BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sampel Penelitian
4.4.3 Uji Statistik T
Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.
Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
- H0 : Xi = 0, artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
- H1 : Xi = 0, artinya ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Penerimaan atau penolakan hipotesis dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
1. Jika nilai signifikansi t statistik > 0,05, maka H0 diterima. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
2. Jika nilai signifikansi t statistik < 0,05, maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.
Tabel 4.9 Hasil Uji T (Parsial)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.702 .579 2.939 .005
Leverage -2.839 4.129 -.088 -.688 .496
Ukuran Legislatif .016 .004 .561 4.105 .000
Intergovernmental Revenue .094 .308 .041 .304 .763
Pendapatan Pajak -.059 .019 -.417 -3.024 .004
a. Dependent Variable: Kinerja Keuangan
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2016
Berdasarkan Tabel 4.7, hasil analisis uji regresi menyatakan bahwa leverage dan intergovernmental revenue tidak memiliki pengaruh secara parsial (individual) terhadap kinerja keuangan. Namun ukuran legislatif dan pendapatan pajak secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan.
Leverage memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.496 > 0.05, artinya leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
Ukuran legislatif memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.000 < 0.05, artinya ukuran legislatif secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
Intergovernmental revenue memiliki nilai signifikansi t sebesar 0.763 > 0.05, artinya intergovernmental revenue secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Pendapatan pajak memiliki nilai signifikansi t sebesar
0.004 < 0.05, artinya pendapatan pajak secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
4.4.4 Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model menerangkan variasi variabel dependen. Range nilainya adalah 0 sampai 1, apabila nilai R2 kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas, dan sebaliknya apabila R2 besar (mendekati nilai 1) berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel-variabel dependen besar. Nilai R2 dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.10
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .599a .358 .294 .20459 1.807
a. Predictors: (Constant), Pendapatan Pajak, Leverage, Intergovernmental Revenue, Ukuran Legislatif
b. Dependent Variable: Kinerja Keuangan
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2016
Berdasarkan tabel 4.10, besarnya nilai R Square (R2) adalah 0.358 yang berarti sebesar 0.358 atau (35.8%) variabel independen yaitu leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak mampu menjelaskan kinerja keuangan. Sedangkan sisanya sebesar 64.2% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
4.5.1 Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah leverage berpengaruh signifikan terhadap kinjera keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa leverage (yang diproksikan dengan 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦𝑑𝑒𝑏𝑡 ) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indoneisa. Dengan Hasil tersebut maka H1 ditolak.
Secara teoritis, leverage menunjukkan proporsi pendanaan daerah yang dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi leverage suatu daerah berarti semakin tinggi pula ketergantungan daerah tersebut kepada pemerintah pusat. Hal ini sesuai dengan agency teory, yaitu hubungan keagenan antara principal (pemerintah pusat) dengan agennya (pemerintah daerah). Pemerintah daerah akan berusaha memberikan informasi yang seluas-luasnya mengenai kondisi derahnya kepada debitur (pemerintah pusat). Dengan harapan pemerintah pusat lebih mengetahui dan memahami pemerintah daerah dalam kaitannya dengan kredit yang diberikan. Semakin tinggi tingkat leverage daerah, maka akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya transfer kemakmuran dari debitur. Sehingga untuk mempengaruhi hal tersebut pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan kinerja keuangan daerahnya guna memenuhi tuntutan debiturnya. Dengan asumsi tersebut maka secara teoritis leverage memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan, namun dalam penelitian ini ternyata leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah di kabupaten/kota di Indonesia.
Penelitian terdahulu yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012); Maiyora (2015) dan Rochmah (2015) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah.
4.5.2 Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinjera keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran legislatif (yang diproksikan dengan jumlah anggota legislatif yang bertugas mengawasi pemerintah daerah) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indoneisa. Dengan Hasil tersebut maka H2 diterima.
