HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN
B. DESKRIPSI DATA AMATAN
3. Uji Normalitas Data Amatan
Untuk mengetahui kedua sampel berdistribusi normal atau tidak maka dilakukan uji normalitas pada data variabel terikat yaitu hasil belajar matematika peserta didik. Uji normalitas data amatan ini menggunakan metode Liliefors. Uji normalitas data hasil belajar matematika peserta didik dilakukan terhadap masing-masing kelompok data yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rangkuman hasil uji normalitas kelompok data tersebut disajikan pada tabel berikut.
Tabel. XIII Hasil Uji Normalitas
No Kelas Keputusan Uji 1 Eksperimen 0,126
0,166 diterima 2 Kontrol 0,128
Sumber: Pengolahan Data Perhitungan Pada Lampiran 12
Hasil uji normalitas yang diperoleh dalam Tabel. XIII , tampak bahwa taraf signifikansi 5% untuk kelas eksperimen = 0,126 dan = 0,166, ini berarti bahwa < maka hipotesis nol diterima. Dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Dapat disimpulkan bahwa data pada kelas eksperimen berdistribusi normal. Kelas kontrol, dengan taraf signifikansi 5% untuk kelas kontrol = 0,128 dan = 0,166, ini berarti bahwa < maka hipotesis nol diterima. Dapat disimpulkan bahwa data pada kelas kontrol berdistribusi normal.
Untuk lebih jelasnya, hasil distribusi uji normalitas data amatan pada Tabel. XIII diatas dapat disajikan pada diagram berikut ini.
Gambar. 2.0. Distribusi Uji Normalitas Data Amatan 4. Uji Homogenitas Data Amatan
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki karakter yang sama atau tidak. Uji homogenitas dilakukan pada data variabel terikat yaitu hasil belajar matematika pada materi lingkaran. Uji homogenitas data penelitian ini menggunakan metode Bartlett. Hasil pengujian uji homogenitas telah tercantum pada rangkuman tabel berikut ini.
Tabel. XIV Hasil Uji Homogenitas
No Kelompok Kesimpulan
1 Eksperimen 14,629
37,652 Homogen
2 Kontrol 9,726 Homogen
Sumber: Pengolahan Data Perhitungan Pada Lampiran 13
0 0.1 0.2 L hitung L tabel 0.126 0.166 0.128 0.166
Dari Tabel. XIV diatas tampak bahwa harga statistik uji masing-masing kelompok tidak melebihi harga kritiknya, . Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa diterima atau sampel berasal dari populasi yang homogen. Untuk lebih jelasnya, hasil distribusi uji homogenitas data amatan pada Tabel. XIV diatas dapat disajikan pada diagram berikut ini.
Gambar. 2.0. Distribusi Uji Homogenitas Data Amatan 5. Uji hipotesis penelitian
Setelah data terkumpul dapat dilakukan penganalisisan data yang digunakan untuk menguji hipotesis. Hasil pengujian uji hipotesis telah tercantum pada rangkuman tabel berikut ini.
0 20 40 X^2 hitung X^2 tabel 14.629 37.652 9.726 37.652
Tabel. XV Uji – T No Kelas N 1 Eksperimen (XI AK I) 26 64,170 188,408 311,067 17,637 2,451 2,009 2 Kontrol (XI AK II) 26 52,179 433,727
Sumber: Pengolahan Data Perhitungan Pada Lampiran 14
Berdasarkan Tabel. XV diperoleh hasil perhitungan Uji-T yang memiliki = 2,451 dan = 2,009. Berdasarkan perhitungan tersebut terlihat bahwa ≥ . Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa ditolak sehingga diterima, artinya data ini menunjukan hasil belajar matematika peserta didik yang memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika lebih baik (memberikan pengaruh) daripada peserta didik yang memperoleh model pembelajara konvensional
C. PEMBAHASAN
Penelitian ini mempunyai dua variabel yang menjadi objek penelitian, yaitu variabel bebas berupa model pembelajaran kooperatif mind mapping berbasis etnomatematika (X) dan variabel terikat berupa hasil belajar matematika (Y). Model pembelajaran mind mapping ini yang berarti mengembangkan gagasan-gagasan melalui peta pikiran (Mind Mapping) memudahkan peserta didik untuk menangkap setiap poin-poin pembelajaran.
