• Tidak ada hasil yang ditemukan

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

B. KEGIATAN BELAJAR

5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan cocokkan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%

Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai: 91% s.d 100% 81% s.d. 90,00% 71% s.d. 80,99% 61% s.d. 70,99% 0% s.d. 60% : : : : : Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar 1 ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya.

Teori-Teori Etika

1. Uraian dan Contoh

a. Etika sebagai Cabang Filsafat

Menurut Ginandjar Kartasasmita (1996) etika adalah dunianya filsafat, nilai, dan moral. Etika bersifat abstrak dan mengacu kepada pengetahuan secara menyeluruh dan sistematis yang berkenaan dengan perilaku baik dan buruk, sementara moral lebih ke arah pola aktual dari perilaku dan aturan yang secara langsung mempengaruhi tindakan. Sebagai cabang filsafat etika didiskusikan secara ilmiah dan berhubungan dengan kajian secara kritis tentang adat kebiasaan, nilai-nilai, dan norma-norma perilaku manusia yang dianggap baik atau tidak baik.

Gambar 2.1. Peran Etika dalam Tindakan

Kegiatan Belajar 2

INDIKATOR KEBERHASILAN

Setelah mempelajari Kegiatan Belajar ini diharapkan peserta mampu:

• Menguraikan alasan mengapa etika dikatakan sebagai cabang filsafat;

• Membedakan dalam garis besar pengertian antara etika deontologi, etika teleologi, dan etika

keutamaan;

• Membandingkan perbedaan pokok antara egoisme etis dan utilitarianisme.

Realita Etika

Moral

Tindakan

Abstrak Konkrit

Dalam membahas etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang nilai-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat tiga macam pendekatan menurut K. Bertens (2000) sebagai berikut:

1) Etika Deskriptif

Etika deskriptif menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dan tidak mengevaluasi secara moral. Ia tidak menilai apakah adat mengayau (memenggal kepala) yang dilakukan oleh suatu suku primitif bisa diterima atau ditolak. Ia juga tidak menilai apakah abortus yang sangat permisif di Cina bisa diterima atau ditolak.

Etika deskriptif tampak pada ilmu-ilmu sosial, seperti Antropologi, Sosiologi, Psikologi, Sejarah dan sebagainya. Objek penyelidikannya adalah individu-individu, dan kebudayaan-kebudayaan. Ilmu-ilmu ini hanya membatasi diri pada pengalaman atau peristiwa inderawi. Karena alasan ini, etika deskriptif tidak dapat dimasukkan dalam kelompok filsafat umumnya dan filsafat moral khususnya.

2) Etika Normatif

Etika normatif menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Etika normatif mengevaluasi apakah perilaku tertentu bisa diterima atau tidak berdasarkan norma-norma moral yang menjunjung tinggi martabat manusia. Dalam hal ini, seseorang dapat dikatakan terlibat dalam participation approach karena yang bersangkutan telah melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang

perilaku manusia. la tidak netral karena berhak untuk mengatakan atau menolak suatu etika tertentu.

Etika normatif lebih lanjut dibagi dalam etika umum dan etika khusus. Etika umum memfokuskan pada kajian-kajian umum, seperti apa yang dimaksud dengan norma moral, mengapa norma moral berlaku umum, apa perbedaan antara hak dan kewajiban, apa persyaratan agar manusia dapat dikatakan memiliki kebebasan, dan sebagainya. Di lain pihak, etika khusus menitikberatkan pada prinsip-prinsip atau norma-norma moral pada perilaku manusia yang khusus, misalnya perilaku manusia di bidang bisnis, kedokteran, politik, dan sebagainya. Karena etika khusus terkait dengan perilaku manusia yang khusus, etika khusus sering juga disebut sebagai etika terapan.

3) Metaetika

Metaetika membahas mengenai bahasa atau logika khusus yang digunakan di bidang moral, sehingga perilaku etis tertentu dapat diuraikan secara analitis. Awalan meta (Yunani) berarti melebihi atau melampaui. Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf yang lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf bahasa etis atau bahasa yang digunakan di bidang moral. Karena fungsinya yang menganalisis, metaetika sering juga disebut sebagai etika analisis dan dapat dimasukkan dalam kelompok filsafat umumnya dan filsafat moral khususnya.

