BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis dan Pengujian Hipotesis
3.6.1 Uji t (Secara Parsial)
Uji t dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen (infrastruktur jalan, infrastruktur listrik dan infrastruktur air) secara parsial terhadap variabel dependen (investasi). Adapun hipotesis statistik pengujian sebagai berikut:
Ho = β1 = 0 (tidak ada pengaruh infrastruktur jalan, infrastruktur listrik, infrastruktur air terhadap investasi).
H1 ≠ β1 = 0 (ada pengaruh infrastruktur jalan, infrastruktur listrik, infrastruktur air terhadap investasi).
3.6.2 Uji F (Uji secara simultan)
Uji F dilakukan untuk melihat secara simultan (bersama-sama) apakah ada pengaruh dari variabel bebas (infrastruktur jalan, infrastruktur listrik dan infrastruktur air) terhadap variabel terikat (investasi).
Model hipotesis yang dilakukan dalam uji F ini adalah:
Ho : β1 β2 β3 = 0 (artinya infrastruktur jalan, infrastruktur listrik infrastruktur air secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap investasi).
H1 : β1 β2 β3 ≠ 0 (artinya infrastruktur jalan, infrastruktur listrik, infrastruktur air secara bersama-sama berpengaruh terhadap investasi)
3.6.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R-Square) dilakukan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen memberi penjelasan terhadap variabel dependen.
Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1 (0 < R2< 1).
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum
Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang diperoleh dari data sekunder.Data penelitian ini adalah data yang diperoleh dari BPS dari tahun 2001 – 2016.Kabupaten Deli Serdang adalah wilayah yang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sebagai salah satu daerah lintas pelayaran paling sibuk di dunia. Kabupaten ini mengelilingi 2 (dua) kota Utama di Sumatera Utara. Dengan posisi strategis, sumber daya alam dan tenaga kerja yang dimiliki oleh Kabupaten Deli Serdang akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan yang kompetitif dalam menghadapi persaingan dalam menarik investor untuk mengembangkan usahanya di daerah ini dan sasaran lainnya dalam memasarkan produk/jasa yang dihasilkan. Sesuai visi misi Pemkab Deli Serdang 2014-2019 sektor pendidikan dan kesehatan serta sektor infrastruktur merupakan prioritas pembangunan yang harus dilaksanakan tanpa mengabaikan pembangunan sektor lainnya.
4.2 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian 4.2.1 Infrastruktur Jalan (X1)
Jalan merupakan sarana yang sangat penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Sarana jalan yang baik dapat meningkatkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari suatu tempat ke tempat lain. Jalan
menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.
Jalan Nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam system jaringan jalan primer yang menghubungkan antar Ibu Kota Provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam system jaringan primer yang menghubungkan antar Ibukota Provinsi dengan Ibukota Kabupaten/Kota, atau antar Ibukota Kabupaten/Kota, dan jalan strategis Provinsi. Panjang jalan kabupaten merupakan jalan local dalam system jaringan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antara persil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berasa dalam kota.
Infrastruktur jaringan jalan merupakan prasarana transportasi darat yang dominan dan mempunyai peran yang sangat strategis dalam mendukung kegiatan ekonomi, sosial, buadya, pertahanan, dan keamanan sehingga harus dipertahankan fungsinya dengan baik melalui system pemeliharaan yang baik pula.Terbukti betapa besarnya peran jalan selama ini dalam mendukung mobilitas dan distribusi penumpang, barang dan jasa.
Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2016 mencapai 3.932,54 kilometer. Panjang jalan yang berada di bawah wewenang Negara adalah 141,35 kilometer, dibawah wewenang provinsi adalah 120,48 kilometer dan sisanya di bawah wewenang kabupaten sebanyak 3.670,71 kilometer. Perkembangan panjang jalan menurut status Jalan Negara, Provinsi dan
Universitas Sumatera Utara
Kabupaten di wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001-2016 disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.1
Panjang Jalan Negara, Provinsi dan Kabupaten di wilayah Kabupaten Deli Serdang Tahun 2001-2016 (km)
Tahun Negara Provinsi Kabupaten Jumlah
2001 139.87 205.64 1944.5 2290.01
Sumber: BPS Kabupaten Deli Serdang
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat disimpulkan bahwa hampir setiap tahun terjadi penambahan panjang jalan di wilayah Kabupaten Deli Serdang.Penambahan panjang jalan ini sendiri juga turut memperpanjang jalannya aktivitas ataupun pergerakan yang memicu peningkatan kegiatan perekonomian di wilayah Kabupaten Deli Serdang.Peran jalan yang sangat penting membawa implikasi bagi upaya dan kerja keras pemerintah dalam mewujudkan penyelenggaraan infrastruktur jalan yang berkualitas bagi masyarakat.Salah satu yang ditempuh adalah penyediaan anggaran pembangunan jalan setiap tahun
untuk kegiatan pemeliharaan, peningkatan dan pembangunan jalan baru yang merupakan tanggungjawab pemerintah atau dan pemerintah daerah.
4.2.2 Infratruktur Listrik
Energi listrik telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan modern manusia, tanpa listrik aktivitas menjadi lumpuh. Hampir seluruh aspek kehidupan akan terpengaruh termasuk roda pemerintahan dan perekonomian secara khusus bisa terganggu bila tidak ada listrik, hampir seluruh aktivitas kehidupan sangat bergantung pada listrik. Menyadari hal tersebut, Pemerintah terus berupaya menyediakan pasokan listrik kepada masyarakat, bahkan Pemerintah mengeluarkan biaya yang besar untuk memastikan ketersediaan energi listrik yang terjangkau bagi masyarakat.PT.PLN (Persero) yang menjadi perpanjangan tangan Pemerintah dalam menyediakan listrik bagi masyarakat harus terus meningkatkan kapasitasnya agar mampu mengimbangi tingginya pertumbuhan permintaan listrik di Indonesia khususnya di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Perkembangan Pelanggan Energi Listrik di Wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001- 2016 disajikan dalam tabel berikut:
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.2
Perkembangan Pelanggan Energi Listrik di Wilayah Kabupaten Deli Serdang (Pelanggan)
Sumber: BPS Kabupaten Deli Serdang
Terlihat dari tabel diatas hampir setiap tahun terjadi peningkatan pelanggan energi listrik di wilayah Kabupaten Deli Serdang.Hal ini menunjukkan bahwa listrik sangat dibutuhkan oleh setiap individu maupun maupun sektor industri/pengusaha dan lain-lain dalam menjalankan kegiatan sehari-hari yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan perekonomian wilayah tersebut.
4.2.3 Infrastruktur Air (X3)
Air bersih merupakan kebutuhan utama dalam hidup. Minum, mencuci, memasak, sampai mandi, semua membutuhkan air bersih. Dalam rumah tinggal, air bersih biasanya didapat melalui dua cara. Cara pertama, melalui mata air dalam rumah yang disedot ke atas dengan bantuan pompa. Cara kedua, menjadi pengguna jasa layanan air bersih yang disediakan oleh Perusahaan Air Minum.
Layanan air bersih PAM disalurkan ke rumah pelanggan melalui pipa khusus dengan jaringan yang tersebar ke beberapa tempat. Dari pipa ini aliran air disalurkan lebih lanjut ke titik-titik pemipaan dalam rumah untuk akhirnya disalurkan ke tiap keran yang ada. Berikut disajikan data jumlah air bersih yang disalurkan di wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001-2016:
Tabel 4.3
Jumlah Air Bersih Yang Disalurkan Menurut Kelompok Konsumen di Wilayah Kabupaten Deli Serdang dari Tahun 2001-2016 (M3) Tahun Sosial Non Niaga Niaga Industri Khusus Jumlah
2009 242965 3775611 633139 107694 876187 5635596
2010 182594 2708639 555754 106223 0 3553210 2016 369051 27806596 913576 10797 368194 29468214
Sumber: BPS Kabupaten Deli Serdang
Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa jumlah air bersih yang disalurkan selalu mengalami perubahan dan cenderung tidak konstan.Hal ini dikarenakan adanya beberapa pelanggan Perusahaan Air Minum yang beralih menggunakan sumur bor karena dianggap lebih hemat biaya.