Pada penelitian ini peneliti mengambil sampel kelas XI Akuntansi I dan XI Akuntansi II yang berjumlah 52 peserta didik. Peneliti meneliti dengan sampel dua kelas yaitu kelas XI Akuntansi I (menggunakan model pembelajaran kooperatif mind mapping berbasis etnomatematika) dan kelas XI AK II (menggunakan model pembelajaran konvensional). Materi yang diajarkan pada penelitian ini adalah lingkaran, kemudian mengumpulkan data-data untuk pengujian hipotesis, penulis mengajarkan materi lingkaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mind mapping berbasis etnomatematika sebanyak 4 kali pertemuan. Kemudian untuk tes dilakukan pada akhir pertemuan yaitu pertemuan kelima yaitu sebagai pengambilan data penelitian dengan bentuk tes untuk memperoleh hasil belajar peserta didik.
Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan validasi isi dan validasi konstruk. Uji validitas isi dilakukan dengan menggunakan daftar checklist oleh 3 (tiga) validator, yaitu Bapak Muhamad Syazali, M.Si, selaku
dosen pendidikan matematika UIN Raden Intan Lampung dan Bapak Fredi Ganda Putra, M.Pd, selaku dosen pendidikan matematika UIN Raden Intan
Lampung serta Ibu Nur Jumiah, S.Pd, selaku pendidik matematika di SMK Perintis Adiluhur. Validator pertama dilakukan pada 21 Februari 2017 dengan perbaikan bahwa soal nomor 1, 4, 6 penggunaan bahasa perlu diperbaiki dan pengganti gambar pada soal. Selanjutnya, untuk validator kedua dilakukan pada 23 Februari 2017 dengan perbaikan bahwa untuk soal nomor 1, 2, dan 3 penggunaan bahasa perlu diperbaiki dan penulisannya perlu diperbaki. Kemudian, untuk
validator ketiga yaitu dilakukan 15 Maret 2017 menyatakan bahwa soal sudah baik dan sesuai dengan indikator. Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur sesuatu yang hendak diukur.
Setelah tahap validasi, Soal diuji coba yang dilakukan di kelas XI Otomotif I dengan jumlah peserta didik 20 orang. Uji coba instrumen ini sebanyak 10 (sepuluh) butir soal, dilakukan untuk mengetahui validitas butir soal dan tingkat kesukaran soal tes tersebut. Setelah dilakukan uji coba 10 (sepuluh) butir soal, peneliti melakukan perhitungan untuk validitas item soal dari 10 (sepuluh) soal yang di uji cobakan hanya 7 (tujuh) soal yang valid dan 3 (tiga) soal yang tidak valid. Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur sesuatu yang hendak diukur. Setelah dihitung validitas selanjutnya peneliti juga menggunakan uji tingkat kesukaran, instrumen yang baik adalah instrumen yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Instrumen yang terlalu mudah tidak dapat merangsang peserta didik untuk meningkatkan usaha memecahkan masalah, sebaliknya instrumen yang terlalu sukar akan menyebabkan peserta didik menjadi cepat menyerah dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba kembali karena mereka merasa tidak bisa mengerjakannya. Dari hasil uji coba diperoleh tingkat kesukaran soal nomor 2 dan 5 memiliki tingkat keukaran mudah dan soal nomor 3, 4, 6, 7, 8, 9, dan 10 memiliki tingkat kesukaran sedang serta soal nomor 1 memiliki tingkat kesukaran sukar.
Populasi pada penelitian ini yaitu peserta didik kelas XI Akuntansi I dan XI Akuntansi II , dengan jumlah seluruh populasi sebanyak 52 peserta didik. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah populasi sampling. Sehingga, sampel yang digunakan dua kelas yaitu kelas XI Akuntansi I yang berjumlah 26 (dua puluh enam) peserta didik dan kelas XI Akuntansi II yang berjumlah 26 (dua puluh enam) peserta didik. Kelas eksperimen XI Akuntansi I dan kelas kontrol XI Akuntansi II. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah lingkaran. Penulis mengumpulkan data-data hipotesis dengan mengajar materi lingkaran. Kemudian untuk tes dilakukan pada akhir pertemuan dimana soal tersebut adalah instrumen yang sudah diuji validitas dan tingkat kesukaran, peneliti mengambil 5 soal dari 7 soal yang valid karena soal tersebut sudah mewakili indikator yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Kedua sampel tersebut memiliki kondisi kemampuan awal yang relatif sama sehingga penelitian bisa dilanjutkan. Kondisi awal yang relatif sama dikarenakan kedua kelas menggunakan pembelajaran konvensional yaitu guru menyampaikan materi secara informatif tanpa melibatkan peran peserta didik dalam menggali informasi. Peneliti kemudian memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen. Kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika dan kelas kontrol dengan menerapkan model pembelajaran konvensional.
