• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.6 Pengujian Sampel

3.6.3 Uji kuat tarik belah beton

Kekuatan tarik belah relatif rendah, untuk beton normal berkisar antara 9%-15% dari kuat tekan. Penggujian kuat tarik beton dilakukan melalui pengujian splitting test. Nilai pendekatan yang diperoleh dari hasil pengujian beton normal digunakan nilai 0,57 √fc’. Pengujian tersebut menggunakan benda uji silinder beton berdiameter 150 mm dan panjang 300 mm, diletakkan pada arah memanjang di atas alat penguji kemudian beban tekan diberikan merata arah tegak dari atas pada seluruh panjang silinder. Apabila kuat tarik terlampaui, benda uji terbelah menjadi dua bagian dari ujung ke ujung.

Besarnya tegangan tarik belah beton (tegangan rekah beton) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.4)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Nilai Slump

Nilai slump selalu dihubungkan dengan kemudahan pengerjaan beton (workability). Semakin tinggi nilai slump mengindikasikan beton segar semakin mudah dikerjakan, walaupun hampir selalu berbanding lurus dengan penurunan kekuatan beton. Hasil pengujian nilai slump dengan penambahan styrofoam dan superplasticizer dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1Nilai slump untuk berbagai variasistyrofoam Persentase styrofoam, (%) Nilai slump

0 1,0

10 2,0

20 2,5

30 3,2

40 3,7

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dengan meningkatnya persentase pemakaian styrofoam membuat nilai slumpsemakin tinggi, hal ini disebabkan penggunaan superplasticizer pada campuran yang meningkatkan workabilitas beton.

Secara grafik pengaruh penggunaan styrofoam dan superplasticizer pada beton dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Dari grafik dapat diketahui bahwa nilai slump untuk persentase styrofoam 0%

adalah 1,0 cm; persentase styrofoam 10% adalah 2,0 cm; persentase styrofoam 20%

adalah 2,5 cm; persentase styrofoam 30% adalah 3,2 cm; persentase styrofoam 40%

adalah 3,7 cm. Peningkatan nilai slump terjadi sebesar 100% pada 10% styrofoam, 150% pada 20% styrofoam, 220% pada 30% styrofoam, dan 270% pada 40%

styrofoam. Workabilitas paling rendah terjadi pada campuran beton dengan styrofoam 40%.

Gambar 4.1 Grafik hubungan variasi styrofoamdan nilai slump

Peningkatan nilai slump beton segar akibat penambahan superplastisizer pada campuran beton, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1, dapat didekati dengan sebuah persamaan polynomial y = -4,58×106x4 + 3,917×104x3 - 0,011x2 + 0,176x + 1 yang artinya dengan menggunakan pendekatan tersebut, pada saat styrofoam tidak ditambahkan ke dalam campuran, nilai slump sebesar 1.

4.2 Berat Isi

Pengujian berat isi dilakukan pada beton umur 28 hari. Pengujian dilakukan dengan menimbang beton dalam keadaan terendam penuh.Kemudian permukaannya dikeringkan untuk mendapatkan kondisi SSD dan ditimbang beratnya. Lalu benda uji di keringkan di dalam oven untuk diperoleh berat keringnya. Hasil pengujian berat isi beton dapat dilihat dalam Tabel 4.2 berikut.

1

Tabel 4.2 Berat isi rata-rata beton untuk berbagai variasi styrofoam

Dari hasil pengujian berat isi betondiperoleh bahwa terjadi penurunan berat isi beton seiring dengan bertambahnya styrofoam dalam campuran beton.

Penambahanstyrofoam terhadap volume beton dan superplasticizerterhadap semen dalam campuranbeton menghasilkan beton dengan berat isi lebih ringan. Hal ini dikarenakan berat isi styrofoam yang jauh lebih kecil dari berat jenis pasir sehingga dapat diperoleh beton dengan berat volume lebih ringan.

