HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1 Tahap Persiapan
3) Uji T-Test Data N-gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut:
H0 :Tidak terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa kelas X di MA Negeri 2 Palembang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token.
Ha :Terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa kelas X di MA Negeri 2 Palembang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token.
Adapun uji hipotesis tersebut menggunakan rumus uji-t sebagai berikut: π‘πππ‘π’ππ = π β1 π2 π1β1 π 12+ π2β1 π 22 π1+ π2β2 1 π1+ 1 π2
Kriteria pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah terima H0 jika thitung< t1- Ξ± dan tolak H0 jika t mempunyai harga- harga lain. Derajat kebebasan untuk daftar distribusi t ialah (n1 + n2 β 2) dengan peluang ( 1 βΞ± ), Ξ± = 0,05.
Dari hasil perhitungan sebelumnya diperoleh: n1 = 42 n2 = 44 π₯1 = 0,7198 π₯2 = 0,6502 π 12 = 0,0123 π 22 = 0,018
Sehingga dapat dilakukan perhitungan pengujian hipotesis sebagai berikut: π‘πππ‘π’ππ = π β1 π2 π1β1 π 12+ π2β1 π 22 π1+ π2β2 1 π1+ 1 π2 π‘πππ‘π’ππ = 0,7198β0,6502 42β10,0123 + 44β10,018 42+ 44β2 1 42+ 1 44 π‘πππ‘π’ππ = 0,0696 0,5043 +0,774 84 0,0465 π‘πππ‘π’ππ = 0,0696 β0,0007 π‘πππ‘π’ππ = 2,636
Dari hasil uji-t, diperoleh thitung = 2,636 dengan dk = 84 dengan taraf
signifikan 5%, maka ttabel adalah 1,6632. Sehingga didapat thitung> ttabel, maka
Ha diterima. Berdasarkan kriteria pengujian uji-t dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa kelas X di MA Negeri 2 Palembang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token.
B.Pembahasan
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan yang terjadi di MA Negeri 2 Palembang sebagai hasil observasi selama PPLK II yaitu adanya sebagian besar siswa yang tidak termotivasi untuk aktif bahkan cenderung lebih pasif dalam pembelajaran karena peserta didik hanya dituntut untuk menerima pengetahuan bukan menggali makna. Hal itu juga berpengaruh pada hasil belajar sebagian besar siswa yang tidak sesuai dengan KKM yang berlaku di sekolah tersebut.
Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan teknik probability sampling jenis cluster sampling sehingga diperoleh sampel X.IPA1 sebagai kelas eksperimen dan X.IPA3 sebagai kelas kontrol. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui keaktifan siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token dalam
pembelajaran matematika pada pokok bahasan bentuk akar kelas X di MA Negeri 2 Palembang.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan observasi dan tes.
Observasi berfungsi untuk mengidentifikasi dan mengetahui keadaan dan masalah yang terjadi dalam pembelajaran di sekolah tersebut. Selain itu, observasi juga
digunakan peneliti untuk mengetahui keaktifan belajar siswa di kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Guru mata pelajaran selaku observer mengamati jalannya kegiatan pembelajaran siswa dengan menilai beberapa aspek keaktifan yaitu kepatuhan terhadap aturan dalam kelompok; memberikan ide, usul, dan saran dalam pembelajaran; mengikuti pembelajaran dengan semangat dan antusias; memperhatikan ketika teman lain sedang menyampaikan persentasi atau pendapat; dan bertanggung jawab dalam kelompok. Berikut adalah gambaran mengenai hasil observasi keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen:
Diagram 1
Persentase Rata-Rata Keaktifan Belajar Siswa Setiap Pertemuan
Diagram diatas menunjukkan bahwa rata-rata hasil observasi keaktifan belajar siswa kelas eksperimen pada setiap indikator di setiap pertemuannya mengalami peningkatan. Salah satu faktor penyebabnyaadalah motivasi yang selalu diberikan peneliti di setiap awal pertemuannya berupa pemberian reward bagi kelompok yang mengumpulkan skor terbanyak dan juga bagi siswa yang memiliki nilai posttest tertinggi. Sebagaimana Aqib (2013: 33) menyimpulkan bahwa model pembelajaran yang digunakan pada kelas eksperimen ini merupakan model pembelajaran yang melatih dan mengembangkan keterampilan sosial siswa,
0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5 Pertemuan 1 76.19% 71.43% 71.43% 69.05% 78.57% Pertemuan 2 83.33% 76.19% 71.43% 71.43% 83.33% Pertemuan 3 90.48% 90.48% 83.33% 85.71% 95.24%
karena itulah di kelas eksperimen ini semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Tidak ada dominasi siswa atau siswa yang diam sama sekali.
