Studi Pustaka dan Diskusi
3.2.3. Pengolahan dan Analisis Data
3.2.3.1. Uji Reliabilitas
3.2.3. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Excel 2002 dan SPSS for windows versi.13. Alat analisis yang digunakan adalah Uji Cochran dan IPA. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan output data yang dihasilkan.
3.2.3.1. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk menguji keandalan instrumen yang digunakan dalam penelitian melalui kuesioner. Uji reliabilitas dilakukan untuk data asosiasi merek yang terdapat pada brand association dengan menggunakan metode Spearman-Brown. Dalam metode ini, skor yang diperoleh dikelompokkan menjadi dua belahan bagian butirnya. Teknik pembelahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pembelahan ganjil-genap. Rumus selengkapnya (Durianto, dkk, 2004) adalah :
2 2 2 2 ( X) N Y ( Y) X N Y X XY N rxy Σ − Σ Σ − Σ Σ Σ − Σ = ...(2)
∑X : total skor ya belahan ganjil
∑Y : total skor ya belahan genap
∑XY : total skor hasil kali belahan ganjil dan genap
xy
r : korelasi antara dua belahan instrumen
Nilai yang diperoleh dengan formula sebelumnya, dimasukkan dalam rumus Spearman-Brown :
) 1 ( 2 11 xy xy r r r + = ………...(3) 11 r : reliabilitas instrumen xy
r : korelasi antara dua belahan instrumen
Nilai reliabilitas yang diperoleh kemudian dibandingkan
dengan nilai r product moment. Jika r11< r product moment,
maka instrumen yang digunakan tidak terandalkan. Sebaliknya
jika r11> r product moment, maka instrumen yang digunakan
dapat terandalkan dan penelitian dengan menggunakan instrumen yang sama dapat dilanjutkan.
3.2.3.2. Uji Cochrant
Uji Cochrant digunakan untuk menguji nyatanya hubungan setiap asosiasi yang ada dalam suatu merek. Asosiasi yang berhubungan akan membentuk brand image dari dari merek tersebut dengan membandingkan nilai Cochran dengan tabel Khi kuadrat Table. Brand image yang terbentuk adalah dengan ketentuan nilai Cochran kurang dari nilai tabel Khi kuadrat Table (Durianto, dkk, 2004).
Rumus yang digunakan dalam uji Cochran adalah :
i j R CN N C C C C Q 2 2 2 ( 1) ) 1 ( Σ − − − Σ − = ...(4)
C : banyaknya peubah (asosiasi) N : total besar
Ri : banyaknya baris jawaban “ya” Cj : jumlah kolom jawaban “ya”
Yang menjadi dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
Ho ditolak , jika Cochran hitung > λ2
(Khi kuadrat) tabel Ho diterima, jika Cochran hitung < λ2
(Khi kuadrat) table
Dalam kasus ini derajat bebas (db) yang digunakan adalah
jumlah peubah – 1 dengan taraf nyata (α) adalah 5 %.