Dari berbagai pembahasan di atas dapat diklasifikasikan tiga jenis pandangan terhadap etika, yaitu sebagai berikut:

Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.

Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, hingga akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.

Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap

perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

b. Beberapa Teori Etika

Ada 3 (tiga) macam teori etika yang berkaitan langsung dengan etika sebagai refleksi kritis sebagaimana disebutkan dan dirinci oleh Sonny Keraf (2002), yaitu:

1) Etika Deontologi

Deontologi berasal dari bahasa Yunani, deon berarti tugas/kewajiban dan logos berarti pengetahuan. Sehingga etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Paham ini dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibatnya atau tujuan baik dari tindakan yang dilakukan, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai kewajiban yang mengacu pada nilai-nilai atau norma-norma moral. Dengan kata lain, bahwa tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Sebagai contoh, jika Anda menolong orang yang selama ini menjadi musuh Anda maka Anda telah menerapkan etika deontologi. Membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan adalah tindakan yang baik, karena ini merupakan kewajiban manusia untuk melakukannya.

Gambar 2.2.

“Kamu memang menyebalkan. Tapi

saya akan tetap menolongmu..”

2) Etika Teologi

Teleologi berasal dari kata Yunani telos, yang berarti tujuan. Etika teleologi yaitu etika yang mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan atas tindakan yang dilakukan. Suatu tindakan dinilai baik jika bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau akibat yang ditimbulkannya baik dan bermanfaat. Misalnya: mencuri sebagai etika teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan tindakan itu sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu. Jika tujuannya baik, maka tindakan itu dinilai baik. Seorang anak mencuri untuk membiayai berobat ibunya yang sedang sakit sepintas tindakan ini baik untuk moral kemanusian, tetapi dari aspek hukum jelas tindakan ini melanggar hukum. Sehingga etika teologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat bergantung pada situasi khusus tertentu.

Pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik, baik bagi siapa: diri sendiri, orang lain, atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini, etika teleologi dikelompokkan menjadi dua, yaitu egoisme etis dan utilitarianisme.

a) Egoisme etis memandang bahwa perilaku dapat diterima tergantung pada

konsekuensinya. Memaksimalkan kepentingan kita terkait erat dengan akibat yang kita terima yang berupaya mengembangkan kebaikan bagi diri sendiri. Yang amat dikenal sebagai penganut paham ini adalah Niccolo Machiavelli, seorang birokrat Itali (Florensia) pada abad ke-15, yang menganjurkan bahwa kekuasaan dan survival pribadi adalah tujuan yang benar untuk seorang administrator pemerintah.

b) Utilitarianisme yang pangkal tolaknya adalah prinsip kefaedahan (utility),

yaitu prinsip semakin tinggi kegunaannya maka semakin tinggi nilainya. Prinsip ini sudah berakar sejak lama, terutama pada pandangan-pandangan abad ke-19, antara lain dari Jeremy Bentham dan John Stuart Mills. Jeremy Bentham (1748-1832) memaparkan bahwa tujuan dan akibat suatu tindakan harus dievaluasi berdasarkan kriteria obyektif tertentu sehingga dapat dinilai etis tidaknya tindakan tersebut. Kriteria obyektif ini dapat diperoleh dengan

melihat apakah suatu tindakan bermanfaat atau sebaliknya merugikan bagi orang-orang terkait. Secara lebih rinci kriteria obyektif itu dapat dilihat dalam 3 kriteria berikut:

1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah suatu tindakan

mendatangkan manfaat tertentu.

2) Kriteria kedua adalah manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu

apakah suatu tindakan mendatangkan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan tindakan lainnya.

3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi

sebanyak mungkin orang, yaitu bahwa suatu tindakan dinilai baik apabila manfaat lebih besar atau terbesar dirasakan oleh sebanyak mungkin orang.