Dalam pelaksanaannya, indikator pertama mengalami peningkatan di setiap pertemuannya. Semakin lama siswa semakin terbiasa dalam menggunakan model pembelajaran ini sehingga tingkat kepatuhan mereka terhadap aturan yang berlaku semakin tinggi.Walaupun pada pertemuan di awal materi, beberapa siswa yang ingin menyampaikan pendapat tidak teratur dengan langsung berada di depan kelas sebelum ditentukan kelompok mana yang akan mempresentasikan jawabannya. Namun hal tersebut dapat ditanggulangi peneliti dengan mengulangi aturan dalam pembelajaran ini.
Indikator kedua juga mengalami peningkatan. Keterampilan berbicara siswa lebih terlihat pada indikator ini. Pertanyaan, jawaban, dan tanggapan siswa dalam kegiatan pembelajaran menjadi faktor utama dalam mengaplikasikan model pembelajaran kooperatif tipe time token ini. Hanya saja dalam pelaksanaannya, sebagian besar siswa baru mampu menggunakan βkartu bicaraβ nya dalam
menyampaikan ide berupa jawaban dari soal-soal yang diberikan di Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibagikan.Walaupun begitu, terdapat siswa yang
menyampaikan pertanyaan sehingga siswa lain tidak mampu menanggapinya. Sebagai contoh, pertanyaan yang disampaikan oleh Adella Indah Nurjanah
mengenai alasan mengapa π+π Β± 2βππ= βπ Β± βπ. Untuk itu, peneliti selaku guru yang menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan pembuktian kepada
Pada indikator ketiga, setiap pertemuannya siswa terlihat semangat dan antusias dalam melaksanakan langkah-langkah pada kegiatan pembelajaran. Hal ini terjadi karena model pembelajaran ini belum pernah digunakan sebelumnya. Selain itu, pembentukan kelompok membuat siswa semakin semangat dalam bertukar informasi yang mereka ketahui tentang materi yang sedang dipelajari.
Sama seperti indikator sebelumnya, persentase indikator keempat ini juga mengalami peningkatan pada setiap pertemuannya. Namun banyak dari siswa belum secara mandiri dapat memperhatikan ketika teman lainnya menyampaikan presentasi atau pendapat. Siswa masih banyak terganggu konsentrasinya yaitu βmengobrolβ dengan teman kelompoknya. Oleh karena itu, jika hal
tersebutterjadi, guru selalu meminta perhatian siswa untuk dapat memperhatikan ketika teman lainnya sedang menyampaikan pendapat atau presentasi.
Dan pada indikator terakhir, siswa dapat terlihat bertanggungjawab dalam kelompok pada setiap pertemuannya. Hal ini terlihat pada saat diskusi kelompok berlangsung, siswa saling bertukar informasi mengenai materi yang dipelajari dan bertanya mengenai cara menyelesaikan soal yang terdapat dalam Lembar Kerja Siswa (LKS).
Sehingga berdasarkan diagram hasil observasi keaktifan belajar siswa ini disimpulkan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif tipe time token,
kegiatan pembelajaran dapat menimbulkan suasana yang menyenangkan, memacu keaktifan belajar siswa, melatih rasa percaya diri siswa dan memotivasi siswa untuk belajar mandiri.