3.2.3.3. IPA
Analisis ini berfungsi sebagai salah satu alat ukur dari elemen perceived quality. Cara mencari nilainya dengan menggunakan perhitungan rataan yang hasilnya akan dipetakan dalam bentuk diagram Kartesius, atau grafik importance performance (Durianto, dkk, 2004). Rumus rataan yang digunakan :
( )
n fi xi x = Σ . …....………...(5) x : rataanfi : frekuensi kelas ke-1
n : banyaknya pengamatan
tinggi Kuadran A Kuadran B
Importance
Rendah Kuadran C Kuadran D
rendah tinggi
Performance
Gambar 11. Grafik Importance Performance (Durianto, dkk, 2004) Hasil dari rataan dijadikan acuan dalam pengukuran
perceived quality dan brand loyalty dan kemudian dipetakan ke rentang skala di bawah ini dengan mempertimbangkan interval berikut : 8 , 0 5 1 5− = = − = kelas Banyaknya Terendah Nilai Tertinggi Nilai Interval
Setelah besarnya interval diketahui, dibuat rentang skala agar diketahui dimana letak rataan penilaian responden terhadap setiap unsur diferensiasinya dan sejauhmana variasinya. Rentang skala tersebut adalah :
1,00 – 1,80 = Sangat Buruk 1,80 – 2,60 = Buruk 2,60 – 3,40 = Cukup 3,40 – 4,20 = Baik
4,20 – 5,00 = Sangat Baik
Dasar pemberian rentang skala tersebut berdasarkan pada lima alternatif jawaban yang diajukan kepada responden, maka rentang skala yang digunakan adalah 1 - 5, dimana :
Skala 1 : Sangat Buruk Skala 2 : Buruk Skala 3 : Cukup Skala 4 : Baik Skala 5 : Sangat Baik
4.1.Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1. Sejarah Coca-Cola
Coca-Cola pertama kali diperkenalkan pada tanggal 8 Mei 1886 oleh John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Beliau yang pertama kali mencampur sirup karamel yang kemudian dikenal sebagai Coca-Cola. Frank M. Robinson, sahabat sekaligus akuntan Pemberton, menyarankan nama Coca-Cola karena berpendapat bahwa dua huruf C akan tampak menonjol untuk periklanan. Setahun kemudian melalui kantor rekannya Jacob’s Pharmacy, Coca-Cola dijual untuk pertama kalinya. Pemberton menjual ciptaannya dengan harga 5 sen per gelas di apotiknya dan mempromosikan produknya dengan membagi ribuan kupon yang dapat ditukarkan untuk mencicipi satu minuman cuma-cuma. Pada tahun tersebut ia menghabiskan US$ 46 untuk biaya periklanan.
Pada tahun 1892, Pemberton menjual hak cipta Coca-Cola ke Asa G. Chandler yang kemudian mendirikan perusahaan The Coca-Cola Company di Atlanta, Georgia. Ide cemerlang untuk menyediakan minuman Coca-Cola dalam botol datang dari Joseph Biedenharn, pemilik toko di Missisipi. Pada tahun 1989 Biedenharn mendirikan pabrik Coca-Cola pertama dengan membeli concentrate (bahan baku dasar) dari The Coca-Cola Company, kemudian mengolahnya dengan air bersih steril, gula murni dan gas CO2, sehingga menjadi minuman yang siap disajikan dalam botol. Dengan kemasan botol, Coca-Cola dapat dinikmati konsumen lebih luas dan semakin tersebar. Penjualan langsung kepada konsumen ini merupakan rintisan perdagangan dengan sistem franchise yang menjamin mutunya dimanapun Coca-Cola diproduksi.
Robert W.Woodruff, presiden The Coca-Cola Company (1919-1955) adalah pencetus pertama gagasan agar Coca-Cola dapat dinikmati bukan saja oleh orang Amerika tetapi juga oleh seluruh bangsa di dunia.
Berdasarkan gagasan tersebut, maka berdirilah The Coca-Cola Export Corporation pada tahun 1929.
Chandler piawai dalam menciptakan perhatian konsumen dengan cara membuat berbagai macam benda-benda cinderamata berlogo Coca-Cola. Benda-benda tersebut kemudian dibagi-bagi di lokasi-lokasi penjualan penting yang berkesinambungan. Gaya periklanan yang inovatif, seperti desain warna-warni untuk bus, lampu gantung hias dari kaca, serta serangkaian cinderamata seperti kipas, tanggalan dan jam dipakai untuk memasyarakatan nama Coca-Cola dan mendorong penjualan. Upaya mengiklankan merek Coca-Cola ini pada mulanya tidak mendorong penggunaan kata Coke, bahkan konsumen dianjurkan untuk membeli Cola dengan kata-kata berikut : "Mintalah Coca-Cola sesuai namanya secara lengkap; nama sebutan hanya akan mendorong penggantian produk dengan kata lain". Tetapi konsumen tetap saja menghendaki Coke, dan akhirnya pada tahun 1941, perusahaan mengikuti selera popular pasar. Tahun itu juga, nama dagang Coke memperoleh pengakuan periklanan yang sama dengan Coca-Cola, dan pada tahun 1945, Coke resmi menjadi merek dagang terdaftar.
