TINJAUAN PUSTAKA 2.1Agency Theory
3. Pengungkapan yang lengkap (full disclosure)
2.11 Ukuran KAP
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik dinyatakan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah bentuk usaha yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan telah mendapatkan izin usaha berdasarkan Undang-Undang ini.
Akuntan Publik memberikan jasa Asurans yang meliputi:
a. Jasa audit atas informasi keuangan historis; b. Jasa reviu atas informasi keuangan historis dan; c. Jasa asurans lainnya
Selain jasa diatas, akuntan publik juga bisa memberikan jasa audit lainnya yang berhubungan dengan akuntansi, manajemen, dan keuangan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) no 20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik menyatakan bahwa pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap suatu entitas, maka akuntan publik dibatasi paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut. Entitas yang diaudit adalah Industri di sektor pasar modal, bank umum, dana pensiun, perusahaan asuransi/reasuransi dan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). Namun akuntan publik kembali dapat memberikan jasa audit atas infromasi keuangan historis setelah 2 (dua) tahun buku berturut-turut tidak memberikan jasa tersebut.
Kantor Akuntan Publik dapat berbentuk perseorangan, persekutuan perdata, firma, ataupun bentuk badan usaha lainnya yang sesuai dengan karakteristik profesi akuntan publik, yang diatur dalam undang-undang. KAP berbentuk perseorangan didirikan dan dikelola oleh seorang akuntan publik, sedangkan KAP yang berbntuk persekutuan perdata ataupun firma hanya dapat dikelola dan didirikan apabila sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari seluruh Rekan adalah akuntan publik.
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) biasanya diukur dan dilihat apakah Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit atas entitas termasuk the big
four atau non-the big four atau apakah KAP yang melakukan audit terafiliasi
dengan the big four. Adapun KAP yang termasuk dalam kategori the big four adalah:
a. Ernst & Young
b. Deloitte Touche Tohmatsu c. KPMG
d. Price Waterhouse and Coopers
Sejarah keempat kantor akuntan tersebut adalah berasal dari Eropa. Price Waterhouse dan Deloitte didirikan di Inggris, sedangkan Ernst & Young didirikan oleh seorang akuntan dari Skotlandia. KPMG merupakan
produk gabungan dari dua kantor akuntan besar di Belgia dan Belanda. Namun penghasilan terbesar KAP berada di Amerika Serikat. Sedangkan Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang terafiliasi dengan the big four adalah:
a. KAP Purwantono, Sarwoko, Sandjaja – affiliate of Ernst & Young b. KAP Osman Bing Satrio – affiliate of Deloitte
c. KAP Sidharta, Sidharta, Widjaja – affiliate of KPMG
d. KAP Haryanto Sahari – affiliate of Price Waterhouse and Coopers 2.12 Penelitian Terdahulu
1. Siti Ulfah Chairani (2015), yang melakukan penelitian tentang “Pengaruh karakteristik perusahaan terhadap voluntary disclosure perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah voluntary disclosure perusahaan dengan variabel independen adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan tipe kepemilikan publik. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013 dengan sampel penelitian sebanyak 54 perusahaan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dinyatakan bahwa secara simultan semua variabel independen memiliki pengaruh positif dan siginifikan terhadap voluntary disclosure, sedangkan secara parsial hanya
leverage yang memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap
profitabilitas dan tipe kepemilikan publik tidak memiliki pengaruh terhadap voluntary disclosure.
2. Noor Laila Fitriana (2014), yang melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang mempengaruhi luas pengungkapan sukarela dalam Annual
Report”. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah luas
pengungkapan sukarela dan yang menjadi variabel independen yaitu profitabilitas, ukuran KAP, proporsi dewan komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan, leverage. Objek penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012 dengan sampel penelitian sebanyak 49 perusahaan. Hasil dari penelitian ini bahwa profitabilitas, ukuran KAP dan proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela, sedangkan leverage memiliki pengaruh yang negatif terhadap luas pengungkapan sukarela, untuk ukuran perusahaan dan umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela.
3. Adhika Nirmalasari Ginting (2012) yang melakukan penelitian tentang “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur di Indonesia”. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah Indeks Pengungkapan Sukarela dan yang menjadi variabel independen yaitu profitabilitas, ukuran perusahaan, leverage, nilai perusahaan dengan menggunakan variabel kontrol yaitu proporsi kepemilikan manajemen dan indeks pengungkapan sukarela tahun sebelumnya. Objek dari
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 dan 2010 dengan sampel penelitian sebanyak 62 perusahaan. Hasil dari penelitian ini bahwa profitabilitas dan ukuran perusahaan mempengaruhi secara positif terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan sedangkan leverage dan nilai perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat pengungkapan sukarela secara signifikan. Namun penelitian ini menemukan bahwa variabel kontrol yaitu proporsi kepemilikan manajemen dan indeks pengungkapan sukarela tahun sebelumnya memiliki pengaruh yang signifikan.
4. Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana Sularto (2007). Penelitian ini tentang “Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, tipe kepemilikan perusahaan terhadap luas voluntary disclosure laporan keuangan tahunan”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah luas voluntary
disclosure dengan variabel independen adalah ukuran perusahaan,
profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan. Objek dan sampel dalam penelitian ini adalah 8 (delapan) perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Hasil dari penelitian ini bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan tidak memiliki pengaruh dalam luas voluntary disclosure.
5. Omar Juhmani (2013). Judul penelitian adalah “struktur kepemilikan dan pengungkapan sukarela perusahaan : bukti dari Bahrain”. Dalam penelitian ini struktur kepemilikan yaitu kepemilikan pemegang saham, kepemilikan manajerial dan kepemilikan publik sebagai variabel
independen, sedangkan variabel kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Objek penelitian ini yaitu 41 (empat puluh satu) perusahaan yang ada di Bahrain yang dilakukan dengan pengumpulan data. Hasil dari penelitian ini bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Selanjutnya ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap pengungkapan sukarela.
6. Wahyuni Wijayanti (2013) yang melakukan penelitian tentang “Analisis pengaruh Corporate Governance dan karakteristik perusahaan terhadap pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) dalam laporan tahunan”. Dalam penelitian ini pengungkapan sukarela sebagai variabel dependen. Adapun yang menjadi variabel independen adalah proporsi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage. Objek dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2009-2011. Penelitian ini menggunakan 58 (lima puluh delapan) perusahaan manufaktur yang telah diseleksi menjadi sampel. Hasil dari penelitian ini bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan sedangkan leverage berpengaruh secara negatif dan signifikan. Sedangkan untuk variabel proporsi dewan komisaris independen, ukuran dewan
komisaris dan profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan.
7. Firda Amalia (2011). Penelitian ini berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan voluntary disclosure ( pengungkapan sukarela) atas biaya audit yang dibayarkan pada auditor eksternal”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keputusan pengungkapan sukarela atas biaya audit yang dibayarkan pada auditor eksternal, sedangkan variabel independen yaitu biaya politis, komite audit dan ukuran kantor akuntan publik (KAP). Objek penelitian adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009 dan sampel penelitian terdiri dari 33 ( tiga puluh tiga ) perusahaan. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa variabel biaya politis, komite audit, dan ukuran KAP baik secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh terhadap keputusan pengungkapan sukarela atas biaya audit yang dibayarkan pada auditor eksternal.
8. Ibrahim M. Sweiti dan Osama F. Attayah (2013). Penelitian ini berjudul “Critical Factors Influencing Voluntary Disclosure: The Palestine
Exchange “PEX”. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah voluntary disclosure, sedangkan variabel independen yang
digunakan yaitu non-executive directors, audit committee, board size,
number of shareholder, board activity. Objek penelitian ini adalah 48
perusahaan yang terdaftar di Palestine Exchange tahun 2011. Hasil dari penelitian ini bahwa non-executive directors, audit committee, board size,
number of shareholder memiliki pengaruh positif terhadap voluntary
disclosure sedangkan board size tidak memliki pengaruh terhadap
voluntary disclosure.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu No Nama
Peneliti
Variabel Hasil Penelitian
1 Siti Ulfah Chairani (2015) Dependen: Voluntary Disclosure Independen: Ukuran perusahaan,profitabilitas,
leverage dan tipe
kepemilikan publik
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dinyatakan bahwa secara simultan semua variabel independen memiliki pengaruh positif dan siginifikan terhadap voluntary disclosure, sedangkan secara parsial hanya
leverage yang memiliki pengaruh
negatif dan signifikan terhadap
voluntary disclosure, sedangkan
variabel lain yakni ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan publik tidak memiliki pengaruh terhadap voluntary disclosure. 2 Noor Laila Fitriana (2014) Dependen: Luas pengungkapan sukarela Independen: Profitabilitas, ukuran KAP, proporsi dewan komisaris independen, ukuran perusahaan, umur perusahaan,
leverage.
Hasil dari penelitian ini bahwa profitabilitas, ukuran KAP dan
proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela, sedangkan
leverage memiliki pengaruh yang
negatif terhadap luas pengungkapan sukarela, untuk ukuran perusahaan dan umur perusahaan tidak
berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela.
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian 3 Adhika Nirmalasari Ginting (2012) Dependen: Indeks perngungkapan sukarela Independen: Profitabilitas, ukuran perusahaan, leverage, nilai perusahaan Kontrol: Proporsi kepemilikan manajemen dan indeks pengungkapan sukarela tahun sebelumnya.
Hasil dari penelitian ini bahwa profitabilitas dan ukuran perusahaan mempengaruhi secara positif terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan sedangkan leverage dan nilai perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat pengungkapan sukarela secara signifikan. Namun penelitian ini menemukan bahwa variabel kontrol yaitu proporsi kepemilikan
manajemen dan indeks pengungkapan sukarela tahun sebelumnya memiliki pengaruh yang signifikan.