Setelah kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika dan kelas kontrol diberi perlakuan model pembelajaran konvensional, kedua kelas diberikan post test untuk mengetahui kemampuan akhir kedua kelas tersebut. Dari kegiatan post test, diperoleh nilai
rata-rata kelas eksperimen sebesar 64,170 dan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 52,179. Hasil post test menunjukkan nilai rata-rata yang diperoleh kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata yang diperoleh kelas kontrol.
Pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika, peserta didik diajak untuk memahami materi unsur-unsur lingkaran dengan cara yang lebih menyenangkan. Tony Buzan menyatakan bahwa mind mapping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Peneliti bersama peserta didik menggali materi dari diskusi, buku, dan penyampaian dari peneliti itu sendiri serta dikaitkan dengan budaya guna menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya. Semua materi yang diperoleh melalui kegiatan tersebut kemudian dituangkan dalam mind mapping peserta didik. Disediakan kertas putih A4 polos oleh peneliti untuk peserta didik. Hasilnya, kertas putih peserta didik penuh dengan coretan dan gambar dari materi yang disampaikan. Hal yang menarik adalah hasil mind mapping peserta didik berbeda satu dengan yang lain. Hasil mind mapp berupa warna, garis, gambar, merupakan interpretasi dari hasil kerja otak kanan peserta didik yang berupa imajinasi, warna, dan dimensi. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik mampu membuat peta pikiran mereka sendiri berdasarkan materi yang mereka terima dari berbagai sumber.
Pada kelas kontrol peserta didik melaksanakan pembelajaran yang biasa dilakukan oleh peneliti yaitu model pembelajaran konvensional. Peserta didik terlibat dalam kegiatan bertanya jawab dengan peneliti tetapi hanya peserta didik
tertentu dan tidak semua peserta didik terlibat aktif. Peserta didik yang lain mengikuti pelajaran dengan patuh pada awal kegiatan pembelajaran. Pada menit-menit selanjutnya peserta didik mulai gaduh dan bercengkrama dengan peserta didik lain. Hal ini dapat disebabkan karena peserta didik tidak dilibatkan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Daryanto menyatakan bahwa belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu, indikator belajar di tunjukan dengan perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Peserta didik menerima materi sebatas dari peneliti, buku sumber. Tidak semua peserta didik mencatat materi yang disampaikan peneliti karena peserta didik beralasan bahwa materi yang disampaikan peneliti sudah ada di buku.
Perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dikarenakan kedua kelas menggunakan model pembelajaran yang berbeda. Pembelajaran menerapkan mind mapping berbasis etnomatematika lebih berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif daripada pada kelompok kontrol. Ngalimun mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Pembelajaran menerapkan mind mapping berbasis etnomatematika juga meningkatkan partisipasi peserta didik untuk aktif mencatat serta mempertajam daya ingat dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Membuat mind mapping seperti bermain sambil belajar karena selagi mencatat peserta didik juga mencoret-coret kertas putih mereka dengan spidol, pensil dan crayon yang beraneka warna.
Pada saat penelitian berlangsung, kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika, dapat dilihat pada RPP pembelajaran menerapkan mind mapping berbasis etnomatematika pada lampiran 5 Sedangkan kelas kontrol menerapkan model pembelajaran konvensional dapat dilihat pada lampiran RPP pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional pada lampiran 5.
Materi lingkaran dalam matematika cukup banyak yaitu meliputi unsur-unsur lingkaran, luas lingkaran, keliling lingkaran, aplikasi lingkaran dalam kehidupan sehari-hari dan menentukan panjang busur lingkaran. Materi yang harus dikuasai peserta didik tidak hanya berupa hafalan tetapi juga pemahaman, aplikasi, dan analisis. Sebagaimana diungkapkan oleh Bloom bahwa bahwa hasil belajar kognitif mengacu pada hasil belajar yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan otak dan penalaran peserta didik. Domain kognitif ini memiliki enam tingkatan yaitu: Ingatan (recall), Pemahaman (comprehension), Penerapan (application), Analisis (analiysist), Sintesis (syntesis) dan Evaluasi (evaluation). Selama kegiatan pembelajaran menggunakan mind mapping berbasis etnomatematika, peserta didik terlibat mengikuti kegiatan pembelajaran dan aktif menggunakan pikiran mereka. Pada kegiatan ini peserta didik memupuk sikap ilmiah berupa rasa ingin tahu dan sikap berpikir bebas. Hal ini sesuai dengan kelebihan dari model mind mapping yaitu fleksibel, dapat memusatkan pikiran, meningkatkan pemahaman dan menyenangkan.
