapepam No: KEP-41/PM/2003.

b. Komite audit belum melaksanakan tugasdan tanggung jawabnya secara maksimal sehingga fungsi dan peran komite audit tidak efektif.

3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan

Pengujian hipotesis 3 mengenai Komisaris Independen berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara komisaris independen dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Septiyanti (2007) yang menyatakan bahwa jumlah komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap penyerahan lebih cepat laporan keuangan auditan ke bursa saham. Komisaris independen yang merupakan mekanisme corporate governance bermanfaat dalam meningkatkan relevansi laporan keuangan dengan cara memperbaiki ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan auditan ke bursa saham, serta penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Savitri (2010) yang menyatakan bahwa komisaris independen secara statistik berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

87

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Purwati (2006) yang menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara proporsi komisaris independen terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang lising di BEI. Dengan demikian menunjukkan bahwa Komisaris Independen belum mampu melaksanakan fungsinya sebagai salah satu mekanisme corporate governance secara maksimal dan posisi Komisaris Independen masih sebatas untuk tujuan kosmetik semata dan bukan untuk meningkatkan pengendalian pemegang saham atas pihak manajemen.

4. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan

Pengujian hipotesis 4 mengenai Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara kepemilikan institusional dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan publik yang listing di BEI. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jamaan (2007) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap integritas informasi laporan keuangan dan penelitian yang dilakukan oleh terdahulu Harnida yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

88

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Savitri (2010) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhdap keteptan waktu pelaporan keuangan. Karena persentase kepemilikan institusional tidak terlalu besar sehingga menyebabkan kepemilikan institusional kurang berpengaruh dalam pengawasan yang ketat terhadap manajemen dalam melaporkan kinerja perusahaan mereka melalui ketepatan waktu pelaporan keuangan dan hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan sampel serta pengukuran yang digunakan oleh penelitian terdahulu. Ketidakkonsistenan hasil pengujian ini diduga karena masih cukup banyak emiten yang hingga saat ini belum membentuk komite audit dan komisaris independen (lebih kurang 25%).

Menurut peraturan Bapepam, pengungkapan laporan keuangan tidak boleh lebih dari 3(tiga) bulan sejak tanggal neraca berakhir. Maka pengungkapan yang melewati batas waktu tersebut sudah tidak mempunyai atau kehilangan manfaatnya dalam pengambilan keputusan. Dari segi regulasi di Indonesia bahwa ketepatan waktu (timelines) merupakan kewajiban bagi perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tuntutan akan kepatuhan terhadap ketepatan waktu (timelines) dalam penyajian laporan keuangan kepada publik di Indonesia telah diatur dalam UU No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Keputusan Ketua Bapepam No.80/PM/1996 tentang kewajiban pelaporan keuangan berkala. Bapepam semakin memperketat dengan dikeluarkannya lampiran surat Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-36/PM/2003 yang menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim harus disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan tahunan.

90

BAB V

Dokumen terkait