Secara teoritis, banyaknya jumlah anggota legislatif diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga berdampak dengan adanya peningkatan kinerja keuangan pemerintah daerah. Sumarjo (2010) menyatakan bahwa lembaga legislatif merupakan lembaga yang memiliki potensi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah. Gilligan dan Matsusaka (2001) menemukan bahwa ada pengaruh positif ukuran legislatif terhadap kebijakan pendapatan dan pengeluaran suatu pemerintah daerah. Oleh karena itu, semakin banyak anggota legislatif diharapkan semakin dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga terjadi peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan pemerintah daerah.
S
ecara teoritis ukuran legislatif memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan, dandalam penelitian ini terbukti bahwa ukuran legislatif memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
Penelitian terdahulu yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sumarjo (2010) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah. Sebaliknya penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012), Anzarsari (2014), Maiyora (2015) dan Rochmah (2015) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah.
4.5.3 Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah intergovernmental revenue berpengaruh signifikan terhadap kinjera keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa intergovermental revenue secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indoneisa. Dengan Hasil tersebut maka H3 ditolak.
Secara teoritis, intergovernmental revenue sebagai salah satu pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan pemerintah daerah. Sebagai timbal baliknya, pemerintah daerah membelanjakan pendapatan transfer antar pemerintah sesuai dengan alokasi dan petunjuk anggaran dan menurut undang-undang. Maka dengan adanya transfer tersebut maka pemerintah daerah akan berupaya meningkatkan
kinerjanya. Sehingga secara teoritis dapat disimpulkan bahwa intergovermenal revenue memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan, namun dalam penelitian ini ternyata intergovermenal revenue tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah di kabupaten/kota di Indonesia.
Penelitian terdahulu yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa intergovernmental revenue tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah. Sebaliknya penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumarjo (2010), Anzarsari (2014) dan Maiyora (2015) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa intergovernmental revenue berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah.
4.5.4 Hipotesis Keempat
Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indoneisa. Dengan Hasil tersebut maka H4 diterima.
Secara teoritis, Secara umum pajak adalah pungutan dari masyarakat oleh Negara (pemerintah) berdasarkan Undang-Undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali (kontra prestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya digunakan
untuk membiayai pengeluaran Negara dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa pajak adalah pembayaran wajib yang dikenakan berdasarkan Undang-Undang yang tidak dapat dihindari bagi yang berkewajiban dan bagi mereka yang tidak mau membayar pajak dapat dilakukan paksaan. Dengan demikian, akan terjamin bahwa kas Negara selalu berisi uang pajak. Dengan adanya pajak maka kas Negara akan tersedia sehingga untuk melaksanakan tugasnya pemerintah dapat bekerja secara maksimal dan dapat meningkatkan kinerjanya.
S
ecara teoritis pendapatan pajak daerah memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan, dan dalam penelitian ini terbukti bahwa pendapatan pajak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.Penelitian terdahulu yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012) dan Alfarisi (2015) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan pajak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah.
4.5.5 Hipotesis Kelima
Hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hipotesis kelima yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa setelah dilakukan pengujian hipotesis secara simultan, berdasarkan tabel ANOVA terlihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan sebesar 0.001 yang lebih kecil dari signifikansi 0.05. Ini berarti hasil uji F menunjukkan leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan
pendapatan pajak secara simultan (bersama-sama) memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu kinerja keuangan. Untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen menggambarkan kinerja keuangan maka dilakukan uji koefisien determinasi, dan hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel independen yaitu leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak mampu menjelaskan kinerja keuangan sebesar 35.8%. Sedangkan sisanya sebesar 64.2% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Dengan hasil tersebut maka H5 diterima.