Kegiatan membuat mind mapping melatih kemampuan berpikir peserta didik. Peserta didik menggali materi, mengingat, memahami, menganalisisnya menggunakan kemampuan berpikir mereka lalu menuangkan hasil pikiran mereka dalam bentuk mind mapping. Kegiatan ini merupakan salah satu proses pembelajaran matematika. Berbeda dengan kelas eksperimen yang menerapkan pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika, kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung peserta didik menerima materi pelajaran dari peneliti yang menggunakan metode ceramah. Peserta didik diposisikan sebagai objek pasif penerima pembelajaran. Nana Sudjana menyatakan hal ini dapat membuat peserta didik jenuh dan bosan. Peserta didik tidak dilibatkan dalam menggali materi pelajaran sehingga materi yang diperoleh sebatas dari apa yang disampaikan peneliti. Peserta didik yang tidak dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran membuat materi pelajaran yang mereka terima tidak bertahan lama di otak peserta didik. Mereka menggunakan kemampuan mengingat untuk memahami materi pelajaran. Hal ini menyebabkan materi yang diperoleh peserta didik sebatas hafalan dan ingatan tanpa diikuti kemampuan kognitif lain yaitu memahami, mengaplikasikan, dan menganalisis.
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran, peserta didik mengerjakan post test. Dari post test hasil belajar kognitif diperoleh rata-rata akhir kelas eksperimen sebesar 64,170 dan nilai rata-rata akhir kelas kontrol sebesar 52,179. Kedua kelas mengalami perubahan capaian hasil belajar kognitif yaitu sebesar 38,462% pada kelas eksperimen dan 34,615% pada kelas kontrol. Perbedaan ini
dikarenakan pembelajaran yang berbeda pada kedua kelas. Capaian hasil belajar kognitif sebesar 38,462% pada kelas eksperimen karena menerapkan mind mapping berbasis etnomatematika. Membuat mind mapping memungkinkan peserta didik menggunakan kemampuan berpikir mereka membuat sebuah peta materi yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, pengalaman percobaan, dan materi dari peneliti. Mind mapping bisa juga diartikan sebagai cara untuk membuat catatan yang tidak membosankan menggunakan kata-kata, warna garis, dan gambar. Menerapkan mind mapping berbasis etnomatematika lebih menyenangkan karena peserta didik berkreasi dengan gambar, garis, warna dan segala yang ada di pikiran mereka. Melalui kegiatan membuat mind mapping, peran peserta didik juga dilibatkan dalam menggali informasi materi pelajaran.
Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti sebelum penelitian menunjukkan aktivitas peserta didik dalam mencatat materi pelajaran kurang terlihat karena tidak semua peserta didik mencatat materi yang disampaikan peneliti. Setelah mengetahui mind mapping, peserta didik berlomba-lomba membuat catatan mereka lebih baik dari catatan yang lain. Bagi peserta didik kelas eksperimen, mind mapping adalah hal baru. Meskipun demikian, mind mapping mudah diaplikasikan dan menarik perhatian peserta didik sehingga peserta didik menerima dengan baik model pembelajaran ini.
Semua peserta didik pada kelas eksperimen terlibat dalam pembuatan mind mapping. Hasil mind mappingpeserta didik rata-rata berada dalam kategori sangat baik. Dibandingkan mencatat biasa, mind mapping lebih memiliki daya tarik
karena perpaduan warna, garis, gambar membuat peserta didik belajar seperti dalam suasana bermain. Hal ini sesuai dengan kelebihan mind mapping yaitu menyenangkan karena mengkombinasikan kreativitas dan imajinasi peserta didik yang tidak terbatas, lebih menyenangkan apabila dibandingkan dengan membuat catatan biasa.
Berdasarkan hasil observasi pembelajaran yang dilakukan peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pembelajaran mind mapping mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas meskipun selama 4 kali pembelajaran kelas eksperimen dilaksanakan pada jam terakhir. Penguasaan materi matematika pada kelas eksperimen juga lebih baik yaitu sebesar 38,462% dibandingkan dengan kelas kontrol yang hanya mengalami perubahan capaian hasil belajar kognitif sebesar 34,615%.
Dari penjelasan-penjelasan diatas, dapat dinyatakan bahwa ada perbedaaan dalam penggunaan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika terhadap hasil belajar matematika peserta didik . Perbedaan yang diperoleh ditunjukkan dengan hasil > .
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian penerapan model pembelajaran mind mapping berbasis etnomatematika pada kelas XI Akuntansi I SMK Perintis Adiluhur dapat disimpulan bahwa hasil belajar matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Mind Mapping Berbasis Etnomatematika lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada peserta didik SMK Perintis Adiluhur tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan uji keefektifan pembelajaran kelas eksperimen diperoleh > .
B. SARAN