4 Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana Sularto (2007) Dependen: Voluntary Disclosure Independen: Ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan
Hasil dari penelitian ini bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan tidak memiliki pengaruh dalam luas
voluntary disclosure. 5 Omar Juhmani (2013) Dependen: Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) Independen: struktur kepemilikan (kepemilikan pemegang saham, kepemilikan manajerial dan kepemilikan publik) Kontrol: Ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage
Hasil dari penelitian ini bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Selanjutnya ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap pengungkapan sukarela.
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian 6 Wahyuni Wijayanti (2013) Dependen: Pengungkapan sukarela Independen: proporsi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage.
Hasil dari penelitian ini bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan sedangkan leverage berpengaruh secara negatif dan signifikan. Sedangkan untuk variabel proporsi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris dan
profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan. 7 Firda Amalia (2011) Dependen: Keputusan pengungkapan sukarela atas biaya audit yang dibayarkan pada auditor eksternal
Independen:
Biaya politis, komite audit dan ukuran kantor akuntan publik (KAP)
Hasil dari penelitian ini bahwa variabel biaya politis, komite audit, dan ukuran KAP baik secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh terhadap keputusan pengungkapan sukarela atas biaya audit yang dibayarkan pada auditor eksternal.
8 Ibrahim M. Sweiti dan Osama F. Attayah (2013) Dependen: Voluntary Disclosure Independen: non-executive directors, audit committee, board size, number of
shareholder, board activity
Hasil dari penelitian ini bahwa
non-executive directors, audit committee, board size, number of shareholder
memiliki pengaruh positif terhadap
voluntary disclosure sedangkan board size tidak memliki pengaruh terhadap voluntary disclosure.
Sumber: Diolah oleh peneliti 2.13 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah suatu kerangka yang dibuat untuk mengetahui hubungan atau kaitan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang ada dalam penelitian.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Audit Committee, Ukuran Perusahaan, Profitability terhadap Voluntary Disclosure dengan Ukuran KAP sebagai Variabel Moderating
Menurut Ginting (2012) dalam penelitiannya terdapat bahwa variabel profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh secara positif terhadap pengungkapan sukarela, namun hal berbeda terdapat di dalam penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013) bahwa profitabilitas tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan sukarela.
Penelitian yang dilakukan oleh Sudarmadji dan Sularto (2007) menyatakan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan tipe kepemilikan perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap voluntary
disclosure mungkin hal ini dapat terjadi karena terlalu minimnya objek
penelitian yang digunakan oleh peneliti sehingga hasil yang didapat tidak Ukuran Perusahaan (X2) Profitability (X3) Voluntary Disclosure (Y) Ukuran KAP (X4) Audit Committee (X1) H5 H6 H7 H4 H2 H1 H3
maksimal. Menurut Fitriana (2014) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ukuran KAP memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela namun hasil yang berbeda dapat dilihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Amalia (2011) yang menyatakan bahwa ukuran KAP tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan sukarela.
Komite audit (audit committee) memiliki fungsi untuk membantu dewan komisaris dalam mengawasi perusahaan. Dalam peraturan yang dikeluarkan oleh BAPEPAM, bahwa tugas dan fungsi komite audit juga menganalisa laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Maka perusahaan harus melakukan pengungkapan yang sebenarnya dalam laporan keuangan. Komite audit juga mengawasi aktivitas operasi perusahaan dan juga menganalisa temuan oleh audit internal sehingga memperkecil kemungkinan kecurangan dalam pengungkapan. Komite Audit juga diharapkan bisa membantu direksi perusahaan untuk menjaga transparansi perusahaan
Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) pada zaman sekarang dianggap penting bagi pihak perusahaan maupun pihak investor. Diharapkan dengan adanya pengungkapan secara sukarela yang dilakukan oleh perusahaan, bisa mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara investor dan manajemen perusahaan karena pengungkapan yang dilakukan diharapkan bisa menjawab semua rasa ingin tahu yang ada pada investor. Pengungkapan sukarela sangat membantu pihak investor maupun perusahaan dalam pengambilan keputusan.
Ukuran KAP juga menjadi salah satu acuan dalam tingkat pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan. Biasanya perusahaan besar akan memakai KAP yang telah dikenal dan dipercaya oleh banyak pihak termasuk oleh para investor agar pengungkapan yang dinyatakan tidak menimbulkan keraguan bagi para investor. Begitu juga dengan jajaran komite audit perusahaan juga akan menyarankan pada dewan komisaris untuk menggunakan kantor akuntan publik yang terpercaya dan independen agar laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan bisa dipertanggung jawabkan. Jika suatu perusahaan memiliki tingkat profitabilitas yang baik maka juga akan melakukan audit menggunakan kantor akuntan publik yang terpercaya agar data dan pengungkapan yang dihasilkan terhadap rasio laba perusahaan di dalam laporan keuangan ataupun laporan tahunan juga akurat dan bisa diketahui dari mana sumber laba tersebut didapatkan. Kantor Akuntan Publik yang digunakan oleh perusahaan terutama yang go public biasanya mengacu pada afiliasi dari The Big Four. Penggunaan Kantor Akuntan Publik besar dikarenakan sudah memiliki standar yang sesuai dengan syarat pengungkapan terhadap laporan keuangan perusahaan.