• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI PERUBAHAN STRUKTURAL METODE CHOW

Dalam dokumen Early Warning System Krisis Mata Uang In (Halaman 120-125)

ISI DAN PEMBAHASAN

UJI PERUBAHAN STRUKTURAL METODE CHOW

Chow Breakpoint Test: 1999:01

F-statistik 140.3745 Probability 0.000000

Log likelihood ratio 312.1078 Probability 0.000000

Sumber : Eviews 4.1

Dari tabel di atas nilai F hitung sebesar 140.3745, sedangkan nilai kritis tabel F dengan α = 5% dengan df (4, 199) = 2.37. Berdasarkan uji F ini berarti menolak H0 sehingga dalam rentang waktu penelitian memang terdapat/ada perubahan struktural. Disamping dengan uji F, adanya perubahan struktural dapat diamati dari nilai statistik chi square (χ2) = 312.1078 sedangkan nilai kritis dari statistik chi square (χ2) dengan α =5% dengan df 2 (8/5) sebesar 5.99147. Kesimpulannya, menolak H0 yang berarti memang terdapat perubahan struktural

di Indonesia selama rentang waktu 1990.1-2006.12. penolakan terhadap H0 juga tampak pada probabilitas yang menunjukkan nilai 0, sehingga dengan sangat meyakinkan menunjukkan memang terjadi perubahan struktural. Jadi, dengan menggunakan uji F dan LR signifikan bahwa terjadi perubahan struktural dalam perilaku mata uang rupiah terhadap dollar dalam periode penelitian. Perubahan structural dalam pengertian ini adalah bahwasannya leading indicator

memberikan isyarat bahwasannya kerentanan akan terjadinya krisis mata uang memiliki faktor penyebab dan dampak yang berbeda.

4.2.3.2. Perbandingan Dua Regresi : Pendekatan Variabel Dummy

Dependent Variabel: NTR Method: Least Squares Date: 07/23/08 Time: 12:10 Sample: 1990:01 2006:12 Included observations: 204

Variabel Coefficient Std. Error t-Statistik Prob.

C 6639.963 247.2286 26.85759 0.0000 D98INFL 75.33388 43.53269 1.730513 0.0851 REER 1.390893 0.085728 16.22452 0.0000 M2RES -124.4940 11.90246 -10.45952 0.0000 INFL 108.2534 34.93032 3.099124 0.0022 GKRED 6.801360 8.337359 0.815769 0.4156 D98REER 0.498299 0.106894 4.661616 0.0000 D98M2RES 135.5152 15.51252 8.735859 0.0000 D98GKRED 48.31518 11.50745 4.198601 0.0000 D98 -5811.754 298.6881 -19.45760 0.0000

R-squared 0.989825 Mean dependent var 5872.578

Adjusted R-squared 0.989352 S.D. dependent var 3578.707

S.E. of regression 369.2754 Akaike info criterion 14.70874

Sum squared resid 26454681 Schwarz criterion 14.87139

Log likelihood -1490.291 F-statistik 2096.830

Durbin-Watson stat 0.729359 Prob(F-statistik) 0.000000

Sumber : Eviews 4.1

NTRt = 6639.963 - 5811.754D98 - 124.4940 M2RESVt + 135.5152 (D98 M2RESVt) + 6.801360 GKREDt + 48.31518 (D98 GKREDt) + 1.390893 REERt + 0.498299(D98 REERt) + 108.2534 INFLt + 75.33388 (D98 INFLt) Adjusted R-squared 0.989352

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, untuk mengetahui apakah untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan intersep atau slope dalam regresi maka dimasukkan variabel dummy ke dalam model di dalam persamaan. Setelah pemasukan dummy, maka dapat diestimasi parameternya seperti di atas. Melihat nilai parameter di atas, dapat dianalisis perbedaan perilaku variabel makroekonomi sebelum dan setelah krisis dalam intersep atau slope.

Dari persamaan regresi di atas, dilihat dari nilai t-hitung, variabel pembeda intersep yakni D98 menunjukkan tidak signifikan pada α = 5%, sedangkan variabel pembeda slope signifikan pada α = 5%. Dengan demikian krisis mata uang rupiah terhadap Dollar AS tidak menyebabkan adanya perbedaan intersep, tetapi hanya pada slope.