Sedangkan tes digunakan peneliti untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah diadakan treatment pada kelas kontrol dan eksperimen. Jenis tes yang digunakan adalah tes tertulis berbentuk uraian dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 30
Rincian Soal Tiap Item
Nomor Soal
Aspek Kognitif Indikator Hasil Belajar
Pretest Posttest
1 1 Pemahaman
Siswa dapat mengetahui contoh dan bukan contoh bentuk akar
2 2 Pemahaman
Siswa dapat menyelesaikan operasi aljabar pada bentuk akar
3 3 Penerapan
Siswa dapat mengubah bentuk akar dengan bilangan berpangkat pecahan, atau sebaliknya
4 4 Pemahaman Siswa dapat merasionalkan bentuk akar
Dalam penelitian ini, hasil belajar menjadi variabel yang diperhatikan. Menurut Sudjana (2005:22), hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah melalui pengalaman belajarnya. Kemampuan yang dimaksud adalah pemikiran, sikap, maupun keterampilan yang diperoleh siswa setelah diadakan proses pembelajaran. Penelitian ini mengukur hasil belajar siswa pada ranah kognitif dengan aspek pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Penjelasan lebih rinci mengenai soal-soal tersebut adalah sebagai berikut:
54% 52% 51% 52% 53% 54% 55%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Pretest
Siswa Soal Nomor 1 1. Hasil Pretest
a. Hasil Pretest Soal Ke-1
Diagram 2
Soal uraian pretest nomor 1 ini mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu bukan hanya mengukur kemampuan mengingat bahan yang telah dipelajari siswa, tetapi juga kemampuan menangkap pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini terdiri dari 4 anak soal uraian. Adapun bentuk soal pretest ini adalah:
Manakah yang merupakan bentuk akar dan bukan bentuk akar dari bentuk-bentuk bilangan berikut disertai alasannya!
a. β150
b. β3 27
c. 3β5
d. β6 64
Diagram diatas menunjukkan hasil siswa dalam menjawab pertanyaan soal pretest nomor 1 dengan persentase sebesar 54% dan 52% masing-masing di kelas eksperimen dan kontrol sebagaimana terlampir pada lampiran 19. Hal ini berarti sebagian besar siswa telah mampu mempelajari
30% 37% 0%
20% 40%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Pretest
Siswa Soal Nomor 2
secara mandiri konsep dasar dari bentuk akar. Hanya saja belum terdapat siswa yang dengan tepat menjawab soal ini secara keseluruhan. Adapun contoh jawaban siswa pada soal pretest nomor 1 ini adalah seperti berikut:
Gambar 5
Jawaban Siswa Soal Pretest Nomor 1
b. Hasil Pretest Soal Ke-2
Diagram 3
Soal uraian pretest nomor 2 ini juga mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu mengukur kemampuan siswa dalam menangkap pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini juga terdiri dari 4 anak soal uraian. Adapun bentuk soal pretest ini adalah:
Selesaikan operasi bentuk akar berikut: a. 2β3 4β 3 3β4
b. β80 + β45 - β20
c. 3β2 x 4β3 x β6
d. (5 + 2β3) (5 - 2β3)
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 2 ini dapat dikerjakan dengan persentase sebesar 30% dan 37% masing-masing di kelas eksperimen dan kontrolsebagaimana terlampir pada lampiran 19. Sebagian besar siswa hanya mampu menjawab soal nomor 2a dan 2c karena, proses penjumlahan pada soal 2a telah ada pada bentuk akar senama yaitu bentuk akar yang mempunyai eksponen dan basis yang sama, sehingga berlaku sifat
π βππ + π βππ = π+π βππ , sedangkan untuk soal 2c bentuk akar telah sejenis, yaitu bentuk akar yang mempunyai eksponen yang sama sehingga berlaku sifat π βππ π₯π βππ = ππ₯π π ππ₯π .Adapun contoh jawaban siswa pada soal pretest nomor 2 ini adalah seperti berikut:
Gambar 6
5% 0% 0% 1% 2% 3% 4% 5% 6%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Pretest
Siswa Soal Nomor 3 c. Hasil Pretest Soal Ke-3
Diagram 4
Soal uraian pretest nomor 3 ini mengukur aspek penerapan atau aplikasi pada ranah kognitif siswa, yaitu mengukur kemampuan menggunakan bahan yang telah dipelajari dalam situasi baru dan nyata. Adapun bentuk soal pretest ini adalah:
Jika diketahui x = 16 dan y = 27, sederhanakan dan ubah ke dalam bentuk akar kemudian tentukan nilai dari bentuk
(
π₯β23π¦β13
π₯23
)
β3 4
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 3 ini hanya dapat dikerjakan dengan persentase sebesar 5% dan 0% masing-masing di kelas eksperimen dan kontrol sebagaimana terlampir pada lampiran 19. Hal ini berarti bahwa siswa belum mampu mengubah bentuk pangkat pecahan ke bentuk akar walaupun materi ini telah dipelajari pada pokok bahasan bentuk pangkat sebelumnya.