Berdasarkan pembahasan di atas, hasil pengujian dalam penelitian ini secara lebih rinci disajikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.11 pajak daerah secara simultan berpengaruh
0.001 diterima
signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia Sumber: Data diolah, 2016
Berdasarkan Tabel di atas, setelah dilakukannya pengujian hipotesis secara parsial, menunjukkan bahwa ada dua variabel independen (leverage dan intergovernmental revenue) yang tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah, maka H1 dan H3 ditolak. Sedangkan dua variabel independen lainnya (ukuran legislatif dan pendapatan pajak daerah) berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan, sehingga H2 dan H4 diterima. Untuk pengujian hipotesis secara bersama-sama (simultan) didapatkan hasil yang menyatakan bahwa seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil ini maka H5 diterima.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data pada penelitian ini, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
2. Ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
3. Intergovernmental revenue tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
4. Pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
5. Leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.
5.2 Saran
1. Penelitian ini hanya dilakukan berdasarkan pada alat ukur (parameter) yang penulis ketahui semata, sehingga hasil penelitian ini kemungkinan tidak sama jika diaplikasikan pada alat ukur (parameter) yang lain. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan alat ukur (parameter) yang lain sehingga hasilnya dapat dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya.
2. Dalam penelitian ini variabel independen yang diteliti hanya leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah saja. Pada penelitian selanjutnya disarankan agar meneliti lebih banyak variabel independen yang memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah seperti kemakmuran (wealth), ukuran pemerintahan (size), retribusi daerah serta dana perimbangan.
3. Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara ukuran legislatif dengan kinerja keuangan pemerintah daerah, semakin besar ukuran legislatif (DPRD) maka kinerja keuangan pemerintah daerah juga akan semakin meningkat, dengan begitu diharapkan agar masing-masing daerha memiliki tenaga legislatif yang cukup untuk memantau kinerja dari pemerintah daerah agar tercapai kinerja keuangan yang baik pada setiap pemerintah daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Accounting Volume 1 IFRS Edition. Unites States of America: John Wiley and Sons, Inc.
Afiah, Nunuy Nur. 2009. Pengaruh Kompetensi Anggota DPRD Dan Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah Terhadap Pelaksanaan System Informasi Akuntansi. Working Paper In Accounting And Finance Padjajaran University.
Agus, Nuniek Avianti.2000. Mudah Belajar MATEMATIKA. Buku Sekolah Elektronik (BSE). Pusat Perbukuan depdiknas.
Alfarisi, Salman. 2009. Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dan Dana Perimbangan Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Kabupaten Dan Kota Di Provinsi Sumatera Barat). Jurnal.
Fakultas Ekonomi Universitas Negri Padang.
Almilia, L. Spica dan Retrinasari, Ikka. 2007. Analisis Pengaruh Karateristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan dalam Laporan Tahunan Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEJ. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Inovasi dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan Bisnis, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, 9 Juni 2009.
Anzarsari, Desy.2014. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah). Skripsi. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Azhar, Muhammad Karya Satya. 2008. Analisa Kinerja Keuangan pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Sebelum dan Setelah Otonomi Daerah. Tesis
Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Erlangga.
Chariri, Anis dan Imam Ghozali. 2003. Teori Akuntansi. Semarang : BP Undip Choiriyah, Umi. 2010. Information Gap Pengungkapan Lingkungan Hidup Di
Indonesia. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.Tidak dipublikasi.
Chow, C.W., Ganulin, D., Haddad, K. and Williamson, J. 1998. The balanced scorecard: a potent tool for energizing and focusing health-care organization management. Journal of Health-care Management.
Cohen, Sandra.2006. Identifying the Moderator Factor of Financial Performance in Greek Municipal. Annuall Conference. 5th. HFAA. Thessaonica.
Fitriyani, Ismi Rizky dan Partolo, Suryo 2009. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Pembangunan Terhadap Rasio Kemandirian dan Pertumbuhan Ekonomi. Penelitian Keuangan Akuntansi Sektor Publik II Badan Litbang Departemen Dalam Negeri, Bidakara, 2-3 Juni 2009.
Florida, Asha. 2008. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten Dan Kota Di Provinsi Sumatera Utara. Skripsi. Medan: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Ghozali dan Chariri, 2007. Teori Akuntansi. Semarang : Badan Penerbit Undip.