2099,952

Gambar 4.2 Grafik hubungan variasi styrofoamdan berat isi

Dari grafik gambar 4.2 dapat diketahui bahwa berat isi beton dengan persentase styrofoam 0% adalah 2099,952 kg/m3; persentase styrofoam 10% adalah 1996,062 kg/m3; persentase styrofoam 20% adalah 1941,468kg/m3; persentase styrofoam 30% adalah 1797,392 kg/m3; persentase styrofoam 40% adalah 1670,484 kg/m3.Terjadi penurunan berat isi sebesar 4,947% pada 10% styrofoam, 7,547% pada 20% styrofoam, 14,408% pada 30% styrofoam, dan 20,451% pada 40% styrofoam. Hasil pengujian menunjukkan beton dengan substitusi styrofoam 10% menghasilkan berat isi beton tertinggi 1996,062kg/m³, dan berat isi terendah diperoleh dengan substitusi 40%styrofoam yaitu 1670,484kg/m³.

Penurunan berat isi betonakibat penambahan styrofoampada campuran beton, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.2, dapat didekati dengan sebuah persamaan polynomial y = 0,001x4 - 0,085x3 + 2,065x2 - 23,615x + 2.099,952 yang artinya dengan menggunakan pendekatan tersebut, pada saat styrofoam tidak ditambahkan ke dalam campuran, berat isi beton sebesar 2099,952kg/m3.

4.3 Absorpsi

Absorbsi berguna untuk mengetahui tingkat penyerapan beton styrofoamterhadap air. Dengan besarnya persentase absorbsi, menunjukkan bahwa beton mempunyai daya serap yang besar. Pengujian dilakukan dengan menimbang berat jenuh air dari benda uji silinder dan berat keringnya. Hasil pengujian absorpsi beton dapat dilihat dalam Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Absorpsi rata-rata beton untuk berbagai variasi styrofoam Persentase Styrofoam

Dari hasil pengujian absorpsi betondiperoleh bahwa terjadi penurunan daya serap beton terhadap airseiring dengan bertambahnya styrofoam dalam campuran beton. Penambahanstyrofoam terhadap volume beton dan superplasticizerterhadap semen dalam campuranbeton menghasilkan beton dengan absorpsi lebih kecil, karenastyrofoam tidak menyerap air.

Gambar 4.3 Grafik hubungan variasi styrofoamdanabsorpsi

Dari grafik gambar 4.3 dapat diketahui bahwa absorpsi beton dengan persentase styrofoam 0% adalah 1,642%; persentase styrofoam 10% adalah 1,055%;

persentase styrofoam 20% adalah 0,948%; persentase styrofoam 30% adalah 0,691%;

persentase styrofoam 40% adalah 0,360%. Penurunan absorpsi terjadi sebesar 35,749% ; 42,265% ; 57,917% ; 78,076% pada variasi styrofoam 10%, 20%, 30%, dan 40%.

Penurunan absorpsi betonakibat penambahan styrofoampada campuran beton, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.3, dapat didekati dengan sebuah persamaan polinomial y = 2,93×106x4 - 2,81×104x3 + 0,0088x2 - 0,12x + 1,642, yang artinya dengan menggunakan pendekatan tersebut, pada saat styrofoam tidak ditambahkan ke dalam campuran, absorpsi beton sebesar 1,642%.

4.4 Kuat Tekan Silinder Beton

Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 28 hari untuk mendapatkan kekuatan beton secara maksimal. Silinder beton yang telah mencapai umur dikeringkan terlebih dahulu 24 jam sebelum pengujian. Lalu benda uji di timbang berat keringnya, kemudian di-capping permukaannya untuk bisa di uji tekan. Hasil pengujian kuat tekan beton dapat dilihat dalam Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Kuat tekan rata-rata beton styrofoam umur 28 hari Persentase

Dari hasil pengujian tekan beton diperoleh bahwa terjadi penurunan kuat tekan beton seiring dengan bertambahnya styrofoam dalam campuran beton.