4.1.2. Lahirnya Coca-Cola di Indonesia
Coca-Cola hadir di Indonesia sekitar tahun 1927, ketika De Nederland Indische Mineral Water Fabrieck (Pabrik Air Mineral Hindia Belanda) membotolkan untuk pertama kalinya di Batavia (Jakarta). Produksi Coca-Cola lumpuh pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), tetapi tepat pada sesudah kemerdekaan republik Indonesia, pabrik tersebut beroperasi di bawah nama The Indonesian Bottles Ltd NV(IBL) dengan status perusahaan nasional.
Pada tahun 1971 dengan pertambahan mitra usaha dan modal, didirikan pabrik pembotolan modern pertama di Indonesia dengan nama baru PT. Djaya Beverages Bottling Company. Tercatat sampai saat ini sebelas pabrik Coca-Cola yang beroperasi di berbagai propinsi di Indonesia, berturut-turut berdasarkan tahun pendiriannya adalah Jakarta
(1971), Medan (1973), Surabaya (1976), Semarang (1976), Ujung Pandang (1981), Bandung (1983), Padang (1985), Bali (1985), Manado (1985), Banjarmasin (1991) dan Lampung (1995).
4.1.3. PT.Coca-Cola Distribution Indonesia West Java
Pada tanggal 7 Agustus 1979 berdiri PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company dengan status perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mendapat kepercayaan dari PT.Coca-Cola Indonesia untuk memproduksi dan memasarkan minuman Coca-Cola, Sprite dan Fanta untuk wilayah Jawa Barat. Pembangunan fisik pabrik PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company mulai dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 1982 dengan lokasi Jl. Raya Bandung-Garut Km.26 Kabupaten Sumedang Jawa Barat dan diresmikan pada tanggal 15 Oktober 1983. Pada tanggal 8 November 1991 PT. Coca-Cola Tirtalina Bottling Company dengan status Perusahaan Modal Asing (PMA). Perubahan status ini disebabkan sebagian saham dari PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company dibeli oleh pihak asing dalam hal ini Allied Manufacturing and Trading Industries Limited atau biasa disingkat Amatil.
Pemasaran dan penjualan produk PT. Tirta Mukti Indah Bottling Company diserahkan kepada PT. Ranca Agung Luhur sebagai distributor tunggal sejak tanggal 22 September 1983 yang kemudian berganti nama menjadi PT. Coca-Cola Banyu Argo Unit Jawa Barat pada tanggal 8 November 1991 bersamaan dengan pergantian nama PT. Tirtalina Bottling Company pada tahun 1995 berafiliasi dengan Coca-Cola Amatil, satu grup perusahaan Coca-Cola di kawasan Asia Pasifik dan Eropa Timur yang bermarkas di Sydney Australia. Pada tanggal 1 Januari 2000, terjadi merger perusahaan Coca-Cola di seluruh Indonesia dengan pergantian nama menjadi PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Bottling untuk perusahaan distributornya.
Kemudian pada tanggal 1 Juli 2002, PT.Coca-Cola Amatil Indonesia Bottling berubah nama menjadi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia dan PT. Coca-Cola Amatil Indonesia berubah nama menjadi
PT. Coca-Cola Distribution Indonesia. Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat penggabungan antara perusahaan pembotolan dan perusahaan distributor nama perusahaan yang dipergunakan adalah PT. Coca-Cola Bottling Indonesia. Perubahan nama ini diharapkan dapat membuat masyarakat Indonesia merasa lebih akrab dengan Coca-Cola.