9% 5% 0% 2% 4% 6% 8% 10%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Pretest
Siswa Soal Nomor 4 d. Hasil Pretest Soal Ke-4
Diagram 5
Soal uraian pretest nomor 4 ini mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu bukan hanya mengukur kemampuan mengingat bahan yang telah dipelajari siswa, tetapi juga kemampuan menangkap pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini terdiri dari 4 anak soal uraian. Adapun bentuk soal pretest ini adalah:
Sederhanakan bentuk-bentuk akar berikut ini dengan merasionalkan penyebut-penyebutnya! a. 2β5 β15 b. 2ββ3 β4 c. 4ββ2 3+ β2 d. 9β4β5
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 4 ini hanya dapat dikerjakan dengan persentase sebesar 9% dan 5% masing-masing di kelas eksperimen dan kontrol sebagaimana terlampir pada lampiran 19. Hal ini berarti bahwa siswa belum mampu mempelajari secara mandiri cara
merasionalkan dan menyederhanakan bentuk akar. Adapun contoh jawaban siswa pada soal pretest nomor 4 ini adalah seperti berikut:
Gambar 8
Jawaban Siswa Soal Pretest Nomor 4 2.Hasil Posttest
Soal-soal posttest ini memiliki kesamaan aspek pada ranah yang akan diukur dengan soal pretest sebelumnya. Jenis soal juga memiliki kesamaan namun angka-angka yang digunakan pada setiap soal dibedakan dengan soal pretest sebelumnya. Hal ini bertujuan agar siswa memperoleh variasi pengetahuan dalam mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan bentuk akar. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai hasil posttest dijelaskan di bawah ini:
92% 88% 86% 88% 90% 92% 94%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Posttest
Siswa Soal Nomor 1 a. Hasil Posttest Soal Ke-1
Diagram 6
Soal uraian posttest nomor 1 ini mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu mengukur kemampuan menangkap pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini terdiri dari 4 anak soal uraian. Soal ini bertujuan untuk mengetahui konsep dasar bentuk akar yang dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Adapun bentuk soal posttest ini adalah:
Manakah yang merupakan bentuk akar dan bukan bentuk akar dari bentuk-bentuk bilangan berikut disertai alasannya!
a. β200, b. 43β16, c. β121, d. 4β81,
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 1 ini dapat dikerjakan di kelas eksperimen dengan rata-rata persentase sebesar 92%. Sedangkan di kelas kontrol, persentase rata-rata siswa yang mampu mengerjakan soal ini sebesar 88%sebagaimana terlampir pada lampiran 26. Hal ini berarti proses
84% 86% 83% 84% 85% 86% 87%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Posttest
Siswa Soal Nomor 2
pembelajaran dapat dikatakan berhasil karena sebagian besar siswa telah mampu memahami konsep dasar dari bentuk akar dengan baik. Sedangkan siswa-siswa yang belum mampu menyelesaikan soal ini dengan tepat dipengaruhi oleh faktor pemahaman mengenai bentuk rasional dan irasional. Adapun contoh jawaban siswa pada soal posttest nomor 1 ini adalah seperti berikut:
Gambar 9
Jawaban Siswa Soal Posttest Nomor 1 b. Hasil Posttest Soal Ke-2
Diagram 7
Soal uraian posttest nomor 2 ini juga mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu mengukur kemampuan menangkap
pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini terdiri dari 4 anak soal uraian. Soal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi aljabar pada bentuk akar. Adapun bentuk soal posttest ini adalah:
Selesaikan operasi bentuk akar berikut! a. 63β3β 103β3 b. β50ββ8 + β18 c. 4β5 3 x 23β3 23β5 d. (3β2 + 8) (3β2 - 8)
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 2 ini dapat dikerjakan di kelas eksperimen dengan rata-rata persentase sebesar 84%. Sedangkan di kelas kontrol, persentase rata-rata siswa yang mampu mengerjakan soal ini sebesar 86%sebagaimana terlampir pada lampiran 26. Hal ini berarti proses pembelajaran juga dapat dikatakan berhasil karena sebagian besar siswa telah mampu menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan operasi aljabar pada bentuk akar. Kesulitan sebagian siswa yang belum tepat menyelesaikan soal ini adalah pada bagian menyederhanakan bentuk akar, seperti pada soal 2c. Selain itu proses mengalikan bentuk akar juga menjadi kendala bagi siswa, seperti pada soal 2d. Adapun contoh jawaban siswa pada soal posttest nomor 2 ini adalah seperti berikut:
76% 62% 0% 20% 40% 60% 80%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Posttest
Siswa Soal Nomor 3 Gambar 10
Jawaban Siswa Soal Posttest Nomor 2
c. Hasil Posttest Soal Ke-3
Diagram 8
Soal uraian posttest nomor 3 ini mengukur aspek penerapan atau aplikasi pada ranah kognitif siswa, yaitu mengukur kemampuan siswa menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi baru dan nyata. Soal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengubah bentuk pangkat pecahan ke dalam bentuk akar serta menyelesaikannya
dengan operasi aljabar yang telah dipelajari. Adapun bentuk soal posttest ini adalah:
Jika diketahui x = 16 dan y = 27, ubahlah bentuk di bawah ini ke dalam bentuk akar kemudian tentukan nilai dari bentuk 4π₯
1 4 + 2π¦
2 3
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 3 ini dapat dikerjakan di kelas eksperimen dengan rata-rata persentase sebesar 76%. Sedangkan di kelas kontrol, persentase rata-rata siswa yang mampu mengerjakan soal ini sebesar 62%sebagaimana terlampir pada lampiran 26. Hal ini berarti proses pembelajaran juga dapat dikatakan cukup berhasil karena sebagian besar siswa telah mampu menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan mengubah bentuk pangkat pecahan ke dalam bentuk akar serta menyelesaikannya dengan operasi aljabar yang telah dipelajari. Kesulitan siswa dalam mengerjakan soal ini adalah menentukan variabel mana yang harus diubah ke dalam bentuk akar. Hal ini berarti bahwa sebagian siswa yang belum mampu menyelesaikan soal ini dengan tepat dipengaruhi oleh faktor pemahaman mengenai proses mengubah bentuk pangkat pecahan ke bentuk akar. Adapun contoh jawaban siswa pada soal posttest nomor 3 ini adalah seperti berikut:
66% 59% 54% 56% 58% 60% 62% 64% 66% 68%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Persentase Jawaban Posttest
Siswa Soal Nomor 4 Gambar 11
Jawaban Siswa Soal Posttest Nomor 3
d. Hasil Posttest Soal Ke-4
Diagram 9
Soal uraian posttest nomor 4 ini mengukur aspek pemahaman pada ranah kognitif siswa, yaitu bukan hanya mengukur kemampuan mengingat bahan yang telah dipelajari siswa, tetapi juga kemampuan menangkap pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan bahan yang telah dipelajari bersama. Soal ini terdiri dari 4 anak soal uraian. Adapun bentuk soal posttest ini adalah:
Sederhanakan bentuk-bentuk akar berikut ini dengan merasionalkan penyebut-penyebutnya! a. 6β2 β3 b. 2 3 + β5 c. 4 ββ2 4 + β2 d. 7β β24
Dari hasil yang diperoleh siswa, soal nomor 4 ini dapat dikerjakan di kelas eksperimen dengan rata-rata persentase sebesar 66%. Sedangkan di kelas kontrol, persentase rata-rata siswa yang mampu mengerjakan soal ini sebesar 59%sebagaimana terlampir pada lampiran 26. Hal ini berarti proses pembelajaran juga dapat dikatakan cukup berhasil karena sebagian besar siswa telah mampu menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan merasionalkan bentuk. Kesulitan siswa dalam mengerjakan soal ini lebih kepada proses perhitungannya. Mereka mengetahui perkalian dengan akar senama yang digunakan untuk proses merasionalkan dan menyederhanakan bentuk soal tersebut, namun sebagian besar siswa kurang memahami proses perhitungan aljabarnya.Adapun contoh jawaban siswa pada soal posttest nomor 4 ini adalah seperti berikut:
Gambar 12
Jawaban Siswa Soal Posttest Nomor 4
Setelah melaksanakan pembelajaran pada materi bentuk akar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token, terdapat peningkatan skor pretest ke posttest. Nilai rata-rata pretest ke posttest kelas kontrol mengalami peningkatan sebesar 49,432, (71,7045 β 22,2727). Data pretest kelas kontrol menunjukkan bahwa nilai terendah sebesar 3 dan tertinggi sebesar 60. Sedangkan data posttest kelas kontrol menunjukkan bahwa nilai terendah adalah 38 dan nilai tertinggi 98.
