• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

B. Peranan KPUD Dalam Penyelenggaraan Pemilihan

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang

Daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 telah diatur tentang Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, mulai dari Pasal 65 sampai dengan Pasal 118, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang bertanggungjawab kepada DPRD. Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah kepada DPRD, kemudian dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Panitia pengawan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya.49

49

Siswanto Sunarno, Hukum Pemerintahan Daerah Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 130.

Adapun yang menjadi peranan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah:50

a. merencanakan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil

kepala daerah;

b. menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil

kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan;

c. mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan semua

tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah;

d. menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye, serta

pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah; e. meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang

mengusulkan calon;

f. meneliti persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah

yang diusulkan;

g. menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan;

h. menerima pendaftaran dan mengumumkan tim kampanye;

i. mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye;

50

Pasal 66 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah.

j. menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah;

k. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala

daerah dan wakil kepala daerah;

l. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan

perundang-undangan;

m. menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye

dan mengumumkan hasil audit.

n. Dalam penyelenggaran pemilihan gubernur dan wakil gubernur

KPUD kabupaten/kota adalah bagian pelaksana tahapan penyelenggaran pemilihan yang ditetapkan oleh KPUD provinsi.

Berikut ini akan digambarkan tabel mengenai perbandingan perbedaan dalam hal perekrutan untuk menjadi anggota KIP Kabupaten/Kota dengan KPUD Kabupaten/Kota :

No MENGENAI KIP KPUD

1 Syarat Beragama Islam dan

harus bisa membaca Alqur’an.

Tidak ada syarat yang mengharuskan untuk menjadi anggota KPUD harus beragama Islam dan bisa membaca Alqur’an.

2 Rekruitmen DPRK membentuk tim

ad hoc (yang terdiri dari

Keputusan akhir untuk memilih 5 orang anggota

unsur masyarakat) kemudian tim ad hoc melakukan penjaringan, hasil penjaringan diserahkan kepada Komisi A untuk dilakukan fit and propertest guna dipilih 5

orang diantaranya (artinya keputusan akhir

ada ditangan DPRK)

KPUD Kabupaten/Kota ada ditangan KPUD Provinsi dari 10 orang calon yang diajukan oleh DPRD.

3 Pengangkatan Diusulkan oleh DPRK,

ditetapkan oleh KIP Aceh dan dilantik oleh Bupati/Walikota.

Diusulkan oleh KPUD Propinsi, ditetapkan oleh KPU Pusat dan dilantik oleh KPUD Propinsi.

4 Penggunaan

Anggaran

Harus menggunakan nama KPUD untuk mengusulkan anggaran ke KPN (Keuangan dan Perbendaharaan Negara).

Tetap menggunakan nama KPUD.

Sumber : Wawancara Dengan Ketua KIP Kabupaten Aceh Tenggara.

Mendasarkan uraian tersebut diatas, didalam pelaksanaan pemilukada, maka penyelenggaraannya dipercayakan kepada KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota, dan pada Pemerintahan Aceh diserahkan kepada KIP dan KIP Kabupaten/Kota yang diposisikan bukan merupakan bahagian dari KPU Pusat. Hal ini akan menyederhanakan kinerja sesuai dengan wilayah masing-masing. Dengan demikian KPU didaerah tersebut dalam penyelenggaraan Pemilukada yang secara mandiri menyelenggarakan Pemilukada dapat melaksanakan

tugasnya dengan mandiri. Namun demikian sebagai lembaga penyelenggara Pemilu tetap harus berkoordinasi dan berkonsultasi dengan KPU Pusat yang secara struktural adalah atasannya. Dipilihnya KPUD/KIP sebagai penyelenggara Pemilukada secara mandiri bukan hanya untuk efisiensi dan profesionalisme semata. Akan tetapi yang paling mendasar adalah didalam kerangka menciptakan untuk lebih independensi dan imparsial. Penyelenggaraan dari para pelaksana yang efisien merujuk pada upaya menyelenggarakan pemilihan dan perhitungan suara secara tepat waktu berdasarkan asas Pemilu yang demokratis dan dengan logistik yang cukup dan dengan biaya yang sesuai dengan kondisi setempat yang tentunya paling mengerti keadaan dimaksud. Kontekstualitas hal ini menjadi sangat penting didalam Pemilukada yang menjadi momentum penting pula bagi rakyat didaerah.51

Adapun yang dimasksud dengan sifat independen dan imparsial adalah bahwa didalam menyelenggarakan Pemilukada, penyelenggara dan semua pelaksana yang terkait tidak berada dibawah kendali suatu golongan, kelompok tim suskses pasangan calon atau tim kampanye, partai politik, pemerintah daerah, dan DPRD, melainkan sepenuhnya berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kode etik pelaksana Pemilu yang ditegakkan secara obyektif dan profesional. Meskipun secara yuridis dinyatakan bahwa penyelenggara Pemilukada itu adalah KPUD/KIP bersama Panwanslu, namun tumpuan atas penyelenggaraan Pemilukada dalam arti teknis adalah KPUD pada daerah masing-masing.