Penambahanstyrofoam terhadap volume beton dan superplasticizer terhadap semen dalam campuran beton mengurangi kemampuan beton memikul gaya tekan. Hal ini dikarenakan bobot styrofoam yang sangat ringan, sehingga keberadaan styrofoam dalam campuran beton dapat dianggap sebagai rongga udara pada beton. Styrofoam menggantikan volume beton dengan kadar 10% hinga 40%yang menyebabkan berkurangnya campuran mortar pada beton. Dengan kata lain, mortar yang mengikat styrofoam volumenya akan lebih kecil seiring dengan bertambahnya kadar styrofoam sehingga beton kuat tekan beton akan berkurang.

Gambar 4.4Grafik hubungan variasi styrofoamkuat tekan rata-rata beton styrofoam umur 28 hari

Secara umum, Gambar 4.4 menunjukkan penambahan styrofoam terhadap volume betonmengakibatkan penurunan kuat tekan secara menerus. Dari grafik terlihat beton tanpa styrofoam mempunyai kuat tekan sebesar 24,532MPa. Setelah penambahan styrofoam sebesar 10% dan 20%, 30%, 40% kuat tekan menunjukkan penurunan yaitu sebesar 7,761%; 18,07%; 24,992% dan 38,839% dengan, kuat tekan 22,628 Mpa, 20,099 MPa, 18,401 Mpa dan 15,004 Mpa.

Penurunan kuat tekan betonakibat penambahan styrofoampada campuran beton, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.4, dapat didekati dengan sebuah

24,532

persamaan polinomial y = -1,659×105x4 + 0,00124x3 - 0,029x2 - 0,011x + 24,532, yang artinya dengan menggunakan pendekatan tersebut, pada saat styrofoam tidak ditambahkan ke dalam campuran, kuat tekan beton sebesar 24,532 MPa.

4.5 Kuat Tarik Belah Silinder Beton

Pengujian kuat tarik belah beton styrofoam dilakukan pada umur beton 28 hari untuk mendapatkan kuat tarik belah maksimum. Silinder yang akan diuji telah dikeringkan 1 hari sebelumnya, lalu ditimbang berat nya setelah itu diuji menggunakan alat splitting test. Hasil pengujian berat isi beton dapat dilihat dalam Tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Kuat tarik belah rata-rata beton styrofoamumur 28 hari Persentase

Dari hasil pengujian kuat tarik belah beton pada umur 28 hari diperoleh hasil bahwa terjadi penurunan tegangan rekah beton pada setiap variasi persentase penambahan styrofoam. Hal ini disebabkan oleh permukaan styrofoam yang licin, sehingga kelekatannya dengan pasta semen kurang sempurna. Grafik hubungan variasi styrofoam dan kuat tarik belah dapat dilihat pada Gambar 4.5.

Dari Gambar 4.5 diketahui bahwa kuat tarik belah beton dengan persentase styrofoam 0% adalah 4,8 MPa; persentase styrofoam 10% adalah 4,326 MPa;

persentase styrofoam 20% adalah 4 MPa; persentase styrofoam 30% adalah 3,852 MPa; danpersentase styrofoam 40% adalah3,556 MPa.Terjadi penurunan kuat tarik belaah sebesar 9,875%pada 10% styrofoam, 16,667 % pada 20% styrofoam, 19,75%

pada 30% styrofoam, dan 25,917% pada 40% styrofoam. Kuat tarik tertinggi terdapat pada penambahan styrofoam10% yaitu sebesar 4,326 Mpa dan kuat tarik

belahterendah terdapat pada penambahan styrofoampada persentase 40% yaitu 3,556Mpa.

Gambar 4.5Grafik hubungan variasi styrofoam dan kuat tarik belah beton styrofoam umur 28 hari

Penurunan kuat tarik belah beton akibat penambahan styrofoampada campuran beton, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5, dapat didekati dengan sebuah persamaan polinomialy = -1,482×106x4 + 9,383×105x3 - 0,001x2 - 0,045x + 4,8,yang artinya dengan menggunakan pendekatan tersebut, pada saat styrofoam tidak ditambahkan ke dalam campuran, kuat tarik belah beton sebesar 4,8 MPa.

