Uji validitas (uji kesahihan) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur sah/valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas menunjukan suatu ukuran atau ketepatan suatu instrumen atau indikator yang valid mempunyai validitas yang tinggi atau mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih) diukur berdasarkan nilai Faktor Koreksi (FK) dari indikator mupun dimensi dari variabel penelitian > 0.6 (Valid). Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah atau mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan) diukur berdasarkan nilai Faktor Koreksi (FK) dari indikator mupun dimensi dari variabel penelitian< 0.6 (Drop). Penggujian validitas tiap butir sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan.
Hasil Perhitungan: Data Dengan Kategori (Jumlah ke I) yang dimuat dalam (lampiran 12 s/d 17) terdapat sebanyak 33 Indikator dan Dimensi dari semua variabel penelitian. Sebanyak 24/33 = 72.73 % indikator maupun Dimensi mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan) dan hanya sebanyak 9/33 = 27.27 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih). Tiga tabel pertama merupakan Metode Path Analysis Model Fungsional Loyalitas Konsumen (…..fungsi Semula) terdiri sebanyak 21 indikator, menyatakan sebanyak 14/21 = 66.67 % mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan). Sedangkan Tiga tabel terakhir Metode Path Analysis (Model Fungsional Keunggulan Bersaing (….fungsi estapet) menyatakan sebanyak 9/12 = 75.0 % mengalami DROP dan hanya sebanyak 3/12 = 25.0 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Dibandingkan dengan Hasil Perhitungan: Data Dengan Kategori (Jumlah ke II) yang dimuat dalam (lampiran 12 s/d 17) yang juga terdiri sebanyak 33 Indikator dan Dimensi dari semua variabel penelitian atau sebanyak 100 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Pada Lampiran 12 terlihat sebanyak 7 indikator dari 13 indikator kualitas pelayanan atau sebesar 53.85 % dari seluruh indikator kualitas pelayanan mengalami DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan), dengan ”jumlah Drop” dan ”Nilai Drop”sebesar (dapat diukur dalam %) masing-masing sebagai berikut:
X1.2. Perlengkapan Aircraft PT GARUDA INDONESIA X1 = 105.355 + 10.483 X1.2 ; FK X1.2 = 0.556 Drop X1.3. Kenyamanan Ruangan X1 = 119.733 + 9.713 X1.3 ; FK X1.3 = 0.586 Drop X1.4. Penampilan Petugas X1 = 129.696 + 10.201 X1.4 ; FK X1.4 = 0.378 Drop X1.6. Keramahan X1 = 98.011 + 10.629 X1.6 ; FK X1.6 = 0.543 Drop X1.10. Mampu Berkomunikasi X1 = 147.141 + 8.593 X1.10 ; FK X1.10 = 0.410 Drop X1.11. Informasi Yang Akurat X1 = 109.783 + 11.001 X1.11 ; FK X1.11 = 0.512 Drop X1.13. Perhatian Kepada Konsumen X1 = 102.990 + 10.903 X1.13 ; FK X1.13 = 0.563 Drop
Nilai koefisien ALPHA CRONBACH Kualitas Pelayanan (X1) sebesar 0.972 menjadi 0.986 dengan Laju Kenaikan sebesar 1.38 % dan Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata Kualitas Pelayanan (X1) meningkat sebesar 2.45 Kali lipat.
Pada umumnya bahwa indikator kualitas pelayanan yang mengalami DROP tersebut, dapat dilihat dari hasil perhitungan estimasi menggunakan program SPSS IBM Statistik Versi 21 for Windows adalah karena terjadinya Excluded Variable per butir indikator hasil estimasi (multiple regression)Model Regresi II yang memiliki ”Zero-order Partial Correlation” dan yang mengalami ”Zero-order (Tolerance, VIF and Minimum Tolerance) Collinearity Statistics”.
Secara umum ke 7 butir indikator kualitas pelayanan (X1) yang mengalami DROP dengan ”tingkat Drop” sebagai berikut: (1) X1.2. Perlengkapan Aircraft PT GARUDA INDONESIA = FK X1.2 = 0.556, (2) X1.3. Kenyamanan Ruangan = FK X1.3 = 0.586, (3) X1.4. Penampilan Petugas = FK X1.4 = 0.378, (4) X1.6. Keramahan = FK X1.6 = 0.543, (5) X1.10. Mampu Berkomunikasi = FK X1.10 = 0.410, (6) X1.11. Informasi Yang Akurat = FK X1.11 = 0.512, dan (7) X1.13. Perhatian Kepada Konsumen = FK X1.13 = 0.563.
Ke 7 butir indikator kualitas pelayanan (X1) yang mengalami DROP dengan ”tingkat Drop” tersebut dapat pula diartikan sebagai atau oleh karena: (1) Kurangnya perhatian perusahaan sebagai penyedia jasa angkutan memperbaharui, memperbaiki bahkan meningkatkan fasilitas berupa (X1.2) Perlengkapan Aircraft PT GARUDA INDONESIA, (2) Kurang terjaganya/memadai fasilitas fisik yang dipersiapkan perusahaaan jasa angkutan penerbangan domestik kenamaan tanah air seperti GARUDA INDONESIA, khususnya yang menyangkut dengan (X1.3) Kenyamanan Ruangan, (3) Kurang menarik atau kurang rapinya
pelanggan (konsumen) dan Melayani penumpang dengan baik dengan penuh (X1.6) Keramahan, (5) Kurangnya respon atau kesigapan karyawan dalam membantu konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap, terutama memberikan solusi terhadap permasalahan yang dialami penumpang alias karyawan yang kurang (X1.10) Mampu Berkomunikasi, (6) Kekurangmampuan pelayanan yang harus diberkan karyawan memberikan (X1.11) Informasi Yang Akurat dan (7) Masih rendahnya Pemahaman karyawan yang bersifat personal secara tulus berupa (X1.13) Perhatian Kepada Konsumen.