Giligan, Thomas W and Matsusaka, John G. 2001. Fiscal Policy, Legislature Size, and Political Parties: Evidence from State and Local Governments in the First Half of the 20th Century. National Tax journal. Vol. 54: 57-82.
Greiling, Dorothea. 2005. Performance Measurement in the Public Sector: the German Experience. International Journal of Productivity and Performance Management, (Online), Vol. 54 Iss: 7,
Groves, Sanford M, S.Godsey, dan Shulman. 2001. Financial Indicator Forlocal Government. Public Finance International City Management Association.
9
Gujarati, Damodar N. 1993. Ekonometrika Dasar, cetakan ketiga, Erlangga, Jakarta
Halachmi, Arie. 2005. Performance measurement is only one way of managing performance. International Journal of Productivity and Performance Management. Vol. 54: 502-516.
Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.
Jakarta: Salemba Empat.
Hamzah, Ardi. 2008. Analisa Kinerja Keuangan terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran, dan Kemiskinan: Pendekatan Analisis Jalur (Studi pada
29 Kabupaten dan 9 Kota di Propinsi Jawa Timur Periode 2001-2006).
Jurnal. Universitas Trunojoyo Madura.
Handra, Hefrizal dan Maryati, Sri. 2009. Analisis Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bukan Pajak Pemerintah Propinsi Sumatra Barat. Konferensi Penelitian Keuangan Sektor Publik II Badan Litbang Departemen Dalam Negeri.
Haniffa, R.M. dan T.E. Cooke, 2005, “The Impact of Culture and Governance on Corporate Social Reporting”, Journal of Accounting and Public Policy 24, pp. 391-430.
Julitawati, Ebit, Darwanis, dan Jalaluddin. 2012. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh. Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Vol. 1, No.1: 1-15.
Kieso, E. Donald, Weygandt, Jerry, and Warfield, Terry. 2011. Intermediate Kusumawardani, Media. 2012. Pengaruh Size, Kemakmuran, Ukuran Legislatif,
Leverage terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia.
Accounting Analysis Journal 1 (1).
Mahsun, Mohamad. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE Maiyora, Gita.2015. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja
Keuangan Pemerintah Darah Kabupaten/Kota (Studi Empiris Kabupaten/Kota Di Pulau Sumatera). Jurnal. FEKON vol 2 no 2oktober 2015. Universitas Riau.
Mandell, Lee M. 1997. Performance Measurements and Management Tools in North Carolina Local Goverment. Public Administration Quarterly;
Spring 1997; Vol. 21: 96.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.
Nam, Chan Woon dan Parsche, Rudiger. 2002. Looking for Appropriate forms of Intergovernmental Transfers for Municipalities in Transition Economies.
Makalah disajikan dalam 42nd Congress of the European Regional Science Association (ERSA), Dortmund, 27-31 Agustus 2002.
Nolan, James F, Moore, Adrian, dan Segal, Geoffrey. 2003. Putting out the trash:
measuring municipal service efficiency in U.S. cities. Working Paper Series. SSRN September
Noor, Hasanuddin, 2009. Psikometri Aplikasi Penyusunan Instrumen Pengukuran Perilaku. Bandung: Fakultas Psikologi UNISBA.
Patrick, P. A. 2007. The Determinant of Organizational Inovativeness: The Adoption of GASB 34 in Pennsylvania Local Government. Unpublished Ph.D Dissertation. Pennsylvania: The Pennsylvania State University.
Perwitasari, Citra. 2010. The Influence of Financial Performance to the Level of Accountability Disclosure of Indonesia’s Local Government. Tesis Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Rochmah, Nur, Siti.2015. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH (Studi Emipiris Pada Kota dan Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2012).
Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sadjiarto, Arja. 2000. Akuntabilitas dan Pengukuran Kinerja Pemerintahan.
Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol. 2 (2): 138-150.