Universitas Sumatera Utara
4.2.4 Investasi (Y)
Investasi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh para penanam modal yang menyangkut penggunaan sumber-sumber seperti peralatan, gedung, peralatan produksi dan mesin-mesin baru lainnya atau persediaan yang diharapkan akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut di masa yang akan datang.Investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri yang menggunakan modal dalam negeri.
Penanam Modal Dalam Negeri adalah perseorangan Warga Negara Indonesia, Badan Usaha Indonesia, Negara Republik Indonesia, atau daerah yang melakukan penanaman modal di wilayah Negara Republik Indonesia. Badan usaha Indonesia yang dimaksud disini dapat berbentuk perseroan terbatas (PT). Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri yang terdapat di wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001-2016 dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4
Realisasi Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001-2016 (Rupiah)
Tahun Realisasi Investasi PMDN (dalam juta Rp)
Sumber: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Deli Serdang
Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan bentuk investasi dengan membangun jalan, membeli total atau mengakuisisi perusahaan, atau kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatung dengan penanaman modal dalam negeri.
Penanaman modal asing (PMA) lebih banyak mempunyai kelebihan diantaranya sifatnya jangka panjang, banyak memberikan andil dalam teknologi, alih keterampilan manajemen, membuka lapangan kerja baru.Lapangan kerja ini sangat penting bagi Negara sedang berkembang mengingat terbatasnya kemampuan pemerintah untuk penyediaan lapangan kerja. Di wilayah Kabupaten
Universitas Sumatera Utara
Deli Serdang sendiri, realisasi investasi PMA dari tahun 2001-2016 dapat dilihat dalam tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5
Realisasi Investasi Penanaman Modal Asing di Wilayah Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2001-2016 (US$)
Tahun Realisasi Investasi PMA(dalam .00 US$) Pertumbuhan (%)
2001 21.851,5 -
Sumber: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Deli Serdang
4.3 Analisis Data dan Pembahasan 4.3.1 Uji Asumsi Klasik
4.3.1.1 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel yang digunakan mengikuti sebaran disribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distrubusi normal. Jika asumsi ini dilanggar, maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2011). Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik Kolmogrov-Smirnov atau biasa disingkat K-S. Uji K-S di buat dengan membuat hipotesis:
Ho : Data residual berdistribusi normal Ha : Data residual tidak berdistribusi normal
Bila sig > 0,05 dengan α = 5% berarti distribusi data normal (Ho diterima), sebaliknya bila sig < 0,05 dengan α = 5% berarti distribusi data tidak normal (Ha diterima).
Tabel 4.6
Hasil Pengujian Normalitas Menggunakan SPSS 16,00
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Infrastruktur Jalan Infratruktur Listrik Infrastruktur Air Investasi PMDN Investasi PMA N
a. Test distribution is Normal.
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Tabel 4.7
Keterangan Uji Normalitas
Variabel Probabilitas Acuan Keterangan Infrastruktur Jalan 0,704 0,05 Data Normal Infrastruktur Listrik 0,913 0,05 Data Normal
Infrastruktur Air 0,845 0,05 Data Normal
Investasi PMDN 0,995 0,05 Data Normal
Investasi PMA 0,475 0,05 Data Normal
Sumber: Data Diolah (Maret, 2018)
Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa nilai probabilitas yang diperoleh untuk masing-masing variabel berada diatas 0,05. Dengan demikian
Universitas Sumatera Utara
dapat dinyatakan bahwa hipotesis awal (H0) diterima dan data pengujian telah mengikuti distribusi normal dan dapat dilanjutkan ke tahap pengujian selanjutnya.
4.3.1.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Model regresi yang memenuhi persyaratan yaitu model yang terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap disebut homokedastisitas.
Tabel 4.8
Hasil Pengujian Heteroskedastisitas dengan Variabel Terikat PMDN Menggunakan SPSS 16,00
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Tabel 4.9
Hasil Pengujian Heteroskedastisitas dengan Variabel Terikat PMA Menggunakan SPSS 16,00
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Tabel 4.10
Keterangan Uji Heteroskedastisitas Variabel Probabilitas Variabel
Terikat Acuan Keterangan
Infrastruktur Jalan 0,704 PMDN 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas Infrastruktur Listrik 0,913 PMDN 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas Infrastruktur Air 0,845 PMDN 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas Infrastruktur Jalan 0,554 PMA 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas Infrastruktur Listrik 0,559 PMA 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas Infrastruktur Air 0,601 PMA 0,05 Tidak terdapat heteroskedastisitas
Sumber: Data Diolah (Maret, 2018)
Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi yang diperoleh untuk variabel Infrastruktur Jalan, Infrastruktur listrik dan Infrastruktur air masing-masing untuk PMDN ataupun PMA sudah berada diatas nilai 0,05. Nilai signfikansi yang dihasilkan tersebut berada diatas 0,05. Sehingga hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas.
