• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TENTANG MALPRAKTEK DOKTER

B. Resiko Medik

2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun

Dilihat dari substansinya, maka undang-undang ini mengatur masalah kesehatan hanya secara umum saja.Undang-undang ini sesungguhnya merupakan undang-undang yang bersifat administratif.Hanya saja terhadap hukum administrasi ini diberikan sanksi pidana selain sanksi administrasi.

Perlakuan administrasi berbeda dengan sanksi pidana, karena sanksi pidana harus melalui proses pradilan sejak dari penyidik, penuntut umum, pemeriksaan di persidangan pengadilan negeri. Sedangkan sanksi administrasi tidak memerlukan

proses pradilan, cukup pejabat yang berwenanng memberi sanksi saja dapat menjatuhkan sanksi administratif.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan memuat 12 Pasal yang mengatur mengenai ketentuan pidana yaitu Pasal 190 sampai dengan Pasal 201. Dilihat dari subjeknya ada tindak pidana yang subjeknya khusus untuk subjek tertentu dan ada yang subjeknya setiap orang.Tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh subjek tertentu/khusus diatur dalam 190 yaitu tindak pidana hanya dapat dilakukan khusus oleh Pimpinan fasilitas kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan.Tindak pidana yang bisa dilakukan oleh setiap orang diatur dalam Pasal 191 sampai dengan Pasal 200.setiap orang adalah orang perseorangan dan korporasi. Tindak pidana dalam UU Kesehatan,ditinjau dari rumusannya dapat dibagi dua yaitu tindak pidana formil dan tindak pidana materiil. Tindak pidana formil dirumuskan sebagai wujud perbuatan yang tanpa menyebutkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu. Tindak pidana materiil dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan suatu akibat tertentu,tanpa merumuskan wujud dari perbuatan itu.156

a. Pasal 190 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan

1) Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan /atau tenaga kesehatan yang melakukan praktek atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan petolongan pertama terhadap pasien

156

Wirjono Prodjodikoro, Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia, Refika Aditama,2003 Bandung,Hal 36

yang dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada pasal 32 ayat 2 dan pasal 85 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp.200.000.000

2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud ayat I mangakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan penjara paling lama 10 tahun dengan denda paling banyak 1.000.000.000.

Pertanggungjawaban Pidana: Kesengajaan Unsur Tindak Pidana

a.Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan /atau tenaga kesehatan yang melakukan praktek atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan tidak memberikan pertolongan dalam keadaan darurat.

Pimpina fasilitas kesehatan disini adalah pengurus rumah sakit, dan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabadikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan157.

Keadaan darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut158. Sedangkan yang dimaksud dalam pasal 32 ayat 2 (dua) adalah:

157

Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 1 butir 6

158

“Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan atau meminta uang muka”.

Pasal 85 ayat 2 (dua) adalah:

“Fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana sebagaiman dimaksud pada ayat 1 dilarang menolak pasien dan atau meminta uang muka terlebih dahulu”

Dalam pasal ini bisa dilihat bahwa dalam kasus malpraktek medik tidak hanya tenaga medis atau dokter atau dokter gigi saja yang dikenakan pidana,tetapi juga terhadap rumah sakit pemerintah atau swasta yang dalam hal ini di dalam hukum di sebut korporasi. Badan hukum atau korporasi dalam hal ini rumah sakit dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena badan hukum telah di beri pembebanan hak dan kewajiban oleh Negara adalah hal ini diwakilkan oleh departemen hukum dan hak asasi manusia.Jika hak dan tanggung jawab tersebut tidak dijalankan maka dapat dikenai sanksi.

b. Pasal 193 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan bedah plastik dan rekonstruksi untuk tujuan mengubah identitas seseorang sebagaiman dimaksud dalam pasal 69 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000.”

Pertanggungjawaban Pidana: Kesengajaan Unsur Tindak Pidana

2) Tujuan mengubah identitas seseorang sebagaiman dimaksud dalam pasal 69 .

1. Bedah plastik dan rekonstruksi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.

2. Bedah plastik dan rekontruksi tidak boleh bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan tidak ditunjukkan untuk mengubah identitas 3. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara bedah plastik dan rekonstruksi

sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 ditetapkan dengan peraturan pemerintah

c. Pasal 194 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dengan denda paling banyak Rp.1.000.000.000.”

Pertanggungjawaban Pidana: Kesengajaan Unsur Tindak Pidana

1. Melakukan aborsi

Pada pasal ini hukuman penjara dan denda nya lebih besar dari ketentuan undang-undang yang mengatur aborsi dalam kitab undang-undang hukum pidana, karena sudah ada undang-undang yang baru mengaturnya,maka jika terjadi tindakan aborsi pasal ini yang dikenakan, karena asas hukum lex specialias derogate generalis Pasal 75 ayat 2 yaitu:

Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat di kecualikan berdasarkan:

a) Indiksi kedaruratan medis yang dideteksi sejak dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan atau janin yang menderita penyakit genetik berat dan atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat di perbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan atau

b) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan

c) Tindakan sebagaiman dimaksud pada ayat 2 hanya dapat dilakukan setelah melalui konselling dan atau penasehatan pra tindakan dan akhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

d) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaaan, sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dan ayat 3 diatur dengan peraturan pemerintah

Jika aborsi dilakukan karena hal-hal seperti yang dijelaskan pasal 75 ayat 2 ini, maka aborsi tidak bisa dikenakan pidana terhadap tenaga kesehatan maupun wanitanya selaku pasien.

d. Pasal 200 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan

1) dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat 1, pasal 191 , pasal 192, pasal 196, pasal 197, pasal 198, pasal 199 dan pasal 200 dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap

pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan pada korporasi berupa pidana denda dengan pembertan 3 kali dari pada denda sebagaimana yang dimaksud pada pasal 190 ayat 1, psal 191 , pasal 192, pasal 196, pasal 197, pasal 198, pasal 199 dan pasal 200.

2) Selain pidana denda sebagaiman dimaksud pada ayat 1 korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa

a. pencabutan izin usaha dan atau b. pencabutan status badan hukum.

Dokumen terkait