Sekaran, Uma dan Bougie, Roger. 2010. Research Methods for Business-A Skill Building Approach-5th Edition. United Kingdom: John Wiley&Sons Ltd.
Sesotyaningtyas, Mirna. 2012. Pengaruh Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue Dan Pendapatan Pajak Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Accounting analysis Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.
Setyaningrum, Dyah & Febriyani Syafitri. 2012. Analisis Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Volume 9, No.2 Tahun 2012.
Sudarmadji, A. Murdoko, dan Sularto, Lana. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage dan Tipe kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan, Jakarta, Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007.
Suhardjanto, Djoko., Rusmin, Mandasari., Putriesti., dan Brown, Alistair. 2010.
‘Mandatory Disclosure Compliance and Local Government Charactheristics: Evidence From Indonesian Municipalities’. Journal Public Policy January 2010.
Sumarjo, Hendro. 2010. Pengaruh Karakteristik Pemerntah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
Tim Penyusun STAN. 2007. Dasar-Dasar Audit Internal Sektor Publik. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik. STAN : Jakarta.
Wahid Sulaiman, 2004, Analisis Regresi Menggunakan SPSS, Yogyakarta : Andi Offset.
Weill, Laurent. 2003. Leverage and Corporate Performance: A Frontier Efficiency Analysis on European Countries. Working Paper. Working Paper Series. SSRN May.
Winarna, J and Murni, S. 2007. Pengaruh Personal Background, Political Background, dan Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap Peran DPRD Dalam Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Kasus Di Karesidenan Surakarta Dan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2006).
Simposium Nasional Akuntansi X.
Wiratraman, R. Herlambang Perdana. 2009. Paradigma Hukum dan Demokratisasi dalam Pengelolaan Keuangan Daerah. www.google.com.
Wood, L. 1998. Local Government Dollars & Sense (Rancho Palos Verdes, CA.:
Training Shoppe).
www.antaranews.com. 2007
LAMPIRAN
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Leverage 45 .00 .03 .0054 .00752
Ukuran Legislatif 45 19.00 50.00 39.0444 8.74371
Intergovernmental Revenue 45 .48 .94 .7382 .10792
Pendapatan Pajak 45 21.49 28.52 24.8135 1.73428
Kinerja Keuangan 45 .01 1.24 .9116 .24354
Valid N (listwise) 45
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 45
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation .19506961
Most Extreme Differences Absolute .187
Positive .122
Negative -.187
Kolmogorov-Smirnov Z 1.257
Asymp. Sig. (2-tailed) .085
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
a. All requested variables entered.
Model Summaryb
a. Predictors: (Constant), Pendapatan Pajak, Leverage, Intergovernmental Revenue, Ukuran Legislatif
b. Dependent Variable: Kinerja Keuangan
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression .935 4 .234 5.587 .001a
Residual 1.674 40 .042
Total 2.610 44
a. Predictors: (Constant), Pendapatan Pajak, Leverage, Intergovernmental Revenue, Ukuran Legislatif
b. Dependent Variable: Kinerja Keuangan
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Kinerja Keuangan
Residuals Statisticsa
Minimum Maximum Mean Std. Deviation N
Predicted Value .3529 1.1555 .9116 .14581 45
Std. Predicted Value -3.832 1.673 .000 1.000 45
Standard Error of Predicted Value
.036 .138 .065 .022 45
Adjusted Predicted Value .5535 1.1678 .9158 .13435 45
Residual -.82869 .27667 .00000 .19507 45
Std. Residual -4.050 1.352 .000 .953 45
Stud. Residual -4.160 1.531 -.008 1.020 45
Deleted Residual -.87416 .35478 -.00426 .22593 45
Stud. Deleted Residual -5.454 1.558 -.049 1.185 45
Mahal. Distance .396 19.130 3.911 3.858 45
Cook's Distance .000 .595 .035 .109 45
Centered Leverage Value .009 .435 .089 .088 45
a. Dependent Variable: Kinerja Keuangan