Nilai koefisien ALPHA CRONBACH sebesar 0.972 merupakan kemungkinan (probability) akan dapat/bisa diterapkan berbagai KEBIJAKSANAAN PERBAIKAN terhadap semua indikator (khususnya) yang mengalami kondisi DROP (penurunan, keadaan menurun, atau kemerosotan), dengan kata lain akan dapat dirubah menjadi kondisi VALID, oleh karena terpenuhi syarat nilai koefisien Alpha Cronbach > 0.6 (artinya: bahwa variabel Kualitas pelayanan (X1) adalah Reliable atau dapat dipercaya/diandalkan) dengan laju kenaikan rata-rata sebesar 1.38 %, yang ditandai oleh Nilai koefisien ALPHA CRONBACH berubah hingga mencapai nilai sebesar 0.986, artinya adalah sebesar 98.6 % kemungkinan (probability) dicapai keberhasilan penerapan KEBIJAKAN PERBAIKAN terhadap semua indikator kualitas pelayanan yang mengalami DROP tersebut mampu dirubah menjadi VALID. Kenaikan berdasarkan “penyesuaian faktor koreksi per butir seluruh indikator kualitas pelayanan” adalah sebesar 2.45 kali lipat dari kenaikan berdasarkan ”penyesuaian faktor penentu per butir indikator kualitas pelayanan” atau Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata Kualitas Pelayanan (X1) bisa meningkat sebesar 2.45 Kali lipat.
Penggujian validitas tiap butir digunakan adalah analisis item, yaitu mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir yang berpengaruh (Ida Manulang, 2008: 43). Dalam hal ini teknik korelasi untuk menentukan item ini juga sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan. Kriteria pengambilan keputusan dikatakan valid adalah ditentukan dengan nilai r hitung > nilai r tabel, dimana untuk menentukan r hitung dapat dilihat dari nilai Corected Item Total Correlation, dengan hasil pengujian berdasarkan kriteria statistiknya.
Sebanyak 33 Indikator dan Dimensi dari semua variabel penelitian pada (lampiran 36 s/d 38) terdapat sebanyak 100 % mengalami kondisi VALID (sah, syah, absah, sahih).
Terbukti dengan semua nilai hasil r hitung pada indikator variabel yang ditunjukkan dengan nilai Corrected Item Total Correlation tersebut diperoleh melebihi nilai r tabel yang diperoleh dari nilai analisis item, yaitu mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir yang berpengaruh dengan ketentuan df = n – k, sehingga dengan demikian masing-masing indikator pada masing-masing variabel tersebut dapat dilakukan kepada langkah penghitungan selanjutnya.
IV.D.2 Uji Reliabilitas
Uji realiabilitas adalah menguji apakah hasil kuisioner dapat dipercaya atau tidak.
Pengujian realiabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.
Secara eksternal dapat dilakukan dengan test retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal realiabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
Menurut Sugiyono (2005: 153) dalam Ida Manulang (2008: 44), “pengujian realiabilitas dengan internal consistency dengan teknik belah dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearmen Brown. Untuk keperluan itu, maka butir-butir dibelah menjadi dua kelompok ganjil dan kelompok genap. Selanjutnya skor data tiap kelompok
Brown. Perhitungan realiabilitas pada penelitian ini menggunakan analisis yang dikembangkan oleh Alpha Cronbach. Pada uji ini, realibel jika alpha hitung lebih besar atau sama dari 0.60, sedangkan untuk < 0.60 dinyatakan instrumen tidak realibel.
Tabel 4.5
Sumber: Hasil Perhitungan menggunakan program Lotus 1-2-3 (Transition) dari Program Microsoft Office Excel 2003 (dari data Lampiran 12 s/d 17).
ALPHA CRONBACH = [Jml Indikator/(Jml Indikator-1)]*[(VAR TOTAL - SIGMA VAR BUTIR)/VAR TOTAL]
Nilai Butiran INDIKATOR rata-rata = [Sigma LajuR2]/[Sigma Laju FAKTOR KOREKSI]
Apabila ALPHA CRONBACH > 0.6 (Reliabel), ALPHA CRONBACH < 0.6 (Tidak Reliabel).
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui kehandalan dari suatu alat ukur (kuesioner) dalam mengukur suatu variabel. Pengujian reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan Cronbach Alpha. Ringkasan hasil pengujian reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.5. Pengujian reliabilitas untuk menguji keandalan dari suatu alat ukur untuk masing-masing variabel. menunjukkan bahwa semua variabel memiliki hasil koefisien Cronbach’s Alpha > 0.60. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua konsep pengukur masing-masing variabel adalah reliabel.
IV.E Uji Asumsi Klasik