4.5 Kontrol Klasifikasi Mutu Beton

SNI 03-3449-2002 tentang Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan Dengan Agregat Ringan mengakategorikan beton ringan berdasakan berat isi dan kuat tekannya menjadi beton ringan struktural sangat ringan sebagai isolasi,

4,800

beton ringan struktural ringan dan beton ringan struktural. Rincian kategori tersebut dapat dilihat dalam Tabel 4.6 berikut.

Tabel 4.6 Jenis-jenis beton ringan berdasarkan kuat tekan, berat isi, dan agregat penyusunnya

Agregat ringan dibuat melalui proses pemanasan dari batu serpih, lempung, sabakterak besi dan abu terbang

Struktutal Ringan

Agregat ringan lama: scoria atau batu apung

Sumber : SK SNI 03-3449-2002

Setelah melakukan pengujian berat isi dan kuat tekan terhadap beton styrofoam, dengan menggunakan kategori beton ringan SNI 03-3449-2002, beton ringan pada penelitian ini dapat dikontrol seperti dalam Tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7 Kontrol klasifikasi mutu beton ringan berdasarkan SNI 03-3449-2002

Persentase

Kategori beton ringan berdasarkan SNI 03-3449-2002 Struktural sangat

Gambar 4.6Grafik kontrol klasifikasi mutu beton ringan berdasarkan SNI 03-3449-2002

Dari Tabel 4.7 dan Gambar 4.6, diketahui bahwa beton ringan variasi 0% - 40% styrofoam tidak masuk dalam kategori beton ringan sruktural sangat ringan sebagai isolasi karena memiliki berat isi di atas 800 kg/m3.

Beton dengan persentase 0% styrofoam, 10% styrofoam, 20%styrofoam dan 30% styrofoam tidak masuk dalam kategori beton ringan struktural ringan karena memiliki berat isi di atas 1400 kg/m3dan kuat tekan di atas 17,24 MPa. Begitu juga dengan beton 40% styrofoam, dengan kuat tekan 15,004 MPa yang masuk ke dalam rentang nilai kuat tekan untuk beton ringan struktural ringan, namun berat isinya berada di atas 1400 kg/m3, tidak dapat dikategorikan sebagai beton ringan struktural ringan.

Struktural Sangat Ringan Sebagai Isolasi

Struktural Ringan

Beton dengan persentase 0% styrofoam, 10% styrofoam, dan 20%styrofoam memiliki berat isi di atas standar maksimum berat isi untuk beton ringn struktural yaitu 1850 kg/m3dengan berat isi masing-masing 2099,952 kg/m3, 1996,062kg/m3, dan 1941,468kg/m3, namun masuk dalam rentang nilai kuat tekan untuk beton ringan struktural dengan kuat tekan masing-masing 24,532 MPa, 22,628 MPa, dan 20,099 MPa . Beton 40% styrofoam dengan berat isi 1670,484kg/m3masuk dalam rentang nilai berat isi untuk beton ringan struktural, namun kuat tekannya berada di bawah 17,24 MPa. Beton 30% styrofoamdengan berat isi 1797,392kg/m3dan kuat tekan 18,401 MPa masuk dalam rentang nilai berat isi dan kuat tekan untuk beton ringan struktural, sehinga beton 30% styrofoamdapat dikategorikan sebagai beton ringan struktural menurut SNI 03-3449-2002dan dapat digunakan pada bangunan sederhana.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian, analisa, dan pembahasan yang sudah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai slump beton dengan penambahan styrofoam 0%, 10%, 20%, 30% dan 40%dan 2% superplasticizerberturut-turut adalah 1,0 cm; 2,0 cm;2,5 cm; 3,2 cm dan 3,7cm sehingga nilai workability beton tersebut bertambah.

2. Penambahan styrofoam pada campuran beton dapat mengurangi berat volume beton akibat berat Styrofoam yang ringan. Berat isi beton berkurang 14,408%

dari beton normal pada penambahan 30% styrofoam dan 20,451% dari beton normal pada penambahan 40% styrofoam.