51

Panwaslu bertindak sebagai pengawas atas tahapan dan pelaksanaannya oleh KPUD. Dari pola pelaksanaan yang diselenggarakan pada saat ini, menunjukkan bahwa kinerja KPU/KPUD cukup baik dalam arti terukur. Meskipun diberbagai daerah penilaian yang dialamatkan kepada KPUD/KIP tidak menggembirakan yang diwujudkan dengan tindakan anarkis massa yang tidak puas dengan kinerja

KPUD/KIP.52

Penilaian terhadap kinerja KPUD/KIP tidak beres itu tercermin beberapa waktu, ketika diberbagai daerah terjadi amuk massa yang ditujukan kekantor KPUD/KIP, amuk massa itu kemudian jauh berkurang dengan kesadaran bahwa KPUD/KIP hanya sebagai pelaksana peraturan perundang-undangan yang tidak tahu-menahu dengan proses yang sedang berlangsung. Artinya mereka hanyalah sebagai pelaksana yang tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban secara teknis diluar batas kewenangan dan tugas yang mereka emban.

Kenyataan tersebut diatas sulit dipahami masyarakat pada saat awal-awal KPUD/KIP dibentuk. Namun lambat laun seiring dengan kedewasaan masyarakat didalam berpolitik, maka hal tersebut dapat dieliminasi. Namun demikian operasionalisasi dari KPUD/KIP bukannya tanpa hambatan dalam arti sepi dari masalah. Adanya silang tafsir terhadap berbagai peraturan perundang- undangan ditingkat pusat menunjukkan inkonsistensi lembaga tingkat pusat terhadap kebijakan yang ditempuh. Demikian pula tindak lanjut dari temuan atas pelanggaran yang terjadi ketika Pemilukada dilaksanakan menimbulkan

52

perbedaan tafsir yang berujung pada kemelut, khususnya antar kelompok masyarakat yang tidak menerima hasil dari sebuah proses pemilihan dengan KPUD/KIP sebagai penyelenggara Pemilukada didaerah.

Kemelut itu pada satu sisi dinilai sebagai sebuah langkah mundur dalam proses demokrasi. Dibeberapa daerah, khususnya Kabupaten Aceh Tenggara menunjukkan intensitas konflik yang seolah tidak kunjung selesai. Namun dalam perkembangan selanjutnya konflik seperti itu sekurangnya mereda dengan berhasilnya dilantik kepala daerah terpilih. Anarkisme massa didalam merefleksikan protes terhadap KPUD/KIP pun selama ini disikapi pemerintah secara bijak. Kepada oknum yang kebanyakan berasal dari pihak yang kalah didalam Pemilukada dilokalisir sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai tindak pidana biasa, meskipun secara fisik menimbulkan kerugian yang besar, berbagai kerusakan itu dicermati secara bijak dalam kontekstualitas politis. Pendidikan politik bagi warga masyarakat memerlukan proses panjang, dengan kesabaran dan biaya yang tidak murah. Dengan demikian proses pembelajaran didalam pendewasaan politik masyarakat tidak semata dilakukan secara langsung. Bentuk-bentuk lain seperti mendekati mereka berdasarkan pendidikan politik, dengan cara menjatuhkan vonis ringan dengan apa yang mereka lakukan adalah salah satu diantaranya. Kendatipun dalam tataran yuridis yang mereka

lakukan itu telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana Pemilu yang hukumannya jauh lebih berat tetapi cenderung tidak dikenakan. 53

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa KPUD/KIP adalah lembaga yang bertugas dan berwenang dalam penyelenggaraan Pemilukada. Dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur KPUD Kabupaten/ Kota atau KIP Kabupaten Kota adalah merupakan bahagian pelaksana KPUD Provinsi atau KIP Aceh untuk wilayah provinsi aceh. Pengesahan pengangkatan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih dilakukan oleh Presiden dan pengesahan pengangkatan pasangan calon bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota terpilih dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden.54

53

Ibid, hlm. 60.

54

Agussalim Andi Gadjong, Pemerintahan Daerah, Kajian Politik dan Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2007), hlm. 268.

Dokumen terkait