Di antara dua cabang teleologi, yaitu egoisme etis dan utilitarianisme, tidak terdapat jurang pemisah yang tajam karena merupakan suatu kontinuum, yang di antaranya dapat ditempatkan, misalnya, pandangan Weber bahwa seorang birokrat sesungguhnya bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri pada waktu ia melaksanakan perintah atasannya, yang oleh Chandler (1994) disebut sebagai “a disguise act of ego”.

Dapat diperkirakan bahwa dalam masa modern dan pasca modern ini, pandangan utilitarianisme atau kelompok pendekatan teleologis ini memperoleh lebih banyak perhatian. Dalam pandangan ini yang amat pokok adalah bukan memperhatikan nilai-nilai moral, tetapi konsekuensi dalam keputusan dan tindakan administrasi itu bagi masyarakat. Kepentingan umum (public interest) merupakan ukuran penting menurut pendekatan ini.

3) Etika Keutamaan (Virtue Theory)

Teori Keutamaan telah ada cukup lama dan didasarkan atas pemikiran Aristoteles (384-322 SM). Etika keutamaan tidak mempermasalahkan kewajiban dan akibat dari suatu tindakan, juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral sebagaimana teori teleologi dan deontologi. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap

orang. Menurut Bertens (2000) teori keutamaan berangkat dari manusianya. Beberapa contoh sifat keutamaan itu antara lain: kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Dalam dunia bisnis, sifat-sifat utama yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness), kepercayaan, dan keuletan.

Dalam ilmu psikologi, karakter merupakan disposisi sifat/watak seseorang. Karakter seseorang ditentukan oleh kebiasaannya, sedangkan kebiasaan dibentuk oleh tindakan yang berulang ulang. Tindakan yang berulang-ulang ditentukan oleh tujuan/makna hidup yang ingin dicapai, dan makna hidup ditentukan oleh pola/paradigma berpikir. Berdasarkan asumsi ini, sebenarnya teori keutamaan bukan merupakan teori yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori etika tindakan (deontologi dan teleologi) karena sifat keutamaan bersumber dari tindakan yang berulang-ulang.

Sebagai contoh dalam birokrasi pemerintah, etika keutamaan, kejujuran, dapat membedakan antara karakteristik figur pegawai yang satu dan yang lain. Etika keutamaan menekankan pada arti penting kejujuran yang selama ini dirindukan kehadirannya dalam segala tindak tanduk pejabat dan birokrat kita. Kejujuran menjadi perwujudan etika keutamaan karena tidak dilandaskan pada aspek tindakan. Fenomena itulah yang menjadikan etika keutamaan dipandang mampu melampaui dua aliran etika yang mendominasi dalam diskusi moralitas, yakni etika teleologi (bertujuan) dan etika deontologi (kewajiban).

Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat.

Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan yaitu, ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan persepsi masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern dimana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat seperti pada masyarakat yang belum maju, moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian pula dalam masyarakat dimana kita sulit menemukan tokoh publik yang bisa memberikan keteladanan moral, maka moralitas akan hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita peroleh adalah keteladanan semu, seperti bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang.

Secara umum, pada tabel 2.1. dapat dilihat ringkasan berbagai teori etika dan hubungannya dengan paradigma hakikat manusia.

Tabel 2.1. Teori Etika Dan Hubungannya Dengan Paradigma Hakikat Manusia

No Teori

Paradigma

Penalaran Teori Kriteria Etis Tujuan Hidup 1 Deontologi Tindakan itu

sendiri

Kewajiban mutlak setiap orang

Demi kewajiban itu sendiri 2 Telelologi – Egoisme Etis Tujuan dari tindakan Memenuhi kepentingan pribadi Kenikmatan duniawi secara individu 3 Telelologi – Utilitarianism Tujuan dari tindakan Memberi manfaat/kegunaan bagi banyak orang

Kesejahteraan duniawi masyarakat

4 Keutamaan Disposisi karakter Karakter positif negatif individu

Kebahagiaan duniawi dan mental (psikologis)

Dokumen terkait