3. Hasil pengujian absorpsi menunjukkan penambahan styrofoam pada campuran beton menurunkan daya serap beton terhadap air. Absorpsi rata-rata beton terendah terdapat padaa campuran 40% styrofoam sebesar 0,360%.

4. Hasil pengujian kuat tekan beton menunjukkan penambahan styrofoam pada campuran beton menurunkan nilai kuat tekan beton. Nilai kuat rata-rata beton tertinggi terdapat pada campuran 10% sebesar 22,628 Mpa.

5. Kuat tarik belah beton dengan penambahan styrofoam0%, 10%, 20%, 30%, dan 40% berturut-turut adalah4,8 Mpa; 4,326 Mpa; 4,0 Mpa; 3,852 Mpa dan 3,556 Mpa.

6. Berdasarkan SK SNI 03-3449-2002 beton styrofoam dengan proporsistyrofoam sebesar 30% dengan berat isi 1797,392 kg/cm3 dan kuat tekan 18,401 MPa dapat

dikategorikan sebagai beton ringan struktural dan dapat diaplikasikan pada bangunan sederhana (non-engineering building).

5.2 Saran

Setelah melihat hasil penelitian dan menyadari kemungkinan adanya kekurangan dalam penelitian ini, maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Perlunya ketelitian yang maksimum dalam pengerjaan pengecoran beton untuk mendapatkan hasil yang tepat dan tingkat penyimpangan yang rendah.

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap variable lain seperti permeabilitas, porositas dan elastisitas beton styrofoam.

3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan menambahkan agregat kasar dalam campuran beton dan memperhatikan nilai air semennya.

4. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan variasi bahan pozzolan/mineral lain (contoh : abu kulit gabah, kerak tanur tinggi, fly ash).

DAFTAR PUSTAKA

Kusnadi, K., & Sulistyorini, D. Pengaruh penambahan superplastisizer terhadap campuran beton ringan yang menggunakan Styrofoam. INERSIA, 7(2).

Muqtadi, K. Dampak Penggunaan dan Analisa Pengaruh Styrofoam sebagai Substitusi Pasir dengan Bahan Tambah Plastiment-VZ terhadap Nilai Kuat Tekan Beton.

Murdock, L. J., & Brook, K. M. (1986). Bahan dan Praktek Beton, Terjemahan Ir. Stephanus Hindarko, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Nasional, B. S. (2002). SNI 03-2491-2002 Metode pengujian kuat tarik belah beton. Pustjatan, Balitbang PU.

Nasional, B. S. (2002). Tata Cara Pencampuran Beton Ringan Dengan Agregat Ringan. SNI 03-3449-2002. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.Ginting, A. 2007. Pengaruh Penambahan Styrofoam Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Lentur

Nasional, B. S. (2008). Cara Uji Berat Isi Beton Ringan Struktural (SNI 3402: 2008).

Nasional, B. S. (2011). SNI 1974-2011 Cara Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder. Badan Standarisasi Nasional Jakarta.

Nugraha, P. (2007). Teknologi Beton. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Rahman, F. (2008). Sifat Fisik Dan Mekanik Beton Ringan (Lightweight Concrete) Yang Memakai Styrofoam Dan Pasir Silika. Infoteknik, 9(1),

Suryanita, Reni., Iskandar Romey Sitompul, Zunwanis. 2014. Karakteristik Kuat Lentur Beton Ringan Akibat Penambahan Styrofoam Pada Desain Campuran Beton, Jurnal Sains dan Teknologi 13 (1), Pekanbaru

Tjokrodimuljo, Kardiyono. 2009. Teknologi Beton. Yogyakarta: Penerbit Biro Penerbit

Umum, D. P. (2000). Metode Pengujian Kerapatan, Penyerapan Dan Rongga Dalam Beton Yang Telah Mengeras. SNI 03-6433-2000.

