HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2.5. Pengujian Hipotesis
4.2.5.2. Uji Signifikan Simultan (Uji F)
1 Untuk mengetahui pengaruh simultan variabel bebas terhadap variabel terikat maka digunakan uji F. Hasil pengujian dengan menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:
Tabel 4.17 Hasil Uji F
Dari Tabel 4.17 dapat dilihat bahwa nilai F-hitung adalah 51,566, sedangkan nilai F-tabel 0,05 adalah 2,71. Karena F-hitung lebih besar dari F-tabel maka disimpulkan menolak H0 dan menerima Ha. Artinya, secara simultan variabel karakteristik individu, gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap etos kerja karyawan pada tingkat kepercayaan 95%.
93 4.2.5.3. Uji Determinasi (R2)
Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada Tabel berikut ini. Tabel 4.18
Hasil Uji Determinasi
Dari Tabel 4.18 dapat dilihat bahwa koefisien determinasi (Adjusted R Square) antara semua variabel bebas dengan etos kerja karyawan adalah sebesar 0,638.Artinya, sebesar 63,8 % dari perubahan etos kerja karyawan pada perusahaan dapat dijelaskan oleh perubahan variabel karakteristik individu, gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja secara serempak, sedangkan sisanya 36,2 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian, budaya perusahaan, seperti pelatihan, motivasi, dan kompensasi.
4.3. Pembahasan
Dari hasil penelitian diketahui bahwa karakteristik individu berpengaruh signifikan terhadap etos kerja pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Unit Performance & Budgeting – Kantor Wilayah 1 Medan, setiap peningkatan bobot karakteristik individu sebesar 1 akan meningkatkan bobot etos kerja karyawan sebesar 0,788. Semakin baik karakteristik individu, maka etos kerja karyawan juga akan semakin baik. Dengan demikian etos kerja pada bank dapat ditingkatkan dengan memperbaiki karakteristik individu karyawan. Karakteristik
94 individu yang harus diperbaiki adalah kesungguhan untuk bekerja serta kurangnya sikap jujur para karyawan dalam melaksanakan aktivitas.
Kesungguhan memegang peranan yang sangat penting dalam bekerja, sebab tanpa kesungguhan maka penyelesaian pekerjaan tidak akan berjalan dengan baik dan hasil kerja juga menjadi tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan demikian perlu dibuat suatu upaya akan para karyawan terdorong dan mau bekerja secara sungguh-sungguh, sehingga akan terlibat etos kerja yang baik seperti sikap yang optimis dan antusias.
Kejujuran dalam bekerja juga akan berpengaruh terhadap etos kerja, karena tanpa kejujuran maka aktivitas kerja pada perusahaan juga menjadi tidak sehat. Jika karyawan tidak jujur maka banyak proses kerja yang ditutupi, bahkan karyawan juga cenderung berupaya mencari cara untuk menutup atau memanipulasi hasil kerja yang buruk. Jika karyawan melakukan penipuan hasil kerja maka dapat dipastikan bahwa suasana hubungan kerjasama antara sesama karyawan, serta hubungan antara atasan dengan bawahan menjadi kurang bagus.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan dan dominan terhadap etos kerja pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Unit Performance & Budgeting – Kantor Wilayah 1 Medan. Setiap peningkatan bobot gaya kepemimpinan sebesar 1 akan meningkatkan bobot etos kerja karyawan sebesar 0,624. Semakin baik gaya kepemimpinan, maka etos kerja karyawan juga akan semakin baik. Dengan demikian etos kerja pada bank dapat ditingkatkan dengan memperbaiki gaya kepemimpinan sesuai dengan kelemahan yang diungkapkan oleh para responden. Menurut para responden dalam penelitian
95 ini, unsur gaya kepemimpinan yang kurang bagus pada bank adalah kurangnya komunikasi pimpinan dengan bawahannya, kurang membimbing karyawannya, kurang memberikan support, kurangnya melibatkan bawahannya dalam mengambil keputusan, kurangnya memotivasi karyawan agar diperoleh prestasi yang maksimal.