Universitas Sumatera Utara
4.3.1.3 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Uji ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS. Apabila nilai tolerance value > 0,10 atau VIF < 10 maka disimpulkan tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 4.11
Hasil Pengujian Multikolinearitas Menggunakan SPSS 16,00
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Investasi PMDN
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Tabel 4.12
Keterangan Uji Multikolinearitas
Variabel Tollerance Acuan VIF Acuan Keterangan
Infrastruktur Jalan 0,021 >0,10 47,929 <10 Terdapat multikolinearitas Infrastruktur Listrik 0,016 >0,10 60,892 <10 Terdapat multikolinearitas
Infrastruktur Air 0,281 >0,10 3,558 <10 Tidak terdapat multikolinearitas Sumber: Data Diolah (Maret, 2018)
Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat bahwa nilai tolerance untuk variabel bebas masing-masing adalah 0,021, 0,016 dn 0,281. Selanjutnya nilai VIF yang diperoleh untuk masing-masing variabel bebas adalah 47,929, 60,892 dan 3,558.
Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa hanya variabel infrastruktur air yang tidak terjadi multikolinearitas, hal ini dikarenakan nilai tolerance>0,10 dan nilai VIF yang diperoleh<10.
4.3.1.4 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk mengtahui apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2006). Alat analisis yang digunakan adalah uji Durbin-Watson Statistic. Untuk mengetahui terjadi atau tidak autokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai statistik hitung Durbin Watson pada perhitungan regresi dengan statistik tabel Durbin Watson.
Tabel 4.13
Hasil Pengujian Autokorelasi dengan Variabel Terikat PMDN Menggunakan SPSS 16,00
a. Predictors: (Constant), Infrastruktur Air, Infrastruktur Jalan, Infratruktur Listrik b. Dependent Variable: Investasi PMDN
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.14
Hasil Pengujian Autokorelasi dengan Variabel Terikat PMA Menggunakan SPSS 16,00
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .761a .579 .474 .34557 1.779
a. Predictors: (Constant), Infrastruktur Air, Infrastruktur Jalan, Infratruktur Listrik b. Dependent Variable: Investasi PMA
Sumber: Hasil Perhitungan SPSS 16,00
Berdasarkan Tabel 4.13 dan 4.14 diatas dapat dilihat bahwa nilai Durbin Witson yang diperoleh untuk model dengan variabel terikat PMDN dan PMA masing-msing adalah 2,900 dan 1,779. Nilai dL yang terdapat pada tabel Durbin Witson dengan jumlah sampel sebanyak 16 dan variabel independen sebanyak 3 adalah 0,8572 sedangkan nilai dU adalah 1,7277. Nilai yang diperoleh tersebut lebih besar daripada nilai dL (0,8572) dan lebih kecil daripada nilai 4-dL (3,1428).
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada model penelitian yang digunakan.
4.3.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Adapun hasil estimasi yang dilakukan sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hasil Regresi Linier Berganda
Pengaruh Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Listrik dan Infrastruktur Air Terhadap Investasi PMDN di Wilayah Kabupaten Deli Serdang
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Investasi PMDN
Berdasarkan tabel 4.15 diatas diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Y1 = -1,522 + 6,619X1 -3,404X2 - 0,235X3 Berdasarkan persamaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Konstanta (a) = -1,522 ini menunjukkan harga constant, dimana jika variabel Infratruktur Jalan (X1 ), Infratruktur Listrik (X2 ), Infratruktur Air (X3 ) = 0, maka Investasi PMDNakan bernilai negatif/mengalami penurunan sebesar 1,522.