Dari persamaan di atas, dapat diturunkan ke dalam 2 persamaan yaitu : Masa Pra dan Krisis Mata Uang, 1990.1-1998.12

NTRt = 6639.963 - 124.4940 M2RESVt + 6.801360 GKREDt + 1.390893 REERt + 108.2534 INFLt

Masa Paska Krisis Mata Uang, 1999.1-2006.12

NTRt = 6639.963 – 260.0092 M2RESVt + 55.11654 GKREDt + 1.889192 REERt + 183.58728 INFLt

Dari hasil pengujian, di atas ternyata perbedaan slope mengakibatkan fluktuasi nilai tukar akan semakin sensitif bila satu atau lebih leading indicator

mengalami fluktuasi dibandingkan sebelum krisis. Demikian, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS akan responsif lebih cepat dan besar pengaruhnya bila ada perubahan besaran pada leading indicator

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa perbandingan 2 garis regresi dengan pendekatan dummy variabel dan Chow test memberikan keuntungan sebagai berikut (Gujarati, Damodar 2003):

1. Hanya memerlukan satu kali regresi karena individual regresi dapat langsung diturunkan dari regresi induknya

2. Dengan regresi satu kali dapat digunakan untuk menguji berbagai hipotesis. Demikian, jika terdapat perbedaan koefisien intersep α2 secara statistik tidak signifikan, dapat menerima bahwa hipotesis bila dua regresi memiliki intersep yang sama sehingga dua regresi ditentukan bersama- sama. Begitu juga, bila perbedaan koefisien slope secara statistik tidak signifikan, maka hipotesis bahwa dua regresi memiliki slope yang sama, sehingga garis regresi sejajar.

3. Chow test tidak secara jelas menjelaskan dimana koefisien, intersep, atau slope berbeda, atau apakah keduanya berbeda dalam dua periode

4. Akhirnya, peningkatan derajat kebebasan (degree of freedom),

4.3. Pembahasan

Dari pembahasan pendekatan sinyal, semua variabel memberikan informasi bahwa tidak satupun dari 4 variabel yang tidak berpengaruh. Artinya keempat variabel memberikan probabilitas terhadap terjadinya krisis mata uang di Indonesia. Informasi ini cukup logis bila mengawali dengan kebijakan Indonesia tempo dulu. Indonesia sejak tahun 1965 telah mengarahkan proses pembangunannya pada liberalisasi dan bersumber pada dana asing (kapitalistis).

Dengan sistem demikian, sejak masa orba, kebijakan di bidang moneter diarahkan untuk mengendalikan inflasi dengan menyerap dana masyarakat, dan penyediakan kredit investasi berbunga rendah, dan per Juni 1983, pemerintah melakukan deregulasi yang pada intinya memberikan kebebasan pada bank-bank untuk menentukan suku bunga depositonya. Lebih jauh, tahun 1989 pemerintah memberikan kemudahan dalam membuka perbankan bahkan pasar modal dibuka secara luas.

Praktis hal ini memberikan moral hazard dalam perekonomia, dimana baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba mendapatkan dana bantuan asing. Apalagi dengan sistem kurs tetap sehingga risiko fluktuasi kurs sangat kecil. Sehingga pada saat itu likuiditas perekonomian domestik sangat tinggi yang pada akhirnya memberikan efek adverse selection pada pemberian kredit. Kondisi krisis yang dasyat praktis merubah kondisi Indonesia yang disebut “macan Asia” menjadi “macan sakit-sakitan” karena harus menanggung hutang yang berlipat dan jatuh tempo dan ini menguras cadangan devisa luar biasa besar. Di tengah pusaran krisis, perbankan dan debitor terus memburu pinjaman agar tidak kolaps

kepada Bank Asing dan Campuran. Sehingga tak heran para era krisis pertumbuhan kredit pada bank tersebut melejit.

Di tengah pusaran krisis yang telah mendepresiasikan rupiah terhadap dolas AS sedemikian besar, laju ekspor Indonesia tidak tumbuh dengan alasan beban bahan impor yang mahal sehingga reserve terus menurun seiring kebutuhan valas dan produksi dalam negeri. Oleh karenanya, Indonesia memandang krisis 97/98, yang bermula dari krisis mata uang merupakan bencana maha hebat, yang merusak instabilitas dan tata perekonomian.

Demikian, dari analisis penyebab krisis mata uang rupiah terhadap Dollar AS, memberikan pelajaran bahwa stabilitas rupiah menjadi salah satu kunci menuju stabilitas ekonomi. Stabilitas ekonomi tersebut meliputi peningkatan pertumbuhan, dan dalam jangka panjang menciptakan kesejahteraan rakyat (social welfare)

Jangka Panjang Sustainable Growth

Keb. Fiskal&Sektor Riil Keb. Moneter Jangka Pendek

Kebijakan Ekonomi Sumber : Bank Indonesia

GAMBAR 4.1.

PERAN KEBIJAKAN MONETER DALAM PEREKONOMIAN

Dalam dokumen Early Warning System Krisis Mata Uang In (Halaman 120-125)

Dokumen terkait