LAMPIRAN 1

PEMERIKSAAN MATERIAL

ANALISA AYAKAN AGREGAT HALUS UNTUK MATERIAL PENYUSUN BETON

(ASTM C 136 - 84a)

Modulus Kehalusan (FM) = % 𝐾𝐾𝐾𝐾𝑂𝑂𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑓𝑓𝐾𝐾𝑓𝑓 𝑓𝑓𝑡𝑡𝑡𝑡𝑓𝑓𝐾𝐾 ℎ𝐾𝐾𝑎𝑎 ℎ𝐾𝐾𝑎𝑎𝑘𝑘𝑘𝑘𝐾𝐾 𝐾𝐾𝑎𝑎𝐾𝐾𝑘𝑘𝐾𝐾𝑎𝑎 0,15 𝑂𝑂𝑂𝑂

100

Modulus Kehalusan (FM) = 248,7

100 = 2,487 Klasifikasi FM pasir yang memenuhi syarat : d. Pasir halus : 2,20 < FM < 2,60

Fraksi Tertahan Kumulatif

Berat

BERAT JENIS DAN ABSORPSI AGREGAT HALUS UNTUK MATERIAL PENYUSUN BETON

(ASTM C 128 - 88)

Keterangan Sampel

Berat mula-mula, gram (S) 500

Berat piknometer, gram 177

Berat piknometer + air + pasir, gram (C) 972

Berat kering, gram (A) 481

Berat piknometer + air, gram (B) 674 Berat jenis kering, = 𝐴𝐴

(𝐵𝐵+𝑆𝑆−𝐶𝐶) 2,381

Berat jenis SSD = 𝑆𝑆

(𝐵𝐵+𝑆𝑆−𝐶𝐶) 2,475

Berat jenis semu = 𝐴𝐴

(𝐵𝐵+𝐴𝐴−𝐶𝐶) 2,628

Absorpsi, % = 𝑆𝑆−𝐴𝐴

𝐴𝐴

×

100 3,95

BERAT ISI AGREGAT HALUS UNTUK MATERIAL PENYUSUN BETON ASTM C 29/C 29M – 90

Pasir Cara Merojok Cara Menyiram

Sampel I Sampel II Sampel I Sampel II

Berat Bejana (gr) 459 459 459 459

Pasir + Bejana (gr) 3174 3174 3073 3078

Bejana + Air (gr) 2313 2313 2313 2313

Berat Pasir (gr) 2717 2715 2614 2616

Berat Air (gr) 1854 1854 1854 1854

Keterangan Cara Merojok Cara Menyiram

Berat Isi Air 996,506 996,506

Berat Isi Pasir 1459,82 1405,53

KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS DENGAN PENCUCIAN UNTUK MATERIAL PENYUSUN BETON

( ASTM C 117 - 90 )

Keterangan Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata

Berat mula-mula, gram 500 500 500

Berat kering 493 486 489,5

Berat material yang lolos ayakan No.

200, gram 7 14 10,5

Persentasi material yang lolos ayakan

No. 200, % 1,4 2,8 2,1

Keterangan Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata

Berat mula-mula, gram 493 486 489,5

Berat kering 491 483 487

Berat material yang lolos ayakan No.

200, gram 2 3 2,5

Persentasi material yang lolos ayakan

No. 200, % 0,4 0,617 0,507

BERAT ISI STYROFOAM

Keterengan Sampel

Berat pan (w1), gram 138

Berat pan + styrofoam (w2), gram 164

Berat styrofoam (w2-w1), gram 26

Volume pan (V) 2000

Berat volume = (𝑤𝑤2−𝑤𝑤1)

𝑉𝑉 , gram/cm3 0,013

LAMPIRAN III

DATAPENGUJIAN

PENGUJIAN BERAT ISI BETON

PENGUJIAN ABSORPSI BETON

PENGUJIAN TEKAN BETON

PENGUJIAN TARIK BELAH BETON

LAMPIRAN IV

FOTO DOKUMENTASI

Styrofoam

Semen

Pasir

Superplasticizer

Cetakan silinder benda uji

Pencampuran bahan (mixing)

Pecetakan beton segar

Uji slump

Penimbangan benda uji terendam air

Penimbangan benda uji jenuh permukaan

Pengeringan oven benda uji

Penimbangan benda uji kering oven

Pengujian tarik belah

Pengujian tekan

Dokumen terkait