b. Koefisien X1 (b1 ) = 6,619, ini berarti bahwa variabel Infrastruktur Jalan(X1 ) berpengaruh positif terhadap Investasi PMDN, atau dengan kata lain jika Infratruktur Jalan (X1 ) ditingkatkan sebesar satu-satuan, maka Investasi PMDNakan bertambah sebesar 6,619. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif dan searah antara variabel Infrstruktur Jalan dengan
Universitas Sumatera Utara
Investasi PMDN, semakin meningkat Infrastruktur Jalan akan menambah nilai Investasi PMDN di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
c. Koefisien X2 (b2 ) = -3,404, ini berarti bahwa variabel Infrastruktur Listrik (X2 ) berpengaruh negatif terhadap Investasi PMDN, atau dengan kata lain jika Infratruktur Listrik(X2 ) meningkat sebesar satu-satuan, maka Investasi PMDN akan menurun sebesar 3,404. Koefesien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negative dan berbanding terbalik antara variabel Infratruktur Listrik dengan Investasi PMDN, semakin meningkat Infrastruktur Listrik maka akan semakin menurun pula nilai Investasi PMDN di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
d. Koefisien X3 (b3 ) = -0,235, ini berarti bahwa variabel Infratruktur Air (X3 ) berpengaruh Negatif terhadap Investasi PMDN, atau dengan kata lain jika Infratruktur Air (X3 ) meningkat sebesar satu-satuan, maka Investasi PMDN akan berkurang sebesar 0,235. Koefesien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara variabel Infratruktur Air dengan Investasi PMDN, semakin meningkat Infratruktur Air maka akan semakin berkurang nilai Investasi PMDN di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Hasil analisis regresi di atas menunjukkan bahwa jika variabel Infrastruktur jalan (X1 ) memiliki hubungan yang positif terhadap Investasi PMDN, sedangkan variabel Infratruktur Listrik (X2 ) dan Infratruktur Air (X3 ) memiliki hubungan yang negatif terhadap Investasi PMDN di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Tabel 4.16
Hasil Regresi Linier Berganda
Pengaruh Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Listrik dan Infrastruktur Air Terhadap Investasi PMA di Wilayah Kabupaten Deli Serdang Coefficientsa
Model
a. Dependent Variable: Investasi PMA
Berdasarkan tabel 4.16 diatas diperoleh hasil regresi sebagai berikut:
Y2 = -1,042 + 9,805X1 - 6,570X2 + 1,170X3 Berdasarkan persamaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Konstanta (a) = -1,042 ini menunjukkan harga constant, dimana jika variabel Infratruktur Jalan (X1 ), Infratruktur Listrik (X2 ), Infratruktur Air (X3 ) = 0, maka Investasi PMAakan bernilai negatif/mengalami penurunan sebesar -1,042.
b. Koefisien X1 (b1 ) = 9,805, ini berarti bahwa variabel Infrastruktur Jalan (X1 ) berpengaruh positif terhadap Investasi PMA, atau dengan kata lain jika Infratruktur Jalan (X1 ) ditingkatkan sebesar satu-satuan, maka Investasi PMA akan bertambah sebesar 9,805. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel Infrstruktur Jalan dengan Investasi PMA, semakin meningkat Infrastruktur Jalan akan menambah nilai Investasi PMA di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Universitas Sumatera Utara
c. Koefisien X2 (b2 ) = -6,570, ini berarti bahwa variabel Infrastruktur Listrik (X2 ) berpengaruh negatif terhadap Investasi PMA, atau dengan kata lain jika Infratruktur Listrik (X2 ) meningkat sebesar satu-satuan, maka Investasi PMA akan berkurang sebesar 6,570. Koefesien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara variabel Infratruktur Listrik dengan Investasi PMA, semakin meningkat Infrastruktur Listrik maka akan semakin berkurang pula nilai Investasi PMA di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
d. Koefisien X3 (b3 ) = 1,170, ini berarti bahwa variabel Infratruktur Air (X3 ) berpengaruh positif terhadap Investasi PMA, atau dengan kata lain jika Infratruktur Air (X3 ) meningkat sebesar satu-satuan, maka Investasi PMA akan berkurang sebesar 1,170. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel Infratruktur Air dengan Investasi PMA, semakin meningkat Infratruktur Air maka akan semakin meningkat pula nilai Investasi PMA di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Hasil analisis regresi di atas menunjukkan bahwajika variabel Infrastruktur Jalan (X1 ) dan Infrastruktur Air (X3 ) memiliki hubungan yang positif terhadap Investasi PMA, sedangkan variabel Infratruktur Listrik (X2 ) memiliki hubungan yang negatif terhadap Investasi PMA di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
4.3.2.1Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing atau secaraparsial variabel independen yaitu Infratruktur Jalan, Infratruktur Listrik dan Infratruktur Air terhadap variabel dependen yaitu Investasi PMDN dan PMA.