Pimpinan pada bank tergolong kurang ramah kepada bawahannya. Disamping itu, pemimpin juga tidak berusaha mendorong agar karyawan mampu meningkatkan prestasi. Keramahan pada orang lain termasuk kepada bawahan merupakan sifat pribadi yang terpuji sehingga sangat sesuai untuk dilaksanakan untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Jika pimpinan tidak bersifat ramah pada bawahan berarti hubungan antara atasan dengan bawahan akan menjadi kurang baik dan cenderung berada dalam kondisi kaku. Pada kondisi hubungan yang kaku, maka aliran informasi atau komunikasi yang efektif akan sulit terjadi, karena masing-masing pihak cenderung terbawa pada ego masing-masing. Atasan yang kurang ramah cenderung terbawa oleh posisinya yang lebih tinggi, sedangkan bawahan yang kaku akan cenderung kurang percaya diri jika berhadapan dengan atasan yang demikian.
Pimpinan juga kurang membimbing karyawannya, kurang memberikan support, kurangnya melibatkan bawahannya dalam mengambil keputusan, ini menunjukkan kurangnya keramahan pimpinan membuat karyawan juga kurang mendapat bimbingan dan support dari pimpinan, kemudian berdampak juga pada kurangnya keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, padahal
96 karyawan perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan karena karyawan itu sendiri sebagai pelaksana apa yang sudah dianggarkan oleh perusahaan.
Dorongan dari pimpinan terhadap bawahan agar mampu meningkatkan prestasi juga penting diwujudkan agar karyawan sebagai bawahan merasa mendapat perhatian yang tulus dari atasan. Dorongan kepada bawahan agar lebih giat bekerja dan meningkatkan prestasi akan meningkatkan rasa percaya diri dari bawahan, karena bawahan secara dekat merasa bahwa dirinya pada perusahaan cukup penting. Karyawan juga semakin sadar bahwa prestasi kerja yang baik cukup penting. Hal ini sejalan dengan pendapatan Kartono (2004:189) bahwa “Kepemimpinan atau Leadership adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang terorganisir dalam usaha-usaha menentukan tujuan dan mencapainya”.
Lingkungan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap etos kerja pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Unit Performance & Budgeting – Kantor Wilayah 1 Medan. Setiap peningkatan bobot lingkungan kerja sebesar 1 akan meningkatkan bobot etos kerja karyawan sebesar 0,116. Semakin baik lingkungan kerja, maka etos kerja karyawan juga akan semakin baik. Dengan demikian etos kerja pada bank dapat ditingkatkan dengan memperbaiki lingkungan kerja pada bank.
Berdasarkan jawaban responden maka unsur-unsur lingkungan kerja yang masih perlu diperbaiki adalah sirkulasi udara di tempat kerja, suara bising yang mengganggu konsentrasi pada saat melaksanakan pekerjaan, sistem keamanan, serta hubungan yang harmonis antara pemimpin dan karyawan.. Sirkulasi udara
97 ditempat kerja tidak baik, khususnya pada siang hari sehingga menimbulkan kegerahan saat bekerja. Demikian juga dengan suara bising kenderaan dari luar gedung telah mengganggu konsentrasi para pegawai yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tingkat kebisingan suara tersebut sering menghambat komunikasi antar pegawai karena suara pegawai tertutupi oleh suara bising. Untuk mengatasi suhu udara yang terlalu tinggi sebaiknya perusahaan mengupayakan agar disetiap ruangan terdapat pendingin udara berupa AC, sehingga udara di tempat kerja menjadi lebih sejuk. Menurut responden bahwa suhu udara di tempat kerja tidak mampu lagi dikendalikan jika hanya menggunakan kipas angin biasa. Selanjutnya, kebisingan suara dari luar ruangan perlu diatasi dengan menggunakan peredam suara yang dipasang pada gedung tempat kerja. Dengan demikian suara bising tidak sampai terdengar terlalu kuat ke dalam ruangan, dan konsentrasi pegawai saat bekerja tidak terganggu. Faktor lingkungan seperti kebisingan dapat menimbulkan kegelisahan saat bekerja dan mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Jika pelaksanaan pekerjaan terganggu maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut akan lebih lama, yang berarti prestasi kerja menjadi lebih rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Nitisemito (2004:183) bahwa “Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan”.
98 BAB V