Sedangkan peningkatan nilai rata-rata pretest ke posttest pada kelas eksperimen menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan pada kelas kontrol. Peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 56,8813, (79,167 β 22,2857). Data pretest kelas eksperimen menunjukkan bahwa nilai terendah adalah 2 dan nilai tertinggi adalah 63. Sedangkan data posttest kelas eksperimen menunjukkan bahwa nilai terendah adalah 47 dan nilai tertinggi 97. Hasil penelitian pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang mengalami penurunan nilai dari pretest ke posttest pada materi bentuk akar. Begitu pula dengan hasil penelitian pada kelas kontrol yang menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang mengalami penurunan nilai dari pretest ke posttest.
Untuk mengukur secara tepat ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar dalam proses pembelajaran siswa dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe time token, peneliti menggunakan indeks gain. Berikut adalah daftar perhitungan distribusi frekuensi nilai indeks gain kelas kontrol dan eksperimen:
Diagram 10
Distribusi Frekuensi Indeks Gain Siswa
d. e. f. g. h. i.
Perbedaan hasil belajar pada kelas kontrol dan kelas eksperimen terjadi pada selisih (gain) peningkatan nilai pretest dan posttest yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi bentuk akar. Berdasarkan diagram diatas sesuai dengan kategori indeks gain yang tercantum pada metodologi, kategori sangat baik pada siswa kelas kontrol terjadi pada 17 siswa atau sekitar 38,6% dari jumlah siswa, sedangkan pada kelas eksperimen 24 siswa atau sekitar 57,1% siswa yang termasuk ke dalam kategori sangat baik. Persentase ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa di kelas eksperimen mengalami peningkatan pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik lebih tinggi dibandingkan siswa di
17 27 0 24 18 0 0 5 10 15 20 25 30
Sangat Baik Sedang Cukup Kontrol Eksperimen
kelas kontrol. Hal ini dikarenakan siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token dilatih dan
dibiasakan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab (Yuanita, 2010). Selain itu model pembelajaran ini juga mampu
menciptakan suasana yang menyenangkan yang mampu memacu keaktifan siswa (Suprijono, 2011: 133). Model ini memunculkan kebiasaan-kebiasaan yang menjadikan siswa sebagai siswa yang siap menerima informasi dan meningkatkan hasil belajar mereka.
Hasil analisis uji hipotesis data pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh besarnya thitung adalah 0,004 dengan dk 84. Nilai thitung tersebut dikonsultasikan dengan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5 % dengan dk84yaitu 1,6632.Sehingga dapat disimpulkan bahwa thitung lebih kecil dari ttabel (thitung < ttabel). Berdasarkan hasil uji-t tersebut menunjukkan bahwa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki tingkat kemampuan awal yang sama atau setara.
Hasil analisis uji-t data posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh besarnya thitung adalah sebesar 2,9631 dengan dk 84. Nilai thitung tersebut dikonsultasikan dengan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% dengan dk 84 yaitu 1,6632. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada hasil belajar siswa kelas X di MA Negeri 2 Palembang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token.
Sedangkan hasil analisis uji-t data indeks gain kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh besarnya thitung2,636 dengan dk 84. Nilai thitung tersebut dikonsultasikan dengan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5 % dengan dk 84 yaitu 1,6632. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa kelas X di MA Negeri 2 Palembang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token. Peningkatan yang terjadi pada hasil belajar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat menjadi salah satu alternatif dalam proses pembelajaran. Menurut Yuanita (2010), kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe time token diciptakan dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep atau menyelesaikan persoalan.
Hasil peningkatan dan penurunan perolehan hasil pretest dan posttest