Untukmenentukan hipotesis digunakan kriteria sebagai berikut :
Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara variabel X1 , X2 , X3 dan X4 terhadap variabel Y1 dan Y2 .
Ha : Secara parsial ada pengaruh antara variabel X1 , X2 , X3 dan X4 terhadap variabel Y1 dan Y2.
a) Ho ditolak jika thitung > ttabel berarti bahwasecara individual ada pengaruh antara variabel bebas (variabel independen)dengan variabel terikat (variabel dependen)
b) Ho diterima jika thitung <ttabel berarti secara individual tidak ada pengaruhantara variabel bebas dengan variabel terikat.
Tingkat kesalahan (α) = 5% dan derajat kebebasan (df) = (n-k) n = jumlah sampel, n = 16
k = jumlah variabel yang digunakan, k = 4
Derajat kebebasan/ degree of freedom(df) =(n-k) = 16 - 4 = 2,179
Uji-t yang dilakukan adalah uji dua arah, maka ttabel yang digunakan adalah t0,05 (12) = 2,179. Hasil analisis uji t dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.17
Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji-t) dengan PMDN Sebagai Variabel Terikat
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Investasi PMDN
Universitas Sumatera Utara
Hasil uji t berdasarkan tabel 4.17 di atas adalah sebagai berikut : 1. Infratruktur Jalan (X1 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Jalan adalah 0,394 dan nilai ttabel 2,179 maka thitung < ttabel (0,394<2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel infrastruktur jalan tidak berpengaruh signifikan (0,700> 0,05) secara parsial terhadap Investasi PMDN.
2. Infrastruktur Listrik (X2 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Listrik adalah -0,259 dan nilai ttabel 2,179 makathitung <ttabel (-0,259<2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur Listriktidak berpengaruh signifikan (0,800>0,05) secara parsial terhadap Investasi PMDN.
3. Infrastruktur Air (X3 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Air adalah 0,240 dan nilai ttabel 2,179 makathitung <ttabel (0,240 < 2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur Air tidak berpengaruh signifikan (0,815> 0,05) secara parsial terhadap Investasi PMDN.
Tabel 4.18
Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji-t) dengan PMA Sebagai Variabel Terikat
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Investasi PMA
Hasil uji t berdasarkan tabel 4.18 di atas adalah sebagai berikut : 1. Infratruktur Jalan (X1 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Jalan adalah 1,138 dan nilai ttabel 2,179 maka thitung < ttabel (1,138<2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel infrastruktur jalan tidak berpengaruh signifikan (0,277 > 0,05) secara parsial terhadap Investasi PMA.
2. Infrastruktur Listrik (X2 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Listrik adalah -1,489 dan nilai ttabel 2,179 makathitung <ttabel (-1,489< 2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur Listrik tidak berpengaruh signifikan (0,328>0,05) secara parsial terhadap Investasi PMA.
3. Infrastruktur Air (X3 )
Nilai thitung variabel Infrastruktur Air adalah 2,431 dan nilai ttabel 2,179 makathitung <ttabel (2,431 > 2,179) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur Air berpengaruh signifikan (0,032<0,05) secara parsial
Universitas Sumatera Utara
terhadap Investasi PMA. Artinya, jika variabel Infrastruktur Air meningkat sebesar satu satuan, maka Investasi PMA akan bertambah sebesar 1,170.
4.3.2.2Uji Signifikan Simultan (Uji-F)
Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Kriteria pengujiannya adalah :
Ho : b1=0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Ho : b1 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
Ho diterima jika F hitung < F tabel pada α= 5%
Ho diterima jika F hitung < F tabel pada α= 5%