• Tidak ada hasil yang ditemukan

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek

BAB II PENGATURAN TENTANG MALPRAKTEK DOKTER

B. Resiko Medik

3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek

Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004tentang Praktik Kedokteran ini banyak mengatur tentang masalah hukum administrasi.Masalah administrasi undang-undang ini mengatur tentang sanksi pidana bagi dokter dan dokter gigi yang melakukan kesalahan praktek kedokterannya.Juga dimaksudkan untuk memberikan perlindungan menyeluruh kepada masyarakat sebagai penerima pelayanan, dan dokter dan dokter gigi.Serta bertujuan untuk, pertama memberikan perlindungan kepada pasien, Kedua, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi dan ketiga memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.159

UU nomor 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran memuat 6 Pasal yang mengatur mengenai ketentuan pidana yaitu Pasal 75 sampai dengan Pasal 80. Dilihat dari subjeknya ada tindak pidana yang subjeknya khusus untuk subjek tertentu dan

159

ada yang subjeknya setiap orang.Tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh subjek tertentu/khusus diatur dalam pasal 75, pasal 76, pasal 79 yaitu tindak pidana hanya dapat dilakukan khusus oleh dokter atau dokter gigi.Tindak pidana yang bisa dilakukan oleh setiap orang diatur dalam Pasal 80.Yang dimaksud dengan “setiap orang” adalah orang perseorangan dan korporasi. Tindak pidana dalam UU praktek kedokteran,ditinjau dari rumusannya hanya terdapat Tindak pidana formil dirumuskan sebagai wujud perbuatan yang tanpa menyebutkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu.

Pasal 75

1. Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja

melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3. Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalamPasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana

penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 76

Setiap dokter, atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalamPasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 79

Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi yang:

a) dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1)

b) dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1)

c) dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.

Pasal 80

1. Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga atau dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan izin.

Ketentuan pidana pada undang-undang Nomor 29 tahun 2004 Tentang praktik kedokteran ini telah di ajukan judicial review ke mahkamah konstitusi oleh beberapa orang yang telah dirugikan secara konstitusional yaitu terbatasnya ruang gerak para profesi dokter atau dokter gigi pemohon untuk melakukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, timbul rasa cemas dalam melakukan profesi dengan adanya pasal 75, pasal 76, dan pasal 79 dalam undang-undang ini. Persidangan itu mengabulkan sebagian permintaan termohon sebagian,dengan nomor putusan MK-NO – 4 – PUU – V – 2007.

Identitas pemohon yang mengajukan judicial review ke mahkamah kontitusi terdiri dari enam (6) dokter dan satu (1) pasien yaitu:

1.dr. Any Isfandyarie Sarwono.Sp.An.SH, profesi dokter 2. dr. Pranawa. Sp.Pd, profesi dokter

3. Prof.Dr.RM Padmo Santjojo, profesi dokter 4.dr. Bambang Tantuko, profesi dokter

5. dr.Chamin, profesi dokter

6.dr. Rama Tjandra.Sp.Og, profesi dokter

Permohonan di ajukan kemahkamah konstitusi tanggal 5 februari 2007

Pemohon 1-7 merasa dirugikan secara konstitusional muncul ras cemas dan ketidak tenangan didalam menjalankan profesinya sejak diberlakukannya undang-undang no 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran.Yang dicantumkan dalam 75, 76 dan 79 dalam undang-undang ini terdapat ancaman pidana penjara dan denda yang cukup berat bagi pemohon 1-6. Sedangkan pemohon merasa dirugikan materi dan finansial haknya untuk memperoleh layanan kesehatan secara otonom berdasarkan pilihan dan kebutuhannya, akibat berlaku pasal 37 ayat 2. Meminta kepada mahkamah konstitusi untuk menyatakan muatan materi pasal 37 ayat 2, pasal 75 ayat 1, pasal 76 dan pasal 79 huruf a, pasal 79 huruf c undang-undang nomor 29 tahun 2009 tentang praktik kedokteran bertentangan dengan undang-undang dasar 1945, dan menyatakan materi muatan pasal 37 ayat 2, pasal 75 ayat 1, pasal 76 dan pasal 79 huruf a, pasal 79 huruf c undang-undang nomor 29 tahun 2009 tentang praktik kedokteran tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Putusan mahkamah konstitusi Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian;

Menyatakan Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 sepanjang mengenai kata-kata

“penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau” dan Pasal 79 sepanjang mengenai kata-kata

“kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau” serta Pasal 79 huruf c sepanjang mengenai

kata-kata “atau huruf e” Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431) bertentangan dengan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Menyatakan Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 sepanjang mengenai kata-kata

“penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau” dan Pasal 79 sepanjang mengenai kata-kata

“kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau” serta Pasal 79 huruf c sepanjang mengenai

kata-kata “atau huruf e” Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

Menolak permohonan para Pemohon untuk selebihnya; Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya

Alasan Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan para termohon adalah Mahkamah berpendapat bahwa ancaman pidana berupa pidana penjara dan pidana kurungan adalah tidak tepat dan tidak proporsional karena pemberian sanksi pidana harus memperhatikan perspektif hukum pidana yang humanistis dan

terkait erat dengan kode etik. Dengan demikian, menurut Mahkamah: (i) ancaman pidana tidak boleh dipakai untuk mencapai suatu tujuan yang pada dasarnya dapat dicapai dengan cara lain yang sama efektifnya dengan penderitaan dan kerugian yang lebih sedikit, (ii) ancaman pidana tidak boleh digunakan apabila hasil sampingan (side effect) yang ditimbulkan lebih merugikan dibanding dengan perbuatan yang akan dikriminalisasi, (iii) ancaman pidana harus rasional, (iv) ancaman pidana harus menjaga keserasian antara ketertiban, sesuai dengan hukum, dan kompetensi (order, legitimation, and competence), dan (v) ancaman pidana harus menjaga kesetaraan antara perlindungan masyarakat, kejujuran, keadilan prosedural dan substantif (social defence, fairness, procedural and substantive justice).

Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 UU Praktik Kedokteran, serta ancaman pidana kurungan paling lama satu tahun, yang diatur Pasal 79 huruf a UU Praktik Kedokteran telah menimbulkan perasaan tidak aman dan ketakutan sebagai akibat tidak proporsionalnya antara pelanggaran yang dilakukan dengan ancaman pidana yang diatur dalam undang-undang a quo. Hal demikian tidak sesuai dengan maksud Pasal 28G Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.” Sebaliknya, bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan juga dirugikan.Padahal, pelayanan kesehatan merupakan hak asasi manusia menurut Pasal 28H Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Dengan demikian, ancaman pemidanaan berupa pidana penjara dan pidana kurungan yang terdapat dalam Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 UU Praktik Kedokteran tidak sesuai dengan filsafat hukum pidana sebagaimana telah diuraikan di atas, sehingga tidak sejalan pula dengan maksud Pasal 28G Ayat (1) UUD1945. Oleh karena itu, Mahkamah berpendapat bahwa permohonan para Pemohon, sepanjang mengenai ancaman pidana penjara paling lama tiga tahun sebagaimana diatur dalam Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 UU Praktik Kedokteran, cukup beralasan

Dokumen terkait